Tempat dimana cerita-cerita pendek dipilih dan dibagikan kepada kalian
Takdir di Ujung Pena
Aliya Noor Asiana adalah mahasiswa Pendidikan Fisika UNS, berdomisili Klaten yang gemar menulis cerpen bertema kehidupan dan spiritualitas. Saya percaya bahwa setiap kata bisa menjadi jembatan antara hati manusia dan makna yang lebih tinggi
Di kamar kecil yang penuh kertas berserakan, dengan cahaya yang hanya bersumber dari lentera kuno, Rafi menatap layar laptopnya yang menyala redup. Kursor berkedip tanpa kata, seolah menantangnya untuk menulis sesuatu, apa saja. Tetapi, jari-jemarinya tetap diam, ia tidak bisa memikirkan apa-apa saat itu.
Sudah tiga bulan ia tak menulis sejak naskah filmnya ditolak semua rumah produksi. Ia merasa kehilangan arah. “Mungkin Allah memang nggak kasih aku jalan di dunia tulis-menulis,” gumamnya lirih. Ia menarik napas panjang, dan memutuskan untuk berbaring di tempat tidur, tak lama kemudian angin bertiup kencang dan meluncur menyelimuti kamarnya melewati ventilasi kecil pada dinding-dinding, membawa aroma tanah basah ke dalam kamar, dan tiba-tiba “Trak…” sebuah pena hitam jatuh dari atas meja dan membuat mata Rafi menoleh seketika.
Rafi teringat bahwa pena itu pemberian almarhum ayahnya, seorang guru pesantren yang dulu sering berkata, “Menulis itu ibadah, Nak. Tapi jangan hanya menulis karena ingin dikenal, menulislah karena seakan-akan langit mengenalmu.”
Rafi tersenyum kecil karena mengingatnya. Dalam keputusasaan, ia mengambil pena itu dan bangkit dari tidurnya, ia lalu pergi duduk di meja belajarnya, yang sudah nampak using tapi di setiap sudutnya tersimpan jejak perjuangan bertahun-tahun dari coretan pertama hingga catatan mimpi yang kini hamper pupus entah kemana. Rafi mulai menggambil kertas yang ada di meja itu dan mulai berpikir.
“Aku nggak tahu harus mulai dari mana, tapi mungkin… aku cuma perlu menulis.”
Ia mulai menulis sebuah kisah tentang seseorang yang selalu gagal, tapi terus mencoba memahami makna takdir. Tokohnya bernama Raka, ia di gambarkan sebagai seseorang yang sangat mirip dirinya sendiri. Dalam ceritanya, Raka kehilangan pekerjaan, kehilangan cinta, lalu kehilangan semangat hidup. Namun suatu hari, Raka menemukan selembar surat bertuliskan, “Yang kamu anggap akhir, sebenarnya itu hanyalah sebuah halaman yang belum kamu buka.”
Jarum jam terus berputar, tak terasa hari sudah menunjukkan tengah malam. Rafi menulis hingga larut malam. Tapi anehnya, tangannya belum berhenti menulis. Seolah setiap kata yang lahir adalah pelararian dari sunyi, dan hanya pen aitu yang mengerti isi hatinya, setiap kalimat yang ia tulis terasa nyata. Rafi merasa bahwa semua kata-kata yang ia tulis di lembar-lembar itu sangat linear dengan apa yang baru saja dialaminya, mulai dari kegagalan sampai dimana saat ia menemukan titik cahaya dipuncak buntu pikirannya.
Rafi terdiam lama di depan layar.
“Jangan-jangan… aku sedang menulis takdirku sendiri?”, batinnya dengan rasa agak terheran-heran.
Malam berikutnya, ia melanjutkan menulis, kini dengan hati bergetar. Ia mencoba mengubah arah kisah: yang awalnya Raka hanya mengalami kegagalan yang bertubi-tubi, kini Raka mulai belajar menerima semua yang terjadi, dan Raka percaya bahwa Allah pasti akan menulis setiap peristiwa dengan tujuan tersembunyi.
Di halaman terakhir, Rafi menulis:
“Raka berhenti berdoa agar hidupnya mudah, tetapi Raka mulai berdoa agar hatinya kuat menerima apa pun yang Allah pilihkan.” Seperti yang terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 216, yang menyatakan bahwa “ada kalanya kita membenci sesuatu padahal itu baik, dan menyukai sesuatu padahal itu buruk, karena Allah yang mengetahui segalanya sementara manusia tidak.”
Begitu titik terakhir ia tulis, satu satunya sumber pencahayaan di kamar Rafi, lentera kuno di kamarnya tiba-tiba padam. Dalam kegelapan, Rafi merasakan udara hangat di sekitarnya, bukan menakutkan, tapi menenangkan. Seolah ada sesuatu yang berkata dalam hatinya,
“Kau tak sedang menulis fiksi, Rafi. Kau sedang menulis pemahamanmu tentang takdir.”
Esoknya, ia bangun dengan perasaan ringan. Ia menatap keluar jendela, melihat langit yang sama tapi terasa berbeda. Ia membuka laptop, mulai mengetik naskah-naskah yang sudah ia buat sampai larut malam, dan tanpa sadar ia menangis.
Rafi menyadari bahwa semua penderitaan yang ia tulis ternyata adalah bentuk curhatnya pada Tuhan, dan di antara baris-baris itu, ada jawaban yang ternyata Rafi butuhkan selama ini.
Bahwa takdir bukan sesuatu untuk dilawan, melainkan untuk dipahami. Karena di balik setiap peristiwa yang kita sebut kebetulan, ada tangan halus yang menuntun arah pena kehidupan. Kita menulis dengan tinta harapan, namun lembarannya sudah lama disiapkan oleh Sang Penulis Segalanya.
Beberapa minggu kemudian, ia mengirimkan naskah itu ke sebuah lomba menulis bertema “Perjalanan Jiwa.” Ia tak berharap menang. Tapi tiga bulan setelahnya, sebuah email datang: naskahnya menjadi juara pertama.
Karena sudah memenangkan perlombaan tersebut, tak lama kemudian ia di panggil untuk wawancara singkat, panitia bertanya, “Apa yang menginspirasi Anda menulis cerita ini?”
Rafi tersenyum, menatap pena tua di tangannya.
“Saya cuma menulis tentang seseorang yang akhirnya berhenti memaksa Tuhan untuk mengikuti jalan pikirannya sendiri.”
Malam hari pun tiba, ia kembali membuka buku catatan itu. Di halaman terakhir, ia menulis satu kalimat sederhana:
“Pena ini tak pernah menulis kisahku, ia hanya menuntunku kembali pada-Nya.”
Rafi menutup buku itu perlahan, tersenyum kecil, menatap langit, lalu berbisik:
“Terima kasih, Ya Allah. Ternyata setiap titik dalam hidupku memang telah Kau tulis sejak awal, jauh sebelum aku memahami arti kehilangan, keberanian, dan harapan. Aku hanya perlu belajar membacanya perlahan, dengan hati yang tenang dan jiwa yang pasrah..”
Matanya mulai berair, tersapu haru yang tak bisa dijelaskan. Tanpa berkata apa-apa, ia menarik selimut dan memutuskan untuk beristirahat malam itu.
IBU
Editor: Aldi Muheldi
Layar ponsel menyala, menampilkan seorang gadis berambut hitam tergerai, menatap ibunya jauh di seberang sana. Kecerahan layar diatur maksimal memantulkannya ke wajah sang ibu yang sedang menyunggingkan senyum keriputnya. Tidak ada atmosfer kesenduan yang mereka kirim satu sama lain, hanya senyuman damai yang memantul diantara dua dimensi.
“Halo, Bu!” Hera menyapa ditengah riuhnya gerbong kereta, namun kebisingan itu seketika redam saat suaranya terdengar oleh ibunya.
“Ibu aku kangen.” Hera masih sama seperti awal panggilan video itu dimulai, senyumannya tetap merekah.
“Ibu juga, Hera. Semoga kamu selalu sehat ya disana. Ibu disini sehat.” “Kita udah lama banget ga ketemu ya, Bu.” Hera merespon.
Di seberang layar, sang ibu menatap putrinya dengan mata yang teduh. keriput di wajahnya bukan sekadar tanda usia, melainkan peta dari segala rindu yang disimpannya selama ini. setiap senyum yang ia berikan adalah upaya untuk menyembunyikan lelah, agar Hera hanya melihat ketenangan, bukan kerinduan yang mencekik di dadanya. ia tahu, dalam setiap panggilan singkat ini, ia harus kuat—sebab hanya itu yang bisa ia wariskan dari jauh yaitu keyakinan bahwa semuanya baik-baik saja.
Tangan tuanya bergetar halus saat menggenggam ponsel, seakan dengan cara itu ia bisa meraih Hera di balik layar. setiap kata yang keluar dari bibirnya dipilih hati-hati, lembut, dan sederhana. ia ingin putrinya percaya bahwa ia baik-baik saja, meski di lubuk terdalam ada kerinduan yang mengalir deras. ketika hera tersenyum, ia ikut tersenyum lebih tulus, karena dalam senyum itu ia menemukan alasan untuk bertahan.
“Maaf aku gaada disana, Aku disini bakal tetep doain Ibu.” Hera menatap mata ibunya yang kini mulai berkaca-kaca.
“Gapapa sayang, Ibu udah tenang disini. Kerinduan itu masih sama seperti dulu, tapi ibu percaya apa yang sudah terjadi adalah alur terbaik dari tuhan.”
Hera menangkap kesenduan itu, dibalik senyumnya mungkin ia ingin memuntahkan tangisan hebat dari lubuk hatinya, tapi dia begitu pandai menyembunyikan awan kelam itu. Sambil menatap ibunya ia berhasil menemukan butiran bening mengalir di lekukan kerutan sang ibu.
“Suara ibu pengantar tidurku, sayangnya aku udah gabisa denger itu lagi, tapi aku masih bisa tidur nyenyak, kok.” Hera berbohong—mungkin.
“Dipikir-pikir lucu juga ya, Hera kecil gabisa tidur kalau ga diceritakan dongeng.” Ibu mengusap pipinya.
Hera berbinar, “Iya, Bu, Hera inget banget… kalo ga ada dongeng, Hera pasti rewel dan ga mau merem. padahal dongengnya sering diulang-ulang, tapi tetep aja bikin Hera tenang.”
Ibunya terdiam, mencerna apa yang sebenarnya sedang ia lakukan. Bibirnya bergetar tak sanggup berkata-kata, kesunyian berlalu lalang sebentar menyisakkan detak jantungnya yang nyaris sama dengan jarum jam di samping foto anaknya. Kemudian melanjutkan percakapannya.
“Kadang ibu mikir, kenapa kebahagiaan itu selalu dirampas lebih dulu.”
“Hera juga sering mikir gitu. kayak setiap kali kita lagi bahagia, ada aja yang bikin itu cepat hilang. mungkin karena bahagia itu terlalu berharga, jadi kita cuma dikasih sebentar… biar kita bener-bener jagain dan hargain.”
“Tapi ibu udah pelan pelan belajar ngeredain rindu ibu.”
“Seneng denger ibu bisa pelan-pelan belajar, mungkin itu tandanya ibu lebih kuat daripada Hera. Hera masih sering kalah sama rasa kangen ini.” Hera berhenti sebentar, suaranya masih sama, “Tapi jangan pernah berhenti inget Hera ya, bu… karena cuma itu yang bikin Hera tetep ada.”
Dia menarik nafas pelan…
Khayalannya terasa begitu nyata, sangkalannya berubah menjadi maklum beralasan kerinduan. Meski yang ia tatap hanyalah algoritma, kumpulan data dan suara yang dibangun dari kenangan. teknologi yang disebut lifecast ai, program yang bisa meniru orang yang telah tiada. Namun, hanya itu cara agar ia bisa melihat wanita itu berdiri kokoh dengan senyumnya yang kadang kala kosong seperti robot.
“Makasih ya udah mau jagain Hera dengan penuh kasih sayang.” Hera tersenyum. “Sama-sama anakku,” balas Ibu.
“Maaf kalau Hera sering ngerepotin.”
Ibu tidak sanggup menahan air matanya, ia menangis. “Hera gapernah ngerepotin ibu, kok.”
Tiba-tiba ponselnya mati. Ia tidak sanggup lagi menahan amarah kepada Tuhan atas kerinduan yang mengutuknya selama ini, setelah kepergian dari sosok yang sangat ia cintai, dunianya berubah menjadi abu-abu. Ia tidak bisa merasakan apa-apa lagi, dunia berjalan seperti biasanya, hanya dia yang masih berhenti di 100 hari yang lalu. Saat orang terkasihnya pergi untuk selamanya, dia meringkuk diatas kursinya. Cahaya temaram memeluk tubuh mungilnya yang dulu berisi.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, membiarkan sisa hangat dari layar yang padam itu lenyap bersama cahaya. Malam terasa lebih pekat daripada biasanya, dan keheningan menusuk seperti pisau dingin ke dalam dada. Di sela isaknya, ia sadar bahwa tak ada teknologi, seberapa canggih pun, yang mampu mengisi ruang kosong di hatinya. Kerinduan itu tetaplah nyata, dan justru semakin menyakitkan ketika ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa yang telah pergi takkan pernah kembali.
Foto-foto lama di meja riasnya seakan menatap balik, membangkitkan ingatan yang pernah ia coba kubur. Tawa, rengek, dan suara panggilan kecil itu bergaung samar di kepalanya, membuat dadanya semakin sesak. Ia memeluk dirinya sendiri, seolah dengan begitu bisa menahan tubuhnya agar tidak runtuh. Pada akhirnya, ia hanya bisa berbisik lirih ke ruang kosong, memanggil nama yang sudah seratus hari tak lagi menjawab.
Isak tangis menggema di ruangan itu, setelah panggilan video berakhir dia berjanji untuk benar-benar menjalani hidup, merelakan apa yang telah terjadi. Di samping meja rias yang digenangi air mata, sang ibu mengambil foto anaknya yang masih balita, memeluknya erat-erat kemudian tersenyum damai.
“Bayi kecilku.”
CINTA
Bawah pohon beringin lelaki duduk termenung sendiri. Tatapannya melamun tajam ke lautan. Dia tatap bulan bersolek di samudra. Dirinya bersandar pada akar beringin yang menggantung. Tangannya memegang akar beringin itu dengan kuatnya. Baru beberapa menit kemudian dilepaskannya pegangannya itu.
Sudah beberapa hari setiap malam dia selalu duduk di bawah beringin tua itu. Sambil menunggu kabar dari kekasihnya, dia termenung duduk sendiri memikirkan nasib dirinya. Kenapa cinta begitu menyakitkan. Baginya cinta adalah daya hidup manusia. Tanpa cinta manusia akan mengering layu.
Sudah seminggu lalu dia berkirim surat kepada kekasihnya yang jauh di tanah seberang. Kekasihnya sudah berjanji akan datang ke tanah Jawa seminggu lagi. Makanya dia setia menunggu setiap malam agar selalu bisa menyambut kedatangan kekasihnya. Lautan selalu dingin setiap malam. Menambah beku hatinya dalam kekosongan.
Tetiba malam itu di tengah pasang air laut, dia melihat kapal datang akan mendarat. Dikiranya itu kekasihnya yang dia tunggu-tunggu. Kapal berwarna merah itu mendarat, dilihatnya banyak orang turun ke daratan bibir pantai. Bibir pantai yang putih pun tak membekas jejak telapak kekasihnya yang dinantinya itu. Tak ada kekasihnya yang turun kepadanya.
Dia makin lesu kehilangan semangat. Nampaknya memang kekasihnya seakan lupa akan janjinya. Dia buka kertas dari sakunya. Syair yang dia tulis buat kekasihnya. Yang satunya pun isinya sama sudah dikirimkan kepada kekasihnya.
Kepada kekasihku
Datanglah padaku kekasihku
Aku sudah menantimu semenjak aku cinta padamu
Juwitaku
Jikau kau datang aku pasti akan menyambutmu bagai Jusuf dan Juleha
Kekasihku
Aku begitu rindu
Begitu sangat aku merindukan kamu
Datanglah ke tanah Jawa
Aku selalu menantikanmu
Kepada juwitaku
Begitulah isi surat itu deberikan pada kekasihnya. Salinanya selalu dia bawa kemana-mana. Baik pada saat bekerja maupun pada saat sendiri salinan surat itu kepada dirinya sendiri. Supaya akan selalu ingat bahwa dia punya tujuan hidup. Dia punya janji pada seseorang.
Setelah membaca surat itu dia menangis sejadi-jadinya. Dia peluk akar beringin menangis tambah menjadi. Sedih bukan main hatinya. Sangat sedih sekali dan dia memukulkan kepalanya ke batang beringin. Dibenturkannya beberapa kali kepalanya ke batang beringin.
Dia memandang rembulan, dia berdoa meminta kekasihnya datang dan disatukan buat selamanya bersamanya. Dia ingin arungi hidup bahtera rumah tangga berdua bersama kekasihnya. Kekasihnya yang sangat dia cintai itu dia sangat harapkan akan kedatangannya. Di kalungnya dia buka liontin itu. Dia pandangi foto kekasihnya. Dia tambah menangis lagi. Tersujud tersungkur pada pasir. Sampai dia pingsan.
Pagi harinya, dia dicari seseorang. Mengkabarkan bahwa ada yang berkirim surat padanya. Dia segera baca surat itu. Dibacanya suratnya itu. Ternyata itu surat balasan dari kekasihnya. Dia tunggu-tunggu selama ini surat itu.
Kepada kekasihku
Kekasihku, kakanda, aku pasti datang
Sejak menerima suratmu aku sudah berangkat
Pergi ke tanah Jawa
Akan menyusulmu
Janganlah kamu berpaling hati
Jika surat ini sudah sampai duluan maka bacalah
Pahamilah kekasihku
Aku sudah datang dengan membawa suratmu sebagai bukti cinta kita
Rela aku jauh jauh datang ke tanah Jawa
Hanya demi kamu kekasihku, kakanda
Aku selalu rindu dan sayang padamu
Aku cinta padamu kakanda, kekasihku
Dari kekasihmu
Dia merasa hatinya tenang. Dia bersemangat sekali hari itu. Menurut perkiraannya sehari lagi kekasihnya tiba. Dia mulai menata pakaian yang bagus, minyak wangi, dan mencukur rambutnya yang memanjang ke bahu.
Ternyata benar, sehari kemudian kekasihnya datang. Sudah sampai ke tanah Jawa. Kepada kekasihnya. Dipeluknya kekasihnya erat. Diciumnya dan digandenganya. Ditunjukkannya pohon beringin tempatnya berteduh dari kesedihan. Kekasihnya yang baru datang itu ikut menangis pula. Tahu akan beratnya cinta.
Dibawanya kekasihnya itu ke rumah orang tuanya. Dengan tatapan bahagia orang tuanya menyambut wanita yang cantik itu. Orang tuanya duduk dan mulai bertanya-tanya pada wanita itu. Entah kenapa tiba-tiba perasaan lelaki itu jadi tak menentu.
“Kamu darimana, nak?”
“Saya dari tanah seberang.”
“Ada hubungan apa dengan anakku?”
“Saya kekasihnya.”
Orang tuanya seakan terdiam. Tatapannya berubah. Suasana jadi beku dan serius. Orang tuanya kaget mendengar wanita itu jauh dari seberang. Dan pertanyaan kenapa dia rela sampai jauh-jauh datang ke sini.
“Kamu masih lajang?”
“Saya janda anak satu.”
“Ha?”
Seakan tersentak keget kedua orang tuanya. Orang tuanya lalu berlalu pergi dari kursi. Anaknya dipanggilnya ke dalam. Menyisakan wanita itu sendirian di kursi. Suasana tambah beku dan gemetaran.
“Kamu itu seenaknya sendiri, mau memalukan muka orang tua?”
“Tidak, tapi saya sudah berjanji akan menikahi dia.”
“Tidak.”
“Dia rela jauh dari tanah seberang hanya demi saya.”
“Tidak.”
“Kalau tidak saya akan pergi dari rumah ini.”
“Kamu memalukan muka ornag tuamu.”
Dia segera beranjak pergi menggandeng kekasihnya. Mengemasi pakaian dan meninggalkan rumah. Dibawanya kekasihnya itu pergi dari rumah yang seakan rumah penjara baginya. Dia sudah berlaku baik dan jadi anak yang baik. Tapi gengsi dan rasa tinggi hati orang tuanya sudah membawanya menjadi anak yang penuh penderitaan.
Orang tuanya seakan tidak mau mengerti anaknya. Hanya rasa tinggi hati dan mimpi yang terlampau tinggi yang dibebankan pada anaknya. Tanpa memandang bahwa anaknya punya kemampuan dan keterbatasan. Itulah orang tua yang durjana yang sebenarnya menenggelamkan anaknya pada lumpur kesengsaraan hidup-hidup.
Anaknya sudah berumur hampir 30 tahun. Itu pun belum menikah. Sudah beberapa kali dijodohkan tapi tidak berhasil. Orang tuanya selalu ingin anaknya dapat wanita cantik, anak orang kaya, dan sarjana. Tetapi tidak tahu kalau anaknya sendiri punya kelemahan dan kekurangan.
Memang benar putusan anaknya untuk pergi meninggalkan rumah. Saat anaknya pergi meninggalkan rumah, orang tuanya malah seakan murka dan mengkutuk anaknya dengan lantang. Tetapi anaknya tidak peduli. Dia hidup tidak dari orang tuanya. Orang tuanya selalu mengekang dia dalam penjara hidup dan melaparkan anaknya dalam kemiskinan.
“Kusumpahi kamu hidup sengsara. Tidak akan lama.”
Itu sumpah orang tuanya pada anaknya. Tetapi dia tidak takut. Allah maha tahu. Tahu mana yang baik dan mana yang benar. Allah tidak akan meninggalkan hambanya dalam kesengsaraan dan tidak akan mengazab hambanya karena pilihan yang tepat baginya.
Lelaki itu tahu bahwa hanya wanita itu yang mencintainya. Wanita yang jauh dari tanah seberang rela membuktikan cintanya untuk dirinya. Dirinya tetap teguh hati untuk bersama berdua bersama kekasihnya. Akhirnya dia menikah dengan mahar seratur ribu dan dinikahkah dengan wali hakim. Dia berdua hidup di kontrakan seadanya. Menjalin janji yang sudah dan harus ditepati.
TEKO
Editor: Aldi Muheldi
Aku adalah tukang, bukan sekedar pembenar, tapi penyambung yang senantiasa memperbaiki sesuatu, tanpa memandang apa bentuknya atau siapa pemiliknya. Ketika itu, saat aku menyusuri pinggir kota dengan irama musik yang bergulir pelan di kepalaku, mataku berhenti pada sebuah teko yang tergeletak sendirian di tepi jalan. Tutupnya telah hilang, entah ke mana, tubuhnya penyok, dan warnanya memudar, seolah waktu telah melucuti sisa-sisa kebanggaannya.
Aku menatap teko dengan bingung, lalu bertanya dalam hati, “Siapakah yang tega merusaknya sampai separah ini?” Mataku menyapu sekeliling, mencari jejak sang pemilik.
Namun, tidak ada siapa pun di sana, hanya aku, kursi tua yang setia, pohon besar yang dedaunannya rimbun, dan teko ini. Dengan langkah ringan, aku mengambil teko itu, lalu bergegas menuju kursi tua.
Saat duduk, aku bergumam lirih dalam hati, “Kasihan, teko ini. Setelah tak berguna, mungkin akan langsung dibuang begitu saja.”
Aku tidak peduli pada apa yang pernah dilakukan pemiliknya. Tujuanku hanya satu, memperbaiki, bukan menambah luka dan kerusakan.
Dengan naluri seorang tukang, aku segera membuka tas yang selalu kubawa, penuh dengan benda-benda yang setia menemaniku memperbaiki apa saja, sebuah palu tua sebotol cat yang warnanya sudah mulai mengering di pinggirannya, dan potongan besi-besi yang tampak berguna, tapi masih menyimpan harapan. Aku mulai menyusun semuanya di atas kursi tua. L
Lalu, aku menatap teko itu. Diam. Mengamati luka-luka.
“Bagian mana yang harus kuperbaiki terlebih dahulu?” Tanyaku dalam hati, sedikit bingung.
Terlalu banyak kerusakan. Terlalu banyak diam yang harus disambung kembali. Aku larut dalam lamunan, sampai tak sadar, langit perlahan berubah. Mendung mulai menutup matahari yang tadi menyinari, dan suasana menjadi gelap, seolah alam pun ikut merunduk dalam keheningan.
Aku mengambil palu yang tergeletak di depanku, lalu menggenggamnya pelan, seperti sedang memegang sesuatu yang bisa melukai dan menyembuhkan sekaligus. Dengan hati-hati, aku mulai memperbaiki bagian dalam teko, memulihkan penyok ditubuhnya yang ringkih.
Awalnya tak mudah. Penyoknya bukan sekadar luka luar, tapi seperti bekas pukulan yang ditinggalkan oleh sesuatu yang keras dan penuh amarah. Seakan ada kemarahan yang ditumpahkan ke dalam tubuh kecil si teko, hingga tak hanya bentuknya, tapi juga dirinya tercabik.
Aku berhenti sejenak, berpikir. “Bagaimana caranya memulihkan luka ini tanpa menimbulkan luka baru di sisi lain?”
Bukankah begitu juga cara memperbaiki sesuatu yang telah rapuh, dengan hati-hati, dengan penuh perhatian, bukan dengan tergesa?
Dengan napas di tahan, aku mengetuk pelan bagian dalam yang penyok. Setiap pukulan kecil harus akurat, setiap denting harus ramah. Dan syukur, perlahan-lahan, penyok itu mulai pulih. Tak sempurna, tapi tidak lagi terluka separah sebelumnya.
Kini saatnya membuat penutup bagi kepala teko itu. Mataku tertuju pada tumpukan besi tua di ujung jalan, tak jauh dari bak sampah—selama ini luput dari pandanganku. Besi-besi itu berkarat, bengkok, nyaris tidak berguna. Namun, dari situlah harapanku lahir.
Aku mulai membayangkan bentuk yang pas, mencoba menyusun dalam kepala bagaimana besi-besi ini bisa disulap menjadi pelindung baru untuk si teko yang malang.
Tanpa kusadari, saat mengangkat sepotong besi, setitik air dingin jatuh ke tanganku. Rintik hujan mulai turun perlahan, seolah langit pun ikut menunduk, menyaksikan kerja diam ini. Namun, hujan tak mengganggu. Justru ia seperti musik latar yang tenang, menemani tangan-tanganku yang sibuk merakit.
Aku mencoba satu bentuk, lalu membongkar. Mencoba lagi, dan membongkar lagi. Apa yang kubayangkan di kepala, nyatanya tak selalu cocok dengan kenyataan. Tapi aku bertahan. Karena kupikir, bukankah segitu pula saat memperbaiki seorang? Tak selalu cocok, tak selalu pas, tapi tetap perlu dicoba dengan sungguh-sungguh.
Saat tengah merakit, tanpa sengaja jari telunjukku tergores, terbeset ujung besi yang tajam. Setitik darah muncul, menyelinap di antara hujan. Namun aku tak mengeluh. Inilah harga dari menjadi tukang perbaikan, harus rela berpikir keras dan kadang, merelakan tubuh ikut terluka.
Yang penting, tekonya akan kembali utuh. Tak ada lagi penyok, tak ada lagi kepala yang terbuka. Ia bisa menyimpan air lagi. Menyimpan hangat. Menjadi terguna. Dan mungkin, suatu hari nanti, ada yang akan menyayanginya, bukan karena utuh, tapi karena ia pernah rusak dan diperbaiki.
Waktu berlalu. Setelah berkali-kali mencoba dan menyusun, akhirnya penutup teko itu rampung juga. Aku mencobanya memasangkan besi itu, di teko, saat aku mencoba penutup yang ku buat, penutup itu langsung pas masuk ke dalam corong teko itu, perasaan ku senang sekali usaha aku membuat penutup teko itu terpenuhi dan berhasil, melihatnya, ada sesuatu yang terasa berbeda. Teko itu kini tampak hidup—seolah menghembuskan napasnya sendiri.
Aku mengambil kuas dan cat yang sudah ku persiapkan di dalam tasku. Mulai kucampur warna-warna yang ada, berusaha menciptakan satu rona yang bisa menyatu dengan warna tubuh si teko.
Proses yang ku lakukan tidak mudah, rasanya seperti memaksa palet untuk menciptakan warna yang mungkin tidak pernah benar-benar tersedia. Beberapa kali gagal. Terlalu terang. Terlalu pucat. Terlalu jauh. Namun, setelah banyak percobaan dan koreksi kecil, akhirnya aku menemukan warna mendekati. Cukup pas. Cukup pantas. Seolah memang warna itu telah menunggu ditemukan.
Waktu berlalu. Tetesan hujan yang tadi hanya rintik kini berubah menjadi deras. Panik, aku segera menutup teko itu dengan pakaian yang kupakai, hanya itu yang kupunya untuk melindunginya. Sambil membungkuk, dengan kepala tertutup kain, aku mulai mengecatkan perlahan. Gerakan tanganku pelan, penuh hati-hati, berharap cat tetap menempel, dan air tak sempat menghapus hasil kerjaku.
Gores demi gores, kuusap perlahan ditubuh teko itu. Kutelusuri setiap lekuknya dengan hati-hati, sampai akhirnya seluruh permukaannya tertutup warna baru. Tak ada lagi noda pudar yang mengganggu bentuknya, teko itu kini tampak utuh, tenang, dan nyaris tak tampak pernah rusak.
Tak ada lagi noda pudar yang mengganggu bentuknya, teko itu kini tampak utuh, tenang, dan nyaris tak tampak pernah rusak. Ada rasa lega yang tak bisa kusembunyikan, seperti telah mengembalikan warna sesuatu yang sebelumnya kehilangan cahaya.
Tubuhku basah kuyup disapu hujan, dingin menusuk hingga ke tulang. Tapi tak apa. Setidaknya aku telah memperbaikinya. Telah merawatnya. Meski harus melewati hujan deras, kesulitan, dan bahkan mengabaikan diriku sendiri. Dan meski rasa sakit menyelinap pelan, entah dari tubuh atau dari kenangan, aku bahagia. Teko itu, yang dulu hampir dibuang, kini tampa seperti baru.
Namun aku tahu, yang ku perbaiki hari ini… bukan sekadar sebuah teko.



