Puisi-Puisi Ulfahranda
Menggenapkan Sepi
Kopi di atas cangkir telah lama menyerah pada dinginnya malam,
saat kuceritakan sayapku yang lebur di puncak menara kaca.
Aku terlalu sibuk memintal angin menjadi anak tangga,
hingga tak sadar telah membakar sauh yang selama ini menahanku di dermaga.
Di seberang meja, matamu menjelma lorong panjang tanpa nyala,
datang sekadar menggenapkan tiga purnama yang mati membisu.
Kau beritakan kekalahanku pada semesta yang memang curang,
menyadarkanku bahwa aku telah menukar sebuah rumah demi memeluk bayang-bayang.
Lalu sebuah biduk kayu berlabuh pasrah di atas mahoni,
membawa setitik kunci dari pintu cokelat yang takkan pernah kusinggahi.
Kau tepis rengguhanku, membiarkan jemariku memagut udara hampa,
sebelum bangkit merapikan pamit, melangkah pergi memutus muara.
Lonceng kuningan berdenting, menelan punggungmu di telan kelam hujan,
menyisakan aku yang rebah merengkuh serpihan logam perlahan.
Kupeluk kayu kecil ini seolah ia adalah satu-satunya tumpuan dunia,
menangis tanpa suara di garis akhir, meratapi mahkota dan pelabuhan yang sirna.
Deli Serdang, 27 Juli 2026
Yang Berkelap-Kelip Itu Bintang
Di kanvas kelam, kau mengagumi para pengembara,
Planet-planet liar yang memeluk sepi dan fana,
Mereka melintasi ekliptika, meretas jarak tanpa jeda,
Singgah sejenak di dada langit, lalu gaib tanpa sapa.
Namun mataku enggan melacak jejak sang pejalan,
Sebab pergerakan hanya cerita tentang kehilangan.
Aku lebih mencintai pendar yang tak pernah ingkar,
Sebab yang berkelap-kelip itu bintang,
Titik abadi yang tak kenal cara berpaling atau menghilang.
Maka di balik sunyi yang kian lebam dan pekat,
Aku menirukan diamnya, mematuhi takdir yang terpikat.
Deli Serdang, 4 Agustus 2026
Ambang Batas
Kau mematung di balik tembok tinggi
Membiarkan nyala rasa padam tertelan sunyi
Aku enggan memeluk bara seorang diri
Lelah mengejar bayang yang enggan berlari
Biarlah kasta mengubur mimpi yang fana
Genggamanmu goyah dihantam badai dunia sana
Tak ada guna bertahan dalam bencana
Kurelakan cinta karam tanpa sisa warna
Deli Serdang, 15 Juni 2026
Berakhir Sendu
Langit yang kutatap lekat-lekat itu
Seakan bertanya padaku
Mengapa tak kau ungkapkan sedari dulu?
Mungkin saja rindumu akan berakhir temu
Sesaat aku tersenyum malu
Lalu kujawab dengan sendu
Bukan tak ingin atau terlalu lugu
Justru kembimbangan yang membuatku bisu
Menyadari bahwa keraguan adalah salah satu tanda waktu
Bahwa di sisinya, tak akan mungkin aku bertamu
Deli Serdang, 17 Januari 2024

