Puisi-Puisi Amelia Deswani
Amelia Deswani lahir di Sarolangun pada 09 Desember 2006 dan saat ini sedang belajar menulis puisi. Melalui karya-karyanya, ia berharap dapat menyampaikan perasaan yang sulit diungkapkan secara langsung sekaligus memberi inspirasi bagi pembaca. Motto hidupnya, “Menulis adalah cara hati berbicara ketika kata-kata tak mampu diucapkan.” Email: ameliadeswani@gmail.com | No. Hp: 081290979729
CINTA
Cinta itu sederhana,
datang tanpa peringatan,
diam-diam menetap
di sudut hati yang tak pernah kau duga.
Bukan hanya kata “sayang,”
bukan hanya kerinduan yang berulang,
tetapi tentang hadir
bahkan ketika dunia tidak ramah.
Cinta adalah kesabaran
yang tetap ada ketika kekecewaan datang, adalah pengertian
bahkan ketika tidak semua hal perlu dijelaskan.
Terkadang seperti hujan,
turun perlahan tapi dalam,
terkadang seperti angin,
tak terlihat, tetapi terasa hangat.
Dan jika suatu hari ia hilang,
yang tersisa bukanlah hanya rasa sakit,
tetapi kenangan
yang diam-diam memperkuat jiwa.
UNTUK MASA DEPAN
Kita adalah bagian dari cerita,
bukan sekadar penonton.
Setiap pilihan yang kita buat akan menentukan arah bangsa.
Jadi, pegang teguh harapan itu,
sekalipun kecil, tetap penting,
karena masa depan tidak dibangun sendirian,
tetapi oleh kita, hari demi hari.
DESA TERCINTA
Di tempat ini langkahku melangkah jauh,
mencari keberuntungan di waktu yang ceria.
Namun setiap senja selalu kembali pada kenangan, menyampaikan cerita sawah hijau yang dahulu damai.
Kerinduan melintasi jiwa yang ragu,
menggema namamu, desa tercinta.
Meskipun jasadku terpisah,
hatiku senantiasa berada di tanah yang luas.
SAHABAT
Kita tertawa tanpa alasan,
berbicara tanpa henti,
dan bahkan keheningan terasa nyaman
saat kita bersama.
Persahabatan itu sederhana,
datang tanpa diminta,
tetapi selalu ada
saat dunia terasa berat.
KEHILANGAN
Sesuatu menghilang tanpa suara,
begitu saja,
meninggalkan ruang kosong
yang tak tahu bagaimana mengisinya kembali.
Namamu masih terngiang
di sudut-sudut ingatanku,
seperti gema lembut
yang tak pernah benar-benar hilang.
Aku mencoba membiasakan diri,
berjalan tanpamu,
meskipun langkahku terasa berbeda,
dan dunia tak lagi memiliki warna yang sama.
Kehilangan bukan hanya tentang perpisahan, tetapi tentang belajar menerima
bahwa tidak semua yang kita hargai
akan tetap selamanya.
Terkadang aku merindukan hal-hal kecil, tawa sederhana,
percakapan yang terarah,
dan kehangatan yang dulu begitu nyata.
Namun waktu terus berlalu,
perlahan-lahan mengajariku
bahwa mereka yang pergi tidak benar-benar pergi, mereka hanya menjadi kenangan.
Dan dalam setiap kenangan itu,
aku menemukan kekuatan baru,
untuk terus maju,
meskipun hatiku pernah rapuh.

