Kehendak, Kebebasan, dan Ledakan Emosi Manusia Modern
Vinsensius, S.Fil., M.M. adalah dosen di Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak. Ia mengajar filsafat dan ilmu manajemen, dengan minat pada kajian filsafat manusia, etika, serta refleksi kritis atas fenomena sosial kontemporer. Selain mengajar, ia aktif menulis esai reflektif dan artikel populer di berbagai media daring.
Akhir-akhir ini, kita semakin sering menyaksikan berbagai peristiwa yang dipicu oleh ledakan emosi: pertengkaran kecil yang berubah menjadi kekerasan, konflik personal yang berujung pada tindakan ekstrem, hingga ujaran penuh amarah yang membanjiri ruang media sosial. Banyak orang bertindak seolah-olah “lepas kendali”, seakan emosi sesaat lebih menentukan daripada akal sehat. Dalam situasi seperti ini, muncul pertanyaan mendasar: apakah manusia sungguh bertindak secara bebas, atau justru dikendalikan oleh dorongan batin yang tak sempat dipikirkan secara jernih?
Saya melihat bahwa fenomena ini bukan sekadar soal moral baik atau buruk, melainkan berkaitan dengan cara manusia memahami kehendak dan kebebasannya sendiri. Di satu sisi, kita sering menganggap kebebasan sebagai kemampuan melakukan apa saja yang kita mau. Namun di sisi lain, pengalaman sehari-hari justru menunjukkan bahwa banyak tindakan lahir bukan dari pertimbangan matang, melainkan dari luka batin, rasa kecewa, marah, atau dendam yang menumpuk. Kebebasan yang dibayangkan luas itu ternyata bisa menyempit ketika emosi mengambil alih peran akal budi.
Di titik inilah refleksi filsafat menjadi relevan, bukan sebagai teori rumit yang jauh dari kehidupan, tetapi sebagai cara untuk memahami diri sendiri. Filsafat membantu kita bertanya lebih dalam: apa yang sebenarnya menggerakkan tindakan manusia? Apakah kehendak selalu mengarah pada kebaikan, atau bisa tersesat ketika emosi mendominasi? Dengan pertanyaan-pertanyaan inilah, saya mengajak pembaca menengok kembali pemikiran Louis Leahy tentang kehendak dan kebebasan manusia, dan melihat sejauh mana gagasan tersebut dapat menolong kita membaca fenomena kehidupan hari ini.
Louis Leahy dan Pertanyaan tentang Kebebasan Manusia
Ketika berbicara tentang kehendak dan kebebasan manusia, saya teringat pada Louis Leahy, seorang filsuf yang lama berkarya dan mengajar di Indonesia, serta pemikirannya banyak membentuk cara kita memahami manusia sebagai makhluk yang berpikir, memilih, dan bertindak. Leahy tidak menempatkan filsafat sebagai menara gading yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, ia justru berangkat dari pengalaman manusia konkret: manusia yang bergulat dengan keinginan, emosi, pilihan, dan konsekuensi dari tindakannya sendiri. Bagi saya, pendekatan inilah yang membuat pemikirannya tetap relevan hingga hari ini.
Menurut Louis Leahy, kehendak manusia pada dasarnya selalu mengarah pada kebaikan. Ini terdengar sederhana, bahkan optimistis. Namun maksudnya bukan bahwa semua tindakan manusia pasti baik. Leahy ingin menegaskan bahwa di dalam diri manusia selalu ada dorongan untuk mencari sesuatu yang dianggap baik, entah itu kebahagiaan, keadilan, rasa aman, atau pengakuan. Masalahnya, kebaikan itu sering kali keliru ditempatkan. Apa yang tampak “baik” bagi seseorang yang sedang dikuasai emosi bisa berubah menjadi tindakan yang justru melukai orang lain. Di sinilah perbedaan penting antara kehendak dan sekadar keinginan.
Leahy membedakan kehendak dari kecenderungan atau dorongan nafsu. Kehendak berkaitan dengan arah hidup menuju kebaikan, sementara kecenderungan sering kali hanya mengejar kepuasan sesaat. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mudah menemukan contoh ini. Seseorang yang sedang marah merasa bahwa meluapkan amarahnya adalah jalan terbaik, bahkan terasa “lega”. Padahal, kelegaan itu sering dibayar mahal dengan penyesalan. Di titik ini, kehendak yang seharusnya mengarah pada kebaikan dikalahkan oleh dorongan emosi yang ingin segera puas.
Kebebasan, menurut Leahy, tidak sekadar berarti “boleh melakukan apa saja”. Kebebasan sejati justru berkaitan dengan kemampuan memilih tanpa paksaan, baik dari luar maupun dari dalam diri. Ia menyebutnya sebagai kebebasan psikologis: keadaan ketika seseorang tidak dikuasai rasa takut, tekanan batin, atau emosi yang membutakan. Jika seseorang bertindak di bawah tekanan emosi yang sangat kuat—marah, benci, dendam—maka kebebasannya sebenarnya sedang menyusut, meskipun dari luar tampak seolah ia memilih dengan sadar.
Leahy menjelaskan bahwa manusia menggunakan kebebasannya melalui beberapa tahap. Pertama, muncul daya tarik terhadap suatu pilihan. Kedua, manusia mulai memeriksa pilihan itu, melihat sisi baik dan buruknya. Ketiga, manusia mempertimbangkan konsekuensi dari pilihannya. Dan akhirnya, manusia memutuskan tindakan yang akan diambil. Proses ini tampak sederhana, tetapi dalam kenyataannya sering kali terganggu. Emosi yang terlalu kuat dapat menghentikan proses di tengah jalan, sehingga keputusan diambil tanpa pertimbangan matang.
Jika kita kaitkan dengan fenomena hari ini, pemikiran Leahy terasa sangat dekat. Banyak tindakan ekstrem lahir ketika proses pertimbangan itu terpotong. Orang langsung melompat dari rasa sakit hati ke tindakan, tanpa memberi ruang bagi akal budi untuk bekerja. Media sosial, dengan ritmenya yang cepat dan penuh reaksi spontan, semakin memperparah situasi ini. Kita terbiasa bereaksi sebelum berpikir, berkomentar sebelum memahami, dan bertindak sebelum menimbang dampaknya.
Dalam konteks inilah, pemikiran Louis Leahy menjadi cermin yang jujur bagi manusia modern. Ia mengingatkan bahwa kebebasan bukan soal seberapa jauh kita bisa bertindak, melainkan seberapa dalam kita mampu mengendalikan diri. Kebebasan sejati menuntut kehadiran kehendak yang diterangi oleh akal budi, bukan kehendak yang dikuasai oleh emosi sesaat. Tanpa itu, kebebasan berubah menjadi ilusi: tampak luas, tetapi sesungguhnya sempit dan rapuh.
Bagi saya, membaca Leahy hari ini bukan sekadar membaca teori filsafat, melainkan belajar memahami diri sendiri. Ia membantu kita menyadari bahwa menjadi manusia bebas bukanlah kondisi yang otomatis, melainkan proses yang terus diperjuangkan. Di tengah dunia yang serba cepat dan emosional, pemikiran Leahy mengajak kita untuk berhenti sejenak, berpikir lebih jernih, dan bertanya dengan jujur: apakah tindakan yang saya ambil benar-benar lahir dari kebebasan, atau hanya dari dorongan emosi yang ingin segera terlampiaskan?
Mengapa Kita Perlu Kritis terhadap Gagasan tentang Kebebasan?
Meski pemikiran Louis Leahy tentang kehendak dan kebebasan terasa kuat dan menolong kita membaca tindakan manusia, saya kira penting untuk tidak menerimanya begitu saja sebagai kebenaran final. Filsafat justru mengajak kita untuk terus bertanya, bahkan terhadap gagasan yang tampak masuk akal. Pandangan Leahy yang menyatakan bahwa kehendak manusia selalu mengarah pada kebaikan, misalnya, dapat diperdebatkan ketika kita berhadapan dengan kenyataan sosial yang jauh lebih kompleks. Dalam hidup sehari-hari, tidak sedikit orang yang dengan sadar memilih tindakan yang merugikan orang lain, bukan karena keliru memahami kebaikan, tetapi karena kepentingan diri sendiri sengaja diutamakan.
Selain itu, penekanan Leahy pada faktor batin—kehendak, emosi, dan intelegensi—perlu dilengkapi dengan kesadaran akan pengaruh lingkungan sosial. Kemiskinan, ketimpangan, tekanan ekonomi, budaya kekerasan, hingga arus informasi yang menyesatkan juga membentuk cara manusia memilih dan bertindak. Jika kebebasan hanya dibaca sebagai persoalan batin individu, kita berisiko mengabaikan tanggung jawab sosial yang lebih luas. Dalam konteks ini, kebebasan manusia tidak hanya rapuh karena emosi, tetapi juga karena struktur sosial yang sering kali tidak adil.
Saya juga melihat bahwa konsep kebebasan psikologis Leahy, meskipun penting, berhadapan dengan tantangan baru di era digital. Hari ini, manusia tidak selalu dipaksa secara langsung, tetapi “diarahkan” secara halus oleh algoritma, opini publik, dan tekanan sosial maya. Pilihan terasa bebas, padahal sering kali sudah dibentuk sebelumnya. Ini mengajak kita untuk bertanya lebih jauh: apakah kebebasan modern masih bisa dipahami dengan kerangka klasik kehendak dan intelegensi, atau kita perlu memperluasnya agar sesuai dengan realitas zaman?
Namun justru di sinilah nilai utama pemikiran Leahy. Ia tidak memberi jawaban siap pakai, melainkan menyediakan kerangka untuk berpikir kritis. Dengan memahami bahwa kebebasan bisa menyempit ketika emosi atau tekanan mengambil alih, kita diajak untuk lebih waspada terhadap diri sendiri dan terhadap berbagai informasi yang kita terima. Tidak semua yang terasa meyakinkan itu benar, dan tidak semua dorongan batin layak diikuti. Sikap kritis inilah yang membuat manusia tetap manusiawi di tengah derasnya arus opini dan emosi kolektif.
Pada akhirnya, saya melihat bahwa filsafat—termasuk pemikiran Louis Leahy—bukanlah alat untuk menghakimi siapa yang benar atau salah, melainkan sarana untuk belajar berpikir lebih jernih. Dalam dunia yang penuh reaksi cepat dan keputusan impulsif, kemampuan untuk berhenti, mempertimbangkan, dan memutuskan secara sadar menjadi bentuk kebebasan yang paling berharga. Bersikap kritis terhadap pemikiran, terhadap informasi, dan terhadap diri sendiri adalah langkah kecil, tetapi penting, agar kita tidak mudah terseret oleh emosi, arus massa, atau kebenaran semu yang tampak meyakinkan di permukaan.

