JIKA NIAT INI BAIK
Jimel merupakan mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Jambi, yang gemar menulis novel dan cerpen. Melalui cerpen “Jika Niat Ini Baik”, ia mengangkat sepotong perjalanan hidup seorang sahabat sebagai refleksi tentang cinta, proses memantaskan diri, dan keyakinan pada waktu terbaik yang telah Tuhan tetapkan.
Di hadapan cermin ruang ganti restoran, pantulan seorang gadis manis terlihat tengah merapikan penampilannya. Senyum kecil terukir di bibirnya saat menatap bayangan dirinya sendiri. Tubuhnya telah dibalut rapi oleh kemeja kerja berwarna cokelat kesayangannya, dipadukan dengan celana bahan hitam dan sepasang sepatu pantofel yang selalu menemaninya melewati hari-hari panjang. Rambut hitamnya disanggul dengan gaya French twist, membuat penampilannya tampak anggun dan profesional. Gaya rambut itu adalah favoritnya karena setiap kali melihat pantulan dirinya di cermin, ia selalu teringat pada sosok pramugari yang anggun dan berwibawa.
Dari balik pintu, aroma masakan yang baru dimulai menyeruak memenuhi ruangan, berpadu dengan denting peralatan dapur dan suara para karyawan yang saling menyapa. Bagi orang lain, mungkin itu hanyalah awal dari hari yang melelahkan. Namun, bagi Deyya, semua itu adalah irama yang selalu berhasil membangkitkan semangatnya untuk kembali memberikan senyum terbaik kepada setiap tamu yang datang.
Namun, restoran itu pula yang menjadi saksi bisu awal pertemuan Deyya dengan seorang laki-laki bernama Raden. Tidak ada kisah yang dramatis seperti tabrakan di persimpangan jalan atau pertemuan yang menyerupai adegan dalam novel. Mereka hanyalah dua orang asing yang bekerja di bawah atap yang sama, tetapi berada di divisi yang berbeda. Selama berbulan-bulan, keberadaan Raden nyaris tak pernah masuk dalam perhatian Deyya.
Saat itu, hati Deyya telah lama tertutup. Setelah dikecewakan oleh orang-orang yang pernah ia percaya, ia memilih berhenti mencari cinta. Baginya, laki-laki hanyalah lembaran masa lalu yang enggan dibuka kembali. Ia lebih memilih memusatkan seluruh perhatiannya pada satu tujuan: memperbaiki diri, mendekat kepada Tuhan, dan menjadi pribadi yang lebih baik daripada kemarin.
Sampai suatu malam, layar ponselnya menyala. “Masih marah gara-gara candaan tadi?”
Deyya menatap layar beberapa saat. Ia bahkan tak menyangka Raden memiliki nomor teleponnya. Laki-laki yang selama ini hanya sesekali berpapasan dengannya di Dermaga Seafood Resto itu tiba-tiba menghubunginya di luar urusan pekerjaan.
Deyya bekerja sebagai seorang waitress di divisi Food and Beverage Service, sementara Raden bertugas sebagai barista Nusantara di area bar. Meski berada di restoran yang sama, kesibukan di divisi yang berbeda membuat mereka jarang memiliki kesempatan untuk saling mengenal.
Awalnya Deyya hanya membalas pesan itu seperlunya. Namun, Raden rupanya tak ingin candaan siang tadi berakhir dengan kesalahpahaman. Dengan sedikit canggung, ia mengajak Deyya membeli es krim sepulang kerja sebagai bentuk permintaan maaf.
Ajakan yang terdengar sederhana itu sempat membuat Deyya ragu. Setelah beberapa saat mempertimbangkannya, ia akhirnya mengangguk pelan. Malam itu menjadi kali pertama mereka berjalan berdampingan, berbincang tentang hal-hal ringan: asal daerah, alasan merantau, hingga mimpi yang ingin mereka capai. Siapa sangka, semangkuk es krim dan percakapan sederhana di penghujung malam perlahan menjadi awal dari kisah yang mengubah kehidupan keduanya.
Tidak ada kemewahan dalam hubungan mereka. Tidak ada hadiah mahal atau janji yang diucapkan setiap hari. Yang ada hanyalah rasa nyaman yang tumbuh perlahan, tanpa disadari. Raden tidak pernah memaksa Deyya menceritakan luka-luka yang pernah ia simpan. Ia hanya memilih tetap tinggal, menunggu hingga perempuan itu benar-benar siap membuka hatinya.
Hingga suatu malam, Deyya akhirnya menceritakan semua ketakutan yang selama ini ia pendam. Raden menggenggam jemarinya pelan. “Ndoro Ayu… Mas tidak bisa menghapus masa lalumu,” ucapnya lembut. “Mas juga tidak bisa memaksamu melupakan semua rasa sakit itu. Tapi kalau Ndoro Ayu mengizinkan, Mas ingin menemani langkahmu. Kita sembuhkan pelan-pelan, lalu kita bangun masa depan yang lebih baik bersama.”
Deyya menundukkan kepala. Dadanya terasa sesak, tetapi bukan karena sedih. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak memintanya segera sembuh, melainkan memilih tetap bertahan di sisinya.
Beberapa bulan kemudian, mereka sepakat menjaga hubungan itu dengan satu tujuan yang sama: menikah. Bukan dalam waktu dekat, melainkan ketika keduanya telah benar-benar siap, lahir maupun batin.
Deyya sempat berpikir setelah itu perjalanan mereka akan terasa mudah. Nyatanya, luka memang bisa mengering. Namun, bekasnya terkadang masih terasa nyeri ketika disentuh. Satu demi satu bisikan mulai terdengar di tempat kerja.
“Hati-hati sama Mas Raden.”
“Mas sering dekat sama perempuan lain.”
“Jangan terlalu percaya.”
Kalimat-kalimat itu seperti mengetuk kembali pintu trauma yang selama ini susah payah Deyya tutup. Tanpa sadar, ia mulai mempertanyakan banyak hal. “Mas…” panggilnya suatu malam dengan suara pelan. “Kalau suatu hari nanti Mas berubah bagaimana?”
Raden menghela napas pelan sebelum menatap mata perempuan di hadapannya. “Ndoro Ayu, selama ini Mas berusaha menjaga hati ini hanya untukmu. Jangan biarkan omongan orang lebih besar daripada kepercayaan yang sedang kita bangun.”
Raden selalu menjawab setiap pertanyaan Deyya dengan sabar. Namun, bahkan kesabaran pun memiliki batas. Raden menatap Deyya cukup lama. Tatapannya masih menyimpan kasih yang sama, hanya saja kali ini terlihat begitu lelah.
“Ndoro Ayu… akhir-akhir ini Mas sedang berjuang menghadapi banyak hal. Mas sedang berusaha kuat untuk urusan hidup Mas sendiri. Tapi di saat yang bersamaan, Mas juga harus terus berjuang melawan ketakutanmu.”
Deyya membeku. Tak ada sepatah kata pun yang mampu keluar dari bibirnya.
“Mas tidak marah,” lanjut Raden dengan senyum tipis yang dipaksakan. “Mas hanya lelah.” Kalimat sederhana itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada bentakan apa pun.
Deyya ingin meminta maaf. Ingin memeluk laki-laki di hadapannya dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Namun, kata-kata terasa begitu kecil dibandingkan luka yang tanpa sadar telah ia ciptakan.
Raden menghembuskan napas panjang. “Mas ingin istirahat sebentar, Ndoro Ayu.”
Deyya menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Bukan untuk meninggalkanmu. Mas hanya ingin kita sama-sama belajar menjadi tenang. Karena hubungan ini tidak akan sampai ke tujuan jika kita terus berjalan sambil membawa ketakutan.”
Hari itu mereka pulang melalui jalan yang sama. Namun, untuk pertama kalinya, langkah mereka tidak lagi berdampingan. Malam-malam setelahnya terasa begitu sunyi. Tak ada lagi pesan singkat yang selalu membuat Deyya tersenyum. Tak ada lagi suara yang menenangkan hatinya. Kini, ia hanya menghabiskan malam-malam panjangnya dengan berbicara kepada Tuhan, mencurahkan semua sesak yang selama ini tak pernah benar-benar ia selesaikan.
Di tengah keheningan itu, Deyya akhirnya mengerti. Selama ini ia selalu meminta seseorang memahami luka-lukanya, tetapi lupa memahami lelah orang yang berusaha menjaganya. Ia selalu meminta diyakinkan setiap hari, padahal kepercayaan tidak pernah lahir dari penjelasan yang diulang berkali-kali. Kepercayaan tumbuh ketika seseorang berani berdamai dengan ketakutannya sendiri.
Deyya tidak tahu bagaimana kisah mereka akan berakhir. Apakah kelak ia akan berdiri di hadapan penghulu, menggenggam tangan Raden dalam sebuah akad yang selama ini mereka impikan? Ataukah Tuhan sedang menunda pertemuan itu agar keduanya lebih dulu dipantaskan?
Sebab kini Deyya percaya… Perjalanan menuju halal bukan sekadar tentang menemukan seseorang yang baik untuk dicintai. Melainkan tentang menjadi pribadi yang mampu menjaga seseorang yang telah Tuhan titipkan. Barangkali, inilah cara Tuhan menjawab doa-doa mereka.
Bukan dengan segera mempersatukan dua hati yang saling mencintai, melainkan dengan memisahkan sejenak agar keduanya belajar menyembuhkan diri. Karena jika niat ini benar-benar baik, Tuhan tidak akan membiarkan mereka berjalan dengan hati yang masih dipenuhi luka.
Dia akan mengajarkan mereka cara saling menguatkan, memantaskan, dan kembali dengan cinta yang lebih dewasa. Dan apabila takdir akhirnya mempertemukan mereka kembali, Deyya ingin menyambut Raden bukan sebagai perempuan yang dipenuhi rasa takut, melainkan sebagai perempuan yang telah selesai berdamai dengan dirinya sendiri.
Sebab cinta yang paling indah bukanlah cinta yang tidak pernah diuji, melainkan cinta yang tetap memilih pulang setelah sama-sama belajar menjadi lebih baik.

