Mantagi: Air dan Manusia: Sebuah Film Bertaji yang Penuh Simbol
Febrianiko Satria adalah seorang guru yang memiliki minat besar pada budaya populer Jepang dan bercita-cita mendirikan sekolahnya sendiri. Saat ini, ia aktif sebagai Ketua Forum Pegiat Literasi Jambi dan Sekretaris Ruang Film Rakyat. Melalui media sosial Instagram di akun @niko.x7, ia kerap berbagi gagasan dan aktivitasnya. Tulisan-tulisannya juga dapat dibaca di blog pribadinya, nikox7.blogspot.com.
Pada Jumat malam, 13 Februari 2026 saya mendapat pemberitahuan surat undangan dari Bang Dedi Supriyansyah selaku Ketua Ruang Film Rakyat bahwa hari Selasa, 17 Februari 2026 akan ada pemutaran film Mantagi: Air dan Manusia di Taman Budaya Jambi (TBJ) dari Muaro Jambi Documentary. Berhubung hari Selasa itu tanggal merah sepertinya saya bisa datang pemutaran film perdana ini.
Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Setelah saya servis rutin motor matik, saya bergegas bersiap-siap untuk ke Taman Budaya Jambi. Tidak lupa saya pamitan dengan dua anak kecil tetangga depan rumah yang selama liburan panjang ini ke rumah saya untuk mendengarkan dongeng.
Saya akhirnya sampai di Taman Budaya Jambi. Saya segera mengisi buku tamu. Penyambut tamu mengatakan bahwa pemutaran film sudah dimulai. Itu berarti saya sudah datang terlambat. Saya langsung buru-buru masuk ke dalam Teater Arena TBJ. Di dalam saya langsung disambut dengan penampilan lagu tema film Mantagi. Lagu ini liriknya diciptakan oleh Putu Wijaya dan komposer oleh Dewa Budjana. Lagu ini dinyanyikan Trie Utami dengan begitu apik.
Selesai penampilan lagu, acara dilanjutkan langsung pemutaran film Mantagi: Air dan Manusia. Terlebih dahulu ditayangkan video Behind The Scene (BTS) film ini. Setelah dilanjutkan dengan pemutaran film Mantagi: Air dan Manusia.
Film ini terbagi menjadi empat babak. Setiap babak terdiri dari cerita dan lokasi yang berbeda. Babak pertama dimulai dari lokasi Kerinci. Babak pertama ini mengambil topik pencemaran air sungai oleh rumah tangga. Babak kedua dilanjutkan dengan lokasi di Merangin. Adapun babak kedua mengambil topik pencemaran air sungai oleh aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI), Babak ketiga dilanjutkan dengan lokasi Muaro Jambi, tepatnya di Kawasan Cagar Budaya Nasional Candi Muaro Jambi. Babak ketiga ini mengambil topik permainan anak-anak dan legenda Si Pahit Lidah. Babak keempat dilanjutkan dengan lokasi di Tanjung Jabung. Babak keempat ini mengambil topik permasalahan hutang dan kesulitan mencari nafkah di sungai khususnya nelayan. Setiap babak ini disatukan oleh tokoh tanpa nama, kita kasih nama aja Tuan X. Tokoh ini memiliki ciri khas memakai jas hitam dan celana hitam. Setiap kejadian penting pada setiap babak selalu mengikut sertakan tokoh Tuan X.
Hal yang menarik bagi saya dari film ini banyaknya simbol yang digunakan dalam setiap babak. Saya catat ada empat simbol yang digunakan dalam film ini. Untuk babak pertama saya menemukan simbol kerinduan masa lalu akan aktifitas sungai hal ini ditandai dengan pembukaan babak pertama yakni berupa ritual untuk bayi yang baru lahir dan aktivitas yang dilakukan oleh Kakek dan Cucunya yakni mengambil air di sungai. Sang Cucu mengeluh kenapa mereka tidak memasang air PAM seperti tetangga lainnya. Sang Kakek menjawab kalau mereka tidak mengambil air di sungai lantas siapa lagi yang menjadi sahabat sungai? Cucu ini tidak terima dan menganggap bahwa Kakek ini begitu kolot. Cucu akhirnya memulai pertengkaran dengan Kakek.
Ironisnya ketika air PAM macet berhari-hari, Sang Cucu malah mengajak keluarga teman-temannya untuk mencuci baju, motor dan membawa mesin cuci ke sungai. Akhirnya sungai menjadi kotor. Ini menjadikan simbol bahwa ternyata kerinduan aktifitas di sungai belum tentu membuat sungai menjadi bersih seperti biasanya, malahan menjadi semakin kotor. Apalagi dengan maraknya penggunaan detergen, bahan kimia yang merusak air sungai. Tentu aktivitas masa kini tidak bisa disamakan dengan masa lalu yang tanpa menggunakan bahan kimia perusak seperti detergen.
Babak kedua dilanjutkan dengan cerita seorang pencari penambang emas tanpa izin. Tokoh utama ini dijauhi warga karena membawa semua pria untuk bekerja mencari emas tetapi tidak kembali ke rumah. Konon semua pria yang berangkat dijadikan tumbal oleh pengusaha tambang emas ilegal. Tokoh utama ini memiliki anak laki-laki dan mereka sekeluarga dikejar oleh Bos PETI. Anak laki-laki tokoh utama ini berhasil dijauhkan oleh hantu sungai dari Ayahnya yang terlilit hutang dari Bos PETI. Saya bisa menarik simbol ini bahwa untuk membuat generasi yang peduli dengan lingkungan sungai mau tidak mau dan suka tidak suka dia harus “dijauhkan” dari lingkungan yang mendukung aktifitas penambangan emas ilegal ini. Kalau peribahasanya sih Kalau kita berteman dengan tukang parfum maka kita akan kebagian wanginya sementara jika kita berteman dengan pandai besi maka kita akan kebagian panas api. Untuk membuat anak muda peduli dengan lingkungan, dia harus “dijauhkan” dan diputuskan kehidupannya dari penambangan liar dengan cara bersekolah di tempat yang lebih baik.
Babak ketiga dilanjutkan dengan sekelompok anak-anak yang bermain lomba lari dan semputan sarung. Salah seorang anak bertubuh gendut mengejek temannya mematung seperti batu dalam lomba lari. Ketika mereka bermain semputan, anak bertubuh gendut ini kaget temannya benar-benar menjadi batu. Tokoh anak gendut ini mengingatkan saya dengan dongeng Si Pahit Lidah, semua ucapan Si Pahit Lidah menjadi kenyataan.
Semua cara ditempuh Anak gendut dan teman-temannya untuk memulihkan temannya yang menjadi patung, tetapi tidak kunjung memulihkan kondisi temannya. Akhirnya dengan penyesalan dan ketulusan hati dia bisa mengembalikan temannya dari patung menjadi manusia normal. Ini menunjukkan sebuah simbol bahwa seringkali pelaku yang melakukan kesalahan hanya bisa berhenti setelah dia mendapatkan balasan setimpal atas dampak buruk yang ditimbulkan.
Babak keempat kita ditunjukkan bahwa dampak buruk pencemaran sungai adalah nelayan yang awalnya mencari ikan menggunakan perahu tidak sampai ke tengah laut lepas. Kini mereka harus menggunakan kapal kayu (Pompom) untuk mendapatkan ikan di laut lepas. Tentu saja tidak semua nelayan memiliki uang untuk membuat pompom. Nelayan yang memiliki uang pas-pasan harus pasrah mencari ikan dengan perahu seadanya. Ini belum ditambah dengan kehidupan pribadi tokoh nelayan yang terlilit hutang hingga ditinggal istri. Kehidupan sosial yang begitu buruk yakni mabuk-mabukan setiap malam membuat kehidupan tokoh nelayan semakin buruk. Puncaknya tokoh nelayan kehilangan rumah dan perahu karena disita oleh rentenir. Hingga akhirnya tokoh nelayan memilih bunuh diri karena tidak kuat dengan penderitaan yang dialami. Ini menunjukkan dampak nyata tentang dampak buruk dari pencemaran air.
Empat babak film yang berbeda pada akhirnya disatukan dengan Tuan X yang membantu penyelesaian setiap masalah yang dialami tokoh utama. Pemutaran film akhirnya ditutup dengan koper Tuan X yang tiba-tiba muncul di tengah Teater Arena. Tuan X lalu mengambil koper itu dan meninggalkan panggung. Sebuah pertunjukan yang sangat luar biasa.

