Goa Mayat “Satire Kelam tentang Korupsi dan Kekuasaan”
Chantika Lestari Ginting merupakan pelajar di SMA Negeri 2 Kota Jambi yang berupaya menjalani kesehariannya dengan disiplin, rajin belajar, bertanggung jawab, serta mudah bergaul dan menjaga sikap sopan terhadap guru maupun teman. Ia meyakini bahwa proses belajar tidak hanya soal nilai akademik, tetapi juga tentang pembentukan karakter, sehingga terus berusaha mengembangkan diri menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya.
Pementasan drama “Goa Mayat” disutradarai oleh E. M. Yogiswara, seorang pegiat teater ternama asal Jambi yang telah lama dikenal di dunia seni pertunjukan. Selain aktif menyutradarai berbagai pementasan teater, beliau juga dikenal sebagai penulis puisi yang konsisten menyuarakan kegelisahan sosial melalui karya-karyanya. Di bawah arahannya, drama ini tampil kuat secara visual maupun pesan, menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menggugah kesadaran penonton.
Drama “Goa Mayat” karya Kahira Agualya Puspa merupakan drama komedi satir yang mengangkat kritik sosial terhadap perilaku korupsi yang dilakukan para pejabat. Pementasan ini dilaksanakan pada hari Jumat, 30 Januari, pukul 14.00 WIB, bertempat di Taman Budaya Jambi. Pertunjukan tersebut berhasil menarik perhatian penonton karena memadukan unsur horor, humor, dan sindiran tajam terhadap realitas sosial.
Keberhasilan pementasan ini juga didukung oleh kerja sama para pemain, yaitu Riha, Adinda, Airin, Reyfan, Zakia, Lila, Hasila, Nurul, Salma, Salama, Bima, Nadia, dan Pelangi. Mereka mampu menampilkan emosi yang beragam—mulai dari keserakahan, ketakutan, hingga kepolosan—sehingga cerita terasa hidup dan mudah dipahami. Setiap karakter hadir dengan kekuatan masing-masing, menciptakan dinamika yang solid di atas panggung.
Cerita berfokus pada tiga pejabat korup yang ingin memperlancar proyek mereka dengan cara tidak bermoral. Alih-alih bekerja secara jujur, mereka memilih jalan pintas dengan meminta bantuan makhluk halus yang konon bersemayam di sebuah goa angker. Keputusan ini menjadi awal dari rangkaian peristiwa ganjil sekaligus ironis.
Goa tersebut dikenal sebagai Goa Mayat, tempat bersemayam delapan mayat yang telah lama meninggal, namun arwah mereka dipercaya tidak pernah benar-benar pergi. Suasana di dalam goa selalu muram, dipenuhi bisikan samar dan tawa tak kasatmata yang membuat bulu kuduk merinding. Cahaya redup dan gema langkah kaki semakin menambah kesan mistis yang menyelimuti ruang tersebut.
Kesunyian goa pecah ketika tiga pejabat datang dengan langkah angkuh. Mereka membawa sesajen lengkap, sementara asap dupa mengepul tebal memenuhi udara. Dengan suara serius namun penuh keserakahan, mereka melakukan ritual dan memohon kekayaan serta kenaikan jabatan. Namun suasana tiba-tiba berubah berat, seolah goa itu sendiri menolak kehadiran mereka.
Penolakan itu terjadi berkali-kali. Para pejabat mulai gelisah, lalu marah besar. Dengan emosi, mereka membanting sesajen, memaki, dan melempari dinding goa dengan batu. Suasana menjadi kacau dan penuh amarah, tanpa mereka sadari bahwa para mayat telah berdiri mengelilingi mereka, mengejek dan menertawakan dengan wajah sinis yang tak terlihat oleh mata manusia.
Di dalam kegelapan goa, delapan mayat saling berdialog. Nada bicara mereka dingin, sinis, kadang gembira, namun sarat penghakiman. Percakapan tersebut membahas kerakusan para pejabat, penderitaan rakyat, serta kekuasaan yang diraih melalui cara-cara kotor. Dialog ini menjadi inti kritik sosial yang disampaikan secara tajam, namun dibalut humor gelap.
Tiba-tiba suasana berubah absurd. Para pejabat justru berjoget di tengah ketegangan. Tawa palsu bercampur dengan musik ironis, menciptakan suasana lucu namun pahit. Adegan ini menyindir bagaimana kekuasaan sering kali menutupi kebusukan dengan hiburan semu dan kegembiraan yang dibuat-buat.
Setelah itu, para mayat kembali masuk ke dalam goa. Kesunyian kembali menyelimuti tempat tersebut, namun kali ini terasa jauh lebih menekan. Para pejabat yang frustrasi kembali melempar batu dan membuang sisa sesajen dengan kasar, melampiaskan kegagalan mereka tanpa rasa bersalah.
Tak lama kemudian, muncul seorang dukun tua dengan pakaian lusuh dan gerakan menari yang perlahan namun mistis. Kehadirannya membuat suasana menjadi sakral dan tegang. Sang dukun mengatakan bahwa para mayat tidak akan mengabulkan permintaan orang-orang rakus yang menindas masyarakat. Ketika para pejabat memohon bantuannya, ia menolak dengan suara tegas.
Ketegangan mulai mencair ketika datang seorang anak indigo kecil yang membawa boneka. Suasana berubah menjadi aneh namun lembut. Anak itu tersenyum polos dan mengajak para mayat bermain. Untuk sesaat, atmosfer mencekam berganti menjadi tenang dan haru, seolah ketulusan anak tersebut mengingatkan para arwah tentang kemurnian hati manusia yang telah lama hilang.
Para mayat merasakan kembali kehangatan yang jarang mereka temui. Dalam keheningan itu, terlihat kontras antara kepolosan sang anak dan keserakahan para pejabat. Adegan ini menjadi simbol bahwa kejujuran dan ketulusan masih ada, meski sering kalah oleh ambisi duniawi.
Sebagai penutup, para mayat keluar dari goa. Dengan gerakan tari yang menyeramkan namun penuh makna, mereka menari sambil menyanyikan lagu sindiran tentang para koruptor. Suasana menjadi campuran horor, satire, dan kritik sosial yang kuat. Para pejabat terdiam, diliputi rasa takut, malu, dan kesadaran akan kesalahan mereka.
Pementasan ini meninggalkan kesan mendalam bagi penonton. Melalui humor gelap dan visual yang kuat, drama “Goa Mayat” berhasil menyampaikan pesan bahwa kekuasaan yang dibangun di atas kebohongan dan ketamakan pada akhirnya hanya akan membawa kehancuran. Kerja sama pemain, tata artistik, dan arahan sutradara berpadu menghasilkan pertunjukan yang berani dan bermakna.
Pesan penutup dari pementasan ini sangat jelas: jabatan dan kekayaan tidak seharusnya diraih dengan mengorbankan rakyat dan nilai kemanusiaan. Drama ini mengajak kita semua untuk bercermin, menjaga kejujuran, dan menolak segala bentuk korupsi, sekecil apa pun. Sebab pada akhirnya, bukan harta atau kuasa yang akan diingat dunia, melainkan integritas dan keberanian untuk tetap berada di jalan yang benar.

