SAAT AIR MENJADI SAKSI KEHIDUPAN DALAM “MANTAGI: AIR DAN MANUSIA”
Khairunnisa Putri adalah siswi kelas XII di SMA Negeri 2 Kota Jambi yang aktif mengikuti olimpiade ekonomi dan gemar melakukan travelling serta crafting. Melalui berbagai pengalaman sekolah dan hobinya, ia terus belajar untuk mengenal diri sendiri serta melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Ke depannya, ia berharap dapat terus mengembangkan potensi, meraih cita-cita, dan memberikan manfaat bagi sesama.
Film Mantagi, Air dan Manusia merupakan film fiksi panjang yang disutradarai oleh Taufik Hidayat Rusti dan diproduseri oleh Mutia Lestari Zurhaz. Film ini berdurasi ±90 menit dan berbentuk antologi yang terdiri dari 4 kisah dengan mengangkat tema air melalui pendekatan misteri, spiritual, dan lingkungan. Film ini saya tonton pada 3 Agustus 2026 sekitar pukul 13.30 WIB di Aula Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Film yang diproduksi oleh Muaro Jambi Documentary dan Gena Film dengan dukungan Dana Indonesiana, dari Kementerian Kebudayaan dan LPDP. Film ini mengambil latar di berbagai wilayah Provinsi Jambi, seperti Danau Gunung Tujuh dan Lubuk Nagodang di Kerinci, Desa Air Batu di Merangin, Kawasan Kompleks Candi Muaro Jambi, serta Muara Sabak Hilir di Tanjung Jabung Timur. Keberagaman latar dalam film ini juga membantu memperlihatkan kekayaan alam dan budaya yang dimiliki Jambi.
Film Mantagi: Air dan Manusia mengangkat hubungan antara manusia, air, alam, budaya, dan kehidupan masyarakat Jambi. Sungai Batanghari digunakan sebagai salah satu penghubung antara kisah sehingga cerita memiliki keterkaitan yang jelas. Penggunaan air sebagai unsur utama menunjukkan bahwa air memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat, tidak hanya sebagai sumber kebutuhan, tetapi juga berkaitan dengan budaya dan kepercayaan. Selain itu, perpaduan unsur misteri dan spiritual memperkuat suasana cerita serta membantu menyampaikan pesan tentang hubungan manusia dengan alam. Dari hal tersebut, dapat dilihat bahwa film ini tidak hanya berfokus pada cerita, tetapi juga menyampaikan makna tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan.
Dari segi penokohan, karakter tokoh diperlihatkan melalui dialog, ekspresi, dan gerak tubuh. Para pemain cukup mampu menunjukkan berbagai emosi sesuai dengan keadaan dalam cerita, seperti rasa takut, bingung, sedih, dan tegang. Ekspresi dan cara tokoh menghadapi masalah juga membantu penonton memahami keadaan yang sedang terjadi. Menurut saya, penokohan dalam film cukup mendukung cerita karena setiap tokoh memiliki peran dalam menunjukkan hubungan manusia dengan lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Dari segi latar, film menggunakan berbagai lingkungan nyata yang ada di Jambi, seperti sungai, desa, kawasan alam, dan wilayah pesisir. Penggunaan tempat-tempat tersebut membuat suasana film terasa lebih alami dan dekat dengan kehidupan masyarakat Jambi. Selain itu, pakaian, kebiasaan masyarakat, serta tata suara dan musik juga membantu memperkuat suasana setiap adegan. Latar alam yang ditampilkan menjadi salah satu daya tarik karena tidak hanya berfungsi sebagai tempat kejadian, tetapi juga memperlihatkan keindahan dan identitas daerah Jambi.
Dari segi alur dan cerita, film menggunakan beberapa kisah yang memiliki tokoh dan permasalahan berbeda. Walaupun ceritanya berpindah-pindah tempat, setiap kisah tetap memiliki hubungan dengan air, alam, dan tindakan manusia. Konflik yang muncul tidak hanya berkaitan dengan kehidupan masyarakat, tetapi juga dengan kepercayaan dan kejadian yang bersifat misterius. Menurut saya, bentuk antologi membuat film menjadi lebih beragam, tetapi beberapa bagian juga cukup sulit dipahami karena menggunakan simbol dan tidak semua kejadian dijelaskan secara langsung.
Secara budaya, film ini cukup kuat karena memperlihatkan kehidupan dan kepercayaan masyarakat Jambi. Unsur adat, kebiasaan, lingkungan, serta hubungan masyarakat dengan air membuat film terasa memiliki identitas daerah yang jelas. Air dan Sungai Batanghari menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat, bukan hanya sebagai sumber kebutuhan, tetapi juga sebagai bagian dari cerita dan budaya. Hal ini membuat film dapat menjadi media untuk mengenalkan budaya serta kehidupan masyarakat Jambi.
Dari segi pesan, film menunjukkan bahwa manusia memiliki hubungan yang erat dengan alam. Ketika manusia tidak menjaga lingkungan, terutama sumber air, dampaknya dapat kembali dirasakan dalam kehidupan manusia sendiri. Menurut saya, pesan tersebut cukup penting karena film tidak hanya menyampaikan bahwa alam harus dijaga, tetapi juga mengajak penonton untuk lebih sadar terhadap perilaku mereka terhadap lingkungan. Jadi, air dalam film dapat dipahami sebagai simbol kehidupan sekaligus pengingat akan tanggung jawab manusia.
Kelebihan film ini terlihat dari penggunaan latar alam Jambi yang kuat, budaya lokal yang ditampilkan, serta perpaduan unsur misteri, spiritual, dan lingkungan. Film ini juga mampu membangun suasana melalui visual, musik, dan tata suara yang mendukung jalannya cerita. Kekurangannya, beberapa bagian cerita menggunakan simbol dan unsur misteri yang cukup sulit dipahami secara langsung. Selain itu, perpindahan dari satu kisah ke kisah lainnya membuat penonton perlu lebih memperhatikan hubungan antarkisah.
Secara keseluruhan, Film Mantagi: Air dan Manusia merupakan film yang menarik karena tidak hanya menceritakan kehidupan masyarakat, tetapi juga memadukan budaya, alam, misteri, dan kepedulian terhadap lingkungan. Film ini menunjukkan bahwa air memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Jambi, baik sebagai sumber kehidupan maupun bagian dari budaya. Menurut saya, film ini layak diapresiasi karena tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga mengajak penonton untuk lebih menghargai budaya lokal dan menjaga lingkungan sebagai bagian penting dari kehidupan.

