Sayap Hitam di Ujung Kelopak
Sebelum cerita ini benar-benar dimulai, ada satu hal yang harus kuakui: aku tidak pernah berniat menjadikan kupu-kupu hitam sebagai pusat cerita ini. Ia seharusnya hanya lewat, sekilas, ringan, hampir tidak berarti, seperti detail kecil yang bisa dihapus tanpa mengubah apa pun. Pada draf awal, ia bahkan nyaris tak terlihat, hanya bayangan singkat di tepi kalimat pagi yang tenang. Tidak ada tanda, tidak ada maksud.
Namun entah sejak draf ke berapa, ia mulai kembali.
Bukan lebih besar, bukan lebih mencolok. Hanya… lebih tepat waktu.
Dan itu yang membuatku mulai ragu.
Mungkin kamu pernah mendengar hal semacam ini: tentang kupu-kupu hitam yang tidak sekadar singgah. Tentang sesuatu yang, di beberapa tempat, dianggap sebagai pertanda, meski tidak semua orang mau benar-benar mempercayainya.
Aku sendiri tidak pernah berniat mempercayai hal-hal seperti itu.
Setidaknya, tidak sebelum aku mulai menuliskannya.
Aku menulis tentang seorang remaja yang hidup tanpa benar-benar mengenal apa itu rumah. Ia tinggal bersama neneknya di ujung desa, berjualan kue, dan berhenti mengejar pendidikan karena keadaan. Hidupnya sengaja kubuat biasa saja, tidak terlalu bahagia, tetapi juga tidak terlalu tragis, seolah dengan menjaga semuanya tetap datar, aku bisa mengendalikan arah cerita ini.
Hari itu juga harusnya biasa.
Pagi datang pelan, seperti biasa. Ia membuka jendela, membiarkan udara masuk, dan di situlah kupu-kupu itu pertama kali benar-benar terlihat, hinggap sebentar di tepian kayu, diam, sebelum akhirnya terbang lagi tanpa jejak.
Aku sempat menghapusnya.
Kalimat itu terasa tidak perlu.
Aku menuliskannya ulang tanpa kupu-kupu, dan semuanya tetap berjalan… tetapi ada yang terasa kosong, seperti ritme yang terpotong setengah detik terlalu cepat. Aku mencoba lagi, menghapusnya untuk kedua kali, ketiga kali, sampai akhirnya aku menyerah.
Ia tetap tinggal.
Beberapa bagian setelah itu, ada sesuatu yang berubah. Bukan sesuatu yang langsung terlihat, melainkan celah kecil dalam rutinitas yang biasanya tetap. Neneknya berhenti sedikit lebih lama saat menuang teh. Gerak tangannya melambat, seolah waktu tidak lagi mengikuti tubuhnya dengan tepat.
Aku berhenti menulis di situ.
Cukup lama.
Seolah-olah jika aku tidak melanjutkan, perubahan itu tidak akan berkembang menjadi sesuatu yang lebih buruk.
“Ada yang aneh,” katanya suatu sore.
Aku menatap layar.
Kalimat itu tidak ada di draf sebelumnya.
“Apa?” tanyaku, lebih kepada diriku sendiri daripada padanya.
Ia tidak langsung menjawab. Pandangannya mengarah ke jendela.
“Kupu-kupu itu…” suaranya pelan, hampir ragu, “…sepertinya sering muncul.”
Aku ingin menuliskan bahwa itu hanya kebetulan. Bahwa tidak ada hubungan apa pun di antara hal-hal kecil yang terjadi. Tetapi jemariku tertahan di atas keyboard, dan untuk pertama kalinya, aku merasa penjelasan sederhana justru akan merusak sesuatu yang sedang terbentuk.
Sejak saat itu, aku mulai memperhatikan.
Bukan karena yakin, tapi karena tidak bisa lagi benar-benar mengabaikan.
Kupu-kupu itu muncul lagi. Tidak selalu jelas, kadang hanya bayangan di sudut adegan, kadang hanya disebut sepintas tanpa penekanan. Dan bersamaan dengan itu, hal-hal kecil mulai bergeser: kue yang tidak habis terjual, uang yang selalu terasa kurang, hari-hari yang berjalan sedikit lebih berat dari biasanya.
Masih bisa dijelaskan.
Masih bisa dianggap kebetulan.
Sampai akhirnya aku berhenti percaya pada kata itu.
Aku mencoba mengubahnya. Memindahkan kupu-kupu itu ke bagian yang tidak penting, ke waktu yang tidak memiliki konsekuensi. Namun setiap kali kupindahkan, cerita ini seperti menemukan jalan untuk mengembalikannya, ke dekat dia, ke dekat hal-hal yang perlahan mulai runtuh.
“Jangan ditulis lagi,” katanya tiba-tiba.
Aku terdiam.
Ini bukan lagi dialog yang kurencanakan.
“Kamu yang bikin dia datang,” lanjutnya.
Aku ingin menyangkal, tetapi kalimat itu menggantung begitu saja. Untuk pertama kalinya, aku tidak benar-benar yakin apakah aku yang menciptakan semuanya, atau hanya seseorang yang mengikuti sesuatu yang sudah lebih dulu terbentuk.
Neneknya jatuh sakit tanpa tanda yang dramatis. Hari itu terlalu biasa dan justru karena itu, perubahan kecil terasa lebih mengganggu. Cangkir teh dibiarkan penuh, tak tersentuh. Di tepinya, kupu-kupu itu hinggap, diam, seolah tidak pernah pergi.
Kali ini aku tidak menghapusnya.
Seolah-olah aku mulai mengerti bahwa menghapusnya tidak pernah benar-benar menghilangkannya.
“Kalau dia datang, berarti bakal ada yang pergi, ya?”
Aku berhenti.
Kalimat itu terlalu jujur.
Aku mencoba mengubahnya, menggantinya dengan sesuatu yang lebih ringan, lebih aman, tetapi setiap versi lain terasa palsu. Pada akhirnya aku membiarkannya tetap seperti itu, dan untuk pertama kalinya aku merasa cerita ini memilih kejujurannya sendiri.
Neneknya meninggal tanpa dramatisasi. Tidak ada kata-kata terakhir, tidak ada tangisan panjang, hanya keheningan yang datang terlalu cepat. Aku sempat mencoba menulis ulang adegan itu, menambahkan emosi yang lebih besar, tetapi setiap tambahan justru terasa tidak jujur.
Dan anehnya, kupu-kupu itu tidak ada di sana.
Seolah tugasnya sudah selesai.
Setelah itu, aku menulis dengan lebih hati-hati. Bukan untuk membuat cerita ini lebih baik, tetapi untuk mencegahnya menjadi lebih buruk. Aku menghindari kupu-kupu itu, bahkan menghindari kata “hitam” dalam kalimat-kalimatku.
Namun suatu malam, semuanya runtuh lagi.
Ia berjalan pulang dari toko bunga Fleurish, tempatnya bekerja, tempat yang seharusnya aman. Namun ketika aku membaca ulang adegan itu, kupu-kupu itu sudah ada di sana, hinggap di bahunya, seolah tidak pernah pergi.
Aku tidak ingat menuliskannya.
“Berhenti,” katanya.
“Kalau dia muncul lagi, jangan lanjut.”.
“Aku harus lanjut.”
“Kenapa?”
Aku terdiam cukup lama.
Kali ini jawabannya tidak lagi sederhana.
“Karena ini belum selesai.”
Kecelakaan itu tetap terjadi.
Aku menundanya, menggesernya, mencoba menulis jalan lain. Tetapi cerita ini selalu kembali ke titik yang sama. Kupu-kupu itu muncul lagi, lebih dekat dari sebelumnya, dan kali ini aku tidak bisa lagi berpura-pura bahwa aku masih mengendalikan arah.
Aku berhenti lama sebelum menuliskan benturan itu.
Lalu aku tetap menuliskannya.
Ia tidak mati.
Dan itu satu-satunya hal yang berhasil kupertahankan.
Di ruang rumah sakit yang terlalu putih, ia tidak lagi terlihat seperti tokoh yang menunggu. Ada sesuatu dalam cara ia menatap, sesuatu yang sadar.
“Kamu juga lihat polanya, kan?” katanya.
Aku tidak menjawab.
“Kupu-kupu itu nggak pernah salah.”
“Itu cuma cerita,” kataku.
Ia tersenyum tipis.
“Kalau cuma cerita… kenapa kamu nggak bisa mengubahnya?”
Aku tidak punya jawaban.
Di bagian akhir, aku mencoba sekali lagi. Aku menulis bahwa hidupnya mulai membaik, bahwa ia belajar menerima, bahwa semuanya perlahan pulih. Untuk sesaat, aku hampir percaya pada akhir itu.
Lalu kupu-kupu itu muncul lagi.
Tidak bergerak. Tidak mencolok. Hanya ada.
Aku berhenti.

