Tempat dimana cerita-cerita pendek dipilih dan dibagikan kepada kalian
Kopi di Ujung Tatapan
Fika Kurnialin merupakan seorang mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika di Universitas Sebelas Maret (UNS). Menulis cerita pendek adalah cara Fika untuk mengisi waktu luang, yang seringkali menjadi sarana efektif untuk menuangkan emosi dan membagikan gagasan atau pengalaman pribadinya. Ia percaya bahwa melalui cerpen, ia dapat terhubung dan berbagi cerita dengan orang lain.
Langit sore itu berwarna oranye keemasan, menetes lembut ke jendela kaca Aroma Beans Café, tempat yang sudah menjadi semacam pelarian bagiku sejak beberapa bulan terakhir. Suara grinder yang menderu, dentingan sendok di gelas, dan aroma kopi yang menyelimuti udara selalu berhasil menenangkan pikiranku yang kusut oleh rutinitas kuliah dan latihan voli.
Aku bukan penggemar kopi, sebenarnya. Tapi entah mengapa, ada sesuatu di tempat ini yang membuatku betah duduk berjam-jam di kursi pojok dekat jendela, sudut favoritku. Mungkin karena di sudut itu, aku bisa melihat semuanya tanpa terlihat. Termasuk dia.
Dia, barista dengan lengan kekar yang selalu tampak mengilap karena keringat lembut di bawah lampu kuning hangat. Setiap gerakannya terasa ritmis; dari menggiling biji kopi, mengetuk portafilter, sampai menuang espresso dengan tangan yang stabil. Namanya kutahu dari papan nama kecil di dada kirinya: Arka.
Sejak pertama kali aku datang ke kafe ini, Arka selalu tampak sibuk, tapi tatapannya sering, sangat sering menyapu ke arahku, sekilas, lalu berpura-pura fokus lagi pada pekerjaannya. Awalnya aku menganggap itu kebetulan. Tapi semakin sering aku ke sana, semakin aku yakin, pandangan itu bukan tanpa arti.
Namun, aku tak pernah punya cukup keberanian untuk berbuat apa pun selain mengagumi dalam diam. Seperti pecinta rahasia yang takut cahaya, aku hanya bisa menatap dari jauh, lalu pura-pura sibuk menggulir ponsel saat matanya tanpa sengaja beradu dengan mataku.
Sampai hari itu tiba, hari ketika aku datang ke kafe masih dengan baju latihan voli: jersey oranye dan celana training hitam. Rambutku diikat seadanya, kulitku sedikit terbakar matahari. Aku hampir tidak ingin mampir karena merasa penampilanku berantakan, tapi kaki ini entah kenapa tetap melangkah ke sana. Seolah rindu yang menuntun.
Ketika pintu kaca terbuka, lonceng kecil di atasnya berdenting, dan seperti biasa, Arka sedang di balik mesin espresso. Tapi kali ini, dia berhenti. Tatapannya jatuh tepat padauk, sangat tajam, sedikit terkejut, tapi kemudian mengembang menjadi senyum samar yang belum pernah kulihat sebelumnya. “Latihan, ya?” katanya, saat aku mendekat ke kasir.
Aku tertegun. Biasanya dia hanya menyapa singkat, formal, seperti “Mau pesan apa, Kak?” Tapi kali ini nada suaranya hangat, sedikit ragu, tapi jujur ingin tahu.
Aku mengangguk canggung. “Iya. Baru selesai latihan voli.”
“Oh, pantas,” gumamnya pelan. “Kelihatan capek, tapi keren.”
Jantungku berdetak tidak karuan. Aku mencoba tersenyum santai, tapi aku tahu pipiku pasti sudah memerah. “Kopi susu biasa, ya, Kak?” tanyanya lagi, kali ini dengan senyum penuh di bibirnya.
Aku hanya bisa mengangguk. Dan untuk pertama kalinya, kami benar-benar bertukar senyum, bukan sekadar tatapan singkat di sela rutinitas. Aku duduk di sudutku seperti biasa, tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda di udara. Pandangan Arka kadang masih mencuri ke arahku, tapi kali ini, aku bisa melihatnya tanpa berpura-pura. Dan aku tidak ingin sore itu berakhir.
Pertemuan berikutnya terasa seperti babak baru dari kisah yang tidak pernah kumulai tapi diam-diam kuharapkan. Aku datang dengan pakaian biasa, kaus dan celana jeans, berharap bisa bersikap seperti pelanggan lain. Tapi saat sampai di kasir, Arka lebih dulu tersenyum, seolah sudah menunggu.
“Halo,” sapanya pelan. “Latihan volinya sudah selesai, ya?”
Aku sedikit terkejut. “Hah? Oh, iya. Udah. Kok tahu?”
Dia terkekeh kecil. “Kemarin pakai jersey, kelihatannya atlet banget. Kamu main voli, kan?”
Aku menatap matanya sesaat. Tatapan yang jujur, tidak dibuat-buat. Aku mengangguk pelan. “Iya. Aku suka voli. Lumayan sering latihan.”
“Pantes,” katanya, sambil menyiapkan gelas. “Dari postur kelihatan sih. Tegak dan bahunya lebar.”
Aku tertawa kecil, mencoba menyembunyikan degup yang makin cepat.
“Kamu juga kayaknya suka olahraga.”
Dia tersenyum. “Kelihatan ya?”
“Sedikit,” jawabku. “Mungkin dari caramu ngangkat milk jug. Penuh tenaga.”
Dia tertawa kali ini, tawa yang hangat, rendah, dan entah kenapa membuatku ingin mendengarnya lagi. Tapi setelah itu, percakapan kami berhenti di sana. Aku membawa kopiku ke meja pojok, sementara Arka kembali ke pekerjaannya, tapi setiap kali aku mengangkat pandangan, dia selalu ada di sana, dengan tatapan yang sama, penuh tanda tanya yang tidak terucap.
Hari-hari setelah itu terasa seperti mengulang satu lagu yang sama. Aku datang, memesan kopi, menatapnya, tersenyum, lalu pergi. Kami tidak pernah benar-benar bicara lagi. Seolah ada tembok tipis yang memisahkan kami, bukan karena takut, tapi karena tahu batas.
Namun diam-diam, aku tetap memperhatikan. Aku tahu Arka selalu menggulung lengan bajunya sampai siku, selalu mencicipi kopi sebelum menyajikan, dan selalu menatap ke arah pintu setiap kali lonceng berbunyi, seolah berharap seseorang datang.
Dan mungkin, orang itu aku.
Kadang aku bertanya-tanya, “Apakah dia juga memperhatikan hal-hal kecil dariku? Seperti bagaimana aku selalu duduk di sudut yang sama, bagaimana aku menyentuh cangkir dengan tangan kiri, atau bagaimana aku kadang menulis sesuatu di buku catatan kecil setiap kali sedang sendu.” Mungkin iya. Mungkin tidak.
Tapi semua pertanyaan itu tidak pernah terjawab, sampai suatu sore yang mendung di bulan November.
Aku datang lebih awal dari biasanya, karena latihan dibatalkan akibat hujan deras. Kafe sepi, hanya ada beberapa pelanggan yang sibuk dengan laptop mereka. Arka sedang membersihkan meja bar, dan ketika melihatku masuk, senyum itu, senyum hangat yang membuat dadaku bergetar kembali muncul.
“Kamu datang juga meski hujan,” katanya.
Aku tersenyum kecil sambil melepas jaket. “Udah terlanjur kangen suasananya.”
Dia terdiam sebentar, lalu menatapku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. “Sama,” katanya pelan.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku hanya duduk seperti biasa, sementara dia menyiapkan pesanan tanpa banyak bicara. Tapi kali ini, entah kenapa, heningnya terasa nyaman.
Sampai akhirnya dia datang membawa secangkir kopi dan menaruhnya di mejaku sendiri. Bukan lewat pelayan, bukan lewat meja bar. Dia datang langsung, berdiri di depanku.
“Boleh duduk?” tanyanya, sopan.
Aku terkejut, tapi mengangguk. Dia duduk di kursi seberang, menyandarkan tubuhnya, lalu menatapku lama, seolah sedang memastikan sesuatu.
“Kamu tahu nggak,” katanya tiba-tiba, “aku sering lihat kamu di sini. Bahkan sebelum kamu sadar aku ada.”
Aku terdiam. Kata-katanya seperti cermin dari pikiranku sendiri.
“Serius?” tanyaku pelan.
Dia mengangguk. “Awalnya cuma iseng. Kamu selalu duduk di sudut itu, sendirian, kelihatan tenang tapi matamu… kelihatan capek. Tapi entah kenapa aku suka lihatnya. Kayak kamu selalu berusaha kuat.”
Aku menatapnya, tak mampu berkata apa-apa. Hanya bisa mendengarkan.
“Waktu kamu datang pakai baju voli,” lanjutnya, “aku baru sadar, ternyata kamu nggak cuma kuat di dalam, tapi juga di luar. Dan entah kenapa, aku pengen kenal lebih jauh.”
Aku tersenyum samar. “Kamu barista yang jago merangkai kata, ya?”
Dia tertawa kecil. “Nggak juga. Cuma jujur.”
Aku menunduk, berusaha menyembunyikan rona di wajahku. “Lucu ya. Aku juga sering memperhatikan kamu. Dari cara kamu bikin kopi, dari caramu ngerapihin apron. Semuanya.”
Dia mengangkat alis, tersenyum penuh arti. “Berarti kita sama.”
Kami tertawa pelan. Tapi di balik tawa itu, ada sesuatu yang tidak terucap, rasa yang tumbuh tapi tak tahu harus ke mana.
Setelah hari itu, segalanya kembali seperti semula. Kami tidak pernah berbicara lagi sedekat itu. Arka tetap barista, aku tetap pelanggan tetap di pojok jendela. Tapi kini setiap tatapan kami membawa cerita; setiap senyum menyimpan kenangan.
Mungkin karena kami tahu, kami tak perlu lebih dari itu. Ada batas yang tak kasat mata, entah waktu, keadaan, atau mungkin kenyataan bahwa tidak semua rasa harus memiliki akhir bahagia.
Suatu hari aku mendengar kabar dari pelayan lain bahwa Arka akan berhenti bekerja di Aroma Beans Café. Katanya, dia diterima bekerja di Bandung, di kafe besar yang lebih profesional. Aku tersenyum mendengar itu, tapi di dada ada ruang kosong yang pelan-pelan tumbuh.
Hari terakhirnya, aku datang. Duduk di sudut yang sama, dengan secangkir kopi yang rasanya entah kenapa lebih pahit dari biasanya. Arka masih di balik bar, mengenakan apron yang sama, tapi kali ini ia tampak lebih tenang. Saat matanya menemukan mataku, kami saling tersenyum, lama, tanpa kata.
Ketika aku berdiri hendak pergi, dia tiba-tiba berjalan ke arahku dan berhenti di depan meja.
“Terima kasih udah sering datang,” katanya.
“Terima kasih juga… udah nyeduh banyak sore yang hangat,” jawabku pelan.
Dia mengangguk. “Kalau nanti kamu ke Bandung, mampir ya. Siapa tahu aku masih jadi barista.”
Aku tersenyum, tapi di mataku sudah terasa perih. “Mungkin.”
Kami saling menatap sekali lagi, lama, seolah berusaha mengingat setiap detail sebelum semuanya menghilang. Lalu aku berbalik, melangkah keluar dari pintu kaca itu. Lonceng kecil berdenting untuk terakhir kalinya.
Di luar, hujan turun deras. Tapi aku tidak berlari. Aku berjalan pelan, membiarkan tetes air menghapus sisa rasa yang tak sempat tumbuh.
Dan di balik kaca, Arka masih berdiri, menatap ke arahku. Seperti dulu.
Seperti cinta yang hanya bisa dipandang, tapi tak pernah bisa dimiliki.
Beberapa bulan kemudian, aku masih sering datang ke Aroma Beans Café. Barista baru yang menggantikan Arka ramah, tapi tidak pernah membuatku merasa sama. Setiap kali aroma kopi menyentuh hidungku, aku selalu teringat tatapan itu, hangat, tenang, sekaligus menyakitkan.
Mungkin memang begitu cara semesta mengajarkan arti kehilangan, bahwa tidak semua orang yang membuatmu tersenyum akan tinggal selamanya, dan tidak semua pertemuan membutuhkan kelanjutan.
Beberapa cukup berhenti di satu sore yang indah, dengan secangkir kopi dan tatapan yang tak pernah benar-benar berakhir.
Satu Porsi Untukmu
“Hai, aku Ron. Salam kenal! Mau makan denganku?”
Sapaan itu muncul tiba-tiba dari arah depanku, mengagetkan setelah aku duduk cukup lama. Keriuhan kantin berdengung di telinga, mulai terasa mengganggu di tengah jam makan siang. Aku menatapnya. Senyuman manis dan polosnya terlalu terang; rasanya aneh, bahkan membuat perutku mulas. Tapi apa boleh buat, toh aku murid baru di sini. Dia ingin berkenalan. Apa salahnya?
Aku mengangkat bahu, tidak menatap matanya. “Boleh. Tapi, aku tidak bawa bekal.”
“Tak apa!” Ron berseru riang. “Kamu bisa memakan sebagian bekal dari bekalku! Aku juga bawa banyak makanan.”
Dia langsung mengeluarkan kotak bekalnya yang ternyata lebih besar dari perkiraanku dan menaruhnya di mejaku. Benar saja, makanan yang ia bawa banyak sekali. Nasi, dua buah ayam goreng, sayur kangkung, dan tiga buah tempe goreng, semuanya terlihat sehat dan lezat. Aku mendongak, kembali menatap wajah Ron.
“Uh, kamu bawa makanan sebanyak ini untuk apa?”
“Sebenarnya aku bawa sebanyak ini biar aku tidak jajan di sorenya. Tapi lupakan itu. Ayo makan!”
Ron dengan cekatan membuka tutup kotak bekalnya. Dia membagi nasi menjadi setengah dan menaruh porsi itu ke penutup kotak bekalnya, menciptakan piring darurat untukku. Kemudian, dia juga membagi ayam goreng, tumis kangkung, dan tempenya dengan adil.
“Oh ya, tadi aku tidak terlalu memperhatikan saat perkenalan kelas. Namamu Damian, kan?” Dia mengerutkan kening, mencoba menggali ingatannya.
“Darren.”
Ron membulatkan mata, tangannya refleks menutup yang penuh nasi. “Of, maaf, hehe. Ngomong-ngomong, kamu pindahan dari mana?”
“Jakarta.”
“Wah, jauh banget. Moga kamu betah ya di sini.” Dia kembali tersenyum, pipinya mengembung karena mengunyah.
Aku hanya mengangguk pelan, lalu mulai menyuap. Ayam gorengnya enak, kulitnya renyah, dagingnya lembut dan berbumbu. Sepanjang makan siang, Ron terus berceloteh. Tentang guru kilat, tentang klub basket, tentang es teh kantin yang katanya legendaris. Aku hanya mendengarkan, sesekali bergumam sebagai respons. Anehnya, suaranya tidak membuatku pusing seperti kebisingan murid lain. Justru terasa seperti white noise yang menenangkan.
Sejak kejadian di Jakarta, aku memutuskan untuk tidak merepotkan siapa pun. Sendiri itu lebih aman. Tidak ada ekspektasi, tidak ada rasa takut kehilangan.
Tapi Ron… dia menyusup masuk ke pertahananku dengan cara paling sederhana. Lewat seporsi ayam goreng dan nasi hangat
***
Memasuki munggu ketiga, rutinitas ini mulai mengubahku. Ron menjadi pemandangan tetap di mejaku saat jam makan siang. Selalu dengan senyum yang sama, kotak bekal jumbo yang sama, dan porsi yang selalu dibagi dua.
“Pagi, Darren!” sapanya suatu pagi saat aku baru meletakkan tas.
Aku mengangguk singkat. Respons dinginku tak pernah mematahkan semangatnya. Dia malah menarik kursi di sebelahku, padahal mejanya di barisan depan dan mulai bercerita.
“Kamu harus lihat Mochi tadi pagi, Darren! Dia Golden Retriever, bulunya kuning cerah kayak matahari. Tiap aku mau berangkat, dia pasti loncat-loncat di pagar, buntutnya goyang heboh sekali!”
Aku melirik Ron. Matanya berbinar, seolah dia sedang menceritakan keajaiban dunia, bukan sekadar anjing peliharaan. Ada sedikit rasa iri yang menyengat dadaku melihat antusiasme itu.
“Kamu suka anjing?” tanyaku pelan.
Ron menoleh cepat, antusias. “Suka sekali! Kamu gimana?”
“Dulu pernah punya.” Kata-kata itu keluar tanpa kusadari.
Ron mengernyitkan dahinya, menunggu aku melanjutkan. Tapi aku langsung menutup mulut. Aku tidak mau membahas tentang itu. Tentang Kuro. Tentang sahabat terbaikku di Jakarta yang sekarang sudah tidak ada lagi.
“Oh…” Ron sepertinya menangkap perubahan raut wajahku. Dia diam sejenak, lalu tersenyum—kali ini lebih lembut, lebih pengertian. “Kapan-kapan main ke rumahku, yuk? Nanti aku kenalin sama Mochi.”
Aku tidak menjawab, hanya menunduk menatap meja. Tapi dalam hati, tawaran itu mulai terdengar menarik..
**
Rutinitas ini mulai mengubahku. Setiap pagi, tanpa sadar aku menunggu. Menunggu suara cempreng Ron. Menunggu cerita random-nya yang tidak penting tapi entah kenapa membuat hariku tidak sepi.
Pernah suatu kali Ron terlambat karena ban sepedanya kempes. Selama lima belas menit pertama pelajaran, kakiku terus mengetuk lantai dengan gelisah. Mataku tak bisa berhenti melirik pintu kelas. Saat dia akhirnya muncul dengan napas terengah dan rambut berantakan, bahuku merosot lega.
Perasaan ini membuatku takut.
Setiap kali aku mulai peduli, semesta seolah mengambilnya kembali. Kuro hilang karena aku lengah. Pintu pagar yang lupa kututup. Bunyi decit ban mobil. Dan hening yang menyakitkan sesudahnya. Ibu bilang itu kecelakaan. Tapi aku tahu, itu kelalaianku.
Maka dari itu aku membangun tembok. Kalau tidak dekat, tidak akan sakit saat ditinggalkan.
Tapi Ron terus datang, terus memanjat tembok itu, bata demi bata.
**
Suatu sore, aku menemukan Ron duduk sendirian di bangku taman sekolah yang mulai sepi. Biasanya dia orang pertama yang melesat pulang. Ada yang salah. Dia menatap kosong ke tanah, jemarinya meremas ujung seragam hingga kusut.
“Ron?”
Dia tersentak kaget. Dengan cepat, topeng cerianya terpasang kembali. “Eh, Darren! Belum pulang?”
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Tidak apa-apa. Cuma lagi pengen duduk aja.” Senyumnya tidak mencapai matanya.
Aku duduk di sebelahnya tanpa permisi. Angin sore bertiup, membawa aroma bunga kamboja yang jatuh di sekitar kami.
“Darren,” suaranya pelan, nyaris hilang terbawa angin. “Kamu tahu alasan sebenernya kenapa aku selalu bawa bekal banyak?”
Aku menoleh, menunggunya melanjutkan.
“Ibuku… dia trauma. Dulu keluarganya susah. Dia sering kelaparan waktu kecil. Jadi sekarang, dia takut sekali aku meraskaan hal yang sama.” Ron tertawa getir.
Aku terdiam. Selama ini aku mengira hidup Ron sempurna. Selalu tertawa, selalu punya segalanya. Ternyata dia juga memikul beban, hanya saja dia menyembunyikannya di balik kotak bekal besar itu.
Ron menatapku, tatapannya rapuh. “Aku tahu dia capek kerja, tapi dia tetap bangun subuh buat masak. Kadang aku merasa bersalah. Aku tidak tahu cara berterima kasih selain menghabiskan makanannya. Tidak boleh ada sisa. Sekenyang apa pun aku.” Dia diam sebentar, menarik napas. “Tapi sejak ada kamu, aku lega. Aku bisa berbagi. Aku tidak perlu memaksakan diri menelan semuanya sendirian.”
Tenggorokanku tercekat.
“Makasih ya, Darren. Sudah mau makan dengan aku.”
“Harusnya aku yang makasih,” jawabku spontan.
Ron menatapku, matanya berkaca-kaca. Kali ini, senyumnya tulus.
**
Ron masuk kelas dengan wajah datar. Pucat. Tidak ada sapaan, tidak ada senyum. Dia duduk diam, tatapannya lurus menembus papan tulis. Teman-teman yang menyapanya hanya mendapat anggukan lemah.
Jam makan siang tiba. Ron tidak beranjak ke mejaku.
Dia tetap di kursinya, mengeluarkan bungkusan plastik dari tas. Bukan kotak bekal. Hanya sebungkus roti tawar.
Alarm bahaya berbunyi di kepalaku.
Tanpa pikir panjang, aku bangkit dan menghampirinya. Beberapa anak menatapku heran—ini pertama kalinya ‘si murid baru pendiam’ berinisiatif mendatangi orang lain. Aku tidak peduli.
“Ron.”
Dia mendongak perlahan. Roti di tangannya belum disentuh. “Eh, Darren? Kenapa?”
“Kamu…kenapa?”
“Hah? Aku baik-baik saja!”
Bohong. Matanya bengkak. Suaranya serak dan retak.
“Kamu habis menangis, jangan berbohong.”
Pertahanan Ron runtuh seketika. Bahunya mulai bergetar. Roti tawar yang ia pegang tanpa sadar ia remas hingga penyek.
“Aku…” bisiknya, suaranya pecah. “Mochi… ditabrak kemarin sore.”
Duniaku serasa berhenti berputar. Dingin merambat dari ujung kaki ke kepala. Mochi. Anjing matahari itu.
“Aku lagi ajak dia jalan. Tiba-tiba ada motor ngebut… aku tidak sempat menahan talinya. Dia lari ke jalan dan… orangnya kabur begitu saja.” Air mata mulai membanjiri pipi Ron. “Aku bawa ke dokter, tetapi… dia tidak selamat.”
Aku terdiam. Aku bukan orang yang pandai menghibur. Aku bahkan tidak pernah peduli dengan masalah orang lain. Tetapi melihat Ron seperti ini, ada rasa sesak yang mencengkeram dadaku.
Ron mulai menangis. Bahunya mulai bergetar. “Aku… aku harusnya lebih hati-hati, Darren. Aku harusnya pegang talinya lebih kencang. Aku harusnya—”
“Bukan salahmu.” Kalimat itu lolos begitu saja, tegas. Kata-kata yang aku sendiri tidak pernah percaya selama ini.
Ron mendongak, menatapku dengan mata basah.
“Itu bukan salahmu, Ron,” kataku lagi, lebih pelan. “Kamu tidak bisa kontrol semua hal. Kamu tidak bisa tahu kalau ada orang gila yang mengebut. Itu… itu bukan salahmu.”
Dan untuk pertama kalinya sejak Kuro meninggal, aku juga mulai percaya kata-kata itu. Saat mengucapkan itu, aku sadar aku juga sedang berbicara pada diriku sendiri. Mungkin… mungkin aku memang bukan pembunuh.
Ron mengusap air matanya. “Aku… aku tidak mau menangis di sekolah,” bisiknya. “Tapi aku tidak kuat, Darren. Aku… aku kangen Mochi.”
“Menangis saja. Tidak apa-apa.” Aku menarik kursi dan duduk di sebelahnya.
Ron memelukku. Dia menangis hebat di pundakku, menumpahkan segala sesak di dadanya. Aku hanya diam, menepuk-nepuk punggungnya kaku, membiarkan seragamku basah oleh air matanya.
Setelah tangisnya reda, dia melepaskan pelukan sambil mengusap ingus. Wajahnya merah padam. “Maaf… baju kamu basah.”
“Tidak masalah.”
“Kamu sudah makan?” tanyaku.
Ron menggeleng, menatap roti tawar yang sudah tak berbentuk di meja. “Ibu tidak sempat masak. Aku juga tidak nafsu.”
Aku mengambil roti penyek itu dan menyingkirkannya. “Tunggu di sini.”
“Eh? Mau ke mana?”
Aku tidak menjawab. Aku berlari ke kantin. Lima menit kemudian, aku kembali dengan dua bungkus nasi goreng hangat, ayam goreng, dan dua kotak jus jeruk. Aku menata semuanya di meja Ron.
“Makan,” perintahku.
Ron menatap makanan itu, lalu menatapku. Matanya kembali berkaca-kaca. “Darren…”
“Kamu selalu berbagi bekal denganku. Sekarang giliranku.”
Setetes air mata jatuh lagi, tapi kali ini, sebuah senyum kecil terbit di bibirnya. “Terima kasih, Darren.”
Kami makan dalam diam yang nyaman. Sesekali Ron bercerita tentang kebiasaan lucu Mochi, dan aku mendengarkan. Kali ini, aku juga bercerita. Tentang Kuro. Tentang bagaimana dia selalu tidur di kakiku.
“Aku tidak pernah cerita ini ke siapa-siapa,” akuku pelan. “Aku… aku merasa bersalah selama ini. Rasanya seperti aku yang membunuh Kuro.”
Ron menggenggam tanganku di atas meja. Erat. “Kita sama-sama belajar untuk tidak menyalahkan diri sendiri, ya?”
Aku mengangguk. Dan untuk pertama kalinya, beban di dadaku terasa lebih ringan.
**
Hari-hari berikutnya, Ron perlahan kembali menjadi dirinya sendiri. Senyumnya kembali merekah, meskipun kini ada kedewasaan di sorot matanya. Kami tidak lagi hanya bicara soal hal-hal seru, tetapi juga tentang hal-hal yang menyakitkan. Kami saling menyembuhkan.
Suatu hari saat kami makan siang bersama, Ron berkata, “Terima kasih, Darren. Waktu itu, aku tidak tahu harus bagaimana. Tetapi kamu ada untukku. Momen itu berarti sekali bagiku.”
Aku mengangkat bahu. “Biasa saja.”
Ron tertawa. “Kamu itu, sulit sekali mengakui bahwa kamu itu sebenarnya perhatian.”
“Aku tidak perhatian.”
“Iya, iya. Terserah kamu.”
Aku menatap Ron yang tersenyum lebar. Mungkin aku memang bukan orang yang hangat atau mudah bergaul. Tetapi setidaknya, aku punya satu teman yang tulus. Satu teman yang mengajariku bahwa berani membuka diri—meskipun berisiko terluka—adalah bagian dari hidup.
“Eh, Darren,” panggil Ron tiba-tiba.
“Apa?”
“Besok aku mau bawa bekal nasi uduk. Kamu suka nasi uduk, kan?”
Aku menatapnya. Tanpa sadar, sudut bibirku terangkat membentuk lengkungan tipis. “Iya. Aku suka.”
Dan untuk pertama kalinya sejak aku pindah ke sekolah ini, aku merasa… pulang.
“Ih! Kamu senyum?! Kamu senyum! Tahan, jangan bergerak! Aku mau foto!” Ron panik merogoh saku celananya mencari ponsel.
Aku langsung menutup wajahku menggunakan tangan kananku karena malu, “Apaan sih.”
Ron terkekeh pelan, dia mulai memfoto diriku yang sedang melindungi wajah. “Ayolah, say cheese!”
Setelah Kepergianmu, Hidupku Jadi Berantakan, Bu
Kanaya Nurul Salma, atau yang akrab dipanggil Salma, adalah seorang mahasiswa Pendidikan Fisika di Universitas Sebelas Maret. Ia menulis cerpen ini karena terinspirasi dari kisah hidupnya sendiri dan keinginannya untuk mengingatkan pembaca agar menghargai orang yang masih ada di sekitar mereka. Melalui tulisannya, Salma berharap pesannya tentang kesempatan yang hanya datang sekali dalam hidup dapat sampai dan menyentuh hati para pembacanya.
Rabu sore itu, seharusnya menjadi biasa saja, suasana yang mestinya tenang berubah menjadi duka yang tidak pernah aku bayangkan. Waktu terasa berhenti ketika aku dipaksa menghadapi kenyataan paling pahit: kehilangan seseorang yang paling aku sayang, seseorang yang selalu aku cari setiap pulang sekolah.
Aku masih ingat dengan jelas saat itu. Ibu terbaring di rumah sakit, tubuhnya dipenuhi alat-alat medis yang membuatnya tampak semakin rapuh. Aku berdiri di sampingnya sambil menangis, berharap semua alat itu bisa dilepas dan ibu kembali membuka mata seperti dulu. Dalam hati, aku memohon kepada Tuhan, meminta keajaiban, meminta kesempatan sekali lagi untuk bisa mengobrol dan tertawa bersama ibu seperti dulu.
Tetapi sore itu aku terpaku dalam kesedihan, aku bingung harus gimana, hidup? Bagaimana jika ibu meninggal. Hidup aku bagaimana bu??. Segalanya terjadi begitu cepat. Suara dimana ayah ku teriak kepadaku yang pada saat itu aku sedang izin untuk keluar sebentar karena tidak kuat melihat keadaan ibu yang terbaring sangat lemah. Ayah ku berteriak sangat sangat kencang tetapi air matanya ikut mengalir.
“Dek, dengar Ayah baik-baik. Ibu sudah tiada. Ibu sudah meninggal,” sebut ayahku yang berteriak kepadaku
Aku pun terdiam, sambil memikirkan “apakah itu Cuma mimpi? Aku melihat ibu saya sedang tidur dan tidak mungkin ibu pergi begitu cepat. Tuhan jika sembuh tidak begini yang engkau berikan kepadaku”.
Aku masih tidak percaya dengan semua terjadi. Aku memohon, berharap apa yang aku dengar hanyalah mimpi buruk yang bisa ku bangunkan,
Tapi dunia tak mendengar.
Saat jantung Ibu berhenti, waktu ikut membeku. Semua yang kupahami tentang hidup—tentang masa depan—runtuh tanpa peringatan. Aku ingin berteriak, tapi suaraku hilang bersama napas terakhir yang Ibu hembuskan.
Hari itu… aku belajar bahwa kehilangan adalah guru paling kejam.
Aku berdiri di samping ranjang rumah sakit, menatap tubuh yang selama ini menjadi pelabuhan hangatku, orang dimana ketika sepulang sekolah aku cari dan aku peluk erat erat. Di ruangan yang berbau obat itu, aku merasa seperti anak kecil yang ditinggalkan di tengah badai.
Aku terdiam sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit. Begitu tiba di rumah, kulihat orang-orang sudah berkumpul di depan, dengan bendera kuning yang terpasang jelas di dinding. Mereka menatapku penuh belas kasihan, mengucapkan hal yang sama berulang kali.
“Yang sabar, ya… yang tabah.”
Di kepalaku, satu kalimat terus berputar seperti kaset rusak.
“Seandainya aku bisa melakukan lebih…”
Penyesalan itu menekan dadaku. Aku teringat saat masih hidup, ketika ia meminta aku menyuapkan sebutir makanan. Aku menolak. Aku hanya berkata. “Bu, nanti saja… aku lagi sibuk. Biar Bapak saja, ya.” Lalu aku masuk ke dalam kamar tanpa menoleh lagi. Kini kalimat itu kembali menghantuiku, lebih keras dari apapun.
Dan “nanti” itu…
Tak pernah datang lagi.
Aku berharap bisa memutar waktu.
Minta maaf.
Memeluknya lebih lama.
Mendengar semua cerita yang dulu kuanggap biasa saja.
Tapi yang tersisa kini hanya keheningan…
Yang menusuk lebih tajam daripada pisau mana pun.
Rumah yang biasanya penuh suara langkah Ibu, ceria, tawa dan dimana rumah itu kita mengobrol banyak kini terasa asing, sunyi sekali Piring-piring masih tersusun rapi di dapur. Kerudung yang sering ia pakai masih tergantung di dinding dan Makanan yang ia sering makan masih utuh. Semua tampak sama… tapi kehadirannya telah hilang.
Aku berjalan melewati ruang tamu. Kursi panjang tempat dimana kita menghabiskan waktu bersama pada saat itu. Bercerita, Mengobrol bersama dan penuh suasana seru di kursi tersebut. Aku menduduki kursi itu dan mengingat waktu dimana Tuhan belum mengambil ibu dari aku. Tetapi air mataku seketika mengalir, aku berteriam seperti orang gila walaupun sekeras apapun aku teriak, tidak mungkin ibu kembali lagi.
“Ibu, Aku rindu, Bu, Kenapa kau begitu cepat meninggalkanku”
Tidak ada suara yang menjawab.
Tidak ada tangan yang membelai kepala.
Hanya tembok-tembok bisu yang memantulkan kembali rasa kehilangan yang tak mau pergi.
Di rumah yang sama, aku merasa terdampar di tempat yang berbeda. Tempat tanpa ibu, tanpa arah, tanpa cahaya.
Tempat dimana kenangan menjadi hantu yang sulit diusir.Rumah yang biasanya penuh suara langkah Ibu, ceria, tawa dan dimana rumah itu kita mengobrol banyak kini terasa asing, sunyi sekali” Piring-piring masih tersusun rapi di dapur. Kerudung yang sering ia pakai masih tergantung di dinding dan Makanan yang ia sering makan masih utuh. Semua tampak sama… tapi kehadirannya telah hilang.
Aku berjalan melewati ruang tamu. Kursi panjang tempat kami dulu menghabiskan waktu bersama masih di sana, tempat bercerita, tertawa, dan saling menghibur. Aku mulai duduk perlahan, mencoba merasakan kembali hangatnya masa ketika Tuhan belum memanggil Ibu pulang.
Tapi seketika air mataku jatuh. Sebuah teriakan pecah dari tenggorokanku, tak terkontrol, tak peduli betapa sia-sianya. Karena sekeras apapun aku memanggil.
Sunyi kembali menutup rumah itu
Tidak ada suara yang menjawab.
Tidak ada tangan yang membelai kepala.
Hanya ada tembok-tembok bisu yang memantulkan kembali rasa kehilangan yang tak mau pergi.
Di rumah yang sama, aku merasa terdampar di tempat yang berbeda. Tempat tanpa ibu, tanpa arah, tanpa cahaya.
Tempat dimana kenangan menjadi hantu yang sulit diusir.
YANG MANA DIRIKU SEBENARNYA?
Rahma Nurlayli, lahir di Bogor, 2009. Saat ini berdomisili di Bogor, Jawa Barat. Aktif menulis cerpen dan puisi di berbagai platform daring. Karyanya banyak mengangkat tema psikologis dan sisi gelap kehidupan remaja. Dapat dihubungi melalui Instagram @Rayli_zz atau email rahmanurlayli30@gmail.com.
Sinar matahari yang terang menyapa gadis remaja yang sedang meringkuk di atas ranjang. Gadis itu mengerjapkan matanya pelan.
Sudah pagi saja. Gumamnya pelan. Gadis itu beranjak dari ranjangnya, berjalan perlahan menuju kamar mandi, dan bergegas menuju dapur. Terdapat seorang wanita paruh baya yang sedang memasak di dapur.
“Airi, sarapannya di makan dulu ya. Mama masak makanan kesukaanmu, lho… Sandwich blueberry!” Seru wanita itu. Sang gadis, Airi mengangguk dan segera duduk di meja makan, melahap sarapannya. Wanita tua itu tersenyum memperhatikan sang gadis.
Setelah piringnya hanya menyisakan remahan roti, Airi bangkit dari meja makannya dan berpamitan dengan ibunya. “Airi berangkat dulu ya ma!” Serunya. “Ya! Hati-hati di jalan.” Balas sang ibu.
Wajah Airi yang tampak ceria dan bersemangat, seketika berubah drastis. Mukanya masam dan pucat. Aku… Tidak mau sekolah. Aku takut… Apa kabur saja ya? Keluhnya dalam hati. Dia selama ini hanya berpura-pura ceria di depan ibunya. Namun sebenarnya dia sangat membenci sekolahnya. Airi berhenti melangkah. Ia hendak berbalik arah. Sesekali bolos lah ya… Pikirnya.
Tetapi, saat itu terlintas senyum ibunya dengan mata penuh harapan di kepala Airi. Ia menggigit bibir, kemudian memutuskan berangkat menuju sekolah. Ia tidak mau mengecewakan ibu yang selama ini terus mendukungnya, bekerja keras agar bisa membiayai sekolahnya.
Sesampainya di sekolah, Airi berjalan menuju kelasnya sambil menundukkan kepala. Ia menghindari kerumunan dan berusaha agar tidak mencolok. Airi melangkah ke dalam kelas dan menuju mejanya di pojok paling belakang.
Bel sekolah berbunyi nyaring. Siswa-siswa yang sedang asyik mengobrol dan bermain seketika bergegas memasuki kelasnya masing-masing. Airi tetap tenang dan hanya menatap ke luar jendela, menunggu guru datang.
Tidak lama kemudian, terdengar langkah kaki yang khas. Murid-murid langsung menuju mejanya masing-masing, mengeluarkan alat tulis. Bu Dina, guru bahasa indonesia memasuki kelas dengan membawa buku tebal dan penggaris panjang seperti biasa. “Anak-anak, kalian akan ibu bagi kelompok untuk mengerjakan tugas.” Ujar Bu Dina.
Beliau mulai membagi kelompok sesuai dengan absen. “Kelompok lima, yaitu Airi, Naira, Sari, dan Sera.” Airi hanya mengeluarkan puh pelan. “Kenapa sama mereka lagi. Menyebalkan.” Gumam Airi. “Baiklah, anak-anak. Silahkan berkumpul dengan kelompoknya masing-masing.” Seru Bu Dina.
Airi hanya bisa pasrah dan menuju meja teman-teman sekelompoknya. Karena mereka satu circle, mereka sudah duduk bersama, hanya Airi yang harus menghampiri mereka.
“Tugas kali ini simpel. Kalian harus mencari kasus terkini dan berikan pendapat kalian. Berikan argumen kalian, mengapa kasus itu bisa terjadi dan apa solusi yang cocok untuk masalah itu.” Jelas Bu Dina.
“Heh. Airi. kamu jangan jadi beban buat kelompok kami, ya.” Celetuk Sari dengan nada merendahkan. “Bukannya dengan masuk kelompok kita saja dia sudah jadi beban, ya?” Sera ikutan menyindir. Airi hanya mengangguk pelan, tidak berani menjawab.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita bagi tugas?” Ucap Naira, mulai membagi tugas. Bukannya mengerjakan masing-masing, Sera dan Sari menyerahkan tugas mereka pada Airi. Namun Airi tidak bisa menolak. Dia mengerjakan semuanya dengan tekun dan teliti.
“Waktu sudah habis, anak-anak. Kumpulkan tugas kalian sekarang juga. Atau nilai kalian akan dikurangi.” Seru Bu Dina. “Sana cepat kumpulkan tugasnya!” Sari menyuruh Airi mengumpulkan tugasnya. Airi hanya bisa menurut tanpa membantah.
“Ibu sudah mengecek tugas kalian. Ibu akan mengumumkan kelompok berapa yang mendapat nilai terbaik. Selamat kepada kelompok enam!” Satu kelas bertepuk tangan dengan heboh.
“AIRI! Kamu beban banget sih. Karena KAMU kita tidak mendapatkan posisi itu.” Seru Sera dengan suara yang keras dan nada membentak. Seluruh perhatian tertuju pada Sera. “Airi lagi?” “Kenapa ya, dia bermasalah terus?” “Memang dia itu orang aneh.” Mereka berbisik-bisik.
Airi yang terpojok, hanya bisa menunduk dan berusaha tidak memperdulikan mereka. Bel sekolah berbunyi nyaring. Para siswa pergi meninggalkan kelas, menuju kantin. Meninggalkan Airi yang masih tertunduk di mejanya.
Airi mengeluarkan bekal yang diberikan ibunya. Ia membawanya menuju rooftop. Airi makan bekal ibunya di pojokan rooftop. Sendirian. Dia menyuap makanannya sambil meneteskan air mata. Besok… Akan seperti ini lagi… Sampai kapan… Aku lelah… Keluhnya dalam hati. Tanpa sadar, Airi melangkahkan kaki menuju pagar rooftop.
Airi berdiri di tepi pagar rooftop. Angin siang berembus lembut, menerpa rambutnya yang terurai. Langit tampak biru dan tenang, tapi dada Airi terasa sesak dan gelap. Ia menatap ke bawah, melihat lapangan sekolah yang kosong, seolah memanggilnya untuk melompat.
“Aku capek… capek sekali,” bisiknya pelan. Suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam oleh hembusan angin.
Ia menutup matanya. Dalam gelap itu, wajah ibunya muncul. Senyum hangat, tangan lembut, dan suara lembut yang selalu memanggilnya dengan penuh kasih: ‘Airi, sarapannya dimakan dulu ya…’
Air mata Airi jatuh. Ia memegang pagar lebih erat.
“Maaf, Ma… aku nggak kuat lagi.”
Langkah kecil bergeser ke depan—
Namun suara langkah tergesa menghentikannya.
“AI—AIri! Kamu ngapain di situ?!”
Naira, teman sekelas yang selama ini hanya memperhatikannya diam-diam, berdiri di dekat pintu rooftop dengan wajah panik. Airi tersentak. “Naira? Aku…”
Namun kata-katanya hilang. Pandangannya berkunang. Dunia berputar cepat sebelum semuanya menjadi gelap.
Ketika Airi membuka matanya, ruangan putih menyambutnya. Bau obat dan suara mesin medis berdenting pelan. Ia menatap langit-langit, lalu tangannya yang dipenuhi selang infus.
Di sebelahnya, ibunya duduk dengan mata sembab.
“Ma…?”
Sang ibu segera menggenggam tangannya erat. “Nak… jangan bikin Mama takut lagi, ya… Mama mohon…”
Airi hanya menatapnya lama. Lalu tersenyum kecil, tapi senyum itu berbeda. Matanya tajam—lebih hidup, tapi juga dingin.
“Iya, Ma. Maaf… Aku cuma ingin Airi yang dulu nggak disakiti lagi.”
Sang ibu tidak menyadari nada aneh itu. Ia hanya memeluk putrinya erat, menangis dalam kelegaan. Tapi di dalam kepala Airi, ada bisikan lain. Suara lembut namun getir.
“Airi yang dulu lemah. Sekarang, biar aku yang jaga tubuh ini.”
Hari-hari berikutnya terasa aneh.
Airi kembali ke sekolah, tapi ia bukan lagi gadis pendiam yang takut berbicara. Ia menatap orang-orang dengan percaya diri, bahkan terlalu percaya diri.
Ketika Sari dan Sera kembali menyindirnya, Airi tersenyum miring.
“Oh, kalian iri ya? Soalnya kalian cuma bisa nilai orang lain, tapi nggak bisa jadi lebih baik dari itu.”
Kedua gadis itu terdiam. Tak ada yang pernah melihat Airi bicara seperti itu.
Sejak hari itu, tak ada lagi yang berani merundungnya. Tapi suasana di sekitarnya terasa dingin—bukan karena Airi lebih kuat, melainkan karena ia menjadi orang lain.
Naira, yang memperhatikan perubahan itu, merasa ada yang janggal.
“Airi, kamu nggak apa-apa, kan?” tanyanya hati-hati.
Airi menatapnya, bibirnya tersenyum tapi matanya kosong. “Aku baik-baik saja. Justru sekarang aku merasa… hidup.”
Namun di malam hari, Airi sering terbangun dengan napas terengah. Ia menemukan catatan kecil di meja belajarnya, dengan tulisan tangannya sendiri:
“Tolong… jangan ambil tubuhku. Aku masih di sini…”
Airi menatap catatan itu, lalu membantingnya ke lantai. “Diam. Aku bukan kau lagi.” Tapi dari cermin di kamarnya, refleksi dirinya menatap balik—dengan wajah sedih dan mata sembab.
“Aku cuma ingin kembali.”
Kehidupan Airi semakin tak terkendali. Kadang ia tertidur dan bangun dengan pakaian berbeda, kadang mendapati pesan dari nomor yang tidak dikenalnya—pesan-pesan yang anehnya memakai gaya bahasanya sendiri.
Ibunya mulai resah. “Airi, akhir-akhir ini kamu sering bicara sendiri. Kamu nggak kenapa-kenapa, kan?”
Airi tersenyum datar. “Nggak, Ma. Aku cuma ngobrol sama diriku sendiri.”
Tapi malam itu, Naira datang ke rumah. Ia membawa catatan yang ditemukan di sekolah, bertuliskan kalimat yang sama seperti di kamar Airi.
“Aku takut. Aku ingin kembali.”
“Mungkin Airi… punya dua sisi dalam dirinya,” kata Naira lirih kepada sang ibu. “Satu sisi yang rapuh, satu sisi yang berusaha melindunginya… tapi sekarang mereka saling berperang.”
Sang ibu menangis. “Kalau begitu… bagaimana caranya aku bisa menolong anakku?
Malam itu, di dalam kamar, Airi berdiri di depan cermin yang kini penuh retakan. Bayangannya tersenyum getir.
“Sudah cukup. Kau menyakitiku, menyakiti Mama juga.”
“Tidak. Aku justru menyelamatkan kita!”
“Kalau begitu, kenapa Mama menangis setiap malam?”
Airi menjerit, menutup telinganya, namun suara itu semakin keras. Ia jatuh berlutut, menangis dalam kebingungan.
Pintu kamarnya terbuka—ibunya memeluknya erat, Naira di belakang memanggil namanya berulang kali.
“Airi… kamu nggak sendiri. Kami di sini. Kamu nggak harus memilih siapa yang benar, karena dua-duanya kamu,” ucap Naira sambil menangis.
Tangisan Airi pecah. Dalam kaca, bayangan dirinya perlahan memudar, menyisakan satu sosok yang kembali utuh.
Air matanya menetes deras. “Aku cuma… ingin diterima. Apa adanya.”
Ibunya mengusap rambutnya pelan. “Mama terima, Nak. Selalu.”
Beberapa bulan kemudian, Airi mulai menjalani terapi dan belajar memahami dirinya. Kadang ia masih mendengar bisikan samar di kepalanya, tapi kini tidak menakutkan—seolah itu hanya versi lain dari dirinya yang ingin didengar.
Setiap pagi, saat sinar matahari menyapa lewat jendela, Airi tersenyum pada bayangan di cermin.
“Selamat pagi,” katanya.
Dan bayangan itu tersenyum balik, lembut—seperti jawaban yang selama ini ia cari.




