BANGUNAN SEHARGA SERATUS MILIAR LEBIH
Tak ada yang lebih membanggakan daripada memiliki bangunan megah yang digadang-gadang sebagai ciri khas daerah—meskipun, sejujurnya, bangunan itu tak benar-benar mencerminkan jati diri Daerah J. Namun, bagi masyarakat saat itu, yang terpenting adalah akhirnya ada juga tempat estetik untuk berfoto. Sebuah sudut baru untuk pamer di media sosial. Dan bagi banyak orang, itu sudah cukup.
Mungkin antusiasme itu juga muncul karena Daerah J adalah provinsi yang nyaris tak pernah muncul di televisi. Seperti terlupakan. Seolah-olah tak ada tempat yang layak diliput stasiun besar dari Ibu Kota, tak ada peristiwa yang menggugah, tak ada cerita yang dianggap penting untuk diangkat ke permukaan. Bangunan baru ini, setidaknya, memberi alasan bagi kamera menoleh ke Daerah J.
Cerita ini bermula sejak kedatangan mantan Wakil Presiden waktu itu—saat beliau masih menjabat. Ia datang ke Daerah J untuk menghadiri sebuah acara seremonial sekaligus menyaksikan pengukuhan komite daerah.
Di hadapan ratusan orang, dengan suaranya pelan dan sedikit serak, beliau menyampaikan sebuah pengumuman yang terdengar seperti mimpi bagi sebagian orang.
“Dengan dana yang kita miliki sekarang, saya berencana membangun gedung pusat keislaman atau pusat pembinaan Islam. Tempat ini bisa jadi destinasi wisata religi, menggerakkan perekonomian, sekaligus meningkat citra Daerah J,”
Tak tanggung-tanggung Sang Wakil Presiden menyebutkan dana yang digelontorkan, yaitu lebih dari seratus miliar rupiah. Kabar itu langsung menyulut kegembiraan. Beberapa masyarakat yang ada di sana bersorak, sebagian merasa seperti akan memasuki babak baru dalam sejarah daerahnya. Para pejabat pun ikut berseri-seri. Ada yang tertawa lega, ada pula yang sekadar menyeringai, memperlihatkan gigi secukupnya—hanya demi menjaga wibawa di hadapan kamera.
Beberapa bulan setelah kedatangan Sang Wakil Presiden, dana yang dijanjikan benar-benar cair. Lelang pembangunan dimenangkan, dan alat-alat berat mulai berdatangan, berdiri gagah di tepi jalan. Lahan yang akan menjadi bangunan pusat keislaman itu terletak tepat di seberang bandara kebanggaan Daerah J, sebuah titik yang dianggap strategis, dan kini menjadi pusat perhatian publik.
Padahal sebelumnya, bagi warga sekitar, lokasi itu punya makna lain. Dulu hiruk-pikuk proyek dimulai, tempat tersebut adalah ruang hidup di sore hari. Arena berlari santai, bercengkerama, menyapu peluh bersama angin, sambil memandangi langit yang perlahan meredup dan mencair dalam senja.
Karena proyek besar itu sedikit banyak mengganggu ritme kecil mereka. Sambutan hangat di awal ternyata tak sepenuhnya berubah menjadi kegembiraan. Rute lari bergeser, berbelok tanpa arah, tak lagi menyenangkan. Aroma tanah basah tergantikan debu proyek, sementara suasana hangat sore hanyut di bawah dentam mesin.
Perlahan, keluhan warga merayap ke telinga para penjabat. Namun, seperti biasa jawabannya adalah janju manis, bahwa setelah pembangunan ramoung, tempat ini akan menjadi lebih nayaman, lebih indah, bahkan lebih layak untuk sekadar berlari sore.
Karena masyarakat J dikenal sebagai salah satu masyarakatnya yang paling bahagia, bahkan menempati urutan keempat di Indonesia, mereka pun tak terlalu ambil pusing, meski tetap melontarkan keluhan sesekali. Proyek itu tak boleh merusak kebiasaan jalan sore mereka. Bahagia tetap bahagia, walau harus berputar arah demi menghindari alat berat.
Selain itu, pembangunan ini juga menarik perhatian para pemburu berita. Demi memenuhi laman berita terkini, wartawan—atau kadang pembuat konten—tak mau ketinggalan momen. Mereka kerap datang, mewawancarai para pelari sore dengan gaya santai: kaus oblong, celana pendek model terbaru. Meski tampil kasual, lanyard tetap tergantung di leher, menegaskan identitas profesinya.
Sore itu, seorang wartawan menghampiri seorang pelari yang baru saja menuntaskan putaran terakhirnya. Wajah si pelari tampak letih; keringat menetes dari pelipis, napasnya masih memburu. Namun wartawan itu tak menunggu lama. Ia segera mendekat, mengangkat gawainya, lalu bertanya dengan nada tergesa
“Halo, Bang. Boleh saya tanya sedikit soal pembangunan ini?” tanya sang wartawan, sambil menyodorkan gawainya ke arah mulut sang pelari.
“Boleh,” jawab Si Pelari singkat, dengan wajah yang tak tampak terlalu antusias.
“Sejak adanya pembangunan ini, apa saja perubahan yang abang rasakan?” tanya Sang Wartawan, nada suaranya serius tapi tetap ramah.
“Sebenarnya cukup mengganggu, ya. Saya jadi harus cari rute lain yang nggak nyaman buat saya,” keluh sang pelari, mengatur nafasnya yang belum sepenuhnya stabil. “Kadang dentuman alat berat juga bikin saya susah dengar musik saat lari. Tapi ya, yang namanya kesenangan itu tetap harus dicari, walaupun ada halangan.”
Itu hanyalah satu dari ratusan suara yang menyampaikan aspirasi tentang apa yang sedang terjadi. Tanggapan-tanggapan ini tentu sampai juga ke telinga Bapak Gubernur Daerah J. Namun, seperti biasa, alih-alih merespons dengan serius, beliau justru menanggapinya dengan nada enteng—seakan semuanya tak layak dikhawatirkan.
“Ah, soal suara bising alat berat, debu-debu proyek, rute lari yang terganggu—itu semua tanda-tanda pembangunan, tanda kemajuan. Kalau masih bisa lari, berarti belum darurat, kan?” ujar Bapak Gubernur, sesaat setelah menghadiri pertemuan dengan sebuah perusahaan.
Dari tanggapan Bapak Gubernur saja, sudah cukup untuk membuktikan: beginilah wajah salah satu provinsi paling bahagia di Indonesia—bahagia menurut lembar kerja survey terpercaya yang ada.
Namun, tidak sedikit pula yang melihat sisi positif dari pembangunan Pusat Keagamaan ini.
Para penjual kaki lima—seperti penjaja es teh, bakso bakar, sate Padang, dan lainnya, menyimpan harapan besar. Mereka percaya bahwa bangunan baru ini bisa mendongkrak pendapatan, sekaligus menarik lebih banyak pengunjung yang berpotensi menjadi pembeli.
“Saya, sih, malah senang ada bangunan itu. Siapa tahu nanti bisa menarik pengunjung umum, bukan cuma pelari sore. Soalnya, pelari sore itu biasanya bawa minuman sendiri,” ujar seorang pedagang es teh sambil berkeliling menawarkan dagangannya kepada para pelari.
Ya, tanggapan masyarakat Daerah J memang sangat beragam. Namun yang pasti, saat itu mereka menunggu—apakah hasil dari pembangunan itu nanti akan sesuai dengan ekspektasi mereka, atau justru menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda dari bayangan semula. Yang jelas, belum ada protes besar, apalagi demonstrasi, dari warga Daerah J.
***
Setelah hampir tiga tahun menunggu, akhirnya bangunan itu rampung juga. Banyak warga yang selama ini penasaran, kini mulai mendekat untuk melihatnya. Satu per satu seng penutup yang selama ini menghalangi pandangan dilepas, meski sebenarnya bentuk bangunan itu sudah lama terlihat dari kejauhan. Dari kabar yang beredar—yang lebih banyak berupa desas-desus—bangunan itu adalah sebuah masjid.
Beberapa pelari sore yang biasa melintasi area itu mencoba mendekat, ingin masuk dan melihat dari dekat. Tapi apa mau dikata—penjagaan masih ketat. Para satpam tidak mengizinkan siapa pun masuk sebelum peresmian resmi oleh Bapak Gubernur dilakukan. Untuk sementara, masyarakat hanya bisa puas melihat dari seberang jalan, memotret dari kejauhan.
Berita tentang bangunan ini pun mulai menyebar ke mana-mana—menembus batas Daerah J, menular dari satu grup WhatsApp keluarga ke linimasa media sosial, hingga jadi bahan gosip sore di warung kopi. Ramai diperbincangkan, bahkan sampai ke kabupaten-kabupaten yang ada di Daerah Provinsi J.
Misalnya, salah satu laman berita daring menulis dengan judul yang mencuri perhatian: “Masjid Megah di Daerah J Akhirnya Dibuka (Tapi Masih Ditutup)!” Judulnya membuat penasaran, walau isinya tak jauh-jauh dari pagar yang masih terkunci dan satpam yang tetap tak bergeming.
Di Instagram, netizen tak kalah ramai. Salah satu komentar yang disukai ribuan akun berbunyi:
“Bentuk masjidnya mirip lambang Wifi full bar. Semoga doanya juga konek langsung ke langit,” tulis seseorang dengan nama akun @anakmimbar.
Tak mau kalah, seorang artis lokal ikut siaran langsung di TikTok, lengkap dengan filter kupu-kupu di pipinya. “Aku tuh bangga banget ya, akhirnya Daerah J punya masjid semegah ini,” katanya antusias. “Katanya sih nanti kalau udah diresmikan, bisa jadi tempat syuting juga. Ih, aesthetic banget dari luar. Udah kayak di Timur Tengah, tapi ini versi kita!”
Masyarakat yang belum bisa masuk, atau yang hanya melihat dari layar ponsel, tampaknya tetap merasa senang. Di era ini, keindahan memang bisa dinikmati dari mana saja—asal sinyal cukup kuat dan kuota masih tersisa. Setidaknya, untuk sementara, rasa penasaran bisa ditambal dengan unggahan-unggahan penuh filter dan komentar lucu di media sosial.
Melihat banyak tanggapan positif dan juga banyak yang tidak sabar untuk masuk dan mencicipi masjid ini, tentunya membuat Bapak Gubernur juga ikut terseret ke dalam euforianya. Sehabis mendatangi nikahan kerabat terdekat, Bapak Gubernur pun langsung dikerumuni beberapa wartawan saat itu.
“Saya sudah menduga, bahwa antusias masyarakat akan seperti ini,” ujar Bapak Gubernur dengan percayanya.
Ucapan itu segera menjadi berita. Rasa yakin dari Sang Gubernur membuat sebagia masyarakat daerah J semakin berdebar, menanti hari diresmikan masjid megah tersebut. Konon, masjid itu akan dibuka dan digunakan pertama kali pada bulan Ramadan.
***
Akhirnya, waktu yang dinanti pun tiba. Ramadan, bulan suci bagi umat Islam, datang membawa harapan baru. Malam itu adalah tarawih kedua di awal puasa. Seusai berbuka dan menunaikan salat Magrib, masyarakat mulai berdatangan untuk menyaksikan peresmian sekaligus merasakan penggunaan masjid itu untuk pertama kalinya.
Ada yang tampil sangat rapu dengan baju koko, ada pula yang mengenakan batik, sarung bermerek, hingga pakaian terbaik mereka. Kerumunan memenuhi halaman depan masjid, wajah-wajah penuh semangat dan rasa penasaran tampak jelas dari senyum yang tersungging.
“Pasti suasananya adem sekali,” ujar seorang lelaki di tengah keramaian.
“Aku mau dapat shaf paling depan!” seru seorang bapak bersongkok hitam dengan nada antusias.
Tak lama kemudian, seorang panitia naik ke podium kecil yang disediakan di depan masjid, dia mulai membuka acara dengan hikmat.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…,” suaranya lantang, memecah malam Ramadan yang hangat. Semua hadirin serentak menjawab salam itu, dengan suara bergemuruh namun penuh kebersamaan.
Acara pun dimulai. Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema, menembus langit-langit malam, lalu disusul sambutan dari beberapa tokoh, seperti lazimnya sebuah pembukaan. Sebagian masyarakat larut memperhatikan setiap jalannya acara, sementara yang lain masih menyesuaikan diri dengan suasana penuh kekhidmatan itu.
Setelah lamanya rangkaian acara pembukaan, akhirnya Bapak Gubernur dipersilahkan oleh pembawa acara untuk maju ke depan. Dengan senyum lebar, ia menyampaikan kata tentang pencapaian ini.
“Mari kita jadikan masjid ini bukan hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga pusat persaudaraan, ilmu, dan kebajikan bagi kita semua.” Tangannya begitu atraktif dalam menyampaikan pidato.
Sesaat setelah itu, pita peresmian yang terbentang di pintu utama dipotong. Sorak-sorai dan tepuk tangan pun pecah, tidak lupa kamera-kamera wartawan memotret pemotongan pita itu. Pintu masjid dibuka lebar, mengundang masyarakat untuk masuk melaksanakan salat tarawih pertama di masjid itu.
Minggu-minggu awal, salat masih berlangsung dengan tenang, meski saf-saf di bagian belakang perlahan mulai kosong. Namun, persoalannya bukan pada saf yang hilang, melainkan pada sebuah kejadian kurang mengenakkan yang terjadi di dalam masjid itu.
Seperti yang kita tahu, cuaca tak pernah bisa ditebak. Hanya Tuhan yang mengatur segalanya. Malam itu, hujan deras mengguyur Daerah J. Angin kencang membuat dedaunan berterbangan, sementara rintik yang kian rapat menghantam atap masjid.
Tak lama berselang, hujan semakin deras. Salat tarawih pun hampir mencapai rakaat terakhir ketika beberapa jamaah merasakan sesuatu yang janggal: bahu dan kepala mereka mulai basah, lantai pun terasa licin terkena tetesan air yang merembes dari atap.
Awalnya air yang masuk hanya beberapa tetes, tapi lama-kelamaan makin merembes semakin deras dari sela-sela atap. Jamaah yang berada tepat dibawahnya mulai gelisah. Ada yang menggeser sajadah, ada pula yang tetap bertahan meski bahunya basah.
Suasana tarawih yang khusyuk perlahan pecah oleh bisik-bisik dan lirikan. Anak-anak kecil di shaf belakang bahkan mulai menunjuk-nunjuk ke arah langit-langit masjid yang meneteskan air.
Begitu imam mengucap salam terakhir, beberapa jamaah langsung berdiri, sambil melihat ke arah atap. Tampak jelas, ada beberapa titik bocor yang cukup parah. Sebagian orang hanya saling pandang dengan wajah kecewa.
Karena kejadian itu, masjid pun benar-benar sepi hingga lebaran usai. Tempat yang awalnya digadang-gadang sebagai pusat keislaman, kini justru memperlihatkan kelemahannya.
Kabar tentang bocornya masjid ini terus beredar, dari obrolan di warung kopi hingga ke media lokal. Puncaknya terjadi ketika seorang aktivis mengunggah video ulasan di TikTok yang langsung viral. Dalam videonya, ia memperlihatkan air hujan yang menetes dari atap masjid baru. Setelah ditelusuri lebih jauh, tampak pula bahwa dinding penyangga masjid terbuat dari material rapuh—sangat tidak layak untuk sebuah bangunan yang menelan dana lebih dari seratus miliar rupiah. Semua itu ia sampaikan dengan nada kritik tajam yang menyindir kualitas pembangunan.
Reaksi warga pun bermunculan. Ada yang marah, ada yang kecewa, dan ada pula yang hanya bisa menggelengkan kepala pasrah. Satu hal yang pasti, masyarakat Daerah J sepakat menyebut persoalan ini tak lain adalah bentuk korupsi.
Berita semakin ramai diperbincangkan, namun hingga kini pihak pemerintah belum juga memberikan tanggapan yang jelas maupun langkah konkrit untuk meredam keresahan masyarakat.
Alih-alih menyelesaikan persoalan bangunan yang bermasalah, masyarakat justru dikejutkan dengan kabar baru: aturan larangan mengenakan celana pendek saat berjalan atau berlari sore di sekitar masjid.
Jelas, aturan ini menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat.
“Lah, kami duluan yang sering berlari di sini sebelum masjid itu berdiri,” protes seorang pemuda dengan nada kesal. Tubuhnya berkeringat, mengenakan kaus tipis tanpa lengan dan celana pendek merah menyala.
Keributan di media sosial pun tak terelakkan. Suara-suara saling bersahutan, ada yang kontra, ada pula yang pro. Perdebatan semakin riuh, hingga pada akhirnya satu hal menjadi jelas: kejadian ini kian terasa aneh.
Sang Gubernur seolah hilang ditelan bumi. Ia selalu hadir dalam program-program dan acara seremonial lainnya, namun ketika menyangkut persoalan masjid ini, ia justru lebih sering mewakilkan urusan kepada stafnya.
Pernah, pada suatu hari, ia dijadwalkan membuka sebuah acara kebudayaan di gelanggang seni. Namun, alih-alih hadir, ia hanya mengutus seorang staf untuk membacakan pesan singkat darinya. Belakangan, masyarakat mengetahui bahwa pada waktu yang sama, sang Gubernur justru asyik bermain mini soccer bersama beberapa kolega. Hal inilah yang membuat warga semakin curiga bahwa ia sengaja menghindari awak wartawan.
Masyarakat semakin marah. Beberapa kelompok warga pun membentuk forum khusus untuk membongkar persoalan ini. Namun, ketika diajak berunding, salah satu pejabat justru memaki dan menuduh para pengkritik sebagai kaum radikal.
Hal itu membuat gelombang aksi kemudian tak terbendung. Warga turun ke jalan, sebagian berkumpul di depan kantor gubernur. Ada yang datang dengan celana pendek dan setelan lari sore—sengaja sebagai bentuk sindiran—sambil membawa spanduk besar dan pamflet protes.
Sorotan tajam pun mengarah pada hal: kualitas konstruksi masjid yang buruk, kejelasan dana proyek, serta aturan-aturan aneh yang hanya menambah kegaduhan.
Di tempat lain, sang Gubernur tampak tertawa di layar televisi. Bukan karena menjawab kegelisahan warganya, melainkan karena sibuk menghadiri berbagai acara: meresmikan proyek baru, membuka festival kuliner, bahkan hadir di lomba karaoke. Namun, soal masjid megah senilai seratus miliar yang disebut sebagai pusat keislaman itu, tak sekalipun ia berani menyebutnya lagi.
Hingga akhirnya, suara protes pun mereda. Semua kembali normal, seolah tak pernah ada yang terjadi. Berita dan video tentang masjid itu menghilang, tenggelam bersama riuhnya isu-isu baru.
Namun, yang namanya tempat ibadah tetap harus diisi, kalau tidak akan menjadi dosa.
Dengan kondisi seperti itu—apa adanya—tetap saja ada yang menggunakan masjid ini untuk salat, terutama salat Jumat. Walau langit mendung dan hujan deras mengguyur, segelintir jamaah masih datang, meski jumlahnya bisa dihitung dengan jari.
Saat khutbah dimulai, hujan kian deras. Tetesan air kembali merembes dari langit-langit masjid, jatuh di antara saf-saf yang longgar. Seorang khatib muda, dengan suara lirih namun penuh getaran, berkata:
“Bangunan ini dibangun megah, tetapi rapuh. Sama rapuhnya dengan iman bila hanya dijadikan hiasan. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang memperjualbelikan agama demi dunia yang fana.”
Jamaah pun menunduk. Sebagian terdiam, sebagian lainnya meneteskan air mata, tak jelas apakah karena khotbah yang menyentuh hati, atau karena tetesan air hujan yang turun dari atap masjid.
Bagi masyarakat, semua sudah jelas. Yang mulanya dielu-elukan sebagai “pusat keislaman” kini berubah jadi monumen dari sebuah kepalsuan: proyek besar yang berdiri gagah, tapi rapuh di dalamnya—seperti keimanan yang dipamerkan hanya untuk menutupi kerakusan.
Dan pada akhirnya, orang-orang hanya bisa teringat pada firman Allah yang seakan turun persis untuk menggambarkan keadaan ini:
“Dan di antara manusia ada orang yang berkata: ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,’ padahal mereka itu sesungguhnya bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri tanpa mereka sadari.” (QS. Al-Baqarah: 8–9)
Masjid itu tetap berdiri, tapi suaranya telah hilang. Yang tersisa hanyalah gema ironi—tentang bagaimana agama dijadikan panggung pencitraan, sementara amanahnya dibiarkan bocor, persis atap masjid yang tak sanggup menahan deras hujan.

