Lewat “We Always Together”, Gustiwiw, Kami Tak Akan Pernah Tinggalkan You
Kita Kehilangan Gusti Irawan Wibowo
Tanggal 15 Juni 2025 kemarin, kita semua dikejutkan oleh kabar duka yang rasanya sulit dipercaya. Kita kehilangan seorang musisi yang sedang naik daun—bukan cuman nyentrik dan lucu, tapi juga jenius dalam meracik lirik sederhana menjadi suatu musik yang endikup alias enak di kuping. Dia adalah Gusti Irawan Wibowo, atau yang akrab dikenal dengan nama Gustiwiw.
Kepergian Gustiwiw jelas membawa duka yang dalam dan jadi kabar mengejutkan, terutama buat dunia musik Indonesia. Rasanya seperti ada lubang besar yang tiba-tiba muncul—karena sosok Gustiwiw bukan cuma dikenal sebagai musisi, produser musisi ternama Indonesia, tapi juga entertainer yang jenaka, orisinal, dan selalu berhasil mencuri perhatian dengan caranya sendiri.
Tapi di tulisan kali ini, kita tidak larut dalam kesedihan terlalu dalam. Sebab, meskipun Gustiwiw sudah pergi, karyanya membuat dia tetap hidup—meninggalkan jejak yang tidak akan hilang begitu saja.
“We Always Together” Menyita Pendengaran Kita Gus!
Endikup adalah album terakhir dari Gustiwiw yang dirilis secara resmi bertepatan dengan ulang tahun sang Ibunda, pada Minggu, 6 Juli. Album ini jadi bentuk penghargaan nyata atas dedikasinya di dunia musik Indonesia—sekaligus warisan berharga yang ia tinggalkan untuk kita, para pendengar setianya. Isinya dipenuhi pandangan tentang harapan dan semangat menjalani hidup.
Lewat Endikup, Gustiwiw seperti mengirim surat panjang yang terbang melintasi waktu—membawa pesan bahwa hidup tetap layak dijalani, seberat apa pun rasanya.
Dalam album ini, ada sejumlah lagu yang mungkin sudah tidak asing di telinga kalian. Sebut saja “Diculik Cinta” dan “Icik Icik Bum Bum” yang sebelumnya sudah lebih dulu dirilis sebagai single. Selain itu, ada juga lagu-lagu yang mungkin baru pertama kali kalian dengar, seperti “Ngambek,” “Menunggu Ujung,” dan “We Always Together.”
Dari semua lagu yang ada di album ini, ada satu yang benar-benar menyita perhatian saya—karena liriknya simpel, kocak, dan tentu saja enak di kuping. Lagu itu adalah “We Always Together.” Belakangan ini, lagu ini juga sering banget muncul di FYP TikTok, apalagi sejak albin Endikup resmi dirilis.
Menariknya, lagu ini tidak dinyanyikan sendiri oleh Gustiwiw. Ia justru berkolaborasi dengan seorang komika yang juga tidak kalah terkenal, yaitu Hifdzir Khoir. Buat yang sudah familiar, Hifdzi memang dikenal sebagai komika yang juga gemar bermusik. Ia tergabung dalam Orkes Pensil Alis dan juga sering membuat lagu-lagu serta yel-yel lucu secara spontan “Uhuy!”
Tapi, memang pemilihan Hifdzi Khoir sebagai teman featuring-nya adalah pemilihan yang tepat, karena sesuai dengan yang saya katakan di atas.
Lirik lagu “We Always Together” benar-benar gado-gado—campuran bahasa Inggris dan Indonesia, bahkan tiba-tiba muncul kata Indomie di tengah-tengah lagu. Tapi justru dari situ kita bisa melihat bagaimana cara kerja pikiran Gustiwiw dalam menciptakan karya. Ia selalu bermain-main dengan bahasa, seenaknya, tapi nggak pernah kehilangan arah. Semua terasa lepas tapi tetap terkontrol, khas Gustiwiw banget.
Memang, lagu ini terasa seperti lagu ini terasa seperti lagu-lagu plesetan yang populer di era 80-an, 90-an, hingga 2000-an. Tapi versi Gustiwiw unya ciri khas tersendiri, jenaka dan lugu, tapi tetap punya rasa. Di balik semua kelakar dan candanya, justru terselip kerinduan yang terasa nyata ketika mendengar lagu ini setelah kepergiannya.
Liriknya Ini Mempunyai Arti Bukan karena Berbahasa Inggris tapi Emang Ada Makna
Buat kalian yang sudah sempat mendengar lagu ini di tengah-tengah hari yang sepi atau kosong, mungkin ada satu lirik yang langsung nyantol di kepala. Yup, lirik ini nih yang biasanya paling disorot: “Me takkan pernah tinggalkan You / Jangan pernah tinggalkan me / Tapi Indomienya enak sekali”.
lirik ini adalah perpaduan antara ungkapan cinta yang penuh candaan yang jenaka sekaligus membingungkan. Kenapa begitu? karena di sana ada pengakuan cinta yang tulus; di sisi lain, muncul penyisipan tiba-tiba soal Indomie yang “enak sekali” — semacam satire terhadap gaya romantisme pop yang cenderung hiperbolik. Kita dibuat sedikit mesem-mesem karena absurditasnya, namun di balik kelucuan itu, kita melihat pengakuan bahwa cinta juga bisa hadir dari hal-hal kecil dan remeh, seperti mie instan di tengah malam atau dari “Indomie” kita juga bisa memiliki kenyamanan kecil dalam hidup yang nyaris sakral di masyarakat Indonesia.
Refrain yang terus mengulang “I love you / I miss you / Hai kamyu” terasa sangat kitsch (norak), namun tetap menyentuh karena kepolosannya. Kata “Hai Kamyu” dan “Arigato nee” meminjam gaya internet dan jejepangan, memberi nuansa absurd yang sangat kekinian—mengingat pada video TikTok, meme, atau konten shitposting yang justru punya tempat di hati generasi muda sekarang.
Tidak ada upaya pengungkapan cinta secara sakral, tapi lagu ini membumikan perasaan dalam humor. contohnya pada puisi “I love you keluarga pribadiku,” ini adalah bagian yang Hidfzi sampaikan di dalam lagu ini yang menutup lagu dengan deklarasi cinta dengan ciri khas bahasa Hifdzi sendiri. Namun justru karena itulah terasa tulus. Jangan lupa, ia menyebut istrinya, Eca, secara eksplisit: “Istriku, Eca partnerku / Aku sayang selalu kepadamu / Tetaplah aneh selalu di sampingku.” Di tengah atmosfer yang penuh candaan, ia menyelipkan pernyataan kasih yang nyata dan tidak dibuat-buat.
Ada kejanggalan yang disengaja, tapi juga ada ketulusan yang sulit untuk diamkan atau kita tolak. Kita tertawa karena gaya bahasanya lucu dan ganjil, tapi juga sedikit terharu karena merasa: ini jujur. Cintah di dunia nyata memang tidak selalu puitis, kadang terasa kikuk dan norak, namun tetap ada maknanya. Lagu ini memberi ruang bagi bentuk cinta yang tidak sempurna, yang bisa bercanda tentang mi instan tapi tetap menyebut nama pasangan dengan bangga di depan publik.
Musik Ringan, Ceria, tapi Penuh Lapisan
Sederhana sekali musik ini terdengar, dengan nuansa orkes (mungkin) pop ringan yang dibumbuin sentuhan elektronik tipis. Beat-nya tidak memaksa kita untuk bergoyang, tapi cukup membuat kepala mengangguk pelan, seolah mengajak pendengar untuk “nikmati dulu lagu ini sebentar”, bukan bersedih.
Produksinya mungkin terasa “tidak niat” dalam arti konvensional—tidak ada layering instrumen yang kompleks atau eksplorasi teknis berlebihan—namun justru di situlah keseriusannya terasa: lagu ini benar-benar tahu apa yang ingin disampaikan. Alih-alih tampil ambisius, lagu ini memilih jujur dan spontan “Uhuy!”. Ia dibuat seperti tidak ingin menyempil di tangga lagu, tapi untuk membuat orang senyum, bahkan tertawa.
Dan justru di situlah kekuatannya. Musik ini tidak mengajak kita menangis karena patah hati, melainkan mengingat kenangan lewat tawa—seolah berkata: cinta itu boleh norak, asal tetap hangat.
Di Antara Tawa, Ada Kerinduan
Saya secara pribadi, saat pertama kali mendengar lagu ini, saya langsung merasa ceria dan ikut menikmati setiap lirik serta alunan instrumennya. Tapi, sebagai seseorang yang sudah mengikuti Gustiwiw—baik dari sisi musik maupun lelucon-leluconnya—ada rasa hampa yang muncul. Terutama saat menyadari, di balik keceriaan lagu ini, sosoknya sudah tak lagi hadir di depan layar HP atau TV kita. Dan di situlah terasa betul: ini adalah bagian dari album terakhir yang ia tinggalkan.
Gustiwiw, di dalam lagu ini seperti ingin bilang “aku takkan pernah tinggalkan kamu,” lewat liriknya dan suara yang hidup. Juga mungkin ini adalah keinginan yang terbawa oleh arus waktu ketika kepergiannya untuk kita selalu mengenangnya.
Lagu ini menjadi semacam perayaan atas absurditas hidup, cinta, dan kehilangan yang pasti kita jalani di dalam kehidupan yang super-super tidak masuk akal. Maka daripada itu, Gustiwiw mau mengajak kita menerima dunia ini dengan penuh kasih.
Penutup: Lagu Warisan untuk Tertawa dan Mengingat
We Always Together yang ada di dalam album Endikup ini, bukan sekadar lagu cinta biasa. Ia adalah pernyataan bahwa seni bisa jenaka tanpa kehilangan banyak makna. Dengan lirik absurd, beat ringan, dan selera humor yang khas, lagu ini menunjukkan bahwa kejujuran tak selalu harus datang dalam bentuk kesedihan. Gusti Irwan Wibowo—atau Gustiwiw—meninggalkan kita bukan dengan air mata, tapi dengan senyuman saat menikmati mi instan saat tengah malam.
Lagu ini akan terus diputar bukan karena arasemen musiknya sempurna, melainkan karena ia jujur, lucu, dan terasa hidup. Ia seperti teman lama yang datang membawa tawa dan kenangan, bahkan saat kita sedang tidak ingin mendengar apa pun setelah melewati hari-hari yang sangat bertumpuk dengan masalah di punggung.
Kami takkan pernah tinggalkan kamu juga, Gustiwiw. Terima kasih atas lagu-lagunya di album ini. Selamat bernyanyi di angkasa—dengan “lala lalala” yang ta akan pernah habis.

