Tempat dimana cerita-cerita pendek dipilih dan dibagikan kepada kalian
Gerobak Di ujung Gang
Wilda Yani merupakan mahasiswi semester enam Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Ia memiliki minat besar dalam dunia kepenulisan dan aktif mengembangkan keterampilan literasi serta kreativitas selama masa studi. Dengan latar belakang sastra dan keguruan, Wilda berupaya menggabungkan kecintaannya pada menulis dengan pengembangan pendidikan untuk mendukung literasi di masa depan. Instagram: ywlld_ | Kontak: 083827617540
Pagi di perkampungan kecil itu selalu dimulai dengan cara yang hampir sama. Jalan tanah di depan rumah masih basah oleh embun, dan suara ayam bersahut-sahutan dari halaman tetangga. Dari dapur rumah sederhana itu sudah mulai tercium bau nasi yang dimasak, sementara beberapa orang berjalan menuju pasar membawa keranjang plastik.
Aku menatap layar laptopku cukup lama sebelum menulis kalimat pertama.
Pagi di perkampungan kecilku selalu dimulai dengan suara ayam dan derit gerobak kayu yang didorong bapak melewati jalan tanah.
Aku berhenti. Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa terasa berat. Seolah di dalamnya sudah ada sebuah kehidupan yang sedang menunggu untuk diceritakan.
Aku sedang menulis cerpen tentang seorang anak perempuan bernama Renjana. Awalnya ini hanya tugas menulis cerpen biasa. Aku hanya ingin membuat cerita tentang seorang anak desa yang harus berhenti sekolah karena keadaan ekonomi.
Cerita seperti itu tidak jarang. Bahkan mungkin terlalu sering terjadi.Tapi semakin lama aku menulis, Renjana terasa seperti bukan sekadar tokoh yang kubuat. Ia seperti seseorang yang benar-benar pernah hidup di perkampungan itu. Aku mengetik lagi.
Namaku Renjana.
Jari-jariku berhenti lagi di atas keyboard. Aneh sekali. Seperti bukan aku yang memperkenalkan dia, tapi dia sendiri yang sedang bicara melalui tulisan ini. Aku menarik napas pelan, lalu mulai menulis lagi.
Pagi di perkampungan kecilku selalu dimulai dengan suara ayam dan derit gerobak kayu yang didorong bapak melewati jalan tanah. Rumah kami berdinding papan dengan cat yang sudah mengelupas di banyak tempat. Kalau hujan turun, atap sengnya berbunyi keras seperti dipukul-pukul dari atas.
Namaku Renjana.
Aku tinggal berdua dengan bapak. Ibu sudah lama meninggal karena sakit yang datang perlahan dan pergi dengan cara yang terlalu cepat. Dulu aku masih sekolah. Masih memakai seragam putih abu-abu setiap pagi, berjalan kaki bersama teman-teman menuju sekolah yang jaraknya hampir dua kilometer dari rumah. Aku suka duduk di bangku depan. Aku suka mencatat pelajaran dengan rapi. Dan diam-diam aku punya mimpi yang sederhana: kuliah di kota dan membuat bapak berhenti bekerja.
Aku berhenti mengetik. Cerita ini mulai terasa terlalu nyata. Di kepalaku muncul bayangan seorang anak perempuan yang berdiri di depan rumah papan dengan tas sekolah di punggungnya.
“Jangan buat aku terlihat terlalu bahagia di awal,” suara kecil seperti muncul di kepalaku.
Aku mengerutkan kening. Aku tahu itu hanya perasaanku sendiri, tapi rasanya seperti Renjana sedang berbicara.
“Baiklah,” gumamku pelan.
Aku kembali mengetik.
Ibu mulai sering sakit ketika aku kelas dua SMA. Awalnya hanya batuk dan demam ringan. Tapi lama-lama tubuhnya semakin lemah. Bapak membawanya ke puskesmas, lalu ke rumah sakit.
Setiap pulang dari rumah sakit, bapak selalu membawa amplop berisi kuitansi. Aku tidak pernah melihat jumlahnya. Tapi aku bisa melihat dari wajah bapak bahwa itu tidak sedikit. Tabungan kami habis perlahan-lahan.
Sampai akhirnya ibu meninggal.Rumah kami yang kecil tiba-tiba terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.
Tanganku berhenti.
Aku menatap layar cukup lama .Aku tahu bagian berikutnya dari cerita ini. Bagian yang bahkan ketika kutulis, rasanya seperti menekan sesuatu di dada. Cerita ini mulai terasa terlalu nyata.
Aku mengetik bagian berikutnya dengan pelan.
Beberapa minggu setelah ibu meninggal, aku membuat keputusan yang tidak pernah benarbenar ingin kuambil.
Aku berhenti sekolah.
Hari terakhir aku datang ke kelas, aku mengemasi buku-buku pelajaran dengan tangan yang terasa lebih berat dari biasanya. Wali kelasku menatapku lama.
“Sayang sekali kalau kamu berhenti, Renjana. Nilaimu bagus.” Aku hanya tersenyum kecil.
Kadang hidup tidak memberi kita pilihan yang baik. Hanya pilihan yang paling mungkin.
Aku berhenti lagi.
Di kepalaku, Renjana terlihat berdiri di gerbang sekolah untuk terakhir kkalinya Ada sesuatu yang menyesakkan di adegan itu.
“Jangan buat aku terlihat seperti menyerah,” suara itu muncul lagi.
Aku menghela napas.
“Aku tidak membuatmu menyerah,” kataku pelan pada layar laptopku.
“Aku hanya menuliskan apa yang ada difikiran ku.” Aku melanjutkan cerita.
Sejak berhenti sekolah, aku membantu bapak berjualan sayur. Setiap pagi kami pergi ke pasar sebelum matahari terbit. Bapak memilih sayur-sayur yang masih segar, sementara aku menyusun keranjang di atas gerobak.
Siang hari kami berkeliling kampung.
Kadang aku bertemu teman sekolah yang pulang dengan seragam mereka. Beberapa dari mereka menyapaku dengan canggung. Beberapa hanya lewat tanpa berkata apa-apa.
Awalnya aku merasa malu. Tapi lama-lama yang tersisa hanya rasa rindu pada bangku kelas.
Aku membaca ulang paragraf itu. Cerita ini semakin terasa seperti kehidupan seseorang yang nyata. Aku tahu bagian berikutnya harus datang yaitu kesempatan kedua. Aku mulai mengetik dengan pelan.
Suatu siang yang panas, wali kelasku datang ke rumah. Ia duduk di kursi plastik yang sandarannya sudah retak.
Ia bilang sekolah sedang mencari siswa yang bisa dibantu melalui program beasiswa dari donatur.Namaku masih diingat karena nilai-nilaiku dulu cukup baik.Kalau aku mau kembali sekolah, biaya akan dibantu.
Aku menatap bapak waktu itu. Ia terlihat kaget, tapi juga seperti memikirkan sesuatu.
“Kalau kamu mau sekolah lagi, lanjutkan saja,” kata bapak akhirnya.
Saat menulis bagian itu, dadaku terasa sedikit lebih ringan. Di kepalaku, Renjana seperti menghela napas panjang. Cerita terus berjalan.
Aku kembali sekolah.
Rasanya agak aneh di awal, karena sempat berhenti. Tapi aku mencoba mengejar pelajaran yang tertinggal. Aku belajar lebih serius dari sebelumnya.
Beasiswa itu terus berlanjut sampai aku lulus SMA.Dari situ aku mendapat kesempatan melanjutkan kuliah di kota lain. Dan Untuk pertama kalinya aku harus meninggalkan kampung dan bapak.
Aku menulis tentang perpisahannya dengan bapak di depan rumah kecil mereka. Tentang bus tua yang membawanya pergi merantau. Tapi ada satu bagian yang membuat tanganku berhenti lama sekali.
Bagian tentang sakit bapaknya.
“Tidak harus begitu, kan?” suara Renjana terdengar pelan di kepalaku.
Aku menatap layar laptopku.
“Kadang hidup memang seperti itu,” jawabku pelan.
“Kenapa semua orang harus pergi?” Aku tidak menjawab.
Aku menarik napas panjang.
Lalu aku tetap mengetik.
Di kota, hidup tidak selalu mudah. Aku harus belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Kadang aku juga bekerja paruh waktu untuk menambah uang makan. Bapak tetap berjualan sayur di kampung. Setiap kali kami berbicara lewat telepon, ia selalu bilang semuanya baik-baik saja.
Aku percaya.
Tanganku terasa semakin berat.
Aku mengetik kalimat berikutnya perlahan.
Sampai suatu hari aku pulang dan melihat bapak terlihat lebih kurus dari biasanya.
“bapak sakit, Pak?” tanyaku.
“biasa Cuma capek sedikit,” jawabnya.
Tanganku berhenti.
Aku tahu bagian terakhir dari cerita ini. Aku mengetiknya perlahan.
Beberapa bulan kemudian, aku mendapat kabar bahwa bapak dirawat di rumah sakit.
Di sana aku baru tahu bahwa ia sudah lama sakit. Ia tidak pernah benar-benar menceritakannya padaku. Aku bertanya kenapa ia menyembunyikannya.
Bapak hanya bilang ia tidak ingin aku berhenti kuliah atau pulang sebelum menyelesaikan apa yang sudah kuperjuangkan.
Aku berhenti mengetik. Mataku terasa panas.Aku tahu bagian berikutnya dari cerita ini. Dan aku tahu itu akan menyakitkan.
Aku mengetik kalimat itu perlahan.
Beberapa hari kemudian, bapaknya Renjana meninggal.
Aku berhenti. Layar laptop sunyi. Kursor berkedip pelan.
Aku menarik napas dan mulai menulis bagian penutup.
Sekarang aku sudah bekerja dan bapak tidak dapat mencicipi hasil kerja keras ku sekarang, aku sering pulang ke perkampungan kecil itu. Rumah bapak yang dulu kami tempati sedikit demi sedikit sudah ku perbaiki. Gerobak kayu bapak masih kusimpan di samping rumah Tiba-tiba sebuah huruf muncul di layar.
Aku tidak mengetiknya.
Aku membeku. Huruf lain muncul. Kalimat perlahan terbentuk.
Namaku Renjana.
Tanganku masih berada di atas keyboard. Tapi aku tidak menyentuh apa pun.
Tulisan itu terus bertambah.
Aku tahu kamu sedang menulis ceritaku.
Terima kasih sudah menceritakan hidupku.
Tentang ibu, Tentang sekolah., Tentang gerobak bapak.
Aku menelan ludah.
Jantungku berdegup lebih cepat. Tulisan di layar terus bergerak. Tapi bagian akhirnya… biarkan aku yang menulisnya.
Aku mencoba menekan tombol keyboard.
Tidak ada yang berubah. Tulisan itu terus berjalan.
Bapak memang sudah pergi. Tapi aku masih di sini.
Aku masih berjalan melewati gang kecil itu setiap kali pulang ke kampung.
Gerobak kayu itu masih ada di samping rumah.
Pegangannya sudah halus karena sering didorong bertahun-tahun.
Kalimat terakhir muncul perlahan.
Ini bukan lagi ceritamu.
Ini ceritaku.
Kursor berhenti berkedip.
Layar laptopku sunyi.
Dan untuk pertama kalinya sejak cerita ini dimulai…
Aku merasa Renjana benar-benar ada.ss
SENI SENIMAN GILA
Selly N P Manurung. Kerap dipanggil Selly. Ketertarikan berkarya dimulai saat mempertanyakan mengapa karya yang melewati makna karya itu sendiri jauh lebih menarik dibanding karya yang maknanya hanya sekedar makna. Jika timbul keberanian mempertanyakan makna, maka beranilah berkarya dan berani pulalah karya itu. Dalam bahasa Belanda Aangenaam, salam kenal.
“Bagaimana bisa kau menafsirkan sebuah keutuhan seni bila tidak kau temukan tafsiran lainnya?”
Entah sudah berapa kali kalimat itu keluar dari bibir perempuan yang duduk di jendela itu. Sudah menjadi tabiatnya memilih duduk di jendela saat senja mulai mengikis dirinya sendiri. Tatapannya seolah ingin mengoyak habis setiap siluet tubuh yang berusaha menghalangi pandangannya.
“Bukankah waktunya sudah lewat, mengapa sampai sekarang tak kunjung pulang juga?” ucapmu sambil sesekali menggigit kuku kakimu kali ini. Aku tidak habis pikir dengan kebiasaan anehmu itu. Kau seolah ingin menelanjangi pelindung terakhir yang tersisa.
“Kali ini apa lelaki tua itu lupa jalan kembali pulang? haruskah aku turun dari jendela ini lalu menghampirinya dan menuntunnya layaknya seorang gembala kepada dombanya?”
Aku heran dengan seluruh anggota tubuhmu, bagaimana bisa bertahan utuh di rumah yang kau sebut itu sebagai seni. Hidup kau anggap seni, ya aku tidak menolak anggapanmu itu. Air seni kau anggap seni, kantung kemih kau anggap seni dan paling gilanya kau bilang kau ingin berseni dalam kematianmu yang kekal.
Bagaimana bisa pula kau sebut mati itu sebagai seni. Bagiku seni itu mati saat kau mati pula hari itu. Dengan cepat dan lantang kau tangani mulutku, kau katakan “Ketika mati bukankah kau didandani seindah mungkin dan bunga ditaburi di atas pemakamanmu. Ya, itu. Itu hanya bagian terkecil dari awal seni kematian. Bukankah begitu?
Sialan kau berharap aku ingin mati saat ini juga, itu balasku.
Aku tidak habis pikir, pengertian yang bagaimana yang sebenarnya kau cari selama ini. Jika kau ingin menanyakan persepsi lelaki tua itu, maka kau akan siap dengan semua hal diluar kepalamu. Bukankah persepsi itu adalah kebebasan. Adakah sekali saja kau tanyakan persepsiku tentang seni? Kau selalu saja menunggu persepsi lelaki tua itu layaknya kau menunggu komet halley, yang entah sampai kau bereinkarnasi sampai sepuluh kali pun tidak akan kau temukan persepsinya.
Habis sudah kesabaranmu, itu yang bisa ku tangkap, ketika dengan tidak senangnya kau memilih melompat dari jendela itu. Kau seret langkahmu dengan tergesa-gesa ke arah luar, kau tarik lalu kau tutup pintu itu berulang kali dengan sangat keras.
Jika pintu itu adalah anggota tubuhku, bisa kupastikan kedua telingaku sudah jatuh dilantai, dan sekali saja kau banting pintu itu maka yang tersisa hanya mata yang sebelah kiri.
Sebelum kau membanting lagi pintu itu, matamu tampak berbinar seolah kau memang sudah menunggu selama ratusan tahun. Belum sempat dia bernafas lega sudah kau tarik tangan lelaki tua itu, kau tuntun dia layaknya seorang gembala kepada dombanya seperti katamu tadi.
“Kenapa lama sekali pulang? tidak adakah hasil judi malam ini?”
“Ini yang kau mau bukan, ambil!” Ucap lelaki tua itu sambil melempar remahan uang yang diambil dari saku bajunya.
Kau pungut uang yang berlipat-lipat itu, kau ambil satu per satu dan kau rapikan setiap lekuk yang terlipat. Ada yang robek sedikit, tersisa hanya tinggal setengah lembar, ada bekas coretan angka nomor telepon, seolah memang pemilik uang sebelumnya ingin mengenalkan dirinya kepada seluruh isi bumi ini, dan ada pula yang bolong di tengah dengan aroma rokok yang masih tertinggal jelas, bisa ku tebak itu baru dijadikan sebagai asbak.
Senyuman di kedua pipimu begitu terlihat jelas, sebuah kebanggaan jelas tersebar di setiap sudut ruangan itu kala kau tahu bahwa lelaki tua itu bukan hanya membawa remahan uang namun yang dibawanya juga adalah sisa-sisa malam yang sebenarnya tak ingin ia bawa pulang sepenuhnya saat itu.
“Apa lagi maumu kali ini aku ingin beristirahat, cepat katakan!”
Reaksi pertamamu yang bisa ku tangkap adalah sebuah penolakan. Kau memandang lelaki tua itu dari ujung rambutnya hingga ujung kakinya. Kau memang begitu rakus seolah tidak ingin melewatkan apa saja yang ada di depan matamu. “Apa itu seni menurutmu?”
Pertanyaan itu lagi yang selalu kudengar, kau seolah tidak punya pertanyaan lain, bahkan ucapan terimakasih pun tidak sempat kau ucapkan. Lagi-lagi aku dibuat tidak habis pikir dengan dirimu.
“Sudah berapa kali kau tanyakan dan ku jawab dengan jawaban yang sama, mengapa tidak berterima di akalmu?”
“Kau penipu. Jawabanmu tidak pernah masuk diakal. Balita pun tahu kalau seni itu seni, tapi aku tidak ingin jawaban yang seperti itu!”
“Jadi jawaban yang bagaimana yang kau mau?”
“Yang ada di dalam kepalamu!”
“Kalau begitu belah saja kepalaku agar kau miliki isinya!”
“Kau gila!”
“Sudah sedari awal sejak mengenalmu!” lelaki tua itu memilih menyerah lalu masuk ke dalam bilik kamar di sudut ruangan itu.
Aku tahu kau selalu saja penasaran dengan isi kamar itu, namun kau tak pernah punya kesempatan untuk melihatnya. Kau benar-benar tidak mengenali lelaki tua itu selain bentuk rupanya.
“Keparat sialan, esok hari akan ku bongkar bilik tua milikmu itu!” teriakmu begitu keras sampai urat lehermu akan terputus saat itu juga.
“Silahkan jika kau ingin abadi dalam lukisanku!” jawaban dari bilik kamar itu membuatmu terdiam.
Sudah berapa kali ku katakan, lebih baik simpan saja niatmu itu dan melukislah sebagaimana itu memang dirimu sedari awal. Bukankah kau yang mengatakan seni itu adalah kebebasan, dan setiap kebebasan adalah bagian dari setiap diri pelukis. Lantas mengapa ingin sekali mengikuti kebebasan orang lain. Bukankah kebebasan setiap orang itu sudah memiliki batas tapi bukan berarti kau adalah orang yang berhak membatasinya.
Malam berlalu berganti dengan pagi, begitu seterusnya hingga malam ini kau sepertinya sudah mengumpulkan semua keberanianmu. Persetan dengan ucapannya kala itu. Aku melihat dirimu benar-benar sudah didandani dengan kesiapan. Namun kali ini kau memilih untuk tidak duduk di jendela itu, kau lebih memilih duduk di ruang tengah sembari melirik dirimu di cermin besar yang kau bawa keluar bersamaan dengan dirimu.
Tujuh tahun silam masih terekam jelas di kepalamu bagaimana ketika kau merengek meminta diajarkan melukis pada lelaki tua itu. Kau ditarik paksa ke dalam bilik kamar itu, lalu dia melukis di punggungmu dengan hanya menggunakan sebilah pisau. Sampai saat ini yang menjadi pertanyaanku, kau kemanakan akalmu kala itu.
“Darah adalah tinta paling abadi yang pernah ku temukan dan punggungmu adalah kanvas terindah yang pernah aku miliki” Perkataan lelaki tua itu benar-benar tidak hilang dari ingatanmu. Kau angkat bajumu lalu kau berusaha membalikkan badanmu, meraba punggungmu dan benar bekasnya masih hangat seakan itu baru saja terjadi beberapa hari yang lalu. Kau berusaha untuk memastikan lagi, kau putar kepalamu ke arah belakang dan samar-samar kau lihat wajah ibumu benar-benar dilukiskan di punggungmu.
Seharusnya tanpa kau bertanya padanya seni itu apa, kau sudah lebih dulu mengetahui sejak punggungmu adalah sebuah lukisan baginya. Isi kepalamu mulai menjalar kesana kemari. Ku lihat kau memandang lurus ke depan, seolah memang kau berusaha untuk mengingat semuanya, perlahan kau lihat pantulan dirimu di cermin dan tanpa kau sadari air matamu jatuh sederas mungkin. Tidak ada yang bisa kau salahkan jika memang yang menjadi lawanmu adalah kegilaan dalam berbagai kepala.
Suara pintu itu berdenyit panjang seolah ikut merasakan pedih yang terlalu lama ditahan oleh perempuan sepertimu. Perlahan kau naikkan pandanganmu, kau hapus jejak air matamu yang hampir mengering.
“Kenapa lagi, kau ingin tahu arti seni?” Dia mendekatimu sembari meletakkan 10 lembar uang lima puluh ribuan. Dahimu mengkerut, berusaha memastikan siapa kiranya orang bodoh yang menjadi lawan judi lelaki tua itu tadi. Tidak ada kalimat lanjutan, yang ada hanya helaan nafas yang panjang, tujuh detik per helaannya. Kau ambil 8 lembar dan 2 lembar lagi kau masukkan ke kantong bajunya untuk modal judi keesokan harinya.
“Kuharap ini yang terakhir dan kau harus menyanggupinya. Aku ingin tahu dimana ibu?” ucapmu begitu lirih. Kau sangat berharap kasih dibalas dengan sayang saat itu juga.
“Tidak perlu bertanya seni itu apa, karena tujuanmu adalah sebuah keutuhan!”. Tentu saja beribu pertanyaan mulai menggerogoti semua yang ada dalam dirimu kala jawaban itu seakan membawamu ke dalam ruang lain. Tangan kasar itu akhirnya menuntunmu ke ruang dimana kau ingin sekali memasukinya. Kali ini aku tahu ada sebuah kepasrahan kala kedua kakimu benar-benar gemetar seolah siap tidak siap kau harus menerimanya. Kau pandangi seluruh ruangan itu, tidak ada yang benar-benar aneh seperti dalam kepalamu. Sampai ada sebuah pintu usang yang kembali dibuka, dan saat itu juga aku tahu kau lebih baik tidak mau tahu sedari awal.
Kau tarik paksa kedua kakimu agar benar-benar mampu saling menopang satu sama lain. Lukisan di depan itu, punggung itu, persis seperti 7 tahun lalu, tapi ada yang terlihat sangat kontras, itu bukan punggungmu. Lantas itu punggung siapa? mengapa bisa menempel di kanvas itu. Kau berusaha menguatkan tanganmu, kau raba dan pada akhirnya pertanyaan itu, pertanyaan yang selalu menggema di sudut ruangan ini benar-benar terjawab sekaligus. Kau balikkan badanmu seakan siap memakinya saat itu juga, namun bibirmu kelu saat kau lihat lelaki tua itu berjalan ke arahmu membawa sebuah lukisan yang belum pernah kau lihat sebelumnya.
Saturnus Memakan Anaknya, karya Francisco Goya, 1820-1823.
Sumber: Museo del Prado, Madrid.
Tidak ada yang benar-benar bersuara sampai akhirnya lelaki tua itu yang entah mulai dari kapan tidak pernah benar-benar hidup untuk mengenali dirinya sendiri. Dia hidup dalam bayang-bayang ketakutan, antara mengubur dirinya dalam seni yang membakar dirinya atau justru menghidupkan seni yang memadamkan dirinya, sehingga yang tersisa hanya seni yang mati, hampa dan kosong.
“Lekukan punggung yang kulukis dengan begitu detail, garis-garis warna mengikuti tulang, bayangan jatuh di tempat yang seharusnya tidak bisa dilihat oleh siapapun, kecuali yang pernah menyentuhnya dan kau salah satunya. Aku menyebut itu sebagai lukisan yang abadi. Seharusnya aku bisa melawan akal pikirku, namun aku lebih gila dari arti gila itu sendiri. Aku terobsesi dengan lukisan yang benar-benar hidup, bukan yang dipaksa hidup seperti yang biasa dilakukan oleh seniman. Jika kau berakal biarlah akalmu memberikan pengertian. Dia adalah awal, ibumu dan kau adalah ahir nyata dari awal itu!”.
Kecerdikan Seorang Guru Ngaji
Suasana sore terasa lebih sejuk berkat lantunan ayat-ayat suci dari sebuah mushola kecil di pinggir jalan. Aqil adalah seorang pemuda berusia 25 tahun yang setiap sore selalu mengajar mengaji di mushola tersebut. Muridnya tak banyak, hanya berkisar 5 sampai 6 orang per hari yang datang untuk mendapatkan pengajarannya.
“Mas Aqil,” Seorang pria paruh baya memanggil Aqil, saat ia sedang berjalan di depan sebuah gedung TPQ yang letaknya kurang lebih 200 meter dari musholla.
“Baru pulang ngajar ya?” Tanya pria tersebut sembari mendekat menghampiri Aqil.
“Iya pak Ustad,” jawab Aqil dengan gerakan menundukkan kepala yang menunjukkan rasa hormatnya kepada pria tersebut.
Pria paruh baya tersebut adalah Ustad Anam, seorang pemilik TPQ yang menaungi 30 sampai 40 murid yang belajar mengaji tiap harinya. Meski muridnya jauh lebih banyak daripada Aqil, beliau kerap merasa tersaingi olehnya.
“Muridmu itu bisa dihitung jari mas,” ucap Ustad Anam dengan raut wajah meremehkan. “Mending berhenti aja ngajarnya mas.”
Aqil hanya mengukir senyum atas ucapan yang sudah dia dengar berulang kali. Meski sudah bosan menanggapinya, tapi demi menjaga adab, Aqil tetap berusaha memberi tanggapan yang sehangat mungkin.
“Kasian pak Ustad sama mereka yang masih mau ngaji kalau saya berhenti ngajar,” ucap Aqil dengan senyum yang masih terukir di wajahnya.
Mendengar jawaban Aqil yang selalu demikian, Ustad Anam hanya terdiam sembari memalingkan wajahnya dan kembali masuk ke gedung TPQ-nya. Aqil memang tidak pernah merasa peduli tentang seberapa banyak muridnya, karena baginya apabila ada yang datang padanya untuk belajar mengaji, maka ia berkewajiban untuk mengajarinya.
***
Suatu malam selepas jamaah Isya’, Aqil mendengar suara bising-bising dari samping Musholla. Kebisingan tersebut ternyata berasal dari sebuah gardu bambu yang baru saja didirikan di sebuah lahan yang sebelumnya merupakan kebun singkong, namun kini lahan tersebut hendak di jual karena belum lama ini pemiliknya pindah ke luar kota.
“Maaf bapak-bapak,” ucap Aqil dengan nada sesopan mungkin pada 4 orang pria paruh baya yang sedang asyik bersenda gurau sembari bermain domino.
“Tolong suaranya jangan terlalu keras ya pak, soalnya kan di samping gardu ini musholla,” lanjut Aqil masih dengan nada yang dibuat sesopan mungkin.
“Kan waktu shalatnya sudah selesai mas,” sahut salah satu dari mereka.
“Betul pak, tapi rasanya tidak etis saja kalau di samping mushola ada kebisingan begini, apalagi sambil main domino,” Aqil menimpali dengan nada yang tetap sopan namun dengan raut wajah yang lebih serius.
“Kami kan main domino gak pake uang mas, jadi gak masalah dong, dan kalau soal bising yang penting kan gak di waktu shalat,” pria tersebut menyahuti kembali ucapan Aqil.
Aqil yang tidak mau berlanjut pada perdebatan yang justru menciptakan keributan akhirnya hanya mengangguk pelan mendengar sahutan tersebut. Langkah kakinya beranjak pergi dari hadapan gardu, meski pikirannya masih mencari cara supaya kebisingan tersebut dapat dihentikan tanpa menimbulkan keributan.
***
Sore hari ketika para murid sedang bersiap di sudut musholla untuk belajar mengaji, tiba-tiba Aqil mengajak mereka untuk mengaji di gardu samping. Saat sore hari gardu keadaan gardu tersebut memang sepi, karena biasanya hanya di tempati oleh bapak-bapak selepas Isya’.
“Mulai hari ini kita mengajinya disini saja ya,” ucap Aqil pada para muridnya sembari mengambil posisi duduk di gardu bambu. “Supaya lebih sejuk, dan menyatu dengan alam.”
Ayat-ayat suci mulai dilantunkan dengan merdu. Aqil memejamkan mata untuk meresapi bacaan para muridnya, sembari sesekali membenarkan apabila terdapat bacaan yang kurang tepat.
Setelah satu jam berlalu, proses belajar mengaji telah usai. Aqil menyuruh para murid kembali ke musholla untuk mengemasi barang-barangnya. Saat hendak beranjak dari gardu, tiba-tiba Aqil dicegat oleh Ustad Anam yang rupanya sejak tadi mengamatinya.
“Kenapa ngajarnya di gardu mas?” Tanya Ustad Anam sembari semakin mendekati Aqil.
“Iya pak Ustad,” jawab Aqil dengan senyum hangatnya. “Ini metode mengajar baru saya. Namanya ngaji di ruang alam.”
Mendengar jawaban tersebut, Ustad Anam hanya mengangguk pelan. Raut wajahnya menunjukkan bahwa beliau sedang berusaha keras memahami apa yang sedang Aqil lakukan.
2 minggu kemudian…..
Ustad Anam yang sebelumnya memang sudah merasa tersaingi, kini perasaan tersebut semakin meluap, karena melihat metode baru Aqil yang tampaknya banyak diperbincangkan oleh warga sekitar. Ruangannya di gedung TPQ menjadi tempat bagi beliau berpikir keras untuk menghentikan apa yang sedang dilakukan Aqil selama dua minggu ini.
“Saya mau beli lahan yang ada di samping mushola itu,” ucap Ustad Anam kepada bendahara TPQ yang dihubunginya melalui ponsel. “Lahan itu murah, bisa kita gunakan untuk membangun gedung baru supaya ekonomi TPQ kita meningkat.”
“Maaf pak Ustad,” sahut Bendahara dengan nada lirih. “Saya rasa membangun gedung baru yang hanya berjarak 200 meter tidak akan menghasilkan apapun bagi ekonomi kita, karena para murid di wilayah ini, pastinya sudah mengaji di TPQ kita yang sekarang.”
“Ya pokoknya beli saja, kita tanami singkong juga bisa nanti seperti pemilik sebelumnya.”
“Tapi pak…..”
“Ini perintah,” ucap Ustad Anam tegas memotong pembicaraan bendaharanya.
***
Setelah proses administrasi yang cukup rumit, akhirnya lahan yang terletak di samping mushola kini telah resmi menjadi milik TPQ Ustad Anam. Tanpa berlama-lama Ustad Anam langsung memerintahkan supaya lahan tersebut segera ditanami singkong dan gardu bambu yang berdiri di lahan tersebut harus segera dibongkar, karena memang tujuannya membeli lahan tersebut adalah untuk menghentikan Aqil mengajar ngaji dengan metode barunya. Namun, perintah Ustad Anam tersebut menuai protes dari bapak-bapak yang biasanya bersenda gurau sembari bermain domino selepas Isya’ di gardu tersebut.
“Pak Ustad,” ucap salah seorang bapak-bapak yang biasanya menempati gardu tersebut selepas Isya’. “Lahan di sekitar gardu kan masih luas, jadi janganlah gardu ini di bongkar.”
“Ya saya tidak mau tahu. Lahan ini sudah saya beli. Jadi tidak boleh ada bangunan liar di sekitarnya,” sahut Ustad Anam tegas pada mereka.
Akhirnya gardu tersebut dibongkar. Ustad Anam tersenyum lega, karena beliau merasa Aqil tidak lagi bisa menggunakan metode mengajarnya lagi. Namun, alih-alih merasa kecewa, Aqil justru juga menunjukkan senyuman di raut wajahnya. Hatinya merasa puas, karena yang selama ini ia resahkan telah berkesudahan.
Kecurangan Yang Berakhir Menyedihkan
Hari ini adalah hari pertama Alvaro bekerja, setelah ribuan kali melayangkan lamaran di berbagai perusahaan, tapi memang dia harus sering meratapi nasib karena ditolak. Dasi sudah terlingkar rapi di lehernya. Celana dan kemeja pun juga terlihat sangat necis. Sepatu hitamnya memantulkan cahaya membuat mata menjadi silau karenanya.
Nasib Alvaro ternyata tersangkut menjadi operator komputer di suatu perusahaan konstruksi kecil yang baru tumbuh. Dengan semangat yang membara, ia berjalan lebih cepat dari biasanya. Sesampainya di kantor, ia menarik napas sejenak sebelum mengetuk daun pintu ruang direktur—bukan untuk berpidato tentang dedikasi, melainkan sekadar memastikan dirinya benar sudah berada di tempat.
Direktur itu bernama Pak Manaf, seorang pria yang baru saja merintis perusahaannya. Kurang-lebih baru 3 tahun usahanya berjalan. Karyawannya pun hanya berjumlah 10 orang yang baru genap dengan kehadiran Alvaro.
“Selamat pagi, Pak,” ucap Alvaro sambil mengetuk pelan pintu yang setengah terbuka.
“Mas Alvaro, ya? Masuk,” jawab Pak Manaf singkat, senyumnya ramah namun tidak berlebihan.
Di ruang itu, Pak Manaf menjelaskan pekerjaan Alvaro dengan nada tenang dan berurutan. Sesekali ia membuka buku panduan yang sampulnya mulai pudar, menandai halaman-halaman penting dengan ujung jarinya, setelah itu Sang Direktur memberikan buku itu sebagai pegangan bagi Alvaro. Lima belas menit kemudian percakapan itu berlangsung, ia menekan bel kecil di mejanya.
“Ghulul, tolong antar Mas Alvaro ke ruang operator,” katanya.
Seorang pria bertubuh sedang muncul dari balik pintu, mengangguk cepat sebelum mengajak Alvaro keluar.
Begitu duduk di kursinya, Alvaro langsung menyalakan komputer dan membuka berkas-berkas yang telah dijelaskan sebelumnya. Jemarinya bergerak cepat, meski sesekali berhenti lebih lama dari seharusnya ketika ia membuka kembali buku panduan yang tebal itu. Ia membaca ulang instruksi dengan saksama, takut ada satu langkah yang terlewat.
Ia tahu betul betapa sulitnya mendapatkan pekerjaan; sebab itu, bahkan kesalahan kecil terasa seperti ancaman yang bisa merenggut semuanya.
***
Tiga bulan berlalu tanpa banyak kesalahan berarti yang telah terjadi. Ia datang lebih pagi dari kebanyakan karyawan dan sengaja pulang dalam waktu yang sudah ditentukan, seolah kursi itu bisa sewaktu-waktu diambil kembali darinya.
“Mas Alvaro, nanti malam kosong?” suara Pak Ghulul terdengar dari ambang pintu.
Alvaro segera berdiri. “Kosong, Pak. Ada yang bisa saya bantu?”
Pak Ghulul tersenyum tipis. “Bukan bantu. Pak Manaf mau traktir makan. Katanya, kerja kamu sejauh ini memuaskan.
Untuk sesaat Alvaro terdiam. Ia tidak menyangka namanya disebut dalam konteks yang menyenangkan. “Baik, Pak,” jawabnya akhirnya, mencoba menjaga nada suaranya tetap biasa, meski ada rasa hangat yang perlahan memenuhi dadanya.
Malam datang lebih cepat dari yang Alvaro kira. Sepanjang perjalanan menuju warung, ia lebih banyak diam, mendengarkan percakapan Pak Manaf dan Pak Ghulul yang terdengar santai. Bau aspal yang masih hangat dan deru kendaraan sesekali membuatnya merasa canggung—ini bukan lembur, bukan rapat, melainkan pertemuan yang belum pernah ia alami sebelumnya.
Mereka duduk di sebuah warung lalapan di pinggir jalan, sederhana, dengan meja kayu yang permukaannya mulai mengelupas. Pak Ghulul mengambil secarik kertas dan pulpen kecil dari laci meja kasir, lalu kembali ke tempat duduk.
“Pak Manaf, pesan apa?” tanya Pak Ghulul sambil membuka tutup pulpen.
“Ayam kampung, es jeruk,” jawab Pak Manaf singkat, matanya tak lepas dari layar ponsel.
“Mas Alvaro?”
Alvaro sempat ragu. Tangannya bertaut di bawah meja. “Apa saja, Pak.”
Dia merasa sangat sungkan dengan keadaan ini, karena ini untuk pertama kalinya dia makan dengan dua pria yang menjadi atasannya itu.
Pak Manaf melirik sekilas. “Samakan saja dengan saya,” katanya, lalu kembali menunduk ke ponsel.
Setelah mencatat pesanan, Pak Ghulul berdiri dan berjalan ke arah meja kasir. Alvaro kini tinggal berdua dengan Pak Manaf. Ia mengaduk pelan es jeruknya yang sebelumnya sudah datang, berusaha menemukan topik pembicaraan yang tak kunjung datang. Keheningan ini membentuk rasa canggung yang membatin di dalam dirinya.
“Saya ke kamar mandi sebentar, Pak,” ucapnya memecah keheningan.
Pak Manaf mengangguk singkat.
Alvaro melangkah menyusuri sisi warung. Di dekat meja kasir, langkahnya melambat tanpa ia sadari. Pak Ghulul berdiri membelakangi meja makan, berbicara dengan kasir yang sedang menulis nota.
“Mbak.” Suara itu terdengar rendah, hampir menyatu dengan bunyi sendok dan piring pelanggan, “tolong harganya dibuat dua kali saja.”
Langkah Alvaro mendadak terasa berat. Ia berhenti beberapa detik sebelum benar-benar masuk ke kamar mandi, seakan berharap ia salah dengar. Suara itu masih terngiang di kepalanya—dibuat dua kali saja.
Ia membasuh wajahnya lebih lama. Air mengalir, tetapi pikirannya tidak ikut jernih.
Malam itu, di meja makan, Pak Manaf berkali-kali memuji ketelitiannya. “Karyawan seperti kamu jarang,” kata beliau sambil tersenyum.
Alvaro membalas dengan senyum tipis. Ia mengangguk setiap kali namanya disebut, tetapi pikirannya terpecah. Setiap suapan terasa hambar. Ia bertanya dalam diam: apakah ia harus mengatakan apa yang didengarnya? Atau diam demi menjaga kursi yang baru saja ia peroleh?
***
Pagi itu, sebuah daftar kerusakan diantar oleh seorang karyawan, berkas diletakkan di atas meja Alvaro. Ia membacanya sekilas sebelum mulai mengetik: AC dan CCTV tercantum di baris paling atas. Tangannya bergerak rapi, tetapi pikirannya sesekali terhenti pada angka-angka yang ia susun.
Setelah laporan itu tercetak, ia membawanya ke ruang Pak Manaf.
“AC dan CCTV,” gumam Pak Manaf sambil membaca. “Tolong sampaikan ke Pak Ghulul, hari ini AC segera diganti. CCTV bulan depan saja, dananya belum cukup. Lagipula, kantor ini aman.”
Alvaro mengangguk. Kata “aman” itu tertinggal lebih lama di kepalanya daripada yang lain dan menjelaskan semuanya.
Mendengar perintah itu, Alvaro berjalan menuju ruang sekretaris dengan langkah yang sedikit tertahan. Pintu diketuk pelan sebelum ia masuk.
Ia menyampaikan instruksi Pak Manaf tanpa banyak tambahan.
“Oke, makasih Mas Alvaro,” jawab Pak Ghulul ringan. Ia menutup map di mejanya lalu berdiri. “Kalau sudah tidak ada kerjaan lagi, ikut saya ya. Beli AC. Angkutnya tidak bisa sendirian.”
Kalimat itu terdengar biasa. Namun bagi Alvaro, ada sesuatu yang mengganjal. Ia mengangguk pelan, meski dalam benaknya pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan.
Tanpa banyak pilihan, Alvaro ikut bersama Pak Ghulul menuju toko AC menggunakan mobil kantor. Sepanjang perjalanan, ia lebih memilih tidak banyak berbicara, hingga sampai ke tujuan.
Di dalam toko, mata mereka berkeliling melihat berbagai macam alat elektronik yang terpampang. Pak Ghulul mulai menunjuk salah satu AC dan memilih salah satu unit yang dianggap paling sesuai. Prosesnya berlangsung cepat, seolah ini urusan biasa.
“Mas Alvaro, tolong bawa ke mobil ya. Saya bayar dulu,” kata Pak Ghulul santai.
Alvaro mengangguk. Ia memanggil petugas toko untuk membantu mengangkat AC ke bagasi. Setelah itu, bukannya langsung kembali ke mobil, ia melangkah pelan mendekati meja kasir. Tidak terlalu dekat. Cukup untuk mendengar.
Suara kipas angin tua berderit di langit-langit. Kertas nota bergesekan.
Lalu kalimat itu terdengar lagi, nyaris sama seperti semalam.
“Pak, ini kan harganya 2,1 juta. Tolong di nota ditulis 4,2 juta saja.”
Jantung Alvaro berdetak lebih keras dari biasanya. Kini ia tahu, ini bukan kebetulan.
Alvaro berdiri mematung beberapa detik. Kalimat itu kembali terngiang, sama persis seperti yang ia dengar semalam. Ia menarik napas panjang, menatap lantai toko yang dingin dan mengilap.
Ini tersadar bahwa ini bukan kesalahan sesaat. Bukan pula kebetulan.
Ia tahu, jika ingin bicara, ia harus membawa sesuatu yang lebih kuat dari sekadar cerita.
***
Hari pun berganti, pagi itu Pak Manaf memecah suasana. “Perhatian sebentar,” seru Pak Manaf.
Satu persatu karyawan keluar dari ruangan masing-masing.
“Ponsel saya hilang. Sejak lembur semalam, sepertinya tertinggal di kantor. Ada yang melihat?”
Mereka bertatapan satu sama lain.
“Coba cek CCTV saja, Pak,” usul seseorang.
“CCTV kita rusak,” sahut yang lain cepat.
Pak Manaf menghela napas. “Baik. Kalau begitu, kita cari bersama. Semua ruangan.”
Satu jam berlalu tanpa hasil. Wajah Pak Manaf tampak menegang. “Tidak mungkin ada pencuri di sini,” gumamnya, lebih seperti meyakinkan diri sendiri.
Alvaro berdiri sedikit terpisah. Ia menimbang-nimbang kata-katanya.
“Kalau lapor polisi, Pak?” ucapnya akhirnya.
Pak Manaf terdiam. “Ponselnya bukan soal harga,” katanya pelan. “Tapi data di dalamnya.”
“Kalau begitu saya yang ke kantor polisi,” sela Pak Ghulul cepat, seolah ingin menutup pembicaraan.
Lama Pak Manaf berpikir hingga akhirnya memutuskan melaporkan kehilangan ponsel itu ke polisi. Ia meminta Pak Ghulul berangkat lebih dulu, sementara dirinya pulang untuk memastikan barangkali ponsel itu tertinggal di rumah.
Di tengah perjalanan, ponsel Pak Ghulul berdering. Sebuah nomor tak dikenal muncul di layar.
“Halo?”
“Tidak perlu tahu saya siapa,” suara di seberang terdengar singkat dan dingin. “Putar arah. Jangan ke polisi. Kalau mau ponsel itu kembali, minta bosmu transfer sepuluh juta.”
Sambungan terputus. Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk berisi nomor rekening.
Pak Ghulul langsung membelokkan mobil. Ia memilih menuju rumah Pak Manaf.
“Pak, barusan saya dapat telepon dari nomor tak dikenal,” katanya setibanya di teras. “Orang itu minta tebusan. Sepertinya dialah yang mengambil ponsel.”
Pak Manaf terdiam sesaat. “Berarti orang ini tahu betul keadaan kita,” ucapnya pelan.
“Apa kita tetap lapor polisi?” tanya Pak Ghulul, berhati-hati.
Pak Manaf menggeleng. “Semua data perusahaan ada di ponsel itu. Kalau kita gegabah, semuanya bisa hilang.” Ia menarik napas panjang. “Dia minta berapa?”
“Dua puluh juta, Pak.”
Mendengar permintaan itu, Pak Manaf masuk ke dalam rumah tanpa banyak bicara. Sekitar sepuluh menit kemudian, ia keluar dengan sebuah koper hitam di tangannya.
“Segera ditransfer,” katanya singkat sambil menyerahkan koper itu kepada Pak Ghulul. “Setelah itu, hubungi orang tersebut. Saya ingin ponsel itu kembali malam ini.”
Pak Ghulul langsung menuju mesin ATM terdekat. Uang itu berpindah tangan tanpa saksi, tanpa suara. Ia mencoba menghubungi nomor yang sama, berkali-kali, hingga akhirnya sebuah pesan masuk: oke.
Ia kembali ke rumah Pak Manaf dan menunjukkan pesan itu tanpa berkata apa-apa.
Malam semakin larut. Pak Manaf duduk sendiri di kamar, gelisah. Ketukan keras di pintu membuatnya tersentak.
“Ayah,” suara putrinya terdengar dari balik pintu. “Tadi aku nemu paket di depan gerbang, habis pulang les.”
Sebuah kardus hitam diletakkan di hadapannya. Pak Manaf membukanya perlahan. Di dalamnya, ponselnya terbaring rapi. Di sampingnya, terlipat plastik berisi uang sepuluh juta.
Pandangannya berhenti pada sebuah amplop di dasar kardus.
Maaf, Pak. Saya tidak berniat mencuri. Saya hanya ingin menunjukkan kecurangan yang selama ini terjadi tanpa sepengetahuan Bapak. Di dalam amplop ini terdapat bukti transfer uang yang masuk ke rekening saya.
Pak Manaf membaca kertas itu sekali lagi. Lalu sekali lagi. Tangannya mengeras. Wajahnya memerah, bukan karena kehilangan, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.
***
Paginya, Pak Manaf datang lebih awal dari biasanya. Langkahnya cepat dan lurus, tanpa menoleh ke siapa pun. Suasana kantor seketika mengeras; tidak ada karyawaIa berhenti di depan ruang sekretaris dan mendorong pintu hingga terbuka lebar.
“Silakan kemasi barang-barang Anda,” katanya datar. “Mulai hari ini, Anda tidak lagi bekerja di sini.”
Pak Ghulul berdiri terpaku. “Apa salah saya, Pak?” tanyanya pelan.
Pak Manaf mengeluarkan lembar bukti transfer dari map yang dibawanya. Ia meletakkannya di meja, tepat di hadapan Pak Ghulul.
“Sepuluh juta itu kembali hari ini,” katanya singkat. “Atau saya yang ke polisi.”
Pak Ghulul membaca lembar itu dengan wajah yang perlahan kehilangan warna. Ia tidak lagi bertanya.
“Saya kembalikan hari ini, Pak.”
Tanpa banyak kata, ia masuk ke ruangannya, membereskan beberapa barang, lalu berjalan melewati deretan meja karyawan yang memilih menunduk.
Dari balik meja operatornya, Alvaro memperhatikan langkah itu sampai menghilang di ujung koridor.
Ia tidak tersenyum. Hanya menarik napas panjang, seolah beban yang beberapa hari ini menempel di dadanya akhirnya terlepas.





