Sepatu dan Pemiliknya
Lilyana Agnesia, lahir pada tahun 2005, berasal dari keluarga bermarga Simanjuntak. Ia memiliki ketertarikan pada film bergenre thriller dan romance. Saat ini, Lilyana menempuh pendidikan di bidang Sastra Indonesia sebagai bekal untuk membuka peluang karier dan memperoleh pekerjaan yang lebih baik di masa depan
Ada sebuah cerita di mana sepasang sepatu memiliki kehidupan dan bisa mengarahkan pemiliknya ke suatu tempat-tempat yang tidak bisa diprediksi pemiliknya. Arya adalah seorang pengangguran yang sedang menyebar banyak CV ke beberapa perusahaan. Ia terus menunggu panggilan untuk wawancara kerja. Namun, sudah tiga bulan belum juga ada panggilan-panggilan itu.
Jika hari-harinya sedang bosan ia pergi ke tempat tongkrongannya untuk bermain game bersama teman-teman penganggurannya. Ia berpenampilan sederhana layaknya pengangguran lulusan S1 Ilmu Hukum. Memakai sandal jepit, kaos oblong berwarna putih dan dasi merah jika ia ingin cosplay.
Dalam tongkrongannya, mereka bercanda ria tentang permasalahan negara dan kadang berfilosofi kehidupan. Dari tiga teman Arya, Andika yang sudah dipanggil untuk wawancara pekerjaan dan menyiapkan diri saat diterima nanti.
“Arya, gimana perusahaan yang lo lamar itu. Masih belum dipanggil-panggil juga? Kayak gue dong, dua hari lagi bakal diwawancara nih.” kata Andika dengan sombong akibat sudah terlalu lama menganggur.
“Ya, gue masih nunggu aja dulu. Sabar bro, belum tentu juga lo lolos wawancaranya.” sambut Arya tidak terima penghinaan.
“Yaelah, jangan doa yang kayak begitulah. Lo kalo ada panggilan bakal ngerasain kayak gue juga pasti.” jawab Andika kembali takut akan perkataan Arya.
Kini tiga teman mereka ikut bergabung dalam obrolan setelah kalah game online.
“Kalian pada kenapa sih, nyantai aja dulu. Semua pasti ada jalannya, tunggu aja petunjuk dari Tuhan”, kata Toni dengan percaya diri.
“Ya, lo juga harus ada usaha kali, jangan sepenuhnya dari Tuhan semua. Kasihan masih banyak domba lain yang kudu dikabulin doanya.” Jawab Arya dengan bijak.
Di tengah pembicaraan, tiba-tiba Arya mendapatkan notif email dari gawai yang dipegangnya. Isi email itu berkata, “Selamat, anda lolos tahap dokumen. Selanjutnya, anda masuk ke tahap interview…,” kira-kira begitulah tulisannya. Arya yang membaca itupun terkejut dan segera bercerita kepada teman-temannya itu.
“Wah, selamat bro. Lolos juga ternyata ke tahap interview ya.” Ucap Toni ikut senang dengan kabar gembira dari Arya.
“Gak nyangka, sumpah. Gue harus tampil menarik. Baju baru, setelan, sepatu baru, semuanya harus sempurna.” Kata Arya dengan tangan gemetaran.
“Semangat 45 langsung, king kita. Semoga lancar dah buat kalian berdua yang mau interview kerja, sampai keterimanya juga.” Ucap Fahri dengan tulus.
Sambil menunggu tiga hari lagi untuk interview, Arya menyiapkan semua yang diperlukan untuk kebutuhannya. Ia mempelajari pertanyaan-pertanyaan apa saja yang akan keluar dan bagaimana menjawabnya. Arya juga mempersiapkan kebutuhan primernya.
Pagi hari, ia mencari-cari baju di pasar dan setelan pria yang murah. Setelah berkeliling mendapatkan semua itu. Kini ia mencari sepatu murah namun terlihat mewah untuk dipakainya nanti. Arya datang ke sebuah tokoh yang menampilkan banyak sepatu bagus dengan harga murah. Ia memperhatikan dengan seksama, mana sepatu yang tepat dan cocok untuknya.
Setelah melihat-lihat, matanya mengarah kepadaku. Dan ya, dia memilih pilihan sepatu yang tepat. Sepatu safety shoes dari Lavio berwarna coklat dengan material suede dan kulit sintetis, bekas. Cocok untuk membawanya ke manapun ia pergi. Ada yang bilang, “Jika kau mencari sepatu dengan teliti. Sepatu itu juga akan memilihmu dan sepatu yang bagus akan membawamu ke tempat-tempat yang bagus juga.” Karena Arya memilihku, Aku juga memilih dirinya sebagai pemilikku.
Di luar sana, banyak sepatu-sepatu bermerek dijual dengan harga murah namun terlihat elegan seperti bentukku ini, ya sepatu-sepatu bekas dari orang-orang kaya bisa dibilang dan dijualkan kembali dengan murah ke orang-orang miskin yang ingin tampil elegan. Tapi tak sedikit juga sepatu bermerek dengan harga mahal yang dijual di dalam mall itu kualitasnya bagus dan cocok dengan pemiliknya. Dari tampilan memakai sepasang sepatu juga kita bisa melihat bagaimana sifat pemiliknya. Seperti sepatu oxford shoes dengan lace (tali) yang tak menyatu. Kebanyakan pemiliknya adalah seorang pengusaha yang sukses dan rajin menyemir sepatu tersebut sehingga terlihat mewah tampilannya setiap hari.
Sekarang, Aku akan mulai beradaptasi dengan Arya. Aku akan membantunya sepenuh hati dengan gaya elegan. Tiba hari saat yang ditunggu-tunggunya tiba, Arya mulai bersiap dari mengenakan setelannya hingga memakaiku dikedua kakinya dengan ikatan gaya lattice. Ia mulai berangkat dengan menaiki taksi ke sebuah firma hukum besar di pusat kota. Ia menunggu antrian namanya untuk dipanggil wawancara. Selang menunggu, kakinya terus bergetar tak bisa diam dan terus memanjatkan doa demi kelancarannya.
Kini namanya terpanggil, ia memasuki ruangan besar berdinding putih dengan tiga orang pewawancara didepannya siap memberikan pertanyaan dengan wajah datar menakutkan.
Selama wawancara berlangsung, ia berhasil menjawab semuanya dengan baik sesuai dengan yang sudah dilatihnya selama ini. Salah satu pertanyaan yang dilontarkan adalah “Kenapa kamu ingin masuk ke firma ini?”
“Sebagai lulusan baru dari jurusan hukum, saya sangat tertarik dengan firma ini karena komitmennya terhadap kasus-kasus yang berhubungan dengan keadilan sosial. Saya telah membaca tentang bagaimana firma ini menangani proyek-proyek seperti advokasi hak asasi manusia dan litigasi lingkungan, yang sejalan dengan passion saya untuk menegakkan keadilan dalam hukum. Saya ingin bergabung untuk belajar dari pengacara berpengalaman di sini dan berkontribusi pada perubahan positif, meskipun saya masih butuh banyak belajar.” Jawab Arya dengan bijak dan percaya diri. Ia selalu ingin keadilan dan kejujuran dalam lingkungannya.
Sekarang tinggal menunggu waktu dia diterima atau tidaknya. Sudah dua hari, Arya selalu khawatir dengan hasil wawancara itu. Dia terus menunggu dan kadang berjalan di sekitar rumahnya menggunakan Aku.
Setelah lama menunggu kabar. Akhirnya hasil itupun tiba dan Arya dinyatakan lolos dari interview. Ia resmi diterima bekerja di firma itu. Semangat hari pertamanya bukan main, semua karyawan di sana disapanya seakan sudah lama akrab. Ia menunggu atasan untuk diberikan sebuah tugas dan kini ia mulai menerima banyak laporan, bacaan, dan buku undang-undang yang belum pernah ia lihat harus dipahaminya dengan teliti. Karena itu akan sangat penting saat menghadapi sebuah persidangan. Untuk langkah ini, memang ia mulai mengeluh sedikit tapi masih ada semangat yang tertinggal daripada menjadi pengangguran.
Hari ketiga, ia mulai ikut memasuki setiap ruang persidangan yang dilakukan oleh seniornya. Ia memperhatikan dengan seksama bagaimana sebuah keadilan ditegakkan dengan benar. Aku selalu mengarahkan pemilikku untuk maju ke tempat-tempat yang membutuhkan keadilan.
Setelah beberapa bulan bekerja. Kini ia mendapatkan seorang klien yang direkomendasikan oleh atasannya. Ia adalah anak Managing Partner firma hukum tempat dirinya bekerja.
“Anak saya terlibat kecelakaan. Tolong tangani dengan baik. Berikan dia hukuman yang ringan. Jika tidak, aku tidak menjamin masa depanmu di firma ini.” Pinta atasan Arya secara pribadi kepadanya. Ia hanya bisa mengangguk karena tak bisa menolak.
Anaknya berumur 23 tahun sedang bermasalah karena mabuk saat mengendarai mobil hingga melukai seorang pengendara motor yang ia tabrak. Tak main-main lukanya, karena si pengendara mengalami koma di rumah sakit sampai saat ini. Keluarga korban menuntut pelaku sampai mendapatkan hukuman yang pantas dan adil tanpa ada perdamaian.
Ini suatu hal keadaan sulit yang dihadapi Arya, tidak mungkin ia menolak klien pertamanya itu. Namun, di sisi lain ia bingung kenapa atasannya menunjuk Arya sebagai pengacara anaknya daripada senior-senior yang telah berpengalaman dan sudah ahli menangani kasus. Sebelum hari persidangan dimulai, atasannya mendesak Arya agar kliennya itu tidak mendapatkan hukuman yang berat jika tidak, ia bisa dipecat karena ketidakmampuannya memenangkan persidangan tersebut.
Ya, ini adalah sisi gelap dari firma yang dibanggakan itu. Arya tidak menyangka hal ini akan terjadi padanya. Di satu sisi, Arya ingin memenangkan persidangan untuk klien pertamanya. Namun di sisi lain, ini tidak sesuai dengan keadilan yang ingin diterapkannya. Karena tidak ada cara untuk membela kliennya itu, semua sudah terbukti bahwa ia salah total karena mengemudi dalam keadaan mabuk dan itu semua ada bukti fisiknya.
Selagi mempersiapkan persidangannya, Arya berusaha untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Melihat pemilikku merasa frustasi, aku melangkahkan kakinya ke rumah Kakek Arya untuk bercengkrama karena sudah lama ia tidak bertemu dengan kakeknya semenjak dirinya diterima bekerja.
“Halo Kakek, sudah lama kita tidak bertemu. Maaf aku baru bisa ke sini sekarang. Pekerjaanku begitu banyak di sana.” Ucap Arya memulai percakapan.
“Tidak apa, Arya. Kau terlihat sangat kacau, seberapa berat urusan pekerjaanmu cucuku?” tanya Kakek terlihat khawatir.
“Tidak kakek. Hanya ada kasus yang membingungkanku. Seperti sedang mempertaruhkan masa depanku nanti.” Jawab Arya tak ingin Kakeknya tahu apa yang terjadi padanya.
“Katakan saja Arya. Kau tidak perlu sungkan menceritakan masalahmu itu. Siapa tau kakek bisa sedikit membantu.”
“Sebenarnya Kek, aku mendapatkan klien yang terlibat sebuah kecelakaan. Ia mabuk saat berkendara dan menabrak korban hingga koma. Keluarga korban tak ingin berdamai tapi klienku ini adalah anak dari Managing Partner firma dan ia ingin meminta anaknya mendapatkan hukuman yang ringan jika bisa, berdamai saja dengan korban katanya.” Arya melepaskan semuanya dan bercerita kekeluhannya itu kepada Kakek.
“Sepertinya ada alasan mengapa mereka memberikan kasus ini kepadamu. Tapi jika bisa ku beri tahu itu tidak berat cucuku.” Kakeknya mulai tertawa mendengar cerita Arya.
“Ini tidak mudah kakek. Mengapa kau tertawa seolah kasus ini sangat gampang. Pelaku bisa saja mendapat hukuman maksimal 5 tahun penjara.” Muka Arya terlihat menggerutu karena ejekan Kakek.
“Apakah kau sudah mencari bukti-bukti yang kuat untuk membela klienmu?” tanya Kakek mencoba membantu Arya menganalisis kasusnya.
“Apa yang mau dibela dari anak itu Kek. Dia mabuk-mabukan mengendarai mobil.”
“Biasanya jika tidak ada rencana pembunuhan, pemabuk itu akan menghindari orang yang akan menabraknya. Sehingga dia akan mengalami kecelakaan tunggal. Apakah kau sudah menanyakan ini kepada klienmu?”
“Bagaimana Aku bisa bertanya, sedangkan dia lupa akan kejadian itu karena mabuk. Tapi, apa maksud Kakek dia bisa saja menghindari motor yang akan ditabraknya?”
“Ya, itu sederhana jika memang begitu. Bisa saja si pengendara motor melakukan kesalahan sehingga harus menabrak klien mu juga.”
“Kesalahan?” tanya Arya yang semakin bingung dan mulai berpikir lebih dalam.
“Apa kau sudah cek semua CCTV yang ada?” tanya Kakek untuk meyakinkan Arya.
Arya menyadari bahwa ada satu kamera dari sisi lawan arah jalan, jauh dari tempat kejadian itu belum diperiksa olehnya.
Setelah mengingat hal itu Arya berterima kasih kepada Kakek karena telah membantunya, lalu langsung pamit dari rumah Kakeknya dan kembali ke kantornya untuk mengecek sudut pandang dari jalan tersebut. Dan benar saja, pengendara motor itu juga ternyata melanggar lalu lintas, korban melaju tanpa helm, melewati lampu merah, dan menggunakan kecepatan berlebih, mungkin korban mengira malam itu akan sangat sepi sehingga tidak ada pengendara lain yang datang dalam keadaan mabuk.
“Akhirnya, ini bisa mengurangi hukuman yang didapat klienku. Aku tidak pernah berpikir itu, karena ke rumah Kakek, Aku bisa mendapatkan jawabannya. Entah kenapa sepatu ini selalu mengarahkan ke mana Aku melangkah. Kalau memang sepatu ini mengarahkanku, Aku sangat berterima kasih dan akan selalu ku pakai ke manapun.”
Tentu saja, Aku akan selalu mengarahkan langkah Arya untuk mendapatkan jawaban yang dibutuhkannya.
Kini persidangan akan dimulai, Arya bukan menyalahkan korban yang menderita. Tapi bukti ini bisa mengurangi hukuman pelaku. Ia juga sempat berkonsultasi dengan seniornya “Ini peluang untuk mitigasi, tapi jangan buat keluarga korban lebih sakit hati. Katakan dengan baik tanpa menyakiti perasaan mereka.”
Arya menekankan bahwa kliennya memang mabuk (Pasal 311 UU LLAJ), tapi kesalahan korban memperburuk kecelakaan.
“Yang Mulia, klien saya bertanggung jawab 70% atas insiden ini karena pengemudi mabuk. Tapi korban turut berkontribusi 30% dengan pelanggaran lalu lintas, seperti tidak pakai helm (Pasal 291 UU LLAJ) dan melaju di atas rata-rata kecepatan. Ini bukan pembenaran, tapi fakta untuk keadilan seimbang.” Tegas Arya berusaha memenangkan persidangan.
Jaksa sempat menyanggah, menuntut hukuman maksimal. Tapi hakim setuju hukuman pelaku dikurangi menjadi enam bulan penjara dengan percobaan, denda, dan rehabilitasi wajib. Ganti rugi perdata dibagi 70-30, dengan pelaku membayar sebagian besar, plus kompensasi medis untuk korban. Dan sidang pertama kali ini dimenangkan oleh Arya si pengacara baru.
“Hukum bukan tentang menang, tapi menyeimbangkan kesalahan untuk mencegah tragedi berulang. Aku masih bisa menegakkan keadilan dengan benar, tentu dengan bantuan sepatu berharga ini. Mari kita berjuang bersama sepatu.”
Tentu saja Arya, selama kau merawatku dengan baik, sepatu bagus ini akan membawamu ke tempat yang bagus atau tempat untuk mencari jawaban ketika kau kehilangan arah. Aku akan selalu bersamamu, berjuang bersama untuk keadilan. Selanjutnya kasus apa yang akan kita hadapi?

