Tempat dimana cerita-cerita pendek dipilih dan dibagikan kepada kalian
JIKA NIAT INI BAIK
Jimel merupakan mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Jambi, yang gemar menulis novel dan cerpen. Melalui cerpen “Jika Niat Ini Baik”, ia mengangkat sepotong perjalanan hidup seorang sahabat sebagai refleksi tentang cinta, proses memantaskan diri, dan keyakinan pada waktu terbaik yang telah Tuhan tetapkan.
Di hadapan cermin ruang ganti restoran, pantulan seorang gadis manis terlihat tengah merapikan penampilannya. Senyum kecil terukir di bibirnya saat menatap bayangan dirinya sendiri. Tubuhnya telah dibalut rapi oleh kemeja kerja berwarna cokelat kesayangannya, dipadukan dengan celana bahan hitam dan sepasang sepatu pantofel yang selalu menemaninya melewati hari-hari panjang. Rambut hitamnya disanggul dengan gaya French twist, membuat penampilannya tampak anggun dan profesional. Gaya rambut itu adalah favoritnya karena setiap kali melihat pantulan dirinya di cermin, ia selalu teringat pada sosok pramugari yang anggun dan berwibawa.
Dari balik pintu, aroma masakan yang baru dimulai menyeruak memenuhi ruangan, berpadu dengan denting peralatan dapur dan suara para karyawan yang saling menyapa. Bagi orang lain, mungkin itu hanyalah awal dari hari yang melelahkan. Namun, bagi Deyya, semua itu adalah irama yang selalu berhasil membangkitkan semangatnya untuk kembali memberikan senyum terbaik kepada setiap tamu yang datang.
Namun, restoran itu pula yang menjadi saksi bisu awal pertemuan Deyya dengan seorang laki-laki bernama Raden. Tidak ada kisah yang dramatis seperti tabrakan di persimpangan jalan atau pertemuan yang menyerupai adegan dalam novel. Mereka hanyalah dua orang asing yang bekerja di bawah atap yang sama, tetapi berada di divisi yang berbeda. Selama berbulan-bulan, keberadaan Raden nyaris tak pernah masuk dalam perhatian Deyya.
Saat itu, hati Deyya telah lama tertutup. Setelah dikecewakan oleh orang-orang yang pernah ia percaya, ia memilih berhenti mencari cinta. Baginya, laki-laki hanyalah lembaran masa lalu yang enggan dibuka kembali. Ia lebih memilih memusatkan seluruh perhatiannya pada satu tujuan: memperbaiki diri, mendekat kepada Tuhan, dan menjadi pribadi yang lebih baik daripada kemarin.
Sampai suatu malam, layar ponselnya menyala. “Masih marah gara-gara candaan tadi?”
Deyya menatap layar beberapa saat. Ia bahkan tak menyangka Raden memiliki nomor teleponnya. Laki-laki yang selama ini hanya sesekali berpapasan dengannya di Dermaga Seafood Resto itu tiba-tiba menghubunginya di luar urusan pekerjaan.
Deyya bekerja sebagai seorang waitress di divisi Food and Beverage Service, sementara Raden bertugas sebagai barista Nusantara di area bar. Meski berada di restoran yang sama, kesibukan di divisi yang berbeda membuat mereka jarang memiliki kesempatan untuk saling mengenal.
Awalnya Deyya hanya membalas pesan itu seperlunya. Namun, Raden rupanya tak ingin candaan siang tadi berakhir dengan kesalahpahaman. Dengan sedikit canggung, ia mengajak Deyya membeli es krim sepulang kerja sebagai bentuk permintaan maaf.
Ajakan yang terdengar sederhana itu sempat membuat Deyya ragu. Setelah beberapa saat mempertimbangkannya, ia akhirnya mengangguk pelan. Malam itu menjadi kali pertama mereka berjalan berdampingan, berbincang tentang hal-hal ringan: asal daerah, alasan merantau, hingga mimpi yang ingin mereka capai. Siapa sangka, semangkuk es krim dan percakapan sederhana di penghujung malam perlahan menjadi awal dari kisah yang mengubah kehidupan keduanya.
Tidak ada kemewahan dalam hubungan mereka. Tidak ada hadiah mahal atau janji yang diucapkan setiap hari. Yang ada hanyalah rasa nyaman yang tumbuh perlahan, tanpa disadari. Raden tidak pernah memaksa Deyya menceritakan luka-luka yang pernah ia simpan. Ia hanya memilih tetap tinggal, menunggu hingga perempuan itu benar-benar siap membuka hatinya.
Hingga suatu malam, Deyya akhirnya menceritakan semua ketakutan yang selama ini ia pendam. Raden menggenggam jemarinya pelan. “Ndoro Ayu… Mas tidak bisa menghapus masa lalumu,” ucapnya lembut. “Mas juga tidak bisa memaksamu melupakan semua rasa sakit itu. Tapi kalau Ndoro Ayu mengizinkan, Mas ingin menemani langkahmu. Kita sembuhkan pelan-pelan, lalu kita bangun masa depan yang lebih baik bersama.”
Deyya menundukkan kepala. Dadanya terasa sesak, tetapi bukan karena sedih. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak memintanya segera sembuh, melainkan memilih tetap bertahan di sisinya.
Beberapa bulan kemudian, mereka sepakat menjaga hubungan itu dengan satu tujuan yang sama: menikah. Bukan dalam waktu dekat, melainkan ketika keduanya telah benar-benar siap, lahir maupun batin.
Deyya sempat berpikir setelah itu perjalanan mereka akan terasa mudah. Nyatanya, luka memang bisa mengering. Namun, bekasnya terkadang masih terasa nyeri ketika disentuh. Satu demi satu bisikan mulai terdengar di tempat kerja.
“Hati-hati sama Mas Raden.”
“Mas sering dekat sama perempuan lain.”
“Jangan terlalu percaya.”
Kalimat-kalimat itu seperti mengetuk kembali pintu trauma yang selama ini susah payah Deyya tutup. Tanpa sadar, ia mulai mempertanyakan banyak hal. “Mas…” panggilnya suatu malam dengan suara pelan. “Kalau suatu hari nanti Mas berubah bagaimana?”
Raden menghela napas pelan sebelum menatap mata perempuan di hadapannya. “Ndoro Ayu, selama ini Mas berusaha menjaga hati ini hanya untukmu. Jangan biarkan omongan orang lebih besar daripada kepercayaan yang sedang kita bangun.”
Raden selalu menjawab setiap pertanyaan Deyya dengan sabar. Namun, bahkan kesabaran pun memiliki batas. Raden menatap Deyya cukup lama. Tatapannya masih menyimpan kasih yang sama, hanya saja kali ini terlihat begitu lelah.
“Ndoro Ayu… akhir-akhir ini Mas sedang berjuang menghadapi banyak hal. Mas sedang berusaha kuat untuk urusan hidup Mas sendiri. Tapi di saat yang bersamaan, Mas juga harus terus berjuang melawan ketakutanmu.”
Deyya membeku. Tak ada sepatah kata pun yang mampu keluar dari bibirnya.
“Mas tidak marah,” lanjut Raden dengan senyum tipis yang dipaksakan. “Mas hanya lelah.” Kalimat sederhana itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada bentakan apa pun.
Deyya ingin meminta maaf. Ingin memeluk laki-laki di hadapannya dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Namun, kata-kata terasa begitu kecil dibandingkan luka yang tanpa sadar telah ia ciptakan.
Raden menghembuskan napas panjang. “Mas ingin istirahat sebentar, Ndoro Ayu.”
Deyya menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Bukan untuk meninggalkanmu. Mas hanya ingin kita sama-sama belajar menjadi tenang. Karena hubungan ini tidak akan sampai ke tujuan jika kita terus berjalan sambil membawa ketakutan.”
Hari itu mereka pulang melalui jalan yang sama. Namun, untuk pertama kalinya, langkah mereka tidak lagi berdampingan. Malam-malam setelahnya terasa begitu sunyi. Tak ada lagi pesan singkat yang selalu membuat Deyya tersenyum. Tak ada lagi suara yang menenangkan hatinya. Kini, ia hanya menghabiskan malam-malam panjangnya dengan berbicara kepada Tuhan, mencurahkan semua sesak yang selama ini tak pernah benar-benar ia selesaikan.
Di tengah keheningan itu, Deyya akhirnya mengerti. Selama ini ia selalu meminta seseorang memahami luka-lukanya, tetapi lupa memahami lelah orang yang berusaha menjaganya. Ia selalu meminta diyakinkan setiap hari, padahal kepercayaan tidak pernah lahir dari penjelasan yang diulang berkali-kali. Kepercayaan tumbuh ketika seseorang berani berdamai dengan ketakutannya sendiri.
Deyya tidak tahu bagaimana kisah mereka akan berakhir. Apakah kelak ia akan berdiri di hadapan penghulu, menggenggam tangan Raden dalam sebuah akad yang selama ini mereka impikan? Ataukah Tuhan sedang menunda pertemuan itu agar keduanya lebih dulu dipantaskan?
Sebab kini Deyya percaya… Perjalanan menuju halal bukan sekadar tentang menemukan seseorang yang baik untuk dicintai. Melainkan tentang menjadi pribadi yang mampu menjaga seseorang yang telah Tuhan titipkan. Barangkali, inilah cara Tuhan menjawab doa-doa mereka.
Bukan dengan segera mempersatukan dua hati yang saling mencintai, melainkan dengan memisahkan sejenak agar keduanya belajar menyembuhkan diri. Karena jika niat ini benar-benar baik, Tuhan tidak akan membiarkan mereka berjalan dengan hati yang masih dipenuhi luka.
Dia akan mengajarkan mereka cara saling menguatkan, memantaskan, dan kembali dengan cinta yang lebih dewasa. Dan apabila takdir akhirnya mempertemukan mereka kembali, Deyya ingin menyambut Raden bukan sebagai perempuan yang dipenuhi rasa takut, melainkan sebagai perempuan yang telah selesai berdamai dengan dirinya sendiri.
Sebab cinta yang paling indah bukanlah cinta yang tidak pernah diuji, melainkan cinta yang tetap memilih pulang setelah sama-sama belajar menjadi lebih baik.
Bunga
Deni Haryanto mulai menekuni dunia sastra sejak duduk di kelas 9 SMP, lalu mengembangkan imajinasinya melalui Sanggar Seni Teater Alief saat bersekolah di MAN 2 Kota Jambi. Meski menghadapi berbagai tantangan, ia tetap menikmati proses berkarya dan terus bertahan menggeluti dunia sastra hingga kini.
Pasar Angso Duo menjadi tempat favorit bagi orang-orang untuk mengadu nasib, semua hal dilakukan untuk bisa menghidupi diri masing-masing. Berbagai jenis jualan dan pedagang tumpah ruah di sana, dari yang lajang sampai yang sudah berpasangan, dari yang muda sampai yang tua, dari yang halal sampai yang haram. Semuanya hadir di sana, suasana yang tidak biasanya hadir di tengah hiruk pikuk orang dewasa yang sedang berjuang. Dengan sadar dan tekadnya yang besar dia membuka lapak berjualan di sana, lapak yang tidak selayaknya penjual lain, sebab ia hanya menggunakan sebuah alas kertas tebal untuk berjualan, dia adalah seorang anak yang tangguh tidak kenal gentar dan lelah, berjualan bunga segar di setiap harinya di pasar Angso Duo.
“Besarlah alas jualan daripada orangnya,” gurau seorang penjual ikan.
“Jualan itu lihat timing. Biar selalu untung. Itu taktik ulung. Agar tidak buntung,” timbal penjual nasi uduk.
“Jualan bunga kok pagi buta gini, mana ada yang mau beli,” sahut penjual ayam.
Omongan-omongan itu tidak ia hiraukan, semuanya dia anggap sebagai angin lalu, tidak mengindahkan apa yang orang lain ucapkan. Dia tetap fokus kepada lapak jualannya sendiri, sembari terus berharap akan laris jualannya hari ini. Sudah hafal sekali dia dengan perangai para pedagang di pasar ini, mereka yang akan selalu mengganggu pedagang baru hingga menjadi tidak betah dan pergi dari pasar ini. Tabiat itu sudah ia pahami meski usianya masih muda dari mereka. Ini sudah hari ketiga dia mendapatkan perkataan begitu, dan masih tetap tidak ia gubris. Karena ia tahu semakin dilawan perkataan dari pedagang itu maka semakin susah kedepannya nanti.
“Heh budak kecik! tau dak kau ni ado di kawasan siapo? kalau kau dak mau dagangan kau ini aku hancurkan, mending kau pergi dari sini,” ucap preman yang tiba-tiba setengah berteriak kepadanya.
“Tapi bang, aku kan sudah duluan di sini. Di sini dak ado yang ngisi sebelumnyo pun,” sanggah sang anak yang akhirnya menjawab omongan preman itu.
Mendengar omongannya tidak diindahkan langsung preman itu berusaha untuk menghancurkan bunga dagangan dari si anak itu, dan terjadi keributan di sana, hingga menarik perhatian seluruh pengunjung pasar di sana. Semua mata hanya melihat dan memberikan ekspresi kasihan, tanpa ada bantuan sikap dan perbuatan. Perebutan itu semakin sengit, para pedagang enggan melerai perselisihan itu. Sang anak sudah hampir babak belur terlempar ke sana kemari dan terus melawan maju ke preman yang terus merusak dagangannya itu. Hingga ada seorang perempuan yang melerai keributan. Melihat ramai orang-orang di sana dan datangnya orang yang melerai, serta kode dari para pedagang yang telah merencanakan keributan ini, si preman langsung lari menghilang di kerumunan pasar.
Perempuan itu memiliki umur yang tergolong muda, dengan rambut terikat rapi, dan pakaian santai yang dia kenakan serasi dengan dirinya. Dengan rasa iba terhadap anak itu, dia akhirnya memutuskan untuk membeli bunga yang tersisa dari dagangannya. Si anak sempat menolak hal itu, tetapi di sudut hati terdalamnya dia merasa senang akhirnya ada yang beli, meskipun sebagian besar jualannya sudah hancur, tapi tak mengapa selagi ada yang bisa di jual dan ada yang beli maka ada harapan bisa makan hari ini.
Dengan dorongan dari perempuan yang ingin membeli bunga dari sang anak. Si anak akhirnya menyetujui permintaan itu dan terjadi transaksi jual beli di sana, bahkan si perempuan tidak mau mengambil kembalian uangnya, dengan dalih untuk biaya mengobati luka-lukanya akibat keributan tadi. Mendengar hal itu dengan cekatan sang anak langsung menyiapkan pesanan bunga untuk si perempuan itu. Sebelum dia memberikan bunga, dia memberikan saran bagaimana merawat bunga itu nantinya agar si perempuan bisa menikmati keindahan bunga itu setiap waktunya. Dan sedikit basa-basi yang telah ia pelajari saat orang berjualan ia menanyakan kepada siapa perempuan itu akan memberikan bunga?
Si perempuan menjawab singkat sembari lalu “akanku hadiahkan ke orang tercinta.” Sang anak masih berdiri di tempat mendengar pembelinya mengatakan hal begitu. Dia tahu bahwa pedagang pasti akan mendapatkan jawaban yang sedikit random dari pembelinya. Tetapi kenapa jawaban yang ini terus tertinggal di benaknya? Dan seakan menanyakan kembali kepada dirinya. Kenapa tidak ada orang yang memberiku bunga? Pertanyaan itu terus berputar di kepala si anak. Dia terus menghubungkan kenapa orang-orang memberikan bunga kepada yang tersayang?
Sembari berbenah merapikan kembali lapak jualannya, dan bunga-bunga yang telah hancur. Dia tetap tidak menemukan apa jawaban dari pertanyaan di kepalanya itu. Setelah selesai mengemas dagangannya dia berjalan menuju ke toko bunga yang tadi ia ambil untuk di jual di pasar, dia mau memberi tahu dengan sedikit berbohong kepada pemilik bunga bahwa jualannya hari ini tidak ada yang laku dan bahkan rusak, akibat preman yang tidak berperasaan. Dia tahu pasti dia akan diberikan sanksi untuk menjual bunga lebih banyak dan harus habis di kemudian hari, sebagai hukuman karena tidak ada bunga yang terjual malahan dia merugi akan bunga-bunganya. Tapi itu tidak menjadi soalan bagi sang anak, karena sudah bingung dengan soalan yang terus berputar di kepalanya sekarang ini.
Perjalanan menuju toko bunga memang sedikit jauh dari pasar, ia harus melewati perlintasan kereta, jembatan, dan juga jalanan yang tak pernah sepi kendaraan yang selalu berlalu-lalang. Dari kejauhan ia melihat para pengendara menumpuk tersendat tidak bisa melintas, dia sempat menerka bahwa ada pengerjaan jalan umum yang sedang dilakukan, tetapi saat jarak dia dengan pengendara yang menumpuk itu semakin mengecil, dia mendengar suara sound system yang menggelegar. Semakin mendekat ia mendapat jawaban bahwa suara itu berasal dari sebuah acara perkawinan yang dilaksanakan di pinggir jalan dan memotong separuh jalanan umum.
Sang anak melihat banyak sekali bunga-bunga di tenda perkawinan itu, seketika ia teringat kembali akan pertanyaan yang sempat hilang sejenak di benaknya, Kenapa tidak ada orang yang memberiku bunga? Dan kini ia merasa tahu akan jawabannya, yakni karena ia belum menikah, jadi belum ada yang memberinya bunga. Tetapi di saat yang sama dia melihat ada seorang lelaki dewasa yang memberi kejutan bunga kepada pasangannya. Di situ dia semakin bingung, jadi sebenarnya bunga ini sebuah tanda cinta seseorang kepada orang lainnya atau bagaimana? Lalu apakah bunga itu mengartikan seseorang mencintai dan dicintai?
Suara klakson motor menyadarkan dirinya yang sedang melamun bergulat dengan pemikirannya yang dia sendiri bingung kenapa ia memikirkannya? Untuk anak seusianya sudah memikirkan mencintai dan dicintai? Itu terlalu berlebihan, seorang anak pastinya akan mendapatkan dan memberikan cintanya dengan tulus, ya kan? Si anak melanjutkan kembali perjalanan yang sempat terhenti tadi, ia berjalan dengan langkah yang tidak terlalu cepat, dan di tangan mendekap bunga-bunga rusak yang dari pasar tadi, tiba-tiba rasa lapar menghampiri dirinya, ia yang memang belum makan sejak semalam hanya bisa menahan lapar yang mengganggu perut, mata dan otaknya.
Ia sempat berhenti sejenak untuk menenangkan diri dari rasa lapar yang menghinggap ini, ia berusaha menahan rasa lapar di tengah gempuran aroma nikmat dari penjual bakso. Ia melihat penjual bakso itu sedari tadi, dan tidak menyangka akan merasa sengsara begini akibat aroma yang keluar dari panci kuah bakso itu. Perut ini tidak dapat berbohong lagi, rasa lapar yang hinggap dan aroma nikmat yang terus bergelayut di hidungnya. Setelah menimbang baik buruknya, sang anak memilih untuk membelikan makanan dari uang yang ia dapatkan dari perempuan di pasar tadi.
Tinggal beberapa langkah lagi menuju gerobak bakso itu, matanya menangkap sosok yang sebelumnya pernah ia temui. Masih dengan pakaian yang sama, orang itu mendekati gerobak bakso dan tiba-tiba mengeluarkan bahasa yang tidak pantas, serta memukul gerobak itu hingga hampir terguling. Sang penjual bakso hanya bisa tertunduk lemah saat semua hasil jualannya di raup oleh orang itu. Ya, dia adalah preman yang tadi pagi mengganggu sang anak berjualan bunga di pasar. Sang anak, merasakan akan adanya bahaya yang segera mendekatinya, saat ia sadar preman itu sudah memperhatikannya dari kejauhan dan memberikan senyuman yang seakan ingin memangsa sang anak.
Di serang ketakutan yang tiba-tiba datang, ia refleks langsung lari menyelamatkan diri. Ia berlari sekuat tenaga, tanpa menghiraukan di belakang sana apakah preman itu mengejarnya ataukah tidak. Ia tidak peduli yang penting dan terus berlari mencari tempat yang aman, kakinya terus membawa entah ke mana arah larinya, beberapa kali hampir tertabrak kendaraan dan orang yang sedang berlalu-lalang. Hingga, tanpa ia sadari preman itu sudah menunggu persis di depannya, sang anak tidak bisa menghindarinya lagi dan berakhir terjerembap ke tubuh preman itu.
“HAHAHA bocil… nak lari kemano? Urusan kito belum selesai lagi!” ucap preman sembari memegangi lengan sang anak.
“Ampun bang! Aku dak ado masalah dengan abang!” ucap sang anak pasrah.
“Aku tahu! Sudah, sekarang sini duit yang dikasih perempuan itu. Aku tahu kau dikasih duit sama dia kan! Sini kasih ke aku!” bentak preman yang lalu berusaha mencari uang di saku baju dan celana sang anak.
“Dak bang! dak ada uang!” ucap sang anak penuh rasa pasrah.
“Heh bocil, jangan nak suka bohong, kalau bohong kutelanjangi kau. Mau?” preman itu langsung berusaha membuka pakaian yang melekat di tubuh sang anak .
Sang anak terjebak di antara realita yang kejam, mengimpit dirinya hingga sering kali tidak di beri ruang untuk bernafas. Dengan penuh rasa kecewa dan pasrah ia berikan uang satu-satunya yang ia miliki kepada preman itu, dia tahu dirinya tidak akan bisa menang melawan preman yang hanya besar otot tapi tidak memiliki otak itu. Mata preman itu berbinar menatap uang yang berhasil dirinya rampas dari seorang bocah, dan langsung pergi dari hadapan si anak.
Menatap punggung preman yang menjauh, sang anak dirundung pilu, ia berjalan tertunduk lesu, lemas, tak bersemangat, tatkala uang yang ia rencanakan untuk membeli seporsi makanan malah dirampas oleh preman. Langkah sang anak semakin gontai, tatapan matanya kosong, sekosong perut laparnya. Ia sedih, dan mempertanyakan kembali, apakah tidak ada yang sayang dengan diriku? Tak terasa air mata menetes dari kelopak matanya. Mulutnya diam namun di dalam pikirannya penuh gejolak amarah dan mempertanyakan, bagaimana rasanya hidup dengan aman, nyaman, penuh akan kasih sayang, yang terpenting adalah mencintai dan dicintai. Di kepalanya terus berputar akan hal itu, hingga suara tanda kereta melintas memecah lamunan sang bocah.
Ia menatap kereta yang melintas cepat itu, di kepalanya berpikir jikalau memang sudah tidak ada lagi yang mencintainya, bahkan Tuhan sendiri tidak mencintainya. Ia melihat sekeliling dan melihat ada nenek-nenek yang sedang menjual bunga untuk di sekar di kuburan. Sang anak sedikit tersenyum, akankah dirinya harus mati terlebih dahulu untuk bisa mendapatkan bunga? Tapi untuk seorang anak yang tak tentu arah hidupnya, mana mungkin orang-orang akan memberikan bunga kepadanya.
Kembali ia menatap kosong ke arah kereta api yang melintas. Ia kesal dengan dunia yang tidak adil bagi dirinya, bahkan Tuhannya sendiri tidak lagi memedulikannya. Kenapa tidak ada yang sayang dengan aku? Kenapa aku ditinggal sendirian? Ayah. Ibu. Aku capek. Dunia ini bukan untuk orang seperti aku. Aku mau pergi. Dengan langkah gontainya ia terus melangkah maju di kala kereta api masih melintas dengan kecepatan tinggi. Tidak lagi ia dengarkan deru suara kereta api dan orang-orang yang berteriak untuknya. Langkahnya tetap kukuh ke arah kereta api, hingga jarak tidak lagi berarti.
Jarak-jarak itu membawa dirinya ke persimpangan kesadaran, dirinya merasa tertampar hingga panas di pipinya. Dia masih tidak memberikan respon dengan membuka mata ataupun yang lainnya. Dia terus bertanya di dalam benaknya, apakah ia sudah mati? Ataukah masih di dunia nestapa yang tak berujung? Tapi di saat yang bersamaan ia merasa ada yang mengguncang tubuhnya dan terus menamparnya. Hingga ia akhirnya memutuskan untuk membuka mata memeriksa di manakah dia berada sekarang, apakah di surga ataukah di dunia nestapa.
Ia membuka mata perlahan, ia tatap orang-orang di sana satu persatu, dia bingung kenapa banyak orang melihatnya begitu, sebelum ia memikirkan jawabannya, ada yang berkata
“Kalau mau bunuh diri, jangan di sini dek! Warga sini yang susah bersihin jasad kau nanti!” ucap seorang ibu-ibu.
“Kalau mau mati itu, pas lagi sepi dek! Jangan lagi ramai gini, cari perhatian itu namanya,” timpal seorang bapak berjaket ojol itu.
Dan beberapa sumpah serapah lagi yang orang-orang lontarkan kepadanya. Dia yang sudah tidak bisa menahannya lagi langsung berlari dari sana. Ia lari seperti di kejar preman, tapi kali ini ia mempunyai arah ke mana dia lari untuk menghindari semua hal itu. Kenapa orang-orang hanya bisa memberi komentar tanpa melihat isi dalamnya bagaimana, tidak semua yang terlihat bodoh dan baik-baik saja itu terlihat tidak apa-apa. Sang anak terus berlari hingga ia tak sadar tiba di sebuah pemakaman, dan berhenti tepat di depan dua gundukan tanah yang penuh akan bunga-bunga indah di sana. Air mata tidak lagi bisa ia tahan, rasa sesak di dada, lapar, dan kesal yang dipendam akhirnya luntur, sang anak terduduk menangis sejadi-jadinya di sana.
Ayah, ibu. Bawa aku bersama kalian, agar aku bisa dicintai sama dengan bunga-bunga indah yang selalu mekar di atas tanah kuburanmu ini. Aku rindu akan kembali.
Jika, aku harus kembali
Rumah adalah tempat lulus uji
Atas genangan air mata, dan
gulungan benang tawa
yang entah kapan, selesai
***
UUM, 200526
Kita yang Terjeda
Di bawah remang lampu kamar yang temaram, ditemani hening malam, aku kembali mengingatmu. Aku bertemu denganmu di saat semua merasa menyesakkan dengan keadaan. Aku duduk sendiri, membiarkan pikiranku berkelana kemana-mana, ke hal yang seharusnya sudah lama kulepaskan, tentang kamu. Aku bertemu denganmu … Di saat aku merasa semuanya begitu berat. Dan entah kenapa, kehadiranmu waktu itu terasa seperti jeda, seperti sesuatu yang diam-diam menenangkan, tanpa perlu banyak alasan. Malam memang selalu punya alasannya sendiri untuk aku kembali mengingatmu. Aku kembali menatap layar ponsel. Bukan karna ada sesuatu yang penting, tapi karena diam-diam aku berharap pesan darimu. Padahal aku tahu, itu tidak akan pernah terjadi. Hari-hariku waktu itu terasa penuh, tapi kosong. Banyak orang di sekitar, tapi tidak benar-benar ada yang membuatku merasa tenang. Sampai akhirnya kamu datang, dengan cara yang sederhana. Kita ngobrol seperti biasa. Tidak ada yang spesial di awal. Bahkan aku tidak pernah berpikir aku menyukaimu sampai sejauh ini. Tidak ada niat lebih. Tidak ada ekspektasi apa-apa. Aku bahkan tidak pernah berpikir kamu jadi orang yang sulit aku lupakan.
Aku masih ingat kalimat sederhana yang kamu kirimkan waktu itu, “kamu cantik, aku ga bohong”. Aku tertawa kecil saat membacanya, kepalaku refleks menggeleng, seolah tidak percaya. Tapi diam-diam … kalimat itu tinggal lebih lama dari yang seharusnya. Sejak saat itu, aku mulai nyaman. Nyaman dengan candaanmu, nyaman dengan perhatian kecilmu, nyaman dengan kehadiranmu. dan nyaman denganmu yang perlahan-lahan mengisi ruang kosong hariku. Tanpa sadar aku terjebak dengan semuanya, hari-hariku lebih hidup, dan notifikasi darimu jadi hal kecil yang selalu aku tunggu.
Kadang, Kamu memang seperti itu. Sederhana, tapi cukup membuatku berfikir lebih jauh.
“Kenapa sih… kamu baik banget sama Aku?” tanyaku suatu waktu.
“Emang gak boleh?” Kamu balik bertanya.
“Boleh…. tapi nanti Aku salah paham,” balasku pelan.
Beberapa detik tidak ada balasan lagi. Lalu muncul pesan darimu.
“Kalo salah pahamnya ke hal yang baik, Aku gak masalah”
Masih jelas di ingatanku, malam itu, saat kita berbicara lewat telpon. Tidak ada yang istimewa sebenarnya- hanya obrolan biasa yang entah kenapa terasa hangat. Lalu ditengah percakapan itu, kamu tiba-tiba berkata pelan, “jangan pernah bosan sama aku ya …”
Aku terdiam sesaat, lalu tersenyum tanpa kamu lihat. “Iya … tapi tergantung, kalau kamu nggak bosan duluan,” jawabku ringan.
Tidak ada tawa, tidak ada nada bercanda, Kamu mengatakan itu seolah seseorang yang memang sedang ingin didengar. Dan anehnya justru dari situ aku percaya. Bahwa mungkin, aku tidak sendirian dengan perasaan ini.
Setelah itu hening …
Tapi hening yang terasa hangat. Aku mulai berharap, berharap kamu tetap ada. Aku kembali diam, teringat dulu aku selalu menunggu kabarmu, kini mulai terasa kosong. Aku yang dulu menunggu pesanmu, sekarang hanya menatap layar tanpa tujuan.
Hari-hari di mana aku selalu bilang ingin ditemani lewat dering telepon itu, kini perlahan sirna. Tidak ada lagi suara yang menenangkan di ujung sana. Tidak ada lagi kamu. Tapi anehnya, setiap kali bertemu, rasa itu masih sama ada, rindu yang belum sempat selesai, perasaan yang belum sempat benar-benar pergi. Aku melihat wajah manismu, wajah teduh yang dulu selalu kupandang di balik layar ponsel yang selalu membuatku merasa tenang, masih terekam jelas di benakku seolah waktu tidak pernah benar-benar menghapusnya.
Chat terakhir masih kamu simpan.
Aku bertanya,” kamu kenapa?” pesanku tidak lagi kamu balas.
Namamu tidak lagi muncul seperti biasanya. Aku menunggu jawaban. beberapa menit, satu jam, sehari, tetap saja sama. Tidak ada jawaban.
Yang lebih aneh, kamu tidak benar-benar pergi. Kamu masih ada. Seolah kita masih saling tahu, tapi memilih untuk tidak benar-benar hadir. Dan jujur saja … itu sangat menyakitkan. Kamu dekat, tapi tidak bisa aku gapai.
Sampai suatu hari, kita bertemu. Aku sempat ingin pura-pura tidak melihatmu. Tapi, sebelum aku sempat menghindar, aku masih penasaran dengan semuanya yang terjadi di antara kita.
Aku kalah, aku menyapa kamu duluan,” Kamu…kenapa?” Pertanyaan sama yang aku lontarkan berulang kali.
Nada suaramu masih sama dan jawabannya tetap sama darimu.
Di momen itu, aku sadar sesuatu bila pada akhirnya kita berdua telah bahagia lagi, kuharap kamu tidak melupakanku. Semuanya berjalan begitu saja, tanpa rencana, tanpa kepastian. Tapi, justru di situlah letak bahayanya. Aku mulai terbiasa denganmu. Aku terbiasa menunggu kabarmu, terbiasa berbagi cerita, bahkan terbiasa menggantungkan perasaan yang tidak benar-benar jelas arahnya. Kita seperti dua orang yang berjalan berdampingan, Tapi tidak pernah benar-benar saling mengenggam. Dekat, tapi tidak pernah memiliki.
Aku sempat ingin bertanya.” kenapa kamu pergi? kenapa kamu memilih diam dari pada kamu harus menjelaskan sesuatu?”
Kalimat itu hanya sampai di tenggorokan, aku tak mampu untuk berbicara lagi, dan akhirnya aku memilih diam. Karena mungkin … aku sudah tahu jawabannya.
“Mungkin ada hati lain yang harus kau jaga. Sebelum semuanya berakhir, aku ingin meminta maaf kepadamu—maaf karena telah sering membuatmu kecewa.”
Kalimat itu selalu ingin kulontarkan, tetapi lagi-lagi aku memilih diam.
Momen-momen manis yang pernah kami lewati, meski hanya sebentar, dan segala kenangan tentangmu… tak pernah benar-benar bisa aku lepaskan.
“Kamu lagi apa?” tanyamu suatu sore.
“Lagi mikiri sesuatu,” jawabku
“Apa?” balasanmu begitu cepat
Aku terdiam sebentar, menatap layar.” Kamu,” tulisku akhirnya setengah ragu.
Beberapa detik terasa lebih lama dari biasanya.
“Serius?” Kamu membalas seolah masih ragu dengan pesan yang ku kirim.
“Iya…. emang ga boleh?” Aku mencoba bercanda untuk menutupi rasa malu dan gugupku saat itu.
“Boleh banget,” Jawabmu, belum sempat ingin ku balas kamu sudah mengirim satu pesan lagi “Aku juga sering gitu.”
Degup itu lagi. Muncul dengan tiba-tiba aku tak suka perasaan itu sebenarnya, namun sore itu membawa hal yang tak ku sukai malah menjadi kegemaranku.
“Sering mikiri aku?” tanyaku memastikan.
“Iya…” balasmu, “apalagi kalo Kamu tiba-tiba ngilang”.
Kali ini bukan tersenyum kecil, tapi aku tertawa lepas membaca teks konyol itu.” Kan Aku gak pernah bener-bener pergi” kataku.
“Iya…tapi Aku tetap nunggu” Jawabmu.
Semua masih tersimpan rapi di ingatanku cara kita tertawa, obrolan-obrolan sederhana, dan perasaan nyaman yang dulu pernah ada. Lalu perlahan, semuanya berubah. tidak ada pertengkaran, tidak ada kata perpisahan. hanya jarak yang tiba-tiba terasa makin jauh. Pesan-pesan mu mulai jarang, balasanmu tak lagi sehangat dulu. aku coba berpikir biasa saja, mencoba mengerti bahwa kamu sedang sibuk. Tapi semakin lama aku mulai sadar, yang berubah bukan hanya keadaan, tapi juga perasaanmu.
Terima kasih … karena telah hadir di dalam hidupku, di saat aku sedang butuh seseorang untuk sekedar membuat semuanya terasa lebih ringan. Aku tidak pernah menyesal mengenalmu.
“Aku pernah jadi bagian kecil di hidup kamu, kan?” Tanyaku pelan, seolah kamu ada di depanku.
Kamu tidak langsung menjawab, Hanya diam, seperti biasa, “pernah, ” katamu akhirnya singkat.
Aku tersenyum tipis, meski dalam hati ada sesuatu yang mengganjal. “Aku di sini mungkin masih menunggu,” lanjutku pelan,” sampai…rasaku benar-benar hilang.”
Kamu menatapku dalam, tapi tidak mengatakan apa-apa.
“Kalau kita ketemu lagi nanti …” aku berhenti sejenak,” itu belum tentu mengubah apa-apa, kan?”
Kali ini kamu menghela nafas singkat, menatap netra mataku lebih dalam.
“Iya,” jawabmu singkat.
Aku kembali tersenyum kecut,” akan ada banyak hal yang kita pikirkan,” aku menunduk sedikit,” dan mungkin … kita tetap nggak bisa bersama.”
Hening.
Seolah waktu boleh berjalan sejauh apa pun, tentangmu … selalu punya tempat yang tidak bisa tergantikan. Dan untuk seseorang yang tidak pernah benar-benar menjadi milikku, kamu meninggalkan rasa yang begitu dalam.
“Jaga dirimu ya,” ucapku singkat. Aku tak menunggu jawabanmu lagi, aku langsung pergi begitu saja.
Sekarang, yang tersisa hanyalah kenangan. Tentang obrolan-obrolan kecil yang dulu terasa berarti, tentang tawa yang dulu terasa hangat, dan tentang harapan yang ternyata hanya tumbuh di satu sisi. Aku masih sering membuka kembali pesan-pesan lama, bukan karena aku belum bisa melanjutkan, tapi karena ada bagian dari diriku yang belum benar-benar selesai.
Aku terdiam, membuang ponselku asal, mataku kupaksakan untuk terpejam untuk menyambut hari esoknya.
Dan mungkin … pada akhirnya kita tetap sama, dua orang yang saling merasa, tapi tidak benar-benar bersatu.
Naskah
Namaku Khai.
Kadang aku merasa hidupku seperti halaman yang sedang ditulis kata-kata muncul, menetap sebentar, lalu menghilang sebelum sempat kubaca. Bukan kesalahan, hanya alur yang belum selesai.
Di sebuah kafe kecil di tepi danau, aku menatap air yang memantulkan lampu kota senja. Aroma kopi dan roti hangat bercampur, seakan mengisi halaman-halaman yang belum tertulis. Saat itulah aku bertemu Karel. Wajahnya sederhana, namun ada sesuatu yang membuatnya terasa akrab, seperti aku sudah mengenalnya di bab-bab yang belum pernah tercetak.
“Apakah kita pernah bertemu?” tanyanya lembut, menatapku dengan mata yang seolah mengerti sesuatu yang aku sendiri belum pahami.
Aku menelan ludah, sadar bahwa jawabanku, bahkan gerak tubuhku, bisa saja ditentukan oleh cerita yang menulisku. Aku menarik napas panjang.
“Seharusnya belum,” ujarku.
Ia menunduk sebentar, menatap cangkir di tangannya. Sejenak, aku merasa dunia ini tidak sepenuhnya nyata, namun perasaan yang muncul di dada tidak bisa dianggap fiksi.
Hari-hari berikutnya, kami terus bertemu tanpa sengaja. Di jalan di tepi kota tua, di kafe yang sama, di halte yang seolah muncul hanya untuk kami. Aku mulai bertanya-tanya apakah ini kebetulan, atau narasi yang menuntun langkahku.
Sore itu, saat hujan rintik-rintik menaburi kota, kami berjalan di trotoar yang basah. Bau tanah setelah hujan dan aroma rempah dari warung di dekat pasar mengisi udara. Aku berhenti sejenak, menatap Karel, dan berkata pelan:
“Apakah kau merasa hidup ini… seperti cerita yang belum selesai?”
Ia tersenyum samar, seolah memahami, namun tak sepenuhnya.
“Cerita yang belum selesai?”
“Ya,” jawabku. “Kejadian-kejadian terasa terlalu rapi, terlalu sempurna. Aku takut perasaanku hanyalah bagian dari naskah yang belum selesai ditulis.”
Karel menatapku, dan aku menyadari ia adalah satu-satunya variabel yang tidak dapat dihapus. Bahkan jika penulis mencoba merevisi setiap kata, aku percaya hatiku memilihnya sendiri.
Malam itu, aku mencoba melawan. Biasanya, aku berjalan melewati jembatan kayu. Tapi kali ini, aku sengaja berbelok ke arah lain. Satu langkah. Dua langkah. Langkah ketiga tubuhku berhentu. Bukan karena aku ragu, bukan karena aku takut, tapi karena kakiku…tidak mau bergerak. Seolah ada sesuatu yang menarikku kembali. Tiba-tiba, kepalaku terasa kosong. Dan sekejap aku sudah berdiri di atas jembatan. Seperti biasa. Seperti tidak pernah ada percobaan untuk melawan. Aku menggigil.
Hari-hari bergulir dengan kebiasaan sederhana. Secangkir kopi di pagi hari, jalan di tepi sungai saat sore, sesekali bertukar senyum di pasar yang ramai. Kadang kami diam bersama, membiarkan kota dan waktu menjadi saksi.
Suatu malam, di sebuah jembatan kayu yang menghubungkan tepian sungai, aku menatap lampu yang memantul di air.
“Aku takut semua ini hanyalah cerita yang bisa diubah, Karel. Bahwa suatu hari, kata-kata kita bisa dihapus.”
Ia menggenggam tanganku.
“Khai, kalau ini cerita sekalipun, aku tetap ingin berada di sini. Bersamamu.”
Aku tersenyum, tetapi dalam hati masih ada rasa ragu. Bagaimana jika suatu hari naskah direvisi? Bagaimana jika kalimat ini tidak lagi ada?
Beberapa hari kemudian, aku menemukan keberanian yang sebelumnya tidak kumiliki. Menatap matanya yang teduh, aku berkata
“Aku menyukaimu, Karel. Tidak karena cerita, tidak karena kebetulan tapi karena aku memilihnya.”
Sunyi. Kalimat itu tetap ada. Tidak tergeser, tidak direvisi. Aku merasakan perasaan itu seperti tinta yang menembus halaman, menolak untuk dihapus.
Karel tersenyum, perlahan.
“Rasanya aneh,” katanya lembut.
“Aneh bagaimana?”
“Seolah ini bukan pertama kalinya aku mendengarnya.”
Aku tersenyum. “Mungkin memang bukan pertama kalinya.”
Hari-hari berikutnya terasa berbeda. Kami tidak lagi terlalu rapi, tidak lagi terlalu “sesuai naskah”. Kadang kami bertengkar soal hal kecil jalan yang harus dipilih, kopi yang lebih manis, hujan yang datang terlalu cepat. Kadang kami berhenti di tengah jalan, diam, membiarkan dunia menulis sendiri. Tetapi anehnya… justru itu terasa lebih nyata. Perasaan ini bukan bagian dari naskah, bukan adegan yang diatur. Ini perasaan yang ada karena aku memilihnya, dan ia juga memilih.
“Aku tidak ingin jadi bagian dari ini,” kataku suatu malam. Kami berdiri di jembatan yang sama, di bawah lampu yang sama, dengan angin yang terasa terlalu familiar. “Kalau semua ini ditulis… aku ingin memilih,” lanjutku.
Karel menggenggam tanganku erat. “Kalau begitu, kita lawan.” Untuk pertama kalinya, kata-kata itu terasa benar-benar milik kami.
Kami mulai mencoba hal-hal kecil. Mengubah rute jalan, mengucapkan kalimat yang tidak seharusnya ada, diam saat seharusnya bicara, awalnya, tidak terjadi apa-apa. Lalu… konsekuensinya datang.
Suatu pagi, kota terasa kosong. Warung di dekat pasar hilang. Orang-orang berkurang. Suara-suara menjadi jauh, seperti ditarik keluar dari dunia. “Apa ini?” bisikku.
Karel menatap sekeliling, wajahnya tegang. “Mungkin… ini koreksi.”
Hari berikutnya lebih buruk. Saat aku mencoba mengatakan sesuatu yang berbeda suara itu tidak keluar. Bibirku bergerak, tapi tak ada suara. Seolah kata-kata yang tidak sesuai… dihapus sebelum sempat ada. Aku panik.
Karel memelukku. “Jangan berhenti,” katanya. “Kalau kita berhenti sekarang… kita akan kembali seperti sebelumnya.”
Dan untuk pertama kalinya, aku sadar melawan cerita bukan hanya pilihan. Itu risiko. Beberapa hari kemudian, dengan sisa keberanian yang masih kupunya, aku menatap Karel.
“Aku menyukaimu,” kataku.
Sunyi.
Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang terhapus. Kalimat itu tetap ada. Nyata. Seperti tinta yang menolak hilang. Karel tersenyum perlahan. “Rasanya… aku sudah pernah mendengar ini,” katanya.
Aku tertawa kecil, meski hatiku bergetar. “Mungkin kita memang pernah.” Hari-hari berikutnya tidak lagi rapi. Kami bertengkar, tersesat, membuat pilihan-pilihan kecil yang tidak sempurna. Dan anehnya, semuanya terasa lebih hidup.
Suatu sore, saat matahari turun di balik kota, Karel berkata
“Kalau hidup kita memang ditulis… mungkin sekarang penulisnya kesulitan.”
Aku tersenyum.
“Kenapa?”
“Karena kita tidak nurut.”
Aku menggenggam tangannya.
Untuk pertama kalinya, aku merasa… mungkin aku benar-benar memilih hidupku sendiri. Mungkin. Di antara cahaya senja dan riak air yang tenang, aku memejamkan mata sejenak. Dan saat kubuka kembali semuanya masih ada. Karel, langit, perasaan ini. Tidak ada yang berubah. Aku tersenyum. Percaya bahwa akhirnya, aku bebas.




