Menemukan Keluhuran di Balik Pengakuan: Analisis Cerpen “Saya Adalah Seorang Alkoholik!” dalam Perspektif Sublime Longinus
Bonaventura Risang Widyo Asmoro adalah mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Sanata Dharma. Ia tinggal di Yogyakarta dan memiliki minat besar pada kajian sastra, khususnya konsep keluhuran dalam karya. Ketertarikannya itu mendorongnya menulis esai tentang cerpen “Saya Adalah Seorang Alkoholik!” karya Djenar Maesa Ayu. Ig : @risang09
Karya sastra yang besar tidak hanya berfungsi untuk menghibur atau memberikan pelajaran moral yang dangkal, melainkan memiliki kapasitas untuk membawa pembacanya keluar dari dirinya sendiri menuju sebuah kondisi yang disebut sebagai keluhuran atau sublime. Dalam modul teori sastra ekspresivisme, Dionysius Longinus menekankan bahwa ukuran seni sastra yang sejati adalah peri hypsous (tentang keluhuran), yang bersumber dari kedalaman pemikiran dan intensitas perasaan pengarangnya. Melalui cerpen “Saya Adalah Seorang Alkoholik!”, kita diajak menyelami pergolakan batin seorang tokoh yang terjebak dalam dilema moral, ketergantungan, dan penyesalan mendalam. Dengan menggunakan kacamata Longinus, esai ini akan membedah bagaimana aspek-aspek keluhuran muncul di tengah narasi yang kelam dan “rendah” secara sosial, namun memiliki jiwa yang besar dalam kejujurannya.
Sumber Keluhuran: Daya Wawasan yang Agung
Longinus menyatakan bahwa prinsip pertama keluhuran adalah daya wawasan yang agung (grandeur of thoughts), yang muncul dari jiwa yang bebas dari pikiran rendah. Secara permukaan, cerpen ini berkisah tentang seorang alkoholik dan pelacur—subjek yang mungkin dianggap “rendah” oleh masyarakat borjuis. Namun, keluhuran dalam cerpen ini muncul dari keberanian tokoh utama untuk menghadapi realitas eksistensialnya.
Wawasan yang agung terlihat ketika tokoh tersebut merenungkan nasib janin-janin yang tidak pernah lahir—Banyuwangi, Bumiadji, Asmorodadi—yang ia personifikasikan sebagai anak-anak yang kehilangan hak untuk merasakan hujan dan musik. Pemikiran ini bukanlah pikiran seorang pendosa yang bebal, melainkan refleksi filosofis tentang hakikat kehidupan dan “menjadi manusia” . Kesadaran akan dosa dan tanggung jawab terhadap mahluk hidup lain menunjukkan bahwa di balik keterpurukannya, tokoh ini memiliki jiwa yang mampu menjangkau pemikiran-pemikiran besar tentang eksistensi.
Emosi yang Mulia dalam Kejujuran yang Menyakitkan
Prinsip kedua Longinus adalah emosi atau nafsu (passion) yang mulia. Dalam cerpen ini, emosi tersebut tidak mewujud dalam bentuk heroisme fisik, melainkan dalam bentuk kejujuran radikal. Puncak dari emosi yang mulia ini terjadi pada bagian akhir cerita, ketika narasi bergerak mundur (rewind) menuju titik awal pengakuan.
Ketika tokoh tersebut berkata, “!IHUNUBMEP GNAROES HALADA AYAS” (Saya adalah seorang pembunuh!), ia tidak sedang membual. Pengakuan ini adalah bentuk sublimasi dari rasa bersalah yang meluap-luap. Longinus berpendapat bahwa karya sastra yang baik muncul dari dorongan kuat yang mampu mengangkat pembaca ke tahap sublimasi. Ketegangan emosional yang dibangun sejak ia berlari keluar dari pertemuan “Alcoholics Anonymous” hingga keputusannya untuk masuk ke ruang operasi (aborsi) menciptakan efek katarsis yang mengguncang pembaca. Kejujuran untuk mengakui diri sebagai pembunuh, di tengah masyarakat yang penuh kepura-puraan, adalah sebuah bentuk keluhuran emosional.
Penyampaian Struktur yang Mengangkat Jiwa
Longinus juga menekankan pentingnya retorika yang unggul dan penggubahan yang mulia. Secara teknis, cerpen ini menggunakan teknik narasi “mundur” yang sangat efektif untuk menunjukkan bagaimana ingatan dan penyesalan bekerja. Struktur ini tidak hanya sekadar eksperimen bentuk, tetapi merupakan sarana untuk membawa pembaca “keluar dari dirinya sendiri”.
Deskripsi tentang hujan yang “kurang ajar”, dingin yang “mencabik-cabik”, dan visualisasi payung sebagai “lautan cendawan” menggunakan diksi dan metafora yang berkelas untuk membangun suasana batin yang mencekam . Penggunaan metafora ini sejalan dengan prinsip keluhuran Longinus tentang pengungkapan yang berkelas. Teknik narasi mundur memberikan efek “suka cita ilahi” (divine joy) dalam pengertian estetik; pembaca merasakan kepuasan intelektual sekaligus getaran emosional saat teka-teki batin tokoh tersebut terungkap helai demi helai.
Transformasi dan Sublimasi Universal
Bagi Longinus, tidak ada sastra tanpa transformasi (nothing is poetry unless it transports). Cerpen ini mentransformasi pembaca dari sekadar pengamat menjadi partisipan dalam rasa sakit sang tokoh. Keluhuran atau sublimasi sejati haruslah menyenangkan dan membawa sukacita bagi semua pembaca tanpa mengenal perbedaan ras, agama, atau bahasa. Meskipun cerpen ini menyakitkan, ia “menyenangkan” secara estetika karena keaslian (genuineness) dan kesungguhan hatinya (sincerity) dalam mengungkapkan visi kemanusiaan.
Tokoh utama dalam cerpen ini, meski berlabel pelacur dan alkoholik, mewakili otonomi manusia yang ditekankan dalam pandangan Rousseau: ia adalah pusat kehidupannya sendiri yang mencoba menemukan keunikan dirinya melalui pengakuan yang menyakitkan. Ia menolak untuk hanya menjadi “hamba yang takluk” dan memilih untuk menghadapi “hakim” dalam dirinya sendiri.
Penutup
Secara keseluruhan, cerpen “Saya Adalah Seorang Alkoholik!” memenuhi kriteria keluhuran Longinus melalui kepaduan antara pikiran yang agung, emosi yang kuat, dan struktur narasi yang memukau. Keluhurannya tidak terletak pada moralitas karakter yang sempurna, melainkan pada kreativitas jiwa pengarang yang mampu merasuki kata-kata dengan semangat yang menggetarkan. Melalui pengakuan “Saya adalah seorang pembunuh!”, teks ini mencapai puncak sublimasinya, mengingatkan kita bahwa sastra yang luhur adalah sastra yang berani menatap kegelapan manusia dengan mata telanjang, namun tetap menjaga keindahan bentuknya.

