Bahasa Melayu Jambi: Menjaga Warisan, Menghidupkan Akar.
Kalau tidak lubuk buayo ado di Bungo
Berangan dan pisang layu dimakan elang
Kalau tidak ado upayo dan usaha bersamo
Jangan salahkan orang Bahasa Melayu Jambi hilang
Pantun pembuka di atas merupakan sekapur sirih Prof. Dr. H. Suaidi Ansyari, M.A., Ph.D. dalam buku Modul Pembelajaran Bahasa Melayu Jambi yang selalu menggaung dalam benak peserta yang hadir di Gedung Training Center (GTC) Sutha Inn, tempat berlangsungnya kegiatan Bimbingan Teknis (BIMTEK) Guru Utama Revitalisasi Bahasa Melayu Jambi selama empat hari, sejak 7–10 Juli 2025.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Balai Bahasa Provinsi Jambi, berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Kota Jambi, sebagai bentuk nyata pelestarian bahasa ibu yang kini mulai kehilangan penuturnya. Revitalisasi ini merupakan bagian dari program nasional Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek.
“Bahasa daerah adalah rumah, identitas, dan jiwa suatu kebudayaan. Kalau rumahnya roboh, ke mana kita akan kembali?” ujar Drs. Muhammad Muis, M.Hum., Kepala Balai Bahasa Provinsi Jambi, dalam pidato penutupan.
Bimtek ini bukan hanya tentang pelatihan, tetapi juga panggilan budaya untuk tidak diam melihat bahasa Melayu Jambi hanya menjadi artefak, tetapi menghidupkannya dalam praktik keseharian siswa-siswi di sekolah.
Kegiatan dibuka oleh dr. Mulyadi, M.Pd., Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Ia menyampaikan bahwa sekolah memiliki tanggung jawab besar menjaga keberlangsungan budaya daerah.
“Budaya tidak diwariskan melalui darah, tapi melalui pengajaran. Maka sekolah-lah tempat terbaik untuk itu,” katanya lantang.
Sebanyak 65 peserta terdiri dari: 30 guru SD, 31 guru SMP, pengawas dari Dinas Pendidikan Kota Jambi, serta 2 Duta Bahasa Provinsi Jambi.
Mereka disebut sebagai guru utama, yang nantinya akan menularkan ilmu ke guru mitra di sekolah masing-masing dan bersiap mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu, kelanjutan program ini.
Yang istimewa, modul-modul pembelajaran telah disusun lebih awal oleh maestro dan guru terpilih agar fleksibel diterapkan di berbagai kondisi sekolah. Modul ini mengakomodasi 7 topik utama:
- Mendongeng Bahasa Melayu Jambi
- Menulis dan Membaca Cerpen Bahasa Melayu Jambi
- Lawakan Tunggal Bahasa Melayu Jambi
- Pidato Bahasa Melayu Jambi
- Menulis dan Membaca Puisi Bahasa Melayu Jambi
- Tambang Tradisi (nyanyian Melayu)
- Menulis dan Membaca Aksara Arab-Melayu
Tujuh maestro budaya Jambi menjadi narasumber: Titas Suwanda, Datuk Raden Ahyar, Uwo Azhar MJ, Detty Herawaty, Ide Bagus Putra, Faridl Hakim, dan Nanang Sunarya. Mereka tidak hanya memberi ilmu, tetapi juga menghadirkan rasa: bahwa Bahasa Melayu Jambi bukan sekadar alat komunikasi, tapi jiwa masyarakat Melayu.
Salah satu peserta, Bapak Nassarudin, dengan mata berkaca-kaca mengatakan:
“Baru kali ini sayo benar-benar meraso pulang ke kampung halaman, lewat bahasa. Bahasa ini dulu akrab di telingo, sekarang terasa asing. Tapi kegiatan ini membangunkan semua ingatan.”
Para peserta mengaku sangat senang dengan kegiatan ini. Selain mendapatkan ilmu yang menyentuh akar budaya, mereka juga merasa memiliki tanggung jawab besar untuk meneruskan semangat ini ke sekolah dan siswa-siswi masing-masing.
“Semoga kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini,” ujar Ketua Panitia, Ibu Fitri, penuh harap. “Kami ingin para guru bisa terus mengimbaskan semangat dan pengetahuan ini, agar Bahasa Melayu Jambi tetap hidup, tumbuh, dan berkembang di kalangan generasi muda.”
Dalam kata pengantar modul, Kepala Balai Bahasa Bapak Muis menegaskan bahwa program ini dirancang agar penutur muda menjadi subjek aktif yang belajar bahasa daerah dengan sukacita melalui media yang mereka sukai.
Sebagai penutup kegiatan, seluruh peserta dan panitia melakukan penandatangan komitmen bersama sebagai bentuk kesungguhan dalam mendukung revitalisasi dan penguasaan Bahasa Melayu Jambi. Tanda tangan ini bukan hanya simbol, tetapi pernyataan moral dan budaya bahwa Bahasa ini layak hidup, dijaga, dan diwariskan.
Bahasa daerah bukan hanya milik masa lalu. Ia adalah cermin masa depan yang berakar kuat pada kebijaksanaan lokal. Jika hilang bahasa, maka hilanglah jati diri bangsa.
Sebagaimana pepatah Melayu mengatakan:
“kalua hilang emas boleh digali,
Hilang Bahasa, musnah diri.”
Khairul Ni’mah adalah lulusan Sastra Indonesia Universitas Jambi dan kini mengajar di SMP Negeri 2 Kota Jambi. Ia aktif menulis serta terlibat dalam seni pertunjukan sebagai anggota Teater AiR Jambi. Karyanya telah dipublikasikan di berbagai media cetak dan daring. Baginya, menjadi guru adalah jalan hidup untuk menyalakan cahaya pengetahuan dan budaya dengan cara yang menyenangkan.




