Tempat dimana cerita-cerita pendek dipilih dan dibagikan kepada kalian
Akankah Cinta Membuat Iqbal Kembali?
Sudah sejam lepas Ashar. Sinar matahari tak lagi menyengat di luar kedai. Di jalan, di Dusun Padanglaweh, nampak tiga orang tukang bangunan beriringan dengan sepeda motor pulang dari bekerja; beberapa perempuan pulang dari sawah berjalan kaki memakai tudung, dan anak-anak yang pulang mengaji di masjid bernyanyi lagu kasidah . Hembusan angin sore yang sepoi membawa kesejukan di kedai itu. Dan, Iqbal merasa diri begitu bangga karena duduk semeja dengan seorang kawan yang sekarang jadi wartawan di sebuah media online bonafide di Jakarta.
Mereka duduk berhadap-hadapan. Selain sebungkus rokok dan korek gas, di meja mereka juga ada dua gelas kopi hitam yang Iqbal pesan ketika baru tiba di kedai tadi.
“Kau tidak merokok dari tadi,” kata Rido sembari mengangsurkan bungkus rokoknya dan korek gas ke hadapan Iqbal.
“Aku merokok. Tapi tak lebih empat batang dalam sehari-semalam,” kata Iqbal.
“Penyair. Selama yang kutahu, jarang tidak merokok.”
Iqbal lantas menyambar bungkus rokok, mencabutnya sebatang, dan memantik korek gas. Ia hembuskan asap rokok pelan ke udara.
“Hanya kau yang bisa kupercaya, baik dulu maupun sekarang,” kata Iqbal. “Di mana mereka tahu kalau aku patah hati dengan Nada kalau bukan Nere sendiri yang menyebarkan gosip. Aku tidak patah hati. Aku cuma mengelak. Lagi pula, Nere juga mengatakan pada kawan-kawan kita di kampus kalau aku begitu tergila-gila pada Nada. ‘Talak jatuh sayang tiba’ kalau pepatah kampungku mengatakannya.”
“Soal itu aku pernah dengar juga. Tapi aku nggak percaya sebaran gosip murahan seperti itu,” kata Rido. Ia sesap kopinya.
Terbayang di kepala Iqbal selama menjalani hubungan dengan Nada. Ia juga menjalani hubungan sembunyi-sembunyi dengan Lara. Kalau tidak sudah punya cowok, mungkin Iqbal sudah dengan Lara. Ia menyukai Lara, bahkan mencintainya. Tapi tidak untuk Nada. Ia hanya kasihan saja jika menolak cinta perempuan itu. Hubungannya dengan perempuan itu lebih karena rasa simpati saja. Lagi pula, betapa kakunya pacaran mereka–jalan bareng selalu berjarak dan makan bareng dikantin kalau tidak Nada yang memaksa Iqbal tak mau.
“Kata Nere kau terus-menerus menyebut nama Nada di kosannya. Nggak curhat saja, tidur-tiduran di kosannya kau menyebut nama Nada seperti mengigau.”
“Itu tidak benar. Benar aku menyebut nama Nada, sedikit curhat, tapi itu untuk mengalihkan perhatian Nere saja. Supaya ia tidak tahu, sebenarnya hatiku menyebut nama Lara. Nere pernah menyukai Lara dan cintanya ditolak. Andai dia tahu aku juga menyukai Lara. Pasti ia naik pitam,” kata Iqbal.
Ia layangkan pandang ke luar kedai. Nampak burung-burung bermain di dahan-dahan pohon mangga di rumah depan kedai. Angin masih berhembus sepoi dan Iqbal merasakan ada yang berkeping di hatinya jika ingatannya berpaling pada Nere, seorang kawannya dulu–mereka sering mengerjakan tugas bareng dan sering duduk-duduk dan mengobrol seru di warung kopi malam hari jelang mata mengantuk.
“Aku tahu Nere juga menyukai Nada. ‘Kalau Nada nggak lagi sama lu, biar buat gua aja,’ katanya. Bagaimana aku tak menyebut nama Nada. Karena kutahu Nere sudah punya dua pacar. Kalau ia mendapatkan Nada, berarti Nada jadi yang ketiga. Seenggaknya, dengan menyebut Nada dan sedikit curhat, ia jadi segan padaku. Aku menolong Nada jadinya malam itu. Nere, setahuku lelaki sok tampan. Dasar buaya darat” lanjut Iqbal.
Giginya gemeretak. Mengingat malam itu ia di kosan Nere, Iqbal begitu geram. Ia hanya sedikit curhat. Karena Nada di kampus minta kejelasan, seperti apa pacaran mereka sebenarnya. Kata Nada, pacaran mereka hanya main-main saja. Tidak ada bukti cintanya. Besoknya sudah tersiar gosip di kampus kalau pikiran Iqbal siang dan malam hanya Nada saja. Nere yang menyebarkannya.
Hari-hari berikutnya Nere juga mengatakan kepada kawan-kawan kampus, kalau Iqbal sering pergi ke Bandung. Mengobati luka hatinya karena putus dengan Nada. Duduk di kafe-kafe. Pergi dengan beberapa perempuan kampus yang kesepian. Bersenang-senang hingga menghabiskan uang SPP dan uang bulanannya.
“Sudahlah,” kata Rido. Tangannya meraih sebatang rokok, membakarnya, dan menghisapnya agak kencang. “Semua itu sudah lama berlalu. Sudah 2,5 tahun yang lalu.”
“Iya… aku sudah melupakannya. Bahkan, aku juga sudah melupakan semua kisah manisku dengan Lara. Kalau bukan karena takut dibilang lelaki ganjen, aku sudah jadian dengan Lara. Aku tidak mau merebut pacar orang. Lara juga tidak mencintai Ivan. Hanya status saja,” kata Iqbal. “Tapi Nere yang menusukku dari belakang, menyebarkan kabar murahan kalau sesungguhnya aku hanya lelaki yang hoki saja dapat Nada dan berusaha menguras uangnya, merusak hidup Nada, sakitnya masih terasa hingga kini.”
“Terus kau pun menghilang secara tiba-tiba dari kampus. Kata teman-teman, kau kehabisan bekal dan pulang kampung untuk menjual tanah.”
Di jalan, sekali-kali terdengar suara oto atau onda. Selain angin sore sepoi, atap kedai juga terbuat dari daun rumbia, semakin membuat kedai itu sejuk. Membuat nyaman dan betah. Nampak sejauh mata memandang, di samping kedai, pohon-pohon kelapa tumbuh lurus ke langit berbaris-baris.
Peristiwa pulang kampung itu begitu berbekas di benak Iqbal. Ia cuti dari kampus. Meminta bantuan pada saudara-saudara ibunya di Jakarta, tidak ada seorang pun dari mereka yang peduli terhadap kelanjutan kuliahnya. Ia putuskan pulang kampung. Sesampai di kampung ia katakan pada ayahnya. Ia kehabisan bekal kuliah. Uang terus-menerus kurang setiap bulan. Ia bujuk ayahnya menjual tanah demi melanjutkan cita-citanya jadi sarjana. Ayahnya menyanggupi permintaannya.
Namun, rupanya ayahnya yang anak tertua dalam keluarga dihalangi adik-adik tirinya (adik seibu tapi tidak seayah).
Adik-adik ayah sudah dua kali menjual tanah. Dan, ayah tidak pernah dapat uang sepersen pun kecuali hanya menandatangani saja. Giliran ayah yang ingin menjual tanah yang hanya sebidang (tak luas) adik-adiknya mencegat ayah. Mengatakan pada ayah, tidak ada hak anak Pakia (ayah dari Ayah) atas tanah di keluarga mereka.
Ayah yang hanya seorang petani lada dengan hasil tak seberapa; dan kredit pakaian ibunya yang tak lagi laku, membuat Iqbal memutuskan tidak kembali ke Jawa. Ia bertahan di kampung.
Iqbal termenung. Berpaling angannya ke masa lampau, ke kampus. Betapa memesona Lara. Dengan wajah alami dan penampilan kasual, perempuan itu bak dewi di matanya. Ia menyukai Lara dari semenjak semester IV. Iqbal terlambat, Lara sudah jadian dengan Ivan. Lantas, hubungan mereka berjalan sembunyi-sembunyi. Kalau lagi duduk berdua di kedai luar kampus, apa pun obrolannya, mereka selalu bisa menyenangkan dan menyemangati; dan tak jarang mereka bisa tertawa bersama di sela-sela obrolan. Lara sering ke kosan Iqbal, bercengkrama, berdiskusi sedikit.
Tak seorang pun di kampus tahu, hubungan spesial Iqbal dan Lara, kecuali Rido.
“Ngomong-ngomong, kapan nih menerbitkan buku. Puisi-puisimu sudah lumayan banyak tersiar di media,” kata Rido.
Menerbitkan buku? Iqbal berkata kepada diri sendiri. Buku puisi yang tak laku di pasaran, tentu itulah jawabannya. Ia tidak bisa menceritan kepada Rido, bagaimana susahnya ia untuk jadi penyair. Menulis berpuluh-puluh puisi setiap malam. Hingga mungkin ratusan puisi dalam seminggu. Hasilnya beberapa saja yang dimuat media, tak rutin pula setiap minggu–kadang sekali sebulan pun sudah syukur.
Untungnya kawan kakaknya mengajaknya bekerja di Toko, sebuah toko elektronik dan elektrik di Nagari (Desa) Air Haji. Dengan gaji Rp 2,5 juta per bulan di luar makan siang, cukuplah memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan, ia bisa bantu membiayai kebutuhan sekolah adik perempuannya di SMA.
“Baru tiba di kampung, kepada seorang kawan aku cerita tentang pengalamanku di perantauan. Aku ceritakan semuanya secara mendetail. Tapi apa, ia membocorkan ceritaku ke orang-orang. Memanipulasinya. Sehingga, orang-orang kampung menganggapku sudah terjebak pergaulan bebas di Bandung, maka jadi tidak tamat kuliahnya. Suka main perempuan juga, katanya,” kata Iqbal dengan curhat selingan.
Sebenarnya ia juga ingin katakan pada Rido, bagaimana sulitnya ia hidup di kampung. Nyaris frustasi. Sebelum ia bekerja di toko. Belanja sehari-hari yang bergantung pada orang tua dan honor puisi yang tak seberapa. Berkawan dengan para pengangguran dan tidak ada obrolan yang bersifat intelektual di kampung sama sekali.
Memang Ridolah satu-satunya kawannya dulu, sewaktu di kuliah, yang mau mendengarkannya. Pengertian. Ia juga sering pinjam uang Rido bila uangnya habis menjelang kiriman dari kampung tiba.
“Belum ada rencanaku menerbitkan buku puisi. Untuk sementara biarkanlah puisiku terserak di media dan ku posting di medsos. Tapi ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Lara kini,” kata Iqbal.
“Ia sudah menikah dengan rekan kerjanya di perusahaan asuransi. Di Jakarta.”
Iqbal mengusap dada. Ada sedikit sesak di sana. Bagaimana pun, titik cinta itu masih ada di hatinya. Sekarang jelaslah, terang-benderang, Lara sudah menikah.
“Kau nggak punya medsos. Nggak ada kontak yang bisa dihubungi. Aku nggak tahu keberadaanmu di mana. Kalau di kampung, sebenarnya sudah lama aku ingin datang ke kampungmu. Untungnya beberapa bulan yang lalu kau bikin akun medsos. Kita pun berteman, dm-an. Bertukar nomor WA, dan chat. Di medsos, ada postingan puisi-puisimu yang pernah dimuat di media, aku baca seluruhnya. Bahkan berulang-ulang” kata Rido. Ia lantas memandang pemilik kedai, seorang laki-laki paruh baya yang sepertinya sudah banyak pengalaman hidup. Nampak lelaki itu duduk santai sembari memandang sungai di belakang kedai yang arusnya deru mengalir.
*
Di jalan nampak anak-anak sekolah berangkat dengan mobil carry atau odong-odong. Pns atau belum pns berseragam mengendarai sepeda motor ke tempat kerja. Suara burung-burung bernyanyi di pohon-pohon. Udara pagi begitu agak dingin. Iqbal dan Rido duduk di teras rumah Iqbal. Mereka berteman dua gelas teh, pisang goreng, dan rokok.
Sudah dua hari dua malam Rido di rumah Iqbal. Rido ada keperluan di Padang. Media tempatnya bekerja mengadakan pelatihan jurnalistik di sebuah kampus swasta di Padang. Karena merasa begitu kangen dan ber-”dosa” rasanya kalau tidak ke kampung Iqbal, ia mendatangi sahabatnya itu.
“Aku cuma bercanda sewaktu bicara di kedai,” kata Rido.
“Maksudmu?”
“Nggak lama setelah kau pulang kampung, Lara dan Ivan putus. Waktu itu Lara meneleponku, menanyakan keberadaanmu. Apakah masih di Jawa atau di mana. ‘Kalau di Jawa, di mana tempat tinggalnya dan kerjanya,’ katanya. Aku tidak tahu lagi informasi tentang kau. Kukatakan saja, mungkin di kampung. Kata Lara, ’Kalau di kampung, kembali nggak Iqbal ke Jawa.’ Aku jawab, tidak tahu, semuanya misterius.”
Iqbal menarik napas panjang. Ia ambil sebatang rokok dan menyalakannya. Begitu rumit jadinya. Andai dia bertahan di Jawa dulu, tentu tidak akan seperti ini jadinya. Ia dan Lara yang terpisah jarak sedemikian jauh.
“Kupikir tidak ada yang terlambat Iqbal,” kata Rido sambil menepuk pundak kawan di sampingnya itu.
Iqbal mengambil dan memakan pisang goreng. Rido mengikutinya. Iqbal pandang wajah kawannya itu. Nampak sejahtera dan tidak ada beban pikiran.
“Mediaku lagi butuh nih. Untuk wartawan di Padang. Beritanya seputar budaya, kearifan lokal, kuliner, dan pariwisata. Kau masih bisakan menulis feature, beritanya dalam bentuk feature. Kau juga bisa menulis berita langsung. Tentang kebakaran, bencana alam, kebijakan publik, korupsi pejabat, atau tentang kecelakaan. Bagaimana?” kata Rido sembari mengambil rokok sebatang dan menyalakannya.
Iqbal tercenung sesaat. Betapa tinggi semangatnya dulu untuk bisa jadi sarjana. Ia mengerjakan semua tugas kuliah jurnalistik yang bersifat praktek dengan sepenuh hati. Namun, itu kan sudah lama berlalu. Ia tak pernah lagi bersinggungan dengan jurnalistik. Apalagi menulis berita, semenjak sudah tiba di kampung.
Iqbal berpikir sejenak. Kalau ia terima tawaran sebagai wartawan kontributor untuk Kota Padang, tentu ia bisa membangun karirnya. Dengan terus menulis berita, malamnya ia juga masih bisa menulis puisi. Sembari mengambil kuliah S1 di UT (Universitas Terbuka), ia nantinya bisa pindah ke Jakarta. Menjadi wartawan tetap di sana. Dan, ia akan bertemu dengan Lara–yang kata Rido belum juga punya pacar.
Tiba-tiba timbul di hatinya rasa kangen karena dua hari ia tidak kerja di toko. Kepada bosnya, ia katakan ada kawan yang datang dari jauh. Dari Jakarta.
Ia tidak bisa begitu saja meninggalkan tokonya dan pindah ke Padang. Bos toko begitu percaya padanya. Ia begitu dihargai dan betah kerja di sana. Hari-harinya senang sekali melayani pembeli. Hatinya berada di antara dua pilihan, ke Padang meniti karir jurnalistik atau tetap di kampung menjadi karyawan toko sembari terus menulis puisi dan melupakan Lara selamanya.
“Bagaimana?” kata Rido.
“Tidak bisa aku jawab sekarang,” kata Iqbal. “Setidaknya beri aku waktu tiga hari.”
Siang nanti Rido akan kembali ke Jakarta. Mobil travel sudah Iqbal telepon tadi malam, untuk mengantarkan Rido ke Bandara Internasional Minangkabau. Ia akan berpisah dengan sahabatnya itu.
Sesaat hatinya seperti tali yang begitu tipis, sekali renggut putus. Matanya berkaca-kaca. Ia pandang jalan di depan rumahnya, sudah mulai jarang kendaraan lewat. Entah kapan lagi ia bertemu Rido.
Berkelebat Lara di pikiran Iqbal. Rido sebutkan kalau perempuan itu masih menunggu seseorang yang tepat, jadi calon suaminya. Seseorang dari masa lalu yang terus-menerus dikenangnya. Seseorang yang tidak ada status dengannya tapi ia merasa tenteram dan nyaman berada di sisinya. Seorang dari dusun, dari tempat yang jauh. Seseorang yang nyambung dan kalau ngobrol menghabiskan waktu berjam-jam sembari tertawa.
Tarian di Bawah Bulan Merah
[Pelita Triyuri, 33 Tahun]
Silahkan diminum dulu kopinya, singkong rebus juga enak disantap saat masih panas, apalagi dicocol dengan gula. Jangan malu-malu begitu dan anggaplah seperti rumah sendiri. Apakah kalian dari kota? Wajah kalian tampak asing. Ada perlu apa? Tentu saja, kalian boleh menanyakan apa saja.
Apa? Oh, legenda itu? Haha. Baiklah, saya tidak tahu banyak, tapi akan saya ceritakan.
Saat bulan itu berada tepat diatas kepalamu, rapalkan mantra, selipkan permintaan di setiap baitnya. Kepalkan tangan seperti kamu sedang meminta, karena kamu memang sedang meminta. Dia bukan Tuhan, tapi dia ibu dari segala dewa-dewa.
Bulan merah tidak datang semerta-merta, butuh pengorbanan darah untung mengundangnya. Satu nyawa berarti satu permintaan. Setidaknya itu yang dikatakan orang-orang.
Saya akan menjelaskan selayang aturan untuk melakukan ritual ini. Pertama, kamu butuh darah segar sebagai persembahan kepada Ibu Dewa. Jika kamu berpikiran bahwa ‘Dewa’ adalah bulan merah, kamu salah besar. Warga menyebutkan bahwa Ibu Dewa selayaknya manusia biasa, hanya saja tubuhnya lebih tinggi satu meter dari tinggi manusia pada umumnya. Kepalanya seperti mengenakan topeng kambing berbulu dengan mata merah pekat yang menyala. Tapi tidak sedikit juga yang mengatakan bahwa itu bukan topeng melainkan wujud asli kepalanya.
Bulan merah hanya perantara antara kamu dan Ibu Dewa. Jika darah persembahanmu benar, bulan akan memerah dan itu tanda bahwa Ibu Dewa mendengar doamu.
Kedua, basuh kedua tanganmu dengan darah persembahan. Sebentar, apa saya sudah menyebutkan soal darah apa yang boleh dan tidak boleh dipakai? Sepertinya belum, ya? Maaf saya jadi pelupa akhir-akhir ini. Darah yang harus digunakan adalah darah manusia. Darah hewan tidak diperbolehkan. Katanya jika kamu menggunakan darah hewan sama seperti kamu mengolok-olok Ibu Dewa.
Ketiga, bersimpuhlah dengan tangan dikepalkan di depan dada saat bulan tepat berada di atas kepala. Saat siulan burung malam saling bersahut sahutan, saat kegelapan menyelimuti hati yang sudah gelap. Dengan mata terpejam rapalkan mantra, saya tidak perlu merapalkan mantranya, kan? Maksudku tidak ada gunanya juga sekarang. Baik tahap berapa lagi tadi? Oh iya, empat, ya?
Keempat, minta apa saja yang kamu inginkan, semudah itu, kan? Betapa baiknya Ibu Dewa padamu. Tapi, setiap keinginan butuh imbalan, kan?
Paling tidak begitulah warga desa mempercayai legenda itu.
Setiap desa kecil paling tidak memiliki satu legenda yang diketahui semua orang yang sudah diceritakan dari generasi ke generasi. Bahkan temanku pernah bercerita bahwa teman dari teman dari temannya pernah melakukan ritual tersebut.
Desa kami memiliki legenda sendiri; Tarian di Bawah Bulan Merah, ritual oleh sang pendendam. Karna kebanyakan yang menggunakan ritual itu adalah orang yang memiliki dendam, iri hati atau suatu kebencian yang mendalam.
Nama saya Pelita Triyuri, kerap dipanggil oleh warga desa dengan julukan Tompelita. Julukan yang tidak saya sukai namun sudah melekat sejak saya masih kecil. Bintik hitam sebesar kuku jempol terpampang di pelipis kiri mata, awal mula julukan menjijikan itu saya dapatkan.
Saya memiliki seorang anak di usia delapan belas tahun. Ada apa dengan ekspresimu itu? Haha. Di desa sudah bukan hal tabu menikah di usia dini, bahkan itu adalah keinginan semua orang tua di desa supaya bebannya sedikit diringankan.
Menikah di usia tujuh belas tahun bukan sesuatu yang buruk, saya hanya perlu beres-beres rumah dan melayani suami. Dan saat sudah memiliki anak bebannya sedikit berat, tapi saya bisa menjalaninya.
Dimakan dulu singkongnya, tidak sopan mengabaikan makanan seperti itu.
Baik, saya akan lanjut bercerita.
***
[Pelita Triyuri, 23 Tahun]
Di siang bolong awan hitam menggumpal, petir-petir mengaum seperti ibu serigala yang murka. Pasti akan turun hujan lebat beberapa menit atau jam lagi. Padahal ini belum di penghujung musim panas tapi hujan seakan tidak tahan untuk segera melakukan pertunjukan.
Aku mengetuk-ngetuk bibir jendela dengan ujung kuku-kuku. Mataku sedari tadi memburu dari timur ke barat jalanan mencari sosok yang tidak kian muncul ke permukaan.
“Ck, kemana perginya anak itu.” Aku mendecak kesal sambil mencengkram bibir jendela yang terbuat dari kayu liar di hutan hingga mengelupas.
Setelah beberapa menit bergelut dengan rasa khawatir dan prasangka buruk yang tidak-tidak, gadis kecil itu malah muncul dari kejauhan dengan tawa merekah di pipinya. Lesung pipi mungil itu membawa ketenangan. Larinya seperti seekor kuda poni kecil. Dia membawa setangkai bunga layu berwarna merah muda.
Aku berlari keluar rumah menyambutnya dengan perasaan lega, bahkan amarah yang menyambar seolah musnah begitu saja. Hujan juga tiba-tiba berjatuhan seketika gadis kecilku masuk ke dalam rumah. Seolah hujan tidak tega menyakiti gadis kecil tanpa dosa ini.
“Darimana saja, Lia?” Aku menopang dagu Lilia — gadis kecil yang saat ini berusia 6 tahun — sambil berjongkok menyetarakan tinggi badan kami.
“Lia main di danau bareng Bang Jagi, Bu.” Lilia memonyongkan bibir, jemari kecilanya sibuk memainkan ujung baju.
Aku mengernyitkan satu alis, senyumku perlahan memudar dengan sendirinya, “Duh, Lia lupa ya sama nasihat ibu?”
Jagi si bocah nakal itu memang suka mengajak bayi kecilku bermain, padahal usia mereka terpaut jauh sekali. Seharusnya tidak pantas bocah ingusan itu bermain dengan anakku. Aku juga tahu anak si Rosima itu tidak benar-benar ingin bermain dengan anakku, dia cuma mau merampas makanan Lilia dan ditukar dengan sampah. Hari ini bunga liar layu yang entah apa namanya. Tapi tidak heran, kelakuan sekeluarga memang bikin geleng-geleng kepala. Suaminya suka maling ayam tetangga, bahkan sudah diamuk massa dua kali masih belum kapok juga, gimana tidak penyakit busuk itu menular ke anaknya. Istrinya juga tidak kalah busuk, memilih tutup mata dengan kelakuan suaminya dan malah membela mati-matian parasit desa tidak berguna itu.
Berbanding terbalik dengan hari kemarin, hari ini begitu terik. Matahari tanpa ragu menyeruak ke seluruh penjuru. Menguasai semua wilayah tak disisakannya tempat bernaung. Aku menggaruk-garuk kepala saking panasnya, tubuhku terasa gatal, rasanya seperti digerogoti dari dalam. Melihat peluhku yang menyucur tanpa henti, kurasa otakku sudah mendidih di dalam sana.
Terlihat dari kejauhan, gadis kecil masih asik memainkan sekeranjang tomat merah cerah. Aku tersenyum kemudian melanjutkan pekerjaanku.
Kebun ini tidak terlalu luas, namun berhasil menghasilkan berbagai macam sayuran, didominasi dengan tomat, ada juga cabe, singkong dan satu pohon pepaya. Tapi, diseberang sana dibatasi pagar bambu yang tidak terlalu tinggi, malah ada kebun yang tampak lebih luas dan subur, bisa menanam apa saja dengan jumlah banyak, bahkan hasil panennya bisa dijual. Harusnya tanah itu milik kami. Terdapat pertikaian besar antara keluargaku dan Rosima. Namun dengan diskusi desa, tanah itu dimenangkan oleh Rosima. Sejak saat itu keluarga kami sudah asam asaman.
Aku menoleh untuk mengecek Lilia, namun gadis kecil itu sudah tidak berada di posisinya, hilang. Bahkan keranjang tomat beserta isinya juga ikut lenyap. Seperti disambar petir disiang bolong, otakku yang mendidih oleh terik tambah mendidih lagi. Pasalnya di tengah kebun yang dipeluk hutan liar seperti ini, tahu apa gadis kecilku tentang jalan pulang?
Langkahku pecah menghantam semak. Napasku begitu cepat seperti seekor rusa yang dikejar mangsanya. Terasa udara begitu sesak seolah ditengkukku berada di ambang maut. Tidak kuhiraukan kerikil bukit yang mencabik-cabik kulitku. Aku
tetap fokus mencari malaikat kecil itu. Sampai langkahku terhenti dan mataku terpaku menganalisis sesuatu.
“Ini-” gumamku ragu-ragu, kalimatku sempat terhenti beberapa detik sampai aku yakin, “Ini sendal Lia.”
Seolah dituntun sesuatu, aku mendekati tebing jurang yang dekat dengan lokasi dimana sendal Lia ditemukan, dengan percaya diri. Entah seruan darimana, tapi aku yakin sesuatu yang kucari ada disana. Meski kemencolokannya aku harap instingku meleset jauh.
Tapi… Tuhan benar, insting ibu tidak pernah salah.
Dari ketinggian lima meter, tentu wajah yang hancur lebur itu tidak bisa ku kenali. Tapi bajunya menjawab semua pertanyaanku. Kaki kirinya masih mengenakan sandal yang sama dengan yang ku genggam saat ini. Dimana bola matanya? Dimana hidungnya? Gigi mungil itu berserakan dimana-mana! Darah meleleh dari segala arah. Aku tidak kuat lagi, bahkan menopang tubuh kurus kerempengku saja sudah tidak sanggup, seketika aku tersungkur, tangisku pecah, menggema di tengah hutan.
Dunia terasa berhenti, tidak. Dunia benar-benar berhenti. Duniaku…
Aku menoleh setelah mendengar gemerisik daun kering di penurunan jalan. Bocah laki-laki sedang mengintip di sebalik pohon, matanya menatap penuh kesombongan, seolah ingin menyampaikan bahwa dia menang, dia berhasil menghancurkan keluargaku. Belum sempat aku kejar, dia sudah terbirit-birit lari dan menghilang. Kubiarkan dia kabur, untuk saat ini saja.
Tidak butuh waktu lama, mayat Lilia dievakuasi. Aku tidak sanggup melihatnya. Bahkan aku sudah tidak mengenali wajahnya, berkali kali aku berteriak, “Dia bukan anakku!” Tapi nyatanya dia benar anakku.
Selang beberapa hari, kasus anakku diselidiki, entah bagaimana aku memberi penjelasan tentang anak si Rosima dalang dari semua ini, tetap saja perlu bukti dan aku tidak bisa
menyuapi polisi dengan bukti bukti yang mereka inginkan. Pada akhirnya kasus ini ditutup dengan aku sebagai pelakunya, ibu yang lalai.
Mendekam lima tahun di penjara bukan waktu yang lama untuk menyusun rencana. Sel karat ini tidak berhasil menimbun dendamku pada keluarga busuk itu. Setelah keluar dari sini aku akan berkunjung pada Ibu Dewa. Mungkin ini saatnya membuktikan legenda itu benar adanya.
Tarian di bawah bulan merah membutuhkan darah, darah seseorang yang paling kamu benci. Tentu saja, aku akan menari dengan penuh gairah malam ini.
Aku mengendap-endap dari hutan belakang rumahnya, tentu saja aku bukan orang awam tanpa persiapan yang matang yang sok-sokan ingin membunuh, aku bahkan memikirkan cara bagaimana membungkam mulutnya saat dia merintih melihat jantungnya kuremas. Di siang hari, suami Rosima sibuk menyabung dengan laki-laki tidak berguna lainnya hingga terik berganti senja. Bahkan dia mengabaikan punggungnya yang hampir gosong dijilati matahari. Matanya jelalatan melihat uang haram yang dikipas kipaskan oleh lawan mainnya. Butuh waktu berjam-jam menunggunya bubar, dan benar saja. Setelah matahari benar-benar mengubur diri, suami Rosima mencak-mencak masuk rumah. Sudah kuduga pasti dia kalah lagi dalam ronde kali ini.
Menyelinap sekarang ke dalam rumah bukan ide yang bagus, bagaimanapun juga kekuatan suaminya jauh lebih besar. Setelah beberapa jam menunggu, Rosima dan suaminya terlihat pergi keluar bersama menaiki sepeda motor. Suara mesinnya yang berisik berdentuman kemana-mana kemudian perlahan sayup-sayup ditelan keheningan malam.
Setelah merasa ini adalah waktu yang pas untuk beraksi, aku menyelinap ke dalam rumah Rosima yang tidak dikunci. Tepat saat langkahku membawaku ke dalam ruangan pengap berlantai kayu. Aku mulai berjinjit menyelam lebih dalam ke dalam sarang musuhku sendiri.
Tubuhku terpatri di depan ruang temaram yang hanya diterangi lampu minyak. Seorang bocah berusia sebelas tahun tampak asyik menyantap kentang rebus dengan rakus. Hingga saat retina mata kami saling bertatapan, bocah itu mematung. Seolah ada tanda tanya besar di kepalanya, sampai dahinya mengerut.
Aku hanya menatap lurus dalam diam, seakan mengunci pergerakannya untuk tetap bungkam. Angin berhembus kencang, menciptakan tarian-tarian tipis dari tirai putih yang bergelantungan sebagai sekat. Disusul auman guntur yang menggelegar. Lampu lilin itu padam dikibas angin.
Kini ruangan menjadi gelap, satu-satunya penerangan hanyalah bulan yang temaram. Dari ambang pintu, aku yakin dia bisa melihat derap langkahku yang kian dekat mengikis sekat. Membawa aura dingin yang menguar, beriring kemilau ujung belati dalam genggaman yang siap mencabik-cabik jiwanya yang penuh dosa.
Tidak butuh waktu lama bocah itu berhasil dilumpuhkan, sedikit perlawanan bukan berarti apa-apa, aku bukan tandingan bocah itu.
Aku menyeret tubuhnya yang mulai dingin, tikaman bringas kebencian menusuk ke jantung terlalu dalam, bahkan aku belum sempat meremas jantungnya yang masih berdegup. Serangga hutan saling bersahut-sahutan, burung-burung malam seolah bertukar pendapat satu sama lain tentang apa yang baru saja kulakukan.
Dengan tangan kumal dibaluti darah, aku mengepalkan tangan sembari bersimpuh. Hembusan angin menusuk kulitku, terkadang gigiku bergemeletuk tapi aku berusaha meminimalisirnya. Aku berdoa dengan penuh tekad. Meminta sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kuminta.
“Musnahkan Rosima dan seluruh keturunannya.”
…
Tiba-tiba aku menyadari bahwa sekelilingku telah menjadi begitu hening. Suara serangga yang begitu nyaring saat aku tiba telah lenyap. Kicauan burung burung malam dari kejauhan sudah tidak terdengar lagi. Angin tak berhembus.
Hening.
Dari belakang terdengar langkah kaki seseorang tanpa ragu. Langkahnya begitu pasti sehingga aku sangat ingin menoleh saat itu juga. Mataku terbelalak saat melihat sesosok tubuh tinggi dari kejauhan, bentuk tubuh ramping selayaknya wanita namun seluruhnya ditumbuhi bulu bulu berwarna coklat kemerahan. Tubuhnya setinggi dua meter hampir menyentuh kanopi hutan.
Kepalanya benar-benar seperti kambing, bukan sekedar topeng kambing. Matanya menyala merah terang dan hidungnya mendengus selayaknya kambing. Namun, ada yang tidak disebutkan dalam legenda. Aroma anyir yang mengikutinya menyeruak ke penjuru hutan. Baunya menusuk ke dalam hidung hingga tenggorokan. Hampir saja ku muntahkan semua isi perutku saking baunya.
Setelah membuat kesepakatan, hujan turun sangat lebat, aku mulai tidak sadarkan diri, seolah tidak terjadi apa apa, aku terbangun dari kasurku saat mentari menerpa lewat jaring-jaring tirai jendela. Aku melompat dari kasur dan berlari keluar rumah, rasa panik menggerogoti tenggorokan.
“Aku lupa membereskan mayat bocah itu.”
Aku bergegas berlari menuju lokasi tadi malam. Tapi, saat tepat berada di depan rumah Rosima, warga seperti mengepung rumahnya dari berbagai arah. Bendera hitam sudah jelas melambangkan sesuatu. Aku bertanya pada salah satu warga, katanya Rosima dan suaminya tertimbun longsor saat hendak ke desa seberang, dan anaknya, Jagi. Yang ditinggal sendiri tanpa pengawasan pergi bermain ke dalam hutan dan apesnya bertemu hewan buas yang lapar.
Panikku mereda perlahan lahan, tanpa ada rasa sesal sama sekali, aku malah tersenyum lega. Aku memutar balik tubuhku berjalan ke arah rumah. Tanpa mengucapkan belasungkawa sedikitpun. Aku menghilang dari pandangan warga. Aku menutup pintu rumahku dan menyalakan radio. Musik klasik dari penyanyi Tetty Kadi yang berjudul Teringat Selalu sedang diputar. Aku menarik napas dalam-dalam kemudian membuangnya beriringan dengan lagu itu diputar.
Rasanya lega sekali.
…
Oh iya, setiap permintaan butuh imbalan, kan? Maaf saya jadi pelupa akhir-akhir ini.
Sepatu dan Pemiliknya
Lilyana Agnesia, lahir pada tahun 2005, berasal dari keluarga bermarga Simanjuntak. Ia memiliki ketertarikan pada film bergenre thriller dan romance. Saat ini, Lilyana menempuh pendidikan di bidang Sastra Indonesia sebagai bekal untuk membuka peluang karier dan memperoleh pekerjaan yang lebih baik di masa depan
Ada sebuah cerita di mana sepasang sepatu memiliki kehidupan dan bisa mengarahkan pemiliknya ke suatu tempat-tempat yang tidak bisa diprediksi pemiliknya. Arya adalah seorang pengangguran yang sedang menyebar banyak CV ke beberapa perusahaan. Ia terus menunggu panggilan untuk wawancara kerja. Namun, sudah tiga bulan belum juga ada panggilan-panggilan itu.
Jika hari-harinya sedang bosan ia pergi ke tempat tongkrongannya untuk bermain game bersama teman-teman penganggurannya. Ia berpenampilan sederhana layaknya pengangguran lulusan S1 Ilmu Hukum. Memakai sandal jepit, kaos oblong berwarna putih dan dasi merah jika ia ingin cosplay.
Dalam tongkrongannya, mereka bercanda ria tentang permasalahan negara dan kadang berfilosofi kehidupan. Dari tiga teman Arya, Andika yang sudah dipanggil untuk wawancara pekerjaan dan menyiapkan diri saat diterima nanti.
“Arya, gimana perusahaan yang lo lamar itu. Masih belum dipanggil-panggil juga? Kayak gue dong, dua hari lagi bakal diwawancara nih.” kata Andika dengan sombong akibat sudah terlalu lama menganggur.
“Ya, gue masih nunggu aja dulu. Sabar bro, belum tentu juga lo lolos wawancaranya.” sambut Arya tidak terima penghinaan.
“Yaelah, jangan doa yang kayak begitulah. Lo kalo ada panggilan bakal ngerasain kayak gue juga pasti.” jawab Andika kembali takut akan perkataan Arya.
Kini tiga teman mereka ikut bergabung dalam obrolan setelah kalah game online.
“Kalian pada kenapa sih, nyantai aja dulu. Semua pasti ada jalannya, tunggu aja petunjuk dari Tuhan”, kata Toni dengan percaya diri.
“Ya, lo juga harus ada usaha kali, jangan sepenuhnya dari Tuhan semua. Kasihan masih banyak domba lain yang kudu dikabulin doanya.” Jawab Arya dengan bijak.
Di tengah pembicaraan, tiba-tiba Arya mendapatkan notif email dari gawai yang dipegangnya. Isi email itu berkata, “Selamat, anda lolos tahap dokumen. Selanjutnya, anda masuk ke tahap interview…,” kira-kira begitulah tulisannya. Arya yang membaca itupun terkejut dan segera bercerita kepada teman-temannya itu.
“Wah, selamat bro. Lolos juga ternyata ke tahap interview ya.” Ucap Toni ikut senang dengan kabar gembira dari Arya.
“Gak nyangka, sumpah. Gue harus tampil menarik. Baju baru, setelan, sepatu baru, semuanya harus sempurna.” Kata Arya dengan tangan gemetaran.
“Semangat 45 langsung, king kita. Semoga lancar dah buat kalian berdua yang mau interview kerja, sampai keterimanya juga.” Ucap Fahri dengan tulus.
Sambil menunggu tiga hari lagi untuk interview, Arya menyiapkan semua yang diperlukan untuk kebutuhannya. Ia mempelajari pertanyaan-pertanyaan apa saja yang akan keluar dan bagaimana menjawabnya. Arya juga mempersiapkan kebutuhan primernya.
Pagi hari, ia mencari-cari baju di pasar dan setelan pria yang murah. Setelah berkeliling mendapatkan semua itu. Kini ia mencari sepatu murah namun terlihat mewah untuk dipakainya nanti. Arya datang ke sebuah tokoh yang menampilkan banyak sepatu bagus dengan harga murah. Ia memperhatikan dengan seksama, mana sepatu yang tepat dan cocok untuknya.
Setelah melihat-lihat, matanya mengarah kepadaku. Dan ya, dia memilih pilihan sepatu yang tepat. Sepatu safety shoes dari Lavio berwarna coklat dengan material suede dan kulit sintetis, bekas. Cocok untuk membawanya ke manapun ia pergi. Ada yang bilang, “Jika kau mencari sepatu dengan teliti. Sepatu itu juga akan memilihmu dan sepatu yang bagus akan membawamu ke tempat-tempat yang bagus juga.” Karena Arya memilihku, Aku juga memilih dirinya sebagai pemilikku.
Di luar sana, banyak sepatu-sepatu bermerek dijual dengan harga murah namun terlihat elegan seperti bentukku ini, ya sepatu-sepatu bekas dari orang-orang kaya bisa dibilang dan dijualkan kembali dengan murah ke orang-orang miskin yang ingin tampil elegan. Tapi tak sedikit juga sepatu bermerek dengan harga mahal yang dijual di dalam mall itu kualitasnya bagus dan cocok dengan pemiliknya. Dari tampilan memakai sepasang sepatu juga kita bisa melihat bagaimana sifat pemiliknya. Seperti sepatu oxford shoes dengan lace (tali) yang tak menyatu. Kebanyakan pemiliknya adalah seorang pengusaha yang sukses dan rajin menyemir sepatu tersebut sehingga terlihat mewah tampilannya setiap hari.
Sekarang, Aku akan mulai beradaptasi dengan Arya. Aku akan membantunya sepenuh hati dengan gaya elegan. Tiba hari saat yang ditunggu-tunggunya tiba, Arya mulai bersiap dari mengenakan setelannya hingga memakaiku dikedua kakinya dengan ikatan gaya lattice. Ia mulai berangkat dengan menaiki taksi ke sebuah firma hukum besar di pusat kota. Ia menunggu antrian namanya untuk dipanggil wawancara. Selang menunggu, kakinya terus bergetar tak bisa diam dan terus memanjatkan doa demi kelancarannya.
Kini namanya terpanggil, ia memasuki ruangan besar berdinding putih dengan tiga orang pewawancara didepannya siap memberikan pertanyaan dengan wajah datar menakutkan.
Selama wawancara berlangsung, ia berhasil menjawab semuanya dengan baik sesuai dengan yang sudah dilatihnya selama ini. Salah satu pertanyaan yang dilontarkan adalah “Kenapa kamu ingin masuk ke firma ini?”
“Sebagai lulusan baru dari jurusan hukum, saya sangat tertarik dengan firma ini karena komitmennya terhadap kasus-kasus yang berhubungan dengan keadilan sosial. Saya telah membaca tentang bagaimana firma ini menangani proyek-proyek seperti advokasi hak asasi manusia dan litigasi lingkungan, yang sejalan dengan passion saya untuk menegakkan keadilan dalam hukum. Saya ingin bergabung untuk belajar dari pengacara berpengalaman di sini dan berkontribusi pada perubahan positif, meskipun saya masih butuh banyak belajar.” Jawab Arya dengan bijak dan percaya diri. Ia selalu ingin keadilan dan kejujuran dalam lingkungannya.
Sekarang tinggal menunggu waktu dia diterima atau tidaknya. Sudah dua hari, Arya selalu khawatir dengan hasil wawancara itu. Dia terus menunggu dan kadang berjalan di sekitar rumahnya menggunakan Aku.
Setelah lama menunggu kabar. Akhirnya hasil itupun tiba dan Arya dinyatakan lolos dari interview. Ia resmi diterima bekerja di firma itu. Semangat hari pertamanya bukan main, semua karyawan di sana disapanya seakan sudah lama akrab. Ia menunggu atasan untuk diberikan sebuah tugas dan kini ia mulai menerima banyak laporan, bacaan, dan buku undang-undang yang belum pernah ia lihat harus dipahaminya dengan teliti. Karena itu akan sangat penting saat menghadapi sebuah persidangan. Untuk langkah ini, memang ia mulai mengeluh sedikit tapi masih ada semangat yang tertinggal daripada menjadi pengangguran.
Hari ketiga, ia mulai ikut memasuki setiap ruang persidangan yang dilakukan oleh seniornya. Ia memperhatikan dengan seksama bagaimana sebuah keadilan ditegakkan dengan benar. Aku selalu mengarahkan pemilikku untuk maju ke tempat-tempat yang membutuhkan keadilan.
Setelah beberapa bulan bekerja. Kini ia mendapatkan seorang klien yang direkomendasikan oleh atasannya. Ia adalah anak Managing Partner firma hukum tempat dirinya bekerja.
“Anak saya terlibat kecelakaan. Tolong tangani dengan baik. Berikan dia hukuman yang ringan. Jika tidak, aku tidak menjamin masa depanmu di firma ini.” Pinta atasan Arya secara pribadi kepadanya. Ia hanya bisa mengangguk karena tak bisa menolak.
Anaknya berumur 23 tahun sedang bermasalah karena mabuk saat mengendarai mobil hingga melukai seorang pengendara motor yang ia tabrak. Tak main-main lukanya, karena si pengendara mengalami koma di rumah sakit sampai saat ini. Keluarga korban menuntut pelaku sampai mendapatkan hukuman yang pantas dan adil tanpa ada perdamaian.
Ini suatu hal keadaan sulit yang dihadapi Arya, tidak mungkin ia menolak klien pertamanya itu. Namun, di sisi lain ia bingung kenapa atasannya menunjuk Arya sebagai pengacara anaknya daripada senior-senior yang telah berpengalaman dan sudah ahli menangani kasus. Sebelum hari persidangan dimulai, atasannya mendesak Arya agar kliennya itu tidak mendapatkan hukuman yang berat jika tidak, ia bisa dipecat karena ketidakmampuannya memenangkan persidangan tersebut.
Ya, ini adalah sisi gelap dari firma yang dibanggakan itu. Arya tidak menyangka hal ini akan terjadi padanya. Di satu sisi, Arya ingin memenangkan persidangan untuk klien pertamanya. Namun di sisi lain, ini tidak sesuai dengan keadilan yang ingin diterapkannya. Karena tidak ada cara untuk membela kliennya itu, semua sudah terbukti bahwa ia salah total karena mengemudi dalam keadaan mabuk dan itu semua ada bukti fisiknya.
Selagi mempersiapkan persidangannya, Arya berusaha untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Melihat pemilikku merasa frustasi, aku melangkahkan kakinya ke rumah Kakek Arya untuk bercengkrama karena sudah lama ia tidak bertemu dengan kakeknya semenjak dirinya diterima bekerja.
“Halo Kakek, sudah lama kita tidak bertemu. Maaf aku baru bisa ke sini sekarang. Pekerjaanku begitu banyak di sana.” Ucap Arya memulai percakapan.
“Tidak apa, Arya. Kau terlihat sangat kacau, seberapa berat urusan pekerjaanmu cucuku?” tanya Kakek terlihat khawatir.
“Tidak kakek. Hanya ada kasus yang membingungkanku. Seperti sedang mempertaruhkan masa depanku nanti.” Jawab Arya tak ingin Kakeknya tahu apa yang terjadi padanya.
“Katakan saja Arya. Kau tidak perlu sungkan menceritakan masalahmu itu. Siapa tau kakek bisa sedikit membantu.”
“Sebenarnya Kek, aku mendapatkan klien yang terlibat sebuah kecelakaan. Ia mabuk saat berkendara dan menabrak korban hingga koma. Keluarga korban tak ingin berdamai tapi klienku ini adalah anak dari Managing Partner firma dan ia ingin meminta anaknya mendapatkan hukuman yang ringan jika bisa, berdamai saja dengan korban katanya.” Arya melepaskan semuanya dan bercerita kekeluhannya itu kepada Kakek.
“Sepertinya ada alasan mengapa mereka memberikan kasus ini kepadamu. Tapi jika bisa ku beri tahu itu tidak berat cucuku.” Kakeknya mulai tertawa mendengar cerita Arya.
“Ini tidak mudah kakek. Mengapa kau tertawa seolah kasus ini sangat gampang. Pelaku bisa saja mendapat hukuman maksimal 5 tahun penjara.” Muka Arya terlihat menggerutu karena ejekan Kakek.
“Apakah kau sudah mencari bukti-bukti yang kuat untuk membela klienmu?” tanya Kakek mencoba membantu Arya menganalisis kasusnya.
“Apa yang mau dibela dari anak itu Kek. Dia mabuk-mabukan mengendarai mobil.”
“Biasanya jika tidak ada rencana pembunuhan, pemabuk itu akan menghindari orang yang akan menabraknya. Sehingga dia akan mengalami kecelakaan tunggal. Apakah kau sudah menanyakan ini kepada klienmu?”
“Bagaimana Aku bisa bertanya, sedangkan dia lupa akan kejadian itu karena mabuk. Tapi, apa maksud Kakek dia bisa saja menghindari motor yang akan ditabraknya?”
“Ya, itu sederhana jika memang begitu. Bisa saja si pengendara motor melakukan kesalahan sehingga harus menabrak klien mu juga.”
“Kesalahan?” tanya Arya yang semakin bingung dan mulai berpikir lebih dalam.
“Apa kau sudah cek semua CCTV yang ada?” tanya Kakek untuk meyakinkan Arya.
Arya menyadari bahwa ada satu kamera dari sisi lawan arah jalan, jauh dari tempat kejadian itu belum diperiksa olehnya.
Setelah mengingat hal itu Arya berterima kasih kepada Kakek karena telah membantunya, lalu langsung pamit dari rumah Kakeknya dan kembali ke kantornya untuk mengecek sudut pandang dari jalan tersebut. Dan benar saja, pengendara motor itu juga ternyata melanggar lalu lintas, korban melaju tanpa helm, melewati lampu merah, dan menggunakan kecepatan berlebih, mungkin korban mengira malam itu akan sangat sepi sehingga tidak ada pengendara lain yang datang dalam keadaan mabuk.
“Akhirnya, ini bisa mengurangi hukuman yang didapat klienku. Aku tidak pernah berpikir itu, karena ke rumah Kakek, Aku bisa mendapatkan jawabannya. Entah kenapa sepatu ini selalu mengarahkan ke mana Aku melangkah. Kalau memang sepatu ini mengarahkanku, Aku sangat berterima kasih dan akan selalu ku pakai ke manapun.”
Tentu saja, Aku akan selalu mengarahkan langkah Arya untuk mendapatkan jawaban yang dibutuhkannya.
Kini persidangan akan dimulai, Arya bukan menyalahkan korban yang menderita. Tapi bukti ini bisa mengurangi hukuman pelaku. Ia juga sempat berkonsultasi dengan seniornya “Ini peluang untuk mitigasi, tapi jangan buat keluarga korban lebih sakit hati. Katakan dengan baik tanpa menyakiti perasaan mereka.”
Arya menekankan bahwa kliennya memang mabuk (Pasal 311 UU LLAJ), tapi kesalahan korban memperburuk kecelakaan.
“Yang Mulia, klien saya bertanggung jawab 70% atas insiden ini karena pengemudi mabuk. Tapi korban turut berkontribusi 30% dengan pelanggaran lalu lintas, seperti tidak pakai helm (Pasal 291 UU LLAJ) dan melaju di atas rata-rata kecepatan. Ini bukan pembenaran, tapi fakta untuk keadilan seimbang.” Tegas Arya berusaha memenangkan persidangan.
Jaksa sempat menyanggah, menuntut hukuman maksimal. Tapi hakim setuju hukuman pelaku dikurangi menjadi enam bulan penjara dengan percobaan, denda, dan rehabilitasi wajib. Ganti rugi perdata dibagi 70-30, dengan pelaku membayar sebagian besar, plus kompensasi medis untuk korban. Dan sidang pertama kali ini dimenangkan oleh Arya si pengacara baru.
“Hukum bukan tentang menang, tapi menyeimbangkan kesalahan untuk mencegah tragedi berulang. Aku masih bisa menegakkan keadilan dengan benar, tentu dengan bantuan sepatu berharga ini. Mari kita berjuang bersama sepatu.”
Tentu saja Arya, selama kau merawatku dengan baik, sepatu bagus ini akan membawamu ke tempat yang bagus atau tempat untuk mencari jawaban ketika kau kehilangan arah. Aku akan selalu bersamamu, berjuang bersama untuk keadilan. Selanjutnya kasus apa yang akan kita hadapi?
BANGUNAN SEHARGA SERATUS MILIAR LEBIH
Tak ada yang lebih membanggakan daripada memiliki bangunan megah yang digadang-gadang sebagai ciri khas daerah—meskipun, sejujurnya, bangunan itu tak benar-benar mencerminkan jati diri Daerah J. Namun, bagi masyarakat saat itu, yang terpenting adalah akhirnya ada juga tempat estetik untuk berfoto. Sebuah sudut baru untuk pamer di media sosial. Dan bagi banyak orang, itu sudah cukup.
Mungkin antusiasme itu juga muncul karena Daerah J adalah provinsi yang nyaris tak pernah muncul di televisi. Seperti terlupakan. Seolah-olah tak ada tempat yang layak diliput stasiun besar dari Ibu Kota, tak ada peristiwa yang menggugah, tak ada cerita yang dianggap penting untuk diangkat ke permukaan. Bangunan baru ini, setidaknya, memberi alasan bagi kamera menoleh ke Daerah J.
Cerita ini bermula sejak kedatangan mantan Wakil Presiden waktu itu—saat beliau masih menjabat. Ia datang ke Daerah J untuk menghadiri sebuah acara seremonial sekaligus menyaksikan pengukuhan komite daerah.
Di hadapan ratusan orang, dengan suaranya pelan dan sedikit serak, beliau menyampaikan sebuah pengumuman yang terdengar seperti mimpi bagi sebagian orang.
“Dengan dana yang kita miliki sekarang, saya berencana membangun gedung pusat keislaman atau pusat pembinaan Islam. Tempat ini bisa jadi destinasi wisata religi, menggerakkan perekonomian, sekaligus meningkat citra Daerah J,”
Tak tanggung-tanggung Sang Wakil Presiden menyebutkan dana yang digelontorkan, yaitu lebih dari seratus miliar rupiah. Kabar itu langsung menyulut kegembiraan. Beberapa masyarakat yang ada di sana bersorak, sebagian merasa seperti akan memasuki babak baru dalam sejarah daerahnya. Para pejabat pun ikut berseri-seri. Ada yang tertawa lega, ada pula yang sekadar menyeringai, memperlihatkan gigi secukupnya—hanya demi menjaga wibawa di hadapan kamera.
Beberapa bulan setelah kedatangan Sang Wakil Presiden, dana yang dijanjikan benar-benar cair. Lelang pembangunan dimenangkan, dan alat-alat berat mulai berdatangan, berdiri gagah di tepi jalan. Lahan yang akan menjadi bangunan pusat keislaman itu terletak tepat di seberang bandara kebanggaan Daerah J, sebuah titik yang dianggap strategis, dan kini menjadi pusat perhatian publik.
Padahal sebelumnya, bagi warga sekitar, lokasi itu punya makna lain. Dulu hiruk-pikuk proyek dimulai, tempat tersebut adalah ruang hidup di sore hari. Arena berlari santai, bercengkerama, menyapu peluh bersama angin, sambil memandangi langit yang perlahan meredup dan mencair dalam senja.
Karena proyek besar itu sedikit banyak mengganggu ritme kecil mereka. Sambutan hangat di awal ternyata tak sepenuhnya berubah menjadi kegembiraan. Rute lari bergeser, berbelok tanpa arah, tak lagi menyenangkan. Aroma tanah basah tergantikan debu proyek, sementara suasana hangat sore hanyut di bawah dentam mesin.
Perlahan, keluhan warga merayap ke telinga para penjabat. Namun, seperti biasa jawabannya adalah janju manis, bahwa setelah pembangunan ramoung, tempat ini akan menjadi lebih nayaman, lebih indah, bahkan lebih layak untuk sekadar berlari sore.
Karena masyarakat J dikenal sebagai salah satu masyarakatnya yang paling bahagia, bahkan menempati urutan keempat di Indonesia, mereka pun tak terlalu ambil pusing, meski tetap melontarkan keluhan sesekali. Proyek itu tak boleh merusak kebiasaan jalan sore mereka. Bahagia tetap bahagia, walau harus berputar arah demi menghindari alat berat.
Selain itu, pembangunan ini juga menarik perhatian para pemburu berita. Demi memenuhi laman berita terkini, wartawan—atau kadang pembuat konten—tak mau ketinggalan momen. Mereka kerap datang, mewawancarai para pelari sore dengan gaya santai: kaus oblong, celana pendek model terbaru. Meski tampil kasual, lanyard tetap tergantung di leher, menegaskan identitas profesinya.
Sore itu, seorang wartawan menghampiri seorang pelari yang baru saja menuntaskan putaran terakhirnya. Wajah si pelari tampak letih; keringat menetes dari pelipis, napasnya masih memburu. Namun wartawan itu tak menunggu lama. Ia segera mendekat, mengangkat gawainya, lalu bertanya dengan nada tergesa
“Halo, Bang. Boleh saya tanya sedikit soal pembangunan ini?” tanya sang wartawan, sambil menyodorkan gawainya ke arah mulut sang pelari.
“Boleh,” jawab Si Pelari singkat, dengan wajah yang tak tampak terlalu antusias.
“Sejak adanya pembangunan ini, apa saja perubahan yang abang rasakan?” tanya Sang Wartawan, nada suaranya serius tapi tetap ramah.
“Sebenarnya cukup mengganggu, ya. Saya jadi harus cari rute lain yang nggak nyaman buat saya,” keluh sang pelari, mengatur nafasnya yang belum sepenuhnya stabil. “Kadang dentuman alat berat juga bikin saya susah dengar musik saat lari. Tapi ya, yang namanya kesenangan itu tetap harus dicari, walaupun ada halangan.”
Itu hanyalah satu dari ratusan suara yang menyampaikan aspirasi tentang apa yang sedang terjadi. Tanggapan-tanggapan ini tentu sampai juga ke telinga Bapak Gubernur Daerah J. Namun, seperti biasa, alih-alih merespons dengan serius, beliau justru menanggapinya dengan nada enteng—seakan semuanya tak layak dikhawatirkan.
“Ah, soal suara bising alat berat, debu-debu proyek, rute lari yang terganggu—itu semua tanda-tanda pembangunan, tanda kemajuan. Kalau masih bisa lari, berarti belum darurat, kan?” ujar Bapak Gubernur, sesaat setelah menghadiri pertemuan dengan sebuah perusahaan.
Dari tanggapan Bapak Gubernur saja, sudah cukup untuk membuktikan: beginilah wajah salah satu provinsi paling bahagia di Indonesia—bahagia menurut lembar kerja survey terpercaya yang ada.
Namun, tidak sedikit pula yang melihat sisi positif dari pembangunan Pusat Keagamaan ini.
Para penjual kaki lima—seperti penjaja es teh, bakso bakar, sate Padang, dan lainnya, menyimpan harapan besar. Mereka percaya bahwa bangunan baru ini bisa mendongkrak pendapatan, sekaligus menarik lebih banyak pengunjung yang berpotensi menjadi pembeli.
“Saya, sih, malah senang ada bangunan itu. Siapa tahu nanti bisa menarik pengunjung umum, bukan cuma pelari sore. Soalnya, pelari sore itu biasanya bawa minuman sendiri,” ujar seorang pedagang es teh sambil berkeliling menawarkan dagangannya kepada para pelari.
Ya, tanggapan masyarakat Daerah J memang sangat beragam. Namun yang pasti, saat itu mereka menunggu—apakah hasil dari pembangunan itu nanti akan sesuai dengan ekspektasi mereka, atau justru menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda dari bayangan semula. Yang jelas, belum ada protes besar, apalagi demonstrasi, dari warga Daerah J.
***
Setelah hampir tiga tahun menunggu, akhirnya bangunan itu rampung juga. Banyak warga yang selama ini penasaran, kini mulai mendekat untuk melihatnya. Satu per satu seng penutup yang selama ini menghalangi pandangan dilepas, meski sebenarnya bentuk bangunan itu sudah lama terlihat dari kejauhan. Dari kabar yang beredar—yang lebih banyak berupa desas-desus—bangunan itu adalah sebuah masjid.
Beberapa pelari sore yang biasa melintasi area itu mencoba mendekat, ingin masuk dan melihat dari dekat. Tapi apa mau dikata—penjagaan masih ketat. Para satpam tidak mengizinkan siapa pun masuk sebelum peresmian resmi oleh Bapak Gubernur dilakukan. Untuk sementara, masyarakat hanya bisa puas melihat dari seberang jalan, memotret dari kejauhan.
Berita tentang bangunan ini pun mulai menyebar ke mana-mana—menembus batas Daerah J, menular dari satu grup WhatsApp keluarga ke linimasa media sosial, hingga jadi bahan gosip sore di warung kopi. Ramai diperbincangkan, bahkan sampai ke kabupaten-kabupaten yang ada di Daerah Provinsi J.
Misalnya, salah satu laman berita daring menulis dengan judul yang mencuri perhatian: “Masjid Megah di Daerah J Akhirnya Dibuka (Tapi Masih Ditutup)!” Judulnya membuat penasaran, walau isinya tak jauh-jauh dari pagar yang masih terkunci dan satpam yang tetap tak bergeming.
Di Instagram, netizen tak kalah ramai. Salah satu komentar yang disukai ribuan akun berbunyi:
“Bentuk masjidnya mirip lambang Wifi full bar. Semoga doanya juga konek langsung ke langit,” tulis seseorang dengan nama akun @anakmimbar.
Tak mau kalah, seorang artis lokal ikut siaran langsung di TikTok, lengkap dengan filter kupu-kupu di pipinya. “Aku tuh bangga banget ya, akhirnya Daerah J punya masjid semegah ini,” katanya antusias. “Katanya sih nanti kalau udah diresmikan, bisa jadi tempat syuting juga. Ih, aesthetic banget dari luar. Udah kayak di Timur Tengah, tapi ini versi kita!”
Masyarakat yang belum bisa masuk, atau yang hanya melihat dari layar ponsel, tampaknya tetap merasa senang. Di era ini, keindahan memang bisa dinikmati dari mana saja—asal sinyal cukup kuat dan kuota masih tersisa. Setidaknya, untuk sementara, rasa penasaran bisa ditambal dengan unggahan-unggahan penuh filter dan komentar lucu di media sosial.
Melihat banyak tanggapan positif dan juga banyak yang tidak sabar untuk masuk dan mencicipi masjid ini, tentunya membuat Bapak Gubernur juga ikut terseret ke dalam euforianya. Sehabis mendatangi nikahan kerabat terdekat, Bapak Gubernur pun langsung dikerumuni beberapa wartawan saat itu.
“Saya sudah menduga, bahwa antusias masyarakat akan seperti ini,” ujar Bapak Gubernur dengan percayanya.
Ucapan itu segera menjadi berita. Rasa yakin dari Sang Gubernur membuat sebagia masyarakat daerah J semakin berdebar, menanti hari diresmikan masjid megah tersebut. Konon, masjid itu akan dibuka dan digunakan pertama kali pada bulan Ramadan.
***
Akhirnya, waktu yang dinanti pun tiba. Ramadan, bulan suci bagi umat Islam, datang membawa harapan baru. Malam itu adalah tarawih kedua di awal puasa. Seusai berbuka dan menunaikan salat Magrib, masyarakat mulai berdatangan untuk menyaksikan peresmian sekaligus merasakan penggunaan masjid itu untuk pertama kalinya.
Ada yang tampil sangat rapu dengan baju koko, ada pula yang mengenakan batik, sarung bermerek, hingga pakaian terbaik mereka. Kerumunan memenuhi halaman depan masjid, wajah-wajah penuh semangat dan rasa penasaran tampak jelas dari senyum yang tersungging.
“Pasti suasananya adem sekali,” ujar seorang lelaki di tengah keramaian.
“Aku mau dapat shaf paling depan!” seru seorang bapak bersongkok hitam dengan nada antusias.
Tak lama kemudian, seorang panitia naik ke podium kecil yang disediakan di depan masjid, dia mulai membuka acara dengan hikmat.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…,” suaranya lantang, memecah malam Ramadan yang hangat. Semua hadirin serentak menjawab salam itu, dengan suara bergemuruh namun penuh kebersamaan.
Acara pun dimulai. Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema, menembus langit-langit malam, lalu disusul sambutan dari beberapa tokoh, seperti lazimnya sebuah pembukaan. Sebagian masyarakat larut memperhatikan setiap jalannya acara, sementara yang lain masih menyesuaikan diri dengan suasana penuh kekhidmatan itu.
Setelah lamanya rangkaian acara pembukaan, akhirnya Bapak Gubernur dipersilahkan oleh pembawa acara untuk maju ke depan. Dengan senyum lebar, ia menyampaikan kata tentang pencapaian ini.
“Mari kita jadikan masjid ini bukan hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga pusat persaudaraan, ilmu, dan kebajikan bagi kita semua.” Tangannya begitu atraktif dalam menyampaikan pidato.
Sesaat setelah itu, pita peresmian yang terbentang di pintu utama dipotong. Sorak-sorai dan tepuk tangan pun pecah, tidak lupa kamera-kamera wartawan memotret pemotongan pita itu. Pintu masjid dibuka lebar, mengundang masyarakat untuk masuk melaksanakan salat tarawih pertama di masjid itu.
Minggu-minggu awal, salat masih berlangsung dengan tenang, meski saf-saf di bagian belakang perlahan mulai kosong. Namun, persoalannya bukan pada saf yang hilang, melainkan pada sebuah kejadian kurang mengenakkan yang terjadi di dalam masjid itu.
Seperti yang kita tahu, cuaca tak pernah bisa ditebak. Hanya Tuhan yang mengatur segalanya. Malam itu, hujan deras mengguyur Daerah J. Angin kencang membuat dedaunan berterbangan, sementara rintik yang kian rapat menghantam atap masjid.
Tak lama berselang, hujan semakin deras. Salat tarawih pun hampir mencapai rakaat terakhir ketika beberapa jamaah merasakan sesuatu yang janggal: bahu dan kepala mereka mulai basah, lantai pun terasa licin terkena tetesan air yang merembes dari atap.
Awalnya air yang masuk hanya beberapa tetes, tapi lama-kelamaan makin merembes semakin deras dari sela-sela atap. Jamaah yang berada tepat dibawahnya mulai gelisah. Ada yang menggeser sajadah, ada pula yang tetap bertahan meski bahunya basah.
Suasana tarawih yang khusyuk perlahan pecah oleh bisik-bisik dan lirikan. Anak-anak kecil di shaf belakang bahkan mulai menunjuk-nunjuk ke arah langit-langit masjid yang meneteskan air.
Begitu imam mengucap salam terakhir, beberapa jamaah langsung berdiri, sambil melihat ke arah atap. Tampak jelas, ada beberapa titik bocor yang cukup parah. Sebagian orang hanya saling pandang dengan wajah kecewa.
Karena kejadian itu, masjid pun benar-benar sepi hingga lebaran usai. Tempat yang awalnya digadang-gadang sebagai pusat keislaman, kini justru memperlihatkan kelemahannya.
Kabar tentang bocornya masjid ini terus beredar, dari obrolan di warung kopi hingga ke media lokal. Puncaknya terjadi ketika seorang aktivis mengunggah video ulasan di TikTok yang langsung viral. Dalam videonya, ia memperlihatkan air hujan yang menetes dari atap masjid baru. Setelah ditelusuri lebih jauh, tampak pula bahwa dinding penyangga masjid terbuat dari material rapuh—sangat tidak layak untuk sebuah bangunan yang menelan dana lebih dari seratus miliar rupiah. Semua itu ia sampaikan dengan nada kritik tajam yang menyindir kualitas pembangunan.
Reaksi warga pun bermunculan. Ada yang marah, ada yang kecewa, dan ada pula yang hanya bisa menggelengkan kepala pasrah. Satu hal yang pasti, masyarakat Daerah J sepakat menyebut persoalan ini tak lain adalah bentuk korupsi.
Berita semakin ramai diperbincangkan, namun hingga kini pihak pemerintah belum juga memberikan tanggapan yang jelas maupun langkah konkrit untuk meredam keresahan masyarakat.
Alih-alih menyelesaikan persoalan bangunan yang bermasalah, masyarakat justru dikejutkan dengan kabar baru: aturan larangan mengenakan celana pendek saat berjalan atau berlari sore di sekitar masjid.
Jelas, aturan ini menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat.
“Lah, kami duluan yang sering berlari di sini sebelum masjid itu berdiri,” protes seorang pemuda dengan nada kesal. Tubuhnya berkeringat, mengenakan kaus tipis tanpa lengan dan celana pendek merah menyala.
Keributan di media sosial pun tak terelakkan. Suara-suara saling bersahutan, ada yang kontra, ada pula yang pro. Perdebatan semakin riuh, hingga pada akhirnya satu hal menjadi jelas: kejadian ini kian terasa aneh.
Sang Gubernur seolah hilang ditelan bumi. Ia selalu hadir dalam program-program dan acara seremonial lainnya, namun ketika menyangkut persoalan masjid ini, ia justru lebih sering mewakilkan urusan kepada stafnya.
Pernah, pada suatu hari, ia dijadwalkan membuka sebuah acara kebudayaan di gelanggang seni. Namun, alih-alih hadir, ia hanya mengutus seorang staf untuk membacakan pesan singkat darinya. Belakangan, masyarakat mengetahui bahwa pada waktu yang sama, sang Gubernur justru asyik bermain mini soccer bersama beberapa kolega. Hal inilah yang membuat warga semakin curiga bahwa ia sengaja menghindari awak wartawan.
Masyarakat semakin marah. Beberapa kelompok warga pun membentuk forum khusus untuk membongkar persoalan ini. Namun, ketika diajak berunding, salah satu pejabat justru memaki dan menuduh para pengkritik sebagai kaum radikal.
Hal itu membuat gelombang aksi kemudian tak terbendung. Warga turun ke jalan, sebagian berkumpul di depan kantor gubernur. Ada yang datang dengan celana pendek dan setelan lari sore—sengaja sebagai bentuk sindiran—sambil membawa spanduk besar dan pamflet protes.
Sorotan tajam pun mengarah pada hal: kualitas konstruksi masjid yang buruk, kejelasan dana proyek, serta aturan-aturan aneh yang hanya menambah kegaduhan.
Di tempat lain, sang Gubernur tampak tertawa di layar televisi. Bukan karena menjawab kegelisahan warganya, melainkan karena sibuk menghadiri berbagai acara: meresmikan proyek baru, membuka festival kuliner, bahkan hadir di lomba karaoke. Namun, soal masjid megah senilai seratus miliar yang disebut sebagai pusat keislaman itu, tak sekalipun ia berani menyebutnya lagi.
Hingga akhirnya, suara protes pun mereda. Semua kembali normal, seolah tak pernah ada yang terjadi. Berita dan video tentang masjid itu menghilang, tenggelam bersama riuhnya isu-isu baru.
Namun, yang namanya tempat ibadah tetap harus diisi, kalau tidak akan menjadi dosa.
Dengan kondisi seperti itu—apa adanya—tetap saja ada yang menggunakan masjid ini untuk salat, terutama salat Jumat. Walau langit mendung dan hujan deras mengguyur, segelintir jamaah masih datang, meski jumlahnya bisa dihitung dengan jari.
Saat khutbah dimulai, hujan kian deras. Tetesan air kembali merembes dari langit-langit masjid, jatuh di antara saf-saf yang longgar. Seorang khatib muda, dengan suara lirih namun penuh getaran, berkata:
“Bangunan ini dibangun megah, tetapi rapuh. Sama rapuhnya dengan iman bila hanya dijadikan hiasan. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang memperjualbelikan agama demi dunia yang fana.”
Jamaah pun menunduk. Sebagian terdiam, sebagian lainnya meneteskan air mata, tak jelas apakah karena khotbah yang menyentuh hati, atau karena tetesan air hujan yang turun dari atap masjid.
Bagi masyarakat, semua sudah jelas. Yang mulanya dielu-elukan sebagai “pusat keislaman” kini berubah jadi monumen dari sebuah kepalsuan: proyek besar yang berdiri gagah, tapi rapuh di dalamnya—seperti keimanan yang dipamerkan hanya untuk menutupi kerakusan.
Dan pada akhirnya, orang-orang hanya bisa teringat pada firman Allah yang seakan turun persis untuk menggambarkan keadaan ini:
“Dan di antara manusia ada orang yang berkata: ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,’ padahal mereka itu sesungguhnya bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri tanpa mereka sadari.” (QS. Al-Baqarah: 8–9)
Masjid itu tetap berdiri, tapi suaranya telah hilang. Yang tersisa hanyalah gema ironi—tentang bagaimana agama dijadikan panggung pencitraan, sementara amanahnya dibiarkan bocor, persis atap masjid yang tak sanggup menahan deras hujan.




