Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara
Rifqi Septian Dewantara adalah pegiat sastra asal Balikpapan, Kalimantan Timur, dan alumnus Telkom University, Bandung. Karya-karyanya telah dipublikasikan di berbagai media nasional, serta melahirkan sejumlah buku puisi seperti LIKE (2024), SHARE (2025), dan Aku Tidak Datang dari Masa Depan (2025). Saat ini ia berkarya di Halmahera, Maluku Utara, dan bisa disapa melalui Instagram @rifqiseptiandewantara.
Keba
Dari dulu sudah kubilang,
ada hal-hal yang tak bisa kau paksa tumbuh;
seperti matahari yang tak bisa kau seret
untuk cepat terbit,
atau hunian
yang tak lagi ingin kau singgahi
Dari dulu sudah kubilang,
aku ini rumah yang perlahan memperbaiki pintunya—
bukan untuk mengusirmu,
hanya agar tahu
siapa yang benar-benar ingin masuk
tanpa mematahkan engselnya
luka ini bukan dari siapa-siapa,
tapi dari diriku sendiri
yang terlalu sering
mencoba memegang tajamnya kenangan,
hingga akhirnya terpotong; tersaruk
beberapa rasa memang harus dibiarkan mengering
tanpa kau sentuh kembali
2025
Kronologi Identitas
Ketika bangun dari sisa-sisa mimpi
masih terasa ayal
kumaknai hidup ini
apa yang mengganjal?
Oh, lupa kutulis puisi
di mesin tik jadulku
kata kerja, kerja rasa ini
sudah ku lakur
semenjak metafora
memaripurnakan
dirinya sendiri
2025
Aku Benar-benar Pulang?
Sudah waktunya pulang
ke dalam kamar yang lampunya kemuning
tempat satu-satunya yang masih ingat namamu:
tidak ada yang mengenali
selain cermin kusam di kamarmu,
debu-debu yang menumpuk
di sudut-sudut ruangan,
dan jam dinding yang telah mati
Sudah waktunya pulang,
ke sunyi yang tidak pernah menghakimi,
ke luka yang akhirnya kau akui,
ke langkah-langkah yang tak lagi gemetar
setiap kali nama-nama kematian lewat di kepalamu
Sudah waktunya pulang
berkali-kali kau bunuh pulang
agar pikiranmu lerai
di ketinggian sana
kata-kata
menggantung
kebenaran-kebenaran
yang kau impikan
di ujung hidupmu
telah terwujud dalam lamunan
Sudah waktunya pulang
sudah, tak usah kau sibuk membikin kenangan abadi dalam traumatik
2025
Lihat Dirimu
Sekarang lihat dirimu ke belakang
betapa banyak jejak yang kau tinggalkan
tanpa pernah kau akui sebagai kesalahan
Membayangkan bayanganmu sendiri
yang terus menyeret kegagalan
meski kau pura-pura tak mengenalnya
Segala yang kau lupa
masih menunggumu di sana
janji yang kau patahkan
nama yang kau bisukan dirimu yang dulu—
seperti barang rongsok di pinggir jalan
Sekarang lihat dirimu ke depan
kegagalan masih menunggumu
ia berdiri di tikungan dengan sabar
seolah-olah kau tak pernah belajar dari luka yang sama
2025
Granulasi
Nian pedih kawula kini oleh sebab pagi telah kembali, dan jenguklah sekali-kali sanubari dangkal yang merangkap manusiawi, lantaran mereka sudah tak tahu makna-makna lokusi
“Tapi aku takut pergi sendirian, aku takut di bilang asing, aku takut di pencil oleh mereka-mereka yang memberikan nama si klandestin atau burung elang atau apapun sebutan-sebutan lainnya”
Tidak kah kau percaya bahwasanya hidup adalah satu-satunya ketunggalan yang jamak? itulah kiranya perihal kesendirian di dalam sekap-sekap dunia. Sebab, dunia tidak akan jauh beda dengan penghabisan di singgasana
“Tapi aku ingin menutup luka, aku ingin kembali normal, hidup berdamping dan bersukaria, apa boleh buat?”
Tidak kau pahami arti kesenangan duniawi? karena hakikat semesta, akan kembali ke telapak-Nya. Genggaman kita akan selalu kalah dengan genggaman-genggaman lain. Entah di garis telapakmu atau garis-garis wajahmu. Lalu ingatkan saja kepada luka-luka yang pedih. Kau akan tahu, mana yang sebenar-benarnya kehidupan, dan mana yang setidak-tidaknya kekekalan
2025
Altruist
Seseorang berhenti ketika melihat lelaki asing menjatuhkan harinya—mulut robek, kepala retak, mata yang kehilangan pegangan. Lebam; tanpa nama, tanpa alasan, tangan-tangan gontai begitu saja, mengumpulkan kebaikan yang berserakan, menyimpannya dari serpihan yang koyak. Tak ada terima kasih, tak ada cerita yang ditukar; hanya sebuah kesalahan kecil yang dilepaskan ke udara sebelum sempat kekesalan diluapkan. Ketika langkahnya menjauh, harinya terasa ringan, seolah cahaya tahu siapa yang tidak ingin disorot kenisbiannya.
2025

