Puisi-Puisi Siti Nur Azizah
Siti Nur Azizah adalah mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2024 yang tengah belajar secara perlahan memahami diri dan sekitarnya melalui kata-kata. Ia menulis dengan berangkat dari hal-hal kecil yang ia rasakan, hal-hal yang kerap luput untuk diucapkan secara langsung. Melalui tulisannya, ia berharap dapat menghadirkan ruang yang hangat, tempat pembaca merasa ditemani dan dipahami.
Ada Apa Dimasa Depan?
Seperti halnya senja di penghujung hari, yang terasa indah, mempesona, serta merta memanjakan mata. Namun, tak lama kunikmati keindahannya, sebab mentari berganti tugas pada sang bulan. Dengan itu, harus pula kutemui malam gelap gulita nan menakutkan.
Aku takut jika harus melewati malam panjang sendirian, seperti halnya bulan tanpa bintang- bintang yang menemaninya. Hatiku risau memikirkan apa yang akan kutemui di sana. Akankah perjalanan siangku dapat membantuku di tengah kegelapan?
Akhir perjalanan pendidikan akan segera kutemui. Beribu kemungkinan pertanyaan muncul dalam benakku. Bagaimana nilaimu? Apa pekerjaanmu? Apa kau akan menikah setelah lulus? Bagaimana kau akan melanjutkan hidupmu? Karier apa yang akan kaubangun? Sungguh pening kepala ini, apa yang harus kujawab? Padahal, harapan orang tuaku pun belum kugapai. Tapi aku sudah dihujani beribu pertanyaan manusia-manusia itu.
Terkadang aku bingung, apakah hal yang kulakukan sebelumnya dapat membantuku? Apakah langkahku selama ini berarti? Bahkan aku pun meragukan diriku sendiri. Apa-apaan ini, harusnya kukerjakan skripsi, bukan memikirkan mulut pisau yang diberi cabe itu.
Di Ujung Kesempatan
Hujanan ribuan tanya menghantui pikiran. Lembar demi lembar seolah menggantungkan kehidupan. Raga terbaring di lantai dingin berdebu, sementara jiwa terseret pusaran angin yang tak berarah. Hidup kehilangan tenang, terjebak pada bayang ujung yang belum pasti. Tangan menyisir setiap kantung, berharap tersisa secuil kesempatan—sekadar untuk bertahan, hingga napas benar-benar enggan pulang.
Mengenyam ilmu hingga ke negeri jauh, nyatanya hanya menjadi angan yang menggantung. Bagi ia yang terbelah oleh beban, menyusun satu langkah saja terasa mustahil. Kini berdiri di ujung kesempatan, antara menyelesaikan atau melepaskan segalanya. Perlahan, ia menjelma bayang—hidup, namun terasa telah tiada.
Harmoni yang ku rindu
Kepala memutar melodi harmoni,
Sayup suara sore terasa ramai.
Hangat hadir di hati ini,
Bersuka cita, merajut mimpi.
Ritme mereda, sebab radio retak,
Lantas nyata mengetuk benak.
Sekejap sadar sunyi merebak,
Aku sendiri, tak lagi serempak.
Jauhku berjalan di tanah orang,
Melangkah lirih sepanjang petang.
Meninggalkan tawa yang pernah riang,
Dan memikul pilu yang datang berulang.
Menetes rindukuu dari kelopak mata,
Perih pedih perlahan terasa.
Kutahan gelisah yang menggema,
Rasa bahagia tinggal bayang semata.
Meski raga merantau jauh,
Hati tertambat di rumah yang teduh.
Sunyi senyap sesak membuat runtuh,
Merindu rumah tempat tumbuh yang utuh.
Bayang Trauma
Hati yang pernah tenggelam dalam lautan trauma,
Takkan mudah membuka ruang untuk dihuni,
Engkau akan di larang masuk–
Bukan karena tak dibutuhkan.
Sebab sejatinya hatiku perlu penghuni,
Tapi butuh waktu lama untuk sembuh dari luka,
Yang membuatku merasa terlalu takut—
Untuk membuka hatiku kembali
Tempo
Kurangi Kecepatan…
Kehidupan bukan jalan tol,
Yang dapat kau lalui tanpa tujuan.
Meski banyak rintangan,
Tujuan akan membawamu—
Pada kepuasan dalam kehidupan

