Seperti Plankton
Qowi Yatul Sholiyah. Biasanya dipanggil Qowi atau Liya. Tumbuh di antara kata-kata, tapi nggak pernah benar-benar ingin terikat oleh satu makna saja. Lebih suka membiarkan kalimat berjalan bebas, kadang sederhana, kadang berisik di kepala sendiri. Menulis bukan soal terlihat hebat, tapi soal jujur tentang apa yang dipikirkan, dirasakan, atau bahkan yang nggak sempat diucapkan. Selebihnya, masih belajar. Dan mungkin, akan terus begitu. Salam Kenal….
Bagaimana sebenarnya rupa sebuah kehadiran itu? Apakah ia harus terdengar seperti suara yang lantang di ruang-ruang penuh manusia? Ataukah ia harus tampak seperti sosok yang selalu berada di depan, mudah dikenali, mudah diingat? atau mungkin, kehadiran itu hanya dianggap sah jika ia mampu meninggalkan jejak yang bisa disebut, dihitung, dan dipuji? Aku tidak tahu, dan mungkin, justru karena ketidaktahuan itulah aku mulai menulis kisah ini.
Sebab ada seseorang yang sejak awal terasa seperti tidak pernah benar-benar ada menurut ukuran-ukuran itu. Ia tidak menguasai percakapan, tidak mengisi ruangan dengan tawa, bahkan seringkali terlupakan sebelum sempat disebut. Namun anehnya, setiap kali aku mencoba menghapusnya dari cerita ini, selalu ada sesuatu yang hilang seperti udara yang tiba-tiba menjadi lebih tipis, seperti ruang yang tetap berdiri tetapi kehilangan napasnya
Aruna duduk di barisan paling belakang atau setidaknya, begitulah aku menuliskannya. Aku menuliskan semua ini tentang Aruna dengan sangat sadar seolah-olah aku sedang membangun seorang tokoh yang memang ditakdirkan untuk tidak menonjol. Aku bisa saja membuatnya duduk di depan, menjadi mahasiswi aktif yang penuh percaya diri, tapi tidak. Aku memilih menaruhnya di belakang, di tempat yang hampir tak terlihat, seperti banyak tokoh lain yang biasanya hanya lewat begitu saja dalam sebuah cerita.
Namun, saat kalimat ini selesai, ada perasaan aneh seolah Aruna tidak sepenuhnya diam di dalam tulisan ini. Seolah ia mulai membaca dirinya sendiri.
Kalimat itu seperti gema yang memantul di dinding kepalanya. Aruna merasa hidupnya adalah sebuah draf kasar yang ditulis orang lain. Ia masuk ke jurusan sastra karena nilai rapornya hanya aman di sana. Ia masuk organisasi karena tidak enak hati menolak. Bahkan di rumah, ia adalah anak tengah yang sering lupa ditanya ingin makan apa. Ia adalah figuran dalam film hidupnya sendiri.
Di sini aku berhenti sebentar. Karena kalimat itu figuran dalam film hidupnya sendiri terasa terlalu jujur. Seolah bukan hanya aku yang menuliskannya, tapi Aruna yang mulai menyadarinya. Dan jika itu benar, maka sejak titik ini, cerita ini tidak lagi sepenuhnya berada di bawah kendaliku.
Hari itu, suasana hati Aruna semakin keruh. Ayahnya, dengan nada yang tidak memberi celah untuk bantahan, baru saja menetapkan masa depannya. “Setelah lulus, kamu magang di kantor distribusi Om Heru. Sastra ini… yah, anggap saja masa pencarian jati diri yang sudah selesai.” Ibunya hanya mengangguk pelan, sibuk dengan piringnya. Aruna merasa dadanya menyempit. Ia bukan marah karena dilarang jadi penulis, tapi ia marah karena dirinya dianggap sebagai benda yang bisa dipindahkan dari satu laci ke laci lain tanpa perlu izin.
Aku tetap menuliskan semuanya persis seperti yang terjadi. Tapi di saat yang sama, aku mulai merasa bahwa Aruna tidak hanya mengalami konflik dengan ayahnya ia juga mulai berhadapan dengan sesuatu yang lebih besar: garis cerita yang sudah ditentukan untuknya.
Di tengah perasaan sesak itu, langkah kaki Aruna membawanya kembali ke ruang kelas yang sudah kosong. Ia ingin menyendiri. Namun, matanya tertuju pada papan tulis. Di pojok kanan bawah, seseorang telah menuliskan sebuah kalimat dengan kapur putih yang nyaris habis.
Plankton hidup tanpa arah, tapi tanpa plankton laut akan mati.
Kalimat itu kutuliskan untuknya. Tapi saat Aruna membacanya, reaksinya terasa bukan milikku.
Aruna terpaku. Ia mendekat, menyentuh debu kapur itu dengan ujung jarinya. Selama ini ia benci disebut plankton oleh teman-temannya makhluk mikroskopis yang hanya hanyut terbawa arus. Namun, kalimat anonim itu menawarkan perspektif lain bahwa menjadi kecil bukan berarti tidak berarti.
Aku mulai ragu…
Apakah benar aku yang menulis kalimat itu?
Atau cerita ini mulai menuliskan dirinya sendiri?
Saat ia sedang termangu, pintu kelas terbuka pelan. Elian, mahasiswa Seni Rupa tingkat akhir yang dikenal pendiam dan sering terlihat menggambar di sudut-sudut kampus, muncul. Aruna tersentak. Mereka jarang bicara, hanya sering mencuri pandang di kantin atau perpustakaan. Ada sesuatu pada Elian yang membuat Aruna merasa diperhatikan, meski dalam diam.
Elian nampak sedikit terkejut melihat Aruna. Ia tidak mendekat, hanya berdiri di ambang pintu, menatap papan tulis, lalu menatap Aruna. “Tulisannya bagus, ya,” ucap Elian datar, tapi ada nada hangat di suaranya. Aruna hanya mengangguk pelan, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Elian tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menundukkan kepala sedikit, sebuah isyarat pamit yang sopan, lalu berbalik dan pergi. Aruna menatap punggung Elian yang menjauh, bertanya-tanya apakah pertemuan itu hanya kebetulan.
Jujur saja, Elian bukan rencana awal.
Aku tidak tahu kapan tepatnya ia masuk ke dalam cerita ini. Tapi sejak ia muncul, arah cerita terasa berubah. Dan yang lebih aneh Aruna tampak memilih untuk memperhatikannya.
Dua hari kemudian, Aruna memutuskan untuk pergi. Ia mendaftarkan diri dalam proyek penelitian Sastra Lisan di Teluk Sunyi, sebuah desa nelayan di pesisir selatan Sulawesi. Perjalanan delapan jam itu membawanya ke sebuah rumah panggung yang kayu-kayunya sudah memutih karena garam laut. Di sanalah Mak Surti tinggal, seorang Pasinrilik terakhir di desa itu.
Aku menuliskan perjalanan ini sebagai titik perubahan, tetapi saat aku sampai di bagian ini, aku merasa seperti hanya mencatat sesuatu yang memang harus terjadi.
Udara di teras rumah itu terasa asin dan lembap saat Aruna pertama kali duduk bersila di atas tikar pandan yang anyamannya mulai terlepas. Di hadapannya, Mak Surti sedang memeluk keso-keso miliknya sebuah instrumen dari kayu nangka dan kulit hewan yang menghitam dimakan usia. Dalam tradisi Makassar, Sinrilik bukan sekadar dongeng. Ini adalah seni tutur lisan yang sakral.
Dulu, Pasinrilik dipanggil dalam upacara-upacara penting pelepasan pelaut, perayaan panen, bahkan ritual penyembuhan. Bait-baitnya, yang dilantunkan dengan irama melankolis dan seringkali terdengar seperti ratapan, diyakini mampu menghubungkan dunia manusia dengan roh leluhur dan penguasa laut. Tapi sekarang, gesekan keso-keso itu lebih sering terdengar sebagai lagu duka kesendirian.
Mak Surti tidak langsung bicara. Jemarinya yang keriput mulai menggesek busur dawai. Suara yang keluar parau, menyayat, terdengar seperti isakan yang tertahan di tenggorokan. Aruna terdiam, merasakan getaran musik itu merambat dari lantai kayu ke telapak kakinya.
“Kau tahu, Nak,” suara Mak Surti memecah kesunyian, lebih rendah dari gesekan dawainya. “Dalam Sinrilik, suara-suara yang kulantunkan itu tidak pernah merasa sendirian, tapi mereka sangat kesepian. Mereka terjebak dalam kata-kata yang orang kota anggap hanya sebagai hiburan.”
Di sini aku berhenti lagi, karena suara Mak Surti terasa terlalu hidup untuk sekadar kutipan.
Mak Surti mulai melantunkan bait-bait dalam bahasa Makassar yang kental, sebuah Sinrilik Cappala tentang duka. Ia bercerita tentang seorang pelaut yang kapalnya pecah dihantam badai di Selat Makassar. Aruna mendengarkan bagaimana intonasi suara Mak Surti naik saat menceritakan amukan ombak, lalu tiba-tiba meluruh menjadi bisikan saat menceritakan sang pelaut yang memegang sepotong kayu sambil menyebut nama istrinya di rumah.
“Dulu,” lanjut Mak Surti, “setiap bait ini adalah napas. Jika ada orang hilang di laut, kami menyanyikannya agar arwahnya menemukan jalan pulang. Tapi sekarang, anak-anak muda datang hanya untuk merekam, menaruhnya di dalam kotak plastik kecil itu, lalu menyebutnya ‘tugas kuliah’. Mereka mengambil suaraku, tapi mereka tidak mengambil sakitnya.”
Aku menyadari sesuatu di titik ini, aku tidak lagi mengendalikan emosi dalam cerita ini.
Aruna menatap mata Mak Surti yang tertutup selaput putih katarak. Di sana, ia melihat bayangan masa lalu. Mak Surti bercerita tentang anaknya, satu-satunya pewaris keso-keso itu, yang memilih pergi ke kota untuk menjadi buruh pabrik karena merasa tradisi ini tidak memberinya makan. Anaknya tewas dalam kecelakaan kerja yang tak pernah diusut. Sejak hari itu, Mak Surti tidak pernah lagi melantunkan Sinrilik kepahlawanan. Ia hanya menyanyikan kesedihan.
“Sinrilik itu seperti laut,” gumam Mak Surti lagi. “Orang-orang hanya melihat permukaannya yang biru, tapi mereka takut menyelam ke dasarnya yang gelap. Padahal di dasar itulah semua jawaban berada. Kamu… kamu punya mata yang mau menyelam, Aruna. Jangan pernah takut menjadi laut yang tenang, Nak. Ombak itu bersuara keras, tapi ia akan pecah saat membentur karang. Laut yang tenang… ia menampung segalanya tanpa bersuara, dan itulah yang membuatnya abadi.”
Malam semakin larut di Teluk Sunyi. Lampu petromaks di sudut ruangan mulai berkedip kehabisan minyak. Mak Surti terus bercerita tentang bagaimana ia sering terbangun di tengah malam dan merasa dunia ini sangat bising tapi tak ada satu pun suara yang benar-benar memanggil namanya. Aruna meraih tangan Mak Surti yang gemetar, kasar dan dingin.
Di saat itulah, Aruna belajar sesuatu yang paling berharga. Ia belajar bahwa kekuatan terbesar bukanlah pada seberapa keras kita berteriak atau seberapa cepat kita berlari, melainkan pada kemampuan untuk diam, mendengar, dan menjadi ruang bagi duka yang tak terkatakan. Ia menyadari bahwa orang-orang yang merasa kecil seperti dirinya justru memiliki ruang paling luas untuk menyimpan hal-hal besar yang diabaikan oleh orang lain.
Di titik ini, aku tidak lagi menulis Aruna sebagai figuran. Ia sudah mengambil tempatnya sendiri.
Kembali dari Teluk Sunyi, Aruna adalah pribadi yang berbeda. Ia tidak lagi menundukkan kepala. Ia mengerjakan laporannya bukan sebagai tugas, melainkan sebagai sebuah amanah dari Mak Surti. Ia menuliskan setiap nada, setiap isakan, dan setiap kata Mak Surti dengan penuh hormat, mencoba menyampaikan rasa kesepian itu ke dalam tulisan.
Sore terakhir sebelum wisuda, Aruna berdiri di tepi sungai yang membelah kotanya. Ia melihat sampah plastik yang hanyut, juga daun-daun kering yang pasrah dibawa air. Ia teringat fakta biologi: Plankton adalah produsen oksigen terbesar di bumi, jauh melampaui pohon-pohon raksasa. Mereka kecil, tak terlihat, dan sering dianggap sampah laut, tapi mereka adalah napas bagi planet ini.
Aku sempat ingin mengubah akhir ini, membuatnya lebih dramatis, tapi Aruna tidak membutuhkannya.
Aruna menatap pantulan dirinya di air sungai. Ia bukan lagi Aruna yang tidak punya pilihan. Sekarang ia adalah Aruna yang memilih untuk menjadi tenang di dunia yang terlalu bising. Ia adalah Aruna yang tahu bahwa kehadirannya, sekecil apa pun, adalah bagian penting dari napas semesta.
Saat ia hendak membalikkan badan, ia melihat seseorang berdiri tak jauh darinya. Elian. Di tangannya ada sebuah buku gambar. Elian mendekat perlahan. “Aku dengar perjalananmu ke Teluk Sunyi sangat berarti,” ucapnya, suaranya setenang aliran sungai di bawah mereka.
Aruna tersenyum, kali ini sebuah senyum yang tulus. “Iya, sangat berarti. Aku belajar banyak hal.”
Elian menatap Aruna lama, lalu membuka buku gambarnya. Di halaman yang terbuka, ada sebuah sketsa seorang perempuan berdiri di atas rumah panggung, memegang keso-keso, dan di sekelilingnya, ribuan titik kecil bersinar, layaknya plankton di laut malam.
“Plankton itu… mereka tidak selalu harus terbawa arus tanpa tujuan, Aruna,” kata Elian, matanya lurus menatap mata Aruna. “Kadang-kadang, mereka adalah arus itu sendiri. Dan aku suka plankton yang bersinar di tengah kegelapan.”
Di sini akhirnya aku mengerti, mungkin kalimat di papan tulis itu bukan sepenuhnya milikku, mungkin sejak awal, cerita ini tidak pernah benar-benar aku kendalikan.
Jantung Aruna seakan berhenti berdetak sejenak. Getaran hangat mengalir ke seluruh tubuhnya. Ia menatap sketsa Elian, lalu menatap Elian. Tanpa perlu kata-kata, ia tahu. Dan di detik itu, ia juga tahu, siapa yang telah menuliskan kalimat itu di papan tulis. Elian tidak mengakuinya secara langsung, tapi sketsa dan kata-katanya adalah penegasan yang lebih dari cukup.
Aruna tersenyum, bukan senyum yang pasrah, melainkan senyum yang penuh keyakinan. Ia adalah Aruna, si plankton yang akhirnya menemukan arahnya sendiri, tidak dengan menjadi besar dan bersuara keras, tapi dengan tetap kecil, diam, namun mampu menerangi kegelapan dan memberi napas bagi dunia. Jika dunia adalah lautan, maka ia bangga menjadi bagian terkecilnya, karena tanpa dirinya, laut dan orang-orang di dalamnya akan kehilangan cara untuk bernapas dengan lega. Ia membalikkan badan, berjalan menjauh dari sungai dengan langkah yang mantap, tidak lagi sendirian, tapi dengan keyakinan yang baru di dalam dada.
Dan aku…?
Aku hanya menuliskan akhir ini.
Atau mungkin hanya menyadari bahwa Aruna sudah selesai menuliskannya sendiri.

