Naskah
Namaku Khai.
Kadang aku merasa hidupku seperti halaman yang sedang ditulis kata-kata muncul, menetap sebentar, lalu menghilang sebelum sempat kubaca. Bukan kesalahan, hanya alur yang belum selesai.
Di sebuah kafe kecil di tepi danau, aku menatap air yang memantulkan lampu kota senja. Aroma kopi dan roti hangat bercampur, seakan mengisi halaman-halaman yang belum tertulis. Saat itulah aku bertemu Karel. Wajahnya sederhana, namun ada sesuatu yang membuatnya terasa akrab, seperti aku sudah mengenalnya di bab-bab yang belum pernah tercetak.
“Apakah kita pernah bertemu?” tanyanya lembut, menatapku dengan mata yang seolah mengerti sesuatu yang aku sendiri belum pahami.
Aku menelan ludah, sadar bahwa jawabanku, bahkan gerak tubuhku, bisa saja ditentukan oleh cerita yang menulisku. Aku menarik napas panjang.
“Seharusnya belum,” ujarku.
Ia menunduk sebentar, menatap cangkir di tangannya. Sejenak, aku merasa dunia ini tidak sepenuhnya nyata, namun perasaan yang muncul di dada tidak bisa dianggap fiksi.
Hari-hari berikutnya, kami terus bertemu tanpa sengaja. Di jalan di tepi kota tua, di kafe yang sama, di halte yang seolah muncul hanya untuk kami. Aku mulai bertanya-tanya apakah ini kebetulan, atau narasi yang menuntun langkahku.
Sore itu, saat hujan rintik-rintik menaburi kota, kami berjalan di trotoar yang basah. Bau tanah setelah hujan dan aroma rempah dari warung di dekat pasar mengisi udara. Aku berhenti sejenak, menatap Karel, dan berkata pelan:
“Apakah kau merasa hidup ini… seperti cerita yang belum selesai?”
Ia tersenyum samar, seolah memahami, namun tak sepenuhnya.
“Cerita yang belum selesai?”
“Ya,” jawabku. “Kejadian-kejadian terasa terlalu rapi, terlalu sempurna. Aku takut perasaanku hanyalah bagian dari naskah yang belum selesai ditulis.”
Karel menatapku, dan aku menyadari ia adalah satu-satunya variabel yang tidak dapat dihapus. Bahkan jika penulis mencoba merevisi setiap kata, aku percaya hatiku memilihnya sendiri.
Malam itu, aku mencoba melawan. Biasanya, aku berjalan melewati jembatan kayu. Tapi kali ini, aku sengaja berbelok ke arah lain. Satu langkah. Dua langkah. Langkah ketiga tubuhku berhentu. Bukan karena aku ragu, bukan karena aku takut, tapi karena kakiku…tidak mau bergerak. Seolah ada sesuatu yang menarikku kembali. Tiba-tiba, kepalaku terasa kosong. Dan sekejap aku sudah berdiri di atas jembatan. Seperti biasa. Seperti tidak pernah ada percobaan untuk melawan. Aku menggigil.
Hari-hari bergulir dengan kebiasaan sederhana. Secangkir kopi di pagi hari, jalan di tepi sungai saat sore, sesekali bertukar senyum di pasar yang ramai. Kadang kami diam bersama, membiarkan kota dan waktu menjadi saksi.
Suatu malam, di sebuah jembatan kayu yang menghubungkan tepian sungai, aku menatap lampu yang memantul di air.
“Aku takut semua ini hanyalah cerita yang bisa diubah, Karel. Bahwa suatu hari, kata-kata kita bisa dihapus.”
Ia menggenggam tanganku.
“Khai, kalau ini cerita sekalipun, aku tetap ingin berada di sini. Bersamamu.”
Aku tersenyum, tetapi dalam hati masih ada rasa ragu. Bagaimana jika suatu hari naskah direvisi? Bagaimana jika kalimat ini tidak lagi ada?
Beberapa hari kemudian, aku menemukan keberanian yang sebelumnya tidak kumiliki. Menatap matanya yang teduh, aku berkata
“Aku menyukaimu, Karel. Tidak karena cerita, tidak karena kebetulan tapi karena aku memilihnya.”
Sunyi. Kalimat itu tetap ada. Tidak tergeser, tidak direvisi. Aku merasakan perasaan itu seperti tinta yang menembus halaman, menolak untuk dihapus.
Karel tersenyum, perlahan.
“Rasanya aneh,” katanya lembut.
“Aneh bagaimana?”
“Seolah ini bukan pertama kalinya aku mendengarnya.”
Aku tersenyum. “Mungkin memang bukan pertama kalinya.”
Hari-hari berikutnya terasa berbeda. Kami tidak lagi terlalu rapi, tidak lagi terlalu “sesuai naskah”. Kadang kami bertengkar soal hal kecil jalan yang harus dipilih, kopi yang lebih manis, hujan yang datang terlalu cepat. Kadang kami berhenti di tengah jalan, diam, membiarkan dunia menulis sendiri. Tetapi anehnya… justru itu terasa lebih nyata. Perasaan ini bukan bagian dari naskah, bukan adegan yang diatur. Ini perasaan yang ada karena aku memilihnya, dan ia juga memilih.
“Aku tidak ingin jadi bagian dari ini,” kataku suatu malam. Kami berdiri di jembatan yang sama, di bawah lampu yang sama, dengan angin yang terasa terlalu familiar. “Kalau semua ini ditulis… aku ingin memilih,” lanjutku.
Karel menggenggam tanganku erat. “Kalau begitu, kita lawan.” Untuk pertama kalinya, kata-kata itu terasa benar-benar milik kami.
Kami mulai mencoba hal-hal kecil. Mengubah rute jalan, mengucapkan kalimat yang tidak seharusnya ada, diam saat seharusnya bicara, awalnya, tidak terjadi apa-apa. Lalu… konsekuensinya datang.
Suatu pagi, kota terasa kosong. Warung di dekat pasar hilang. Orang-orang berkurang. Suara-suara menjadi jauh, seperti ditarik keluar dari dunia. “Apa ini?” bisikku.
Karel menatap sekeliling, wajahnya tegang. “Mungkin… ini koreksi.”
Hari berikutnya lebih buruk. Saat aku mencoba mengatakan sesuatu yang berbeda suara itu tidak keluar. Bibirku bergerak, tapi tak ada suara. Seolah kata-kata yang tidak sesuai… dihapus sebelum sempat ada. Aku panik.
Karel memelukku. “Jangan berhenti,” katanya. “Kalau kita berhenti sekarang… kita akan kembali seperti sebelumnya.”
Dan untuk pertama kalinya, aku sadar melawan cerita bukan hanya pilihan. Itu risiko. Beberapa hari kemudian, dengan sisa keberanian yang masih kupunya, aku menatap Karel.
“Aku menyukaimu,” kataku.
Sunyi.
Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang terhapus. Kalimat itu tetap ada. Nyata. Seperti tinta yang menolak hilang. Karel tersenyum perlahan. “Rasanya… aku sudah pernah mendengar ini,” katanya.
Aku tertawa kecil, meski hatiku bergetar. “Mungkin kita memang pernah.” Hari-hari berikutnya tidak lagi rapi. Kami bertengkar, tersesat, membuat pilihan-pilihan kecil yang tidak sempurna. Dan anehnya, semuanya terasa lebih hidup.
Suatu sore, saat matahari turun di balik kota, Karel berkata
“Kalau hidup kita memang ditulis… mungkin sekarang penulisnya kesulitan.”
Aku tersenyum.
“Kenapa?”
“Karena kita tidak nurut.”
Aku menggenggam tangannya.
Untuk pertama kalinya, aku merasa… mungkin aku benar-benar memilih hidupku sendiri. Mungkin. Di antara cahaya senja dan riak air yang tenang, aku memejamkan mata sejenak. Dan saat kubuka kembali semuanya masih ada. Karel, langit, perasaan ini. Tidak ada yang berubah. Aku tersenyum. Percaya bahwa akhirnya, aku bebas.

