Membuka Usaha Ala Gen-Z : Jalanin Aja dulu, Bingungnya Urusan Nanti
Masita Fitri Amalia – Mahasiswa Prodi Manajemen, yang menemukan ruang nyaman di halaman-halaman sastra. Baginya sastra adalah ruang sunyi tempat pikiran mereda diantara logika, grafik, dan kurva. Disanalah ia paham bahwa kata-kata memberi ruang bagi diri untuk bernafas dan hidup tak hanya soal hitungan, melainkan juga tentang apa yang menggerakkan hati.
Masih relevan nggak sih konsep what–for–how buat Gen Z yang mau buka usaha? Atau sekarang cukup modal nekat. Pertanyaan ini terasa wajar muncul di tengah gaya hidup Gen Z yang serba cepat, dan dekat dengan budaya viral. Banyak usaha lahir bukan dari perencanaan panjang, tapi dari iseng, coba-coba, atau sekadar ikut tren. Anehnya, ada yang berhasil. Tapi tidak sedikit juga yang berhenti di tengah jalan, kehabisan tenaga sebelum benar-benar berkembang.
Gen Z sering dilekatkan dengan keberanian mengambil risiko. Mereka tidak terlalu takut gagal karena percaya kegagalan adalah bagian dari proses belajar. Buka usaha hari ini tidak harus punya kantor, struktur organisasi, atau modal besar. Cukup ide, media sosial, dan keberanian untuk mulai. Dari sini, konsep-konsep seperti what–for–how atau POAC sering dianggap terlalu teoritis dan “anak FEB banget”. Padahal, kalau ditelusuri lebih jauh, konsep-konsep ini justru dekat dengan praktik sehari-hari.
Konsep what–for–how pada dasarnya hanya tiga pertanyaan sederhana. What: apa yang mau dijalankan? For: untuk apa dan untuk siapa usaha ini ada? How: bagaimana cara menjalankannya? Banyak Gen Z sebenarnya sudah menjawab what dengan sangat cepat. Seperti mau jual kopi , makanan viral, thrift shop, atau jasa desain. Tapi masalah sering muncul ketika dua pertanyaan berikutnya tidak dipikirkan dengan cukup serius.
Tanpa for, usaha kehilangan makna dan arah. Usaha dijalankan hanya karena “lagi rame”, bukan karena ada tujuan jelas. Ketika tren berubah, semangat ikut turun. Di sinilah banyak usaha Gen Z berhenti. Bukan karena tidak kreatif, tapi karena tidak tahu harus beradaptasi ke mana. Padahal, for tidak selalu harus idealis. Cukup jujur untuk cari penghasilan tambahan, untuk bantu ekonomi keluarga, atau untuk membangun brand jangka panjang. Tujuan yang jelas membuat langkah lebih terarah.
Lalu how. Bagian ini sering dianggap bisa menyusul sambil jalan. Memang benar, tidak semua harus sempurna di awal. Tapi how yang sama sekali tidak dipikirkan akan membuat usaha berjalan tanpa sistem. Di sinilah konsep POAC sebenarnya masuk secara alami. POAC – Planning, Organizing, Actuating, Controlling. Bukan sesuatu yang jauh dari realitas Gen Z, hanya sering tidak disadari.
Planning berkaitan langsung dengan what–for–how. Saat Gen Z menjawab apa yang mau dijalankan, untuk siapa, dan bagaimana caranya, mereka sebenarnya sedang merencanakan. Masalahnya, perencanaan sering terlalu singkat dan dangkal. Tidak ada target, tidak ada gambaran jangka menengah, apalagi jangka panjang. Padahal, perencanaan tidak harus ribet. Cukup tahu mau konsisten berapa lama, mau fokus di pasar mana, dan mau berkembang ke arah apa.
Organizing sering jadi titik lemah usaha kecil Gen Z. Karena banyak usaha dijalankan sendiri atau bersama teman, pembagian tugas sering kabur. Semua dikerjakan bersama, tapi tidak jelas siapa bertanggung jawab apa. Akhirnya, ketika ada masalah, saling lempar atau saling diam. Padahal, organizing sederhana seperti pembagian peran, siapa urus produksi, siapa promosi, dan siapa keuangan. Sudah cukup membantu usaha berjalan lebih rapi.
Actuating adalah bagian yang paling dikuasai Gen Z. Mereka jago bergerak, cepat eksekusi, dan tidak terlalu banyak menunda. Konten dibuat, produk diluncurkan, promo dijalankan. Tapi tanpa planning dan organizing yang jelas, actuating sering hanya jadi aktivitas tanpa arah. Capek iya, hasil belum tentu. Di titik ini, banyak yang mulai merasa “usaha kok malah bikin burnout”.
Terakhir, controlling. Ini bagian yang paling sering diabaikan. Sedikit Gen Z yang mau benar-benar mengevaluasi usahanya secara rutin. Keuntungan tidak dicatat rapi, kerugian dianggap nasib, dan feedback konsumen hanya dibaca sekilas. Padahal, controlling tidak selalu berarti laporan keuangan yang rumit. Bisa sesederhana bertanya bulan ini untung atau rugi? Konten mana yang efektif? Produk mana yang paling diminati?
Jika disatukan, what–for–how dan POAC sebenarnya saling menguatkan. What–for–how membantu menentukan arah dan makna usaha, sementara POAC membantu memastikan usaha itu berjalan secara berkelanjutan. Modal nekat memang penting untuk memulai, tapi tanpa dua konsep ini, nekat hanya akan habis di tengah jalan.
Relevansi kedua konsep ini justru semakin kuat di era Gen Z. Di tengah persaingan ketat dan perubahan tren yang cepat, usaha tidak cukup hanya kreatif. Ia butuh arah dan sistem, meski sederhana. Konsep tidak harus kaku, tidak harus ditulis dalam proposal tebal. Bisa berupa catatan di ponsel, atau refleksi setelah usaha berjalan beberapa bulan.
Jadi, apakah Gen Z masih perlu what–for–how dan POAC? Jawabannya bukan soal perlu atau tidak, tapi soal sadar atau tidak. Banyak yang sudah menerapkan sebagian, tapi belum utuh. Usaha boleh lahir dari coba-coba, tapi agar tidak berhenti sebagai eksperimen singkat, ia perlu dipikirkan. Nekat untuk mulai, sadar untuk bertahan. Di situlah konsep bukan menjadi beban, tapi penopang langkah.

