Tarian di Bawah Bulan Merah
[Pelita Triyuri, 33 Tahun]
Silahkan diminum dulu kopinya, singkong rebus juga enak disantap saat masih panas, apalagi dicocol dengan gula. Jangan malu-malu begitu dan anggaplah seperti rumah sendiri. Apakah kalian dari kota? Wajah kalian tampak asing. Ada perlu apa? Tentu saja, kalian boleh menanyakan apa saja.
Apa? Oh, legenda itu? Haha. Baiklah, saya tidak tahu banyak, tapi akan saya ceritakan.
Saat bulan itu berada tepat diatas kepalamu, rapalkan mantra, selipkan permintaan di setiap baitnya. Kepalkan tangan seperti kamu sedang meminta, karena kamu memang sedang meminta. Dia bukan Tuhan, tapi dia ibu dari segala dewa-dewa.
Bulan merah tidak datang semerta-merta, butuh pengorbanan darah untung mengundangnya. Satu nyawa berarti satu permintaan. Setidaknya itu yang dikatakan orang-orang.
Saya akan menjelaskan selayang aturan untuk melakukan ritual ini. Pertama, kamu butuh darah segar sebagai persembahan kepada Ibu Dewa. Jika kamu berpikiran bahwa ‘Dewa’ adalah bulan merah, kamu salah besar. Warga menyebutkan bahwa Ibu Dewa selayaknya manusia biasa, hanya saja tubuhnya lebih tinggi satu meter dari tinggi manusia pada umumnya. Kepalanya seperti mengenakan topeng kambing berbulu dengan mata merah pekat yang menyala. Tapi tidak sedikit juga yang mengatakan bahwa itu bukan topeng melainkan wujud asli kepalanya.
Bulan merah hanya perantara antara kamu dan Ibu Dewa. Jika darah persembahanmu benar, bulan akan memerah dan itu tanda bahwa Ibu Dewa mendengar doamu.
Kedua, basuh kedua tanganmu dengan darah persembahan. Sebentar, apa saya sudah menyebutkan soal darah apa yang boleh dan tidak boleh dipakai? Sepertinya belum, ya? Maaf saya jadi pelupa akhir-akhir ini. Darah yang harus digunakan adalah darah manusia. Darah hewan tidak diperbolehkan. Katanya jika kamu menggunakan darah hewan sama seperti kamu mengolok-olok Ibu Dewa.
Ketiga, bersimpuhlah dengan tangan dikepalkan di depan dada saat bulan tepat berada di atas kepala. Saat siulan burung malam saling bersahut sahutan, saat kegelapan menyelimuti hati yang sudah gelap. Dengan mata terpejam rapalkan mantra, saya tidak perlu merapalkan mantranya, kan? Maksudku tidak ada gunanya juga sekarang. Baik tahap berapa lagi tadi? Oh iya, empat, ya?
Keempat, minta apa saja yang kamu inginkan, semudah itu, kan? Betapa baiknya Ibu Dewa padamu. Tapi, setiap keinginan butuh imbalan, kan?
Paling tidak begitulah warga desa mempercayai legenda itu.
Setiap desa kecil paling tidak memiliki satu legenda yang diketahui semua orang yang sudah diceritakan dari generasi ke generasi. Bahkan temanku pernah bercerita bahwa teman dari teman dari temannya pernah melakukan ritual tersebut.
Desa kami memiliki legenda sendiri; Tarian di Bawah Bulan Merah, ritual oleh sang pendendam. Karna kebanyakan yang menggunakan ritual itu adalah orang yang memiliki dendam, iri hati atau suatu kebencian yang mendalam.
Nama saya Pelita Triyuri, kerap dipanggil oleh warga desa dengan julukan Tompelita. Julukan yang tidak saya sukai namun sudah melekat sejak saya masih kecil. Bintik hitam sebesar kuku jempol terpampang di pelipis kiri mata, awal mula julukan menjijikan itu saya dapatkan.
Saya memiliki seorang anak di usia delapan belas tahun. Ada apa dengan ekspresimu itu? Haha. Di desa sudah bukan hal tabu menikah di usia dini, bahkan itu adalah keinginan semua orang tua di desa supaya bebannya sedikit diringankan.
Menikah di usia tujuh belas tahun bukan sesuatu yang buruk, saya hanya perlu beres-beres rumah dan melayani suami. Dan saat sudah memiliki anak bebannya sedikit berat, tapi saya bisa menjalaninya.
Dimakan dulu singkongnya, tidak sopan mengabaikan makanan seperti itu.
Baik, saya akan lanjut bercerita.
***
[Pelita Triyuri, 23 Tahun]
Di siang bolong awan hitam menggumpal, petir-petir mengaum seperti ibu serigala yang murka. Pasti akan turun hujan lebat beberapa menit atau jam lagi. Padahal ini belum di penghujung musim panas tapi hujan seakan tidak tahan untuk segera melakukan pertunjukan.
Aku mengetuk-ngetuk bibir jendela dengan ujung kuku-kuku. Mataku sedari tadi memburu dari timur ke barat jalanan mencari sosok yang tidak kian muncul ke permukaan.
“Ck, kemana perginya anak itu.” Aku mendecak kesal sambil mencengkram bibir jendela yang terbuat dari kayu liar di hutan hingga mengelupas.
Setelah beberapa menit bergelut dengan rasa khawatir dan prasangka buruk yang tidak-tidak, gadis kecil itu malah muncul dari kejauhan dengan tawa merekah di pipinya. Lesung pipi mungil itu membawa ketenangan. Larinya seperti seekor kuda poni kecil. Dia membawa setangkai bunga layu berwarna merah muda.
Aku berlari keluar rumah menyambutnya dengan perasaan lega, bahkan amarah yang menyambar seolah musnah begitu saja. Hujan juga tiba-tiba berjatuhan seketika gadis kecilku masuk ke dalam rumah. Seolah hujan tidak tega menyakiti gadis kecil tanpa dosa ini.
“Darimana saja, Lia?” Aku menopang dagu Lilia — gadis kecil yang saat ini berusia 6 tahun — sambil berjongkok menyetarakan tinggi badan kami.
“Lia main di danau bareng Bang Jagi, Bu.” Lilia memonyongkan bibir, jemari kecilanya sibuk memainkan ujung baju.
Aku mengernyitkan satu alis, senyumku perlahan memudar dengan sendirinya, “Duh, Lia lupa ya sama nasihat ibu?”
Jagi si bocah nakal itu memang suka mengajak bayi kecilku bermain, padahal usia mereka terpaut jauh sekali. Seharusnya tidak pantas bocah ingusan itu bermain dengan anakku. Aku juga tahu anak si Rosima itu tidak benar-benar ingin bermain dengan anakku, dia cuma mau merampas makanan Lilia dan ditukar dengan sampah. Hari ini bunga liar layu yang entah apa namanya. Tapi tidak heran, kelakuan sekeluarga memang bikin geleng-geleng kepala. Suaminya suka maling ayam tetangga, bahkan sudah diamuk massa dua kali masih belum kapok juga, gimana tidak penyakit busuk itu menular ke anaknya. Istrinya juga tidak kalah busuk, memilih tutup mata dengan kelakuan suaminya dan malah membela mati-matian parasit desa tidak berguna itu.
Berbanding terbalik dengan hari kemarin, hari ini begitu terik. Matahari tanpa ragu menyeruak ke seluruh penjuru. Menguasai semua wilayah tak disisakannya tempat bernaung. Aku menggaruk-garuk kepala saking panasnya, tubuhku terasa gatal, rasanya seperti digerogoti dari dalam. Melihat peluhku yang menyucur tanpa henti, kurasa otakku sudah mendidih di dalam sana.
Terlihat dari kejauhan, gadis kecil masih asik memainkan sekeranjang tomat merah cerah. Aku tersenyum kemudian melanjutkan pekerjaanku.
Kebun ini tidak terlalu luas, namun berhasil menghasilkan berbagai macam sayuran, didominasi dengan tomat, ada juga cabe, singkong dan satu pohon pepaya. Tapi, diseberang sana dibatasi pagar bambu yang tidak terlalu tinggi, malah ada kebun yang tampak lebih luas dan subur, bisa menanam apa saja dengan jumlah banyak, bahkan hasil panennya bisa dijual. Harusnya tanah itu milik kami. Terdapat pertikaian besar antara keluargaku dan Rosima. Namun dengan diskusi desa, tanah itu dimenangkan oleh Rosima. Sejak saat itu keluarga kami sudah asam asaman.
Aku menoleh untuk mengecek Lilia, namun gadis kecil itu sudah tidak berada di posisinya, hilang. Bahkan keranjang tomat beserta isinya juga ikut lenyap. Seperti disambar petir disiang bolong, otakku yang mendidih oleh terik tambah mendidih lagi. Pasalnya di tengah kebun yang dipeluk hutan liar seperti ini, tahu apa gadis kecilku tentang jalan pulang?
Langkahku pecah menghantam semak. Napasku begitu cepat seperti seekor rusa yang dikejar mangsanya. Terasa udara begitu sesak seolah ditengkukku berada di ambang maut. Tidak kuhiraukan kerikil bukit yang mencabik-cabik kulitku. Aku
tetap fokus mencari malaikat kecil itu. Sampai langkahku terhenti dan mataku terpaku menganalisis sesuatu.
“Ini-” gumamku ragu-ragu, kalimatku sempat terhenti beberapa detik sampai aku yakin, “Ini sendal Lia.”
Seolah dituntun sesuatu, aku mendekati tebing jurang yang dekat dengan lokasi dimana sendal Lia ditemukan, dengan percaya diri. Entah seruan darimana, tapi aku yakin sesuatu yang kucari ada disana. Meski kemencolokannya aku harap instingku meleset jauh.
Tapi… Tuhan benar, insting ibu tidak pernah salah.
Dari ketinggian lima meter, tentu wajah yang hancur lebur itu tidak bisa ku kenali. Tapi bajunya menjawab semua pertanyaanku. Kaki kirinya masih mengenakan sandal yang sama dengan yang ku genggam saat ini. Dimana bola matanya? Dimana hidungnya? Gigi mungil itu berserakan dimana-mana! Darah meleleh dari segala arah. Aku tidak kuat lagi, bahkan menopang tubuh kurus kerempengku saja sudah tidak sanggup, seketika aku tersungkur, tangisku pecah, menggema di tengah hutan.
Dunia terasa berhenti, tidak. Dunia benar-benar berhenti. Duniaku…
Aku menoleh setelah mendengar gemerisik daun kering di penurunan jalan. Bocah laki-laki sedang mengintip di sebalik pohon, matanya menatap penuh kesombongan, seolah ingin menyampaikan bahwa dia menang, dia berhasil menghancurkan keluargaku. Belum sempat aku kejar, dia sudah terbirit-birit lari dan menghilang. Kubiarkan dia kabur, untuk saat ini saja.
Tidak butuh waktu lama, mayat Lilia dievakuasi. Aku tidak sanggup melihatnya. Bahkan aku sudah tidak mengenali wajahnya, berkali kali aku berteriak, “Dia bukan anakku!” Tapi nyatanya dia benar anakku.
Selang beberapa hari, kasus anakku diselidiki, entah bagaimana aku memberi penjelasan tentang anak si Rosima dalang dari semua ini, tetap saja perlu bukti dan aku tidak bisa
menyuapi polisi dengan bukti bukti yang mereka inginkan. Pada akhirnya kasus ini ditutup dengan aku sebagai pelakunya, ibu yang lalai.
Mendekam lima tahun di penjara bukan waktu yang lama untuk menyusun rencana. Sel karat ini tidak berhasil menimbun dendamku pada keluarga busuk itu. Setelah keluar dari sini aku akan berkunjung pada Ibu Dewa. Mungkin ini saatnya membuktikan legenda itu benar adanya.
Tarian di bawah bulan merah membutuhkan darah, darah seseorang yang paling kamu benci. Tentu saja, aku akan menari dengan penuh gairah malam ini.
Aku mengendap-endap dari hutan belakang rumahnya, tentu saja aku bukan orang awam tanpa persiapan yang matang yang sok-sokan ingin membunuh, aku bahkan memikirkan cara bagaimana membungkam mulutnya saat dia merintih melihat jantungnya kuremas. Di siang hari, suami Rosima sibuk menyabung dengan laki-laki tidak berguna lainnya hingga terik berganti senja. Bahkan dia mengabaikan punggungnya yang hampir gosong dijilati matahari. Matanya jelalatan melihat uang haram yang dikipas kipaskan oleh lawan mainnya. Butuh waktu berjam-jam menunggunya bubar, dan benar saja. Setelah matahari benar-benar mengubur diri, suami Rosima mencak-mencak masuk rumah. Sudah kuduga pasti dia kalah lagi dalam ronde kali ini.
Menyelinap sekarang ke dalam rumah bukan ide yang bagus, bagaimanapun juga kekuatan suaminya jauh lebih besar. Setelah beberapa jam menunggu, Rosima dan suaminya terlihat pergi keluar bersama menaiki sepeda motor. Suara mesinnya yang berisik berdentuman kemana-mana kemudian perlahan sayup-sayup ditelan keheningan malam.
Setelah merasa ini adalah waktu yang pas untuk beraksi, aku menyelinap ke dalam rumah Rosima yang tidak dikunci. Tepat saat langkahku membawaku ke dalam ruangan pengap berlantai kayu. Aku mulai berjinjit menyelam lebih dalam ke dalam sarang musuhku sendiri.
Tubuhku terpatri di depan ruang temaram yang hanya diterangi lampu minyak. Seorang bocah berusia sebelas tahun tampak asyik menyantap kentang rebus dengan rakus. Hingga saat retina mata kami saling bertatapan, bocah itu mematung. Seolah ada tanda tanya besar di kepalanya, sampai dahinya mengerut.
Aku hanya menatap lurus dalam diam, seakan mengunci pergerakannya untuk tetap bungkam. Angin berhembus kencang, menciptakan tarian-tarian tipis dari tirai putih yang bergelantungan sebagai sekat. Disusul auman guntur yang menggelegar. Lampu lilin itu padam dikibas angin.
Kini ruangan menjadi gelap, satu-satunya penerangan hanyalah bulan yang temaram. Dari ambang pintu, aku yakin dia bisa melihat derap langkahku yang kian dekat mengikis sekat. Membawa aura dingin yang menguar, beriring kemilau ujung belati dalam genggaman yang siap mencabik-cabik jiwanya yang penuh dosa.
Tidak butuh waktu lama bocah itu berhasil dilumpuhkan, sedikit perlawanan bukan berarti apa-apa, aku bukan tandingan bocah itu.
Aku menyeret tubuhnya yang mulai dingin, tikaman bringas kebencian menusuk ke jantung terlalu dalam, bahkan aku belum sempat meremas jantungnya yang masih berdegup. Serangga hutan saling bersahut-sahutan, burung-burung malam seolah bertukar pendapat satu sama lain tentang apa yang baru saja kulakukan.
Dengan tangan kumal dibaluti darah, aku mengepalkan tangan sembari bersimpuh. Hembusan angin menusuk kulitku, terkadang gigiku bergemeletuk tapi aku berusaha meminimalisirnya. Aku berdoa dengan penuh tekad. Meminta sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kuminta.
“Musnahkan Rosima dan seluruh keturunannya.”
…
Tiba-tiba aku menyadari bahwa sekelilingku telah menjadi begitu hening. Suara serangga yang begitu nyaring saat aku tiba telah lenyap. Kicauan burung burung malam dari kejauhan sudah tidak terdengar lagi. Angin tak berhembus.
Hening.
Dari belakang terdengar langkah kaki seseorang tanpa ragu. Langkahnya begitu pasti sehingga aku sangat ingin menoleh saat itu juga. Mataku terbelalak saat melihat sesosok tubuh tinggi dari kejauhan, bentuk tubuh ramping selayaknya wanita namun seluruhnya ditumbuhi bulu bulu berwarna coklat kemerahan. Tubuhnya setinggi dua meter hampir menyentuh kanopi hutan.
Kepalanya benar-benar seperti kambing, bukan sekedar topeng kambing. Matanya menyala merah terang dan hidungnya mendengus selayaknya kambing. Namun, ada yang tidak disebutkan dalam legenda. Aroma anyir yang mengikutinya menyeruak ke penjuru hutan. Baunya menusuk ke dalam hidung hingga tenggorokan. Hampir saja ku muntahkan semua isi perutku saking baunya.
Setelah membuat kesepakatan, hujan turun sangat lebat, aku mulai tidak sadarkan diri, seolah tidak terjadi apa apa, aku terbangun dari kasurku saat mentari menerpa lewat jaring-jaring tirai jendela. Aku melompat dari kasur dan berlari keluar rumah, rasa panik menggerogoti tenggorokan.
“Aku lupa membereskan mayat bocah itu.”
Aku bergegas berlari menuju lokasi tadi malam. Tapi, saat tepat berada di depan rumah Rosima, warga seperti mengepung rumahnya dari berbagai arah. Bendera hitam sudah jelas melambangkan sesuatu. Aku bertanya pada salah satu warga, katanya Rosima dan suaminya tertimbun longsor saat hendak ke desa seberang, dan anaknya, Jagi. Yang ditinggal sendiri tanpa pengawasan pergi bermain ke dalam hutan dan apesnya bertemu hewan buas yang lapar.
Panikku mereda perlahan lahan, tanpa ada rasa sesal sama sekali, aku malah tersenyum lega. Aku memutar balik tubuhku berjalan ke arah rumah. Tanpa mengucapkan belasungkawa sedikitpun. Aku menghilang dari pandangan warga. Aku menutup pintu rumahku dan menyalakan radio. Musik klasik dari penyanyi Tetty Kadi yang berjudul Teringat Selalu sedang diputar. Aku menarik napas dalam-dalam kemudian membuangnya beriringan dengan lagu itu diputar.
Rasanya lega sekali.
…
Oh iya, setiap permintaan butuh imbalan, kan? Maaf saya jadi pelupa akhir-akhir ini.

