Tempat dimana cerita-cerita pendek dipilih dan dibagikan kepada kalian
JEJAK HIJAU DI KOTA SUNGAI PENUH
Pagi itu, hujan turun begitu deras di kota. Dibalik jendela kelas, Alya memandangi halaman sekolah yang mulai dipenuhi genangan air. Air berwarna kecoklatan mengalir perlahan menuju selokan. Beberapa sudut halaman sudah dipenuhi botol plastik, bungkus makanan, dan daun-daun kering yang terbawa arus. Alya menghela napas.
“Kenapa setiap hujan deras selalu begini?” gumam Alya.
Raka, teman kelas Alya, ikut memperhatikan keadaan di luar.
“Bukan cuma karena hujan, Al. Lihat saja selokannya. Banyak sampah menyumbat,” ujar Raka.
Alya terdiam. Perkataan Raka membuatnya kembali mengingat kejadian beberapa minggu sebelumnya. Saat itu, hujan turun selama berhari-hari. Air sungai meluap, jalan-jalanan terendam, bahkan ada rumah warga yang harus membersihkan lumpur setelah banjir surut.
Sungai Penuh yang selama ini dikenal sebagai kota pariwisata sejuk dengan keindahan alam Kerinci seakan sedang menunjukkan wajah lain.
Tiba-tiba bel masuk berbunyi. Bu Rina, memasuki kelas sambil membawa beberapa lembar kertas.
“Hari ini, ibu ingin kalian membicarakan satu hal. Bukan hanya untuk tugas sekolah, tetapi untuk masa depan kota kita,” ucap Bu Rina.
Bu Rina menuliskan dua kata besar di papan tulis, yaitu “GENERASI HIJAU”.
“Kalian-kalian adalah generasi yang akan mewarisi kota ini. Kalau lingkungan rusak, siapa yang akan merasakannya nanti?” tanya Bu Rina menghenikan kelas.
Bu Rina kemudian bercerita tentang persoalan lingkungan yang terjadi di Sungai Penuh dan Kerinci. Sampah rumah tangga terus bertambah. Beberapa tempat penampungan sampah tidak mampu menampung seluruh sampah masyarakat. Di sisi lain, kawasan hijau dan daerah resapan air semakin berkurang. Penebangan pohon juga dapat meningkatkan risiko longsor dan banjir.
Alya selalu menjadi orang pertama yang akan semangat ketika mendengar keindahan alam Indonesia.
“Kalau begitu, apa yang bisa kita lakukan?” tanya Alya.
“Banyak,” jawab Bu Rina sambil tersenyum. “Kalian bisa memulainya dari hal sederhana.”
Sejak hari itu, Alya dan teman-temannya mulai bergerak.
Sebagai anggota ekstrakurikuler Adiwiyata, mereka membuat kegiatan memilah sampah di sekolah. Tempat sampah diberi tanda untuk sampah organik, anorganik, B3, dan residu. Mereka juga mengajak siswa lain membawa botol minum sendiri dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Awalnya, hal tersebut tidak mudah.
“Untuk apa sih repot-repot memilah sampah?” keluh salah seorang siswa.
“Kalau bukan kita yang mulai, siapa lagi?” tanya balik Alya tenang.
Hari demi hari, kebiasaan itu perlahan berubah. Siswa mulai membuang sampah sesuai jenisnya. Sampah botol plastik dikumpulkan untuk didaur ulang. Sampah organik diolah menjadi kompos untuk tanaman sekolah. Namun, Alya merasa itu belum cukup.
Suatu sore, Alya dan Raka berjalan pulang melewati bantaran Sungai Batang Merao. Pemandangan yang mereka lihat membuat langkah keduanya terhenti. Sampah berserakan di pinggir sungai. Ada kantong plastik, botol minuman, kardus, bahkan sisa makanan yang telah membusuk.
“Miris sekali. Kalau hujan deras, sampah ini bisa masuk ke sungai dan menyumbat aliran air, dan akhirnya banjir,” ucap Raka.
Alya mengangguk setuju.
Malamnya, Alya tidak bisa tidur. Ia teringat halaman sekolah yang tergenang, sungai yang dipenuhi sampah, dan berita tentang banjir yang melanda berbagai wilayah. Tiba-tiba sebuah gagasan muncul di kepalanya.
Keesokan harinya, Alya mengumpulkan anggota Adiwiyata.
“Aku punya ide,” katanya. “Bagaimana kalau kita membuat Gerakan Generasi Hijau?”
Teman-temannya saling berpandangan.
“Gerakannya seperti apa?” tanya Raka.
“Bukan hanya membersihkan sekolah. Kita ajak masyarakat. Kita tanam pohon, bersihkan lingkungan, edukasi tentang sampah, dan ajak anak-anak muda untuk ikut bergerak.”
Semua terdiam beberapa saat. Kemudian Raka tersenyum.
“Aku ikut.”
Satu per satu tangan mulai terangkat.
“Aku juga.”
“Begitu juga aku.”
Akhirnya, mereka sepakat memulai gerakan tersebut.
Mereka membuat poster, mengadakan kampanye di sekolah, membersihkan lingkungan sekitar, dan mengajak warga untuk tidak membuang sampah ke sungai.
Pada awalnya hanya sedikit orang yang datang. Namun, Alya tidak menyerah.
“Perubahan memang tidak selalu dimulai dari banyak orang,” katanya kepada teman-temannya. “Kadang perubahan dimulai dari satu orang yang mau peduli.”
Beberapa minggu kemudian, semakin banyak pelajar yang bergabung. Mereka bahkan bekerja sama dengan masyarakat untuk melakukan penanaman pohon di kawasan yang membutuhkan penghijauan. Bibit-bibit pohon ditanam dengan penuh semangat. Tangan mereka kotor oleh tanah, pakaian mereka basah oleh keringat, tetapi wajah mereka dipenuhi kebahagiaan.
Alya menancapkan bibit terakhir ke tanah. Ia kemudian berdiri dan memandang deretan pohon kecil di hadapannya.
“Suatu hari nanti, pohon-pohon ini akan besar,” katanya.
“Dan mungkin saat itu kita sudah tua,” sambung Raka sambil tertawa kecil.
“Tidak masalah,” jawab Alya. “Yang penting kita pernah menanam sesuatu untuk mereka yang datang setelah kita.”
Hari-hari berikutnya, Gerakan Generasi Hijau terus berkembang. Sekolah-sekolah lain mulai tertarik mengikuti kegiatan mereka. Masyarakat juga mulai memahami bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah.
Suatu sore, hujan kembali turun di Sungai Penuh. Alya berdiri di depan jendela kelas. Ia memperhatikan halaman sekolah. Tidak seperti beberapa bulan sebelumnya, air hujan kini mengalir dengan lebih lancar. Selokan tidak lagi dipenuhi sampah. Tanaman yang mereka rawat tumbuh semakin subur.
Alya tersenyum puas. Namun, ia tahu perjalanan mereka belum selesai. Masih ada sungai yang harus dijaga. Masih ada hutan yang harus dilindungi. Masih ada sampah yang harus dikurangi. Dan masih banyak orang yang harus disadarkan.
Raka berdiri di sampingnya.
“Menurutmu, apakah kita bisa benar-benar mengubah Sungai Penuh?” tanya Alya kepada Raka yang sambil menatap hujan yang jatuh perlahan.
“Entahlah, tapi aku percaya, kota yang besar selalu berawal dari langkah-langkah kecil,” jawab Raka.
“Kalau kita menanam satu pohon hari ini, mungkin kita tidak langsung melihat hasilnya. Tapi suatu hari nanti, seseorang akan berteduh di bawah pohon itu.”
Raka tersenyum.
“Jadi, kita lanjut?”
Alya mengangguk.
“Kita lanjut.”
Di tengah derasnya perubahan zaman, mereka sadar bahwa teknologi boleh berkembang, kota boleh semakin maju, dan kehidupan boleh berubah semakin cepat. Tetapi satu hal tidak boleh dilupakan: manusia tetap membutuhkan alam untuk bertahan hidup.
Sungai Penuh bukan hanya tempat mereka tinggal. Kota itu adalah rumah. Dan rumah, seindah apa pun, akan tetap membutuhkan orang-orang yang mau menjaganya.
Hari itu, Alya dan teman-temannya kembali mengambil cangkul, sarung tangan, dan kantong sampah. Mereka berjalan bersama menuju halaman sekolah. Langkah mereka mungkin kecil. Tetapi dari langkah kecil itulah, sebuah jejak hijau mulai tumbuh. Dan mereka percaya, selama masih ada generasi muda yang mau peduli, harapan untuk Sungai Penuh yang bersih, hijau, sehat, dan lestari tidak akan pernah padam.
TAMAT
Tentang Penulis: Maharani Melisa adalah murid SMAN 1 Sungai Penuh.
*Cerpen Hasil Workshop Monolog Tur!
GELAR MULIA YANG MENJADI LUKA
Sebutan profesor yang sangat mulia telah aku dapatkan sejak aku duduk di bangku SMP kelas sembilan. Kecerdasan yang aku miliki justru membuat mentalku rapuh. Tidak seperti anak-anak lain yang makin pintar makin dihormati dan disanjung. Aku justru mendapat trauma dari kepintaran itu.
Aku Jannah, sang Profesor kelas di SMPN 23 Kerinci, khususnya di kelas sembilan C. Aku dikenal banyak guru karena sering menjawab soal di papan tulis, tetapi tak ada satupun teman yang yang mau mendekat, kecuali Arshinta. Dia satu-satunya teman sekaligus rumah bagiku, tempat aku merasa diterima apa adanya.
Tubuhku mungil, lebih pendek dari anak perempuan lain. Wajahku mungkin tak seindah mereka dan jilbab yang selalu aku gunakan rapi, justru selalu jadi bahan ejekan. Arshinta pun sama denganku, pendiam, lembut, dan selalu jadi sasaran empuk hinaan. Dua anak yang seakan dunia kelas Sembilan C tidak ingin sedikitpun menerimanya.
Tahun 2024, namaku terpampang jelas di papan pengumuman sebagai juara satu umum di sekolah. Piala yang kugenggam terasa berat, bukan karena isinya, melainkan karena sejak hari itu, gelar itu berubah menjadi pisau yang setiap hari menggores hatiku.
“Eh, si Profesor datang!” seru Azzam sambil menatapku sinis.
“Pinter banget sih, caper terus sama guru! Temennya juga sama, diam terus kayak patung!” ucap Anasya sambil tersenyum miring.
Aku menunduk, duduk di kursi depan pojok kiri. Arshinta menggenggam tanganku di bawah meja, tangannya dingin dan gemetar.
“Jannah, tahan ya,” bisi Arshinta. Seolah dia tahu, dia pun ikut terluka hanya karena berdiri di sisi ku.
Pelajaran matematika berjalan hening. Guru menuliskan soal yang sulit di papan tulis, lalu bertanya,
“Siapa yang bisa menjawab?””
Ruangan sangat sunyi, aku mengangkat tangan. Suaraku bergetar, tetapi tetap jelas. Aku menjelaskan setiap langkah dengan hati-hati. Guru tersenyum bangga.
“Benar sekali, Jannah. Luar biasa,” ucap Guru itu sambal tersenyum.
Bel berbunyi, guru melangkah keluar. Baru saja pintu tertutup, terdengar suara keras.
“Plak!”
Satu bola kertas menghantam bahuku dengan sangat keras. Aku menoleh, Anasya tertawa lebar. Matanya menyipit jijik.
“Caper banget sih!”
Lalu hujan kertas pun meluncur dari arah belakang dan samping, melempar tanpa henti ke arahku dan arshinta. Azzam, Anasya, dan teman-teman yang lain mengejek kami dengan perkataan.
“Professor sok tahu!”
“Muka kayak gitu,kok sok pinter!”
“Pendek, jelek, sok asik!”
“Temannya juga sama, aneh banget!”
Kata-kata itu menghantam jauh lebih sakit daripada kertas. Jilbabku hampir terlepas karena lemparan. Arshinta menunduk di sampingku, bahunya bergetar menahan tangis. Dia tidak melakukan apa-apa, hanya berteman denganku, dan itu sudah cukup untuk membuatnya ikut dibenci. Dadaku sesak, rasanya ingin berteriak.
“Apa salahku? Apa salahnya menjadi pintar?”
Namun, suara itu terperangkap di tenggorokan, tertelan rasa malu yang mereka tanam paksa.
Pulang sekolah, di dalam bus yang penuh sesak, rasanya tak ada tempat untukku. Di belakangku, Ika mulai berbisik cukup keras agar semua mendengar.
“Lihat deh, si Professor. Jilbabnya rapi, tapi mukanya…,” Ika tertawa kecil.
“Pintar doang, nggak punya teman kecuali si pendiam itu.”
Penumpang lain menoleh, menatapku dengan tatapan yang sama sekali tidak bisa aku gambarkan. Wajahku panas, rasanya seperti berdiri telanjang di hadapan semua orang. Arshinta menarik tanganku pelan, mencoba melindungi, akan tetapi,, dia pun sama lemahnya.
Sesampainya di rumah, aku melangkah masuk dengan hati yang terasa berat. Rumah itu ada, namun tak ada tempat di mana aku bisa bercerita. Keluargaku memang tahuaku juara, namun mereka tak pernah bertanya bagaimana rasanya menjadi diriku. Mereka bangga, namun tak ada telinga yang mau mendengar. Aku sendirian. Benar-benar sendirian di tengah keramaian rumahku sendiri.
Aku masuk ke kamar, menutup pintu, lalu mengambil air wudhu. Langkahku pelan menuju sajadah. Saat aku bersujud, saat taka da lagi yang bisa kulihat selain tempatku bersujud. Air mata ku akhirnya tumpah. Tak tertahan lagi. Sepanjang shalat itu, bahuku terguncang isak tangis. Air mata membasahi sajadah, sampai aku sesegukan di hadapan-Nya.
Ya Allah, jika aku tak punya siapa-siapa di dunia ini, setidaknya aku punya engkau dzat yang maha mulia. Tak ada keluarga yang mendengar, taka da teman yang yang tulus selain arshinta. Ya Allah, kuatkanlah aku. Tolong lah aku. Berikan aku jalan keluar. Berikan aku teman yang dimana aku bisa menjadi diri sendiri saat bersamanya, tanpa harus selalu berpura-pura kuat.
Tangis itu menjadi do’a . rasa sakit itu menjadi permohonan yang tulus. Hanya kepada-Nya aku bisa bercerita, hanya kepada-Nya aku bisa menjadi hamba yang lemah tanpa takut di hakimi oleh siapapun.
Keesokan hari nya di jam istirahat, aku dan Arshinta duduk di bangku kayu halaman sekolah kami. Kami menatap pemandangan Gunung Kerinci yang berdiri gagah dengan perkebunan teh yang sangat luas. Angin berhembus pelan, memainkan ujung jilbab kami.
“Jannah…,” Arshinta memanggil pelan, suaranya pecah. “maafin aku ya… aku tak bisa melindungi kamu.”
Arshinta memegang kedua tanganku, menatapku dengan mata yang juga berkaca-kaca.
“Jannah, dengarkan aku baik-baik. Kamu tidak sendirian. Ada aku. Dan ada Allah. Mereka tak tahu siapa dirimu. Kamu pintar, kamu baik, kamu jujur. Suatu hari nanti, semua ini akan jadi kenangan yang bikin kamu kuat. Percaya sama aku, dan percaya sama Allah. Allah pasti mendengar do’a mu.”
Kata-katanya dan keyakinan yang kutanam saat shalat itu menjadi kekuatan yang tak terlihat. Hari-hari berlalu, dan perlahan aku mulai lebih tenang. Masa-masa sulit itu pun berakhir seiring berakhirnya masa SMP. Doa yang ku panjatkan dengan tulus itu tidak sia-asia. Allah menjawabnya, bukan secara instan, tapi melalui waktu dan cara-Nya sendiri.
Hingga tibalah hari pertama aku melangkah masuk ke gerbang SMA. Kini, aku dikelilingi banyak teman tulus, yang menerima aku apa adanya, tanpa melihat tinggi badan, tanpa menilai wajah, tanpa memandang gelar juara atau bukan. Mereka melukai aku sebagai Jannah, bukan sebagai professor. Aku bersyukur, setiap hari aku berterima kasih kepada Allah SWT. Karena tangisanku yang dulu, kini berubah menjadi tawa yang tulus di antara teman-teman yang baik. Aku masih tetap berteman baik dengan Arshinta. Kini, esok, dan seterusnya. Aku tak akan melupakan kebaikannya dan ketulusannya.
Luka di kelas sembilan itu masih ada, masih membekas. Namun, tak lagi menyakitkan. Ia menjadi bukti bahwa aku pernah berdiri tegak meski di hujat,di benci, dan di kucilkan. Bahwa aku pernah menangis sendirian di hadapan Allah, dan bahwa doa yang tulus pasti akan diijabah. Akhirnya, bukan mereka yang menentukan siapa aku. Melainkan Allah, dan kesabaran yang kupunya.
TAMAT
Tentang Penulis: Nurjannah Hasanah adalah murid SMAN 3 Bungo.
*Cerpen Hasil Workshop Monofolk Tur
DI BALIK DINDING BENTENG TEMBESI
Melihat foto itu, ekspresi sang kakek seketika berubah…
Kabut tipis masih menyelimuti Tembesi. Sinar matahari perlahan menembus rimbunnya pepohonan. Sementara burung-burung berkicau dari kejauhan. Seli dan Kakek menyusuri jalan yang dibasahi oleh embun dengan menggunakan sepeda tua. Di tengah perjalanan, tiba-tiba mata Seli tertuju pada bangunan tua yang berdiri di balik pepohonan.
“Itu Benteng Tembesi,” kata Kakek sambil menunjuk bangunan tua itu.
Seli terus memandangi bangunan tua itu dengan penuh rasa penasaran. Ia bertanya-tanya tentang sejarah yang ada di bangunan tua tersebut.
Kakek terus mengayuh sepedanya mendekati benteng tua tersebut. Semakin dekat dengan bangunan itu makin besar pula rasa penasaran Seli. Melihat ekspresi cucunya yang penasaran, Kakek pun mulai bercerita tentang sejarah benteng tua tersebut atau biasa disebut dengan Benteng Tembesi.
“Benteng ini sudah berdiri sejak zaman Belanda,” tutur Kakek.
“Dulu, Tembesi adalah tempat yang penting karena letaknya berdekatan dengan sungai. Pada masa itu, sungai adalah jalur untuk perjalanan dan perdagangan”.
“Em, Kek. Kan benteng ini kan sudah berdiri sejak zaman Belanda. Apakah benteng ini ada kaitannya dengan penjajahan Belanda dulunya?” tanya Seli.
“Ya, tentu saja. Benteng ini dulu berkaitan dengan penjajahan di masa Belanda,” jawab Kakek.
“Apakah Seli mau tau bagaimana sejarahnya?” tanya balik Kakek.
“Tentu saja, Kek!” jawab Seli semangat.
Kakek menghentikan sepedanya, lalu ia pun mulai bercerita.
“Dulunya, Muara Tembesi adalah tempat yang strategis. Letaknya berada di pertemuan sungai Batanghari dan sungai Merangin. Dahulu, sungai adalah jalur transportasi dan perdagangan, seperti yang Kakek bilang tadi. Nah, karena letaknya strategis inilah yang menyebabkan kawasan ini menjadi penting untuk pemerintah Belanda”.
“Oohh, terus terus kek,” ujar Seli yang masih penasaran.
Kakek tersenyum sebentar, kemudian ia melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan dengan suara yang lembut tentang kepentingan Belanda pada masa itu, dan mengungkapkan tujuan Belanda saat itu, yaitu mengawasi dan menguasai wilayah.
Seli sebenarnya sudah tak heran jika kakeknya mengetahui cerita atau sejarah yang ada pada benteng tersebut. Karena dulunya Kakek merupakan seorang guru sejarah di sekolah yang terletak di Tembesi.
Seli turun dari sepeda, lalu ia perlahan melangkah mendekati benteng itu sambil membayangkan keadaan dan suasana benteng pada masa itu. Seli terus melangkah maju menelusuri benteng tersebut. Kemudian langkah nya terhenti, pandangannya lagi-lagi tertuju pada sesuatu.
Kali ini, pandangan Seli tertuju pada sebuah foto. Ia mengambil foto tersebut dan terkejut. Ia melihat di foto tersebut ada gambar sang kakek semasa muda.
Seli langsung berlari dan memanggil sang kakek, kemudian ia menunjukkan foto tersebut. Melihat foto itu, ekspresi sang kakek seketika berubah, seolah-olah foto itu mengingatkannya pada sesuatu.
“Kek, kenapa Kakek ada di foto ini?” tanya Seli dengan penuh rasa penasaran.
Kakek tidak langsung menjawab. Ia hanya memandangi foto tersebut cukup lama. Tangannya terlihat sedikit gemetar saat memegang foto yang sudah mulai kusam itu.
“Foto ini… sudah sangat lama sekali,” ujar Kakek pelan.
“Memangnya kapan foto ini diambil, Kek?” tanya Seli lagi.
Kakek menghela napas panjang. Ia kemudian duduk di sebuah bangku tua yang berada tidak jauh dari benteng.
“Dulu, waktu Kakek masih muda, Kakek pernah datang ke tempat ini bersama buyutmu,” jawab Kakek sedih.
Seli duduk di samping kakeknya. Ia kembali melihat foto tersebut dengan lebih teliti. Di dalam foto itu terlihat Kakek ketika masih muda berdiri di depan Benteng Tembesi bersama seorang lelaki yang belum pernah Seli lihat sebelumnya.
“Kalau yang di sebelah Kakek itu siapa?” tanya Seli sambil menunjuk lelaki dalam foto.
Kakek kembali terdiam.
“Dia buyutmu,” jawab Kakek.
Seli terkejut. Ia belum pernah melihat wajah buyutnya secara langsung. Selama ini ia hanya mengetahui tentangnya dari cerita keluarga. Seli masih memandangi foto yang berada di tangannya.
Seli kemudian bertanya apakah buyutnya juga pernah datang ke Benteng Tembesi. Kakek mengangguk sambil tersenyum kecil. Dahulu, buyut Seli sering mengajaknya datang ke tempat itu dan menceritakan sejarah Benteng Tembesi. Menurut buyutnya, benteng tersebut bukan sekadar bangunan tua, melainkan saksi perjalanan panjang daerah mereka.
Akan tetapi, rasa penasaran Seli semakin besar ketika ia melihat foto tersebut. Ia ingin tahu bagaimana foto itu bisa berada di sana. Kakek kembali memperhatikan foto itu dengan wajah yang lebih serius. Ada sesuatu yang selama ini belum pernah ia ceritakan kepada Seli.
Kakek kemudian membalik foto yang berada di tangannya. Di bagian belakangnya terdapat tulisan yang mulai pudar.
Untuk dikenang, agar cerita ini tidak pernah dilupakan.
Di bawah tulisan itu terdapat sebuah tanggal. Seli mengerutkan kening, mencoba memahami maksud tulisan tersebut. Kakek hanya terdiam beberapa saat sambil memandang Benteng Tembesi. Kemudian, Kakek menceritakan bahwa buyut Seli pernah mengatakan sesuatu yang selalu ia ingat. Suatu hari nanti, mungkin akan ada seseorang dari keluarga mereka yang kembali ke tempat itu dan menemukan cerita yang selama ini terlupakan.
Seli terdiam mendengar perkataan tersebut. Ia kembali memperhatikan foto yang ada di tangannya. Sejak menemukan foto itu, Benteng Tembesi terasa berbeda baginya. Tempat yang awalnya hanya terlihat sebagai bangunan tua kini terasa menyimpan sesuatu yang berkaitan dengan keluarganya.
Tiba-tiba Seli menyadari sesuatu. Ia mulai memahami bahwa Kakek sebenarnya sudah mengetahui keberadaan foto tersebut sejak awal. Kakek memang sengaja mengajaknya ke Benteng Tembesi karena ia tahu suatu hari Seli akan menemukan foto itu. Kesadaran itu membuat Seli semakin terkejut. Perjalanan mereka hari itu ternyata bukan sekadar perjalanan biasa.
Seli kembali memandang benteng tua di hadapannya. Kini ia tidak lagi melihatnya sebagai bangunan yang hanya menyimpan sejarah masa lalu. Ia merasa ada sebuah cerita yang jauh lebih dekat dengan dirinya, sebuah cerita tentang keluarganya.
Mungkin, hari itu adalah awal dari terbukanya sebuah rahasia yang selama puluhan tahun disimpan oleh Kakeknya.
TAMAT
*Cerpen hasil Workshop Monofolk Tur
Bionarasi Penulis: Gendiz Mutiara Jingga lahir di Sridadi, 28 April 2011. Saat ini ia adalah seorang pelajar di SMA NEGERI 6 Batang Hari. Ia memiliki ketertarikan pada dunia cerita dan senang menuangkan ide-ide sederhana menjadi sebuah tulisan. Melalui cerpen Benteng Tembesi, ia ingin memperkenalkan sejarah lokal kepada pembaca dengan cara yang menarik dan mudah dipahami. Baginya, sejarah bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang cerita yang perlu dijaga agar tetap dikenang oleh generasi berikutnya.
BINTANG MISTERIUS DALAM RIMBA
Waktu seakan terhenti begitu desa mereka memasuki malam.
Gumpalan awan tipis menutup setengah matahari, membuatnya terlihat malu-malu. Suara aliran sungai terdengar keras dan berirama. Orang-orang desa sibuk memompa air menggunakan pompa air sederhana mereka. Suara perbincangan terdengar di pasar desa kecil itu. Ibu-ibu sibuk memikul keranjang buah sambil saling tertawa. Anak-anak kecil berlarian riang sambil membawa layangan plastik kecil. Kicauan burung layang-layang terdengar mengalun samar di langit desa. Desa kecil itu terletak di dekat hutan lebat.
Konon katanya, ada hal mistis dari hutan dekat desa itu. Tiap malam, hutan itu akan mengeluarkan cahaya tipis hijau disertai dengan aroma yang aneh. Waktu seakan terhenti begitu desa mereka memasuki malam. Mantan Ketua RT dan warga sekitar membantu Pak RT untuk mengecek hutan tersebut, tetapi naasnya mereka tidak pernah kembali.
Ah, entahlah. Terkadang itu hanya mitos agar anak-anak tidak keluar malam. Begitu pula denganku. Ibuku selalu merepet panjang jika aku ingin keluar malam untuk menikmati udara. Ibu mengomel bahwa udara malam dari hutan itu beracun lah, atau berbahaya, pokoknya gitu deh.
Aku menatap jendela, terlihat tetanggaku bingung dan ingin keluar rumah, tapi ragu. Aku kembali menatap hutan itu lewat jendela kaca kamarku di lantai dua. Yang benar saja, cahaya hijau stabilo itu masih terlihat. Berkedap-kedip seperti kunang-kunang.
“ERI! Tidur lagi, nak! Lampu kamarmu kok masih nyala!? Udah jam berapa ini?” teriak ibu kesal dari bawah.
“Hehe, iya, Bu! Eri ini mau tidur kok! ” jawabku sambil terburu buru mematikan lampu kamar. Terdengar suara desahan ibu dari bawah, segera menuju kamarnya.
Aku merapikan kasur ku, terlihat buku diariku. Sejak kecil sebenarnya aku penasaran cahaya hijau itu. Kadang aku ingin kabur diam-diam, tapi begitu berita Pak RT dan warga yang ikut hilang, aku jadi takut dan berhenti memikirkan itu, walaupun kepikiran terus. Teman-teman sekolahku juga perlahan melupakan kejadian itu. Mereka beranggapan bahwa mereka diserang hewan biasa atau apalah.
Aku kembali menatap jendela. Terlihat cahaya hijau itu bergerak pelan.
“Eh? Tunggu dulu? Apa itu? Kok cahaya hijau itu terlihat berjalan,” cahaya itu berjalan pelan menuju rumah tetanggaku.
“Astaga!? Apa itu? Alien? Hantu?”
Yang benar saja, begitu cahaya hijau itu berada didepan pintu, pintu itu terbuka begitu saja. Ini buruk. Buru-buru aku menyalakan lampu kamar untuk melihat cahaya itu lebih jelas.
Begitu aku kembali ke jendela, cahaya itu hilang begitu saja. Pintu rumah tetanggaku tertutup seolah tak terjadi apa-apa. Suara jangkrik masih berdecit seolah tidak terjadi apapun.
Astaga. Aku mengelap peluh di leher. Aku yakin sekali tadi cahaya hijau itu masuk ke rumah tetanggaku. Aku kembali mengeceknya lewat jendela. Lampu kamar tetanggaku menyala. Eh? Dia menyadari sesuatu kah?
Tak lama kemudian, lampu rumah tetanggaku mati kembali. Sepertinya tetanggaku tidak melihat apapun. Aku termenung sesaat. Sepertinya aku hanya salah lihat.
Aku kembali mematikan lampu kamar, segera bergelung dibalik kemul. Aku yakin tadi melihat cahaya itu. Pelan pelan aku berusaha melupakannya. Tanpa kusadari, perlahan aku tertidur pulas.
Pagi harinya, suara ayam berkokok keras. Aku terbangun bukan karena suara kokokan ayam yang menjengkelkan itu, melainkan aku mendengar suara kegaduhan dari sebelah rumahku.
Aku mengintip dari jendela. Rumah tetanggaku sudah dikerubungi warga. Ada apa ini? Aku mendengar suara tangisan keras begitu aku membuka kaca jendela.
Cepat-cepat aku keluar menuju tempat itu. Warga terlihat prihatin dan bingung. Ibu tetanggaku terlihat menangis histeris tak karuan. Ibu berusaha menenangkannya sambil mengusap-usap punggungnya. Aku menoleh, terlihat seseorang terbaring kaku dengan wajahnya ditutupi kain.
“Eri?”
Aku menoleh, itu temanku, Lizzy. Ia terlihat bingung sekaligus sedih, memegang pundakku.
“Ada apa ini? Apa yang terjadi, Liz? ” tanyaku bingung.
Lizzy menarik tanganku dari keramaian, mulai bicara di tempat sepi.
“Anak tetanggamu meninggal tanpa alasan. Kemarin ia pulang larut malam, terus paginya ia terbaring lemas di dapur. Yang aneh itu dia tidak mengalami luka apapun. Kata warga sekitar, ada cahaya hijau aneh yang masuk ke rumah mereka. Mungkin cahaya itulah biak keroknya” jelas Lizzy terlihat serius.
Aku tertegun, ikut berduka cita. Aku tidak percaya apa yang aku lihat tadi malam ternyata benar.
“Jadi sekarang bagaimana? ” tanyaku.
“Kita sedang menunggu tabib dari desa lain. Aku harap desa kita tidak dikutuk” Lizzy berkata sambil merinding.
Aku menepuk jidat. Apanya yang dikutuk? Aku yakin ada alasan logis dari semua ini. Lizzy memang orang yang gampang percaya.
Setelah itu, tabib langsung mengecek anak tersebut. Korban itu seusia kami. Anak itu langsung dibawa ke puskesmas terdekat.
Setelah dicek, anak itu ternyata mengalami keracunan. Siangnya anak itu dikuburkan. Perlahan warga meninggalkan makam menyisakan ibunya yang menangis tersedu-sedu ditemani ibuku.
Keesokan harinya, aku ingin memeriksa hutan tersebut.
“Kamu cari mati, Ri? Kamu tidak ingat kemarin ada kasus keracunan? ” Lizzy mengomentariku.
Jam istirahat masih berlangsung. Kami makan di kantin kecil sekolah kami.
“Aku mau coba cek di siang hari, Zy. Kamu mau ikut gak? Lagian kalau siang hutan itu tidak berbahaya bukan?” Aku melambaikan tangan sambil menyeruput pelan kuah bakso ku.
Lizzy termenung, mengaduk aduk batagor nya.
“Yaudah deh, aku ikut. Aku juga sebenarnya penasaran dengan hutan itu,” jawab Lizzy memutuskan.
Aku mengangguk senang. Kami kembali fokus ke makanan kami masing masing.
***
Sepulang sekolah, aku dan Lizzy menembus hutan lebat itu. Kami melihat sekeliling. Jujur hutan ini sebenarnya sangat asri dan teduh. Banyak tanaman hijau menutupi lembutnya humus. Jamur jamur lusuh terlihat tumbuh di pepohonan basah dan di lumpur. Tupai kecil melompat-lompat dari pohon ke pohon.
Aku memerhatikan sekeliling, tidak ada hal aneh disini. Mana cahaya hijau misterius itu? Dan mana aroma aneh yang bisa menyebabkan keracunan itu? Aku kembali berpikir.
“Eri, udah yok, kita udah jauh banget nih dari desa, ” keluh Lizzy sambil duduk di atas batu kering.
Aku menoleh ke belakang, menghela nafas. Lizzy benar, aku rasa hal aneh itu tidak akan muncul di siang hari.
“Ihh, Eri, coba lihat ini! ” seru Lizzy bersemangat.
Aku menoleh ke arah yang ditunjuk Lizzy. Sebuah jamur ukuran sedang berwarna bening. Terlihat lembek dan lusuh.
“Apaan yang menarik, Zy? Itu cuma jamur biasa,” aku menggerutu.
“Ihh, aku belum pernah lihat jamur seperti ini lho. Langka sekali!”
Aku mengabaikan gumaman Lizzy. Sekali lagi mengajaknya untuk pulang.
Malamnya, lagi-lagi cahaya itu muncul. Seperti biasa, tidak ada manusia yang keluar pada malam hari. Padahal langit malam terlihat cerah. Aku bergumam samar menatap cahaya hijau dari hutan tersebut. Sebenarnya apa itu? Aku ingin sekali mengeceknya. Aku berusaha menebak-nebak benda apa itu.
“Aduhh, aromanya kecium lagi,” omel ibu terdengar dari kamarku.
Aku turun kebawah, melihat ibu sedang sibuk mengipas ruangan. Aku mencium aroma ini. Terasa familiar tapi aku tidak tahu.
“Ada apa, Eri? PR mu sudah siap?” lagi lagi ibu mengomel.
Aku hanya mengangguk. Tak lama kemudian, aku kembali ke kamarku.
Sekitar jam 00:00, aku tetap tidak bisa tidur, aku bangkit dari kasur ku, menatap jendela lagi. Terlihat seseorang berdiri disana. Sepertinya itu tabib kemarin, memakai masker putih. Tubuhnya sudah sedikit bungkuk karena sudah berkepala tujuh.
Sedang apa tabib itu disana? Apakah dia ingin mengecek hutan itu? Perlahan lahan aku turun dari kamarku, menyambar masker kain dan keluar rumah diam diam.
Suara jangkrik terdengar lebih jelas. Tabib itu menatapku begitu keluar dari rumah.
“Sedang apa kamu disini, nak?” tanya tabib itu dengan suara serak.
“Bapak mau mengecek hutan itu pak?” aku balik bertanya.
“Iya, Nak. Bapak sudah hubungi beberapa warga, tapi tidak ada yang bersedia. Ini bapak mau berangkat sendiri” jelas Tabib itu.
Aku menawarkan diri untuk menemani Tabib itu. Tabib itu tidak menolak. Kami langsung pergi menuju hutan itu.
Suasana terasa lebih menakutkan. Entah kenapa semakin dalam kami menelusuri hutan, tubuhku terasa gatal. Aku menahan gatal di badanku.
“Oles dengan obat ini, Nak” Tabib itu memberikan sebuah salep herbal.
Tanpa pikir panjang, aku langsung mengoleskan salep herbal itu ke tubuhku.
Perlahan, tubuhku terasa lebih nyaman. Aku kembali mengejar Tabib itu dan akhirnya kami sampai di sumber cahaya hijau tersebut.
Aku terkejut, tidak menyangka apa yang terjadi. Tabib tua itu juga sedikit tertegun.
Di Depan kami, terlihat hamparan jamur berukuran sedang bersinar dengan cahaya hijau. Jamur itulah sumber aroma aneh itu dan udara yang membuat tubuhku terasa gatal. Tabib itu menggelengkan kepalanya, menatap lebih dekat jamur itu.
Aku masih terdiam. Kalau tidak salah, ini adalah jamur bening yang kami temukan tadi. Benar kata Lizzy, ini jamur aneh dan langka.
“Astaga, ternyata jamur ini biak kerok atas semua kasus ini. Aku tidak pernah melihat jamur ini. Ini aneh sekali” Tabib itu berbicara.
“Aku rasa itu hasil persilangan dari dua jamur beracun yang berbeda, Pak. Jamur ini berkembang biak dengan cepat karena hutan ini lembab” ucapku.
Tabib itu tertawa kecil, “Kamu benar, Nak. Aku akan mengambil jamur ini beberapa, besok kita gotong royong menyingkirkan jamur-jamur bercahaya ini.”
Tabib itu melapisi tangannya dengan sarung tangan. Perlahan Ia mencabut jamur itu dan diletakkan ke keranjang. Aku ikut membantunya.
Pagi harinya, para warga berkumpul di puskesmas desa. Tabib tua itu menceritakan apa yang terjadi. Warga-warga tersebut terkejut dan heran dengan apa yang mereka dengar. Mereka terlalu percaya akan mitos dan sekarang malu sendiri. Ibu tetangga membantah Tabib.
“Kalau itu hanya perkara jamur beracun, lantas kenapa anakku bisa meninggal? Bukankah katamu menghirup udaranya hanya membuat gatal-gatal bukan meninggal? “
Perdebatan semakin rumit. Tabib tua itu terlalu tua untuk debat dengan emak-emak yang sedang kehilangan anaknya. Aku berpikir keras, apa penyebab anak itu meninggal. Sejenak, sebuah ide terlintas di benakmu. Aku tertegun, berusaha menenangkan warga.
“Buk, apakah di kamar anak ibu ada keranjang makanan?” aku bertanya.
“Iya, apa hubungannya?!” jawab ibu itu dengan nada tinggi.
Aku berusaha sabar.
“Beberapa orang melihat ada cahaya hijau masuk kerumah ibu. Menurut analisis saya, sepertinya itu anak ibu yang baru pulang dari hutan sambil membawa jamur tersebut. Aku kemarin melihat ibu cemas anak ibu belum pulang. Seingat saya, anak ibu doyan jamur, jadi kemungkinan besar setelah ia pulang, ia langsung mengkonsumsinya dan keracunan di pagi harinya,” aku menjelaskan.
Semua orang terdiam. Hening, tidak ada yang bersuara.
Beberapa warga mulai setuju, percaya akan pendapatku masuk akal. Tabib tua itu tersenyum ke arahku, seolah mengucapkan terima kasih. Perlahan ibu tetangga itu kembali menangis.
“Maafkan ibu, Nak. Ibu salah. Seharusnya ibu lebih peduli kepadamu. Seharusnya ibu mendengarkanmu,” isak ibu tetanggaku.
Ibuku kembali menenangkan. Aku hanya menatap prihatin, ikut berduka cita.
Setelah itu, warga berbondong-bondong membersihkan benih benih jamur itu dan dibakar hingga tak tersisa.
Malam hari pun tiba. Hutan samping desa kami tidak berbintik-bintik hijau lagi. Desa mulai terasa hidup kembali. Anak-anak berlarian di gang kompleks rumah. Terlihat bapak-bapak sedang nongkrong di posko sambil menikmati segelas kopi dan gorengan hangat. Ibu-ibu komplek terlihat bergosip terkait arisan mendatang di teras rumah ibu tetangga. Tetanggaku terlihat lebih ceria, tertawa-tawa saat ibuku dan temannya berbincang.
Ponselku berdering, Lizzy menelpon ku. Aku mengangkatnya, Lizzy terlihat bersemangat untuk bercerita. Aku berbincang dengan Lizzy lewat handphone ku di teras dimana suasana desa kembali hidup.
TAMAT
NB: Cerita ini terinspirasi dari cerita rakyat Jambi–Sarolangun berjudul “Bukit Bulan”
*Cerpen hasil Workshop Monofolk Tur!
Bionarasi Penulis: Shafa Shabriyyah atau yang memiliki nama pena Cappaccino adalah murid SMAN 3 Bungo.
