Tempat dimana cerita-cerita pendek dipilih dan dibagikan kepada kalian
Kapal Tidak Bernama
Kapal berlabuh dari dermaga, jarum jam di dalam kapal menunjukkan angka 14.00 siang. Sehari-semalam saya baru bisa menuntaskan rindu di desa yang dituju. Rindu yang terbang menghinggapi di kepala. Aduhai rindu memecah semanis keindahanmu di perjumpaan itu.
Di antara mesin kapal dan asap yang membumbung hitam. Anak buah kapal menyalakan mesin untuk dinyalakan. Nakhoda sudah berada di ruang kemudi sambil memegang sebatang rokok dan secangkir kopi. Dari tampilannya nakhoda seorang mengarungi arus sungai begitu lihai, tampak wajahnya yang kuat, rambut hitam yang lebat, tanpa kumis sebab hari Jumat sekaligus kapal berangkat setelah shalat Jum’at. Tatapan mata dan bibir yang ramah. Ia bersenandung lagu Rhoma Irama “Kerinduan”, kepada siapa ia merindu? Iya, tentu saja kepada istri mudanya.
Ia bukan nakhoda dalam cerita-cerita dugaan: lelaki yang mudah mampir di perempuan lain di mana kapal singgah, di sana ada pujaan hati. Boleh tentu ia berangkat dari rumah telah mencium kening dan doa sang istri sejati. Mungkin istrinya wanita cantik seperti ratu kerajaan yang setia menunggu sang suami pulang dari perjalanan panjang sehari-semalam.
Sekali bertugas membawa kapal ke Sungai Barito, setidaknya ia berganti dengan nakhoda lain ketika pergantian siang menuju malam hari. Jadi ia bisa tidur melepas penat, menemui rindu di alam mimpi. Itu sebabnya nakhoda tidak boleh full mengemudikan kapal di sepanjang perjalanan karena dapat membahayakan penumpang.
Di kala rindu kepada sang istri, nakhoda mengemudikan sepenuh hati. Hingga hati para penumpang tentram dan tenang karena yakin sang nakhoda bisa mengemudikan kapal dengan serius, dengan kecepatan kapal yang sedang dan sambil meliuk-liuk kapal berirama melalui jalur aliran sungai.
***
Saya duduk di rangkap dua dalam kapal, di bagian depan dekat nakhoda. Saya tidak suka duduk di bagian dalam belakang karena angin sepoi tidak bisa hinggap di tubuh. Duduk di depan sambil memandang alam kehijauan, kapal-kapal kecil yang berlalu lalang. Saya ingin tidur beberapa menit melepas kantuk yang mulai menyerang.
Sebelah saya berbaring lelaki tua berusia sekitar 40 tahun, ah bisa saja lebih muda dari itu. Bunyi mesin yang bergelora dan sedikit angin, ia pun tertidur perlahan-lahan, meninggalkan pemandangan hijau pepohonan di sepanjang aliran sungai yang tidak begitu deras. Kepalanya berbantal jaket dan berbaring ke kanan.
Mungkin ia sama dengan saya untuk pulang, naik kapal dengan tujuan menuntaskan rindu, rindu tertanam di hati ketulusan. Bisa saja ia bekerja di sebuah toko-toko besar yang terkenal, lalu pulang sebulan, ataupun setahun sekali karena anak istrinya berjauhan dari kota yakni di kampung. Bilamana pulang ia membawa uang yang banyak untuk membuka senyuman di wajah sang istri dan mengobati rindu.
Di seberang kanan dalam kapal duduk sepasang kekasih laki-laki dan perempuan, lalu bocah cilik yang duduk bersama mereka. Tidak banyak mereka bercerita, selebihnya memandang alam yang tidak ditemukan di kota. Mereka sama dengan saya menuju desa. Saya kira si bocah liburan dari sekolahnya ia ikut untuk menghabiskan liburan bersama keluarga. “Saya sudah rindu dengan kampung mama dan papah,” kata si istrinya.
***
Siang silih berganti malam di perjalanan, kapal melaju lebih kencang di aliran sungai yang tenang. Anak buah kapal menagih ongkos dari haluan depan hingga ke belakang kapal. Kepalanya bertopi, wajah yang ditumbuhi kumis dan hitam. Di bawah cahaya lampu malam, wajahnya menunjukkan goresan-goresan keramahan. Baru saja ia ingin menagih pembayaran dari penumpang, mengalun dari TV depan, lagu lama Rhoma Irama “Kerinduan.”
….
Aku sudah rindu, lincah manja sikapmu, aku sangat rindu, kasih sayang darimu.
Semoga kita dapat bertemu lagi, seperti dahulu, supaya kita dapat bercinta lagi, seperti dahulu.
….
Ponselnya berdering, lalu diambilnya dari celananya, dilihat layarnya, tampak senyum lebar didekatkan ke telinga penuh antusias. “Assalamu’alaikum…. Ya, sayang.… Ini baru sampai di Marabahan.… Pasti dibawakan. Dah…. Wa’alaikumsalam.”
Penelepon itu pasti istrinya, bukan lain-lain. Melalui kata-kata “Abang sayang” sang istri membalas ucapan “I love you”, “saya kangen abang,” bunyi-bunyi semacam itulah terdengar. Seorang penagih pembayaran ongkos berhak bermesra kepada istrinya, bukan? Karena sama-sama bertugas di kapal sehari-semalam juga, jauh dari keluarga untuk mencari nafkah. Ia sudah meninggalkan anak dan istrinya begitu lama. Tahu kan, bagaimana rasanya kasih sayang yang menjelma kepada kerinduan?
Seorang laki-laki muncul dari tangga kapal menuju rangkap dua. Lalu dia berdiri menghadap ke penumpang. Usianya sekitar 30 sampai sekitar 35 tahun. Dari keranjangnya, ia mengambil berwarna kekuningan. Sambil menampilkan wajah senyum manis, walau lelah masih membekas di wajahnya.
“Ini satu kantong plastik berisi buah jeruk, sangat cocok untuk kesehatan menambah vitamin C baik untuk tubuh. Kalau Bapak-bapak dan Ibu-ibu beli buah ini satu-satu, dijamin harganya bisa lebih mahal di atas dua ribu. Berhubung saya mengambil dari kebunnya langsung, saya tawarkan satu kantong plastik berisi 10 buah jeruk cukup lima ribu saja. Maaf, saya akan membagikan satu-satu kantong plastik berisi buah ini. Kalau tertarik, silakan beli. Kalau tidak, barang saya ambil lagi.”
Dibaginya satu kantong itu kepada semua penumpang kapal, kecuali penumpang tidur dan penumpang yang pura-pura mau ke WC kapal bagian belakang.
Setelah membagikan dagangannya kepada penumpang, ia mengucapkan terima kasih kepada yang membeli, disertai ucapan syukur, puji-pujian kepada-Nya, dan mendoakan pembeli semoga mendapatkan rezeki yang melimpah.
***
Lepas dari Marabahan, kapal memasuki aliran sungai yang berliku, senggang, dan tenang. Nakhoda masih sesekali mendengarkan lagu-lagu Rhoma Irama. Ai jangan-jangan nakhoda itu pecinta lagu-lagu yang kaya akan hikmah. Walau zaman sudah berubah, lagu tetap merasuk ke sendi-sendi waktu zaman sekarang.
Namun, tiba-tiba bunyi lagu berubah menjadi keheningan. Apakah nakhoda sengaja untuk menidurkan para penumpang? Beberapa saat kemudian sebelum saya sempat tertidur, deru mesin kapal dan menghembuskan asap kapal tersamar dengan angin dingin di malam hari.
Di saat tidur telah usai, kondisi badan terasa amat segar. Jam di dalam kapal menunjukkan angka tiga dini hari. Beberapa jam lagi kapal akan tiba di tujuan.
Tak ada suara lain kecuali deru mesin, hewan-hewan yang aktif di malam hari. Kapal melaju lurus di aliran sungai yang mana ada pepohonan lebat dan tanpa rumah. Lingkungan sungai gelap kecuali lampu kapal yang di sorot jauh.
Tunggu pak, kita ada di mana ini? Saya tidak mengenal jalur-jalur ini, yang biasa dilalui adalah aliran sungai yang di sampingnya ramai akan rumah-rumah penduduk. Saya melihat ke penjuru penumpang. Semuanya masih terlelap tidur.
“Pak nakhoda, kita sudah sampai mana?” saya berdiri.
Tidak ada jawaban dari ruang kemudi kapal. Tak ada siapa pun di kursi pengemudi kapal. Kapal melaju kencang dengan sendirinya.
Kulihat tempat nama kapal, ternyata tidak ada. Angin malam semakin mencekam, menusuk ke kulit tubuh ditambah denyut jantung bergetar, tertera di tempat nama hanya bait-bait ini kapal tidak bernama, membawa rindu kalian entah ke mana.*
Sayap Hitam di Ujung Kelopak
Sebelum cerita ini benar-benar dimulai, ada satu hal yang harus kuakui: aku tidak pernah berniat menjadikan kupu-kupu hitam sebagai pusat cerita ini. Ia seharusnya hanya lewat, sekilas, ringan, hampir tidak berarti, seperti detail kecil yang bisa dihapus tanpa mengubah apa pun. Pada draf awal, ia bahkan nyaris tak terlihat, hanya bayangan singkat di tepi kalimat pagi yang tenang. Tidak ada tanda, tidak ada maksud.
Namun entah sejak draf ke berapa, ia mulai kembali.
Bukan lebih besar, bukan lebih mencolok. Hanya… lebih tepat waktu.
Dan itu yang membuatku mulai ragu.
Mungkin kamu pernah mendengar hal semacam ini: tentang kupu-kupu hitam yang tidak sekadar singgah. Tentang sesuatu yang, di beberapa tempat, dianggap sebagai pertanda, meski tidak semua orang mau benar-benar mempercayainya.
Aku sendiri tidak pernah berniat mempercayai hal-hal seperti itu.
Setidaknya, tidak sebelum aku mulai menuliskannya.
Aku menulis tentang seorang remaja yang hidup tanpa benar-benar mengenal apa itu rumah. Ia tinggal bersama neneknya di ujung desa, berjualan kue, dan berhenti mengejar pendidikan karena keadaan. Hidupnya sengaja kubuat biasa saja, tidak terlalu bahagia, tetapi juga tidak terlalu tragis, seolah dengan menjaga semuanya tetap datar, aku bisa mengendalikan arah cerita ini.
Hari itu juga harusnya biasa.
Pagi datang pelan, seperti biasa. Ia membuka jendela, membiarkan udara masuk, dan di situlah kupu-kupu itu pertama kali benar-benar terlihat, hinggap sebentar di tepian kayu, diam, sebelum akhirnya terbang lagi tanpa jejak.
Aku sempat menghapusnya.
Kalimat itu terasa tidak perlu.
Aku menuliskannya ulang tanpa kupu-kupu, dan semuanya tetap berjalan… tetapi ada yang terasa kosong, seperti ritme yang terpotong setengah detik terlalu cepat. Aku mencoba lagi, menghapusnya untuk kedua kali, ketiga kali, sampai akhirnya aku menyerah.
Ia tetap tinggal.
Beberapa bagian setelah itu, ada sesuatu yang berubah. Bukan sesuatu yang langsung terlihat, melainkan celah kecil dalam rutinitas yang biasanya tetap. Neneknya berhenti sedikit lebih lama saat menuang teh. Gerak tangannya melambat, seolah waktu tidak lagi mengikuti tubuhnya dengan tepat.
Aku berhenti menulis di situ.
Cukup lama.
Seolah-olah jika aku tidak melanjutkan, perubahan itu tidak akan berkembang menjadi sesuatu yang lebih buruk.
“Ada yang aneh,” katanya suatu sore.
Aku menatap layar.
Kalimat itu tidak ada di draf sebelumnya.
“Apa?” tanyaku, lebih kepada diriku sendiri daripada padanya.
Ia tidak langsung menjawab. Pandangannya mengarah ke jendela.
“Kupu-kupu itu…” suaranya pelan, hampir ragu, “…sepertinya sering muncul.”
Aku ingin menuliskan bahwa itu hanya kebetulan. Bahwa tidak ada hubungan apa pun di antara hal-hal kecil yang terjadi. Tetapi jemariku tertahan di atas keyboard, dan untuk pertama kalinya, aku merasa penjelasan sederhana justru akan merusak sesuatu yang sedang terbentuk.
Sejak saat itu, aku mulai memperhatikan.
Bukan karena yakin, tapi karena tidak bisa lagi benar-benar mengabaikan.
Kupu-kupu itu muncul lagi. Tidak selalu jelas, kadang hanya bayangan di sudut adegan, kadang hanya disebut sepintas tanpa penekanan. Dan bersamaan dengan itu, hal-hal kecil mulai bergeser: kue yang tidak habis terjual, uang yang selalu terasa kurang, hari-hari yang berjalan sedikit lebih berat dari biasanya.
Masih bisa dijelaskan.
Masih bisa dianggap kebetulan.
Sampai akhirnya aku berhenti percaya pada kata itu.
Aku mencoba mengubahnya. Memindahkan kupu-kupu itu ke bagian yang tidak penting, ke waktu yang tidak memiliki konsekuensi. Namun setiap kali kupindahkan, cerita ini seperti menemukan jalan untuk mengembalikannya, ke dekat dia, ke dekat hal-hal yang perlahan mulai runtuh.
“Jangan ditulis lagi,” katanya tiba-tiba.
Aku terdiam.
Ini bukan lagi dialog yang kurencanakan.
“Kamu yang bikin dia datang,” lanjutnya.
Aku ingin menyangkal, tetapi kalimat itu menggantung begitu saja. Untuk pertama kalinya, aku tidak benar-benar yakin apakah aku yang menciptakan semuanya, atau hanya seseorang yang mengikuti sesuatu yang sudah lebih dulu terbentuk.
Neneknya jatuh sakit tanpa tanda yang dramatis. Hari itu terlalu biasa dan justru karena itu, perubahan kecil terasa lebih mengganggu. Cangkir teh dibiarkan penuh, tak tersentuh. Di tepinya, kupu-kupu itu hinggap, diam, seolah tidak pernah pergi.
Kali ini aku tidak menghapusnya.
Seolah-olah aku mulai mengerti bahwa menghapusnya tidak pernah benar-benar menghilangkannya.
“Kalau dia datang, berarti bakal ada yang pergi, ya?”
Aku berhenti.
Kalimat itu terlalu jujur.
Aku mencoba mengubahnya, menggantinya dengan sesuatu yang lebih ringan, lebih aman, tetapi setiap versi lain terasa palsu. Pada akhirnya aku membiarkannya tetap seperti itu, dan untuk pertama kalinya aku merasa cerita ini memilih kejujurannya sendiri.
Neneknya meninggal tanpa dramatisasi. Tidak ada kata-kata terakhir, tidak ada tangisan panjang, hanya keheningan yang datang terlalu cepat. Aku sempat mencoba menulis ulang adegan itu, menambahkan emosi yang lebih besar, tetapi setiap tambahan justru terasa tidak jujur.
Dan anehnya, kupu-kupu itu tidak ada di sana.
Seolah tugasnya sudah selesai.
Setelah itu, aku menulis dengan lebih hati-hati. Bukan untuk membuat cerita ini lebih baik, tetapi untuk mencegahnya menjadi lebih buruk. Aku menghindari kupu-kupu itu, bahkan menghindari kata “hitam” dalam kalimat-kalimatku.
Namun suatu malam, semuanya runtuh lagi.
Ia berjalan pulang dari toko bunga Fleurish, tempatnya bekerja, tempat yang seharusnya aman. Namun ketika aku membaca ulang adegan itu, kupu-kupu itu sudah ada di sana, hinggap di bahunya, seolah tidak pernah pergi.
Aku tidak ingat menuliskannya.
“Berhenti,” katanya.
“Kalau dia muncul lagi, jangan lanjut.”.
“Aku harus lanjut.”
“Kenapa?”
Aku terdiam cukup lama.
Kali ini jawabannya tidak lagi sederhana.
“Karena ini belum selesai.”
Kecelakaan itu tetap terjadi.
Aku menundanya, menggesernya, mencoba menulis jalan lain. Tetapi cerita ini selalu kembali ke titik yang sama. Kupu-kupu itu muncul lagi, lebih dekat dari sebelumnya, dan kali ini aku tidak bisa lagi berpura-pura bahwa aku masih mengendalikan arah.
Aku berhenti lama sebelum menuliskan benturan itu.
Lalu aku tetap menuliskannya.
Ia tidak mati.
Dan itu satu-satunya hal yang berhasil kupertahankan.
Di ruang rumah sakit yang terlalu putih, ia tidak lagi terlihat seperti tokoh yang menunggu. Ada sesuatu dalam cara ia menatap, sesuatu yang sadar.
“Kamu juga lihat polanya, kan?” katanya.
Aku tidak menjawab.
“Kupu-kupu itu nggak pernah salah.”
“Itu cuma cerita,” kataku.
Ia tersenyum tipis.
“Kalau cuma cerita… kenapa kamu nggak bisa mengubahnya?”
Aku tidak punya jawaban.
Di bagian akhir, aku mencoba sekali lagi. Aku menulis bahwa hidupnya mulai membaik, bahwa ia belajar menerima, bahwa semuanya perlahan pulih. Untuk sesaat, aku hampir percaya pada akhir itu.
Lalu kupu-kupu itu muncul lagi.
Tidak bergerak. Tidak mencolok. Hanya ada.
Aku berhenti.
KAMU AKAN MENGAKHIRINYA SEPERTI APA?
Aku sudah mencoba menulis cerita ini berkali-kali. Serius, aku bahkan tidak tahu ini sudah percobaan ke berapa. Setiap kali aku sampai di bagian tertentu, aku berhenti, menghapus, lalu mengulang dari awal. Seolah-olah jika aku menemukan cara yang tepat untuk menulisnya, semuanya akan terasa lebih masuk akal. Aku bahkan mulai curiga bahwa mungkin masalahnya bukan pada kata-kata, melainkan pada kenyataan itu sendiri
Masalahnya sebenarnya sederhana. Cerita ini tentang dua hal yang terjadi di hari yang sama yakni ulang tahun kakakku dan kematian ibu sahabatku. Kalimat itu terlihat biasa saja saat ditulis seperti ini rapi, netral, tidak memihak. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.
Sahabatku bukan orang asing di rumah ini. Ibunya pernah beberapa kali datang membawa makanan, duduk bersama ibuku, tertawa seperti mereka sudah saling kenal sejak lama. Aku pernah merayakan ulang tahunnya di rumahnya, meniup lilin kecil dengan rasa kue yang terlalu manis. Dan sebaliknya, ia juga pernah datang ke rumahku, membawa kue sederhana yang kami potong bersama seperti anak dan ibu kandung.
Kakakku dan anggota keluargaku yang lain juga mengenalnya. Tidak dekat, tapi cukup untuk menyapanya dengan nama, cukup untuk bertanya, “Kabar?” kalau mereka bertemu.
Jadi mungkin ini bukan dua dunia yang benar-benar terpisah.
Aku tidak tahu harus memulai cerita ini dari mana. Kalau aku mulai dari pagi, kamu akan mengenal rumahku sebagai tempat yang hangat. Ada suara piring beradu di dapur, aroma kue yang baru keluar dari oven, dan ibuku yang beberapa kali memanggil namaku karena aku belum juga membantu.
“Cepat sini, jangan main HP terus,” katanya waktu itu. Aku ingat aku menjawab, “Iya, sebentar,” tanpa benar-benar beranjak.
Padahal dari tempatku duduk, aku bisa melihat punggungnya yang bolak-balik antara meja dan kompor. Tangannya tidak pernah benar-benar berhenti kadang mengaduk sesuatu, kadang memindahkan loyang, kadang sekadar menyeka meja yang sebenarnya sudah bersih. Sesekali ia menoleh ke arahku, memastikan aku masih di sana, masih bisa dipanggil.
Aku akhirnya berdiri juga, meski dengan langkah yang setengah hati. Di dapur, terasa udara uap panas. Aku mengambil beberapa piring dari rak, menaruhnya di meja seperti yang biasa kulakukan setiap ada sesuatu yang akan dirayakan.
“Kue yang ini nanti dipotongnya siang aja,” katanya tanpa melihatku, “biar semuanya kumpul dulu.”
Aku hanya mengangguk, meski saat itu tidak benar-benar memikirkan “semuanya” itu siapa saja. Yang kupikirkan hanya bagaimana cepat selesai, lalu kembali ke tempat dudukku.
Di meja, beberapa kotak sudah tersusun rapi. Ada gelas plastik berisi minuman, ada lilin yang masih terbungkus, ada pisau kecil yang biasanya dipakai hanya untuk acara seperti ini. Semua terlihat seperti rutinitas yang sudah sering terjadi.
Ibuku berhenti sejenak, lalu menyodorkan satu piring kepadaku. “Coba ini,” katanya.
Aku mencicipinya tanpa banyak komentar aku berkata. “Sangat enak, bu,” dan ia tersenyum kecil, seolah itu sudah cukup.
Kakakku duduk di ruang tamu, memainkan sesuatu di ponselnya. Sesekali dia tersenyum sendiri. Hari itu seharusnya miliknya. Dan kalau aku jujur, pagi itu memang terasa ringan. Tidak ada tanda apa-apa, tidak ada firasat buruk seperti yang sering diceritakan orang-orang dalam cerita. Semua berjalan seperti biasa. Mungkin itu yang membuatnya terasa lebih aneh sekarang.
Aku sempat berhenti di bagian ini. Aku berpikir, mungkin aku harus memperpanjang bagian bahagia ini untuk menambahkan lebih banyak detail, membuat pembaca merasa nyaman sebelum semuanya berubah. Tapi aku takut itu terasa seperti manipulasi, seolah-olah aku sengaja mempermainkan perasaanmu.
Atau… kamu justru ingin bagian bahagia ini diperpanjang?
Aku tidak tahu. Aku bertanya seperti ini karena, jujur saja, aku sendiri tidak tahu harus memilih yang mana.
Dan Ini bagian yang benar-benar terjadi kalau aku memulainya dari siang hari.
Menjelang siang, kerabat mulai berdatangan ke rumah. Suara obrolan pelan-pelan memenuhi ruang tamu. Aku disuruh ibu membantu memindahkan meja. Mengangkat salah satu sisi meja, sementara yang lain dipegang oleh pamanku. Kami tidak banyak bicara. Hanya memastikan meja itu tidak terbentur sesuatu. Dan di tengah itu, ponselku bergetar.
Sekali.
Aku mengabaikannya.
Dua kali.
Aku masih mengabaikannya.
Tiga kali.
Aku mulai merasa ada yang aneh.
Tanganku sedikit goyah. Sudut meja yang kupegang nyaris membentur kursi.
“Pelan-pelan,” kata pamanku
“Iya,” jawabku singkat, tapi mataku sudah turun ke arah ponsel.
Aku menurunkan sisi meja yang kupegang, sedikit terlalu cepat. Aku membuka pesan itu.
Dan di sini, lagi-lagi aku berhenti.
Karena bagian ini selalu terasa berbeda setiap kali aku mengingatnya.
Pesannya singkat.
Tolong doain ya. Ibuku…
Aku tidak langsung mengerti. Aku bahkan sempat membaca ulang kalimat itu dua kali, tiga kali, seolah-olah maknanya akan berubah. Beberapa detik kemudian, pesan berikutnya masuk.
Ibuku meninggal.
Kalimat itu tidak panjang, tidak dramatis, tidak disertai penjelasan apa pun. Tapi justru karena itu, rasanya seperti sesuatu yang jatuh tepat di tengah kepalaku tanpa bisa dihindari. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Dan ini bagian yang paling sulit untuk kutulis. Karena kalau aku jujur, tidak ada reaksi besar saat itu. Tidak ada tangisan, tidak ada teriakan, tidak ada adegan dramatis seperti di film. Yang ada hanya aku berdiri diam, memegang ponsel, dengan suara tawa yang masih terdengar di belakangku. Dua dunia berjalan bersamaan, dan aku ada di tengahnya.
Aku pernah mencoba menulis versi di mana aku langsung pergi ke rumah sahabatku. Aku membayangkan diriku berlari, atau setidaknya berpamitan dengan wajah serius, lalu menghilang dari suasana ulang tahun itu. Versi itu terasa lebih baik, lebih pantas. Tapi itu bukan yang terjadi.
Yang terjadi adalah aku menyimpan ponselku, melanjutkan mengangkat meja itu dan kembali ke ruang tamu, lalu duduk di sebelah kakakku. Beberapa jam kemudian, aku ikut menyanyikan lagu ulang tahun. “Panjang umurnya, panjang umurnya. Panjang umurnya serta mulia. Serta mulia, serta mulia…” Suara kami bercampur. Tidak ada yang sumbang, tidak ada yang berhenti di tengah lagu. Aku bahkan sempat tertawa ketika lilinnya hampir jatuh karena tertiup angin dari kipas.
Tapi aku seperti pernah berdiri di sini sebelumnya. Di ruang yang sama. Aku seperti pernah melihat seorang ibu sahabatku duduk di ruang tamu ini dengan senyum yang samar, tangan yang sibuk membagi sesuatu.
Dan untuk sesaat, aku tidak benar-benar tahu apakah aku sedang mengingat, atau hanya mengulang sesuatu yang pernah terjadi di tempat yang sama.
Kalau kamu membaca sampai sini dan merasa aneh, aku mengerti. Aku juga merasa begitu. Itu sebabnya aku terus mencoba menulis ulang cerita ini. Aku mencoba mencari momen di mana aku terlihat lebih peduli, lebih manusiawi, lebih benar. Tapi setiap kali aku mengubahnya, cerita ini terasa seperti milik orang lain, bukan milikku.
Setelah acara selesai, aku akhirnya membalas pesan temanku. Aku tidak tahu harus menulis apa.
“Yang sabar ya” terasa terlalu klise.
“Innalillahi…” terasa terlalu jauh.
“Kalau butuh apa-apa bilang ya” terasa kosong.
Aku mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi.
Kamu pernah seperti itu juga?
Mengetik sesuatu yang sebenarnya ingin kamu sampaikan, tapi terasa salah begitu dilihat lagi?
Akhirnya aku hanya mengirim satu kalimat
Aku turut berduka.
Aku menatap kalimat itu cukup lama sebelum mengirimnya, seolah-olah kalimat itu bisa menjelaskan semua yang tidak bisa aku lakukan hari itu. Seolah-olah itu cukup. Padahal aku tahu tidak.
Aku tidak datang ke rumahnya hari itu. Aku datang keesokan harinya.
“Dari mana, Nak?” tanya seorang ibu ketika aku melewati ruang depan.
Aku meraih tangannya ke keningku.. “Dari rumah, turut berdukacita ya tan.”
Dia mengangguk pelan, lalu kembali duduk.
Rumahnya tidak benar-benar sunyi.
Ada suara orang berbicara pelan di ruang depan dan seseorang mengucapkan salam, yang lain menjawab dengan suara yang lebih pelan, sesekali terdengar batuk kecil atau langkah kaki yang lewat.
Tapi suasananya jelas tidak seperti rumahku kemarin. Tidak ada kue, tidak ada lilin, tidak ada lagu. Semua terasa tertahan, karna setiap orang sengaja menurunkan volume dirinya. Dia duduk di sudut ruangan. Matanya bengkak, tapi tidak menangis saat aku datang.
Kami tidak banyak bicara. Aku duduk di sampingnya, dan untuk beberapa saat, aku hanya berharap dia tidak menanyakan di mana aku kemarin. Dia tidak bertanya. Dan justru itu yang membuatku semakin tidak nyaman. Aku ingin dia marah, atau setidaknya bertanya, supaya aku punya kesempatan untuk menjelaskan. Tapi dia hanya diam, dan aku juga diam.
Aku sempat ingin menuliskan bagian ini dengan lebih dramatis mungkin dengan menambahkan dialog, membuatnya berkata sesuatu yang akan membuat cerita ini terasa lebih hidup. Tapi kenyataannya, kesedihan sering kali justru datang tanpa kata-kata. Dan mungkin itu yang membuatnya sulit ditulis.
Sekarang aku kembali ke bagian akhir, atau apa pun yang bisa disebut sebagai akhir. Aku sudah mencoba berbagai cara untuk menutup cerita ini, membuatnya reflektif, membuatnya puitis, bahkan menulis kalimat yang terdengar seperti kesimpulan. Tapi semuanya terasa palsu, karena hari itu sendiri tidak pernah benar-benar selesai.
Setiap kali aku mengingatnya, dua hal itu selalu muncul bersamaan antara lilin yang menyala dan pesan singkat yang memadamkan sesuatu di dalam diriku. Aku tidak bisa memilih salah satunya. Aku tidak bisa menulis yang satu tanpa mengingat yang lain.
Jadi mungkin ini bukan cerita tentang ulang tahun, dan bukan juga tentang kematian. Mungkin ini hanya tentang bagaimana dua hal yang sangat berbeda bisa terjadi di waktu yang sama dan bagaimana aku tidak pernah benar-benar tahu harus menjadi siapa di antara keduanya.
Kalau kamu berharap cerita ini berakhir dengan rapi, dengan makna yang jelas, aku minta maaf. Aku juga berharap begitu. Tapi sampai sekarang, aku masih menulisnya mengulang, menghapus, dan memulai lagi.
Dan mungkin, bahkan setelah kamu selesai membaca ini, cerita ini masih belum benar-benar selesai.
Atau aku akan kembali ke awal—
Membuka halaman kosong,
Dan memulai lagi dari kalimat pertama yang sama.
Seperti Plankton
Qowi Yatul Sholiyah. Biasanya dipanggil Qowi atau Liya. Tumbuh di antara kata-kata, tapi nggak pernah benar-benar ingin terikat oleh satu makna saja. Lebih suka membiarkan kalimat berjalan bebas, kadang sederhana, kadang berisik di kepala sendiri. Menulis bukan soal terlihat hebat, tapi soal jujur tentang apa yang dipikirkan, dirasakan, atau bahkan yang nggak sempat diucapkan. Selebihnya, masih belajar. Dan mungkin, akan terus begitu. Salam Kenal….
Bagaimana sebenarnya rupa sebuah kehadiran itu? Apakah ia harus terdengar seperti suara yang lantang di ruang-ruang penuh manusia? Ataukah ia harus tampak seperti sosok yang selalu berada di depan, mudah dikenali, mudah diingat? atau mungkin, kehadiran itu hanya dianggap sah jika ia mampu meninggalkan jejak yang bisa disebut, dihitung, dan dipuji? Aku tidak tahu, dan mungkin, justru karena ketidaktahuan itulah aku mulai menulis kisah ini.
Sebab ada seseorang yang sejak awal terasa seperti tidak pernah benar-benar ada menurut ukuran-ukuran itu. Ia tidak menguasai percakapan, tidak mengisi ruangan dengan tawa, bahkan seringkali terlupakan sebelum sempat disebut. Namun anehnya, setiap kali aku mencoba menghapusnya dari cerita ini, selalu ada sesuatu yang hilang seperti udara yang tiba-tiba menjadi lebih tipis, seperti ruang yang tetap berdiri tetapi kehilangan napasnya
Aruna duduk di barisan paling belakang atau setidaknya, begitulah aku menuliskannya. Aku menuliskan semua ini tentang Aruna dengan sangat sadar seolah-olah aku sedang membangun seorang tokoh yang memang ditakdirkan untuk tidak menonjol. Aku bisa saja membuatnya duduk di depan, menjadi mahasiswi aktif yang penuh percaya diri, tapi tidak. Aku memilih menaruhnya di belakang, di tempat yang hampir tak terlihat, seperti banyak tokoh lain yang biasanya hanya lewat begitu saja dalam sebuah cerita.
Namun, saat kalimat ini selesai, ada perasaan aneh seolah Aruna tidak sepenuhnya diam di dalam tulisan ini. Seolah ia mulai membaca dirinya sendiri.
Kalimat itu seperti gema yang memantul di dinding kepalanya. Aruna merasa hidupnya adalah sebuah draf kasar yang ditulis orang lain. Ia masuk ke jurusan sastra karena nilai rapornya hanya aman di sana. Ia masuk organisasi karena tidak enak hati menolak. Bahkan di rumah, ia adalah anak tengah yang sering lupa ditanya ingin makan apa. Ia adalah figuran dalam film hidupnya sendiri.
Di sini aku berhenti sebentar. Karena kalimat itu figuran dalam film hidupnya sendiri terasa terlalu jujur. Seolah bukan hanya aku yang menuliskannya, tapi Aruna yang mulai menyadarinya. Dan jika itu benar, maka sejak titik ini, cerita ini tidak lagi sepenuhnya berada di bawah kendaliku.
Hari itu, suasana hati Aruna semakin keruh. Ayahnya, dengan nada yang tidak memberi celah untuk bantahan, baru saja menetapkan masa depannya. “Setelah lulus, kamu magang di kantor distribusi Om Heru. Sastra ini… yah, anggap saja masa pencarian jati diri yang sudah selesai.” Ibunya hanya mengangguk pelan, sibuk dengan piringnya. Aruna merasa dadanya menyempit. Ia bukan marah karena dilarang jadi penulis, tapi ia marah karena dirinya dianggap sebagai benda yang bisa dipindahkan dari satu laci ke laci lain tanpa perlu izin.
Aku tetap menuliskan semuanya persis seperti yang terjadi. Tapi di saat yang sama, aku mulai merasa bahwa Aruna tidak hanya mengalami konflik dengan ayahnya ia juga mulai berhadapan dengan sesuatu yang lebih besar: garis cerita yang sudah ditentukan untuknya.
Di tengah perasaan sesak itu, langkah kaki Aruna membawanya kembali ke ruang kelas yang sudah kosong. Ia ingin menyendiri. Namun, matanya tertuju pada papan tulis. Di pojok kanan bawah, seseorang telah menuliskan sebuah kalimat dengan kapur putih yang nyaris habis.
Plankton hidup tanpa arah, tapi tanpa plankton laut akan mati.
Kalimat itu kutuliskan untuknya. Tapi saat Aruna membacanya, reaksinya terasa bukan milikku.
Aruna terpaku. Ia mendekat, menyentuh debu kapur itu dengan ujung jarinya. Selama ini ia benci disebut plankton oleh teman-temannya makhluk mikroskopis yang hanya hanyut terbawa arus. Namun, kalimat anonim itu menawarkan perspektif lain bahwa menjadi kecil bukan berarti tidak berarti.
Aku mulai ragu…
Apakah benar aku yang menulis kalimat itu?
Atau cerita ini mulai menuliskan dirinya sendiri?
Saat ia sedang termangu, pintu kelas terbuka pelan. Elian, mahasiswa Seni Rupa tingkat akhir yang dikenal pendiam dan sering terlihat menggambar di sudut-sudut kampus, muncul. Aruna tersentak. Mereka jarang bicara, hanya sering mencuri pandang di kantin atau perpustakaan. Ada sesuatu pada Elian yang membuat Aruna merasa diperhatikan, meski dalam diam.
Elian nampak sedikit terkejut melihat Aruna. Ia tidak mendekat, hanya berdiri di ambang pintu, menatap papan tulis, lalu menatap Aruna. “Tulisannya bagus, ya,” ucap Elian datar, tapi ada nada hangat di suaranya. Aruna hanya mengangguk pelan, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Elian tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menundukkan kepala sedikit, sebuah isyarat pamit yang sopan, lalu berbalik dan pergi. Aruna menatap punggung Elian yang menjauh, bertanya-tanya apakah pertemuan itu hanya kebetulan.
Jujur saja, Elian bukan rencana awal.
Aku tidak tahu kapan tepatnya ia masuk ke dalam cerita ini. Tapi sejak ia muncul, arah cerita terasa berubah. Dan yang lebih aneh Aruna tampak memilih untuk memperhatikannya.
Dua hari kemudian, Aruna memutuskan untuk pergi. Ia mendaftarkan diri dalam proyek penelitian Sastra Lisan di Teluk Sunyi, sebuah desa nelayan di pesisir selatan Sulawesi. Perjalanan delapan jam itu membawanya ke sebuah rumah panggung yang kayu-kayunya sudah memutih karena garam laut. Di sanalah Mak Surti tinggal, seorang Pasinrilik terakhir di desa itu.
Aku menuliskan perjalanan ini sebagai titik perubahan, tetapi saat aku sampai di bagian ini, aku merasa seperti hanya mencatat sesuatu yang memang harus terjadi.
Udara di teras rumah itu terasa asin dan lembap saat Aruna pertama kali duduk bersila di atas tikar pandan yang anyamannya mulai terlepas. Di hadapannya, Mak Surti sedang memeluk keso-keso miliknya sebuah instrumen dari kayu nangka dan kulit hewan yang menghitam dimakan usia. Dalam tradisi Makassar, Sinrilik bukan sekadar dongeng. Ini adalah seni tutur lisan yang sakral.
Dulu, Pasinrilik dipanggil dalam upacara-upacara penting pelepasan pelaut, perayaan panen, bahkan ritual penyembuhan. Bait-baitnya, yang dilantunkan dengan irama melankolis dan seringkali terdengar seperti ratapan, diyakini mampu menghubungkan dunia manusia dengan roh leluhur dan penguasa laut. Tapi sekarang, gesekan keso-keso itu lebih sering terdengar sebagai lagu duka kesendirian.
Mak Surti tidak langsung bicara. Jemarinya yang keriput mulai menggesek busur dawai. Suara yang keluar parau, menyayat, terdengar seperti isakan yang tertahan di tenggorokan. Aruna terdiam, merasakan getaran musik itu merambat dari lantai kayu ke telapak kakinya.
“Kau tahu, Nak,” suara Mak Surti memecah kesunyian, lebih rendah dari gesekan dawainya. “Dalam Sinrilik, suara-suara yang kulantunkan itu tidak pernah merasa sendirian, tapi mereka sangat kesepian. Mereka terjebak dalam kata-kata yang orang kota anggap hanya sebagai hiburan.”
Di sini aku berhenti lagi, karena suara Mak Surti terasa terlalu hidup untuk sekadar kutipan.
Mak Surti mulai melantunkan bait-bait dalam bahasa Makassar yang kental, sebuah Sinrilik Cappala tentang duka. Ia bercerita tentang seorang pelaut yang kapalnya pecah dihantam badai di Selat Makassar. Aruna mendengarkan bagaimana intonasi suara Mak Surti naik saat menceritakan amukan ombak, lalu tiba-tiba meluruh menjadi bisikan saat menceritakan sang pelaut yang memegang sepotong kayu sambil menyebut nama istrinya di rumah.
“Dulu,” lanjut Mak Surti, “setiap bait ini adalah napas. Jika ada orang hilang di laut, kami menyanyikannya agar arwahnya menemukan jalan pulang. Tapi sekarang, anak-anak muda datang hanya untuk merekam, menaruhnya di dalam kotak plastik kecil itu, lalu menyebutnya ‘tugas kuliah’. Mereka mengambil suaraku, tapi mereka tidak mengambil sakitnya.”
Aku menyadari sesuatu di titik ini, aku tidak lagi mengendalikan emosi dalam cerita ini.
Aruna menatap mata Mak Surti yang tertutup selaput putih katarak. Di sana, ia melihat bayangan masa lalu. Mak Surti bercerita tentang anaknya, satu-satunya pewaris keso-keso itu, yang memilih pergi ke kota untuk menjadi buruh pabrik karena merasa tradisi ini tidak memberinya makan. Anaknya tewas dalam kecelakaan kerja yang tak pernah diusut. Sejak hari itu, Mak Surti tidak pernah lagi melantunkan Sinrilik kepahlawanan. Ia hanya menyanyikan kesedihan.
“Sinrilik itu seperti laut,” gumam Mak Surti lagi. “Orang-orang hanya melihat permukaannya yang biru, tapi mereka takut menyelam ke dasarnya yang gelap. Padahal di dasar itulah semua jawaban berada. Kamu… kamu punya mata yang mau menyelam, Aruna. Jangan pernah takut menjadi laut yang tenang, Nak. Ombak itu bersuara keras, tapi ia akan pecah saat membentur karang. Laut yang tenang… ia menampung segalanya tanpa bersuara, dan itulah yang membuatnya abadi.”
Malam semakin larut di Teluk Sunyi. Lampu petromaks di sudut ruangan mulai berkedip kehabisan minyak. Mak Surti terus bercerita tentang bagaimana ia sering terbangun di tengah malam dan merasa dunia ini sangat bising tapi tak ada satu pun suara yang benar-benar memanggil namanya. Aruna meraih tangan Mak Surti yang gemetar, kasar dan dingin.
Di saat itulah, Aruna belajar sesuatu yang paling berharga. Ia belajar bahwa kekuatan terbesar bukanlah pada seberapa keras kita berteriak atau seberapa cepat kita berlari, melainkan pada kemampuan untuk diam, mendengar, dan menjadi ruang bagi duka yang tak terkatakan. Ia menyadari bahwa orang-orang yang merasa kecil seperti dirinya justru memiliki ruang paling luas untuk menyimpan hal-hal besar yang diabaikan oleh orang lain.
Di titik ini, aku tidak lagi menulis Aruna sebagai figuran. Ia sudah mengambil tempatnya sendiri.
Kembali dari Teluk Sunyi, Aruna adalah pribadi yang berbeda. Ia tidak lagi menundukkan kepala. Ia mengerjakan laporannya bukan sebagai tugas, melainkan sebagai sebuah amanah dari Mak Surti. Ia menuliskan setiap nada, setiap isakan, dan setiap kata Mak Surti dengan penuh hormat, mencoba menyampaikan rasa kesepian itu ke dalam tulisan.
Sore terakhir sebelum wisuda, Aruna berdiri di tepi sungai yang membelah kotanya. Ia melihat sampah plastik yang hanyut, juga daun-daun kering yang pasrah dibawa air. Ia teringat fakta biologi: Plankton adalah produsen oksigen terbesar di bumi, jauh melampaui pohon-pohon raksasa. Mereka kecil, tak terlihat, dan sering dianggap sampah laut, tapi mereka adalah napas bagi planet ini.
Aku sempat ingin mengubah akhir ini, membuatnya lebih dramatis, tapi Aruna tidak membutuhkannya.
Aruna menatap pantulan dirinya di air sungai. Ia bukan lagi Aruna yang tidak punya pilihan. Sekarang ia adalah Aruna yang memilih untuk menjadi tenang di dunia yang terlalu bising. Ia adalah Aruna yang tahu bahwa kehadirannya, sekecil apa pun, adalah bagian penting dari napas semesta.
Saat ia hendak membalikkan badan, ia melihat seseorang berdiri tak jauh darinya. Elian. Di tangannya ada sebuah buku gambar. Elian mendekat perlahan. “Aku dengar perjalananmu ke Teluk Sunyi sangat berarti,” ucapnya, suaranya setenang aliran sungai di bawah mereka.
Aruna tersenyum, kali ini sebuah senyum yang tulus. “Iya, sangat berarti. Aku belajar banyak hal.”
Elian menatap Aruna lama, lalu membuka buku gambarnya. Di halaman yang terbuka, ada sebuah sketsa seorang perempuan berdiri di atas rumah panggung, memegang keso-keso, dan di sekelilingnya, ribuan titik kecil bersinar, layaknya plankton di laut malam.
“Plankton itu… mereka tidak selalu harus terbawa arus tanpa tujuan, Aruna,” kata Elian, matanya lurus menatap mata Aruna. “Kadang-kadang, mereka adalah arus itu sendiri. Dan aku suka plankton yang bersinar di tengah kegelapan.”
Di sini akhirnya aku mengerti, mungkin kalimat di papan tulis itu bukan sepenuhnya milikku, mungkin sejak awal, cerita ini tidak pernah benar-benar aku kendalikan.
Jantung Aruna seakan berhenti berdetak sejenak. Getaran hangat mengalir ke seluruh tubuhnya. Ia menatap sketsa Elian, lalu menatap Elian. Tanpa perlu kata-kata, ia tahu. Dan di detik itu, ia juga tahu, siapa yang telah menuliskan kalimat itu di papan tulis. Elian tidak mengakuinya secara langsung, tapi sketsa dan kata-katanya adalah penegasan yang lebih dari cukup.
Aruna tersenyum, bukan senyum yang pasrah, melainkan senyum yang penuh keyakinan. Ia adalah Aruna, si plankton yang akhirnya menemukan arahnya sendiri, tidak dengan menjadi besar dan bersuara keras, tapi dengan tetap kecil, diam, namun mampu menerangi kegelapan dan memberi napas bagi dunia. Jika dunia adalah lautan, maka ia bangga menjadi bagian terkecilnya, karena tanpa dirinya, laut dan orang-orang di dalamnya akan kehilangan cara untuk bernapas dengan lega. Ia membalikkan badan, berjalan menjauh dari sungai dengan langkah yang mantap, tidak lagi sendirian, tapi dengan keyakinan yang baru di dalam dada.
Dan aku…?
Aku hanya menuliskan akhir ini.
Atau mungkin hanya menyadari bahwa Aruna sudah selesai menuliskannya sendiri.




