PESAN MORAL DALAM GOA MAYAT
Aura Isdra Aprodhita lahir di Jambi pada 27 September 2009 dan saat ini menempuh pendidikan di SMA Negeri 2 Kota Jambi. Ia meyakini bahwa kunci keberhasilan terletak pada kedisiplinan, rasa tanggung jawab, serta kemauan untuk terus belajar. Melalui pendidikan, Aura berupaya membangun tujuan hidup yang jelas dan menjadikan setiap pengalaman belajar sebagai sumber motivasi untuk tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.
Drama berjudul “Goa Mayat” merupakan sebuah pementasan teater yang mengangkat cerita tentang keserakahan manusia terhadap kekuasaan dan harta. Cerita ini dikemas dalam suasana mistis serta penuh sindiran sosial, sehingga pesan yang disampaikan terasa dekat dengan kehidupan nyata.
Drama ini ditulis oleh Khaira Agualya Puspa dan dipentaskan pada hari Jumat, 30 Januari, pukul 14.00 WIB, bertempat di Gedung Teater Arena Taman Budaya Jambi yang berlokasi di Jl. Arbai I No. 9, Sei Kambang, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi. Pementasan ini bertujuan untuk memberikan hiburan sekaligus menyampaikan pesan moral kepada penonton.
Pementasan drama ini dimainkan oleh Riha, Adinda, Arien, Reyfan, Zakiyah, Lila, Hasila, Nurul, Salma, Salama, Bella, Nadia, dan Pelangi. Masing-masing pemain memerankan tokoh sesuai dengan kebutuhan cerita dan berusaha menampilkan perannya dengan baik.
Latar tempat cerita berada di sebuah Goa Mayat, yaitu goa yang berisi jasad para pahlawan dan korban kekejaman Jepang yang dibekukan di masa lalu. Tempat ini memiliki nilai sejarah sekaligus kesan menyeramkan. Goa tersebut digambarkan sebagai tempat yang gelap, sunyi, dan jarang didatangi manusia, sehingga suasana angker sudah terasa sejak awal pementasan dimulai.
Suasana mencekam tersebut semakin diperkuat dengan kondisi sekitar yang sepi dan tenang, sehingga penonton ikut merasakan ketegangan selama cerita berlangsung.
Tata rias dalam drama ini dibuat sederhana namun tetap mendukung karakter tokoh. Riasan wajah pucat pada para mayat menggambarkan bahwa mereka telah lama meninggal. Riasan tersebut tidak dibuat berlebihan, tetapi cukup untuk menunjukkan perbedaan antara tokoh mayat dan tokoh manusia yang masih hidup.
Kostum yang digunakan dalam pementasan juga disesuaikan dengan peran masing-masing tokoh. Para pejabat mengenakan pakaian rapi layaknya orang penting. Mbah dukun menggunakan pakaian tradisional yang mencerminkan perannya, sedangkan anak kecil mengenakan pakaian sederhana agar terlihat alami. Para mayat memakai kostum biasa yang mendukung suasana cerita.
Tata panggung dibuat menyerupai bentuk goa dengan properti yang tidak terlalu banyak, namun sudah cukup menggambarkan tempat kejadian dalam cerita. Penataan panggung yang sederhana ini justru membantu penonton lebih fokus pada alur cerita dan dialog para pemain.
Tata lampu menggunakan cahaya yang redup dan gelap untuk memperkuat kesan mistis dan angker. Sementara itu, tata suara memanfaatkan musik latar serta efek suara tertentu agar suasana cerita terasa lebih hidup.
Cerita dimulai ketika para pejabat koruptor datang ke Goa Mayat dengan membawa sesajen. Kedatangan mereka bertujuan untuk meminta kekayaan, kelancaran proyek, serta kenaikan jabatan demi kepentingan pribadi.
Kedatangan para pejabat tersebut menimbulkan keributan di dalam goa karena sikap mereka yang tidak sopan dan penuh ambisi, sehingga mengganggu ketenangan tempat tersebut.
Keributan ini membuat mbah dukun datang ke Goa Mayat. Sejak awal kedatangannya, ia sudah mengetahui maksud serta niat para pejabat. Mbah dukun justru menertawakan mereka karena menyadari bahwa permintaan tersebut didasari oleh keserakahan dan perbuatan korupsi, sehingga ia menolak untuk membantu.
Setelah merasa gagal dan tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, para pejabat akhirnya pergi meninggalkan goa dengan perasaan kecewa dan tangan kosong.
Setelah para pejabat pergi dan suasana kembali sepi, datanglah seorang anak kecil ke sekitar goa karena penasaran dengan keributan yang sebelumnya terjadi. Mereka kemudian berbincang sebentar sebelum akhirnya pergi.
Pada bagian akhir cerita, para mayat bangkit, berjoget, dan menyanyikan lagu tentang koruptor. Adegan ini menjadi bentuk sindiran keras terhadap perilaku para pejabat sekaligus menutup cerita dengan cara yang unik dan berkesan.
Alur cerita drama “Goa Mayat” disampaikan dengan cukup jelas dan mudah dipahami oleh penonton dari awal hingga akhir. Ekspresi dan gerak para pemain, terutama pada adegan keributan para pejabat dan saat para mayat mulai bergerak, mampu menggambarkan isi cerita serta pesan yang ingin disampaikan. Hal ini juga didukung oleh penggunaan tata lampu dan tata suara yang sesuai dengan suasana goa.
Secara keseluruhan, drama “Goa Mayat” memiliki kelebihan pada pesan moral yang kuat dan suasana pementasan yang mendukung. Meskipun demikian, masih terdapat kekurangan pada pendalaman dialog dan ekspresi pemain yang dapat dikembangkan agar pementasan berikutnya menjadi lebih baik dan pesan tentang bahaya keserakahan serta korupsi dapat tersampaikan dengan lebih maksimal kepada penonton.

