Puisi-Puisi Anisa
Rumah yang Berpindah ke Punggung
Di kota ini
Aku belajar bahwa rindu
Tidak selalu menangis.
Kadang ia menjelma
Bau minyak kayu putih di terminal,
Suara ibu dalam panggilan tiga menit,
Atau nasi hangat
Yang tak pernah sama rasanya.
Aku berjalan
Dengan punggung penuh alamat pulang,
Tetapi kaki terus dipaksa tumbuh
Di trotoar asing.
Orang-orang bilang
Perantau harus kuat.
Maka aku menyimpan sedih
Di sela tiket pulang
Yang belum mampu kubeli.
Malam sering datang
Membawa wajah rumah:
Atap bocor saat hujan,
Kursi tua di ruang tengah,
Dan ayah
Yang diam-diam menua
Tanpa sempat kusaksikan.
Di kota ini
Aku akhirnya mengerti:
Dewasa adalah
Tetap melangkah
Meski separuh hati tertinggal
Di kampung halaman.
Dunia yang Sulit Dijelaskan
Akhir-akhir ini
Dunia terasa seperti berita duka
Yang dibacakan terlalu cepat.
Orang tertawa
Sambil menyembunyikan luka,
Orang saling menyapa
Tanpa benar-benar hadir,
Dan manusia
Makin pandai berbicara
Tetapi kehilangan arti kata “mengerti”.
Langit masih biru, katanya.
Namun asap
Lebih dulu memenuhi dada.
Anak-anak tumbuh
Bersama layar yang menyala lebih lama
Daripada percakapan keluarga.
Dan cinta
Kadang hanya angka
Yang dihitung dari seberapa banyak
Orang menekan tombol suka.
Aku ingin mendeskripsikan dunia ini
Dengan bahasa paling sederhana,
Tetapi kalimat-kalimat patah
Sebelum sampai ke mulut.
Mungkin memang
Tidak semua hal harus dipahami.
Sebab sebagian hidup
Hanya bisa dirasakan:
Sesak yang tak terlihat,
Sunyi yang terlalu ramai,
Dan manusia
Yang perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Kepada Diri yang Pernah Takut
Aku pernah menjadi seseorang
Yang meminta maaf
Bahkan untuk keberadaannya sendiri.
Berjalan pelan,
Bicara seperlunya,
Takut jika suara hati
Terdengar terlalu keras.
Cermin pernah menjadi tempat
Paling asing.
Aku menatap wajah sendiri
Seperti melihat orang lain
Yang gagal dicintai dunia.
Tetapi waktu
Mengajariku sesuatu:
Bahwa tumbuh
Tidak selalu tentang menjadi hebat,
Kadang hanya tentang
Berani menerima diri sendiri.
Kini aku belajar
Menyebut namaku
Tanpa ragu.
Belajar bahwa luka
Bukan alasan untuk mengecil,
Dan gagal
Bukan akhir dari segala kemungkinan.
Jika hari ini
Aku masih gemetar,
Setidaknya aku tidak lagi bersembunyi.

