Kita yang Terjeda
Di bawah remang lampu kamar yang temaram, ditemani hening malam, aku kembali mengingatmu. Aku bertemu denganmu di saat semua merasa menyesakkan dengan keadaan. Aku duduk sendiri, membiarkan pikiranku berkelana kemana-mana, ke hal yang seharusnya sudah lama kulepaskan, tentang kamu. Aku bertemu denganmu … Di saat aku merasa semuanya begitu berat. Dan entah kenapa, kehadiranmu waktu itu terasa seperti jeda, seperti sesuatu yang diam-diam menenangkan, tanpa perlu banyak alasan. Malam memang selalu punya alasannya sendiri untuk aku kembali mengingatmu. Aku kembali menatap layar ponsel. Bukan karna ada sesuatu yang penting, tapi karena diam-diam aku berharap pesan darimu. Padahal aku tahu, itu tidak akan pernah terjadi. Hari-hariku waktu itu terasa penuh, tapi kosong. Banyak orang di sekitar, tapi tidak benar-benar ada yang membuatku merasa tenang. Sampai akhirnya kamu datang, dengan cara yang sederhana. Kita ngobrol seperti biasa. Tidak ada yang spesial di awal. Bahkan aku tidak pernah berpikir aku menyukaimu sampai sejauh ini. Tidak ada niat lebih. Tidak ada ekspektasi apa-apa. Aku bahkan tidak pernah berpikir kamu jadi orang yang sulit aku lupakan.
Aku masih ingat kalimat sederhana yang kamu kirimkan waktu itu, “kamu cantik, aku ga bohong”. Aku tertawa kecil saat membacanya, kepalaku refleks menggeleng, seolah tidak percaya. Tapi diam-diam … kalimat itu tinggal lebih lama dari yang seharusnya. Sejak saat itu, aku mulai nyaman. Nyaman dengan candaanmu, nyaman dengan perhatian kecilmu, nyaman dengan kehadiranmu. dan nyaman denganmu yang perlahan-lahan mengisi ruang kosong hariku. Tanpa sadar aku terjebak dengan semuanya, hari-hariku lebih hidup, dan notifikasi darimu jadi hal kecil yang selalu aku tunggu.
Kadang, Kamu memang seperti itu. Sederhana, tapi cukup membuatku berfikir lebih jauh.
“Kenapa sih… kamu baik banget sama Aku?” tanyaku suatu waktu.
“Emang gak boleh?” Kamu balik bertanya.
“Boleh…. tapi nanti Aku salah paham,” balasku pelan.
Beberapa detik tidak ada balasan lagi. Lalu muncul pesan darimu.
“Kalo salah pahamnya ke hal yang baik, Aku gak masalah”
Masih jelas di ingatanku, malam itu, saat kita berbicara lewat telpon. Tidak ada yang istimewa sebenarnya- hanya obrolan biasa yang entah kenapa terasa hangat. Lalu ditengah percakapan itu, kamu tiba-tiba berkata pelan, “jangan pernah bosan sama aku ya …”
Aku terdiam sesaat, lalu tersenyum tanpa kamu lihat. “Iya … tapi tergantung, kalau kamu nggak bosan duluan,” jawabku ringan.
Tidak ada tawa, tidak ada nada bercanda, Kamu mengatakan itu seolah seseorang yang memang sedang ingin didengar. Dan anehnya justru dari situ aku percaya. Bahwa mungkin, aku tidak sendirian dengan perasaan ini.
Setelah itu hening …
Tapi hening yang terasa hangat. Aku mulai berharap, berharap kamu tetap ada. Aku kembali diam, teringat dulu aku selalu menunggu kabarmu, kini mulai terasa kosong. Aku yang dulu menunggu pesanmu, sekarang hanya menatap layar tanpa tujuan.
Hari-hari di mana aku selalu bilang ingin ditemani lewat dering telepon itu, kini perlahan sirna. Tidak ada lagi suara yang menenangkan di ujung sana. Tidak ada lagi kamu. Tapi anehnya, setiap kali bertemu, rasa itu masih sama ada, rindu yang belum sempat selesai, perasaan yang belum sempat benar-benar pergi. Aku melihat wajah manismu, wajah teduh yang dulu selalu kupandang di balik layar ponsel yang selalu membuatku merasa tenang, masih terekam jelas di benakku seolah waktu tidak pernah benar-benar menghapusnya.
Chat terakhir masih kamu simpan.
Aku bertanya,” kamu kenapa?” pesanku tidak lagi kamu balas.
Namamu tidak lagi muncul seperti biasanya. Aku menunggu jawaban. beberapa menit, satu jam, sehari, tetap saja sama. Tidak ada jawaban.
Yang lebih aneh, kamu tidak benar-benar pergi. Kamu masih ada. Seolah kita masih saling tahu, tapi memilih untuk tidak benar-benar hadir. Dan jujur saja … itu sangat menyakitkan. Kamu dekat, tapi tidak bisa aku gapai.
Sampai suatu hari, kita bertemu. Aku sempat ingin pura-pura tidak melihatmu. Tapi, sebelum aku sempat menghindar, aku masih penasaran dengan semuanya yang terjadi di antara kita.
Aku kalah, aku menyapa kamu duluan,” Kamu…kenapa?” Pertanyaan sama yang aku lontarkan berulang kali.
Nada suaramu masih sama dan jawabannya tetap sama darimu.
Di momen itu, aku sadar sesuatu bila pada akhirnya kita berdua telah bahagia lagi, kuharap kamu tidak melupakanku. Semuanya berjalan begitu saja, tanpa rencana, tanpa kepastian. Tapi, justru di situlah letak bahayanya. Aku mulai terbiasa denganmu. Aku terbiasa menunggu kabarmu, terbiasa berbagi cerita, bahkan terbiasa menggantungkan perasaan yang tidak benar-benar jelas arahnya. Kita seperti dua orang yang berjalan berdampingan, Tapi tidak pernah benar-benar saling mengenggam. Dekat, tapi tidak pernah memiliki.
Aku sempat ingin bertanya.” kenapa kamu pergi? kenapa kamu memilih diam dari pada kamu harus menjelaskan sesuatu?”
Kalimat itu hanya sampai di tenggorokan, aku tak mampu untuk berbicara lagi, dan akhirnya aku memilih diam. Karena mungkin … aku sudah tahu jawabannya.
“Mungkin ada hati lain yang harus kau jaga. Sebelum semuanya berakhir, aku ingin meminta maaf kepadamu—maaf karena telah sering membuatmu kecewa.”
Kalimat itu selalu ingin kulontarkan, tetapi lagi-lagi aku memilih diam.
Momen-momen manis yang pernah kami lewati, meski hanya sebentar, dan segala kenangan tentangmu… tak pernah benar-benar bisa aku lepaskan.
“Kamu lagi apa?” tanyamu suatu sore.
“Lagi mikiri sesuatu,” jawabku
“Apa?” balasanmu begitu cepat
Aku terdiam sebentar, menatap layar.” Kamu,” tulisku akhirnya setengah ragu.
Beberapa detik terasa lebih lama dari biasanya.
“Serius?” Kamu membalas seolah masih ragu dengan pesan yang ku kirim.
“Iya…. emang ga boleh?” Aku mencoba bercanda untuk menutupi rasa malu dan gugupku saat itu.
“Boleh banget,” Jawabmu, belum sempat ingin ku balas kamu sudah mengirim satu pesan lagi “Aku juga sering gitu.”
Degup itu lagi. Muncul dengan tiba-tiba aku tak suka perasaan itu sebenarnya, namun sore itu membawa hal yang tak ku sukai malah menjadi kegemaranku.
“Sering mikiri aku?” tanyaku memastikan.
“Iya…” balasmu, “apalagi kalo Kamu tiba-tiba ngilang”.
Kali ini bukan tersenyum kecil, tapi aku tertawa lepas membaca teks konyol itu.” Kan Aku gak pernah bener-bener pergi” kataku.
“Iya…tapi Aku tetap nunggu” Jawabmu.
Semua masih tersimpan rapi di ingatanku cara kita tertawa, obrolan-obrolan sederhana, dan perasaan nyaman yang dulu pernah ada. Lalu perlahan, semuanya berubah. tidak ada pertengkaran, tidak ada kata perpisahan. hanya jarak yang tiba-tiba terasa makin jauh. Pesan-pesan mu mulai jarang, balasanmu tak lagi sehangat dulu. aku coba berpikir biasa saja, mencoba mengerti bahwa kamu sedang sibuk. Tapi semakin lama aku mulai sadar, yang berubah bukan hanya keadaan, tapi juga perasaanmu.
Terima kasih … karena telah hadir di dalam hidupku, di saat aku sedang butuh seseorang untuk sekedar membuat semuanya terasa lebih ringan. Aku tidak pernah menyesal mengenalmu.
“Aku pernah jadi bagian kecil di hidup kamu, kan?” Tanyaku pelan, seolah kamu ada di depanku.
Kamu tidak langsung menjawab, Hanya diam, seperti biasa, “pernah, ” katamu akhirnya singkat.
Aku tersenyum tipis, meski dalam hati ada sesuatu yang mengganjal. “Aku di sini mungkin masih menunggu,” lanjutku pelan,” sampai…rasaku benar-benar hilang.”
Kamu menatapku dalam, tapi tidak mengatakan apa-apa.
“Kalau kita ketemu lagi nanti …” aku berhenti sejenak,” itu belum tentu mengubah apa-apa, kan?”
Kali ini kamu menghela nafas singkat, menatap netra mataku lebih dalam.
“Iya,” jawabmu singkat.
Aku kembali tersenyum kecut,” akan ada banyak hal yang kita pikirkan,” aku menunduk sedikit,” dan mungkin … kita tetap nggak bisa bersama.”
Hening.
Seolah waktu boleh berjalan sejauh apa pun, tentangmu … selalu punya tempat yang tidak bisa tergantikan. Dan untuk seseorang yang tidak pernah benar-benar menjadi milikku, kamu meninggalkan rasa yang begitu dalam.
“Jaga dirimu ya,” ucapku singkat. Aku tak menunggu jawabanmu lagi, aku langsung pergi begitu saja.
Sekarang, yang tersisa hanyalah kenangan. Tentang obrolan-obrolan kecil yang dulu terasa berarti, tentang tawa yang dulu terasa hangat, dan tentang harapan yang ternyata hanya tumbuh di satu sisi. Aku masih sering membuka kembali pesan-pesan lama, bukan karena aku belum bisa melanjutkan, tapi karena ada bagian dari diriku yang belum benar-benar selesai.
Aku terdiam, membuang ponselku asal, mataku kupaksakan untuk terpejam untuk menyambut hari esoknya.
Dan mungkin … pada akhirnya kita tetap sama, dua orang yang saling merasa, tapi tidak benar-benar bersatu.

