Tempat dimana cerita-cerita pendek dipilih dan dibagikan kepada kalian
Di Balik Pintu Rumah
Ditulis: Dhea Larasati
Dela selalu menganggap bahwa dunia luar adalah panggung teater dan dia adalah aktor yang tak pernah bisa lepas dari perannya. Senyum cerah, tawa kecil, dan kata-kata penuh semangat selalu ia suguhkan untuk orang-orang di sekitarnya. Mereka menganggapnya bahagia, tetapi hanya Dela yang tahu betapa gelapnya hatinya. Setiap malam, kamar Dela menjadi saksi bisu penderitaannya. Suara bising pertengkaran Ayah dan Ibunya menjadi melodi yang terus menghantui.
Sejak kecil, Dela terbiasa mendengar suara keras dari ruang tamu rumah mereka. Ayahnya yang tinggi besar itu sering meninggikan suara, sementara Ibu yang biasanya tenang hanya bisa menangis terisak-isak, terkadang tanpa bisa bicara sama sekali. Mereka tidak pernah bertengkar tentang hal-hal yang besar. Biasanya soal uang, pekerjaan, atau kebiasaan Ayahnya yang sering pulang malam. Namun, semua itu cukup untuk menghancurkan hati Dela.
Suatu malam, Dela berdiri di balik pintu kamar, mendengar pertengkaran mereka.
“Apa yang aku lakukan salah, Nesi? Aku bekerja mati-matian untuk keluarga ini, tapi kamu selalu menyalahkanku!” bentak Ayahnya, suaranya bergema di seluruh rumah.
Ibu menjawab dengan suara gemetar, “Kamu pikir aku tidak bekerja? Aku yang menjaga rumah ini, membesarkan Dela sendirian. Kapan terakhir kali kamu bicara baik-baik denganku?”
“Jangan mulai lagi! Aku sudah cukup lelah!” Ayahnya membanting gelas ke lantai, pecahannya berserakan.
Dela menutup telinga, air mata mengalir deras, sebelum berlari kembali ke tempat tidur dan menangis hingga tertidur.
Keesokan harinya di sekolah, Dela selalu memberikan wajah cerianya. Teman-teman Dela sering memuji keluarganya yang terlihat sempurna. Ayahnya selalu hadir di acara sekolah dengan jas rapi, ibunya tampil anggun dengan senyuman. Tidak ada yang tahu rahasia di balik pintu rumah mereka.
Saat istirahat Dela duduk di kantin bersama teman-temannya. Sarah, teman baiknya yang tersenyum lebar dan berbicara dengan antusias.
“Dela, aku dengar Ayahmu akan datang lagi ke acara hari keluarga minggu depan, kan?” tanya Sarah.
Dela tersenyum tipis, “Iya, Ayahku pasti datang.”
“Wah, keluarga kamu pasti bahagia banget ya. Orang tuamu selalu hadir setiap acara di sekolah, aku iri,” ujar Sarah penuh kekaguman.
Dela hanya tersenyum, meski hatinya terasa hampa. Dalam pikirannya, ia hanya bisa membayangkan gelas yang pecah semalam.
Setelah pulang sekolah, Dela merasa lelah. Bukan hanya karena pelajaran yang penuh tugas, tetapi juga karena ketegangan yang mulai merayapi rumah mereka. Di ruang tamu, Ayahnya sedang duduk di kursi dengan wajah murung, sementara Ibu di dapur terlihat seperti menghindar dari sesuatu.
Dela duduk di meja makan dengan perasaan kosong. Ayah dan Ibunya hanya saling diam. Ayahnya memegang sendok, terus memainkannya tanpa berbicara. Ibunya hanya menatap ke luar jendela, tampak tidak tertarik dengan apapun.
“Dela, hari ini baik-baik saja kan di sekolah?” tanya Ayahnya, akhirnya membuka percakapan setelah lama diam.
Dela menatap Ayahnya dengan hati yang berat, namun mencoba tersenyum. “Iya, Ayah. Semua berjalan lancar.”
“Bagus,” jawab Ayahnya pelan, lalu kembali menundukkan kepalanya.
Dela ingin sekali bertanya, mengapa Ayah dan Ibu selalu bertengkar. Kenapa mereka tidak bisa menjadi seperti keluarga teman-temannya yang terlihat selalu bahagia? Tapi dia tahu, pertanyaan itu tidak akan pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Malam itu, Dela kembali mendengar suara Ayah dan Ibu bertengkar. Kali ini, suara Ayahnya semakin meninggi. “Apa kamu tidak pernah puas, Nesi? Aku kerja sampai hampir rubuh, tapi di rumah hanya dapat omelan!” bentak Ayahnya.
Ibunya, dengan suara lebih berani dari biasanya membalas, “Dan aku? Aku di sini mencoba bertahan dengan semua kekacauan yang kamu bawa pulang! Kamu pikir ini mudah?”
“Diam, Nesi!” Ayahnya menampar Ibunya. Dela yang mendengar itu, berlari keluar dari kamarnya.
“Ayah, berhenti!” teriak Dela dengan air mata mengalir. “Apa Ayah tidak lihat? Ibu sudah cukup terluka. Aku juga terluka! Kenapa Ayah terus melakukan ini? Apa keluarga kita tidak berarti buat Ayah?”
Ayahnya terdiam, tangannya yang terangkat gemetar. Mata suramnya menunduk, sementara Ibunya memeluk Dela erat, menangis ranpa henti.
Setelah keadaan sedikit reda, malam itu, untuk pertama kalinya, Dela memberanikan diri berbicara dengan Ayahnya di ruang tamu. “Ayah, apa Ayah masih sayang sama Aku dan Ibu?”
Ayahnya menatap lama sebelum menjawab pelan, “Ayah selalu sayang. Tapi kadang Ayah tidak tahu cara menunjukkan itu. Ayah terlalu lelah.”
“Lelah? Ayah pikir aku tidak lelah? Aku harus berpura-pura bahagia di depan semua orang, padahal di rumah seperti ini. Aku ingin keluarga kita bahagia lagi, Ayah. Apa itu terlalu sulit?” suara Dela bergetar.
Ayahnya menghela napas panjang. “Ayah tahu, Dela. Ayah minta maaf. Ayah telah mengecewakan kalian. Tapi Ayah tidak tahu bagaimana memperbaiki semua ini.”
“Cobalah, Ayah. Jangan hanya bekerja untuk kami. Jadilah bagian dari kami. Aku tidak butuh uang Ayah. Aku butuh Ayah di sini, bersama kami,” ujar Dela penuh harap.
Ayahnya menggenggam tangan Dela, matanya berkaca-kaca. “Ayah akan mencoba. Demi kamu.”
Dela merasa sedikit lega, meskipun kata-kata itu tidak cukup menghapus luka yang sudah mengakar dalam hatinya. Ia tahu, luka batin itu mungkin akan selalu ada, dan perasaan kesepian yang ia rasakan takkan hilang begitu saja.
Malam-malam setelah percakapan itu, Dela merasa ada sedikit perubahan dalam dirinya. Meskipun Ayahnya sudah mengakui kekurangan dirinya, rasa sakit itu tetap ada. Setiap kali Dela menatap wajah orang tuanya, ia merasa ada jarak yang semakin besar antara dirinya dan mereka. Perasaan itu seperti bayangan yang mengikuti seiap langkahnya, tak pernah benar-benar hilang.
Pagi itu, Dela bangun lebih awal dari biasanya. Ia duduk di meja makan, menatap secangkir susu yang masih penuh. Ayah dan Ibu belum turun dan rumah mereka terasa lebih sepi dari biasanya. Hanya ada suara jam dinding yang berdetak pelan, mengikuti ritme kehidupan seakan berjalan tanpa tujuan. Dela merasa terjebak dalam kesunyian ini, meskipun di luar sana dunia terus berputar.
Ketika ayahnya akhirnya muncul, Dela hanya menyapa dengan pelan. “Selamat pagi, Ayah.”
“Selamat pagi, Dela,” jawab Ayahnya, namun nada suaranya tidak seramah biasanya. Ada ketegangan yang masih tersisa dari percakapan mereka malam itu.
Ibu datang beberapa menit setelah itu, membawa secangkir kopi. Ia tampak lebih tenang, meskipun Dela bisa melihat ada kelelahan yang masih tergambar di wajahnya. Ibu duduk di meja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mereka semua duduk diam, masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri.
Dela akhirnya memutuskan untuk berbicara lagi. “Ibu, Ayah, aku ingin kita menjadi keluarga seperti dulu lagi. Aku tahu kalian berdua sedang menghadapi banyak hal, tapi aku merasa kita semakin jauh. Aku ingin kita bisa saling mendengar dan berbicara dari hati.”
Ayah menatap Dela, tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata, “Kami berusaha, Dela. Kami berusaha sebaik mungkin. Tapi, semua ini tidak semudah yang kamu pikirkan.”
Ibu menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya di kursi. “Dela, kami tahu ini berat untukmu. Tapi kamu juga harus mengerti, hidup tidak sesederhana itu. Ada banyak tanggung jawab yang harus kami pikul.”
Dela mencoba menahan air matanya. “Tanggung jawab itu penting, aku tahu. Tapi apa kalian tidak melihat bagaimana keluarga kita semakin hancur? Aku hanya ingin kita kembali seperti dulu.”
“Kami punya cara masing-masing untuk menghadapi semua ini, Dela” ujar Ibunya.
Hati Dela terasa remuk. Ia menatap kedua orang tuanya, mencoba mencari sedikit harapan, tapi hanya menemukan tembok tinggi yang tak dapat ia runtuhkan.
“Jadi, kalian lebih memilih bertahan dengan ego masing-masing daripada mencoba memperbaiki semuanya? Aku sudah mencoba. Aku benar-benar sudah mencoba.”
Ayah memalingkan wajah, sementara Ibu hanya menunduk, tak berkata apa-apa. Sunyi menyelimuti ruangan, menyisahkan Dela dengan kepedihan yang tak lagi bisa ia ungkapkan. Akhirnya, ia berdiri dan berkata pelan, “Aku menyerah. Mungkin memang aku yang selalu berharap terlalu banyak.”
Dela pergi meninggalkan orang tuanya. Namun, perasaannya begitu kuat bahwa keluarganya meskipun saling mencintai, tapi tetap tak mampu membangun jembatan komunikasi yang kokoh. Mereka hanya membiarkan jarak itu tumbuh begitu besar, sementara mereka terus saling berusaha untuk mempertahankan peran mereka masing-masing.
Hari-hari berlalu, Dela merasa hidupnya tetap dalam ketidakpastian. Di sekolah, dia berusaha untuk tetap tampil sempurna, meskipun hatinya terus berontak. Setiap kali teman-teman memujinya atau menganggap keluarganya sebagai keluarga yang bahagia, Dela merasa ada luka yang semakin membesar. Mereka tidak tahu bahwa di balik tawa ceria itu, ada hati yang terluka.
Suatu sore, Dela duduk di taman dekat sekolah, sendirian. Ia menatap langit yang mulai berwarna jingga, merasakan angin sore yang menyejukkan. Ia berpikir, apakah semuanya akan selalu seperti ini? Apakah ia akan terus membawa beban ini sendirian? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya dan ia merasa lelah.
Sarah, teman baik Dela datang dan duduk di sampingnya. “Dela, kenapa kamu tampak begitu murung?” tanya Sarah, matanya penuh kekhawatiran.
Dela mencoba tersenyum, tetapi senyum itu terasa pahit. “Aku baik-baik saja, Sarah. Mungkin hanya terlalu lelah akibat banyak berpikir.”
Sarah menatapnya dalam-dalam, tak membiarkan Dela menyembunyikan dirinya. “Dela, kamu tahu kan, kamu bisa cerita apa saja ke aku? Aku di sini.”
Dela menghela napas panjang. “Sarah, kadang aku merasa seperti berdiri sendirian di tengah kekacauan. Aku ingin percaya kalau semuanya akan membaik, tapi rasanya aku cuma berlari di tempat. Mereka sibuk dengan diri mereka sendiri dan aku? Aku bahkan tidak tahu harus percaya pada siapa.”
Sarah meraih tangan Dela dan menggenggamnya erat. “Dela, tidak apa-apa merasa lelah. Hidup itu penuh dengan ketidaksempurnaan dan itu tidak apa-apa, tapi itu bukan berarti kamu harus kehilangan dirimu. Kamu berhak bahagia, bahkan di tengah semua ini.”
“Aku ingin hidup yang lebih baik, Sarah. Aku ingin bisa berbicara tanpa merasa ada yang menghakimi. Aku ingin bisa merasa bahagia tanpa harus menyembunyikan rasa sakitku.”
Air mata Dela mulai menggenang, tapi ia menahannya. “Aku cuma ingin sebuah rumah yang terasa seperti rumah, Sarah. Tempat di mana aku bisa bicara tanpa merasa tidak didengar. Tempat di mana aku tidak perlu pura-pura bahagia setiap saat. Tapi sekarang, aku rasa itu hanya mimpi. Mungkin, aku harus belajar menerima saja.”
Sarah memeluk Dela dengan lembut, memberikan kehangatan yang Dela rindukan. “Dela, aku tahu kamu kuat. Kadang, menerima memang tidak mudah, tapi ini tidak berarti kamu menyerah. Kamu bisa menciptakan bahagiamu sendiri, meski kecil. Jangan pernah lupa, aku selalu ada untukmu.”
Dela menutup matanya sejenak, merasakan pelukan Sarah. “Terima kasih, Sarah. Mungkin aku belum bisa sepenuhnya berdamai, tapi aku akan mencoba. Aku akan terus mencoba.”
Waktu terus berjalan dan Dela perlahan mulai menemukan cara untuk berdamai dengan segala kenyataan yang ada dalam hidupnya. Pertengkaran yang dulu membuatnya terperangkap dalam rasa sakit kini tak lagi menggerogoti hatinya. Ia tahu, keluarganya tetap seperti itu. Terjebak dalam siklus ketegangan yang tak pernah benar-benar selesai. Namun, Dela mulai menyadari satu hal yang paling penting. Ia tidak bisa mengubah mereka, yang bisa ia ubah adalah dirinya sendiri.
Dela melangkah keluar dari bayang-bayang kebahagiaan palsu yang dulu ia ciptakan untuk dunia luar. Ia mulai lebih fokus pada dirinya. Ia mendengarkan kata hati dan berusaha menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri, meskipun dunia di sekitarnya masih penuh ketidaksempurnaan.
Pagi-pagi dalam setiap harinya, Dela tidak lagi tenggelam dalam kekosongan yang dulu menguasai hatinya. Rumah mereka masih sering diwarnai oleh ketegangan antara Ayah dan Ibunya, tetapi Dela tidak lagi membiarkan itu menguasainya. Ia belajar untuk mengabaikan pertengkaran yang terus terjadi, tidak membiarkan kata-kata tajam mereka menghancurkan kedamaian dalam dirinya.
Dela tetap menjadi dirinya sendiri. Dia tidak lagi merasa harus berpura-pura menjadi orang yang sempurna untuk memenuhi harapan orang lain. Dia tetap ceria, tetap membantu teman-temannya, tetapi kali ini, dia melakukan semuanya dengan hati yang lebih ringan tanpa beban. Teman-temannya tak lagi terlalu banyak bertanya tentang keluarganya. Mereka tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu rumah Dela dan Dela merasa tidak perlu menjelaskan. Keluarganya tetap menjadi bagian dari hidupnya, namun ia tidak lagi merasa harus menjadikan mereka sebagai alasan untuk tidak bahagia.
***
Suatu sore, saat Dela duduk di taman yang sama di mana Sarah pernah berbicara dengannya, ia merasakan angin lembut menyentuh wajahnya. Namun kali ini, hatinya terasa lebih damai. Ia menyadari, bahwa ia tidak perlu lagi berlarian mencari kebahagiaan di luar sana. Kebahagiaan itu dapat ia ciptakan sendiri, meski dengan kondisi yang jauh dari sempurna. Meskipun keluarganya tetap penuh konflik, Ayah dan Ibunya tetap bertengkar, Dela tahu bahwa ia sudah cukup kuat untuk tetap berdiri tegak dan terus melangkah.
Dalam keheningan sore itu, Dela tersenyum. Bukan karena segalanya sudah sempurna, tetapi karena ia telah menemukan cara untuk berdamai dari ketidaksempurnaan. Ia mulai memahami bahwa hidup bukan tentang memiliki segala sesuatu yang sempurna, melainkan tentang menerima setiap luka dan kekurangan dengan hati yang lapang.
Malam itu, di meja makan yang sama, Dela kembali duduk bersama. Ayah dan Ibu masih terlihat kaku dan suasana tetap dingin. Dela tidak lagi merasa ada beban berat di hatinya. Dengan tenang, ia berbagi cerita ringan tentang harinya tanpa berharap lebih dari percakapan itu. Mereka saling berbicara, meskipun suasana di meja makan tetap sepi. Namun, bagi Dela itu sudah cukup.
Hari demi hari, Dela terus melangkah. Ia tidak lagi menggantungkan kebahagiannya pada hal-hal yang tidak bisa ia kendalikan. Ia telah belajar untuk mencintai diri sendiri, meski di tengah kekacauan. Kini, di balik senyum yang selalu ia tunjukkan, Dela tahu bahwa kebahagiaan sejati bukanlah tentang apa yang terlihat oleh orang lain, melainkan tentang bagaimana kita menerima diri kita dengan sepenuh hati. Dela tidak lagi berusaha menjadi sempurna, karena ia telah memahami bahwa ia cukup berharga sebagai dirinya sendiri.
Dhea Larasati, perempuan kelahiran 2004 yang akrab dipanggil Daye, adalah sosok santai yang kerap berkata “tidak apa-apa” sambil tersenyum menghadapi berbagai hal. Dengan prinsip sederhana, “Jalanin aja dulu, urusan keren belakangan,” hidupnya penuh plot twist ajaib yang dihadapinya dengan sikap “yaudah lah.”
Setangkai Bunga Mawar di Kertas Kusut
Oleh Aldi Muheldi
Melalui sepasang cincin ini, hutang-hutang yang pernah dijanjikan pada masa lalu terbayar dengan sempurna. Tuhan memperkenankan segala doa yang diungkapkan oleh seorang penyair melalui sujud dan pengabdian yang tulus. Dan pada hari ini, saat itulah kelegaan yang telah dinantikan hadir dengan penuh kebahagiaan.
Bangku taman yang basah ia lapisi dengan beberapa helai tisu, agar bokongnya tidak basah dan saat ia berdiri nanti, tidak menjadi bahan tertawaan setangkai mawar. Tisu itu ia tumpuk hingga lima lapis, memastikan air tidak meresap ke celana dan kulitnya. Barulah setelah itu dia duduk dengan pasti.
Pandangan matanya lurus binar ke depan—ada bayangan pertemuan yang dinanti membuat setiap helai daun jatuh turut mendukung akan peristiwa yang ditunggu sang penyair.
“Aku menjatuhkan setiap helai daunku, agar kau lebih memperindah setiap kata yang akan kau sampaikan.” Mungkin begitu jika sebatang pohon rindang di belakang kursi taman dapat berbicara pada sang Penyair.
Mengulas kembali waktu, memang tak ada yang benar-benar tahu hakikat pertemuan. Ketika Setangkai Bunga Mawar, entah dari mana datangnya, duduk di bangku kesayangan sang Penyair yang sedang menulis bait-bait tangis tentang hidup dan penyesalan di atas selembar kertas kusut. Karena memang di bangku yang ia tempati, hari demi hari, tak ada seorang pun yang ingin mendudukinya.
Tubuh penyair terasa kaku saat itu, seolah ada tangan-tangan yang mengikatnya dengan tali kuat dari kiri dan kanan, membuatnya tak berkutik di hadapan Setangkai Bunga Mawar yang tersenyum padanya. Senyuman itu menembus dan melekat di hatinya, membawanya ke dalam harapan dan perjalanan yang selama ini diimpikannya.
Tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun ada keyakinan dalam hatinya.
“Cinta selalu datang pada saat tak terduga dan kami sedang merasa seperti itu.” Yakin sekali sang Penyair pada saat itu, belum lagi gemericik air hujan yang mengalir dari helai-helai daun dari pohon di belakang bangku itu memberi kegembiraan dan membuat keyakinan itu bertumpuk di dalam hati. Sejak saat itu, ia mengerti bahwa tak ada namanya buah pisang berbuah dua kali.
Dengan perlahan tangannya menari bukan lagi untuk menulis bait-bait tangisan, namun menuliskan pujaan-pujaan untuk Setangkai Bunga Mawar yang menghampirinya; Seorang Penyair murah yang hadir pada musim-musim kesedihannya sendiri. Dalam tulisan yang dibuatnya, ada harum yang bernyawa dalam matanya, ada indah dalam telingannya, dan ada anggun dari mulutnya.
Pada saat tulisan sudah menjadi utuh membentuk sebuah syair, kertas kusut tetap menjadi pesan bisu yang membantu tenggelam dalam sungai yang deras. Jangankan tangan yang ingin memberikan secarik kertas kusut itu, mulut pun tak mau memberikan isyarat kata yang ada hanya gemuruh yang menghujan di kepala dan degup jantung yang berpacu dengan keinginan hati. Seorang Penyair memang pemuja, tapi bukan seorang penyampai pesan yang dibuatnya sendiri.
Sunyi sudah terlalu lama ketika derit pena mengukir tiap-tiap bait yang digunakan untuk memuja Setangkai Bunga Mawar, tapi gemuruh kepala tetap memekak petir pikiran. Sedangkan hati yang berpacu dengan jantung sudah melaju lebih dulu untuk menggerakkan tangan, hingga akhirnya Penyair memberikan kertas kusut penuh syair kepada Setangkai Bunga Mawar.
“Ini apa?,” kata Setangkai Bunga Mawar yang kaget karena Seorang Penyair yang terlalu tiba-tiba memberi kertas kusut itu.
Kemudian dibacalah syair tersebut dengan suara yang samar dari balik-balik angin. Setangkai Bunga Mawar terkesan dengan syair yang diciptakan olehnya. Hal itu kemudian juga membentuk hari-hari kehangatan yang terikat pada kasih yang terjalin dan membuat harapan serta do’a-do’a menuju jalan takdir di ujung penantian yang selama ini dinantikan. Setiap kali pertemuan yang hadir di bangku taman itu dan di situ pula tangan-tangan penyair terus tak habis-habis menciptakan pujaan untuk Setangkai Bunga Mawar.
Setiap kali pulang dari kesan yang telah terukir, kebahagiaan terasa terhias pada dinding-dinding kamar tidur seorang penyair, membentuk kolase kenangan yang terbawa hingga mengalir dalam mimpinya. Kata-kata pujian telah menjadi santapan pagi yang selalu hadir, setiap kali Setangkai Bunga Mawar datang dan duduk di samping penyair. Setelah lama, yang lebih dulu pulang selalu Setangkai Bunga Mawar, namun sang Penyair tak pernah berani mengantarnya atau menemani perjalanannya pulang. Meski begitu, itu tak menjadi masalah. Karena keyakinan tetap menjadi tameng, dan cinta yang mereka punya tak pernah luntur. Begitu mungkin kata penyair yang piawai memainkan pikirannya.
Dari balik dinding kamarnya, tergambar jelas perjanjian yang terpatri di jari Setangkai Bunga Mawar, mengenakan gaun putih yang diterpa angin beserta lemparan bunga-bunga, berdampingannya dengannya melukis senyuman bahagia. Siapa sangka, dari sekadar peristiwa kecil di atas bangku taman, sebuah perjalanan bisa menjadi simpul yang mengikat—tak pernah terbayangkan sebelumnya. Begitulah yang terlintas di benak sang Penyair, terbaring di atas kasur kerasnya, memandang langit terhubung dengan hamparan bintang yang menyambut harapan malam itu.
Namun, kiasan indah tetaplah kiasan dari seorang penyair, karena mimpi datang menyambar ingatan, sementara nafas terhela membawa renungan, dan mata kosong redup tanpa makna. Ketika dia teringat, Setangkai Bunga Mawar yang tergambar di dalam kertas kusut itu datang sebagai pujaan, terlambat menyapa lantunan yang ingin menyentuh telinganya. Namun, kata-kata itu disampaikan dengan paksa, disertai senyuman yang terjahit di atas tembok, dilapisi debu tanpa wangi.
NANTI, SAAT ANGGI TIDAK MENCINTAIKU LAGI.
Karya Raa Tsania
“Cium aku sekali lagi.”
Aw, dialog itu pasti menggambarkan reka adegan yang kedengaran indah. Kelihatan indah. Kami saling menatap seolah pernah saling mencintai. Yang kemudian lampu-lampu redup, dan aku meninggalkan studio untuk merokok. Membawa abu rokok beterbangan di gang-gang menuju supermarket.
Tak lama kemudian, Andre, si sutradara menyusul. Dia duduk di kursi yang berseberangan denganku. Aku mengabaikannya, lanjut merokok. Alasanku mengabaikan Andre adalah karena aku tidak sedang ingin diganggu siapapun. Aku tidak mau dia meneliti apa yang sedang aku pikirkan, meski boleh jadi dia hanya mau mengajakku membahas pekerjaan yang belum sepenuhnya selesai. Andre juga tidak menyapaku selagi duduk, seperti tahu jika ingin bicara denganku, dia harus menunggu.
Aku mulai tenggelam di kursi, dilahap alunan musik dari angin. Pikiranku mulai melayang jauh, memikirkan apa yang selalu aku pikirkan belakangan ini.
Ada sebuah pertanyaan besar dalam kepalaku. Pernahkah kau terlibat perasaan rumit seperti, “Aku sudah tidak jatuh cinta. Aku tidak mau mengatakannya. Aku akan mati bila aku mengatakannya.”
Kedengarannya masalahku ini sederhana betul. Aku tidak jatuh cinta lagi pada pacarku. Aku merasa bosan. Aku mau meninggalkannya.
Tapi sebetulnya tidak begitu. Aku masih mencintai pacarku, Anggi, sangat amat cinta.
Aku masih mau duduk lesehan dengannya di pinggir sungai sambil minum sekoteng dan bercerita apakah kami masih saling mencintai. Meski sejujurnya, kata cinta itu kami sembunyikan di tangan masing-masing, menutupi mereka di belakang punggung.
Namun cinta itu bercerita sendiri lewat udara dan nafas yang kami ambil. Mungkin boleh tanyakan pada udara yang masuk dan bersinggungan dengan diafragma yang banyak kupakai untuk mengatur napas. Dia pasti sudah muak mendengar curhatan oksigen yang mampur itu.
Atau barangkali tanyakan pada paru-paru yang hobi sekali mengomel karena zat racun yang dia terima setiap hari, yang membuatnya selalu mau mengamuk. Namun, dia pasti tahu seberapa Aku mencintai Anggi.
Aku pun bingung kenapa cinta itu bisa mendadak hilang. Hipotesanya, mungkin sudah terlalu banyak ruang yang ditempati pada setiap organ tubuhku. Sehingga mereka menolak, pendatang. Mengusir cinta yang begitu berharga namun justru terbuang.
Aku merasa bersalah pada Anggi karena diam-diam aku kehilangan cinta kami dari tangan yang aku sembunyikan di belakang punggung. Pada waktu luangku, aku berusaha merunut waktu untuk mencari tahu apa alasan cinta bisa hilang dengan tenggelam dalam ribuan buku perpustakaan kota. Di sana, ada banyak saran mengembalikan keharmonisan hubungan. Namun, bukan itu yang aku cari. Tidak ada satupun jawaban yang aku butuhkan aku dapatkan di dalam buku-buku panduan mencintai pasangan. Tetapi, saat aku pulang, aku tidak kembali dengan tangan kosong. Cinta sudah kembali aku genggam dan siap kutelan sewaktu-waktu aku tiba-tiba berhenti mencintai lagi. Aku sudah kembali menggenggam cinta meski belum kutemu jawabannya. Walau agak mengherankan, aku menggenggam kembali cinta itu karena membaca buku tentang anatomi manusia.
Pikiranku melayang jauh sampai kejadian dua bulan lalu. Betul, itu kejadian dua bulan lalu. Aku masih serius menghabiskan waktuku berpikir dan mengenang, sampai akhirnya Andre menepuk pundakku dan mengganggu perjalanan jauh itu. Dia mengatakan mataku memutih karena menghirup rokok yang kuhembuskan sendiri. Aku terlihat seperti orang teler.
Aku memarahi Andre karena dia mengganggu perjalanan jauhku. Aku selalu senang mengenang bagaimana aku bisa mendapatkan cinta itu kembali agar aku takkan pernah kehilangan Anggi. Tapi Andre tampak sudah tak bisa menunggu lagi, mungkin karena aku berpikir terlalu lama. Dia mendengus marah, bergebu-gebu mengumpat.
“Aku betul-betul sudah muak kerja dengan kau, Borneo. Meski aku masih butuh uang untuk makan, aku tak lagi bisa kerja bersama mayat. Aku selalu merinding setiap kali kau minta aku merekam dan syuting di studio. Aroma bangkainya sungguh mengganggu. Aku betulan takut! Mau sampai kapan kau begini??” Oceh Andre terus merutuk. Dari ocehannya, hanya ada satu hal yang aku tangkap dan ingin jawab. Sampai kapan aku begini?
“Sampai Anggi tidak mencintaiku lagi.”
Tungku
Gumpalan asap membumbung di atap rumah, asap beraroma nikmat itu telah menjalar ke seluruh penjuru rumah, sebagai penanda ada hal yang sedang dikerjakan didalam dapur menggunakan tungku dari bata tanah yang di susun dari kebahagiaan, cinta, dan keharmonisan didalam keluarga.
***
Embun di pagi hari mulai turun, diriku sudah menjalankan aktivitas yang mana sudah menjadi kebiasaan sebagai seorang ibu kebanyakan, menyiapkan sarapan serta kebutuhan anakku dan juga suamiku.
Meskipun teriakan dariku selalu terdengar di setiap pagi, tetapi itu semua aku lakukan demi kebaikan mereka juga, tak jarang canda tawa selalu kubagikan kepada keluarga kecil berhargaku ini, aku selalu melakukannnya hingga aku tidak menyadari ada berbagai macam hal yang tidak bisa aku kendalikan. Aku jadi teringat saat masa awal pernikahan kami, aku dan suamiku selalu bingung akan bagaimana nasib masa depan anak-anak kami, tetapi dari keraguan itu kami perlahan-lahan mengerti dan mempersiapkan dengan baik untuk masa depan anak-anak kami.
Aku kira sebagai ibu tidak perlu untuk menyesuaikan dengan masa pertumbuhan anak, mau dia masih kecil atau sudah besar dia tetaplah anakku dan aku akan terus menganggapnya sebagai anak kecil. Aku ingat sekali bagaimana anakku yang pertama saat dirinya pertama kali masuk sekolah, ia mengeluarkan tatapan sedih guna menahan diriku untuk pergi dari situ, dan akan menangis kencang saat aku tidak ada di hadapannya.
Serta aku juga masih ingat, bagaimana anak keduaku buang air di kelas, dikarenakan ia malu untuk izin ke toilet. Yang akibatnya kelas diberhentikan sementara dikarenakan bau yang sangat menusuk dari anakku itu. Mendapatkan kabar dari sekolah, bergegas aku bawakan pakaian ganti untuknya, lalu meminta maaf kepada walikelas atas kejadian tersebut.
Apalagi si bungsu ia sedari bayi sudah banyak sekali memakan korban, ia tak suka di sentuh orang lain. setiap ada orang lain yang ingin menggendongnya maka ia akan muntah, bahkan tak jarang ketika orang tersebut baru mau mendekat ke arahnya dia sudah muntah, yang membuat orang itu mengurungkan niatnya untuk menggendong si bungsu, aku kira hal itu adalah penyakit. Namun, anehnya ketika kakak-kakaknya, suamiku, dan diriku yang menggendongnya ia tidak menunjukan reaksi yang ia tunjukan kepada orang lain, bahkan sampai sekarang aku masih mencari jawaban atas keanehan itu.
Apapun itu, aku tetap menyayangi keluarga kecilku ini. Merekalah sumber kekuatan atas diriku. Memang menjadi orang tua tidak ada pelajaran teoritis, tetapi seiring berjalannya waktu maka sebagai orang tua, aku semakin paham akan sebuah keluarga, kasih sayang, pengorbanan, dan kekuatan keluarga.
Tiba-tiba di tengah semua kenangan itu aku disadarkan oleh sebuah tangan yang mengusap lembut pundakku yang membuatku tersadar akan semua ini.
“Emak makan ya, sudah dua hari emak tidak makan. Makan ya? Jangan sedih lagi, bapak pasti sudah tenang di alam sana” ucap anakku yang kedua.
Mendengar hal itu aku hanya bisa mengangguk lemas. Perkataannya membuatku tersadar akan situasi yang sedang terjadi sekarang ini, aku telah ditinggalkan oleh pasangan hidupku. Suamiku orang yang paling aku cinta telah mendahului diriku, orang yang selalu bisa membuatku marah dan tertawa di satu waktu, orang yang selalu romantis di setiap waktu, orang yang selalu tidak pernah bosan untuk tersenyum di depan semua orang, kini telah di panggil Sang Maha Kuasa. Aku hilang arah, tidak tahu lagi mau bagaimana.
Seperti kayu yang dimakan api, menjadikannya abu. Lama sekali aku mencoba untuk kembali ke kehidupan normal seperti sediakala, meskipun itu tidaklah mudah tetapi aku akan terus mencoba dan berusaha untuk kembali. Bukan berarti aku melupakannya, aku hanya mencoba untuk tidak terlalu larut didalam kesedihan yang berkepanjangan, aku masih mempunyai kehidupan dan aku harus menjalaninya.
Kembali seperti hari sebelumnya, aku menjalani kegiatan yang mana sudah sewajibnya seorang ibu kepada anak-anaknya, membangunkan mereka, membuatkan sarapan, menasehati mereka, memberikan apa yang terbaik bagi mereka. Namun, kini tungku yang hangat telah dingin, merasuk kedalam relung jiwa, hangus bersama semua kenangan yang telah di persiapkan. Aku ditinggalkan.
***
Sepi, sama seperti berjuta hari yang sebelumnya, aku tidak pernah ingat kapan anak-anakku datang ke rumah ini lagi. Aku selalu menunggu kembali, suara riuh canda tawa dari cucuku yang mungkin kini mereka telah dewasa. Suara riuh itu kini telah terganti dengan suara bisu dari batu, pasir, dan tungku yang berada disini menemani diriku.
Di balik atap dari daun kelapa, aku bisa melihat titik-titik cahaya jatuh di atas muka ku, menyiram kesedihan yang membisu dan membatu di dalam hati ini.
“Aku, rindu … “
Deni Haryanto, lahir di Jambi pada 12 Maret 2004, tinggal di Desa Cilaja Dusun Pahing Kecamatan Kramatmulya Kuningan Jawa Barat. Mulai menekuni sastra sejak kelas 9 SMP, terinspirasi dari ekskul teater di MAN 2 Kota Jambi. Meskipun menghadapi halangan, Deni menikmati setiap momen dalam dunia sastra.


