Tempat dimana cerita-cerita pendek dipilih dan dibagikan kepada kalian
Pedagang Mimpi
Editor: Aldi Muheldi
Cahyo selalu menjadi seorang pemimpin, tapi bukan dalam pengertian yang dipahami kebanyakan orang. Di usia delapan belas tahun, ia masih mencari tempatnya di dunia, bekerja serabutan untuk bertahan hidup. Ia sudah mencoba segalanya, mulai dari mencuci piring di warung makan hingga mengantarkan koran dengan sepedanya. Namun, tak satu pun pekerjaan itu terasa seperti batu loncatan menuju sesuatu yang lebih baik. Semuanya hanya bisa untuk bertahan.
Sabtu itu, saat berjalan-jalan di pasar loak yang ramai, Cahyo menemukan sebuah toko aneh yang tersembunyi di antara kios pakaian vintage dan stan jualan selai buatan rumah. Papan di atas pintu bertuliskan: Mimpi Bekas Pakai, karena penasaran, ia langkahkan kakinya masuk.
Tokonya remang-remang. Rak-raknya penuh dengan toples dan kotak berdebu, masing-masing diberi label dengan tulisan yang hampir pudar: Mimpi menjadi Dokter, Mimpi Memiliki Rumah, Mimpi menjadi Penyanyi. Alisnya terangkat. Ini entah toko paling aneh yang pernah ia lihat, atau lelucon paling tak jelas yang pernah ditemuinya.
“Selamat datang!” Ada suara yang riang terdengar dari balik meja kayu tua.
Seorang pria lanjut usia dengan mata berbinar cerah, janggut putihnya lebat dan mengembang—mengingatkan Cahyo pada Santa Claus.
Ia tersenyum hangat. “Nama saya Wawan, pedagang mimpi,” ucapnya ramah. “Apa yang membawamu ke tempat sederhana ini?”
“Saya… saya tidak tahu,” mulut Cahyo susah berucap—gagap, matanya menelusuri isi toko dipenuhi bayangan dan debu. “Saya hanya melihat papan nama di depan yang terdengar aneh.”
“Aneh itu relatif,” jawab Pak Wawan sambil condong ke depan. Matanya bersinar seperti tahu lebih banyak daripada yang mau diucapkan.
“Apa yang aneh bagimu bisa jadi harta karun untuk orang lain. Di sini, kami menjual mimpi—cita-cita yang dulu pernah dimiliki orang, tapi mereka buang karena, realita. Harganya murah, Anak. Cukup tukar dengan barang yang tak lagi kamu butuhkan.”
Cahyo tergelitik sepertinya, ia tertawa kecil, setengah gugup, setengah yakin dirinya sedang direkam untuk acara Prank. “Jadi, kalau saya bawa pemanggang roti rusa, Bapak kasih saya mimpi?”
“Tepat sekali!” seru Pak Wawan, matanya masih berkilau seperti anak kecil yang baru saja memenangkan teka-teki silang.
“Tapi ingat, setiap mimpi punya cerita. Masing-masing membawa jejak harapan dan kekecewaan dari pemilik sebelumnya.”
Cahyo ragu, tampa dari dia menyilangkan tangannya. “Oke, misalnya saya ingin coba satu. Apa jebakannya?”
“Tidak ada jebakan,” ujar Pak Wawan, senyumnya seperti mengandung teka-teki.
“Hanya butuh sedikit imajinasi. Ambil satu mimpi, dan kamu bisa merasakannya selama sehari penuh. Tapi hati-hati, mimpi bisa seberat indahnya mereka.
Cahyo menoleh ke rak. Matanya tertumbuk pada toples berdebu dengan label Mimpi menjadi Astronot. Ia tertawa, separuh mengejek dirinya sendiri.
“Apa sih yang paling buruk bisa terjadi?”
“Ah, jiwa pemberani!” seru Pak Wawan. “Mimpi itu milikmu… cukup dengan pemanggang roti rusak, atau beberapa koin.”
Cahyo merogoh saku, mengeluarkan segenggam koin dan gantungan kunci berkarat.
“Ini cukup?”
“Pas sekali!” kata Pak Wawan riang, mengambil gantungan kunci seolah menemukan pusaka langka.
Lalu dia menyerahkan toples berlabel Mimpi menjadi Astronot. “Buka saja saat kamu siap.”
***
Malam itu, Cahyo duduk di ranjang. Lampu kamar dihidupkan temaram, dan toples itu terletak di pangkuannya, dingin di tangan. Ia menarik napas ragu, lalu memutar tutupnya.
Cahaya lembut, hampir seperti embun bercahaya, melepas keluar, menyelimuti tubuhnya. Dalam sekejap, dunia berubah.
Ia kini mengenakan pakaian luar angkasa, lengkap dengan helm besar dan sarung tebal. Tubuhnya melayang tanpa arah, ia diselimuti kehampaan dan keheningan.
“Woah!” serunya panik, tangan mengibaskan udara yang tidak bisa disentuh. “ini luar biasa!”
Namun, sensasi itu cepat berubah. Saat ia mencoba menggerakkan tubuhnya, ia menyadari satu hal penting: ia tidak tahu caranya. Ia menabrak dinding, terpental ke sudut lain, lalu jatuh menghantam lantai seperti boneka kain.
“Oke,” gumamnya, mengusap bahu yang nyeri. “Ternyata ini tidak segampang yang dipikirkan.”
Butuh hampir satu jam—penuh tabrakan dan putaran tak terkendali—sebelum ia mulai terbiasa. Dengan napas terengah dan keringat membasahi pelipis di balik helm, akhirnya Cahyo menstabilkan diri.
Ia mendekat ke jendela kapsul. Di luar sana, Bumi tampak bulat dan biru melayang di tengah kekosongan tak berujung.
“Ini… luar biasa,” bisiknya, dadanya penuh rasa takjub yang hening, seperti seseorang yang baru pertama kali benar-benar melihat dunia.
Tapi mimpi itu berubah jadi mimpi buruk saat Cahyo melihat indikator oksigen menyala merah.
Tabungnya kosong.
Panik melanda. Ia mencakar-cakar helmnya, tubuh melayang tak berdaya. “Pak Wawan! Tolong!” teriaknya. Tapi hanya kehampaan yang menjawab.
Saat pandangannya mulai gelap dan napasnya tinggal satu tarikan, dunia di sekitarnya retak seperti kaca—dan mendadak ia kembali ke kamarnya. Terbaring. Terengah-engah. Basah oleh keringat dingin.
“Oke… mungkin aku harus pilih yang lebih… aman,” gumamnya sambil tertawa kecil, antara lega dan trauma.
Keesokan harinya, Cahyo kembali ke toko mimpi.
“Sepertinya saya ingin mencoba… mimpi punya rumah,” katanya, menunjuk miniatur rumah mungil di rak. Rumah itu terlihat sempurna—pagar putih, taman kecil, jendela yang hangat.
“Klasik!” seru Pak Wawan sambil mengangguk mantap. Ia mengambil sebuah kotak kecil dan menyerahkannya dengan hati-hati. “Tapi ingat, mimpi ini datang lengkap dengan cicilan, tagihan listrik, dan perawatan rutin. Siap menghadapi kenyataan?”
Cahyo mengangkat bahu. “Saya bisa, kok. Maksudnya… seberapa susah sih?”
Ia membuka kotak itu tanpa ragu.
Dalam sekejap, ia berdiri di depan rumah kecil yang menawan. Persis seperti dalam brosur perumahan: pagar putih, taman bunga mungil, suasana damai seperti mimpi masa kecil.
Tapi saat ia membuka pintu dan melangkah masuk—kenyataan menunggu. Cat dinding mengelupas. Lantai berderit. Pipa bocor di dapur. Atap rembes menetes di ruang tamu.
“Kenapa tidak bilang kalau perawatannya begini maksudnya?” keluh Cahyo sambil jongkok, berusaha memperbaiki keran bocor yang tak kunjung berhenti menetes. Air muncrat, kemejanya basah, dan seisi rumah makin terasa seperti jebakan.
Menjelang malam, ia kelelahan. Tubuhnya kotor, lututnya pegal, dan semangatnya menguap.
“Sepertinya… kepemilikan rumah bukan untukku. Setidaknya, belum sekarang,” gumamnya sambil menghela napas panjang. Ia kembali ke toko.
Pak Wawan menyambutnya dengan tawa kecil. “Bagaimana mimpi rumahnya?”
“Lebih rumit daripada yang saya kira,” jawab Cahyo, mengangkat kedua tangan seperti menyerah. “Sepertinya saya mulai paham maksud Bapak tentang… beratnya mimpi.”
Hari-hari berlalu. Cahyo terus mencoba mimpi-mimpi lain.
Ia mencoba Menjadi Penyanyi, tapi suaranya fals parah dan tak bisa mengikuti satu pun nada.
Ia mencoba Keliling Dunia, tapi malah tersesat di jalanan asing, tak mengerti bahasa dan kehilangan peta.
Setiap mimpi mempertemukannya dengan jejak perjuangan pemilik sebelumnya:
Seorang dokter yang berhenti karena burnout. Penyanyi yang kehilangan suaranya di puncak karier. Pasangan yang kehilangan rumah karena gagal bayar.
Cerita-cerita itu menyedihkan, tapi juga membekas dalam. Perlahan, Cahyo mulai memahami—mimpi bukan sekadar keinginan. Mereka menyimpan sejarah luka, harapan yang patah, dan keberanian yang tak selalu cukup.
Suatu hari, setelah seharian kacau mencoba mimpi menjadi seorang koki, Cahyo duduk di bangku kayu tua di sudut toko, bersama Pak Wawan.
“Kenapa orang menyerah pada mimpi mereka?” tanyanya pelan, dada terasa berat. “Hanya karena hidup susah?”
Pak Wawan menarik napas panjang, raut wajahnya berubah serius. “Hidup bisa mencekik, Cahyo. Bukan karena orang malas; tapi karena kenyataan sering menghancurkan harapan. Mimpi butuh dukungan, dorongan… dan kadang, sedikit keberuntungan. Tanpa itu, mudah sekali untuk menyerah.”
Cahyo mengangguk perlahan, mencerna kata-kata itu.
“Jadi… siapa yang berhak bermimpi?”
“Semua orang,” jawab Pak Wawan mantap. “Tapi kita harus saling membantu agar mimpi itu tetap hidup. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah pengingat kecil tentang apa yang pernah ada.”
Terinspirasi, Cahyo memutuskan untuk bertindak. Ia mulai membagikan kisah para pemilik mimpi di media sosial, mengajak orang lain mengejar passion mereka. Ia mengadakan pertemuan kecil di pasar loak—tempat orang bisa datang, berbagi mimpi, dan saling mendukung.
Seiring komunitas itu tumbuh, Cahyo menyadari satu hal penting: ia telah menemukan mimpinya sendiri. Bukan jadi dokter, penyanyi, atau astronot. Tapi menjadi penggerak perubahan—membantu orang lain menemukan kembali harapan yang pernah hilang.
Suatu sore, ia kembali ke toko, senyum lebar di wajahnya.
“Saya rasa, saya telah menemukan mimpi saya sendiri,” katanya penuh semangat.
Pak Wawan membalas dengan senyum hangat. “Luar biasa. Apa itu?”
“Saya ingin menciptakan tempat di mana orang bisa berbagi mimpi mereka tanpa takut dipandang rendah. Tempat di mana mereka merasa didengar dan didukung,” jelas Cahyo.
Pak Wawan mengangguk pelan, matanya hangat. “Maka kamu sudah menemukan makna sejati dari mimpi,” katanya. “Mimpi bukan hanya soal pencapaian, tapi soal keterhubungan, kebersamaan, dan ketahanan.”
Dengan restu Pak Wawan, Cahyo mulai membangun tempat impiannya: sudut kecil di pasar loak yang ia beri nama Pusat Impian. Ada kursi-kursi nyaman, papan tulis tempat orang menuliskan harapan mereka, dan pojok kopi untuk hangatkan percakapan.
Kabar pun menyebar. Orang-orang berdatangan, membawa kisah, harapan, dan ketakutan mereka. Di sana, persahabatan tumbuh. Mimpi-mimpi lama yang dulu terkubur pelan-pelan mekar kembali. Suasananya dipenuhi tawa, pelukan, dukungan, dan rasa memiliki yang tulus.
Suatu malam, saat Cahyo duduk sendiri di Pusat Impian, menatap papan penuh tulisan tangan, ia merasakan kepuasan yang belum pernah ia kenal sebelumnya.
Ia sadar—mimpi bukan cuma tentang diri sendiri. Tapi tentang saling mengangkat satu sama lain, agar tak ada mimpi yang dibiarkan mati sendirian.
*TAMAT*
Interograsi
Meskipun jarum arlojiku sudah melewati angka sembila dan berhenti di enam belas menit, suara derit kipas dinding itu terus memecah kesunyian, ia bergerak malas ke kanan, lalu ke kiri. Hawa panas menempel di kulit, membuat kausku terasa lembap. Di luar sana hujan mengguyur tanpa ampun, tapi ruangan ini tetap pengap. Seolah udara telah terkunci bersama ribuan napas para penjahat yang pernah masuk dan keluar dari sini.
Mataku menyapu seisi ruangan, kecil, mungkin luasnya tak beda jauh dengan kamar kos lamaku. dindingnya putih pucat, tanpa jendela, hanya satu pintu besi yang terlihat berat dan kedap suara. di pojok atas, sebuah CCTV menatapku tanpa berkedip. Siapa pun yang mengendalikan kamera itu, mungkin sedang memperhatikanku sekarang. Aku menarik napas panjang, membenarkan posisi dudukku. remaja sepertiku harus pandai menjaga kesan, bukan? Bukankah itu yang kita lakukan, berusaha terlihat baik di mata orang lain?
Aku sudah terjebak di sini selama tiga puluh menit. Waktu berjalan lambat, seperti jarum detik yang sengaja diseret paksa. Telapak tanganku terasa perih, kulitnya memerah dengan luka bakar yang tampak segar, berdenyut setiap kali aku mencoba mengepalkannya. Sakitnya membuatku ingin mengutuk, tapi bibirku hanya diam rapat.
Di seberang ruangan, kaca besar itu menampakkan bayangan seseorang dengan kaos hitam. Rambutnya yang panjang menutupi pelipisnya, Ia duduk kaku di kursi interogasi, kepalanya sedikit menunduk, namun pandangannya terpatri ke depan. Sesekali, sorot lampu redup membuat wajah itu samar seperti hantu yang terperangkap di balik kaca.
Kepalaku berdenyut ketika ingatan tadi kembali menghantam, langkah kaki, jeritan singkat, bau hangus… Semuanya bercampur menjadi satu, menghantui seperti film yang terus diputar ulang tanpa henti.
Teresa bukan tipe gadis yang membuat kepala orang-orang menoleh saat ia lewat. Dia bukan mahasiswi populer dengan penggemar di mana-mana, tapi juga bukan kutu buku yang menghabiskan hari-harinya di pojok perpustakaan, dia biasa saja. Justru mungkin karena itulah dia menarik perhatianku.
Aku masih ingat pertemuan pertama kami di koridor kampus. lantai licin karena gerimis tadi pagi, dan langkahnya pelan-pelan, seperti takut terpeleset. Rambutnya yang dikuncir seadanya bergerak sedikit setiap kali ia menunduk untuk memastikan buku-buku di pelukannya tidak jatuh. Saat pandangan kami bertemu, ada sesuatu di wajah lugunya, bukan sekadar polos, tapi memancarkan arti yang sulit dijelaskan.
“Eh, kita sekelas kan?” Aku akhirnya bertanya, pertanyaan klise yang keluar begitu saja.
Teresa mengangkat kepalanya, sedikit ragu tapi matanya langsung menatapku. Dia mengiyakan jawabnya pelan, senyumnya samar, seolah ia sendiri masih belajar bagaimana caranya bersikap hangat pada orang asing.
Dari situ aku mengetahui bahwa namanya adalah Teresa, kilas balik singkat cikal bakal bagaimana kami menjadi teman dekat. Layaknya seorang teman, dia sering membantuku mengerjakan tugas, begitupun sebaliknya. Saat ada tugas kelompok, tidak jarang kami selalu satu kelompok. Kami juga saling mengenal satu sama lain, saat satu minggu berturut-turut, dia selalu memesan satu makanan yang sama di kantin. Dari situ aku tahu bahwa Soto Santan adalah makanan kesukaannya.
Sebagai anak kos yang merantau di kota orang, aku dan Teresa akan menerima uang dari orang tua kami di tanggal yang sama di awal bulan. Suatu kebetulan bagi dua orang teman dekat, bukan? Untuk merayakannya, kami datang ke kedai kopi untuk memesan minuman, kemudian bertukar satu sama lain, kadang kejahilanku membelikannya Americano membuat ia tidak berhenti melepehkan kopi pahitnya. Sungguh sesuatu yang menyenangkan mempermainkan gadis lugu itu.
Tidak terlintas di benakku bahwa gadis yang terlihat polos ini akan melakukan hal yang sangat mengerikan.
Seminggu sebelum kejadian itu terjadi, tidak biasanya kursi di samping ku diisi mahasiswa lain, Teresa membolos seharian dan tidak bisa dihubungi. Kucoba meneleponnya disela-sela kelas berlangsung, berharap mendapat jawaban dari berbagai hantaman tanda tanya di kepalaku, namun jawaban itu malah datang dari operator yang monoton. Jawaban yang membuatku muak hingga aku ingin melempar ponselku sendiri.
Butuh waktu lama menunggu hingga kelas ini berakhir, apalagi kekhawatiran terus mendobrak jantungku. Tidak bisa ditahan sehingga saat kelas berakhir, aku langsung tancap gas menuju kosnya. Kunci cadangan yang kami tukar beberapa waktu lalu terasa dingin di genggamanku. Begitu pintu terbuka, aroma kamar Teresa langsung menyergap, wangi pengharum ruangannya masih sama seperti sebelumnya saat aku kemari, hanya saja lebih gelap, pencahayaan sangat minim, netraku menyisir tiap sisi ruangan berharap menemukan gadis yang kucari cari sedari tapi.
“Teresa?” Suaraku pelan, hampir berbisik.
Dia duduk memeluk lutut di sudut kamar. rambutnya kusut seperti belum disentuh sisir sejak kemarin. Aku terpaku sejenak sebelum berlari ke arahnya. Matanya sembap, lingkar hitam menghiasi kelopaknya. Hidungnya kemerahan, basah oleh ingus yang belum sempat dia bersihkan. maskara yang menghitam di pipinya tampak seperti bekas aliran hujan di kaca jendela.
“Hai… kamu kenapa?” Aku berjongkok di hadapannya, mencoba mencari matanya yang enggan menatapku.
Mulai hari itu, Teresa bukan lagi Teresa yang kukenal. katanya hubungan dengan pacarnya yang hampir lima tahun kandas begitu saja, laki-laki itu berselingkuh dengan rekan kerjanya di kafe. aku melakukan apa yang dilakukan sahabat pada umumnya, memberi nasihat seadanya, menepuk bahunya, memastikan dia tahu bahwa aku ada untuknya. saat itu, dia tampak sedikit tenang. tapi ternyata … aku salah besar.
Keesokan paginya, dia muncul di kampus dengan wajah yang membuat dadaku menegang. blus putihnya kusut, ada aroma lembap yang menyeruak dari kain seperti pakaian setengah kering yang terlalu lama ditumpuk. rambutnya awut-awutan, seolah belum bersentuhan dengan sisir sejak kemarin. mata sembap, itu masih sama seperti saat kutemui di sudut kamarnya.
“Ayo ikut aku.” Aku menarik lengannya, mengabaikan tatapan heran mahasiswa lain. pagi itu kami berdua absen dari kelas.
Di kosnya, Teresa duduk di tepi ranjang. tangannya menggenggam ponsel erat-erat, bibirnya bergetar dengan kata-kata yang tak jelas.
“Aku capek, cape banget… kayaknya nggak ada gunanya lagi semua ini.” Suaranya serak, hampir seperti bisikan.
Aku meraih ponselnya, berjaga-jaga kalau dia mencari cara melarikan diri lagi. di layar, riwayat pencarian membuat darahku berdesir: “cara membuat simpul gantung diri” terpampang jelas di baris teratas.
“Eh, Teresa… kok bisa mikirin hal segila ini?” suaraku meninggi tanpa sadar. aku memelototinya, tubuhku gemetar antara marah dan takut.
Dia tersentak, lalu menunduk dalam. “Maaf… nggak akan gitu lagi, maaf…,” ucapnya lirih, seperti anak kecil yang takut dimarahi. Hawa panas dalam dadaku perlahan mereda, digantikan dengan perasaan getir yang sulit dijelaskan.
Sejak hari itu, Teresa lenyap. Pemilihan kata yang kasar, tapi dia benar-benar menghilang, aku tidak pernah menyerah menghubunginya, kosnya terkunci rapat, entah dia sudah pindah atau dia enggan melihatku, namun setelah seminggu berlalu, dia dihadapanku sekarang. Di depan kedai kopi yang sama tempat kami menyeduh sebelum-sebelumnya. Dress putih sederhana membalut tubuh kecilnya, bukan gaun mewah, cuma kain katun yang jatuhnya lembut sampai ke lutut, tanpa motif, sedikit kusut di bagian bawah. Rambutnya diikat low ponytail, beberapa helaian kecil jatuh menutupi pipi dia abaikan terkibas anggun begitu saja.
“Nih.” Teresa menyuguhkan segelas kopi susu hangat diikuti dengan senyumnya yang begitu tulus.
“Kaya biasa, punyaku mana?” Senyumnya masih belum dia longgarkan.
Aku terpatri dengan kebimbangan, setelah seperti habis ditelan bumi, dia datang menyodorkan kopi susu murahan dengan tenang seperti tidak ada yang terjadi. Aku menyambut hangat senyumnya, menerima kopi dan memberi punyaku padanya. Daripada mengobati goresan tanda tanya di kepalaku. Aku memilih untuk membiarkan waktu berjalan, mungkin dia ingin melupakan semua kejadian yang lalu.
Saat semburat mentari berubah oranye, lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya redup di aspal basah. Aku dan Teresa masih menyantap bakso di pinggir jalan, kuah hangatnya tak berhasil menepis hawa dingin yang tiba-tiba merayap di tulang. langit di atas tampak abu-abu, seperti menyimpan sesuatu yang akan pecah kapan saja.
Mataku tertuju pada pemantik kecil yang sesekali ia putar-putar di antara jemarinya. Logam mungil itu memantulkan cahaya lampu jalan, membuat kilatan aneh di kulit pucat tangannya. Aku menahan napas sebentar, tapi buru-buru mengalihkan pandangan, berpura-pura tidak melihat apa-apa. Tas hitam besar yang tersampir di bahunya tampak tak sepadan dengan gaun putih sederhana yang ia kenakan, tas itu sedikit membebani punggungnya. Apa yang dia bawa? pikirku.
“Ayo pulang,” ucapnya pelan, bibirnya membentuk senyum tipis yang terasa asing. “Kali ini kita naik KRL.”
Di dalam kereta yang berderak pelan, kami duduk berdampingan. Tubuhnya sedikit membungkuk, dan tangannya tetap menggenggam sesuatu dengan erat. Aku mencuri pandang ke wajahnya, mata itu kosong, seperti kaca bening yang menyembunyikan riak-riak kecil di bawahnya. Lalu, dia berdiri. gerakannya pelan, nyaris seperti patung yang baru saja dipahat. Detik terasa panjang saat dia diam mematung, lalu dengan sekali tarikan ritsleting, dia mengeluarkan jeriken plastik dari ranselnya. isinya cairan bening kekuningan, aroma menyengat langsung menusuk hidungku.
“Teresa….” Suaraku tercekat, lidahku terasa kelu saat melihat jemarinya mulai melonggarkan tutup jeriken itu.
Dengan langkah mantap, Teresa menuangkan bensin ke lantai gerbong. Aroma menyengat langsung memenuhi udara, membuat penumpang menoleh, lalu saling berteriak panik saat cairan bening itu merambat cepat ke segala arah. Lantai kereta menjadi licin, beberapa orang tergelincir saat mencoba melarikan diri. Gerbong terus berguncang, suara otomatis terdengar dari pengeras suara —Tempat tujuan sebentar lagi sampai, mohon duduk dengan tenang— ironis di tengah kekacauan.
Orang-orang menjauhi Teresa seperti kawanan domba yang histeris melihat serigala. Aku sempat mengguncang tubuhnya, berharap gadis itu kembali sadar, tapi tubuhku ikut gemetar. Rasa takut mendorongku untuk menubruknya hingga kami terjatuh. Aku merangkak menjauh, telapak tanganku basah oleh genangan bensin yang berkilau di bawah cahaya redup.
Pemantik di tangannya berbunyi klik sekali, dua kali, percikan api tak kunjung muncul. Saat percikan ketiga berhasil, api langsung menyambar lantai, menjalar liar ke kursi-kursi. Kobaran itu menyebar cepat ke kanan dan kiri, teriakan penumpang menggema keras, disertai bau kain hangus yang menusuk hidung. Teresa berdiri goyah di tengah lautan api, tubuhnya terjerembab lagi ketika kakinya terpeleset. lidah-lidah api melahap gaun putihnya, menyelimuti tubuhnya hingga wujudnya hampir tak lagi terlihat.
Kabut hitam menggumpal membentuk sekat-sekat yang menghalang penglihatan, hanya cahaya api yang berkobar dan manusia-manusia diambang kematian yang terlihat samar. Hentakan kaki dan isakan kepasrahan menjadi alunan musik penghantar tidur menuju neraka. Saat kepasrahan itu hampir mencapai klimaks, pintu gerbong terbuka. Asap yang terkepung mulai mencuat dari berbagai arah. Orang-orang berlarian mencari udara segar. Sebagian tergeletak bersama gadis itu. Saat aku menoleh ke belakang, Teresa sudah mematung di sana. tubuhnya gosong, hitam hangus, tidak ada pergerakan lagi.
Semuanya sudah selesai.
Oke, nanti saat polisi bertanya, aku akan bilang seperti itu. Sungguh, jawaban yang luar biasa rapi, tidak akan ada yang curiga. Apapun yang terjadi, aku harus tetap tenang dan bicara dengan lancar. Jangan sampai terbata-bata, itu hanya akan membuat mereka berpikir aku berbohong. Mungkin aku akan menangis, membuat suara serak penuh kepanikan, atau … Pura-pura pingsan saja? Ah, terlalu dramatis. Haha, aku sampai tertawa sendiri.
Oh! itu dia, langkah sepatu dan suara walkie talkie mendekat. Polisi sudah datang. Semoga mereka tidak memeriksa sakuku … Ada pemantik di sana. sekarang waktunya memberi kesaksian.
Julius Parker, bocah yang ngerasa umurnya mandek di angka 17, meskipun kalender terus jalan. Asalnya dari Kabupaten Kerinci, tempat di mana kabut pagi berasa kayak selimut alam. Suka ngelamun, bukan karena nggak ada kerjaan, tapi karena imajinasi sering ngajak dia jalan-jalan ke dunia yang lebih seru dari realita
Sebuah Ekspetasi Jipanna
Di balik dinding tua yang mulai rapuh, Jipanna duduk di sudut ruangan yang sepi. Matanya memandang kosong keluar jendela berdebu. Di luar, angin berbisik lembut, menggugurkan daun-daun tua. Di dalam rumah yang lapuk itu, harapan kecil tumbuh perlahan di hatinya—seperti bunga mekar di tengah hujan.
Ulang tahunnya yang kedelapan kian mendekat. Di dalam hatinya, tersimpan satu permintaan besar—sebesar bintang di langit malam—sebuah boneka kucing. Bukan kucing sungguhan yang bisa melompat atau mengeong, tapi boneka lembut yang bisa dipeluk setiap malam sebelum tidur.
Sayangnya, harapan itu terasa sejauh bintang yang ia pandangi. Rumah mereka hanya cukup sepiring nasi hari ini, belum mampu membeli mimpi kecil seorang anak.
Jipanna tahu, hadiah itu bukan sesuatu yang mudah di dapat. Oma—nenek yang merawatnya dengan penuh kasih—tak pernah punya banyak uang. Setiap rupiah telah ditakar untu kebutuhan sehari-hari. Namun, meski mimpinya itu bukan apa-apa, Jipanna merasa tetap harus mengatakannya.
“Oma,” bisik Jipanna, suaranya lirih, nyaris serupa angin menyentuh daun.
“aku cuma ingin satu hal di ulang tahunku nanti… boneka kucing. Boneka yang bisa kupeluk setiap malam sebelum tidur.”
Oma, yang tengah duduk di kursi rutan tua, menghentikan pekerjaannya sejenak. Wajahnya penuh keriput, pendengarannya mulai memudar, dan matanya tak lagi seterang dulu. Ia menatap cucunya dengan kebingungan.
Boneka kucing? Dalam benaknya, yang terlintas justru seekor kucing sungguhan. Namun, dengan senyum lembut dan tangan yang sedikit bergetar, Oma mengangguk pelan.
“Tentu, sayang… Oma akan berusaha sebaik mungkin.”
Jipanna tersenyum cerah, matanya berbinar penuh harap.
“Terima kasih, Oma,” ucapnya tulus, seolah dunia baru saja memberinya seberkas cahaya.
Namun, tanpa ia tahu, di balik senyum lembut Oma tersembunyi sebuah kesalahpahaman besar—yang diam-diam menunggu untuk mengguncang dunia kecil mereka
Oma mulai berpikir keras untuk memenuhi permintaan Jipanna. Ia tidak tahu bagaimana caranya mendapatkan seekor kucing, tapi dalam benaknya, kucing adalah hadiah yang sempurna.
“Aku harus mengusahakannya. Jipanna pasti akan sangat senang menerima hadiah ini,” gumam Oma pelan.
Ia mulai membayangkan seekor anak kucing yang bisa menemani Jipanna bermain, tidur di pangkuannya saat mereka duduk bersama, dan menjadi teman sejati yang menghangatkan hari-hari cucunya. Cinta kepada Jipanna membakar hatinya seperti api yang tak pernah padam. Oma pun bertekad untuk memberikan yang terbaik.
Namun, kenyataan datang dengan cara yang tak terduga—dan pahit. Saat Oma mencari harga anak kucing di pasar, ia terkejut bukan main. Seekor kucing hidup ternyata dibanderol lebih dari satu juta rupiah.
Bagaikan petir yang menyambar di siang bolong, angka itu mengguncang hatinya. Satu juta rupiah? Ia nyaris tak percaya. Jumlah itu terasa seperti gunung tinggi yang tak mungkin didaki, apalagi oleh tubuh tuanya yang sudah renta.
Meski tubuhnya mulai rapuh dan tangan-tangannya kaku, Oma tak gentar. Ia mulai bekerja keras, menggenggam tekad yang lebih besar dari rasa lelahnya. Setiap tetes keringat yang jatuh, setiap langkah yang diayunkan, justru membuat beban itu terasa semakin berat.
Ia membawa kue-kue tradisional buatan sendiri ke pasar, berharap ada yang membeli. Tapi pasar sedang sepi. Setiap rupiah yang ia peroleh terasa seperti butiran pasir yang menetes perlahan dari celah waktu—sedikit demi sedikit. Hatinya pun mulai gelisah, seolah ia sedang berlari mengejar sesuatu yang terus menjauh, tak tergapai
Tak berhenti di pasar, oma juga menerima berbagai pekerjaan serabutan. Ia menjadi tukang rewang di pesta pernikahan, mencuci pakaian milik orang-orang kaya, dan membersihkan rumah-rumah besar yang tak pernah sepi debu.
Semakin banyak pekerjaan yang ia ambil, semakin letih tubuhnya. Kaki Oma terasa seperti dihimpit batu setiap kali melangkah, berat dan lambat. Tapi ia tak pernah mengeluh, tak pernah berhenti.
“Aku harus berhasil,” batinnya.
“Aku harus memberimu kucing itu, Jipanna.”
Setiap malam, Oma duduk dalam sunyi, ditemani cahaya redup dan rasa cemas yang tak kunjung padam. Ia menghitung lembar demi lembar uang yang terkumpul, berharap jumlahnya cukup. Tapi seperti daun yang luruh tertiup angin, harapan itu sering kali terasa ringan—dan tak pernah cukup. Meski begitu, ia tak berhenti. Tak sekalipun.
“Ini untuk Jipanna,” bisiknya lirih, seolah kalimat itu adalah satu-satunya bahan bakar yang membuat tubuh tuanya terus bertahan dari hari ke hari.
Akhirnya, setelah berbulan-bulan berkeringat dan menahan lelah, uang itu terkumpul—lebih dari satu juta rupiah. Dengan langkah yang rapuh namun penuh harapan, Oma menuju pasar.
Di sana, ia memilih seekor anak kucing berbulu halus, matanya bening, tubuh mungilnya gemetar dalam dekapan. Saat membawanya pulang, hati Oma dipenuhi rasa lega dan bangga. Ia merasa seperti pahlawan yang telah menaklukkan medan berat demi cinta yang tak terhingga.
“Ini untukmu, Jipanna,” bisiknya dalam hati, terasa dunia akhirnya memberinya pelukan hangat sebagai hadiah atas segala perjuangan.
Hari ulang tahun Jipanna akhirnya tiba. Dengan hati-hati, Oma membawa kotak besar berisi anak kucing itu. Wajahnya yang penuh kerut tampak berseri; matanya berbinar seperti fajar pertama setelah malam panjang.
“Ini hadiahmu, sayang,” ucap Oma pelan sambil membuka kotak, senyumnya penuh harap.
Namun, seketika wajah Jipanna berubah. Ia mundur beberapa langkah, matanya membesar, bingung sekaligus cemas.
“Oma… ini… kucing hidup! Aku hanya minta boneka kucing, bukan yang sungguhan!” serunya, suaranya pecah menahan guncangan.
Seolah dunia runtuh dalam satu kedipan—sebuah batu besar jatuh menimpa hatinya. Oma terdiam. Wajahnya mengeras, matanya memudar.
“Apa maksudmu, Jipanna?” suaranya serak, seperti ranting tua ditiup angin kencang.
“Aku bekerja sekuat tenaga… mengumpulkan tiap sen yang kupunya… demi membelikan ini untukmu. Kenapa kamu tidak senang?”
Jipanna menatap Oma dengan mata penuh penyesalan. Dadanya sesak, seolah ada beban tak kasatmata yang menindih.
“Oma… aku tahu Oma sudah berusaha sekuat tenaga. Aku tahu,” ucapnya pelan.
“Tapi aku belum siap merawat kucing sungguhan. Aku hanya ingin… boneka kucing.”
Keheningan menggantung di antara mereka—sunyi yang panjang, seolah dunia menahan napas. Lalu perlahan, Jipanna melangkah maju dan memeluk Oma erat.
“Oma, maafkan aku. Aku tak bermaksud mengecewakan. Aku akan belajar merawatnya. Kita bisa lakukan ini bersama-sama, ya?”
Isak tertahan pecah dalam tawa kecil yang hangat. Di tengah kekeliruan dan kesalahpahaman, mereka menemukan sesuatu yang lebih penting: cinta yang tak tergantikan.
Dalam pelukan yang saling menguatkan, mereka tahu—bahwa meski harapan bisa keliru arah, kasih sayang yang tulus selalu tahu jalan pulang.
KELAPA PAK REMI
Karya Aldi Muheldi
Bekas rumah Pak Remi sudah dibiarkan lusuh tak terurus hampir sembilan tahun semenjak dia dan keluarganya pindah ke Semarang, entah kenapa mereka pindah tidak ada satu pun orang di sekitar rumahnya tahu, termasuk pak RT. Di depan halaman rumahnya rerumputan sudah meninggi hingga sebatas lutut orang dewasa dan menyisakan satu batang kelapa tinggi yang keliatan segar karena baru berbuah.
Dan Minggu ini banyak warga yang lewat di depan bekas rumah Pak Remi itu, bolak balik melihat begitu segarnya kelapa yang tumbuh menjulang tinggi ini. Salah satu dari warga sekitar ada yang mau mengambil dengan mencoba memanjat, tapi dari belakangnya ada yang menegur dengan menepuk pundaknya. Seorang pria tua bertopi koboi berjanggut putih yang menyelimuti seluruh dagu. Orang tua itu memarahi warga, namun suaranya tidak seperti marah
“Kau tidak boleh memanjatnya, coba cari cara lain!” Wajahnya begitu datar dengan kumis yang sedikit memanjang di atas bibirnya
“Ba..baik,” warga itu menjawab agak sedikit takut lalu turun, dan berjalan menjauh dari pria itu.
Wajah ketakutan membuat Warga itu berlari kencang keluar dari halaman rumah. Pria tua itu pun juga ikut pergi berjalan keluar dari halaman rumah dengan tongkat yang menopang badannya dan menghilang berlalu setelah belok ke arah kanan.
Berhadapan langsung dengan rumah Pak Remi ada seorang pria muda yang selalu mengintip dari balik tirai jendela jika sesekali melihat ada orang yang akan mengambil kelapa itu. ia melakukannya hampir setiap kali pada saat dia pulang kuliah. Papan nama yang terpampang di rumah ini bertulisakan Ara, mungkin itu namanya.
Orang-orang sekitar tidak terlalu mengenal Ara, karena dia sendiri kurang bersosialisasi dengan tetangga-tetangganya, mungkin dia tidak ada waktu untuk bersosialisasi karena terlalu fokus melihat orang-orang yang mengambil kelapa Pak Remi. Sebagai mahasiswa dia memang sangat aneh, sehabis pulang kuliah tidak ada kegiatan. Memang baru kali ini pohon kelapa itu berbuah, setelah sekian lamanya. Mereka yang memandang pohon kelapa itu seakan-akan terpanggil untuk mengambilnya. Tak ada rasa segan yang terpampang dari wajah mereka ketika mereka mengambil kelapa yang mengoda itu, bahkan orang dewasa yang bisa dikatakan sudah bisa merasa malu pun juga ikut tergoda.
Lantaran rumah itu sekarang tidak ada yang menunggu, dan juga belum tahu status rumah tersebut dijual atau tidak, sungguh tidak ada informasinya. Menurut cerita beredar rumah itu memang tidak jual, karena akan ditempatkan kembali dengan Pak Remi.
Lucunya setiap ada yang mau mengambil kelapa itu, Ara seakan-akan mempunyai sebuah firasat yang sangat kuat, entah itu ketika dia mengerjakan tugas-tugas kuliah, mandi, dan tidur siang sekalipun, tapi firasat itu akan hilang ketika dia sudah berada jauh dari rumah. Rasanya memang cukup aneh pemuda ini, sebagian hidupnya digunakan hanya untuk memata-matai orang yang tergoda untuk mengambil kelapa muda, di tanah yang tidak tahu statusnya.
Setelah pulang kuliah, kursi selalu siap berada di depan jendela, dengan semangkuk Mie instan dan es teh manis. Tidak ada lagi kenikmatan yang sangat bisa disyukuri selain itu, mungkin itu yang ada di pikiran Ara. Televisi di rumahnya bukanlah cara dia untuk mengisi kekosongan waktu, kecuali jika Timnas Indonesia sedang bertanding, pasti dia akan menyetel televisinya saat itu.
Piring dan gelas yang sudah kosong diletakannya saja di bawah, karena biasanya setelah mengintip itu dia baru membereskan semuanya, sebelum aktivitas mengintipnya selesai pantang sekali baginya untuk melakukan apapun, meski itu tidur sekalipun, dan juga tugas pun pernah dia tidak kerjakan.
Sebenarnya dia bisa saja langsung menegur siapapun yang akan mengambil kelapa itu, tetapi tidak ada hak baginya untuk melakukan itu, dia hanya pemuda biasa belum pantas menegur siapapun, hanya dikarenakan banyak orang yang ingin mengambil kelapa muda di tanah yang tidak memiliki status. Meskipun nanti dia sudah bisa dikatakan seorang yang bergelar sarjana, ia merasa dirinya memang tidak mempunyai hak untuk menegur orang atau melarang untuk mengambil kelapa.
Beberapa jam sudah Ara duduk di depan jendela. Matanya seakan-akan sayup-sayup tertutup, beberapa menit sekali menguap lebar, tapi tidak juga ia melihat seseorang mencoba mengambil kelapa itu. Sampai akhirnya ada mobil yang berhenti tepat di depan rumah Pak Remi, orang itu keluar dari mobil, badannya tinggi, memakai kaca mata hitam dan setelan kemeja rapi. Di tangan kanannya dia menjinjing sebuah tas, di tangan kirinya seperti telepon genggam merek terkini.
“kali ini orang yang berbeda, aku tidak pernah melihat seseorang bergaya seperti ini sebelumnya,” Gumamnnya.
Telepon genggam orang itu berdering, lalu diangkatnya. Ara hanya bisa melihat saja, suara dari pembicaraan orang itu tidak dapat didengarnya dari jarak ia duduk sekarang. Entah apa yang pria itu bicarakan dengan seseorang yang berada di dalam telepon genggamnya.
Semula, tidak ada keanehan yang terjadi, ketika seseorang datang lagi dengan setelan yang tidak kalah rapi, dari pemuda yang tadi. Sepertinya itu bukan orang yang berbicara dengan pria sebelumnya lewat telepon, soalnya jarak waktu dia menelpon datang sangatlah singkat. Dua pria itu berjabat tangan, entah apa maksudnya, mungkin mereka sudah lama tidak bertemu.
Ara melihat dengan serius, sampai matanya lupa untuk berkedip. Perbincangan terlihat serius, sampai pria yang datang pertama mengangkat telepon kembali dan berpamitan begitu saja. Ara berpikir mereka sedang merencanakan sesuatu untuk membeli tanah Pak Remi.
“Jangan sampai yang aku pikirkan ini memang benar, tidak ada yang boleh membeli tanah itu,” dia bergumam kesal.
Keadaan jadi semakin mengejutkan sampai pria yang baru datang itu melirik ke atas. Ara jadi semakin merasa sangat penasaran apakah benar orang seperti pria itu akan memanjat pohon kelapa yang tidak seberapa, memang tampaknya terik matahari sangat menyengat pada saat itu, sesekali pria itu menghelus-helus kerongkongannya yang kering.
Seketika batu yang ada di bawah kakinya diambil dan dilemparnya ke atas, berkali-kali sampai satu lemparannya berhasil mengenai kelapa itu. sedikit ada rasa kesal dari pria itu, terlihat dari raut wajahnya, kembali dia mengambil batu yang berada di tanah dan dilemparnya lagi, tapi belum sempat tangannya berayun, dari belakang sudah ada yang menahan laju tangannya.
Pria tua dengan topi koboi itu lagi yang mencegah, dia kembali menegur. Tatapannya begitu tajam, raut mukanya tidak ada kesan marah. Ketakutan terlihat dari wajah pria rapi itu, genggaman batu yang berada di tangan kanannya terlepas, kaki bergetar hebat.
“Coba cara lain!” kata pria tua itu.
“Saya hanya membersihkan tempat ini saja pak,” Jawab pria rapi ketakutan.
“Bersihkan dengan cara lain!” balas pak tua, sambil melepas pengangannya yang kuat.
Sang pria rapi tersenyum ketakutan, dengan langkah teratur dia lalu berlari menjauh dari sana. Pria tua hanya menatap datar dia berlari, sampai menghilang di persimpangan jalan. Tidak berapa kemudian pria yang datang pertama kembali lagi ke tempat semula, kebingungan karena temannya tidak ada, yang ada hanya pria tua.
“Pak, maaf, mana ya orang yang berada di sini tadi?” dia bertanya dengan sopan.
Tanpa ada jawaban dia pun pergi meninggalkan pria itu. berjalan dengan tongkatnya. Pria tua itu tidak kembali lagi sampai dia hilang di persimpangan jalan. Pria yang datang pertama, terlihat tidak tertarik dengan kelapa yang berada di belakangnya. Mata pria itu sekarang tertuju ke rumah Ara, karena dia sudah merasa di lihat, dari balik tirai di mana Ara mengintip.
Langsung tanpa rasa takut, pria ini berjalan menuju rumah Ara, lalu mengetuk pintunya.
“Permisi.” Ara tidak menjawab juga, dia takut pria ini menjadi gila lalu menghantamnya dengan kuat ke dinding. Sekarang Ara berada di depan pintu, dengan ragu-ragu dia mencoba membuka pintu, tapi tidak jadi. Kembali pria itu mengetuk pintu lagi.
“Permisi.”
“Aduh. Mati aku,” Kata Ara kepanikan
Dengan berani dia lalu membuka pintu dan memasang wajah biasa, pria itu pun juga membalas dengan senyuman. Dugaan Ara salah, dia hanya ingin bertanya saja tentang temannya yang tiba-tiba menghilang.
“Apa mas melihat pria yang berada di sana tadi?”
“Saya melihatnya dia lari ke arah kanan persimpangan jalan.” Jawabnya dengan tenang.
“Kenapa ya dia lari?” tanyanya lagi penasaran.
“Tadi dia ingin mengambil kelapa yang berada di rumah yang tidak berpenghuni itu, tapi tiba-tiba seorang pria tua mencegahnya, entah apa yang pria tua itu katakan sehingga pria yang bersama anda tadi pergi dan berlari ketakutan?”
Pria rapi yang datang pertama ini merasa penasaran, dia melirik ke atas pohon, tapi tidak begitu tertarik untuk mengambil kelapanya. Mungkin tidak ada waktu bagi pria itu untuk mengambil kelapa yang bisa ia beli setiap saat, karena pria ini terlihat seperti seorang pengusaha.
“Ya, kalau begitu terima kasih, saya permisi dulu,” Ucapnya sambil berjalan keluar halaman rumah.
Ara kembali menutup pintunya dan duduk di kursinya yang sangat nyaman. Mengintip lagi siapa yang akan mengambil kelapa yang berada di rumah pak Remi. Mobil yang dikendarai pria tadi pun berlalu dari hadapannya, dan sejak saat itu jalan masih sepi dengan orang-orang yang mencoba mengambil kelapa muda pak Remi. Sampai matahari tergelincir dan kembali muncul, jalanan masih sepi. Hanya ada tukang roti yang biasa lewat di depan menjajahkan dagangannya pagi-pagi buta. Ara tidak pernah membelinya karena dia lebih suka memborong roti di mini Market untuk persediaan beberapa Minggu. Setiap pagi dia selalu sarapan roti duduk di kursi yang selalu di letakkan di depan jendela, biasanya roti itu di temani segelas susu cokelat panas.
“Pagi ini keliatan tenang,” Ujarnya sambil mencelupkan roti ke dalam susu.
Rasa penasaran tersentak di kepala Ara, ia lupa kemarin pria yang ketakutan itu tidak kembali-kembali lagi. Apakah dia menghilang begitu saja? Entahlah, Ara tidak akan memikirkannya, tetapi yang ada di pikirannya saat ini tidak itu saja, pria tua yang menegur orang-orang yang ingin mengambil kelapa selalu datang pada saat yang tepat.
Sabtu, perkuliahan libur tidak ada jam tambahan. Benar-benar hari yang sangat bebas untuk mengintip, semua sudah dipersiapkan Ara kali ini sebuah bangku kecil untuk menopang kakinya dan sebuah bantal di belakangnya. Tidak ada buku, tidak ada tugas, hanya sebuah rasa penasaran di pagi yang cerah siapa yang akan mengambil kembali kelapa itu.
“Kali ini seorang pasti akan mencoba mengambilnya.”
Tak lama setelah dia berbicara, tiba-tiba banyak orang-orang yang berdatangan mengerumuni rumah pak Remi, seperti wartawan, mobil-mobil beberapa stasiun tv berparkir di sana, menutupi sedikit pandangan Ara. Ia merasa terkejut, kejadian seperti ini membuatnya keluar dari rumah dan berdiri di teras memandangi kerumunan wartawan yang meliput.
Dari arah yang berbeda terlihat mobil yang kemarin berada di rumah pak Remi datang kembali kali ini dia menghampiri Ara, dan langsung seketika menjabat tangannya. Ara kebingungan tidak ada orang yang seperti ini dia temui sebelumnya, pria ini tersenyum.
“Berita ini sangat bagus mas,” Katanya dengan semangat.
“Berita apa pak?” Tanyanya bingung.
Telepon berdering dari saku celana pria itu, seketika dia pun berlalu menjauh dari rumah Ara dan langsung bergabung dengan kerumunan. Kebingungan masih tergambarkan dari raut wajahnya, entah apa maksud dari semua ini, yang terpenting dari itu, semua kelihatan berbeda dari sebelumnya.
Setelah wartawan pergi dan benar-benar tidak ada lagi, pohon kelapa itu diberi garis polisi. Orang-orang sekitar banyak yang berkumpul penasaran dengan pohon kelapa itu, ada yang menyentuhnya, berdoa di sana, dan ada yang sekedar berfoto-foto saja seakan-akan berada di objek wisata.
Ara duduk di bangku biasa dia mengintip. Sepertinya orang-orang sekarang lebih tertarik dengan cerita aneh yang terdengar dibandingkan kelapa muda yang beberapa Minggu ini sangat menggoda. Dia merasa tidak ada hiburan lagi, televisi itu bukan sebuah hiburan dia bilang. Dengan rasa kecewa dia beranjak ke tempat tidur dan terlelap sampai matahari kembali terbit.
Dia tidak duduk di kursi di mana dia biasa mengintip. Ia langsung membuka pintu dan mencium bau segar pagi, orang-orang yang masih sepi dari aktivitas burung-burung masih tidur, hanya ayam yang berkokok membangunkan orang, tapi seketika terkejut di depan rumah pak Remi kelihatan berbeda tidak ada lagi dia melihat pohon kelapa yang berdiri kokoh beserta kelapanya yang senang tiasa membuat orang yang lewat di depannya tergoda.
Garis polisi masih tampak mengelilingi pohon itu, tapi kali ini terlihat sangat berbeda.
“Wah, ini sangat mengerikan, aku tidak menyadarinya,” Katanya dengan kesal.
Dia berlari mendekati halaman rumah pak Remi, sambil menatap kosong sekitar halaman. Yang aneh tidak ada batang yang rebah di sana, sepertinya seseorang memotongnya dan langsung menyingkirkan bekas rebahan kayu itu, karena tidak ada sesampahan di sana, tidak ada juga jejak kaki apapun di sana.
Sampai akhirnya pria kemarin datang menghampiri, sambil memukul pundak Ara dengan pelan, dia hanya mengungkapkan rasa kekecewaannya juga, karena ruang beritanya sudah hilang. Ara tidak menghiraukan pria itu, dan saat itu juga wartawan kembali datang meliput, dia pun bergabung dengan kerumunan wartawan. Seseorang dari jauh datang masuk dalam kerumunan dia membawa sebuah tongkat yang biasa pria tua bertopi koboi bawa.
“Semua ini ulah pak Remi, semuanya hanya kebohongan yang ada di sekitar kita,” Katanya lalu pergi ke arah bekas pohon dan meletak tongkat di sana.
“Pak Remi sudah tidak ada, bukan pergi keluar kota.”
Dan air mata Ara pun menetes seketika.
Beringin, di saat pikiran benar-benar tidak sempurna, 18 Desember 2016



