Puisi-Puisi Yulputra Noprizal
Untuk Esok
resah-gundahku tak bersempadan
berhentilah sejenak semilirmu…oh, angin
ingin kutitip pesan
pada gunung yang biru
telah lama aku berlayar tak menemu tuju
perih mata, ngilu, dihisap kabut
tersesat. tak dapat tempat
namun kini aku ingin hening
–sejenak–
bersama malam
merajut mimpi
untuk esok
bersama waktu
tak kan diam
Malam Makin Larut
duduk termangu
di kamar lusuh
malam makin larut.
kutatap kesendirian,
kutatap kesepian
ada bunga di jendela
yang merekah bersama hujan gerimis
harumnya menguar ke lantai
terbentang kisah sepasang manusia
yang terlupakan.
pada malam yang ngungun
kukenang tentang perpisahan yang tak utuh
dengan hati luka
malam makin larut
kesepian meraja
–sangsai.
Kau pun Pulang
berpandang kita di ujung senja
sebelum pisah
dua jiwa berpagut, resah-gelisah membasuh
jiwa.
berjuta makna hadir
di taman rasa
pekik rintih pun menggema di ruang sunyi
hati.
ketika matamu
memandang gelap yang menggaris di barat.
dan, ketika bibirmu seakan tak kuasa
ucapkan sampai jumpa lagi
kau telah berikan puisi
dari tidur yang sunyi
kau pun pulang. detik berganti
rindu-dendam menanti–menuju pulang.
Senja ini untukmu, Re
senja ini untukmu, Re
kupotret di atas perahuku yang hampir karam
bersama langit kuning-kemerahan
bersama angin yang garam
aku tahu, sebelum kepulanganku
–menuju kotamu
sudah kau ubah kesedihanmu
jadi camar-camar yang terbang melayang
–angin pun bernyanyi
tentang helai-helai rambutmu–
senja ini untukmu, Re
sebab penantianmu
adalah sebuah perahu
untukku–menuju kotamu

