Satu Porsi Untukmu
“Hai, aku Ron. Salam kenal! Mau makan denganku?”
Sapaan itu muncul tiba-tiba dari arah depanku, mengagetkan setelah aku duduk cukup lama. Keriuhan kantin berdengung di telinga, mulai terasa mengganggu di tengah jam makan siang. Aku menatapnya. Senyuman manis dan polosnya terlalu terang; rasanya aneh, bahkan membuat perutku mulas. Tapi apa boleh buat, toh aku murid baru di sini. Dia ingin berkenalan. Apa salahnya?
Aku mengangkat bahu, tidak menatap matanya. “Boleh. Tapi, aku tidak bawa bekal.”
“Tak apa!” Ron berseru riang. “Kamu bisa memakan sebagian bekal dari bekalku! Aku juga bawa banyak makanan.”
Dia langsung mengeluarkan kotak bekalnya yang ternyata lebih besar dari perkiraanku dan menaruhnya di mejaku. Benar saja, makanan yang ia bawa banyak sekali. Nasi, dua buah ayam goreng, sayur kangkung, dan tiga buah tempe goreng, semuanya terlihat sehat dan lezat. Aku mendongak, kembali menatap wajah Ron.
“Uh, kamu bawa makanan sebanyak ini untuk apa?”
“Sebenarnya aku bawa sebanyak ini biar aku tidak jajan di sorenya. Tapi lupakan itu. Ayo makan!”
Ron dengan cekatan membuka tutup kotak bekalnya. Dia membagi nasi menjadi setengah dan menaruh porsi itu ke penutup kotak bekalnya, menciptakan piring darurat untukku. Kemudian, dia juga membagi ayam goreng, tumis kangkung, dan tempenya dengan adil.
“Oh ya, tadi aku tidak terlalu memperhatikan saat perkenalan kelas. Namamu Damian, kan?” Dia mengerutkan kening, mencoba menggali ingatannya.
“Darren.”
Ron membulatkan mata, tangannya refleks menutup yang penuh nasi. “Of, maaf, hehe. Ngomong-ngomong, kamu pindahan dari mana?”
“Jakarta.”
“Wah, jauh banget. Moga kamu betah ya di sini.” Dia kembali tersenyum, pipinya mengembung karena mengunyah.
Aku hanya mengangguk pelan, lalu mulai menyuap. Ayam gorengnya enak, kulitnya renyah, dagingnya lembut dan berbumbu. Sepanjang makan siang, Ron terus berceloteh. Tentang guru kilat, tentang klub basket, tentang es teh kantin yang katanya legendaris. Aku hanya mendengarkan, sesekali bergumam sebagai respons. Anehnya, suaranya tidak membuatku pusing seperti kebisingan murid lain. Justru terasa seperti white noise yang menenangkan.
Sejak kejadian di Jakarta, aku memutuskan untuk tidak merepotkan siapa pun. Sendiri itu lebih aman. Tidak ada ekspektasi, tidak ada rasa takut kehilangan.
Tapi Ron… dia menyusup masuk ke pertahananku dengan cara paling sederhana. Lewat seporsi ayam goreng dan nasi hangat
***
Memasuki munggu ketiga, rutinitas ini mulai mengubahku. Ron menjadi pemandangan tetap di mejaku saat jam makan siang. Selalu dengan senyum yang sama, kotak bekal jumbo yang sama, dan porsi yang selalu dibagi dua.
“Pagi, Darren!” sapanya suatu pagi saat aku baru meletakkan tas.
Aku mengangguk singkat. Respons dinginku tak pernah mematahkan semangatnya. Dia malah menarik kursi di sebelahku, padahal mejanya di barisan depan dan mulai bercerita.
“Kamu harus lihat Mochi tadi pagi, Darren! Dia Golden Retriever, bulunya kuning cerah kayak matahari. Tiap aku mau berangkat, dia pasti loncat-loncat di pagar, buntutnya goyang heboh sekali!”
Aku melirik Ron. Matanya berbinar, seolah dia sedang menceritakan keajaiban dunia, bukan sekadar anjing peliharaan. Ada sedikit rasa iri yang menyengat dadaku melihat antusiasme itu.
“Kamu suka anjing?” tanyaku pelan.
Ron menoleh cepat, antusias. “Suka sekali! Kamu gimana?”
“Dulu pernah punya.” Kata-kata itu keluar tanpa kusadari.
Ron mengernyitkan dahinya, menunggu aku melanjutkan. Tapi aku langsung menutup mulut. Aku tidak mau membahas tentang itu. Tentang Kuro. Tentang sahabat terbaikku di Jakarta yang sekarang sudah tidak ada lagi.
“Oh…” Ron sepertinya menangkap perubahan raut wajahku. Dia diam sejenak, lalu tersenyum—kali ini lebih lembut, lebih pengertian. “Kapan-kapan main ke rumahku, yuk? Nanti aku kenalin sama Mochi.”
Aku tidak menjawab, hanya menunduk menatap meja. Tapi dalam hati, tawaran itu mulai terdengar menarik..
**
Rutinitas ini mulai mengubahku. Setiap pagi, tanpa sadar aku menunggu. Menunggu suara cempreng Ron. Menunggu cerita random-nya yang tidak penting tapi entah kenapa membuat hariku tidak sepi.
Pernah suatu kali Ron terlambat karena ban sepedanya kempes. Selama lima belas menit pertama pelajaran, kakiku terus mengetuk lantai dengan gelisah. Mataku tak bisa berhenti melirik pintu kelas. Saat dia akhirnya muncul dengan napas terengah dan rambut berantakan, bahuku merosot lega.
Perasaan ini membuatku takut.
Setiap kali aku mulai peduli, semesta seolah mengambilnya kembali. Kuro hilang karena aku lengah. Pintu pagar yang lupa kututup. Bunyi decit ban mobil. Dan hening yang menyakitkan sesudahnya. Ibu bilang itu kecelakaan. Tapi aku tahu, itu kelalaianku.
Maka dari itu aku membangun tembok. Kalau tidak dekat, tidak akan sakit saat ditinggalkan.
Tapi Ron terus datang, terus memanjat tembok itu, bata demi bata.
**
Suatu sore, aku menemukan Ron duduk sendirian di bangku taman sekolah yang mulai sepi. Biasanya dia orang pertama yang melesat pulang. Ada yang salah. Dia menatap kosong ke tanah, jemarinya meremas ujung seragam hingga kusut.
“Ron?”
Dia tersentak kaget. Dengan cepat, topeng cerianya terpasang kembali. “Eh, Darren! Belum pulang?”
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Tidak apa-apa. Cuma lagi pengen duduk aja.” Senyumnya tidak mencapai matanya.
Aku duduk di sebelahnya tanpa permisi. Angin sore bertiup, membawa aroma bunga kamboja yang jatuh di sekitar kami.
“Darren,” suaranya pelan, nyaris hilang terbawa angin. “Kamu tahu alasan sebenernya kenapa aku selalu bawa bekal banyak?”
Aku menoleh, menunggunya melanjutkan.
“Ibuku… dia trauma. Dulu keluarganya susah. Dia sering kelaparan waktu kecil. Jadi sekarang, dia takut sekali aku meraskaan hal yang sama.” Ron tertawa getir.
Aku terdiam. Selama ini aku mengira hidup Ron sempurna. Selalu tertawa, selalu punya segalanya. Ternyata dia juga memikul beban, hanya saja dia menyembunyikannya di balik kotak bekal besar itu.
Ron menatapku, tatapannya rapuh. “Aku tahu dia capek kerja, tapi dia tetap bangun subuh buat masak. Kadang aku merasa bersalah. Aku tidak tahu cara berterima kasih selain menghabiskan makanannya. Tidak boleh ada sisa. Sekenyang apa pun aku.” Dia diam sebentar, menarik napas. “Tapi sejak ada kamu, aku lega. Aku bisa berbagi. Aku tidak perlu memaksakan diri menelan semuanya sendirian.”
Tenggorokanku tercekat.
“Makasih ya, Darren. Sudah mau makan dengan aku.”
“Harusnya aku yang makasih,” jawabku spontan.
Ron menatapku, matanya berkaca-kaca. Kali ini, senyumnya tulus.
**
Ron masuk kelas dengan wajah datar. Pucat. Tidak ada sapaan, tidak ada senyum. Dia duduk diam, tatapannya lurus menembus papan tulis. Teman-teman yang menyapanya hanya mendapat anggukan lemah.
Jam makan siang tiba. Ron tidak beranjak ke mejaku.
Dia tetap di kursinya, mengeluarkan bungkusan plastik dari tas. Bukan kotak bekal. Hanya sebungkus roti tawar.
Alarm bahaya berbunyi di kepalaku.
Tanpa pikir panjang, aku bangkit dan menghampirinya. Beberapa anak menatapku heran—ini pertama kalinya ‘si murid baru pendiam’ berinisiatif mendatangi orang lain. Aku tidak peduli.
“Ron.”
Dia mendongak perlahan. Roti di tangannya belum disentuh. “Eh, Darren? Kenapa?”
“Kamu…kenapa?”
“Hah? Aku baik-baik saja!”
Bohong. Matanya bengkak. Suaranya serak dan retak.
“Kamu habis menangis, jangan berbohong.”
Pertahanan Ron runtuh seketika. Bahunya mulai bergetar. Roti tawar yang ia pegang tanpa sadar ia remas hingga penyek.
“Aku…” bisiknya, suaranya pecah. “Mochi… ditabrak kemarin sore.”
Duniaku serasa berhenti berputar. Dingin merambat dari ujung kaki ke kepala. Mochi. Anjing matahari itu.
“Aku lagi ajak dia jalan. Tiba-tiba ada motor ngebut… aku tidak sempat menahan talinya. Dia lari ke jalan dan… orangnya kabur begitu saja.” Air mata mulai membanjiri pipi Ron. “Aku bawa ke dokter, tetapi… dia tidak selamat.”
Aku terdiam. Aku bukan orang yang pandai menghibur. Aku bahkan tidak pernah peduli dengan masalah orang lain. Tetapi melihat Ron seperti ini, ada rasa sesak yang mencengkeram dadaku.
Ron mulai menangis. Bahunya mulai bergetar. “Aku… aku harusnya lebih hati-hati, Darren. Aku harusnya pegang talinya lebih kencang. Aku harusnya—”
“Bukan salahmu.” Kalimat itu lolos begitu saja, tegas. Kata-kata yang aku sendiri tidak pernah percaya selama ini.
Ron mendongak, menatapku dengan mata basah.
“Itu bukan salahmu, Ron,” kataku lagi, lebih pelan. “Kamu tidak bisa kontrol semua hal. Kamu tidak bisa tahu kalau ada orang gila yang mengebut. Itu… itu bukan salahmu.”
Dan untuk pertama kalinya sejak Kuro meninggal, aku juga mulai percaya kata-kata itu. Saat mengucapkan itu, aku sadar aku juga sedang berbicara pada diriku sendiri. Mungkin… mungkin aku memang bukan pembunuh.
Ron mengusap air matanya. “Aku… aku tidak mau menangis di sekolah,” bisiknya. “Tapi aku tidak kuat, Darren. Aku… aku kangen Mochi.”
“Menangis saja. Tidak apa-apa.” Aku menarik kursi dan duduk di sebelahnya.
Ron memelukku. Dia menangis hebat di pundakku, menumpahkan segala sesak di dadanya. Aku hanya diam, menepuk-nepuk punggungnya kaku, membiarkan seragamku basah oleh air matanya.
Setelah tangisnya reda, dia melepaskan pelukan sambil mengusap ingus. Wajahnya merah padam. “Maaf… baju kamu basah.”
“Tidak masalah.”
“Kamu sudah makan?” tanyaku.
Ron menggeleng, menatap roti tawar yang sudah tak berbentuk di meja. “Ibu tidak sempat masak. Aku juga tidak nafsu.”
Aku mengambil roti penyek itu dan menyingkirkannya. “Tunggu di sini.”
“Eh? Mau ke mana?”
Aku tidak menjawab. Aku berlari ke kantin. Lima menit kemudian, aku kembali dengan dua bungkus nasi goreng hangat, ayam goreng, dan dua kotak jus jeruk. Aku menata semuanya di meja Ron.
“Makan,” perintahku.
Ron menatap makanan itu, lalu menatapku. Matanya kembali berkaca-kaca. “Darren…”
“Kamu selalu berbagi bekal denganku. Sekarang giliranku.”
Setetes air mata jatuh lagi, tapi kali ini, sebuah senyum kecil terbit di bibirnya. “Terima kasih, Darren.”
Kami makan dalam diam yang nyaman. Sesekali Ron bercerita tentang kebiasaan lucu Mochi, dan aku mendengarkan. Kali ini, aku juga bercerita. Tentang Kuro. Tentang bagaimana dia selalu tidur di kakiku.
“Aku tidak pernah cerita ini ke siapa-siapa,” akuku pelan. “Aku… aku merasa bersalah selama ini. Rasanya seperti aku yang membunuh Kuro.”
Ron menggenggam tanganku di atas meja. Erat. “Kita sama-sama belajar untuk tidak menyalahkan diri sendiri, ya?”
Aku mengangguk. Dan untuk pertama kalinya, beban di dadaku terasa lebih ringan.
**
Hari-hari berikutnya, Ron perlahan kembali menjadi dirinya sendiri. Senyumnya kembali merekah, meskipun kini ada kedewasaan di sorot matanya. Kami tidak lagi hanya bicara soal hal-hal seru, tetapi juga tentang hal-hal yang menyakitkan. Kami saling menyembuhkan.
Suatu hari saat kami makan siang bersama, Ron berkata, “Terima kasih, Darren. Waktu itu, aku tidak tahu harus bagaimana. Tetapi kamu ada untukku. Momen itu berarti sekali bagiku.”
Aku mengangkat bahu. “Biasa saja.”
Ron tertawa. “Kamu itu, sulit sekali mengakui bahwa kamu itu sebenarnya perhatian.”
“Aku tidak perhatian.”
“Iya, iya. Terserah kamu.”
Aku menatap Ron yang tersenyum lebar. Mungkin aku memang bukan orang yang hangat atau mudah bergaul. Tetapi setidaknya, aku punya satu teman yang tulus. Satu teman yang mengajariku bahwa berani membuka diri—meskipun berisiko terluka—adalah bagian dari hidup.
“Eh, Darren,” panggil Ron tiba-tiba.
“Apa?”
“Besok aku mau bawa bekal nasi uduk. Kamu suka nasi uduk, kan?”
Aku menatapnya. Tanpa sadar, sudut bibirku terangkat membentuk lengkungan tipis. “Iya. Aku suka.”
Dan untuk pertama kalinya sejak aku pindah ke sekolah ini, aku merasa… pulang.
“Ih! Kamu senyum?! Kamu senyum! Tahan, jangan bergerak! Aku mau foto!” Ron panik merogoh saku celananya mencari ponsel.
Aku langsung menutup wajahku menggunakan tangan kananku karena malu, “Apaan sih.”
Ron terkekeh pelan, dia mulai memfoto diriku yang sedang melindungi wajah. “Ayolah, say cheese!”

