KAMU AKAN MENGAKHIRINYA SEPERTI APA?
Aku sudah mencoba menulis cerita ini berkali-kali. Serius, aku bahkan tidak tahu ini sudah percobaan ke berapa. Setiap kali aku sampai di bagian tertentu, aku berhenti, menghapus, lalu mengulang dari awal. Seolah-olah jika aku menemukan cara yang tepat untuk menulisnya, semuanya akan terasa lebih masuk akal. Aku bahkan mulai curiga bahwa mungkin masalahnya bukan pada kata-kata, melainkan pada kenyataan itu sendiri
Masalahnya sebenarnya sederhana. Cerita ini tentang dua hal yang terjadi di hari yang sama yakni ulang tahun kakakku dan kematian ibu sahabatku. Kalimat itu terlihat biasa saja saat ditulis seperti ini rapi, netral, tidak memihak. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.
Sahabatku bukan orang asing di rumah ini. Ibunya pernah beberapa kali datang membawa makanan, duduk bersama ibuku, tertawa seperti mereka sudah saling kenal sejak lama. Aku pernah merayakan ulang tahunnya di rumahnya, meniup lilin kecil dengan rasa kue yang terlalu manis. Dan sebaliknya, ia juga pernah datang ke rumahku, membawa kue sederhana yang kami potong bersama seperti anak dan ibu kandung.
Kakakku dan anggota keluargaku yang lain juga mengenalnya. Tidak dekat, tapi cukup untuk menyapanya dengan nama, cukup untuk bertanya, “Kabar?” kalau mereka bertemu.
Jadi mungkin ini bukan dua dunia yang benar-benar terpisah.
Aku tidak tahu harus memulai cerita ini dari mana. Kalau aku mulai dari pagi, kamu akan mengenal rumahku sebagai tempat yang hangat. Ada suara piring beradu di dapur, aroma kue yang baru keluar dari oven, dan ibuku yang beberapa kali memanggil namaku karena aku belum juga membantu.
“Cepat sini, jangan main HP terus,” katanya waktu itu. Aku ingat aku menjawab, “Iya, sebentar,” tanpa benar-benar beranjak.
Padahal dari tempatku duduk, aku bisa melihat punggungnya yang bolak-balik antara meja dan kompor. Tangannya tidak pernah benar-benar berhenti kadang mengaduk sesuatu, kadang memindahkan loyang, kadang sekadar menyeka meja yang sebenarnya sudah bersih. Sesekali ia menoleh ke arahku, memastikan aku masih di sana, masih bisa dipanggil.
Aku akhirnya berdiri juga, meski dengan langkah yang setengah hati. Di dapur, terasa udara uap panas. Aku mengambil beberapa piring dari rak, menaruhnya di meja seperti yang biasa kulakukan setiap ada sesuatu yang akan dirayakan.
“Kue yang ini nanti dipotongnya siang aja,” katanya tanpa melihatku, “biar semuanya kumpul dulu.”
Aku hanya mengangguk, meski saat itu tidak benar-benar memikirkan “semuanya” itu siapa saja. Yang kupikirkan hanya bagaimana cepat selesai, lalu kembali ke tempat dudukku.
Di meja, beberapa kotak sudah tersusun rapi. Ada gelas plastik berisi minuman, ada lilin yang masih terbungkus, ada pisau kecil yang biasanya dipakai hanya untuk acara seperti ini. Semua terlihat seperti rutinitas yang sudah sering terjadi.
Ibuku berhenti sejenak, lalu menyodorkan satu piring kepadaku. “Coba ini,” katanya.
Aku mencicipinya tanpa banyak komentar aku berkata. “Sangat enak, bu,” dan ia tersenyum kecil, seolah itu sudah cukup.
Kakakku duduk di ruang tamu, memainkan sesuatu di ponselnya. Sesekali dia tersenyum sendiri. Hari itu seharusnya miliknya. Dan kalau aku jujur, pagi itu memang terasa ringan. Tidak ada tanda apa-apa, tidak ada firasat buruk seperti yang sering diceritakan orang-orang dalam cerita. Semua berjalan seperti biasa. Mungkin itu yang membuatnya terasa lebih aneh sekarang.
Aku sempat berhenti di bagian ini. Aku berpikir, mungkin aku harus memperpanjang bagian bahagia ini untuk menambahkan lebih banyak detail, membuat pembaca merasa nyaman sebelum semuanya berubah. Tapi aku takut itu terasa seperti manipulasi, seolah-olah aku sengaja mempermainkan perasaanmu.
Atau… kamu justru ingin bagian bahagia ini diperpanjang?
Aku tidak tahu. Aku bertanya seperti ini karena, jujur saja, aku sendiri tidak tahu harus memilih yang mana.
Dan Ini bagian yang benar-benar terjadi kalau aku memulainya dari siang hari.
Menjelang siang, kerabat mulai berdatangan ke rumah. Suara obrolan pelan-pelan memenuhi ruang tamu. Aku disuruh ibu membantu memindahkan meja. Mengangkat salah satu sisi meja, sementara yang lain dipegang oleh pamanku. Kami tidak banyak bicara. Hanya memastikan meja itu tidak terbentur sesuatu. Dan di tengah itu, ponselku bergetar.
Sekali.
Aku mengabaikannya.
Dua kali.
Aku masih mengabaikannya.
Tiga kali.
Aku mulai merasa ada yang aneh.
Tanganku sedikit goyah. Sudut meja yang kupegang nyaris membentur kursi.
“Pelan-pelan,” kata pamanku
“Iya,” jawabku singkat, tapi mataku sudah turun ke arah ponsel.
Aku menurunkan sisi meja yang kupegang, sedikit terlalu cepat. Aku membuka pesan itu.
Dan di sini, lagi-lagi aku berhenti.
Karena bagian ini selalu terasa berbeda setiap kali aku mengingatnya.
Pesannya singkat.
Tolong doain ya. Ibuku…
Aku tidak langsung mengerti. Aku bahkan sempat membaca ulang kalimat itu dua kali, tiga kali, seolah-olah maknanya akan berubah. Beberapa detik kemudian, pesan berikutnya masuk.
Ibuku meninggal.
Kalimat itu tidak panjang, tidak dramatis, tidak disertai penjelasan apa pun. Tapi justru karena itu, rasanya seperti sesuatu yang jatuh tepat di tengah kepalaku tanpa bisa dihindari. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Dan ini bagian yang paling sulit untuk kutulis. Karena kalau aku jujur, tidak ada reaksi besar saat itu. Tidak ada tangisan, tidak ada teriakan, tidak ada adegan dramatis seperti di film. Yang ada hanya aku berdiri diam, memegang ponsel, dengan suara tawa yang masih terdengar di belakangku. Dua dunia berjalan bersamaan, dan aku ada di tengahnya.
Aku pernah mencoba menulis versi di mana aku langsung pergi ke rumah sahabatku. Aku membayangkan diriku berlari, atau setidaknya berpamitan dengan wajah serius, lalu menghilang dari suasana ulang tahun itu. Versi itu terasa lebih baik, lebih pantas. Tapi itu bukan yang terjadi.
Yang terjadi adalah aku menyimpan ponselku, melanjutkan mengangkat meja itu dan kembali ke ruang tamu, lalu duduk di sebelah kakakku. Beberapa jam kemudian, aku ikut menyanyikan lagu ulang tahun. “Panjang umurnya, panjang umurnya. Panjang umurnya serta mulia. Serta mulia, serta mulia…” Suara kami bercampur. Tidak ada yang sumbang, tidak ada yang berhenti di tengah lagu. Aku bahkan sempat tertawa ketika lilinnya hampir jatuh karena tertiup angin dari kipas.
Tapi aku seperti pernah berdiri di sini sebelumnya. Di ruang yang sama. Aku seperti pernah melihat seorang ibu sahabatku duduk di ruang tamu ini dengan senyum yang samar, tangan yang sibuk membagi sesuatu.
Dan untuk sesaat, aku tidak benar-benar tahu apakah aku sedang mengingat, atau hanya mengulang sesuatu yang pernah terjadi di tempat yang sama.
Kalau kamu membaca sampai sini dan merasa aneh, aku mengerti. Aku juga merasa begitu. Itu sebabnya aku terus mencoba menulis ulang cerita ini. Aku mencoba mencari momen di mana aku terlihat lebih peduli, lebih manusiawi, lebih benar. Tapi setiap kali aku mengubahnya, cerita ini terasa seperti milik orang lain, bukan milikku.
Setelah acara selesai, aku akhirnya membalas pesan temanku. Aku tidak tahu harus menulis apa.
“Yang sabar ya” terasa terlalu klise.
“Innalillahi…” terasa terlalu jauh.
“Kalau butuh apa-apa bilang ya” terasa kosong.
Aku mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi.
Kamu pernah seperti itu juga?
Mengetik sesuatu yang sebenarnya ingin kamu sampaikan, tapi terasa salah begitu dilihat lagi?
Akhirnya aku hanya mengirim satu kalimat
Aku turut berduka.
Aku menatap kalimat itu cukup lama sebelum mengirimnya, seolah-olah kalimat itu bisa menjelaskan semua yang tidak bisa aku lakukan hari itu. Seolah-olah itu cukup. Padahal aku tahu tidak.
Aku tidak datang ke rumahnya hari itu. Aku datang keesokan harinya.
“Dari mana, Nak?” tanya seorang ibu ketika aku melewati ruang depan.
Aku meraih tangannya ke keningku.. “Dari rumah, turut berdukacita ya tan.”
Dia mengangguk pelan, lalu kembali duduk.
Rumahnya tidak benar-benar sunyi.
Ada suara orang berbicara pelan di ruang depan dan seseorang mengucapkan salam, yang lain menjawab dengan suara yang lebih pelan, sesekali terdengar batuk kecil atau langkah kaki yang lewat.
Tapi suasananya jelas tidak seperti rumahku kemarin. Tidak ada kue, tidak ada lilin, tidak ada lagu. Semua terasa tertahan, karna setiap orang sengaja menurunkan volume dirinya. Dia duduk di sudut ruangan. Matanya bengkak, tapi tidak menangis saat aku datang.
Kami tidak banyak bicara. Aku duduk di sampingnya, dan untuk beberapa saat, aku hanya berharap dia tidak menanyakan di mana aku kemarin. Dia tidak bertanya. Dan justru itu yang membuatku semakin tidak nyaman. Aku ingin dia marah, atau setidaknya bertanya, supaya aku punya kesempatan untuk menjelaskan. Tapi dia hanya diam, dan aku juga diam.
Aku sempat ingin menuliskan bagian ini dengan lebih dramatis mungkin dengan menambahkan dialog, membuatnya berkata sesuatu yang akan membuat cerita ini terasa lebih hidup. Tapi kenyataannya, kesedihan sering kali justru datang tanpa kata-kata. Dan mungkin itu yang membuatnya sulit ditulis.
Sekarang aku kembali ke bagian akhir, atau apa pun yang bisa disebut sebagai akhir. Aku sudah mencoba berbagai cara untuk menutup cerita ini, membuatnya reflektif, membuatnya puitis, bahkan menulis kalimat yang terdengar seperti kesimpulan. Tapi semuanya terasa palsu, karena hari itu sendiri tidak pernah benar-benar selesai.
Setiap kali aku mengingatnya, dua hal itu selalu muncul bersamaan antara lilin yang menyala dan pesan singkat yang memadamkan sesuatu di dalam diriku. Aku tidak bisa memilih salah satunya. Aku tidak bisa menulis yang satu tanpa mengingat yang lain.
Jadi mungkin ini bukan cerita tentang ulang tahun, dan bukan juga tentang kematian. Mungkin ini hanya tentang bagaimana dua hal yang sangat berbeda bisa terjadi di waktu yang sama dan bagaimana aku tidak pernah benar-benar tahu harus menjadi siapa di antara keduanya.
Kalau kamu berharap cerita ini berakhir dengan rapi, dengan makna yang jelas, aku minta maaf. Aku juga berharap begitu. Tapi sampai sekarang, aku masih menulisnya mengulang, menghapus, dan memulai lagi.
Dan mungkin, bahkan setelah kamu selesai membaca ini, cerita ini masih belum benar-benar selesai.
Atau aku akan kembali ke awal—
Membuka halaman kosong,
Dan memulai lagi dari kalimat pertama yang sama.

