Tambo Sederhana di Tangan Juru Ingat Muda
Ditulis Oky Akbar
Saya tidak sedang melakukan riset formal. Ini adalah liburan ke tanah keluarga pihak istri. Bagi saya, liburan justru menyimpan fragmen budaya yang sering kali luput tercatat.
Di setiap sapaan yang terlontar, entah itu Makwo, Makcik, entah Maknga, terselip sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kata, yakni jejak silsilah. Sering kali panggilan itu hanya kebiasaan, padahal ini adalah bagian dari warisan budaya, pengikat antara generasi, penanda siapa kita dalam sebuah pohon yang akarnya tertanam dalam dan rantingnya menjuntai jauh.
Ada sesuatu yang membuat saya terpukau. Keluarga pihak istri memiliki Tambo. Sederhana memang, hanya berupa bagan nama dan turunan, tetapi di dalamnya tersemat penghormatan mendalam terhadap nilai kekeluargaan.
Salah satu anggota keluarga muda bernama Wawan (panggilan akrabnya) menjadi bukti hidup betapa pentingnya silsilah. Dengan fasih, ia menyebut satu per satu nama leluhurnya, dari Syeh Sidaratul Muntaha, seorang lelaki yang diyakini berasal dari Mekkah dan menetap di tanah Bengkulu setelah menikahi Siti Maryam. Dari pasangan ini, lahirlah Mariah, Barza, Umi Kulsum, dan Siti Zainab. Garis keturunan itu terus mengalir hingga ke Kolu, dan kemudian ke Sawidah (Lailap), dari mana Wawan berasal.
Wawan bukan akademisi atau juru arsip. Ia lebih tepat disebut juru ingat. Ia hapal betul jalur darah yang menghubungkannya. Dengan semangat yang melampaui usianya, ia bisa menyebut siapa nenek buyutnya, siapa saudara sepupu, bahkan di mana mereka tinggal dan apa pekerjaannya.
Dalam sebuah cerita singkat, Wawan pernah kehabisan bensin di sebuah kampung. Ketika ia mendorong motornya dan membeli bensin eceran, betapa bahagianya, sang penjual masih termasuk keluarganya. Ia tidak hanya mendapat bensin, tetapi juga makan gratis.
Wawan kini menjadi semacam penjaga ingatan. Ia mendorong sepupu-sepupunya untuk menuliskan siapa ayah dan ibu mereka, siapa kakek dan buyut mereka. Ia percaya, suatu saat, semua potongan itu akan menjadi utuh.
Liburan kali ini adalah pelajaran. Terkadang, akar budaya tidak ditemukan di museum atau arsip negara. Ia ditemukan di meja makan keluarga, di ruang tamu rumah kayu, di percakapan antar piring dan cangkir kopi.
Dalam dunia yang serba cepat, silsilah menjadi tali yang menjaga kita agar tidak tercerabut. Siapa yang tak tahu dari mana ia datang, akan mudah kehilangan arah ke mana ia harus pulang. Terdengar sayup-sayup lagu lama dari radio, Ayah, dalam hening sepi kurindu.
