Bunga
Deni Haryanto mulai menekuni dunia sastra sejak duduk di kelas 9 SMP, lalu mengembangkan imajinasinya melalui Sanggar Seni Teater Alief saat bersekolah di MAN 2 Kota Jambi. Meski menghadapi berbagai tantangan, ia tetap menikmati proses berkarya dan terus bertahan menggeluti dunia sastra hingga kini.
Pasar Angso Duo menjadi tempat favorit bagi orang-orang untuk mengadu nasib, semua hal dilakukan untuk bisa menghidupi diri masing-masing. Berbagai jenis jualan dan pedagang tumpah ruah di sana, dari yang lajang sampai yang sudah berpasangan, dari yang muda sampai yang tua, dari yang halal sampai yang haram. Semuanya hadir di sana, suasana yang tidak biasanya hadir di tengah hiruk pikuk orang dewasa yang sedang berjuang. Dengan sadar dan tekadnya yang besar dia membuka lapak berjualan di sana, lapak yang tidak selayaknya penjual lain, sebab ia hanya menggunakan sebuah alas kertas tebal untuk berjualan, dia adalah seorang anak yang tangguh tidak kenal gentar dan lelah, berjualan bunga segar di setiap harinya di pasar Angso Duo.
“Besarlah alas jualan daripada orangnya,” gurau seorang penjual ikan.
“Jualan itu lihat timing. Biar selalu untung. Itu taktik ulung. Agar tidak buntung,” timbal penjual nasi uduk.
“Jualan bunga kok pagi buta gini, mana ada yang mau beli,” sahut penjual ayam.
Omongan-omongan itu tidak ia hiraukan, semuanya dia anggap sebagai angin lalu, tidak mengindahkan apa yang orang lain ucapkan. Dia tetap fokus kepada lapak jualannya sendiri, sembari terus berharap akan laris jualannya hari ini. Sudah hafal sekali dia dengan perangai para pedagang di pasar ini, mereka yang akan selalu mengganggu pedagang baru hingga menjadi tidak betah dan pergi dari pasar ini. Tabiat itu sudah ia pahami meski usianya masih muda dari mereka. Ini sudah hari ketiga dia mendapatkan perkataan begitu, dan masih tetap tidak ia gubris. Karena ia tahu semakin dilawan perkataan dari pedagang itu maka semakin susah kedepannya nanti.
“Heh budak kecik! tau dak kau ni ado di kawasan siapo? kalau kau dak mau dagangan kau ini aku hancurkan, mending kau pergi dari sini,” ucap preman yang tiba-tiba setengah berteriak kepadanya.
“Tapi bang, aku kan sudah duluan di sini. Di sini dak ado yang ngisi sebelumnyo pun,” sanggah sang anak yang akhirnya menjawab omongan preman itu.
Mendengar omongannya tidak diindahkan langsung preman itu berusaha untuk menghancurkan bunga dagangan dari si anak itu, dan terjadi keributan di sana, hingga menarik perhatian seluruh pengunjung pasar di sana. Semua mata hanya melihat dan memberikan ekspresi kasihan, tanpa ada bantuan sikap dan perbuatan. Perebutan itu semakin sengit, para pedagang enggan melerai perselisihan itu. Sang anak sudah hampir babak belur terlempar ke sana kemari dan terus melawan maju ke preman yang terus merusak dagangannya itu. Hingga ada seorang perempuan yang melerai keributan. Melihat ramai orang-orang di sana dan datangnya orang yang melerai, serta kode dari para pedagang yang telah merencanakan keributan ini, si preman langsung lari menghilang di kerumunan pasar.
Perempuan itu memiliki umur yang tergolong muda, dengan rambut terikat rapi, dan pakaian santai yang dia kenakan serasi dengan dirinya. Dengan rasa iba terhadap anak itu, dia akhirnya memutuskan untuk membeli bunga yang tersisa dari dagangannya. Si anak sempat menolak hal itu, tetapi di sudut hati terdalamnya dia merasa senang akhirnya ada yang beli, meskipun sebagian besar jualannya sudah hancur, tapi tak mengapa selagi ada yang bisa di jual dan ada yang beli maka ada harapan bisa makan hari ini.
Dengan dorongan dari perempuan yang ingin membeli bunga dari sang anak. Si anak akhirnya menyetujui permintaan itu dan terjadi transaksi jual beli di sana, bahkan si perempuan tidak mau mengambil kembalian uangnya, dengan dalih untuk biaya mengobati luka-lukanya akibat keributan tadi. Mendengar hal itu dengan cekatan sang anak langsung menyiapkan pesanan bunga untuk si perempuan itu. Sebelum dia memberikan bunga, dia memberikan saran bagaimana merawat bunga itu nantinya agar si perempuan bisa menikmati keindahan bunga itu setiap waktunya. Dan sedikit basa-basi yang telah ia pelajari saat orang berjualan ia menanyakan kepada siapa perempuan itu akan memberikan bunga?
Si perempuan menjawab singkat sembari lalu “akanku hadiahkan ke orang tercinta.” Sang anak masih berdiri di tempat mendengar pembelinya mengatakan hal begitu. Dia tahu bahwa pedagang pasti akan mendapatkan jawaban yang sedikit random dari pembelinya. Tetapi kenapa jawaban yang ini terus tertinggal di benaknya? Dan seakan menanyakan kembali kepada dirinya. Kenapa tidak ada orang yang memberiku bunga? Pertanyaan itu terus berputar di kepala si anak. Dia terus menghubungkan kenapa orang-orang memberikan bunga kepada yang tersayang?
Sembari berbenah merapikan kembali lapak jualannya, dan bunga-bunga yang telah hancur. Dia tetap tidak menemukan apa jawaban dari pertanyaan di kepalanya itu. Setelah selesai mengemas dagangannya dia berjalan menuju ke toko bunga yang tadi ia ambil untuk di jual di pasar, dia mau memberi tahu dengan sedikit berbohong kepada pemilik bunga bahwa jualannya hari ini tidak ada yang laku dan bahkan rusak, akibat preman yang tidak berperasaan. Dia tahu pasti dia akan diberikan sanksi untuk menjual bunga lebih banyak dan harus habis di kemudian hari, sebagai hukuman karena tidak ada bunga yang terjual malahan dia merugi akan bunga-bunganya. Tapi itu tidak menjadi soalan bagi sang anak, karena sudah bingung dengan soalan yang terus berputar di kepalanya sekarang ini.
Perjalanan menuju toko bunga memang sedikit jauh dari pasar, ia harus melewati perlintasan kereta, jembatan, dan juga jalanan yang tak pernah sepi kendaraan yang selalu berlalu-lalang. Dari kejauhan ia melihat para pengendara menumpuk tersendat tidak bisa melintas, dia sempat menerka bahwa ada pengerjaan jalan umum yang sedang dilakukan, tetapi saat jarak dia dengan pengendara yang menumpuk itu semakin mengecil, dia mendengar suara sound system yang menggelegar. Semakin mendekat ia mendapat jawaban bahwa suara itu berasal dari sebuah acara perkawinan yang dilaksanakan di pinggir jalan dan memotong separuh jalanan umum.
Sang anak melihat banyak sekali bunga-bunga di tenda perkawinan itu, seketika ia teringat kembali akan pertanyaan yang sempat hilang sejenak di benaknya, Kenapa tidak ada orang yang memberiku bunga? Dan kini ia merasa tahu akan jawabannya, yakni karena ia belum menikah, jadi belum ada yang memberinya bunga. Tetapi di saat yang sama dia melihat ada seorang lelaki dewasa yang memberi kejutan bunga kepada pasangannya. Di situ dia semakin bingung, jadi sebenarnya bunga ini sebuah tanda cinta seseorang kepada orang lainnya atau bagaimana? Lalu apakah bunga itu mengartikan seseorang mencintai dan dicintai?
Suara klakson motor menyadarkan dirinya yang sedang melamun bergulat dengan pemikirannya yang dia sendiri bingung kenapa ia memikirkannya? Untuk anak seusianya sudah memikirkan mencintai dan dicintai? Itu terlalu berlebihan, seorang anak pastinya akan mendapatkan dan memberikan cintanya dengan tulus, ya kan? Si anak melanjutkan kembali perjalanan yang sempat terhenti tadi, ia berjalan dengan langkah yang tidak terlalu cepat, dan di tangan mendekap bunga-bunga rusak yang dari pasar tadi, tiba-tiba rasa lapar menghampiri dirinya, ia yang memang belum makan sejak semalam hanya bisa menahan lapar yang mengganggu perut, mata dan otaknya.
Ia sempat berhenti sejenak untuk menenangkan diri dari rasa lapar yang menghinggap ini, ia berusaha menahan rasa lapar di tengah gempuran aroma nikmat dari penjual bakso. Ia melihat penjual bakso itu sedari tadi, dan tidak menyangka akan merasa sengsara begini akibat aroma yang keluar dari panci kuah bakso itu. Perut ini tidak dapat berbohong lagi, rasa lapar yang hinggap dan aroma nikmat yang terus bergelayut di hidungnya. Setelah menimbang baik buruknya, sang anak memilih untuk membelikan makanan dari uang yang ia dapatkan dari perempuan di pasar tadi.
Tinggal beberapa langkah lagi menuju gerobak bakso itu, matanya menangkap sosok yang sebelumnya pernah ia temui. Masih dengan pakaian yang sama, orang itu mendekati gerobak bakso dan tiba-tiba mengeluarkan bahasa yang tidak pantas, serta memukul gerobak itu hingga hampir terguling. Sang penjual bakso hanya bisa tertunduk lemah saat semua hasil jualannya di raup oleh orang itu. Ya, dia adalah preman yang tadi pagi mengganggu sang anak berjualan bunga di pasar. Sang anak, merasakan akan adanya bahaya yang segera mendekatinya, saat ia sadar preman itu sudah memperhatikannya dari kejauhan dan memberikan senyuman yang seakan ingin memangsa sang anak.
Di serang ketakutan yang tiba-tiba datang, ia refleks langsung lari menyelamatkan diri. Ia berlari sekuat tenaga, tanpa menghiraukan di belakang sana apakah preman itu mengejarnya ataukah tidak. Ia tidak peduli yang penting dan terus berlari mencari tempat yang aman, kakinya terus membawa entah ke mana arah larinya, beberapa kali hampir tertabrak kendaraan dan orang yang sedang berlalu-lalang. Hingga, tanpa ia sadari preman itu sudah menunggu persis di depannya, sang anak tidak bisa menghindarinya lagi dan berakhir terjerembap ke tubuh preman itu.
“HAHAHA bocil… nak lari kemano? Urusan kito belum selesai lagi!” ucap preman sembari memegangi lengan sang anak.
“Ampun bang! Aku dak ado masalah dengan abang!” ucap sang anak pasrah.
“Aku tahu! Sudah, sekarang sini duit yang dikasih perempuan itu. Aku tahu kau dikasih duit sama dia kan! Sini kasih ke aku!” bentak preman yang lalu berusaha mencari uang di saku baju dan celana sang anak.
“Dak bang! dak ada uang!” ucap sang anak penuh rasa pasrah.
“Heh bocil, jangan nak suka bohong, kalau bohong kutelanjangi kau. Mau?” preman itu langsung berusaha membuka pakaian yang melekat di tubuh sang anak .
Sang anak terjebak di antara realita yang kejam, mengimpit dirinya hingga sering kali tidak di beri ruang untuk bernafas. Dengan penuh rasa kecewa dan pasrah ia berikan uang satu-satunya yang ia miliki kepada preman itu, dia tahu dirinya tidak akan bisa menang melawan preman yang hanya besar otot tapi tidak memiliki otak itu. Mata preman itu berbinar menatap uang yang berhasil dirinya rampas dari seorang bocah, dan langsung pergi dari hadapan si anak.
Menatap punggung preman yang menjauh, sang anak dirundung pilu, ia berjalan tertunduk lesu, lemas, tak bersemangat, tatkala uang yang ia rencanakan untuk membeli seporsi makanan malah dirampas oleh preman. Langkah sang anak semakin gontai, tatapan matanya kosong, sekosong perut laparnya. Ia sedih, dan mempertanyakan kembali, apakah tidak ada yang sayang dengan diriku? Tak terasa air mata menetes dari kelopak matanya. Mulutnya diam namun di dalam pikirannya penuh gejolak amarah dan mempertanyakan, bagaimana rasanya hidup dengan aman, nyaman, penuh akan kasih sayang, yang terpenting adalah mencintai dan dicintai. Di kepalanya terus berputar akan hal itu, hingga suara tanda kereta melintas memecah lamunan sang bocah.
Ia menatap kereta yang melintas cepat itu, di kepalanya berpikir jikalau memang sudah tidak ada lagi yang mencintainya, bahkan Tuhan sendiri tidak mencintainya. Ia melihat sekeliling dan melihat ada nenek-nenek yang sedang menjual bunga untuk di sekar di kuburan. Sang anak sedikit tersenyum, akankah dirinya harus mati terlebih dahulu untuk bisa mendapatkan bunga? Tapi untuk seorang anak yang tak tentu arah hidupnya, mana mungkin orang-orang akan memberikan bunga kepadanya.
Kembali ia menatap kosong ke arah kereta api yang melintas. Ia kesal dengan dunia yang tidak adil bagi dirinya, bahkan Tuhannya sendiri tidak lagi memedulikannya. Kenapa tidak ada yang sayang dengan aku? Kenapa aku ditinggal sendirian? Ayah. Ibu. Aku capek. Dunia ini bukan untuk orang seperti aku. Aku mau pergi. Dengan langkah gontainya ia terus melangkah maju di kala kereta api masih melintas dengan kecepatan tinggi. Tidak lagi ia dengarkan deru suara kereta api dan orang-orang yang berteriak untuknya. Langkahnya tetap kukuh ke arah kereta api, hingga jarak tidak lagi berarti.
Jarak-jarak itu membawa dirinya ke persimpangan kesadaran, dirinya merasa tertampar hingga panas di pipinya. Dia masih tidak memberikan respon dengan membuka mata ataupun yang lainnya. Dia terus bertanya di dalam benaknya, apakah ia sudah mati? Ataukah masih di dunia nestapa yang tak berujung? Tapi di saat yang bersamaan ia merasa ada yang mengguncang tubuhnya dan terus menamparnya. Hingga ia akhirnya memutuskan untuk membuka mata memeriksa di manakah dia berada sekarang, apakah di surga ataukah di dunia nestapa.
Ia membuka mata perlahan, ia tatap orang-orang di sana satu persatu, dia bingung kenapa banyak orang melihatnya begitu, sebelum ia memikirkan jawabannya, ada yang berkata
“Kalau mau bunuh diri, jangan di sini dek! Warga sini yang susah bersihin jasad kau nanti!” ucap seorang ibu-ibu.
“Kalau mau mati itu, pas lagi sepi dek! Jangan lagi ramai gini, cari perhatian itu namanya,” timpal seorang bapak berjaket ojol itu.
Dan beberapa sumpah serapah lagi yang orang-orang lontarkan kepadanya. Dia yang sudah tidak bisa menahannya lagi langsung berlari dari sana. Ia lari seperti di kejar preman, tapi kali ini ia mempunyai arah ke mana dia lari untuk menghindari semua hal itu. Kenapa orang-orang hanya bisa memberi komentar tanpa melihat isi dalamnya bagaimana, tidak semua yang terlihat bodoh dan baik-baik saja itu terlihat tidak apa-apa. Sang anak terus berlari hingga ia tak sadar tiba di sebuah pemakaman, dan berhenti tepat di depan dua gundukan tanah yang penuh akan bunga-bunga indah di sana. Air mata tidak lagi bisa ia tahan, rasa sesak di dada, lapar, dan kesal yang dipendam akhirnya luntur, sang anak terduduk menangis sejadi-jadinya di sana.
Ayah, ibu. Bawa aku bersama kalian, agar aku bisa dicintai sama dengan bunga-bunga indah yang selalu mekar di atas tanah kuburanmu ini. Aku rindu akan kembali.
Jika, aku harus kembali
Rumah adalah tempat lulus uji
Atas genangan air mata, dan
gulungan benang tawa
yang entah kapan, selesai
***
UUM, 200526

