Puisi-Puisi Muhammad Fauzal Akhli
Asap yang Lahir dari Api
Di sela pagi yang seharusnya cerah
langit memekat bagai bara diselimuti debu,
burung kehilangan arah pulang,
anak-anak berjalan tanpa warna di matanya.
Ada hutan runtuh tanpa suara,
tumbang bukan oleh usia,
melainkan manusia yang lupa
bahwa tanah ini bukan hanya untuknya.
Asap bukan sekadar kabar duka,
ia adalah jeritan pohon
yang dibakar tanpa kesempatan
untuk kembali bernapas.
Sungai yang Kehilangan Nama
Sungai itu dulu bening seperti janji,
anak-anak desa berlari membawa tawa,
sekarang beriringan bersama lumpur
dan bau yang menolak disebut air.
Ikan-ikan yatim piatu,
tak lagi tahu di mana rumahnya,
berkelana di arus keruh
menunggu nasib datang entah kapan.
Sungai kita kehilangan nama,
karena makna yang telah sirna.
Hutan yang Tidak Lagi Hijau
Hutan layaknya seperti ibu,
memeluk semua anaknya tanpa ragu,
gugur daun menjadi selimut,
hembus angin jadi lagu yang merdu.
Kini tinggal rangka batang kering,
seperti jari-jari renta menadahkan harap,
menunggu hujan turun dan mengenang
bahwa hijau pernah menjadi warna harapan.
Jika ibu sudah tak mampu memeluk,
maka kepada siapa kita membisik doa?
Banjir di Tengah Doa
Air bergerak meninggi,
lalu berubah menjadi murka,
dinding menguning,
langit seketika tanpa suara.
Ada tangis mencari nama,
ada sunyi mencari jawaban,
mengapa rumah menjadi rata,
padahal baru saja reda.
Bumi menyimpan ingatan panjang,
dan kita manusia lupa
bahwa kita hanya menumpang.
Sepotong Rindu untuk Hutan Sumatera
Aku menulis bait-bait ini masih sama,
tentang harimau yang kehilangan bayangan,
tentang gajah yang berjalan tanpa arah,
tentang daun yang rindu menyentuh angin.
Jika hutan kelak tinggal cerita,
maka apakah rindu masih berguna?
Siapa yang akan mendengar
ketika suara alam tinggal bisik hampir sirna?
Aku menyimpan sepotong do’a,
untuk tanah sumatera dan keindahan,
semoga rasa ini tumbuh menjadi pohon,
dan tidak kembali berubah menjadi abu.

