YANG MANA DIRIKU SEBENARNYA?
Rahma Nurlayli, lahir di Bogor, 2009. Saat ini berdomisili di Bogor, Jawa Barat. Aktif menulis cerpen dan puisi di berbagai platform daring. Karyanya banyak mengangkat tema psikologis dan sisi gelap kehidupan remaja. Dapat dihubungi melalui Instagram @Rayli_zz atau email rahmanurlayli30@gmail.com.
Sinar matahari yang terang menyapa gadis remaja yang sedang meringkuk di atas ranjang. Gadis itu mengerjapkan matanya pelan.
Sudah pagi saja. Gumamnya pelan. Gadis itu beranjak dari ranjangnya, berjalan perlahan menuju kamar mandi, dan bergegas menuju dapur. Terdapat seorang wanita paruh baya yang sedang memasak di dapur.
“Airi, sarapannya di makan dulu ya. Mama masak makanan kesukaanmu, lho… Sandwich blueberry!” Seru wanita itu. Sang gadis, Airi mengangguk dan segera duduk di meja makan, melahap sarapannya. Wanita tua itu tersenyum memperhatikan sang gadis.
Setelah piringnya hanya menyisakan remahan roti, Airi bangkit dari meja makannya dan berpamitan dengan ibunya. “Airi berangkat dulu ya ma!” Serunya. “Ya! Hati-hati di jalan.” Balas sang ibu.
Wajah Airi yang tampak ceria dan bersemangat, seketika berubah drastis. Mukanya masam dan pucat. Aku… Tidak mau sekolah. Aku takut… Apa kabur saja ya? Keluhnya dalam hati. Dia selama ini hanya berpura-pura ceria di depan ibunya. Namun sebenarnya dia sangat membenci sekolahnya. Airi berhenti melangkah. Ia hendak berbalik arah. Sesekali bolos lah ya… Pikirnya.
Tetapi, saat itu terlintas senyum ibunya dengan mata penuh harapan di kepala Airi. Ia menggigit bibir, kemudian memutuskan berangkat menuju sekolah. Ia tidak mau mengecewakan ibu yang selama ini terus mendukungnya, bekerja keras agar bisa membiayai sekolahnya.
Sesampainya di sekolah, Airi berjalan menuju kelasnya sambil menundukkan kepala. Ia menghindari kerumunan dan berusaha agar tidak mencolok. Airi melangkah ke dalam kelas dan menuju mejanya di pojok paling belakang.
Bel sekolah berbunyi nyaring. Siswa-siswa yang sedang asyik mengobrol dan bermain seketika bergegas memasuki kelasnya masing-masing. Airi tetap tenang dan hanya menatap ke luar jendela, menunggu guru datang.
Tidak lama kemudian, terdengar langkah kaki yang khas. Murid-murid langsung menuju mejanya masing-masing, mengeluarkan alat tulis. Bu Dina, guru bahasa indonesia memasuki kelas dengan membawa buku tebal dan penggaris panjang seperti biasa. “Anak-anak, kalian akan ibu bagi kelompok untuk mengerjakan tugas.” Ujar Bu Dina.
Beliau mulai membagi kelompok sesuai dengan absen. “Kelompok lima, yaitu Airi, Naira, Sari, dan Sera.” Airi hanya mengeluarkan puh pelan. “Kenapa sama mereka lagi. Menyebalkan.” Gumam Airi. “Baiklah, anak-anak. Silahkan berkumpul dengan kelompoknya masing-masing.” Seru Bu Dina.
Airi hanya bisa pasrah dan menuju meja teman-teman sekelompoknya. Karena mereka satu circle, mereka sudah duduk bersama, hanya Airi yang harus menghampiri mereka.
“Tugas kali ini simpel. Kalian harus mencari kasus terkini dan berikan pendapat kalian. Berikan argumen kalian, mengapa kasus itu bisa terjadi dan apa solusi yang cocok untuk masalah itu.” Jelas Bu Dina.
“Heh. Airi. kamu jangan jadi beban buat kelompok kami, ya.” Celetuk Sari dengan nada merendahkan. “Bukannya dengan masuk kelompok kita saja dia sudah jadi beban, ya?” Sera ikutan menyindir. Airi hanya mengangguk pelan, tidak berani menjawab.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita bagi tugas?” Ucap Naira, mulai membagi tugas. Bukannya mengerjakan masing-masing, Sera dan Sari menyerahkan tugas mereka pada Airi. Namun Airi tidak bisa menolak. Dia mengerjakan semuanya dengan tekun dan teliti.
“Waktu sudah habis, anak-anak. Kumpulkan tugas kalian sekarang juga. Atau nilai kalian akan dikurangi.” Seru Bu Dina. “Sana cepat kumpulkan tugasnya!” Sari menyuruh Airi mengumpulkan tugasnya. Airi hanya bisa menurut tanpa membantah.
“Ibu sudah mengecek tugas kalian. Ibu akan mengumumkan kelompok berapa yang mendapat nilai terbaik. Selamat kepada kelompok enam!” Satu kelas bertepuk tangan dengan heboh.
“AIRI! Kamu beban banget sih. Karena KAMU kita tidak mendapatkan posisi itu.” Seru Sera dengan suara yang keras dan nada membentak. Seluruh perhatian tertuju pada Sera. “Airi lagi?” “Kenapa ya, dia bermasalah terus?” “Memang dia itu orang aneh.” Mereka berbisik-bisik.
Airi yang terpojok, hanya bisa menunduk dan berusaha tidak memperdulikan mereka. Bel sekolah berbunyi nyaring. Para siswa pergi meninggalkan kelas, menuju kantin. Meninggalkan Airi yang masih tertunduk di mejanya.
Airi mengeluarkan bekal yang diberikan ibunya. Ia membawanya menuju rooftop. Airi makan bekal ibunya di pojokan rooftop. Sendirian. Dia menyuap makanannya sambil meneteskan air mata. Besok… Akan seperti ini lagi… Sampai kapan… Aku lelah… Keluhnya dalam hati. Tanpa sadar, Airi melangkahkan kaki menuju pagar rooftop.
Airi berdiri di tepi pagar rooftop. Angin siang berembus lembut, menerpa rambutnya yang terurai. Langit tampak biru dan tenang, tapi dada Airi terasa sesak dan gelap. Ia menatap ke bawah, melihat lapangan sekolah yang kosong, seolah memanggilnya untuk melompat.
“Aku capek… capek sekali,” bisiknya pelan. Suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam oleh hembusan angin.
Ia menutup matanya. Dalam gelap itu, wajah ibunya muncul. Senyum hangat, tangan lembut, dan suara lembut yang selalu memanggilnya dengan penuh kasih: ‘Airi, sarapannya dimakan dulu ya…’
Air mata Airi jatuh. Ia memegang pagar lebih erat.
“Maaf, Ma… aku nggak kuat lagi.”
Langkah kecil bergeser ke depan—
Namun suara langkah tergesa menghentikannya.
“AI—AIri! Kamu ngapain di situ?!”
Naira, teman sekelas yang selama ini hanya memperhatikannya diam-diam, berdiri di dekat pintu rooftop dengan wajah panik. Airi tersentak. “Naira? Aku…”
Namun kata-katanya hilang. Pandangannya berkunang. Dunia berputar cepat sebelum semuanya menjadi gelap.
Ketika Airi membuka matanya, ruangan putih menyambutnya. Bau obat dan suara mesin medis berdenting pelan. Ia menatap langit-langit, lalu tangannya yang dipenuhi selang infus.
Di sebelahnya, ibunya duduk dengan mata sembab.
“Ma…?”
Sang ibu segera menggenggam tangannya erat. “Nak… jangan bikin Mama takut lagi, ya… Mama mohon…”
Airi hanya menatapnya lama. Lalu tersenyum kecil, tapi senyum itu berbeda. Matanya tajam—lebih hidup, tapi juga dingin.
“Iya, Ma. Maaf… Aku cuma ingin Airi yang dulu nggak disakiti lagi.”
Sang ibu tidak menyadari nada aneh itu. Ia hanya memeluk putrinya erat, menangis dalam kelegaan. Tapi di dalam kepala Airi, ada bisikan lain. Suara lembut namun getir.
“Airi yang dulu lemah. Sekarang, biar aku yang jaga tubuh ini.”
Hari-hari berikutnya terasa aneh.
Airi kembali ke sekolah, tapi ia bukan lagi gadis pendiam yang takut berbicara. Ia menatap orang-orang dengan percaya diri, bahkan terlalu percaya diri.
Ketika Sari dan Sera kembali menyindirnya, Airi tersenyum miring.
“Oh, kalian iri ya? Soalnya kalian cuma bisa nilai orang lain, tapi nggak bisa jadi lebih baik dari itu.”
Kedua gadis itu terdiam. Tak ada yang pernah melihat Airi bicara seperti itu.
Sejak hari itu, tak ada lagi yang berani merundungnya. Tapi suasana di sekitarnya terasa dingin—bukan karena Airi lebih kuat, melainkan karena ia menjadi orang lain.
Naira, yang memperhatikan perubahan itu, merasa ada yang janggal.
“Airi, kamu nggak apa-apa, kan?” tanyanya hati-hati.
Airi menatapnya, bibirnya tersenyum tapi matanya kosong. “Aku baik-baik saja. Justru sekarang aku merasa… hidup.”
Namun di malam hari, Airi sering terbangun dengan napas terengah. Ia menemukan catatan kecil di meja belajarnya, dengan tulisan tangannya sendiri:
“Tolong… jangan ambil tubuhku. Aku masih di sini…”
Airi menatap catatan itu, lalu membantingnya ke lantai. “Diam. Aku bukan kau lagi.” Tapi dari cermin di kamarnya, refleksi dirinya menatap balik—dengan wajah sedih dan mata sembab.
“Aku cuma ingin kembali.”
Kehidupan Airi semakin tak terkendali. Kadang ia tertidur dan bangun dengan pakaian berbeda, kadang mendapati pesan dari nomor yang tidak dikenalnya—pesan-pesan yang anehnya memakai gaya bahasanya sendiri.
Ibunya mulai resah. “Airi, akhir-akhir ini kamu sering bicara sendiri. Kamu nggak kenapa-kenapa, kan?”
Airi tersenyum datar. “Nggak, Ma. Aku cuma ngobrol sama diriku sendiri.”
Tapi malam itu, Naira datang ke rumah. Ia membawa catatan yang ditemukan di sekolah, bertuliskan kalimat yang sama seperti di kamar Airi.
“Aku takut. Aku ingin kembali.”
“Mungkin Airi… punya dua sisi dalam dirinya,” kata Naira lirih kepada sang ibu. “Satu sisi yang rapuh, satu sisi yang berusaha melindunginya… tapi sekarang mereka saling berperang.”
Sang ibu menangis. “Kalau begitu… bagaimana caranya aku bisa menolong anakku?
Malam itu, di dalam kamar, Airi berdiri di depan cermin yang kini penuh retakan. Bayangannya tersenyum getir.
“Sudah cukup. Kau menyakitiku, menyakiti Mama juga.”
“Tidak. Aku justru menyelamatkan kita!”
“Kalau begitu, kenapa Mama menangis setiap malam?”
Airi menjerit, menutup telinganya, namun suara itu semakin keras. Ia jatuh berlutut, menangis dalam kebingungan.
Pintu kamarnya terbuka—ibunya memeluknya erat, Naira di belakang memanggil namanya berulang kali.
“Airi… kamu nggak sendiri. Kami di sini. Kamu nggak harus memilih siapa yang benar, karena dua-duanya kamu,” ucap Naira sambil menangis.
Tangisan Airi pecah. Dalam kaca, bayangan dirinya perlahan memudar, menyisakan satu sosok yang kembali utuh.
Air matanya menetes deras. “Aku cuma… ingin diterima. Apa adanya.”
Ibunya mengusap rambutnya pelan. “Mama terima, Nak. Selalu.”
Beberapa bulan kemudian, Airi mulai menjalani terapi dan belajar memahami dirinya. Kadang ia masih mendengar bisikan samar di kepalanya, tapi kini tidak menakutkan—seolah itu hanya versi lain dari dirinya yang ingin didengar.
Setiap pagi, saat sinar matahari menyapa lewat jendela, Airi tersenyum pada bayangan di cermin.
“Selamat pagi,” katanya.
Dan bayangan itu tersenyum balik, lembut—seperti jawaban yang selama ini ia cari.

