Gerobak Di ujung Gang
Wilda Yani merupakan mahasiswi semester enam Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Ia memiliki minat besar dalam dunia kepenulisan dan aktif mengembangkan keterampilan literasi serta kreativitas selama masa studi. Dengan latar belakang sastra dan keguruan, Wilda berupaya menggabungkan kecintaannya pada menulis dengan pengembangan pendidikan untuk mendukung literasi di masa depan. Instagram: ywlld_ | Kontak: 083827617540
Pagi di perkampungan kecil itu selalu dimulai dengan cara yang hampir sama. Jalan tanah di depan rumah masih basah oleh embun, dan suara ayam bersahut-sahutan dari halaman tetangga. Dari dapur rumah sederhana itu sudah mulai tercium bau nasi yang dimasak, sementara beberapa orang berjalan menuju pasar membawa keranjang plastik.
Aku menatap layar laptopku cukup lama sebelum menulis kalimat pertama.
Pagi di perkampungan kecilku selalu dimulai dengan suara ayam dan derit gerobak kayu yang didorong bapak melewati jalan tanah.
Aku berhenti. Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa terasa berat. Seolah di dalamnya sudah ada sebuah kehidupan yang sedang menunggu untuk diceritakan.
Aku sedang menulis cerpen tentang seorang anak perempuan bernama Renjana. Awalnya ini hanya tugas menulis cerpen biasa. Aku hanya ingin membuat cerita tentang seorang anak desa yang harus berhenti sekolah karena keadaan ekonomi.
Cerita seperti itu tidak jarang. Bahkan mungkin terlalu sering terjadi.Tapi semakin lama aku menulis, Renjana terasa seperti bukan sekadar tokoh yang kubuat. Ia seperti seseorang yang benar-benar pernah hidup di perkampungan itu. Aku mengetik lagi.
Namaku Renjana.
Jari-jariku berhenti lagi di atas keyboard. Aneh sekali. Seperti bukan aku yang memperkenalkan dia, tapi dia sendiri yang sedang bicara melalui tulisan ini. Aku menarik napas pelan, lalu mulai menulis lagi.
Pagi di perkampungan kecilku selalu dimulai dengan suara ayam dan derit gerobak kayu yang didorong bapak melewati jalan tanah. Rumah kami berdinding papan dengan cat yang sudah mengelupas di banyak tempat. Kalau hujan turun, atap sengnya berbunyi keras seperti dipukul-pukul dari atas.
Namaku Renjana.
Aku tinggal berdua dengan bapak. Ibu sudah lama meninggal karena sakit yang datang perlahan dan pergi dengan cara yang terlalu cepat. Dulu aku masih sekolah. Masih memakai seragam putih abu-abu setiap pagi, berjalan kaki bersama teman-teman menuju sekolah yang jaraknya hampir dua kilometer dari rumah. Aku suka duduk di bangku depan. Aku suka mencatat pelajaran dengan rapi. Dan diam-diam aku punya mimpi yang sederhana: kuliah di kota dan membuat bapak berhenti bekerja.
Aku berhenti mengetik. Cerita ini mulai terasa terlalu nyata. Di kepalaku muncul bayangan seorang anak perempuan yang berdiri di depan rumah papan dengan tas sekolah di punggungnya.
“Jangan buat aku terlihat terlalu bahagia di awal,” suara kecil seperti muncul di kepalaku.
Aku mengerutkan kening. Aku tahu itu hanya perasaanku sendiri, tapi rasanya seperti Renjana sedang berbicara.
“Baiklah,” gumamku pelan.
Aku kembali mengetik.
Ibu mulai sering sakit ketika aku kelas dua SMA. Awalnya hanya batuk dan demam ringan. Tapi lama-lama tubuhnya semakin lemah. Bapak membawanya ke puskesmas, lalu ke rumah sakit.
Setiap pulang dari rumah sakit, bapak selalu membawa amplop berisi kuitansi. Aku tidak pernah melihat jumlahnya. Tapi aku bisa melihat dari wajah bapak bahwa itu tidak sedikit. Tabungan kami habis perlahan-lahan.
Sampai akhirnya ibu meninggal.Rumah kami yang kecil tiba-tiba terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.
Tanganku berhenti.
Aku menatap layar cukup lama .Aku tahu bagian berikutnya dari cerita ini. Bagian yang bahkan ketika kutulis, rasanya seperti menekan sesuatu di dada. Cerita ini mulai terasa terlalu nyata.
Aku mengetik bagian berikutnya dengan pelan.
Beberapa minggu setelah ibu meninggal, aku membuat keputusan yang tidak pernah benarbenar ingin kuambil.
Aku berhenti sekolah.
Hari terakhir aku datang ke kelas, aku mengemasi buku-buku pelajaran dengan tangan yang terasa lebih berat dari biasanya. Wali kelasku menatapku lama.
“Sayang sekali kalau kamu berhenti, Renjana. Nilaimu bagus.” Aku hanya tersenyum kecil.
Kadang hidup tidak memberi kita pilihan yang baik. Hanya pilihan yang paling mungkin.
Aku berhenti lagi.
Di kepalaku, Renjana terlihat berdiri di gerbang sekolah untuk terakhir kkalinya Ada sesuatu yang menyesakkan di adegan itu.
“Jangan buat aku terlihat seperti menyerah,” suara itu muncul lagi.
Aku menghela napas.
“Aku tidak membuatmu menyerah,” kataku pelan pada layar laptopku.
“Aku hanya menuliskan apa yang ada difikiran ku.” Aku melanjutkan cerita.
Sejak berhenti sekolah, aku membantu bapak berjualan sayur. Setiap pagi kami pergi ke pasar sebelum matahari terbit. Bapak memilih sayur-sayur yang masih segar, sementara aku menyusun keranjang di atas gerobak.
Siang hari kami berkeliling kampung.
Kadang aku bertemu teman sekolah yang pulang dengan seragam mereka. Beberapa dari mereka menyapaku dengan canggung. Beberapa hanya lewat tanpa berkata apa-apa.
Awalnya aku merasa malu. Tapi lama-lama yang tersisa hanya rasa rindu pada bangku kelas.
Aku membaca ulang paragraf itu. Cerita ini semakin terasa seperti kehidupan seseorang yang nyata. Aku tahu bagian berikutnya harus datang yaitu kesempatan kedua. Aku mulai mengetik dengan pelan.
Suatu siang yang panas, wali kelasku datang ke rumah. Ia duduk di kursi plastik yang sandarannya sudah retak.
Ia bilang sekolah sedang mencari siswa yang bisa dibantu melalui program beasiswa dari donatur.Namaku masih diingat karena nilai-nilaiku dulu cukup baik.Kalau aku mau kembali sekolah, biaya akan dibantu.
Aku menatap bapak waktu itu. Ia terlihat kaget, tapi juga seperti memikirkan sesuatu.
“Kalau kamu mau sekolah lagi, lanjutkan saja,” kata bapak akhirnya.
Saat menulis bagian itu, dadaku terasa sedikit lebih ringan. Di kepalaku, Renjana seperti menghela napas panjang. Cerita terus berjalan.
Aku kembali sekolah.
Rasanya agak aneh di awal, karena sempat berhenti. Tapi aku mencoba mengejar pelajaran yang tertinggal. Aku belajar lebih serius dari sebelumnya.
Beasiswa itu terus berlanjut sampai aku lulus SMA.Dari situ aku mendapat kesempatan melanjutkan kuliah di kota lain. Dan Untuk pertama kalinya aku harus meninggalkan kampung dan bapak.
Aku menulis tentang perpisahannya dengan bapak di depan rumah kecil mereka. Tentang bus tua yang membawanya pergi merantau. Tapi ada satu bagian yang membuat tanganku berhenti lama sekali.
Bagian tentang sakit bapaknya.
“Tidak harus begitu, kan?” suara Renjana terdengar pelan di kepalaku.
Aku menatap layar laptopku.
“Kadang hidup memang seperti itu,” jawabku pelan.
“Kenapa semua orang harus pergi?” Aku tidak menjawab.
Aku menarik napas panjang.
Lalu aku tetap mengetik.
Di kota, hidup tidak selalu mudah. Aku harus belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Kadang aku juga bekerja paruh waktu untuk menambah uang makan. Bapak tetap berjualan sayur di kampung. Setiap kali kami berbicara lewat telepon, ia selalu bilang semuanya baik-baik saja.
Aku percaya.
Tanganku terasa semakin berat.
Aku mengetik kalimat berikutnya perlahan.
Sampai suatu hari aku pulang dan melihat bapak terlihat lebih kurus dari biasanya.
“bapak sakit, Pak?” tanyaku.
“biasa Cuma capek sedikit,” jawabnya.
Tanganku berhenti.
Aku tahu bagian terakhir dari cerita ini. Aku mengetiknya perlahan.
Beberapa bulan kemudian, aku mendapat kabar bahwa bapak dirawat di rumah sakit.
Di sana aku baru tahu bahwa ia sudah lama sakit. Ia tidak pernah benar-benar menceritakannya padaku. Aku bertanya kenapa ia menyembunyikannya.
Bapak hanya bilang ia tidak ingin aku berhenti kuliah atau pulang sebelum menyelesaikan apa yang sudah kuperjuangkan.
Aku berhenti mengetik. Mataku terasa panas.Aku tahu bagian berikutnya dari cerita ini. Dan aku tahu itu akan menyakitkan.
Aku mengetik kalimat itu perlahan.
Beberapa hari kemudian, bapaknya Renjana meninggal.
Aku berhenti. Layar laptop sunyi. Kursor berkedip pelan.
Aku menarik napas dan mulai menulis bagian penutup.
Sekarang aku sudah bekerja dan bapak tidak dapat mencicipi hasil kerja keras ku sekarang, aku sering pulang ke perkampungan kecil itu. Rumah bapak yang dulu kami tempati sedikit demi sedikit sudah ku perbaiki. Gerobak kayu bapak masih kusimpan di samping rumah Tiba-tiba sebuah huruf muncul di layar.
Aku tidak mengetiknya.
Aku membeku. Huruf lain muncul. Kalimat perlahan terbentuk.
Namaku Renjana.
Tanganku masih berada di atas keyboard. Tapi aku tidak menyentuh apa pun.
Tulisan itu terus bertambah.
Aku tahu kamu sedang menulis ceritaku.
Terima kasih sudah menceritakan hidupku.
Tentang ibu, Tentang sekolah., Tentang gerobak bapak.
Aku menelan ludah.
Jantungku berdegup lebih cepat. Tulisan di layar terus bergerak. Tapi bagian akhirnya… biarkan aku yang menulisnya.
Aku mencoba menekan tombol keyboard.
Tidak ada yang berubah. Tulisan itu terus berjalan.
Bapak memang sudah pergi. Tapi aku masih di sini.
Aku masih berjalan melewati gang kecil itu setiap kali pulang ke kampung.
Gerobak kayu itu masih ada di samping rumah.
Pegangannya sudah halus karena sering didorong bertahun-tahun.
Kalimat terakhir muncul perlahan.
Ini bukan lagi ceritamu.
Ini ceritaku.
Kursor berhenti berkedip.
Layar laptopku sunyi.
Dan untuk pertama kalinya sejak cerita ini dimulai…
Aku merasa Renjana benar-benar ada.ss

