Kopi di Ujung Tatapan
Fika Kurnialin merupakan seorang mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika di Universitas Sebelas Maret (UNS). Menulis cerita pendek adalah cara Fika untuk mengisi waktu luang, yang seringkali menjadi sarana efektif untuk menuangkan emosi dan membagikan gagasan atau pengalaman pribadinya. Ia percaya bahwa melalui cerpen, ia dapat terhubung dan berbagi cerita dengan orang lain.
Langit sore itu berwarna oranye keemasan, menetes lembut ke jendela kaca Aroma Beans Café, tempat yang sudah menjadi semacam pelarian bagiku sejak beberapa bulan terakhir. Suara grinder yang menderu, dentingan sendok di gelas, dan aroma kopi yang menyelimuti udara selalu berhasil menenangkan pikiranku yang kusut oleh rutinitas kuliah dan latihan voli.
Aku bukan penggemar kopi, sebenarnya. Tapi entah mengapa, ada sesuatu di tempat ini yang membuatku betah duduk berjam-jam di kursi pojok dekat jendela, sudut favoritku. Mungkin karena di sudut itu, aku bisa melihat semuanya tanpa terlihat. Termasuk dia.
Dia, barista dengan lengan kekar yang selalu tampak mengilap karena keringat lembut di bawah lampu kuning hangat. Setiap gerakannya terasa ritmis; dari menggiling biji kopi, mengetuk portafilter, sampai menuang espresso dengan tangan yang stabil. Namanya kutahu dari papan nama kecil di dada kirinya: Arka.
Sejak pertama kali aku datang ke kafe ini, Arka selalu tampak sibuk, tapi tatapannya sering, sangat sering menyapu ke arahku, sekilas, lalu berpura-pura fokus lagi pada pekerjaannya. Awalnya aku menganggap itu kebetulan. Tapi semakin sering aku ke sana, semakin aku yakin, pandangan itu bukan tanpa arti.
Namun, aku tak pernah punya cukup keberanian untuk berbuat apa pun selain mengagumi dalam diam. Seperti pecinta rahasia yang takut cahaya, aku hanya bisa menatap dari jauh, lalu pura-pura sibuk menggulir ponsel saat matanya tanpa sengaja beradu dengan mataku.
Sampai hari itu tiba, hari ketika aku datang ke kafe masih dengan baju latihan voli: jersey oranye dan celana training hitam. Rambutku diikat seadanya, kulitku sedikit terbakar matahari. Aku hampir tidak ingin mampir karena merasa penampilanku berantakan, tapi kaki ini entah kenapa tetap melangkah ke sana. Seolah rindu yang menuntun.
Ketika pintu kaca terbuka, lonceng kecil di atasnya berdenting, dan seperti biasa, Arka sedang di balik mesin espresso. Tapi kali ini, dia berhenti. Tatapannya jatuh tepat padauk, sangat tajam, sedikit terkejut, tapi kemudian mengembang menjadi senyum samar yang belum pernah kulihat sebelumnya. “Latihan, ya?” katanya, saat aku mendekat ke kasir.
Aku tertegun. Biasanya dia hanya menyapa singkat, formal, seperti “Mau pesan apa, Kak?” Tapi kali ini nada suaranya hangat, sedikit ragu, tapi jujur ingin tahu.
Aku mengangguk canggung. “Iya. Baru selesai latihan voli.”
“Oh, pantas,” gumamnya pelan. “Kelihatan capek, tapi keren.”
Jantungku berdetak tidak karuan. Aku mencoba tersenyum santai, tapi aku tahu pipiku pasti sudah memerah. “Kopi susu biasa, ya, Kak?” tanyanya lagi, kali ini dengan senyum penuh di bibirnya.
Aku hanya bisa mengangguk. Dan untuk pertama kalinya, kami benar-benar bertukar senyum, bukan sekadar tatapan singkat di sela rutinitas. Aku duduk di sudutku seperti biasa, tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda di udara. Pandangan Arka kadang masih mencuri ke arahku, tapi kali ini, aku bisa melihatnya tanpa berpura-pura. Dan aku tidak ingin sore itu berakhir.
Pertemuan berikutnya terasa seperti babak baru dari kisah yang tidak pernah kumulai tapi diam-diam kuharapkan. Aku datang dengan pakaian biasa, kaus dan celana jeans, berharap bisa bersikap seperti pelanggan lain. Tapi saat sampai di kasir, Arka lebih dulu tersenyum, seolah sudah menunggu.
“Halo,” sapanya pelan. “Latihan volinya sudah selesai, ya?”
Aku sedikit terkejut. “Hah? Oh, iya. Udah. Kok tahu?”
Dia terkekeh kecil. “Kemarin pakai jersey, kelihatannya atlet banget. Kamu main voli, kan?”
Aku menatap matanya sesaat. Tatapan yang jujur, tidak dibuat-buat. Aku mengangguk pelan. “Iya. Aku suka voli. Lumayan sering latihan.”
“Pantes,” katanya, sambil menyiapkan gelas. “Dari postur kelihatan sih. Tegak dan bahunya lebar.”
Aku tertawa kecil, mencoba menyembunyikan degup yang makin cepat.
“Kamu juga kayaknya suka olahraga.”
Dia tersenyum. “Kelihatan ya?”
“Sedikit,” jawabku. “Mungkin dari caramu ngangkat milk jug. Penuh tenaga.”
Dia tertawa kali ini, tawa yang hangat, rendah, dan entah kenapa membuatku ingin mendengarnya lagi. Tapi setelah itu, percakapan kami berhenti di sana. Aku membawa kopiku ke meja pojok, sementara Arka kembali ke pekerjaannya, tapi setiap kali aku mengangkat pandangan, dia selalu ada di sana, dengan tatapan yang sama, penuh tanda tanya yang tidak terucap.
Hari-hari setelah itu terasa seperti mengulang satu lagu yang sama. Aku datang, memesan kopi, menatapnya, tersenyum, lalu pergi. Kami tidak pernah benar-benar bicara lagi. Seolah ada tembok tipis yang memisahkan kami, bukan karena takut, tapi karena tahu batas.
Namun diam-diam, aku tetap memperhatikan. Aku tahu Arka selalu menggulung lengan bajunya sampai siku, selalu mencicipi kopi sebelum menyajikan, dan selalu menatap ke arah pintu setiap kali lonceng berbunyi, seolah berharap seseorang datang.
Dan mungkin, orang itu aku.
Kadang aku bertanya-tanya, “Apakah dia juga memperhatikan hal-hal kecil dariku? Seperti bagaimana aku selalu duduk di sudut yang sama, bagaimana aku menyentuh cangkir dengan tangan kiri, atau bagaimana aku kadang menulis sesuatu di buku catatan kecil setiap kali sedang sendu.” Mungkin iya. Mungkin tidak.
Tapi semua pertanyaan itu tidak pernah terjawab, sampai suatu sore yang mendung di bulan November.
Aku datang lebih awal dari biasanya, karena latihan dibatalkan akibat hujan deras. Kafe sepi, hanya ada beberapa pelanggan yang sibuk dengan laptop mereka. Arka sedang membersihkan meja bar, dan ketika melihatku masuk, senyum itu, senyum hangat yang membuat dadaku bergetar kembali muncul.
“Kamu datang juga meski hujan,” katanya.
Aku tersenyum kecil sambil melepas jaket. “Udah terlanjur kangen suasananya.”
Dia terdiam sebentar, lalu menatapku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. “Sama,” katanya pelan.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku hanya duduk seperti biasa, sementara dia menyiapkan pesanan tanpa banyak bicara. Tapi kali ini, entah kenapa, heningnya terasa nyaman.
Sampai akhirnya dia datang membawa secangkir kopi dan menaruhnya di mejaku sendiri. Bukan lewat pelayan, bukan lewat meja bar. Dia datang langsung, berdiri di depanku.
“Boleh duduk?” tanyanya, sopan.
Aku terkejut, tapi mengangguk. Dia duduk di kursi seberang, menyandarkan tubuhnya, lalu menatapku lama, seolah sedang memastikan sesuatu.
“Kamu tahu nggak,” katanya tiba-tiba, “aku sering lihat kamu di sini. Bahkan sebelum kamu sadar aku ada.”
Aku terdiam. Kata-katanya seperti cermin dari pikiranku sendiri.
“Serius?” tanyaku pelan.
Dia mengangguk. “Awalnya cuma iseng. Kamu selalu duduk di sudut itu, sendirian, kelihatan tenang tapi matamu… kelihatan capek. Tapi entah kenapa aku suka lihatnya. Kayak kamu selalu berusaha kuat.”
Aku menatapnya, tak mampu berkata apa-apa. Hanya bisa mendengarkan.
“Waktu kamu datang pakai baju voli,” lanjutnya, “aku baru sadar, ternyata kamu nggak cuma kuat di dalam, tapi juga di luar. Dan entah kenapa, aku pengen kenal lebih jauh.”
Aku tersenyum samar. “Kamu barista yang jago merangkai kata, ya?”
Dia tertawa kecil. “Nggak juga. Cuma jujur.”
Aku menunduk, berusaha menyembunyikan rona di wajahku. “Lucu ya. Aku juga sering memperhatikan kamu. Dari cara kamu bikin kopi, dari caramu ngerapihin apron. Semuanya.”
Dia mengangkat alis, tersenyum penuh arti. “Berarti kita sama.”
Kami tertawa pelan. Tapi di balik tawa itu, ada sesuatu yang tidak terucap, rasa yang tumbuh tapi tak tahu harus ke mana.
Setelah hari itu, segalanya kembali seperti semula. Kami tidak pernah berbicara lagi sedekat itu. Arka tetap barista, aku tetap pelanggan tetap di pojok jendela. Tapi kini setiap tatapan kami membawa cerita; setiap senyum menyimpan kenangan.
Mungkin karena kami tahu, kami tak perlu lebih dari itu. Ada batas yang tak kasat mata, entah waktu, keadaan, atau mungkin kenyataan bahwa tidak semua rasa harus memiliki akhir bahagia.
Suatu hari aku mendengar kabar dari pelayan lain bahwa Arka akan berhenti bekerja di Aroma Beans Café. Katanya, dia diterima bekerja di Bandung, di kafe besar yang lebih profesional. Aku tersenyum mendengar itu, tapi di dada ada ruang kosong yang pelan-pelan tumbuh.
Hari terakhirnya, aku datang. Duduk di sudut yang sama, dengan secangkir kopi yang rasanya entah kenapa lebih pahit dari biasanya. Arka masih di balik bar, mengenakan apron yang sama, tapi kali ini ia tampak lebih tenang. Saat matanya menemukan mataku, kami saling tersenyum, lama, tanpa kata.
Ketika aku berdiri hendak pergi, dia tiba-tiba berjalan ke arahku dan berhenti di depan meja.
“Terima kasih udah sering datang,” katanya.
“Terima kasih juga… udah nyeduh banyak sore yang hangat,” jawabku pelan.
Dia mengangguk. “Kalau nanti kamu ke Bandung, mampir ya. Siapa tahu aku masih jadi barista.”
Aku tersenyum, tapi di mataku sudah terasa perih. “Mungkin.”
Kami saling menatap sekali lagi, lama, seolah berusaha mengingat setiap detail sebelum semuanya menghilang. Lalu aku berbalik, melangkah keluar dari pintu kaca itu. Lonceng kecil berdenting untuk terakhir kalinya.
Di luar, hujan turun deras. Tapi aku tidak berlari. Aku berjalan pelan, membiarkan tetes air menghapus sisa rasa yang tak sempat tumbuh.
Dan di balik kaca, Arka masih berdiri, menatap ke arahku. Seperti dulu.
Seperti cinta yang hanya bisa dipandang, tapi tak pernah bisa dimiliki.
Beberapa bulan kemudian, aku masih sering datang ke Aroma Beans Café. Barista baru yang menggantikan Arka ramah, tapi tidak pernah membuatku merasa sama. Setiap kali aroma kopi menyentuh hidungku, aku selalu teringat tatapan itu, hangat, tenang, sekaligus menyakitkan.
Mungkin memang begitu cara semesta mengajarkan arti kehilangan, bahwa tidak semua orang yang membuatmu tersenyum akan tinggal selamanya, dan tidak semua pertemuan membutuhkan kelanjutan.
Beberapa cukup berhenti di satu sore yang indah, dengan secangkir kopi dan tatapan yang tak pernah benar-benar berakhir.

