Tempat dimana cerita-cerita pendek dipilih dan dibagikan kepada kalian
PEMATANG YANG BERSUARA
Nazifa Zafira
Di pematang sawah, dua orang laki-laki berdiri saling membelakangi, masing-masing menjaga aliran air seolah-olah itu miliknya sendiri.
“Jangan dialihkan lagi ke sana!” suara itu terdengar berat.
Maryam berhenti melangkah ketika mendengar kedua laki-laki itu saling beradu mulut, kakinya seolah tertahan di tempat.
Sudah beberapa hari ini, sawah bukan lagi tempat untuk bergotong royong dan saling membantu, namun sudah menjadi tempat untuk saling menaruh curiga dan amarah. Aliran air sawah tidak pernah benar-benar meresap hingga ke dalam tanah.
Pagi itu, Maryam sedang duduk di batuan hulu sungai, ia terus menyikat pakaiannya dengan air jernih dan mengalir dengan tenang yang dapat memantulkan langit biru dan dedaunan hijau ditepiannya, menciptakan lukisan alam yang sempurna.
Sinar matahari menyapa desa Nusantara yang terdapat di wilayah Kerinci. Di sela-sela gemericik air yang mengalir, Maryam tidak sengaja mendengar beberapa suara ricuh dari seberang sungai.
“Kenapa ya sawah kita, kok enggak ada hasil panen yang terlihat?” keluh seorang ibu dengan sabun pakaian di tangannya.
“Aahh, ini gara-gara Pak Budi yang enggak mau berbagi air, dia mau sawahnya aja yang berhasil,” pangkas ibu lain di seberang sana.
Mendengar hal itu, Maryam segera merapikan pakaian yang sudah ia cuci ke dalam sebuah ember berwarna hitam, dan berlari menuju rumah neneknya.
Sesampainya di sana, ia langsung menuju ruang tengah tempat neneknya bersantai dan beristirahat.
“Nek, kenapa hasil panen di sawah warga desa gagal semua, ya? Kok bisa? Maryam jadi penasaran, deh!” tanya Maryam memulai pembicaraan.
“Itu cuma peringatan aja buat kita,” jawab sang nenek dengan santai, seolah mengelak dari pertanyaan tersebut.
Dengan rasa ingin tahu yang masih terbakar, Maryam terus mendesak agar mendapat jawaban serius dari sang nenek.
“Mungkin saja karena kita sudah lama tidak mengadakan kenduri sko. Terakhir kali itu 15 tahun lalu, saat kamu masih SD, kan?” jelas wanita paruh baya, berharap tidak ada pertanyaan lanjutan.
Merasa pertanyaannya belum benar-benar terjawab, Maryam duduk di teras rumahnya sambil memandangi langit yang sudah gelap dan menampilkan cahaya-cahaya bintang dari atas sana.
“Hubungannya kenduri sko sama sawah apa, ya?” gumam Maryam dengan telapak tangan yang menekan pelipis.
Sepanjang malam itu, Maryam terus mencari tahu melalui internet dan menemukan sebuah penjelasan yang menyebutkan bahwa dalam kenduri sko terkandung nilai demokrasi, musyawarah, gotong royong, dan hidup rukun. Maryam membaca kalimat itu berulang kali. Perlahan, bayangan beberapa hari terakhir melintas di kepalanya, warga yang saling membelakangi di sawah, aliran air yang diperebutkan, dan bisik-bisik tuduhan yang tak kunjung berhenti.
Pagi itu, Maryam bangun dengan satu pikiran yang terus berputar di kepalanya. Ia tidak ingin diam saja. Tanpa banyak pertimbangan, ia langsung keluar rumah dan melangkah menuju tempat yang pertama terlintas di pikirannya, rumah Ani.
Di depan rumah Ani, temannya sejak SD, ia ragu-ragu untuk mengetuk pintu. Sebelum ia benar-benar mengetuk, Ani sudah lebih dulu membukakan pintu.
“Loh, Maryam? Kok tumben banget pagi-pagi sudah di sini?” tanya Ani kaget.
“Ayo kita ke tempat teman-teman yang lain,” potong Maryam tanpa menjawab pertanyaan itu.
Ani mengernyit, sambil mengambil sandalnya.
“Emangnya ada apa sih?” tanya Ani sambil setengah berlari kecil menyusul Maryam yang sudah lebih dulu melangkah.
“Udah, ikut aja dulu,” jawab Maryam singkat.
Mereka berdua berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya. Satu per satu teman lama mereka dikumpulkan, mulai dari Raka, Dini, Arul, sampai Fajar yang biasanya susah untuk diajak keluar rumah.
Mereka berkumpul di tepian sungai, tempat dulu di mana mereka sering bermain. Maryam menarik napas, meletakkan tatapannya pada wajah-wajah yang dulu akrab di pematang sawah kini terlihat canggung satu sama lain, seolah ada jarak tak kasatmata yang ikut tumbuh bersama seiring berjalannya waktu.
“Maryam, ini sebenarnya mau ngapain sih?” tanya Raka, sedikit tidak sabar.
“Eumm…aku mau ngomongin sesuatu, guys. Gimana kalo kita ngajak warga buat ngadain kenduri sko? Kalian liat kan, orang-orang pada ribut sekarang gara-gara sawah yang lagi kacau?” jelas Maryam berharap teman-temannya memahami maksudnya.
Semua terdiam. Tidak ada yang menyangkal, memahami maksud dari Maryam.
“Lah, terus hubungannya sama kenduri sko apa?” sahut Arul meminta penjelasan Maryam.
Maryam menghela napas sejenak, sebelum kembali menjelaskan.
“Kemaren aku juga bertanya begitu, tetapi setelah aku cari tahu, kenduri sko bisa meredam emosi orang-orang di lingkungan kita, kita bisa saling bergotong royong dan hidup rukun. Selain itu, tujuan kenduri sko apa coba?” ujar Maryam kembali.
“Buat mempererat tali silaturahmi warga, melestarikan warisan budaya leluhur, dan menjaga keharmonisan sosial masyarakat,” Jawab Ani santai.
Ani sedikit mengangguk, tetapi yang lain justru saling berpandangan. Beberapa detik hening, lalu terdengar tawa kecil.
“Serius, Yam? Kenduri sko? Fajar terkekeh, menahan senyum yang nyaris lepas.
“Iya, maksudnya… itu kan acara orang tua dulu. Emang masih relevan?” sahut Arul
Maryam terdiam dengan tatapan kosong, tangannya mengepal pelan di samping tubuhnya.
“Aku cuma mikir… mungkin kalau kita mulai dari situ, orang-orang bisa—”
“Bisa apa?” pangkas Raka dengan nada yang lebih tajam. “Tiba-tiba rukun gitu aja? Gara-gara makan bareng?”
Beberapa dari mereka kembali tertawa dengan nada yang lebih jelas.
“Yam, ini bukan masalah kecil,” tambah Dini, meskipun nadanya tidak setajam yang lain. “Orang-orang itu udah lama punya masalah. Bukan cuma soal air sawah.”
“Iya,” sambung Fajar. “Lagian, kita ini siapa? Mau ngajak warga? Emang mereka bakal dengerin kita?”
Tawa itu mungkin hanya sebentar, tapi cukup membuat Maryam terdiam. Ia ingin membalas, menjelaskan maksudnya, tapi kata-katanya seperti hilang begitu saja. Dadanya terasa penuh, entah karena kesal atau justru ragu pada dirinya sendiri.
“Udahlah, Yam,” kata Arul sambil mengangkat bahu. “Ide kamu bagus sih… tapi kayaknya terlalu maksa.”
Maryam hanya mengangguk kecil, meskipun hatinya terasa jatuh ke tempat yang dalam. Ia menunduk, berusaha menyembunyikan ekspresi yang mulai berubah.
“Iya… mungkin aku yang terlalu berlebihan,” ucapnya lirih.
Percakapan itu tidak berlanjut, mereka mulai membicarakan urusan masing-masing, setelah lama tidak berjumpa, seolah pembicaraan barusan hanyalah hal sepele yang bisa dilupakan begitu saja.
Satu per satu dari mereka pun meninggalkan sungai tempat mereka berbincang, hingga pada akhirnya yang tertinggal hanya Maryam.
Suara langkah kaki yang menjauh perlahan menghilang, digantikan oleh gemericik air yang mengalir tanpa arah yang jelas. Maryam masih berdiri di tempatnya, menatap permukaan air yang bergetar pelan. Kalimat-kalimat sebelumnya kembali terngiang.
“Kita ini siapa?”
“Terlalu maksa.”
Ia menghela napas panjang, lalu duduk di batu pinggir sungai. Tangannya meraih kerikil kecil dan melemparkannya ke air, sekali, dua kali, tanpa benar-benar sadar apa yang ia lakukan.
Sore itu, Maryam pulang dengan langkah pelan. Sesampainya di rumah, ia langsung duduk di samping neneknya.
“Nek… tadi aku ngomong ke teman-teman soal kenduri sko,” ucapnya lirih. “Tapi mereka nggak setuju. Malah kayak… ngeremehin.”
Neneknya tidak langsung menjawab. Ia hanya menepuk pelan tangan Maryam.
“Kalau memang belum waktunya, jangan dipaksakan,” katanya lembut. “Nggak semua orang langsung mengerti. Kadang, kita juga perlu belajar untuk melepaskan.”
Maryam menunduk.
“Jadi… aku harus berhenti?”
Neneknya tersenyum tipis. “Untuk sekarang, iya. Lupakan dulu.”
Hari-hari setelah itu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Maryam tetap menjalani semuanya, tapi pikirannya seperti tertinggal di hari itu.
Keesokan harinya, keributan kembali pecah di tepian sawah yang kering, tidak hanya suara ricuh yang terdengar, beberapa warga juga membawa senjata tajam sehingga membuat suasana semakin memanas. Suara teriakan warga saling bersahutan, membuat Maryam ikut mendekat dan berdiri di antara kerumunan.
“Ngalihin air seenaknya, dikira ini air nenek moyang kamu?”
“Kan air sawamu udah penuh, dasar, tamak!”
Di tengah keributan itu, tiba-tiba terdengar suara seseorang dari belakang.
“Apa ini gara-gara kita nggak pernah ngadain kenduri sko lagi? Jangan-jangan leluhur kita nggak senang…”
Kalimat singkat itu berhasil membuat Maryam terpaku. Ia menoleh, mencoba mencari siapa yang bicara, tapi orang-orang sudah kembali ribut.
Tak lama setelah itu, kepala desa mengumpulkan beberapa warga dan pemuda di balai desa. Maryam duduk di antara mereka, diam, masih ragu apakah ia harus bicara lagi atau tidak?
Di depan, Depati, pemangku adat yang selama ini jarang turun langsung itu memimpin musyawarah dengan suara tenang yang membuat semua masyarakat terdiam.
“Masalah ini bukan cuma soal air,” ucapnya pelan.
“Kita terlalu lama berjalan sendiri-sendiri,” lanjutnya.
“Padahal dari dulu, kita diajarkan untuk kembali duduk bersama saat keadaan mulai tidak baik.”
“Kami bukannya tidak mau rukun,” sahut salah satu warga, “tapi kondisi sekarang juga tidak memungkinkan. Panen gagal. Untuk makan saja susah, apalagi mengadakan kenduri.”
“Bagaimana jika kita mengadakan kenduri sko secara sederhana?” ujar depati kemudian, suaranya tenang namun tegas. “Bukan untuk kemewahan, tapi untuk mempertemukan kembali hati yang sudah lama terpisah dan mengingatkan kita, siapa kita sebenarnya.”
“Tenang saja, bahan bisa kita ambil dari bilik padi,” lanjutnya. “Itu memang disiapkan untuk masa sulit seperti sekarang, bukan untuk disimpan selamanya.”
Beberapa warga mulai saling berpandangan, ada yang masih ragu, tapi tidak ada yang berani menolak.
Beberapa hari kemudian, kenduri sko itu benar-benar dilaksanakan dengan sederhana. Di halaman rumah adat, warga berkumpul dalam suasana yang lebih tenang dari biasanya. Saat benda pusaka dimandikan, air limau mengalir pelan, doa-doa dilantunkan lirih.
Orang-orang mulai duduk berdampingan, berbincang pelan, tidak lagi dengan nada tinggi seperti sebelumnya. Tidak ada perubahan yang begitu terlihat, tapi cukup untuk membuat semuanya terasa lebih ringan, lebih lapang.
Saat rentak kudo mulai dimainkan, langkah kaki terdengar serempak, mengisi ruang dengan semangat yang hangat. Tidak lagi canggung seperti sebelumnya.
Maryam berdiri di antara mereka, diam, memperhatikan. Ia tidak lagi sibuk mencari jawaban. Karena malam itu, ia merasa sudah mengerti, bahwa tidak semua hal harus dijelaskan dengan kata-kata. Kadang, cukup dirasakan, saat kebersamaan itu perlahan kembali hidup.
TAMAT
Tentang Penulis: Nazifa Zafira adalah murid SMAN 1 Sungai Penuh
MISTERI TEPIAN BATANG HARI
Kamis, pukul enam sore, matahari tenggelam di arah barat Muara Tembesi. Meninggalkan langit jingga kemerahan yang perlahan hilang di permukaan Sungai Batanghari. Aliran air yang tampak tenang menyimpan sejuta rahasia di arus bawah Sungai Batanghari yang deras. Suara aliran sungai dan heningnya suasana membuat merinding bagi siapa saja yang mengerti adat setempat.
Sebelum berangkat ke sungai, Aldo sempat singgah di warung kopi milik Pak Anto. Lelaki tua itu sejak tadi menggelengkan kepala melihat peralatan penelitian kualitas air yang ditenteng oleh pemuda pendatang tersebut.
“Mau ke mana, Nak Aldo? Ini sudah lewat magrib. Pamali turun ke Batanghari jam segini,” cegah Pak Anto cemas sambil merapikan gelas-gelas kopi di atas meja.
Aldo hanya tersenyum meremehkan, merasa pengetahuannya lebih luas daripada sekadar cerita-cerita lisan.
”Ah, Pak Anto ini percaya saja sama mitos. Saya cuma sebentar ambil sampel air terakhir di sungai tua, biar besok pagi laporan saya langsung beres dan bisa diserahkan.”
Pak Anto menghela napas panjang. Dari wajahnya tampak kekhawatiran yang mendalam.
“Bukannya menakuti, Nak. Orang tua-tua dulu berpesan jangan pernah meremehkan penguasa sungai itu. Apalagi kalau makhluk jadi-jadian seperti hantu rawe sedang kelaparan di air keruh. Konon katanya, ia suka menyeret orang yang nekat pergi di waktu magrib.“
“Sudahlah, Pak. Biar dibuktikan secara pengetahuan saya. Tidak ada itu hantu-hantuan di era modern yang canggih begini,” jawab Aldo mantap.
Aldo pun tersenyum sambil menepuk pundak Pak Hasan dan melangkah pergi meninggalkan warung menuju kegelapan malam.
Beberapa menit kemudian, Aldo sudah berada di ujung jembatan kayu tua seorang diri. Suasana di sekitar sangat sunyi, hanya terdengar suara aliran air sungai dan jangkrik. Senter di genggaman menjadi satu-satunya sumber cahaya di kegelapan malam. Kabut tipis perlahan naik dari permukaan sungai, membuat pepohonan bakau dan nipah di seberang sana.
“Hanya cerita rakyat untuk menakut-nakuti anak kecil agar tidak mandi malam,” gumam Aldo mencoba mengusir rasa sunyi yang mulai menakut nakutinya.
Ia berjongkok di atas titian kayu yang sudah agak rapuh, lalu bersiap memasukkan botol sampel plastik ke dalam air. Namun, baru saja tangannya mendekat ke permukaan air, suasana mendadak berubah drastis. Angin malam yang tadinya berhembus pelan mendadak berhenti total. Udara terasa begitu berat, pengap, dan dipenuhi oleh bau amis yang sangat menyengat, campuran antara lumpur sungai tua, lumut busuk, dan bangkai ikan.
Aldo menghentikan gerakannya.
“Bau apa ini? Rasanya tidak biasa,” gumam Aldo.
Tiba-tiba, permukaan sungai yang tadinya tenang mendadak bergolak hebat. Suara riakan air yang besar terbentuk melingkar hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri, seolah-olah ada sesuatu yang besar sedang bangkit dari dasar sungai terdalam.
Aldo menelan ludah, tangannya yang memegang senter mulai bergetar. Ia mengarahkan cahaya senter itu ke riakan air.
Jantung Aldo seketika seperti berhenti berdetak. Napasnya mulai tidak terkontrol.
Di tengah pusaran air itu, sesosok bayangan raksasa perlahan muncul ke permukaan. Tingginya melampaui postur manusia normal dengan tubuh yang tampak transparan, tetapi memancarkan warna kehitaman yang pekat. Kepalanya botak licin, matanya menyala merah terang bagai bara api di tengah gulita malam, dan yang paling mengerikan adalah tangannya sangat panjang, hampir menyentuh air, dihiasi kuku-kuku hitam yang tajam melengkung.
Itu adalah Hantu Rawe, penguasa gaib aliran Batang Hari yang selama ini dianggapnya hanya mitos belaka.
Aldo terkejut. Kakinya seolah terpaku di atas papan kayu. Ia ingin menjerit, tetapi suaranya seakan tertahan di kerongkongan. Seluruh badannya mendadak lemas seketika.
Sosok itu tidak membuka mulutnya untuk berbicara seperti manusia, tetapi sebuah suara gemuruh yang berat, serak, dan penuh kemarahan tiba-tiba muncul langsung di dalam kepala Aldo.
“Beraninya kau mengusik ketenangan airku, manusia sombong! Datang tanpa salam, merusak sunyinya malam…”
“Ma-maaf, saya tidak sengaja! Saya cuma peneliti…” teriak Aldo sekuat-kuatnya, air matanya mulai menetes karena rasa takut yang luar biasa.
Makhluk gaib itu mendengus pelan, mengeluarkan uap dingin dari hidungnya yang pesek. Ia mengangkat tangan panjangnya secara perlahan dari dalam air, merayap menaiki tiang kayu.
Suara gesekan kayu yang patah akibat cengkraman tangan makhluk itu membuat Aldo semakin histeris. Bau amis semakin menusuk hidung, membuat kepalanya pusing.
“Janji manusia selalu manis saat dalam ketakutan, tapi darah dan nyawamu adalah bayaran yang paling pantas untuk kesombonganmu di tanah Tembesi ini,” geram suara gaib itu lagi .
Ketika tangan bercakar hitam itu hampir menyentuh ujung sepatu Aldo, kesadaran pemuda itu akhirnya kembali berkat berpikir caranya agar bertahan hidup. Ia mengeluarkan seluruh sisa tenaga di dalam tubuhnya yang gemetar hebat.
Aldo menjerit sekuat tenaga, melepaskan botol sampelnya hingga jatuh ke sungai, lalu melompat mundur dengan kasar. Tanpa memperdulikan keseimbangannya, ia berlari terbirit-birit menaiki titian kayu, menerobos semak-semak dan ranting berduri yang melukai kulitnya, tanpa berani menoleh sedikitpun ke belakang.
Ia terus berlari dalam gelap hingga kakinya menginjak jalanan tanah desa. Dengan napas yang memburu dan dada yang naik turun dengan cepat, ia mendobrak pintu warung Pak Anto.
Aldo berlari sampai terjatuh di lantai warung. Wajahnya pucat bagai mayat hidup, sementara keringat dingin membasahi seluruh pakaiannya.
Pak Anto yang terkejut melihat kedatangan Aldo langsung berlari membawakan segelas air hangat.
“Astaga, Nak Aldo! Kenapa muka kamu pucat sekali? Apa yang terjadi di sungai?”
Aldo meneguk air hangat. Air matanya tumpah membasahi pipi. Ia menatap Pak Anto dengan pandangan kosong penuh ketakutan .
“Hantu… Hantu Rawe itu nyata, Pak…” bisik Aldo menyadari bahwa ada batas-batas alam yang tidak boleh dilanggar oleh akal manusia.
***
Keesokan paginya, matahari terbit dengan cerah. Aldo terbangun di dalam warung Pak Anto, ia tidak ingat kejadian yang menimpa dirinya. Pak Anto datang membawa secangkir kopi hangat, tersenyum penuh arti saat melihat Aldo yang termenung.
“Bagaimana Aldo? Sungai Batanghari kita ini tidak hanya mengalirkan air, tetapi juga pesan dari masalalu,” ucap Pak Anto dengan bijak.
Aldo menarik napas dalam-dalam. Misterius kini bukan lagi sekedar dongeng atau mitos belaka. Itu adalah pengingat abadi untuknya bahwa alam harus selalu dijaga, dihormati, dan dirawat hingga generasi-generasi selanjutnya.
Tentang Penulis: Miftahul jannah yang kerap dipanggil Miftah, lahir di Desa Kehidupan Baru 27 juli 2009. Ia merupakan anak tunggal, yang gemar membaca novel dan menggambar. Ia ingin mencoba mengembangkan minat dan bakat dalam dunia kesusastraan dan menjadi penulis yang baik. Saat ini Miftah duduk dibangku SMA kls 12 Ff8 di SMAN 6 Batanghari.
MISTERI LUBUK SEPERANTU
Di desa kecil bernama Desa Pasar Terusan, terdapat suatu misteri tentang tempat yang bernama Lubuk Seperantu. Daerah Lubuk Seperantu ini merupakan lokasi persawahan para masyarakat Desa Pasar Terusan. Namun, ada misteri yang mengatakan jika seseorang menginap di desa itu, ia akan mendengar suara-suara mistis. Menurut warga desa tersebut, jika sudah memasuki waktu magrib, kita harus segera pulang ke rumah, dan jika mendengar suara memanggil kita, jangan coba-coba mencarinya atau kamu akan menghilang dan tidak bisa ditemukan.
Hari itu, seorang anak bernama Azka sedang liburan ke rumah nyainya di Desa Pasar Terusan. Nyai Azka memiliki sawah di daerah Lubuk Seperantu dan kebetulan libur sekolah Azka kali ini bertepatan dengan waktu menanam padi di sawah.
Minggu pagi, Azka pergi ke sawah bersama Nyai dan Datuk untuk menanam padi. Tidak terasa waktu sudah menjelang sore. Nyai dan Datuk mengajak Azka untuk pulang. Akan tetapi, Azka belum mau pulang karena suasana sore hari di daerah persawahan sangatlah indah. Melihat sunset dengan hamparan padi yang menghijau sangatlah jarang Azka lihat di perkotaan.
“Datuk dan Nyai pulang dulu saja, Azka masih mau melihat sunset sebentar lagi,” ucap Azka saat neneknya mengajak pulang.
“Ya sudah, tapi jangan terlalu sore, ya. Dan juga, kalo ada yang manggil kamu, kalo gak ada orangnya jangan dicari,” kata Nyai.
“Oke, Nyai. Azka sebentar aja kok ini,” jawab Azka tanpa melihat nyainya yang mulai meninggalkan sawah.
Setelah itu, Datuk dan Nyai pergi meninggalkan Azka di pondok sawah mereka dan pulang ke rumah. Setelah beberapa saat duduk di pondok sawah melihat matahari yang mulai meninggalkan singgasananya dan menyisakan rona merah di ufuk barat, Azka mulai beranjak turun dari pondok. Saat baru beberapa langkah Azka pergi berjalan, dia mendengar suara datuknya memanggil, tapi tidak melihat wujud sang Datuk.
“Azka…” suara itu kembali terdengar lagi.
Azka menolehkan kepalanya mencoba mencari sang Datuk, tapi tetap saja tidak terlihat wujud sang Datuk.
Karena mengingat pesan Nyai, Azka yang merinding karena namanya dipanggil pun berlari kencang meninggalkan area persawahan tersebut dengan jantung yang berdegup kencang.
***
Saat sampai di rumah nyainya, suara azan terdengar. Melihat cucunya penuh dengan keringat, Nyai pun bertanya.
“Azka habis berlari, ya? Sampai keringatan seperti itu?”
“Iya, Nyai. Azka mendengar seseorang memanggil Azka, tapi orangnya gak ada, Nyai,” ujar Azka merinding.
“Baguslah kamu gak mencarinya, Cu,” ucap nyainya.
“Sebenarnya kenapa kita gak boleh mencarinya, Nyai? Kalo ada yang manggil nama kita tapi gak kelihatan orangnya?” Azka melihat nyai dengan penasaran.
“Dulu, waktu Nyai kecil, ada seorang anak yang hilang di daerah persawahan itu. Semua orang di desa sibuk mencarinya ke seluruh penjuru desa tapi tidak ditemukan,” Nyai menghela napas.
“Berbagai cara orang desa lakukan. Dimulai dari pencarian menyeluruh oleh warga desa. Kemudian, polisi dan tim SAR ikut dilibatkan, tapi tidak juga ditemukan. Akhirnya, warga memilih memakai sesajen yang ditaruh di bawah pohon besar Lubuk Seperantu untuk ditukar dengan anak itu. Keesokan harinya, anak itu ditemukan terbaring di bawah pohon tempat sesajen tersebut,” cerita Nyai panjang.
“Terus si anak gimana, Nyai?” Azka penasaran.
“Diobati sama dukun sakti itu. Ketika ditanya oleh dukun sakti itu, bagaimana dia bisa berakhir di sana. Dia bilang dia mendengar suara ibunya memanggil, tapi ibunya tidak ada di sana. Jadi dia cari sampai ke dalam hutan yang berada di ujung persawahan itu. Kemudian, pandangannya gelap dan dia tidak ingat apa-apa lagi,” lanjut Nyai.
“Jadi, itu sebabnya daerah persawahan di situ dinamai Lubuk Seperantu, ya, Nyai? Artinya lubuk yang ada hantunya?” tanya Azka.
“Iya. Hari sudah malam, Azka mandi sana. Terus salat magrib,” ucap nyai Azka mengakhiri obrolan mereka magrib itu.
TAMAT
Tentang Penulis: Azwajum Muthoharo adalah murid SMAN6 Batanghari yang duduk di kelas 11 F6
LUKA ASIH
Ardila Dwiva
Asih, gadis SMA berpenampilan lugu dengan kacamata yang menghiasi mata indahnya, rambutnya sedikit lepek akibat terpapar sinar matahari, wajahnya lesu, dan matanya sayu karena lelah.
“Kapan semua ini berakhir?”
Asih bangun dengan terengah-engah, jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Asih sontak membulatkan mata ketika mendapati dirinya sudah terlambat untuk datang ke sekolah. Ia turun dari ranjang dengan malas, tak ada kata semangat dalam dirinya. Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana cara ia melewati hari ini.
Asih mengumpat kesal ketika sampai di depan gerbang sekolah SMAN 7 KERINCI. Pintu gerbang telah tertutup rapat. Alhasil ia harus memanjat pagar di belakang sekolah. Beruntungnya guru yang mengajar di kelas Asih berhalangan hadir, jadi kali ini ia lolos dari amukan dan hukuman. Namun, ia tidak lolos dari para perundung yang sering melakukan tindak kekerasan terhadapnya.
“Guyss, Si Culun telah tiba. Mari kita sambut dengan meriah!” teriak salah satu teman sekelas Asih.
Mendengar hal itu, perhatian mereka teralihkan. Kelas menjadi riuh dipenuhi sorakan, makian, serta tepuk tangan seolah menghina. Asih yang masih berdiri di ambang pintu kelas menundukkan pandangan, enggan menatap mereka. Langkahnya terasa berat untuk memasuki kelas itu, tubuh gemetar dan keringat dingin bercucuran dari pelipisnya.
Asih melangkahkan kaki memasuki kelas dengan pandangan yang terus menunduk. Asih terpekik saat seseorang dengan sengaja menghadang kakinya yang membuatnya terduduk di lantai yang dingin dan kotor.
“Kasian banget hidup kamu,” hardik Ival, teman sekelasnya Asih.
Asih bangkit lalu pergi tanpa menghiraukan ejekan bajingan itu. Asih mendudukkan dirinya di kursi dan menaruh tas di atas meja lalu menjatuhkan kepala di sana.
Sari, teman sekelas Asih, melangkahkan kakinya ke arah tempat duduk Asih. Dengan lancangnya, ia lancangnya menoyor kepala Asih. Asih mengangkat pandangan ke arah mereka dengan alis terangkat sebelah seolah bertanya ada apa.
BYURRR!
Sari dengan sengaja menumpahkan sebotol susu ke arah Asih diiringi dengan suara tawa meremehkan dari teman-temannya.
BRAK!
Asih menggebrak meja lalu berdiri. Kedua tangannya mengepal, wajah memerah menahan amarah, rahangnya mengeras, tatapan yang tadinya teduh berubah nyalang, dan air mata mulai mengalir deras.
“Mau kalian apa sih?” ujar Asih dengan suara bergetar.
Ia sudah tak tahan lagi atas perlakuan teman-temannya. Asih berteriak nyalang dengan amarah yang memuncak, meluapkan seluruh kekesalannya selama ini. Membuat yang lainnya bungkam. Beberapa dari mereka menatapnya aneh. Apakah ini sosok yang mereka kenal?
“Kita mau kamu pergi dari sini selamanya,” sarkas Sari dengan tangan dilipat di dada.
Asih berlari keluar kelas, air mata terus meluruh dari balik pelupuk matanya. Ada rasa sakit yang tak bisa dirinya ungkapkan.
Kini Asih sedang berada di halaman belakang sekolah. Ia duduk termenung dengan pohon sebagai tempat sandarannya. Tatapannya kosong. Pikirannya penuh dengan kalimat cacian dan makian yang pernah orang-orang lontarkan kepadanya. Langit abu-abu yang menggantung seolah mendukung perasaannya saat ini.
“Dunia sudah tidak memihak padaku lagi,” gumam Asih terisak pelan.
Asih pulang dengan langkah gontai menyusuri jalanan yang padat akan kendaraan yang berlalu lalang. Tubuhnya basah kuyup akibat menerobos hujan. Wajahnya pucat pasi, rambut berantakan, dan pikirannya pun melayang entah kemana.
Asih adalah yatim piatu sejak ia berusia lima tahun. Ia diasuh oleh neneknya yang tunanetra dan kakeknya. Mereka tinggal di sebuah gubuk kecil dengan dinding yang rapuh termakan oleh waktu. Di bawah kaki Gunung Kerinci dengan hawa yang sejuk dan pemandangan yang indah, membuat mereka betah bertahan di gubuk kecil itu. Semenjak beranjak dewasa, Asih menjadi tulang punggung bagi keluarga. Untuk mencukupi kebutuhan, ia berjualan kue keliling setiap pulang sekolah.
Asih ingin menyebrang jalan untuk mampir ke sebuah toko sembako. Ia ingin membeli beberapa bahan yang dibutuhkan untuk membuat kue. Namun, tanpa ia sadari sebuah mobil melaju dengan kecepatan penuh dari arah barat….
BRAK!
Asih tak sempat untuk menghindar. Sebuah tabrakan tak terelakkan terjadi, Asih terpental beberapa meter dari tempat dirinya berdiri. Darah bercucuran dari kepala membuatnya kehilangan kesadaran. Wajahnya pucat pasi dan bibirnya mulai membiru. Warga sekitar mulai berkerumun.
Setelah dibawa ke rumah sakit, Asih telah dinyatakan tiada. Ia kini terbujur kaku di bawah gundukan tanah dengan papan yang bertuliskan namanya, tempat yang biasanya sepi kini di penuhi oleh orang-orang mengenakkan baju hitam dan putih , suasana yang biasanya hening kini diselimuti oleh isak tangis pilu.
Asih, anak yang sering dicaci dan dihina itu kini sudah beristirahat dengan tenang. Tak ada lagi rasa sakit, hinaan, serta makian. Yang ada hanyalah tatapan hampa dan kasihan dari orang-orang sekitarnya.
TAMAT
Tentang Penulis: Ardila Dwiva adalah murid SMAN 7 Kerinci.
