Kecerdikan Seorang Guru Ngaji
Suasana sore terasa lebih sejuk berkat lantunan ayat-ayat suci dari sebuah mushola kecil di pinggir jalan. Aqil adalah seorang pemuda berusia 25 tahun yang setiap sore selalu mengajar mengaji di mushola tersebut. Muridnya tak banyak, hanya berkisar 5 sampai 6 orang per hari yang datang untuk mendapatkan pengajarannya.
“Mas Aqil,” Seorang pria paruh baya memanggil Aqil, saat ia sedang berjalan di depan sebuah gedung TPQ yang letaknya kurang lebih 200 meter dari musholla.
“Baru pulang ngajar ya?” Tanya pria tersebut sembari mendekat menghampiri Aqil.
“Iya pak Ustad,” jawab Aqil dengan gerakan menundukkan kepala yang menunjukkan rasa hormatnya kepada pria tersebut.
Pria paruh baya tersebut adalah Ustad Anam, seorang pemilik TPQ yang menaungi 30 sampai 40 murid yang belajar mengaji tiap harinya. Meski muridnya jauh lebih banyak daripada Aqil, beliau kerap merasa tersaingi olehnya.
“Muridmu itu bisa dihitung jari mas,” ucap Ustad Anam dengan raut wajah meremehkan. “Mending berhenti aja ngajarnya mas.”
Aqil hanya mengukir senyum atas ucapan yang sudah dia dengar berulang kali. Meski sudah bosan menanggapinya, tapi demi menjaga adab, Aqil tetap berusaha memberi tanggapan yang sehangat mungkin.
“Kasian pak Ustad sama mereka yang masih mau ngaji kalau saya berhenti ngajar,” ucap Aqil dengan senyum yang masih terukir di wajahnya.
Mendengar jawaban Aqil yang selalu demikian, Ustad Anam hanya terdiam sembari memalingkan wajahnya dan kembali masuk ke gedung TPQ-nya. Aqil memang tidak pernah merasa peduli tentang seberapa banyak muridnya, karena baginya apabila ada yang datang padanya untuk belajar mengaji, maka ia berkewajiban untuk mengajarinya.
***
Suatu malam selepas jamaah Isya’, Aqil mendengar suara bising-bising dari samping Musholla. Kebisingan tersebut ternyata berasal dari sebuah gardu bambu yang baru saja didirikan di sebuah lahan yang sebelumnya merupakan kebun singkong, namun kini lahan tersebut hendak di jual karena belum lama ini pemiliknya pindah ke luar kota.
“Maaf bapak-bapak,” ucap Aqil dengan nada sesopan mungkin pada 4 orang pria paruh baya yang sedang asyik bersenda gurau sembari bermain domino.
“Tolong suaranya jangan terlalu keras ya pak, soalnya kan di samping gardu ini musholla,” lanjut Aqil masih dengan nada yang dibuat sesopan mungkin.
“Kan waktu shalatnya sudah selesai mas,” sahut salah satu dari mereka.
“Betul pak, tapi rasanya tidak etis saja kalau di samping mushola ada kebisingan begini, apalagi sambil main domino,” Aqil menimpali dengan nada yang tetap sopan namun dengan raut wajah yang lebih serius.
“Kami kan main domino gak pake uang mas, jadi gak masalah dong, dan kalau soal bising yang penting kan gak di waktu shalat,” pria tersebut menyahuti kembali ucapan Aqil.
Aqil yang tidak mau berlanjut pada perdebatan yang justru menciptakan keributan akhirnya hanya mengangguk pelan mendengar sahutan tersebut. Langkah kakinya beranjak pergi dari hadapan gardu, meski pikirannya masih mencari cara supaya kebisingan tersebut dapat dihentikan tanpa menimbulkan keributan.
***
Sore hari ketika para murid sedang bersiap di sudut musholla untuk belajar mengaji, tiba-tiba Aqil mengajak mereka untuk mengaji di gardu samping. Saat sore hari gardu keadaan gardu tersebut memang sepi, karena biasanya hanya di tempati oleh bapak-bapak selepas Isya’.
“Mulai hari ini kita mengajinya disini saja ya,” ucap Aqil pada para muridnya sembari mengambil posisi duduk di gardu bambu. “Supaya lebih sejuk, dan menyatu dengan alam.”
Ayat-ayat suci mulai dilantunkan dengan merdu. Aqil memejamkan mata untuk meresapi bacaan para muridnya, sembari sesekali membenarkan apabila terdapat bacaan yang kurang tepat.
Setelah satu jam berlalu, proses belajar mengaji telah usai. Aqil menyuruh para murid kembali ke musholla untuk mengemasi barang-barangnya. Saat hendak beranjak dari gardu, tiba-tiba Aqil dicegat oleh Ustad Anam yang rupanya sejak tadi mengamatinya.
“Kenapa ngajarnya di gardu mas?” Tanya Ustad Anam sembari semakin mendekati Aqil.
“Iya pak Ustad,” jawab Aqil dengan senyum hangatnya. “Ini metode mengajar baru saya. Namanya ngaji di ruang alam.”
Mendengar jawaban tersebut, Ustad Anam hanya mengangguk pelan. Raut wajahnya menunjukkan bahwa beliau sedang berusaha keras memahami apa yang sedang Aqil lakukan.
2 minggu kemudian…..
Ustad Anam yang sebelumnya memang sudah merasa tersaingi, kini perasaan tersebut semakin meluap, karena melihat metode baru Aqil yang tampaknya banyak diperbincangkan oleh warga sekitar. Ruangannya di gedung TPQ menjadi tempat bagi beliau berpikir keras untuk menghentikan apa yang sedang dilakukan Aqil selama dua minggu ini.
“Saya mau beli lahan yang ada di samping mushola itu,” ucap Ustad Anam kepada bendahara TPQ yang dihubunginya melalui ponsel. “Lahan itu murah, bisa kita gunakan untuk membangun gedung baru supaya ekonomi TPQ kita meningkat.”
“Maaf pak Ustad,” sahut Bendahara dengan nada lirih. “Saya rasa membangun gedung baru yang hanya berjarak 200 meter tidak akan menghasilkan apapun bagi ekonomi kita, karena para murid di wilayah ini, pastinya sudah mengaji di TPQ kita yang sekarang.”
“Ya pokoknya beli saja, kita tanami singkong juga bisa nanti seperti pemilik sebelumnya.”
“Tapi pak…..”
“Ini perintah,” ucap Ustad Anam tegas memotong pembicaraan bendaharanya.
***
Setelah proses administrasi yang cukup rumit, akhirnya lahan yang terletak di samping mushola kini telah resmi menjadi milik TPQ Ustad Anam. Tanpa berlama-lama Ustad Anam langsung memerintahkan supaya lahan tersebut segera ditanami singkong dan gardu bambu yang berdiri di lahan tersebut harus segera dibongkar, karena memang tujuannya membeli lahan tersebut adalah untuk menghentikan Aqil mengajar ngaji dengan metode barunya. Namun, perintah Ustad Anam tersebut menuai protes dari bapak-bapak yang biasanya bersenda gurau sembari bermain domino selepas Isya’ di gardu tersebut.
“Pak Ustad,” ucap salah seorang bapak-bapak yang biasanya menempati gardu tersebut selepas Isya’. “Lahan di sekitar gardu kan masih luas, jadi janganlah gardu ini di bongkar.”
“Ya saya tidak mau tahu. Lahan ini sudah saya beli. Jadi tidak boleh ada bangunan liar di sekitarnya,” sahut Ustad Anam tegas pada mereka.
Akhirnya gardu tersebut dibongkar. Ustad Anam tersenyum lega, karena beliau merasa Aqil tidak lagi bisa menggunakan metode mengajarnya lagi. Namun, alih-alih merasa kecewa, Aqil justru juga menunjukkan senyuman di raut wajahnya. Hatinya merasa puas, karena yang selama ini ia resahkan telah berkesudahan.

