Tempat dimana cerita-cerita pendek dipilih dan dibagikan kepada kalian
LANGKAH KECIL MENUJU MIMPI
Zelviari Rahma
Pagi itu, langit masih berwarna abu-abu ketika Raka berdiri di depan jendela kamarnya. Hujan turun sejak subuh, membuat halaman rumahnya basah dan udara terasa dingin. Di atas meja belajarnya terdapat sebuah buku yang sudah terbuka. Di halaman pertama, Raka menuliskan sebuah kalimat dengan huruf besar:
AKU INGIN MENJADI DOKTER
Kalimat itu sudah ia tulis berkali-kali. Setiap kali merasa lelah, Raka selalu melihat tulisan tersebut untuk mengingat alasan mengapa ia harus terus belajar.
Raka adalah siswa kelas X di sebuah SMA sederhana di pinggiran kota. Ia bukan siswa yang selalu mendapatkan nilai tertinggi. Dalam beberapa pelajaran, terutama matematika dan fisika, ia sering mengalami kesulitan. Namun, Raka memiliki satu hal yang tidak pernah hilang, yaitu keinginan untuk mencapai cita-citanya.
Keinginan itu muncul ketika ia masih duduk di bangku SMP. Saat itu, ibunya pernah sakit cukup lama. Raka melihat seorang dokter yang dengan sabar memeriksa ibunya dan menjelaskan kondisi penyakitnya. Dokter tersebut tidak hanya memberikan obat, tetapi juga memberikan semangat kepada keluarganya.
Sejak saat itu, Raka mulai berpikir bahwa menjadi dokter bukan hanya tentang mengenakan jas putih atau bekerja di rumah sakit. Menjadi dokter berarti membantu orang lain ketika mereka sedang membutuhkan.
“Aku ingin seperti dokter itu,” pikir Raka.
Namun, Raka sadar bahwa perjalanan menuju cita-cita tersebut tidak mudah.
Setiap pagi, ia harus membantu ibunya menyiapkan makanan untuk dijual sebelum berangkat sekolah. Ayahnya bekerja sebagai pengemudi dan sering pulang larut malam. Keadaan ekonomi keluarga mereka sederhana. Membeli buku pelajaran tambahan atau mengikuti bimbingan belajar bukanlah sesuatu yang mudah. Meskipun begitu, Raka tidak ingin menjadikan keadaan sebagai alasan untuk menyerah.
Hari itu, setelah hujan berhenti, Raka berangkat ke sekolah dengan sepeda tuanya. Jalanan masih basah dan beberapa genangan air memenuhi jalan. Ia mengayuh sepeda dengan hati-hati sambil memikirkan ulangan biologi yang akan dilaksanakan minggu depan.
“Aku harus mendapatkan nilai yang lebih baik,” gumamnya.
Sesampainya di sekolah, Raka langsung menuju kelas. Teman sebangkunya, Dimas, sudah duduk sambil membaca buku.
“Rak, kamu belajar terus. Tidak bosan?” tanya Dimas.
“Bosan, sih. Tapi kalau berhenti sekarang, kapan aku bisa mencapai cita-citaku?” Raka tersenyum.
“Kamu serius sekali,” jawab Dimas sambil tertawa kecil.
“Memang harus serius. Mimpi tidak akan datang sendiri.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi Raka, kalimat tersebut adalah prinsip hidupnya.
Sepulang sekolah, Raka tidak langsung beristirahat. Ia membantu ibunya membereskan barang-barang dagangan. Setelah semuanya selesai, ia baru duduk di meja belajar.
Jam menunjukkan pukul empat sore. Raka membuka buku biologi. Ia membaca tentang sistem pernapasan manusia. Awalnya ia merasa materi tersebut mudah. Namun, semakin lama membaca, semakin banyak istilah yang membuatnya bingung. Ia menghela napas.
“Kenapa susah sekali?”
Raka hampir menutup bukunya. Namun, pandangannya kembali tertuju pada tulisan di halaman pertama.
AKU INGIN MENJADI DOKTER.
Ia kembali membuka buku.
“Kalau aku menyerah hanya karena satu bab, bagaimana aku bisa menghadapi pelajaran yang lebih sulit nanti?” ujar Raka.
Raka mengambil kertas kosong. Ia mulai menulis kembali materi yang belum dipahaminya menggunakan bahasanya sendiri. Ia menggambar paru-paru, menuliskan bagian-bagiannya, lalu mencoba menjelaskan fungsinya.
Satu jam berlalu. Dua jam berlalu. Akhirnya, Raka mulai memahami materi tersebut. Ia tersenyum puas.
Hari itu, ia menyadari sesuatu. Ternyata kemajuan tidak selalu terlihat dalam bentuk besar. Kadang kadang, kemajuan hanya berupa satu halaman yang berhasil dipahami.
Hari-hari berikutnya, Raka membuat kebiasaan baru. Ia belajar sedikit demi sedikit setiap hari. Ia tidak memaksakan diri untuk memahami semua pelajaran dalam satu malam. Jika tidak mengerti, ia bertanya kepada guru atau teman.
Namun, perjalanan Raka tidak selalu berjalan mulus. Ketika ulangan biologi tiba, Raka sudah merasa percaya diri. Ia telah belajar selama beberapa hari. Namun, ketika kertas soal dibagikan, beberapa pertanyaan ternyata berbeda dari yang ia pelajari. Tangannya mulai berkeringat. Ia mencoba mengingat kembali materi yang sudah dipelajarinya.
Setelah waktu habis, Raka mengumpulkan jawabannya dengan perasaan ragu. Beberapa hari kemudian, hasil ulangan dibagikan.
Nilai Raka adalah 72. Ia terdiam. Nilai itu memang tidak buruk, tetapi jauh dari target yang ia inginkan. Dimas menepuk bahunya.
“Sudahlah, Rak. Masih ada ulangan berikutnya.”
Raka mengangguk, tetapi wajahnya terlihat kecewa.
Sepulang sekolah, ia duduk sendirian di bawah pohon di halaman rumah. Ia memandangi kertas ulangannya.
“Apakah aku benar-benar bisa menjadi dokter?” pikirnya.
Untuk pertama kalinya, Raka merasa ragu terhadap mimpinya sendiri. Ibunya yang baru selesai bekerja melihat Raka duduk sendirian.
“Kamu kenapa?”
Raka menyerahkan kertas ulangannya.
“Ibu, nilainya cuma 72. Aku sudah belajar. Tapi hasilnya masih seperti ini. Bagaimana kalau aku memang tidak cukup pintar untuk menjadi dokter?”
Ibunya duduk di sampingnya.
“Raka, menurut kamu, orang yang berhasil itu orang yang tidak pernah gagal?” Raka menggeleng.
“Bukan,” jawab ibunya. “Orang yang berhasil adalah orang yang mau belajar dari kegagalannya.”
Raka diam.
“Kalau hari ini kamu mendapatkan nilai 72, jangan hanya melihat angka itu. Lihat apa yang membuat nilaimu 72. Bagian mana yang belum kamu kuasai? Perbaiki sedikit demi sedikit.”
Raka menatap ibunya.
“Sedikit demi sedikit?”
Ibunya tersenyum.
“Ya. Tidak semua mimpi dicapai dengan lompatan besar. Kadang-kadang, mimpi dicapai dengan langkah-langkah kecil yang dilakukan setiap hari.”
Kata-kata itu terus teringat dalam pikiran Raka. Malam itu, ia kembali membuka buku. Ia tidak belajar untuk mengejar nilai sempurna. Ia belajar karena ingin memahami.
Raka membuat daftar kesalahannya. Ia menandai materi yang belum dikuasai. Setiap malam, ia menyelesaikan beberapa soal. Jika salah, ia mencari tahu penyebabnya.
Minggu demi minggu berlalu. Nilai Raka mulai meningkat. Pada ulangan berikutnya, ia mendapatkan nilai 80. Kemudian 84. Lalu 87. Raka tidak langsung menjadi siswa terbaik di kelas, tetapi ia menjadi lebih baik daripada dirinya yang sebelumnya.
Suatu hari, guru biologi mengumumkan adanya lomba karya ilmiah sederhana antar sekolah.
“Bagi yang berminat, silakan membentuk kelompok,” kata gurunya.
Raka langsung tertarik. Ia bersama Dimas dan dua teman lainnya membuat sebuah kelompok. Mereka memilih topik tentang kebersihan lingkungan dan kesehatan. Mereka menghabiskan banyak waktu untuk melakukan penelitian sederhana. Mereka mencari informasi dari buku, membuat pengamatan, dan menulis laporan. Terkadang mereka berbeda pendapat. Terkadang hasil percobaan mereka tidak sesuai harapan. Bahkan, sehari sebelum presentasi, salah satu bagian laporan mereka mengalami kesalahan. Raka hampir panik. Namun, ia teringat nasihat ibunya. Mereka memperbaiki laporan tersebut bersama-sama.
Hari perlombaan pun tiba. Raka berdiri di depan para juri dengan tangan sedikit gemetar. Ia melihat banyak peserta lain yang memiliki peralatan lebih lengkap dan presentasi yang lebih bagus. Untuk sesaat, rasa minder muncul. Namun, ia menarik napas dalam-dalam.
“Aku tidak harus menjadi yang paling hebat,” pikirnya. “Aku hanya harus memberikan yang terbaik.” Presentasi dimulai.
Raka menjelaskan hasil penelitian mereka dengan percaya diri. Dimas melanjutkan bagian berikutnya. Semua anggota kelompok bekerja sama.
Setelah presentasi selesai, mereka menunggu hasil pengumuman. Kelompok Raka tidak mendapatkan juara pertama. Mereka hanya mendapatkan juara ketiga. Dimas terlihat kecewa. Namun, Raka justru tersenyum.
“Tidak apa-apa. Kita berhasil sampai di sini,” ujar Rakan menenangkan.
“Padahal kita sudah berusaha keras,” kata Dimas.
Raka mengangguk.
“Justru karena sudah berusaha, kita tahu apa yang harus diperbaiki.”
Pengalaman itu membuat Raka semakin yakin bahwa kegagalan bukanlah akhir. Beberapa bulan kemudian, Raka mulai mempersiapkan diri menghadapi ujian sekolah. Ia membuat jadwal belajar yang sederhana. Ia juga tetap membantu orang tuanya di rumah.
Tidak setiap hari berjalan sempurna. Ada hari ketika Raka sangat lelah dan hanya mampu belajar sebentar. Ada hari ketika ia merasa tidak memahami pelajaran sama sekali. Ada pula hari ketika ia ingin berhenti. Namun, setiap kali hal itu terjadi, Raka mengingat kembali mimpinya. Ia membayangkan dirinya suatu hari nanti berdiri di rumah sakit, membantu seseorang yang sedang sakit. Bayangan itu membuatnya kembali bersemangat.
Waktu terus berjalan. Raka akhirnya menyelesaikan masa SMA dengan hasil yang cukup baik. Ia tidak menjadi siswa dengan nilai tertinggi, tetapi ia berhasil mendapatkan kesempatan mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi yang ia impikan.
Hari pengumuman tiba. Raka duduk di depan komputer bersama kedua orang tuanya. Tangannya gemetar ketika memasukkan nomor pendaftaran.
Beberapa detik kemudian, hasilnya muncul. Raka membaca layar tersebut berkali-kali. Matanya membesar.
“Bu…”
Ibunya mendekat.
“Aku diterima.”
Ibunya langsung memeluk Raka. Ayahnya tersenyum bangga. Raka menahan air mata.
Perjalanan yang ia jalani belum selesai. Bahkan, perjalanan untuk menjadi dokter masih sangat panjang. Ia masih harus belajar lebih banyak, menghadapi ujian, dan melewati berbagai tantangan.
Namun, hari itu Raka memahami satu hal. Mimpi yang dulu terasa sangat jauh ternyata bisa didekati dengan langkah-langkah kecil. Ia teringat masa ketika nilai biologinya hanya 72. Ia teringat malam-malam ketika belajar sendirian, kegagalan lomba, rasa takut, dan keraguan yang pernah muncul. Semua pengalaman itu ternyata menjadi bagian penting dari perjalanannya.
Raka membuka buku lamanya yang masih ia simpan. Di halaman pertama masih terdapat tulisan yang dibuatnya bertahun-tahun lalu.
AKU INGIN MENJADI DOKTER
Di bawah tulisan itu, ia menambahkan kalimat baru, “aku mungkin belum sampai, tetapi aku sudah berjalan.”
Raka tersenyum. Ia tahu, sebuah mimpi tidak akan terwujud hanya karena seseorang menginginkannya. Mimpi membutuhkan usaha, kesabaran, keberanian, dan kemauan untuk bangkit setiap kali jatuh.
Tidak semua orang memiliki jalan yang sama. Ada yang berjalan cepat, ada yang berjalan lambat. Ada yang memiliki banyak fasilitas, ada pula yang harus berjuang dengan keterbatasan. Namun, selama seseorang terus bergerak, sekecil apapun langkahnya, ia tetap sedang mendekati tujuannya.
Sejak hari itu, Raka tidak lagi takut jika perjalanannya terasa lambat. Karena ia telah belajar bahwa langkah kecil yang dilakukan dengan tekun jauh lebih berarti daripada mimpi besar yang hanya disimpan dalam pikiran. Dan bagi Raka, perjalanan menuju mimpi bukan tentang seberapa cepat ia sampai. Perjalanan itu tentang seberapa kuat ia terus melangkah.
Satu langkah hari ini. Satu langkah esok hari. Dan satu langkah lagi setelahnya. Hingga suatu hari nanti, ia benar-benar berdiri di tempat yang selama ini hanya berani ia bayangkan. Di sana, ia akan melihat kembali perjalanan panjangnya dan berkata dalam hati.
“Ternyata, semua langkah kecil itu membawaku sampai ke sini.”
TAMAT
Tentang Penulis: Zelviari Rahma adalah murid SMAN 1 Sungai Penuh.
KEHILANGAN MAKNA
Agustian
Ketika Suatu pagi, Natin terbangun dari tidur. Ia mendapati dirinya tidur di kamar yang gelap dan sunyi,telentang di atas ranjang dengan perasaan hampa dan kebingungan. Bangun dari ranjang dengan mata yang sembap sehabis menangis tadi malam untuk beribadah kepada Tuhannya.
“Apakah rasa sakit ini memiliki arti, Tuhan?” tanya Natin.
Entah berapa kali Nanti telah berdoa kepada Tuhan yang sama dengan doa yang sama, tetapi tidak mendapat jawaban sama sekali.
Natin adalah seseorang yang sangat religius, ia sangat tertutup dengan orang banyak dan jarang bersosial karena trauma sosial yang dialaminya dulu. Ia lebih suka menghabiskan waktu di rumah. Sebab ia sering dirundung karena fisik yang lemah dan penampilannya yang culun.
Sesudah beribadah Natin bersiap untuk ke sekolah. Ia memakai seragam sekolahnya dengan rasa malas, karena di sekolah ia tidak memiliki teman.
Sebelum Natin berangkat ke sekolah, ia menyempatkan dirinya untuk sarapan bersama keluarganya. Di meja makan hanya ibu dan kakaknya. Ayah Natin tidak sarapan karena menderita sakit atrofi otot pada kakinya selama bertahun tahun yang membuat sulit untuk berjalan apalagi untuk duduk diam dalam waktu yang lama. Yang dilakukan ayahnya setiap hari hanya berbaring di ranjang sambil memijat kakinya. Badan ayah Natin juga terlihat kurus karena sulit untuknya makan sambil duduk.
Di meja makan, Natin menerima makian dari ibu dan kakaknya karena ia tidak mampu memenuhi harapan keluarganya. Dengan nada suara yang tinggi, ibunya setiap hari terus membanding-bandingkan Natin dengan kakaknya yang sudah menjadi guru di sekolah dasar, dan kakaknya memukul Natin karena dianggap beban keluarga. Dalam benak Natin, ia bertanya kenapa hidup nya harus seperti ini? Ia pun berangkat ke sekolah dengan wajah yang murung.
Sesampainya di sekolah, Natin Berusaha untuk terlihat baik-baik saja dan memasang muka ceria kepada teman-temannya. Ia menyapa teman-temannya dengan wajah yang ceria. Namun, sapaan hangat tersebut tidak disambut baik oleh temannya.
“Hey, boti sudah sampai. Kamu pake makeup?” kata teman kelas Nantin.
“Eh, iya, aku udah ganti makeup sekarang, cantik gak?” jawab Natin.
Natin berusaha untuk tidak tersinggung dan malah ikut mengejek dirinya sendiri. Padahal dalam hatinya sudah merasa lelah karena ejekan itu.
Saat Natin menuju ke kelas, ia tanpa sengaja melihat teman kelas sebelahnya Perfeto yang selalu dikerumuni para gadis. Natin bertanya dalam benaknya apakah bisa seperti dia? Tampan, lahir di keluarga kaya raya, dan disukai banyak gadis.
“Apakah Tuhan akan membalasnya di surga untukku?” tanya Nanti memelas sembari masuk ke kelas.
Sesampainya di kelas, Natin duduk sendiri tanpa berbicara karena temannya enggan untuk mengajaknya berbicara. Disela-sela menunggu pelajaran dimulai, Natin berkhayal semua yang dialaminya akan mendapat balasan dari Tuhan, dan ia akan hidup senang di dalam surga. Natin percaya setelah penderitaan ini pasti ada balasannya. Di tengah khayalannya, Natin melihat seorang gadis yang masuk ke kelas, seorang gadis yang ditaksir selama dua tahun di SMA. Enjel namanya.
Saat pelajaran dimulai, Natin terus memperhatikan Enjel. Gadis itu terlihat begitu cantik dan baik. Natin sangat menyukainya, tetapi Natin juga sadar akan kekurangannya.
Selama Natin satu kelas dengan Enjel, Natin tidak berani mengungkapkan perasaannya pada gadis itu. Namun, entah kenapa pada hari ini, ia ingin memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan yang selama ini dipendam. Ia pun mencoba bercermin melalui gawainya. mencoba memperbaiki penampilan dirinya agar bisa menarik hati sang gadis.
Saat bel istirahat berbunyi, Natin pun menghampiri Enjel untuk mengungkapkan perasaannya. Ia mengajak gadis itu untuk berbicara sebentar. Gadis itu menerima ajakan tersebut, meski mimik wajahnya menunjukan perasaan tidak suka.
Di depan kelas, mata Natin dan Enjel saling berhadapan, jantung Natin berdebar. Dengan sedikit basa-basi, akhirnya Natin mengungkapkan perasaannya.
“Maaf yah, kita temenan aja. Bukannya gak mau, mungkin ada yang lebih daripada aku,” kata Enjel.
Natin tau ini penolakan yang berbalut dengan kata-kata yang halus. Perasaannya campur aduk antara kecewa dan malu. Ia merasa seluruh badannya kaku karena saking kecewa dan malu. Natin menyadari alasan Enjel menolaknya adalah karena Natin tidak cukup tampan baginya.
Tidak lama kemudian, terdengar suara laki-laki yang memanggil Enjel. Itu adalah suara Perfeto yang ingin mengajak Enjel makan di kantin. Enjel pun pergi tanpa memperdulikan Natin. Natin melihat mereka bergandengan tangan. Ia sadar kalau mereka sudah berpacaran dari dulu. Itu berarti, selama ini ia menyukai seorang gadis yang sudah memiliki pasangan, membuatnya hati terasa remuk.
Setelah kejadian itu, bel masuk pun dibunyikan. Natin duduk di bangku dengan hati yang merasa sakit, tatapan ia kosong, matanya berkaca kaca, dan perasaannya tidak bisa lagi jelaskan dengan kata kata. Ketika Natin melihat gadis itu, perasaannya tak sama lagi, seolah-olah hatinya merasa hampa. Tapi Natin masih berharap pada Tuhannya setelah rasa sakit ini, pasti ada balasan yang lebih indah dari Tuhan.
Di sela-sela pembelajaran, guru masuk untuk memberi pengumuman tes untuk mencari calon pasukan pengibar di hari kemerdekaan. Natin yang mendengar hal tersebut sangat antusias karena ini adalah impiannya dari kelas sepuluh. Dalam benaknya, mungkin ini adalah jalan yang disiapkan Tuhan untuknya.
Sesampainya di rumah, Natin pun berolahraga untuk mengikuti tes calon pasukan pengibar. Meski tak didukung orang tuanya, Natin tak menghiraukan dan yakin Tuhan pasti menolongnya kali ini. Setiap hari Natin lari pagi, pushup, sit up, dan backup agar bisa lulus tes.
Sampailah pada hari tes calon pasukan pengibar dimulai. Pagi itu, Natin sangat bersemangat untuk mengikuti tes, dan tanpa sengaja bertemu dengan Perfeto. Sedikit basa-basi di antara mereka, terlihat Perfeto sedikit meremehkan Natin dalam percakapan itu, dan akhirnya tes pun dimulai.
Saat tes fisik. Natin jauh lebih unggul daripada Perfeto, karena fisik Natin yangs udah dilatih jauh jauh hari. Natin agak sedikit percaya diri karena yakin bahwa Tuhan pasti akan menolong dan membuatnya merasa menang untuk kali ini. Setelah tes selesai, pengumuman tes akan diumumkan minggudepan.
Natin pun bedoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhannya agar lolos tes. Semua harapan sudah digantungkan kepada Tuhannya. Ia percaya rasa sakit akan sembuh. Setelah penderitaan di balas kebahagiaan, setelah badai pasti cerah, pasti ada terang di ujung terowongan.
Seminggu kemudian, hasil tes pun diumumkan. Dengan harapan yang tinggi pada Tuhannya, Natin pun mendengarkan hasil pengumuman. Terdengar nama Perfeto lolos sebagai calon pasukan pengibar, dalam hati Natin, pasti Tuhan menolongnya kali ini.
Satu persatu nama disebutkan, tapi tak terdengar nama Natin. Ia mulai sedikit panik. Pada akhirnya, namanya tidak disebutkan.
Natin sadar bahwa selama ini Tuhan tidak pernah menolongnya. Di mana pertolongan yang Tuhan janjikan untuknya? Kenapa Tuhan tidak pernahmembalas doanya? Apakah surga itu ada untuknya?
Natin pun pulang dengan perasaan yang kecewa begitu dalam, seluruh tubuhnya lemas, tidak ada harapan. Di tepi jalan, Natin bertemu orang yang meminta sedekah demi mencari makan. Ia melihat gembel yang tidak memiliki rumah, seorang ibu yang rela mencuri untuk memberi makan anaknya. Natin pun sadar bahwa yang menderita tidak hanya ia saja, tetapi di belahan dunia lain masih banyak yang lebih menderita, masih banyak yang merasa sakit karena takdir Tuhan.
Apakah Tuhan sengaja menakdirkan seseorang untuk mederita sampai mati? Apakah kehidupan setelah mati itu ada?
Natin pulang ke rumah di hari yang sore. Tatapannya kosong tanpa makna, seolah-olah harapannya pada hari itu hilang seketika. Natin pun makan malam seperti biasa sambil mendengarkan makian ibu dan kakaknya. Setelah makan, Natin menyempatkan diri untuk menjenguk ayahnya sebelum tidur, kondisi ayahnya sangat menyedihkan. Badannya semakin kurus dan terkulai lemas menanggung rasa sakit yang ia derita.
Disaat Natin tidur di kamar, pikirannya sudah seperti peperangan karena ingin mencari jawaban atas arti penderitaan manusia did unia.
“Apakah takdirku selalu menderita? Apa jangan jangan Tuhan tidak ada? Apa Tuhan peduli dengan kita? Siapa yang bisa menjamin Tuhan itu ada? Siapa yang bisa menjamin setelah mati ada kehidupan?” tanya Natin.
Natin pun keluar rumah. Ia mengambil tali dan menggantungkannya ke pohon, berniat untuk bunuh diri sendiri. Dalam pikiran Natin yang sangat putus asa, yang ada hanyalah pertanyaan tentang makna penderitaan manusia di dunia.
“Apakah aku seperti ini karena takdir Tuhan? Apakah Tuhan sudah tahu akhir hidupku akan seperti ini?” tanya Natin.
Akhirnya, Natin menggantung dirinya sendiri. Dengan suara yang tercekik, pandangannya perlahan gelap, dan pada akhirnya mati. Hidup tanpa alasan, mati tanpa jawaban.
TAMAT
Tentang Penulis: Agustian adalah murid SMAN 7 Kerinci.
KAMI BERDUKA, KAMI MELAWAN
Zefanya Alef Lundu Tambunan
Di malam Senin itu, di dalam sebuah rumah panggung sederhana di tengah hujan lebat, Vika tidak sengaja mendengar curhatan ayahnya kepada sang ibu. Ayahnya tampak sedih sambil menatap ke arah jendela yang basah. Mendengar hal itu, Vika berniat menghampiri dan menemani kedua orang tuanya. Namun, sang ibu menyuruhnya segera tidur agar tidak terlambat bangun keesokan harinya.
Malam makin larut, dan hujan turun semakin lebat. Di tengah suasana tidur yang nyenyak, Vika mendengar gemuruh air dan merasakan sekujur tubuhnya basah. Ini bukan mimpi, dugaannya benar. Air meluap memenuhi seluruh kamarnya.
Vika berteriak memanggil ayah dan ibunya meminta tolong. Sang ayah menyahut sambil berenang menerjang air menuju kamar Vika, lalu segera menggendongnya. Sementara itu, sang ibu mengambil batang kayu besar di belakang rumah, lalu mendayungnya ke arah kamar Vika agar bisa mereka naiki bersama. Mereka pun berhasil keluar dari rumah dengan batang kayu tersebut sambil berteriak meminta pertolongan. Beruntung, tim penyelamat dengan sigap menolong mereka.
Malam itu sungguh mencekam. Kabar baiknya, hampir semua rumah warga tidak mengalami kerusakan parah. Meski demikian, mereka perlu dievakuasi ke tempat yang aman sampai dan dipastikan rumah mereka dapat dihuni kembali dengan aman.
Keesokkan harinya, matahari kembali bersinar terik. Para warga keluar dari tenda darurat, bukannya sarapan dulu malah berkumpul depan rumah kepala desa. Mereka datang membawa kayu dan poster yang telah disiapkan, amarah memenuhi depan halaman rumah kepala dusun tersebut.
“Keluar Pak Kades! Keluar kau!” teriak warga.
“Ada apa ini? Berisik sekali,” ujar Pak Kades keluar.
“Jangan pura-pura bingung, tanggung jawab kau!” jawab seorang warga.
“Baik, akan saya urus masalah banjir ini.”
“Bukan itu yang kami minta,” jawab warga lain.
“Jadi apa?”
“Hentikan proyeknya, hentikan proyeknya,” teriak warga.
“Tenang warga Dusun Sungai Jernih. Masalah ini akan-”
“Tolong, tolong…”
Suara teriakan minta tolong dari seorang pemuda di kalangan masyarakat itu datang memecah keributan
“Hutan kita yang di ujung hulu akan ditebang, aku melihat banyak kendaraan besar di sana,” ujar pemuda itu.
“Apa? Itu hutan warisan leluhur kita. Nak, apakah benar yang kami dengar sekarang?” tanya Ninik Mamak.
“Benar, aku baru pulang dari sekitar hulu sungai untuk mengambil air dan melihat ada banyak kendaraan-kendaraan besar menuju kesana.”
“Ini tidak bisa dibiarkan, Seret saja bapak ini kesana dan bicara pada mereka,” teriak Ninik Mamak.
Para warga mulai gelisah dan mereka menyeret kepala desa ke ujung hulu sungai. Setelah tiba di hutan tersebut, mereka langsung menyerbu kendaraan-kendaraan tersebut.
“Turun kalian. turun kalian. Kenapa kalian menebang hutan ini? Pergi dari sini!” teriak para warga.
Rupanya sang mandor berada di situ dan mengarahkan para supir untuk melanjutkan pekerjaan. Sementara, sebagian dari mereka terpaksa turun untuk menghalangi warga yang mulai berdatangan. Eksakavator terus berjalan dan telah menebang seperempat hutan tersebut. Namun, ayah Vika langsung berlari dan memanjat pohon tepat di depan ekskavator tersebut untuk menghalangi mereka.
“Tinggalkan hutan kami!” teriak ayah Vika.
Kegaduhan yang terjadi membuat para supir panik dan menghentikan mesin sejenak. Namun, sang mandor yang tersulut emosi melihat penghadangan itu justru berteriak memberi perintah tegas kepada operator,
“Jangan pedulikan mereka! Maju terus, gertak saja biar mereka takut!”
Atas perintah langsung sang mandor, operator ekskavator memajukan mesinnya dan mengarahkan pengeruk besi hingga menghantam dahan besar tempat ayah Vika bertahan. Benturan keras itu membuat dahan utama patah mendadak, melemparkan ayah Vika ke tanah dan tertimpa batang kayu raksasa.
“Ayah!” jerit Vika histeris.
Di tengah kepanikan warga yang berhamburan menolong, seorang pemuda desa di barisan depan bernama Aris rupanya sempat mengaktifkan perekam video di ponselnya. Dari jarak dekat, kamera ponsel Aris merekam secara jernih setiap detik insiden tersebut: wujud sang mandor yang berteriak memberi perintah, gerakan lengan ekskavator yang sengaja dihantamkan ke pohon, hingga detik-detik mengenaskan saat ayah Vika jatuh terhempas. Sebelum meninggalkan lokasi, Aris dan beberapa pemuda juga sempat memungut pecahan cat kuning dari pengeruk besi alat berat yang terkelupas dan menempel di batang pohon sebagai barang bukti fisik.
Ayah Vika dilarikan ke fasilitas medis, namun pendarahan dalam akibat benturan fisik langsung dari alat berat perusahaan membuat nyawanya tidak tertolong. Kematian ayah Vika murni menjadi kasus tindak pidana akibat perintah langsung pihak manajemen lapangan perusahaan.
Duka mendalam itu membakar amarah seluruh penduduk. Slogan Kami Berduka, Kami Melawan bergema di seluruh desa. Warga menggelar demo susulan yang jauh lebih masif dan memblokir total akses operasional. Pihak perusahaan membalas dengan melayangkan gugatan perdata serta melaporkan warga atas tuduhan penyerobotan lahan dan tindakan anarkis.
Suasana di Pengadilan Negeri tampak tegang luar biasa. Gelombang pengunjung dari Dusun Sungai Jernih memenuhi kursi penonton hingga meluber ke luar ruang sidang. Di meja tergugat, jajaran pengacara senior berjas rapi dari pihak perusahaan duduk dengan tatapan dingin, memegang tumpukan berkas tebal berpita hijau.
Debat panas tak terelakkan sejak awal persidangan dibuka oleh Majelis Hakim.
“Yang Mulia Majelis Hakim,” ujar kuasa hukum perusahaan dengan suara mantap dan nada intimidatif.
“Penggugat menuduh klien kami melakukan perbuatan melawan hukum dan merusak lingkungan. Namun mari kita bicara data dan fakta hukum resmi! Klien kami beroperasi di atas tanah negara berdasarkan Surat Keputusan (SK) Legalitas Konsesi yang sah, dibekali sertifikat AMDAL berstempel basah dari kementerian, serta izin operasional resmi. Semua dokumen ini diterbitkan oleh negara!”
“Tetapi Yang Mulia, perizinan tidak bisa menjadi tameng untuk melegalkan pengrusakan hulu sungai yang memicu banjir bandang, apalagi menutup-nutupi tindak pidana yang memakan korban jiwa!” timpal pengacara warga.
“Keberatan Yang Mulia!” potong pengacara perusahaan tajam.
“Mengenai musibah gugurnya warga di lokasi, itu murni akibat kecelakaan dan tindakan kecerobohan korban sendiri yang memanjat area berbahaya saat alat berat beroperasi secara sah. Foto-foto dan laporan lalu lintas operasional kami membuktikan kawasan itu adalah area terbatas!”
Perdebatan berlanjut kian sengit berjam-jam. Pihak perusahaan mencecar para saksi warga dengan pertanyaan-pertanyaan hukum yang menjebak. Mereka menekan saksi desa hingga kebingungan menjawab detail administratif regulasi pertanahan. Tim kuasa hukum perusahaan bahkan menghadirkan saksi ahli hukum tata negara yang menyatakan bahwa dokumen SK legal yang dipegang perusahaan berkedudukan sangat kokoh di mata hukum.
Wajah Vika dan ibunya memucat di kursi penonton. Suasana di ruang sidang menunjukkan indikasi kuat bahwa pihak perusahaan berada di atas angin. Majelis Hakim tampak berkali-kali mengangguk saat meneliti keabsahan dokumen perizinan resmi perusahaan. Harapan warga seolah runtuh; perusahaan yang bermodal besar itu tampaknya akan menang mudah atas dasar formalitas dokumen negara.
Namun, di tengah tekanan itu, pengacara warga cermat meneliti berkas fisik AMDAL yang dipamerkan perusahaan. Ia menemukan kejanggalan fatal pertama: tanggal penandatanganan berita acara persetujuan warga tercatat persis pada hari saat desa sedang dilanda banjir bandang pertama. Secara logika, tidak mungkin warga menggelar rapat persetujuan di saat rumah mereka terendam air. Selain itu, belasan tanda tangan warga di lampiran memiliki pola tarikan garis yang identik mengindikasikan pemalsuan oleh satu orang yang sama.
Kejanggalan ini langsung disuarakan pengacara warga di hadapan hakim, membuat meja tergugat mulai gelisah. Pergolakan kian memuncak di luar ruang sidang saat istirahat siang.
Penjelasannya bermula dari pergolakan batin anak Kepala Desa. Sebagai teman dekat Vika sejak kecil, ia tidak tahan lagi menanggung rasa bersalah atas kematian ayah Vika. Selama ini ia memendam rahasia kelam setelah tak sengaja melihat ayahnya sering dipanggil ke kantor operasional perusahaan pada malam hari. Mengetahui dokumen ayahnya mulai dipojokkan dan diragukan di dalam ruang sidang, keberaniannya akhirnya pecah. Ia membongkar laci meja kerja Kades secara diam-diam dan mengambil sebuah flashdisk rahasia. Di dalamnya tersimpan salinan mutasi rekening pribadi Kades yang menunjukkan deretan aliran dana suap berkala dari anak perusahaan PT Cahaya Nusa Mandiri serta berkas rekaman percakapan saat kesepakatan rahasia itu dibuat.
Sambil gemetar, anak Kades tersebut menemui Aris dan tim kuasa hukum warga di luar gedung pengadilan. Aris, yang selama ini menahan rekaman ponselnya karena diancam oleh oknum pendukung perusahaan, akhirnya ikut tergerak menyerahkan file video asli perintah mandor dan pecahan cat alat berat tersebut untuk digabungkan menjadi satu bundel bukti pamungkas.
Tepat sebelum Ketua Majelis Hakim hendak mengetuk palu untuk menutup sesi pembuktian, tim kuasa hukum warga mengajukan bukti baru yang menyatukan seluruh kejanggalan tersebut.
“Yang Mulia! Kami memohon agar Majelis menerima bukti baru yang mengonfirmasi kejanggalan dokumen tergugat serta tindak pidana di lapangan!” seru pengacara warga.
“Keberatan Yang Mulia! Tahapan penyerahan bukti utama sudah lewat. Ini taktik mengulur waktu!” potong pengacara perusahaan.
“Beri ruang untuk kuasa hukum penggugat menjelaskan jenis bukti baru ini,” potong Ketua Majelis Hakim tegas.
Pengacara warga melangkah ke depan meja hakim dan menyerahkan dua buah bukti: berkas flashdisk serta rekaman video digital.
“Bukti pertama adalah rekaman video dari ponsel Aris di TKP yang direkam secara langsung, memperlihatkan perintah suara mandor perusahaan untuk menghantamkan pengeruk besi ke pohon tempat almarhum ayah Vika berada. Ini membuktikan adanya tindak pidana kesengajaan oleh pihak perusahaan, bukan sekadar kecelakaan murni!” papar pengacara warga.
Suasana ruang sidang mulai kasak-kusuk. Pengacara warga melanjutkan dengan bukti kedua yang jauh lebih meledak.
“Bukti kedua, Yang Mulia… Kejanggalan tanggal dan pemalsuan tanda tangan pada berkas AMDAL kini terjawab secara gamblang. Kami menerima bukti korupsi mutasi rekening pribadi Kepala Dusun yang diserahkan oleh pihak dalam. Terungkap bahwa Dokumen AMDAL dan SK Legalitas yang dibanggakan tergugat bisa terbit akibat aliran dana suap berkala bernilai ratusan juta rupiah yang masuk langsung ke rekening pribadi Kepala Desa Dusun Sungai Jernih dan oknum dinas perizinan daerah!”
Gedoran palu sidang tak mampu menahan kehebohan di ruang pengadilan. Pihak perusahaan dan tim pengacaranya seketika saling pandang dengan wajah pucat pasi.
Sesuai dengan prosedur peradilan di Indonesia, apabila muncul bukti baru terkait tindak pidana korupsi, pemalsuan dokumen, dan tindak pidana kekerasan yang memengaruhi keabsahan objek sengketa, proses perdata tidak bisa langsung diputus.
“Menimbang adanya indikasi kuat tindak pidana korupsi, pemalsuan dokumen publik, serta kejahatan yang menghilangkan nyawa orang,” tegas Ketua Majelis Hakim, “Maka Majelis Hakim memutuskan untuk menunda persidangan perkara ini. Sidang ditunda untuk memberikan kesempatan kepada aparat penegak hukum, penyidik kepolisian, dan kejaksaan guna melakukan penyidikan pidana serta uji forensik atas keaslian bukti-bukti baru tersebut.”
TUK TUK TUK!
Penundaan sidang tersebut membuka babak baru penyidikan yang intensif. Selama masa penundaan, Tim Laboratorium Forensik Kepolisian menguji keaslian video amatir dan mengonfirmasi bahwa rekaman suara mandor serta pergerakan ekskavator murni tanpa rekayasa. Di saat yang sama, tim penyidik tindak pidana korupsi mengusut mutasi rekening pribadi Kepala Desa dan menemukan bukti transfer bertahap dari anak perusahaan PT Cahaya Nusa Mandiri.
Kepala Dusun Sungai Jernih yang tak bisa mengelak lagi akhirnya melimpahkan seluruh pengakuan. Ia membeberkan bagaimana jajaran manajemen perusahaan menyuapnya lewat rekening pribadi untuk memalsukan tanda tangan warga agar dokumen persetujuan lingkungan mulus diterbitkan.
Beberapa bulan kemudian, persidangan dilanjutkan kembali. Kali ini, konstelasi di dalam ruang sidang berbalik total. Pihak perusahaan tak lagi bisa bergeming di balik dokumen izin mereka yang kini resmi dinyatakan cacat hukum.
Dalam persidangan pembacaan putusan akhir yang dihadiri ratusan warga dengan dada penuh haru, Majelis Hakim membacakan vonis yang sangat berat dan setimpal:
Pencabutan Izin & Pembatalan SK: Majelis Hakim memutuskan bahwa SK Legalitas, dokumen AMDAL, dan izin operasional perusahaan Batal Demi Hukum karena diperoleh melalui tindak kejahatan penyuapan dan pemalsuan dokumen.
Hukuman Pidana Perorangan: Sang mandor dan operator ekskavator divonis hukuman penjara atas tindak pidana kesengajaan yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain. Sementara itu, Kepala Desa serta pimpinan tinggi perusahaan dijebloskan ke dalam penjara atas kejahatan tindak pidana korupsi, penyuapan pejabat publik, dan pemalsuan berkas negara.
Penyitaan Aset & Kewajiban Restorasi: Seluruh aset unit alat berat milik perusahaan disita oleh negara untuk dilelang. Hasil lelang dialokasikan sepenuhnya untuk mendanai pemulihan dan reboisasi kawasan hulu sungai. Perusahaan juga diwajibkan membayar ganti rugi finansial yang sangat besar kepada keluarga Vika atas kematian sang ayah, serta ganti rugi kerusakan rumah warga akibat banjir.
Wilayah hulu sungai secara resmi dikembalikan status hukumnya sebagai Hutan Adat Lindung Dusun Sungai Jernih yang dilindungi undang-undang dan tidak boleh diganggu gugat oleh pihak mana pun.
Beberapa hari setelah persidangan selesai dan keadilan diputuskan, Vika dan ibunya mulai merapikan kembali rumah mereka yang sempat terbengkalai akibat diterpa banjir dan hiruk-piruk persidangan. Di sudut gudang belakang rumah tempat yang biasanya digunakan almarhum ayahnya menyimpan perkakas tani, ibu Vika tidak sengaja menyenggol sebuah peti kayu tua yang tertutup kain terpal usang.
Ketika terpal dibuka, mata Vika berkaca-kaca. Di dalam peti itu tersusun rapi belasan kantong polibag berisi bibit-bibit pohon hutan lokal unggulan yang kondisinya masih terawat baik. Di samping kantong-kantong itu, terdapat sebuah catatan kecil berdebu tulisan tangan sang ayah:
“Bibit untuk benteng desa kita. Kalau hutan hulu rusak, pohon-pohon ini yang harus menjaga rumah kita dari banjir.”
Rupanya, jauh sebelum konflik dengan perusahaan memuncak, sang ayah sudah menyadari potensi ancaman bencana di desanya. Beliau secara diam-diam mengumpulkan dan merawat bibit-bibit pohon berakar kuat itu untuk ditanam di sekitar area pemukiman warga.
Penemuan bibit peninggalan almarhum langsung menyebarkan rasa haru sekaligus semangat baru di tengah masyarakat Dusun Sungai Jernih. Warga desa sepakat untuk mewujudkan cita-cita almarhum ayah Vika.
Pada hari Minggu pagi, suasana desa tampak begitu hidup. Warga dari berbagai usia mulai dari anak-anak, pemuda, hingga para tetua berkumpul membawa cangkul dan sekop. Didampingi Vika dan ibunya, warga membagi tugas untuk menanam bibit-bibit peninggalan sang ayah serta tambahan bibit baru.
Fokus penanaman tidak dilakukan di area Hutan Adat hulu yang kini ditangani oleh program restorasi negara, melainkan di sepanjang sekeliling area pemukiman dan area hutan kecil yang berada dekat dengan pemukiman warga sebagai benteng pelindung alami langsung bagi rumah-rumah mereka.
Vika, dengan kedua tangan yang berbalut tanah, menanam bibit pohon pertama dari peninggalan ayahnya tepat di dekat batas desa. Ibunya menyiramkan air dengan tersenyum lembut. Pohon-pohon yang mereka tanam hari itu bukan sekadar pelindung dari ancaman banjir di masa depan, melainkan monumen hidup atas keberanian, persatuan warga, dan warisan cinta seorang ayah bagi desanya.
TAMAT
Tentang Penulis: Zefanya Alef Lundu Tambunan siswa SMAN 1 Sungai Penuh
JEMBATAN ALE SIDOGA
Zulaikha Riskiana
Gemericik air terdengar dari bawah air terjun, menandakan betapa derasnya arus air tersebut mengalir. Airnya masih biru sebening kaca, udaranya yang masih sejuk merasuk ke dalam tubuh, memberikan ketenangan jiwa. Pohon-pohon hijau yang rimbun mengelilinginya. Anak laki-laki itu berdiri dengan tegak di atas tebing, untuk melancarkan aksinya. Ia, melompat dari tebing itu, menceburkan dirinya ke sungai.
“Lompatan ku keren kan, Pak?” tanyanya, senyuman yang terukir cerah di wajahnya bagaikan bunga yang baru mekar, indahnya semangat jiwa muda.
Tampak seorang pria paruh baya berusia sekitar 40 tahunan, mengawasinya dari tepi sungai, sambil memegangi jaring ikan. Ia, hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan anak itu. Anak laki-laki itu bernama Ale Sidoga, anak berumur 10 tahun yang sangat suka bermain di sungai, sambil menemani ayahnya menangkap ikan, untuk di jual di pasar.
Tak terasa hari semakin gelap, mereka harus segera bergegas pulang. Meskipun tangkapan ikan yg di dapat tidak banyak, tapi setidaknya mereka tidak pulang dengan tangan kosong. Mereka tinggal di desa Bukit Timbul, yang terkenal dengan lingkungannya yang masih sangat asri.
“Ale, sudah main airnya, ayo pulang.”
Di tengah perjalanan menuju arah pulang, langkah Ale terhenti, matanya menatap ke arah jembatan gantung yang selalu membuat nya penasaran. Mengapa jembatan ini tidak pernah dilewati, dan kenapa orang-orang malah melewati jalan yang lebih jauh jika tidak melewati jembatan ini.
“Kenapa malah berhenti? Cepat jalan lagi,”
“Ale, penasaran, Pak. Kenapa kita gak lewat jembatan aja? Kan lebih cepat sampainya?” ungkapnya.
Sebuah pertanyaan mengejutkan yang dilontarkan Ale, membuat Ayahnya kebingungan. Pasalnya tak ada seorang pun, orang-orang desa Bukit Timbul yang mempersoalkan jembatan ini. Sama seperti halnya menjaga adat atau kepercayaan, sudah seperti aturan bagi desainer, agar orang-orang tak melewati nya.
“Bapak, juga kurang tau le. Kita kan juga pindahan ke sini, jadi harus mengikuti aturan di desa ini. Sudahlah, tidak usah memikirkan hal yang tidak perlu,” imbuh Ayahnya.
Dengan raut wajahnya yang bagaikan kain lap kusut, Ale pun pulang ke rumah tanpa terjawab rasa penasarannya.
Keesokan harinya, setelah fajar terbit, Ale pun ikut ayahnya ke pasar untuk menjual ikan hasil tangkapan mereka. Lapak beralaskan tikar rotan ditambah meja kayu itu menjadi tempat berdagang Ale dan Ayahnya. Terlihat banyak orang berlalu lalang, ada ibu-ibu yang kesusahan membawa belanjaan nya, ada bapak-bapak yang sedang asyik mengobrol di warung kopi, dan lain sebagainya.
Matahari sudah semakin naik dan terik. Beberapa pedagang terlihat sudah membereskan beberapa lapak dagangannya. Tetapi, ada pula yang masih sibuk berdagang. Mungkin mau berdagang Sampai malam?
“Karena sudah habis ikannya terjual, Ale pergi main dulu ya, Pak!”
“Mau main kemana lagi?” ucap ayahnya sembari membereskan lapak dagangan mereka.
“Biasa pak, ke sungai. Banyak temennya kok, ada Anton, sama Gani juga. Boleh ya, Pak?”
“Tapi kamu harus hati-hati ya, jangan pulang terlalu sore. Nah, makan ini bersama teman- teman mu,” ayahnya menyodorkan wadah bekal, berisi beberapa potong roti.
Beberapa saat kemudian, Anton, dan Gani pun datang menghampiri Ale. Ale, pun mencium punggung tangan ayahnya sebelum pergi. Belum sempat menginjakkan kaki ke luar pasar bersama teman-temannya, Ale mendengarkan sesuatu yang tak asing di telinganya dari ibu-ibu pasar yang tengah asik menggibah
“Eh, Buk Salmah. Sudah tau belum? Katanya jembatan itu makan korban lagi ya?” tanya Bu Ani.
“Iya loh, Buk. Saya aja ga berani lewat jembatan itu, meskipun jalannya lebih jauh kalo nggak lewat jembatan itu, yang penting saya aman dan ga terjadi apa-apa.”
“Masalah nya, kemarin itu yang ngelewatin jembatan ini tuh, ibu hamil yang mau melahirkan.”
“Karena sudah kepepet, jadinya harus lewat jembatan itu buat pergi ke puskesmas,” tambah Bu Ani.
“Aduh! kasihan sekali ya buk, “
Ale hanya bisa mengira-ngira apa yang terjadi. Dengan rasa penuh semangat, Ale pun mengajak teman-teman nya untuk mempercepat langkah kakinya.
“Anton, Gani, kalian tidak penasaran kah dengan jembatan itu? Kenapa ya orang-orang tidak berani melewati nya?” ungkap Ale dengan raut wajahnya yang bingung.
“Kalau kata nenek ku ya, dulunya jembatan itu selalu digunakan untuk kegiatan sehari-hari para warga desa, sampai suatu hari sudah tidak digunakan lagi,” jawab Anton sambil menggaruk-garuk kepalanya yang gatal.
“Dari pada penasaran, bagaimana kalau kita coba saja sendiri, siapa tahu kita bisa menemukan sesuatu?” saran Gani yang ingin menjawab semua pertanyaan Ale selama ini.
Jantungnya berdegup kencang seakan tersetrum listrik, rasa ingin tahu nya menguap-uap bagaikan air yang telah mendidih. Jiwa-jiwa muda yang ingin tahu akan segala hal yang terjadi di sekitarnya.
Setibanya di sungai, mereka terlebih dulu memakan bekal yang diberikan oleh Ayah Ale. Setelahnya, baru lah mereka mendekat ke arah jembatan itu. Jika diperhatikan lagi dari dekat, terlihat jelas besi-besi yang menjadi pegangan jembatan itu sudah berkarat, papan kayu yang menjadi pijakan pun terlihat sudah rapuh dan bisa jatuh pakan saja jka dipijak. Ketika ingin melangkahkan kakinya, seorang kakek tua pun menghentikan mereka. Kakek itu sering dipanggil dengan sebutan Kek Karta.
“Apa yang kalian lakukan disini?” tanya Kek Karta, yang tertatih-tatih berjalan ke arah mereka.
“Kami mau lewat jembatan ini, Kek,” sahut Ale, ia mengerutkan kan keningnya, merasa terganggu dengan kehadiran Kek Karta, karena sudah menghalangi mereka.
“Kalian mau mati?!” marah Kek Karta.
Ale dan teman-temannya hanya bisa terdiam seribu bahasa mendengar ucapan Kek Karta. Mereka pun perlahan-lahan berjalan menjauh dari jembatan itu. Kek Karta pun mendekati ke arah Ale, lalu menepuk-nepuk pundak nya. Setelah itu, Kek Karta menasehati mereka agar tidak melakukan hal yang berbahaya dan mengajak Ale, serta teman-temannya untuk mampir kerumah Kek Karta jika ingin semua pertanyaan mereka terjawab.
Sesuai perkataan Kek Karta, Ale dan teman-temannya pun mengikuti Kek Karta untuk menjawab rasa penasarannya. Letak rumah Kek Karta tidak terlalu jauh, hanya terletak di tepi hilir sungai yang sering mereka datangi untuk bermain. Rumah Kek Karta seperti rumah rakit, rumah adat yang berbentuk rumah apung di atas air yang berasal dari Provinsi Sumatera Selatan dan Bangka Belitung, rumah ini berdiri di atas rangkaian bambu atau batang kayu besar.
“Sebenarnya, jika mengingat rumor yang beredar di kalangan masyarakat desa kita, yang mengatakan jembatan itu memakan tumbal lah, atau pun segala macam, semua itu salah besar,” ucap Kek Karta sambil menyajikan makanan pada Ale dan teman-temannya.
Kek Karta menambah, kecelakaan yang merenggut banyak korban selama ini bukan karena berhubungan dengan hal-hal yang berbau mistis, seperti jembatan yang menginginkan tumbal,. Tetapi karena kurangnya infrastruktur jembatan yang memadai dan aman. Mengakibatkan Banyak orang tak berani melewati nya.
“Kalau seperti itu kenapa tidak diperbaiki saja, Kek?” tanya Ale.
“Sepertinya susah, mengingat rasa gotong royong di masyarakat kini semakin melemah, kondisi Kakek saat ini juga susah jika harus pergi ke pusat desa untuk mengajak orang-orang memperbaiki jembatan.”
“Kalau begitu bagaimana jika Ale bantu menyampaikan nya pada warga desa melalui Pak RT, Kek?”
Usulan Ale pun diterima oleh Kek Karta dan teman-temannya. Sepulang dari rumah KekKarta, ia pun menceritakan kejadian hari ini kepada Ayahnya, dan meminta ayahnya untuk menemani nya ke rumah pak RT. Ale mengusulkan untuk mengajak warga desa memperbaiki jembatan, agar bisa digunakan kembali, serta memperlancar kegiatan sehari-hari para warga desa. Berkat usulan Ale disetujui oleh pak RT, segeralah proyek renovasi jembatan dilakukan.
Hari demi hari berlalu, beberapa bulan setelah renovasi jembatan selesai, jembatan pun akhirnya bisa digunakan kembali. Rasa syukur dan senang membanjiri perasaan warga desa, karena tidak perlu melewati jalan yang lebih jauh lagi. Ale dan teman-temannya pun mendatangi jembatan itu kembali. Warga desa yang berterima kasih atas usulan Ale hari itu, memberikan nama kepada jembatan itu, yaitu “Jembatan Ale Sidoga” sebagai bentuk apresiasi kepada Ale.
TAMAT
