Puisi-Puisi Cindy May Siagian
Bukuku Basi
Bukuku berada di bawah meja,
sampulnya telah mengerut,
kertasnya kasar akibat debu,
menguning akibat lama terdiam,
tinta kata kian memudar,
tiap lembaran kian mulai renggang.
Bukuku basi,
bukan karena fisiknya yang mulai menua,
melainkan karena aku tak pernah singgah padanya,
aku membiarkannya menutup diri,
padahal aku tahu,
dia solusi untuk melihat dunia.
Laki-laki dalam Balutan Buku
Ia terletak di antara halaman,
ia terbuat dari kata-kata,
ia diperjelas oleh tinta,
ia disempurnakan oleh warna.
Tangannya adalah kalimat,
yang menyusun paragraf,
matanya adalah ilustrasi
yang menyegarkan pembaca,
mulutnya mempermainkan kata yang ada.
Dalam balutan buku,
ia bukan sekadar tokoh yang terdiam.
melainkan tokoh yang bersuara lewat kata,
lalu setiap kali buku itu dibuka,
laki-laki itu kembali hidup.
Perempuan dalam Balutan Buku
Ia kata-kata sederhana,
ia tinta yang memperjelas kata,
ia warna yang mempermanis cerita,
ia tanda baca yang mempertegas batasan,
ia sampul yang menarik perhatian.
Kopiku Menghianatiku
Aku menyiapkan segelas kopi,
sembari membuka laptop,
aku mulai mengetik,
ada harapan kopi dan tulisanku
sama-sama berakhir.
Di pertengahan,
kopiku kian berkurang,
kopiku kian mendingin,
sedangkan tulisanku,
belum mencapai akhir halaman.
Aku berhenti sejenak,
memandangi keduanya,
lalu kembali menulis lagi.
Namun,
saat aku masih membutuhkan kopi,
ia sudah lebih dulu pergi.

