Tempat dimana cerita-cerita pendek dipilih dan dibagikan kepada kalian
Hari
Hari
Cipt. Deni Haryanto
Bulan muda telah lahir, sebagai penanda akan datangnya hari baru yang fitri. Sang fajar menyiram lembut dedaunan yang di tutup embun, embun yang mengepul rindu dan suka cita akannya, layaknya dapur, yang terus berasap untuk menyambut lahirnya bulan muda penanda hari yang fitri itu. Sejak malam, suara gema takbir bersautan dari satu masjid ke masjid lainnya, menyatukan hati dan pikiran satu tujuan untuk kembali fitri, kembali menjadi diri yang bersih tanpa ada noda yang menempel didalam hati ini.
Ku kunjungi setiap rumah, kusambangi setiap insan yang ada di sekitarku. Meskipun begitu, didalam bulan yang suci ini ternyata masih ada noda membandel yang bersembunyi di sela-sela hati manusia, sebuah noda yang selama bertahun-tahun di biarkan begitu saja dan lama kelamaan noda itu terus menyebar dan susah di hilangkan meski dengan pemutih di bulan yang suci ini.
***
Setelah menghabiskan mangkok ketiga dari santapan empal gentong, aku kembali beranjak untuk mengisi ulang mangkok ku ini.
“ya ampun, Tong, eling! Istighfar! Jangan aji mumpung,” ucap nenekku ketika melihat diriku kembali lagi untuk mengisi mangkok besar yang sudah kosong ini.
Mendengar perkataan nenek, akupun hanya bisa tersenyum seraya berucap
“empal buatan nenek, memang paling uenak! Makanya aku sampai tambah terus” Sambil tertawa kecil.
“kalau enak, ya Alhamdulillah, tapi ya kamu harus sadar, kita harus berbagi ke tetangga-tetangga yang lain,” ujar nenekku sembari mengisi kembali mangkok ku.
“tetangga ya? Hmmmm, untuk apa berbagi dengan orang yang tidak mau berbagi ke sesamanya sendiri,” ucapku, sambil diam-diam mengambil potongan lontong yang sudah nenek potong-potong.
“ini nih, generasi muda saat ini. Memang sudah banyak sekali racun yang menumpuk didalam dirinya,” ujar nenek ku, setelah menjauhkan potongan lontong dari hadapanku.
“hm? Racun? Emangnya kenapa dengan racun?” kataku.
“ya racun, racun yang ada di dalam hati yang membuat pikiran kamu itu menjadi enggak karuan seperti ini,” kata nenek.
“diri kita itu, ibarat sebuah gentong atau kendi atau apalah penyebutannya, yang semestinya kita rawat sendiri gentong atau kendi itu. Selain di rawat, kita juga yang menentukan mau di isi apa gentong ini. Di isi makanan lezat kah seperti Empal ini, di isi air yang bisa meredakan dahaga kah, atau bisa saja kamu memilih lumpur, dedaunan, dan reranting untuk di masukkan kedalam kendi diri ini,” lanjutnya.
“dih nenek mah, ada-ada aja, mana mungkin ada orang yang ngisi kendinya dengan lumpur, dedaunan ataupun reranting, memangnya mau diapakan lumpur, dedaunan, dan reranting itu? Dan kenapa harus lumpur, dedaunan, dan reranting yang menjadi contohnya?” tanyaku.
“oalah cucu nenek, nu bager nu kasep. Lumpur, dedaunan, dan ranting itu adalah ibarat penyakit hati yang bersarang didalam hati setiap manusia, kan tadi nenek bilang kalau kendi itu layaknya diri kita kan? Nah kalau tadi lumpur, dedaunan, dan reranting itu adalah penyakit hati, dan si lumpur dan kawan-kawan itu dimasukkan kedalam kendi yang ibarat diri kita itu, jadinya apa?” tanya nenek.
“jadi kotor kendinya,” ucapku
“pinter. Ya begitu dengan banyaknya hati manusia yang ada sekarang ini, karena sudah terlalu banyak penyakit hati yang menumpuk didalam kendi maka jadinya susah hilang. Meskipun sudah dibersihkan berkali-kali tetap saja masih ada sisa kotoran membekas yang akan menempel disitu, makanya kendi diri kita itu harus di jaga dengan baik dan benar. Supaya penyakit-penyakit hati itu tidak terus menerus menumpuk didalam kendi, lalu kita juga tahu mau dimanfaatkan seperti apa kendi ini, baik dari dalam maupun dari luar, mau di letakkan dimana kendi ini? Mau di warnai apa kendi ini? Itu semua kita sendiri yang mengaturnya” jelas nenek.
“sudah nanti lagi ngobrolnya, nah sekarang antar ini ke rumah Bu Carsih, sekalian ambil titipan nenek darinya,” pesan nenek, lalu meninggalkanku bersama dengan semangkok empal hangat yang siap untuk di antar ke rumah Bu Carsih.
“loh empal gentong punyaku mana nek? Perutku sudah keroncongan lagi ni,” rengekku.
“antar dulu, baru nanti nenek buatkan yang paling spesial,” balas nenek.
Dengan langkah yang gontai maka aku turuti permintaan nenek untuk mengantar semangkok empal gentong ini kepada tetangga. Namun, setelah beberapa langkah aku berjalan menjauhi dapur rumah nenek, ada seseorang yang berlari sambil berteriak mengejar diriku, aku yang keherananpun diam memandang seseorang yang berlari kearahku itu.
“pisau. Pisau itu mau kau gunakan apa?” ucap seseorang itu dengan nafas menderu.
“oh ini, mau aku kasih ke tetangga. Nenek yang nyuruh tadi,” kataku
“Ya Allah, Joel. Nenek sudah enggak ada. Sadar Joel, sadar. Nenek sudah enggak ada Joel, dan aku Samsul kakakmu disini untuk mengawasi dirimu yang selalu menganggap nenek masih ada,” ucap seseorang, yang ternyata ia kakak lelakiku.
“jadi nenek sudah tiada?” suaraku tersedat.
“iya, Joel. Nenek sudah wafat,” ucap kakakku.
Langsung seketika semua ingatan dengan nenek yang kucintai kembali hadir di depanku, nenek yang malang telah berakhir hidupnya akibat penyakit asma akut yang telat ditangani. Kematian nenek memanglah menyakitkan bagiku yang sangat menyayangi dirinya, tetapi yang membuat diriku makin merasakan sakit di hati ini ialah, ketika para tetangga yang mana anak-anak kandung dari nenekku tidak hadir di saat nenek menginginkan anak-anaknya ada di sisinya.
Saat itu aku berpikir mungkin saja mereka semua sedang sibuk akan kerjanya masing-masing, tetapi yang membuat aku tak habis pikir ialah saat hari ketiga nenek wafat, para tetangga (anak-anaknya itu) berbondong-bondong datang untuk berbincang mengenai harta warisan sang nenek.
Ada yang sampai bawa penegak hukum untuk mengurus hal itu, ada juga yang cekcok antar saudara karena pembagian warisan yang berat sebelah dan berbagai macam respon lainnya yang ditunjukan saat itu. Mereka tidak pernah sadar akan apa yang mereka lakukan. Yang ada didalam pikiran mereka ialah hanya harta warisan belaka, yang menyebabkan sebuah perpecahan antar saudara.
Kini aku sadar akan semua yang akan aku lakukan, dengan sebuah pisau yang ada di tanganku ini, agar sebuah kedamaian tercipta. Aku kasihan pada nenek yang sudah terbaring kaku didalam tanah mengharapkan cahaya doa dari anak-anaknya, sedangkan sang anak sudah melupakan hal itu dan sedang sibuk akan harta yang menyebabkan perpecahan didalamnya.
***
Kuedarkan pandangan ini, sampai akhirnya mataku tertuju kepada putra sulung nenek yang sedang sibuk berdebat dengan adik-adiknya akan sebuah harta warisan. Kuperkecil jarak secara perlahan hingga tak ada yang menyadari bahwa diriku telah berada tepat di belakang putra sulung nenek, kuhela nafas perlahan lalu kutancapkan pisau ini tepat dileher anak sulung nenek. Pisau yang menancap tepat di urat nadi itu membuat pancaran darah segar mengalir deras, darah itu terus mengalir membasahi tubuh si putra sulung nenek, warna merah pekatnya terus mengalir hingga tercipta sebuah kubangan darah segar dengan bau yang menyengat akannya.
Situasi semakin tak terkendali, semua orang berhamburan keluar dari kediaman sang nenek, teriakan-teriakan saudara yang lain menjadi latar belakang situasi yang terjadi. Guratan senyum tercipta di wajahku, sebuah rasa puas tercipta akannya, terbayang didepanku nenek sedang tersenyum serta menangis melihat hal ini, kemudian kupandangi putra sulung nenek yang sedang berkubang didalam darah itu. Ia yang tak lain tak bukan ialah ayahku sendiri.
21 Maret 2023
Deni Haryanto, email haryantodeni121748@gmail.com ,lahir di Jambi, 12 Maret 2004, kini saya tinggal di Desa Cilaja Dusun Pahing Kecamatan Kramatmulya, 088274254802, id IG haryantodeni121748 saya memulai hobi membuat karya sastra ini ketika saya dikelas 9 Sekolah Menengah Pertama, semasa Madrasah Aliyah di MAN 2 KOTA JAMBI saya mengikuti ekskul Sanggar Seni Teater Alief dan di situ semua imajinasi tersalurkan hingga sekarang, meskipun banyak halang rintang yang saya hadapi tetapi saya sangat menikmati bergelud didalam dunia sastra ini.
JAMBI: MEMOAR, MORAL, DAN MEDITASI
Dia telah datang. Dosa-dosa yang selama ini mengintai dari kejauhan. Dosa- dosa yang menunggu kesadaran tuannya terhadap apa yang telah dilakukan. Sekali lagi, dia menyadarkan bahwa tuannya masihlah manusia yang kaya akan keegoisan dan keserakahan. Sekali lagi, dia memanggil ingatan yang terusir oleh kesenangan dan pemikiran yang enggan terkekang kewajiban.
“Jambi” satu kata yang terlihat, terbaca, dan terdengar pada pagi ini. Satu kata yang menghadirkan gelisah, ketakutan, dan penyesalan. Satu kata yang merobek kelopak mata dan membelah keyakinan.
“Aku, apakah aku adalah benar? Atau aku adalah salah?” tanya logika kepada rasa yang terguncang.
“Aku tidak tahu. Jangan todong aku dengan kebingunganmu!” jawab rasa marah.
“Kenapa kau lepas tangan begitu? Bukankah kau yang meyakinkanku untuk angkat kaki dari sana?!”
“Jadi, sekarang kau menyalahkanku? Bukankah kau yang berpikir bahwa tak ada celah untuk kita menjadi lebih baik lagi di sana?”
“Ya, aku mengakui bahwa itu adalah aku. Aku yang menggagas ide untuk
lari dari tempat itu, tetapi kau harus ingat satu hal. Kegelisahan yang kau bangun adalah akar masalahnya.”
Logika dan rasa saling menyerang. Mereka mencari celah dalam argumen- argumen yang menguap di udara. Mencari siapa yang sebenarnya salah atau mungkin siapa yang bisa untuk disalahkan. Itu bukan sesuatu yang mudah. Tidak, mungkin lebih tepat jika dikatakan itu hal yang percuma. Sebab, mereka adalah kesatuan dari tuannya yang telah menghardik bahwa dirinya salah.
Dahulu, seandainya saja tidak pergi. Mungkin moral di sana tidak akan terinjak, tradisi tidak akan ada yang hilang, dan pendidikan tidak hanya akan jadi sekadar formalitas. Sungai tidak akan mungkin ternoda, hutan tidak akan mungkin tumbang, dan jalanan tidak akan melahap jiwa. Mungkin, mungkin, dan mungkin.
Kini, hanya mengandai-andai yang bisa dilakukan. Sama seperti dahulu, ketika kaki hendak diangkat dan dijatuhkan di tanah orang. Mengandai-andai bahwa hidup bisa menjadi lebih baik, lebih dihargai, lebih dihormati, dan lebih mentereng. Bedanya, apa yang diandaikan masa itu semua benar telah terjadi. Sementara, yang kini hanyalah sebuah dopamin.
Kembali lagi pada pagi ini, ketika Jambi menjadi topik dalam pemberitaan. Aku bisa melihatnya. Tanah kelahiran yang kini tiada lagi kukenal. Teman perjalanan yang kutinggalkan karena keegoisan dan keserakahan seorang bujangan. Gudangnya kenangan dan penyesalan yang akan kubawa hingga liang lahat.
Ketika aku melihat Jambi, tergambarlah dengan jelas dosa-dosaku yang telah melarikan diri. Lari dari tanggung jawab sebagai bagian dari generasi, yang seharusnya menjaga moral, menyambung tradisi, dan menjadi seorang pendidik. Kutinggalkan tanggung jawab itu untuk menggapai kehidupan yang lebih mulia, menaikkan derajat silsilah, dan mendapatkan afirmasi dari isi dunia.
Pada akhirnya, kuteguk sesal itu, kulahap dosa-dosaku, dan kuyakinkan bahwa aku tidak bersalah. Aku juga manusia, aku makhluk yang sombong, serakah, dengki, penuh amarah, bernafsu, rakus, dan malas. Bukan hanya aku yang ada di dunia, bukan hanya aku yang lahir di sana, dan bukan hanya aku yang seharusnya kau nistakan.
Jambi adalah bagian dari dunia. Tempat di mana manusia dihukum dan diperintah memimpinnya. Dan sebagai seorang pemimpin, sudah sewajarnya seluruh umat manusia bertanggung jawab atas kerusakannya.
Mendalo, 25 Oktober 2023
Penulis: Ridho Amanta Rajak seorang guru muda
Rampung
Malam itu, bintang-bintang yang menghias langit nampak tidak ada, udara dingin menusuk tubuh, dan gambaran malam itu terasa sepi, hening, dingin. Berjam-jam aku memandangin jalan raya yang macet dan juga langit malam, entah apa yang dipikirkan orang-orang di dalam mobil yang terkena macet ini.
Kututup malam itu dengan meminum kopi yang telah kubuat sedari tadi. Esnya sudah mencair, pertanda bahwa ia tak pernah disentuh oleh pemiliknya.
Aku kunci pintu koridor, lalu kurebahkan tubuhku di kasur, dan diam-diam aku memandang apartemen, membiarkan diriku merenungi masa lalu sekali lagi.
Sepuluh tahun yang lalu, aku adalah remaja perempuan yang bahagia memiliki seorang ayah yang menjadi pahlawan di rumah dan seorang pekerja keras di kantor, serta seorang Ibu yang sangat menyukai segala jenis makanan. Makanan yang aku sukai juga termasuk dalam daftar masakan buatan Ibu.
Tetapi, semenjak Ibu mengidap penyakit, ia jarang memasak, dan aku tak bisa lagi menikmati makanan khas seperti nasi gudeg dan kue lapis. Sebanyak apapun kue lapis yang ku beli di luaran sana, tidak ada yang mampu menggantikan rasa cinta dalam masakan khas Ibu.
Siang itu, aku dipanggil oleh wali kelas. Aku merasa kebingungan, tak menemukan kesalahan apapun dari diriku. Ibu Mina, wali kelasku, mengelus kepalaku dengan lembut, menghela nafas sebelum mengucapkan kalimat yang membuat tubuhku terkujur kaku.
“Biru, sayang, yang sabar ya. Ibumu meninggal. Jangan menangis. Ayok, ibu hantarkan ke rumah.”
Aku terdiam, tanpa ekspresi yang bisa kusalurkan ke wajahku. Di rumah, semua orang berkumpul, termasuk tetangga dan keluarga besar ayah dan ibu. Tenda-tanda didirikan, karangan bunga diletakkan, orang-orang melihatku dengan tatapan menyedihkan. Sungguh aku tak suka.
Ruang tamu yang biasanya yang selalu ada wujud Ibu, sekarang hanya sekedar tubuh yang terkujur kaku.
Malamnya, diadakannya doa untuk mendoakan ibu, aku yang satu-satunya anak di dalam keluarga harus pura-pura teguh, karena kalau aku menunjukkan air mata mungkin ayah akan ikut sedih. Ayah seperti kehilangan setengah dirinya malam itu, dengan tatapan matanya kosong.
Tujuh bulan setelah Ibu meninggal, aku menyadari bahwa aku keliru. Ayah hanya kehilangan setengah dirinya selama tujuh bulan tersebut. Setelah itu, Ayah menikah dengan seorang wanita yang tidak kukenal. Saat itu, pernikahannya sudah berlangsung selama tujuh bulan, dan Ayah kembali menjadi dirinya seperti dulu. Tatapannya tidak lagi kosong, dan ia dapat menunjukkan senyumnya. Aku merasa melihat Ayah seperti itu, tetapi sekaligus merasakan sakit hati menyadari fakta bahwa Ayah hanya membutuhkan waktu tujuh bulan untuk melupakan Ibu.
Ayah menyuruhku memanggil Ibu, ucapan yang seharusnya ku berikan kepada almarhum ibuku, malah kuberikan kepadanya, istri ayahku.
Selama itu, aku tidak pernah menganggap istri ayahku sebagai Ibu. Dia selalu memberikan pendekatan kepadaku seperti membelikan barang-barang mewah atau memasak makanan favoritku. Meskipun masakan yang dibuatnya enak, tetapi ada yang kurang.
Hari itu, pertama kalinya aku mendengar lagi suara itu setelah setahun tidak pernah mendengar instruksi untuk bangun.
“BIRU! AYO, BANGUN SEKARANG SUDAH JAM TUJUH, KAMU MAU TELAT?”
Suara yang sangat aku sukai, aku berharap bahwa yang membangunkanku adalah ibu, dan pasti aku semangat, tetapi itu bukan Ibu, meskipun suaranya sedikit mirip nadanya sama, seolah-olah aku dipanggil oleh Ibu.
“BIRU…”
“BRAKKK…”
Aku keluar dari kamar sambil sedikit membanting pintu. Ibu terkejut, tetapi aku pura-pura tidak melihatnya.
“Biru, kamu mau makan nasi gudeg buatan Ibu? Ibu juga buat kue lapis kesukaan kamu…”
Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, aku segera turun ke bawah dengan pura-pura tidak tahu bahwa di meja makanan kesukaanku sudah tersedia dan kue lapis yang sangat-sangat kucintai. Ini sudah berlangsung selama tujuh bulan, namun demi harga diriku, aku memilih untuk tidak menyantap apa pun yang ada di meja.
Aku berangkat ke sekolah bersama dengan ayah menggunakan mobil kijang kesayangannya yang sering dianggap anak kedua. Perjalanan dari rumah ke sekolah tanpa pembicaraan apa pun hening yang menyisihkan.
Setibanya di sekolah, aku bertemu dengan Senja yang tiba-tiba berkata, “Biru, ahhhh, aku kangen banget sama kamu. Padahal gak ketemu dua hari, tapi rasanya kangen banget melebihi kekasih daripada pacar.”
Mendengar kata-kata dramatis Senja, seakan-akan aku adalah pacarnya yang tidak masuk sekolah karena sakit, membuatku tertawa terbahak-bahak.
Aku, Senja, hujan, dan laut beriringan menuju ke kelas. Hari itu, semuanya seperti biasa, dengan pelajaran fisika yang menyebalkan, kantin sekolah yang dipenuhi oleh manusia kelaparan, dan kelas yang terasa berisik seperti seolah tidak ada orang hidup di sekitarnya.
Kring… kring… Bunyi bel pulang berdenting, dan seperti setiap hari, aku dan Senja selalu pulang bersama sejak ayah diangkat menjadi manajer dan menjadi sibuk, sehingga tidak memiliki waktu untuk menjemputku.
Namun, sebelum aku memilih pulang bersama Senja, ayah memberikan opsi kedua yang pasti tidak akan ku setujui, yaitu pulang bersama ibu. Di rumah, aku mencoba untuk menghindarinya. Bagaimana mungkin selama tiga tahun aku harus pulang bersama dengannya? Hanya membayangkan itu saja sudah membuatku merasa frustrasi. Aku tahu aku bersifat kejam, tetapi rasanya aneh jika aku terlalu baik kepadanya.
Setelah sampai di rumah kepalaku di isi dengan masa lalu. Aku menutup sekujur tubuh dengan selimut -, berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya. Masa lalu adalah masa lalu; sekarang aku berbeda dengan yang dulu.
***
Suara alarm mengacaukan ketenangan malam. Dengan buru-buru, aku keluar dari selimut yang telat menghangatkanku semalaman. Kamar mandi menjadi tujuanku pertama. Setelah selesai mandi, aku menyiapkan makanan untuk diriku sendiri. Tak ada lagi orang yang memasak untukku. Seandainya dulu aku bukanlah seorang pengecut. Pasti sekarang, aku tak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk menyiapkan semuanya sendirian.
Matahari sudah terbit dari tempat tidurnya dan aku bersiap untuk keluar. Hari-hari yang telah lama aku nantikan datang. Hari dimana aku bisa berdamai dengan diri sendiri. Gedung-gedung tinggi, kemacetan, dan populasi gambaran kota itu terlihat di siang hari. Aku menghentikan mobil di depan tempat pemakaman umum.
Angin sejuk yang ku hirup yang juga menghiasi pemakaman, dengan pohon-pohon yang rindang, menciptakan keadaan sunyi yang cocok untuk peristirahatan terakhir. Aku menuju sebuah makam yang terletak di dekat pohon beringin, dua gundukan tanah yang bunga-bunganya segar dan juga ada jejak air. Aku memastikan siapa yang menaruh bunga itu dan membersihkan akar-akar, lalu selesai dengan berziarah dengan cepat.
Kemudian, aku kembali menyalakan mobil berniat untuk ke tengah kota, tapi aku melihat ke rumah masa kecilku yang mengukir kenangan. Pagarnya yang terbuka sedikit membuatku langsung masuk, meskipun tidak ada siapa-siapa di pekarangan rumah. Pertama kali aku menginjakkan kaki di sini membuatku yakin bahwa tumbuhan-tumbuhan ini pasti dirawat dengan baik, seolah-olah seperti anak oleh pemiliknya.
Dari belakang terdengar suara air di belakang dan ketika aku melihatnya, ternyata ada seorang yang dulu tidak aku hargai lagi, yaitu Ibu tiriku, ia tengah menyiram tanaman-tanaman yang terlihat sehat. Orang itu tidak sadar atas kehadiranku. Aku memeluknya dari belakang, dia terlihat biasa saja dan dia menebak-nebak siapa yang memeluknya.
“Hmmm, ini siapa ya?” tanyanya.
Kujawab, “Hayo, siapa?”
Dia menjawab sambil memelukku, “Pasti anak ibu yang paling cantik, ya, Biru.”
Mendengar dia mengatakan dirinya sendiri ‘Ibu” aku menjawab lagi, “Iya, Ibu, ini Biru.”
“Biru, anak ibu yang paling suka kue lapis dan nasi gudeg, sekarang sudah besar tambah cantik lagi,” puji Ibu.
Tuturan mengenai makanan kesukaan membuatku menjadi tertawa, ternyata Ibu masih ingat akan itu.
“Kamu terlihat sangat kurus,” katanya sambil melihat tangan dan tubuhku. “Ayo makan dulu di sini, ibu kebetulan masak kue lapis dan nasi gudeg.”
“Iya, boleh kebetulan aku juga lapar.”
“Ayok, makan banyak-banyak, kalau bisa dibungkus.” Sambil berjalan menuju rumah dia bertanya. “Biru kesibukannya apa aja, hari Jum’at begini gak kerja?”
“Boleh-boleh, Bu. Biru lagi sibuk sama pasien-pasien, sekarang membludak karena COVID. Kebetulan juga hari ini Biru cuti, untuk jenguk malam ibu dan ayah.”
“Ohhh gitu. Jaga kesehatan, Biru. Sekarang jaman COVID, kalau hari ini Biru cuti, mau nggak tidur disini? Ibu kangen sama Biru.” Ibu bicara sambil matanya berkaca-kaca.”
Aku menjawabnya dengan yakin, “boleh, Ibu, boleh. Apapun yang Ibu mau, Biru akan lakukan sekarang.”
Ibu memeluk Biru dengan kuat dan mencium pipi Biru. “Seperti mau pergi jauh saja, aku susah nafas kalau begini terus,” kataku dengan suara yang sesak karena pelukan Ibu.
Setelahnya, Biru menikmati kue lapis dan nasi gudeg dengan semangat. Mungkin kue lapis ibu bukan yang pertama kali dicoba oleh Biru, tetapi menjadi yang terenak. Mendengar yang Biru ucapkan, ibu tersenyum lega, seolah-olah perasaan yang telah dibungkam sedari lama berhasil dileburkan.
Penulis: Rahel bersekolah di S
MP 2 Kota Jambi
