Review Monster: Thriller Psikologis Terbaik yang Pernah Ada dalam Dunia Anime
Kalian bisa bayangkan tidak ternyata orang yang kamu selamatkan saat ini akan menjadi seorang yang akan mencelakakan banyak orang ke depannya? dan orang itu memiliki pemahaman bahwa “Hanya satu hal yang sama untuk semua, dan itu adalah kematian.” Itulah yang terjadi pada anime adaptasi manga Naoki Urasawa “Monster” yang rilis 2004 oleh studio Madhouse.
Kisah ini mengikuti kehidupan seorang dokter bedah saraf jenius asal Jepang, Kenzo Tenma, yang bekerja di Jerman. Ia dikenal sebagai dokter berbakat dengan masa depan karier yang sangat menjanjikan. Namun, hidupnya berubah drastis ketika ia dihadapkan pada pilihan moral yang sulit: menyelamatkan seorang pejabat penting atau seorang anak laki-laki yang terluka parah akibat insiden penembakan misterius.
Tenma memilih menyelamatkan anak laki-laki tersebut, yang kemudian diketahui bernama Johan Liebert, sementara saudara kembar perempuannya, Nina Fortner (yang juga menjadi korban dalam insiden itu), berhasil selamat. Keputusan ini membuat Tenma kehilangan posisinya di rumah sakit dan meruntuhkan karier yang selama ini ia bangun.
Beberapa waktu kemudian, Johan dan saudara kembarnya menghilang secara misterius dari rumah sakit. Sembilan tahun berlalu, Tenma yang kini menjalani hidup sederhana kembali terseret ke dalam serangkaian pembunuhan berantai yang mengerikan. Ia pun menyadari bahwa Johan, anak yang pernah ia selamatkan, telah tumbuh menjadi seorang sosiopat jenius dengan kecerdasan luar biasa dan kecenderungan membunuh tanpa empati.
Situasi semakin memburuk ketika Tenma justru menjadi tersangka utama dalam pembunuhan direktur rumah sakit dan beberapa kasus lain, memaksanya hidup sebagai buronan. Diliputi rasa bersalah, Tenma bertekad untuk menemukan Johan dan menghentikannya, bahkan jika itu berarti ia harus mengakhiri hidup orang yang dulu pernah ia selamatkan.
Dalam perjalanannya, Tenma mengungkap berbagai misteri kelam tentang masa lalu Johan, termasuk eksperimen psikologis, manipulasi identitas, dan trauma masa kecil yang membentuknya menjadi “monster”. Cerita ini dipenuhi dengan dilema moral, pertanyaan tentang hakikat kejahatan, serta garis tipis antara kebaikan dan keburukan dalam diri manusia.
Dua karakter dalam Monster ini merepresentasikan dua kutub ekstrem dalam memandang nilai kehidupan. Kenzo Tenma berdiri sebagai sosok yang memegang teguh prinsip moral bahwa setiap nyawa manusia setara dan tak dapat diukur oleh status atau kekuasaan. Dalam momen krusial yang mengorbankan kariernya, ia memilih menyelamatkan seorang anak (Johan Liebert), semata karena melihat kehidupan yang terancam di hadapannya.
Sebaliknya, Johan tumbuh menjadi representasi nihilisme radikal: ia memandang hidup sebagai sesuatu yang hampa dan kematian sebagai satu-satunya titik kesetaraan manusia. Relasi keduanya bukan sekadar protagonis dan antagonis, melainkan cermin filosofis—Tenma berusaha menyelamatkan makna kehidupan, sementara Johan secara sistematis meruntuhkannya. Konflik mereka menjadi pertarungan antara harapan dan kekosongan, antara empati dan kehampaan eksistensial.
Monster bukan sekadar kisah misteri atau detektif biasa, melainkan eksplorasi mendalam tentang moralitas dan nilai kehidupan manusia. Melalui pilihan Dr. Tenma yang menyelamatkan Johan, cerita ini menguji keyakinan bahwa setiap nyawa berharga, bahkan ketika keputusan itu melahirkan “monster”. Anime ini juga mempertanyakan apakah kejahatan adalah bawaan lahir atau hasil bentukan lingkungan, tercermin dari latar Kinderheim 511 sebagai eksperimen psikologis yang menghancurkan empati. Di sisi lain, anime ini mengangkat bentuk pemikiran nihilisme ekstrem—pandangan bahwa hidup tak bermakna—menjadikan konflik ini bukan hanya fisik, tetapi juga pertarungan ide tentang makna eksistensi manusia.
Monster menampilkan realisme yang jarang ditemukan dalam anime sejenis. Latar Jerman pasca-Perang Dingin digambarkan dengan akurat, mulai dari kota seperti Düsseldorf, Munich, hingga Prague, lengkap dengan detail arsitektur yang mendekati aslinya. Kenzo Tenma sebagai ahli bedah saraf juga ditampilkan dengan pendekatan medis yang rasional, tanpa dramatisasi berlebihan. Sementara itu, Johan Liebert tidak mengandalkan kekuatan supranatural, melainkan manipulasi psikologis—memanfaatkan trauma, sugesti, dan celah mental yang memang dipelajari dalam kriminologi.
Meski begitu, ada elemen yang terasa lebih fiktif. Johan digambarkan hampir “maha tahu”, mampu memprediksi tindakan orang lain secara presisi ekstrem. Selain itu, pelarian Tenma sebagai buronan yang terus lolos dari kejaran aparat juga terasa lebih longgar dibanding realitas pengawasan ketat di Eropa.
Dari segi alur, cerita bergerak lambat namun metodis. Ketegangan dibangun melalui potongan-potongan kecil yang saling terhubung, membawa penonton mengikuti Tenma layaknya detektif yang merangkai masa lalu Johan. Fokus tidak hanya pada tokoh utama; karakter seperti Heinrich Lunge dan Wolfgang Grimmer diberi kedalaman emosional yang kuat. Johan sendiri justru jarang muncul, tetapi kehadirannya terasa melalui dampak psikologis yang ia tinggalkan—menciptakan teror yang lebih subtil dan efektif.
Dari sisi produksi, Madhouse mempertahankan gaya visual realistis tanpa estetika anime berlebihan. Detail wajah, kerutan, dan ekspresi mikro terasa manusiawi, didukung sinematografi bergaya thriller. Musik karya Kuniaki Haishima hadir minimalis dan atmosferik, sering memanfaatkan keheningan untuk memperkuat tensi. Opening instrumental yang dingin (Tanpa Lirik satupun) dan ending oleh David Sylvian memberi penutup melankolis yang kontras.
Pengisi suara juga tampil subtil: Nozomu Sasaki menghadirkan Johan dengan nada tenang yang mengerikan, sementara Hidenobu Kiuchi menampilkan transformasi Tenma secara emosional. Semua elemen ini menyatu, menjadikan Monster bukan sekadar tontonan, tetapi pengalaman psikologis yang intens.
Meski begitu, Monster jelas bukan tontonan untuk semua orang. Bagi penonton yang terbiasa dengan ritme cepat khas shonen, paruh awal hingga pertengahan bisa terasa lambat karena konflik lebih banyak bergerak di ranah psikologis daripada aksi fisik. Dengan total 74 episode dan adaptasi yang sangat setia pada manga karya Naoki Urasawa, hampir tidak ada bagian yang dipangkas—membuat komitmen menontonnya terasa cukup berat bagi sebagian orang.
Namun, justru dalam kelambatan itu, Monster menawarkan kedalaman. Setiap detail, dialog, dan keputusan karakter menyimpan makna yang menuntut perhatian penuh. Ini bukan sekadar cerita untuk ditonton, melainkan untuk dipahami. Meski tidak mudah diakses, anime seperti ini terasa semakin langka—sebuah thriller psikologis yang membangun teror secara dingin, perlahan, dan menghantui.
Pada akhirnya lagi, Monster mungkin bukan untuk semua, tetapi bagi mereka yang mencari pengalaman berbeda dari anime konvensional, ini adalah tontonan yang sangat layak.
Rating: 9/10
Dan pertanyaannya:
“apakah benar satu-satunya hal yang membuat semua manusia setara adalah kematian?”

