TEKO
Editor: Aldi Muheldi
Aku adalah tukang, bukan sekedar pembenar, tapi penyambung yang senantiasa memperbaiki sesuatu, tanpa memandang apa bentuknya atau siapa pemiliknya. Ketika itu, saat aku menyusuri pinggir kota dengan irama musik yang bergulir pelan di kepalaku, mataku berhenti pada sebuah teko yang tergeletak sendirian di tepi jalan. Tutupnya telah hilang, entah ke mana, tubuhnya penyok, dan warnanya memudar, seolah waktu telah melucuti sisa-sisa kebanggaannya.
Aku menatap teko dengan bingung, lalu bertanya dalam hati, “Siapakah yang tega merusaknya sampai separah ini?” Mataku menyapu sekeliling, mencari jejak sang pemilik.
Namun, tidak ada siapa pun di sana, hanya aku, kursi tua yang setia, pohon besar yang dedaunannya rimbun, dan teko ini. Dengan langkah ringan, aku mengambil teko itu, lalu bergegas menuju kursi tua.
Saat duduk, aku bergumam lirih dalam hati, “Kasihan, teko ini. Setelah tak berguna, mungkin akan langsung dibuang begitu saja.”
Aku tidak peduli pada apa yang pernah dilakukan pemiliknya. Tujuanku hanya satu, memperbaiki, bukan menambah luka dan kerusakan.
Dengan naluri seorang tukang, aku segera membuka tas yang selalu kubawa, penuh dengan benda-benda yang setia menemaniku memperbaiki apa saja, sebuah palu tua sebotol cat yang warnanya sudah mulai mengering di pinggirannya, dan potongan besi-besi yang tampak berguna, tapi masih menyimpan harapan. Aku mulai menyusun semuanya di atas kursi tua. L
Lalu, aku menatap teko itu. Diam. Mengamati luka-luka.
“Bagian mana yang harus kuperbaiki terlebih dahulu?” Tanyaku dalam hati, sedikit bingung.
Terlalu banyak kerusakan. Terlalu banyak diam yang harus disambung kembali. Aku larut dalam lamunan, sampai tak sadar, langit perlahan berubah. Mendung mulai menutup matahari yang tadi menyinari, dan suasana menjadi gelap, seolah alam pun ikut merunduk dalam keheningan.
Aku mengambil palu yang tergeletak di depanku, lalu menggenggamnya pelan, seperti sedang memegang sesuatu yang bisa melukai dan menyembuhkan sekaligus. Dengan hati-hati, aku mulai memperbaiki bagian dalam teko, memulihkan penyok ditubuhnya yang ringkih.
Awalnya tak mudah. Penyoknya bukan sekadar luka luar, tapi seperti bekas pukulan yang ditinggalkan oleh sesuatu yang keras dan penuh amarah. Seakan ada kemarahan yang ditumpahkan ke dalam tubuh kecil si teko, hingga tak hanya bentuknya, tapi juga dirinya tercabik.
Aku berhenti sejenak, berpikir. “Bagaimana caranya memulihkan luka ini tanpa menimbulkan luka baru di sisi lain?”
Bukankah begitu juga cara memperbaiki sesuatu yang telah rapuh, dengan hati-hati, dengan penuh perhatian, bukan dengan tergesa?
Dengan napas di tahan, aku mengetuk pelan bagian dalam yang penyok. Setiap pukulan kecil harus akurat, setiap denting harus ramah. Dan syukur, perlahan-lahan, penyok itu mulai pulih. Tak sempurna, tapi tidak lagi terluka separah sebelumnya.
Kini saatnya membuat penutup bagi kepala teko itu. Mataku tertuju pada tumpukan besi tua di ujung jalan, tak jauh dari bak sampah—selama ini luput dari pandanganku. Besi-besi itu berkarat, bengkok, nyaris tidak berguna. Namun, dari situlah harapanku lahir.
Aku mulai membayangkan bentuk yang pas, mencoba menyusun dalam kepala bagaimana besi-besi ini bisa disulap menjadi pelindung baru untuk si teko yang malang.
Tanpa kusadari, saat mengangkat sepotong besi, setitik air dingin jatuh ke tanganku. Rintik hujan mulai turun perlahan, seolah langit pun ikut menunduk, menyaksikan kerja diam ini. Namun, hujan tak mengganggu. Justru ia seperti musik latar yang tenang, menemani tangan-tanganku yang sibuk merakit.
Aku mencoba satu bentuk, lalu membongkar. Mencoba lagi, dan membongkar lagi. Apa yang kubayangkan di kepala, nyatanya tak selalu cocok dengan kenyataan. Tapi aku bertahan. Karena kupikir, bukankah segitu pula saat memperbaiki seorang? Tak selalu cocok, tak selalu pas, tapi tetap perlu dicoba dengan sungguh-sungguh.
Saat tengah merakit, tanpa sengaja jari telunjukku tergores, terbeset ujung besi yang tajam. Setitik darah muncul, menyelinap di antara hujan. Namun aku tak mengeluh. Inilah harga dari menjadi tukang perbaikan, harus rela berpikir keras dan kadang, merelakan tubuh ikut terluka.
Yang penting, tekonya akan kembali utuh. Tak ada lagi penyok, tak ada lagi kepala yang terbuka. Ia bisa menyimpan air lagi. Menyimpan hangat. Menjadi terguna. Dan mungkin, suatu hari nanti, ada yang akan menyayanginya, bukan karena utuh, tapi karena ia pernah rusak dan diperbaiki.
Waktu berlalu. Setelah berkali-kali mencoba dan menyusun, akhirnya penutup teko itu rampung juga. Aku mencobanya memasangkan besi itu, di teko, saat aku mencoba penutup yang ku buat, penutup itu langsung pas masuk ke dalam corong teko itu, perasaan ku senang sekali usaha aku membuat penutup teko itu terpenuhi dan berhasil, melihatnya, ada sesuatu yang terasa berbeda. Teko itu kini tampak hidup—seolah menghembuskan napasnya sendiri.
Aku mengambil kuas dan cat yang sudah ku persiapkan di dalam tasku. Mulai kucampur warna-warna yang ada, berusaha menciptakan satu rona yang bisa menyatu dengan warna tubuh si teko.
Proses yang ku lakukan tidak mudah, rasanya seperti memaksa palet untuk menciptakan warna yang mungkin tidak pernah benar-benar tersedia. Beberapa kali gagal. Terlalu terang. Terlalu pucat. Terlalu jauh. Namun, setelah banyak percobaan dan koreksi kecil, akhirnya aku menemukan warna mendekati. Cukup pas. Cukup pantas. Seolah memang warna itu telah menunggu ditemukan.
Waktu berlalu. Tetesan hujan yang tadi hanya rintik kini berubah menjadi deras. Panik, aku segera menutup teko itu dengan pakaian yang kupakai, hanya itu yang kupunya untuk melindunginya. Sambil membungkuk, dengan kepala tertutup kain, aku mulai mengecatkan perlahan. Gerakan tanganku pelan, penuh hati-hati, berharap cat tetap menempel, dan air tak sempat menghapus hasil kerjaku.
Gores demi gores, kuusap perlahan ditubuh teko itu. Kutelusuri setiap lekuknya dengan hati-hati, sampai akhirnya seluruh permukaannya tertutup warna baru. Tak ada lagi noda pudar yang mengganggu bentuknya, teko itu kini tampak utuh, tenang, dan nyaris tak tampak pernah rusak.
Tak ada lagi noda pudar yang mengganggu bentuknya, teko itu kini tampak utuh, tenang, dan nyaris tak tampak pernah rusak. Ada rasa lega yang tak bisa kusembunyikan, seperti telah mengembalikan warna sesuatu yang sebelumnya kehilangan cahaya.
Tubuhku basah kuyup disapu hujan, dingin menusuk hingga ke tulang. Tapi tak apa. Setidaknya aku telah memperbaikinya. Telah merawatnya. Meski harus melewati hujan deras, kesulitan, dan bahkan mengabaikan diriku sendiri. Dan meski rasa sakit menyelinap pelan, entah dari tubuh atau dari kenangan, aku bahagia. Teko itu, yang dulu hampir dibuang, kini tampa seperti baru.
Namun aku tahu, yang ku perbaiki hari ini… bukan sekadar sebuah teko.

