Puisi-puisi Rahma Yuwitri
Air yang Mengingatkan Kita
26 November 2025.
Dari jauh aku menyaksikan saudara-saudara kita di Padang, Agam, Padang Panjang, Solok, hingga Piaman, berjuang di tengah banjir bandang yang menggulung rumah dan harapan mereka. Bukan hanya mereka—kerabat di Medan dan Aceh pun merasakan amukan alam yang sama.
Di layar ponsel, kulihat tubuh-tubuh lelah itu bertahan di atas atap rumah.
Malam yang dingin menggigit, pakaian mereka basah kuyup, dan hujan tak memberikan jeda. Seakan langit membuka segala kemarahannya, menumpahkan air yang membawa tanah, puing, dan kenangan.
Air besar itu melumat apa pun yang ia sentuh. Rumah-rumah terseret, mobil berguling tak berdaya, dan setiap sudut yang pernah dipenuhi tawa berubah menjadi arus cokelat yang tak mengenal belas kasih.
Hari berganti hari. Saudara kita menahan haus dengan menadah tetes hujan, menahan lapar di tengah gelap tanpa listrik. Atap rumah menjadi tanah terakhir yang bisa mereka pijak—sebuah pulau kecil di tengah lautan bencana.
Jeritan meminta tolong terdengar sayup, menembus kabut air dan menusuk dada siapa pun yang mendengarnya. Bencana ini bukan hanya dahsyat; ia menakutkan karena ia datang tanpa petunjuk, tanpa arah penyelamatan.
Pantai-pantai berubah menjadi lumpur galodo, sekolah-sekolah tenggelam, suara anak-anak menghilang bersama aliran sungai. Kampung-kampung menjadi sunyi yang menghantam batin.
Namun, di tengah kesunyian itu, sekelompok manusia bergerak diam-diam.
Merekalah yang memahami bahasa kemanusiaan. Membawa air untuk menghapus dahaga, makanan untuk menahan lapar, dan kehangatan untuk tubuh-tubuh yang menggigil.
Pelan-pelan, wajah pucat itu mulai memulihkan warnanya. Ada senyum kecil yang muncul, meski tertahan oleh duka yang belum kering. Namun senyum itu cukup—tanda bahwa kita, rakyat Indonesia, masih memiliki hati yang saling menggenggam.
Pasaman Barat, 9 Desember 2025
Ingatan Air yang Lebih Tua
Ingatan lain mengalir kembali.
26 Desember 2004. Saat seluruh stasiun televisi menayangkan tsunami yang meluluhlantakkan Aceh.
Air itu berjalan seperti makhluk raksasa tanpa suara—menyapu rumah, gedung, sepeda motor, bahkan mobil mewah yang tak sempat berlari. Seolah ia ingin menghapus halaman lama dan memaksa manusia memulai dari kertas baru.
Yang bertahan hanyalah mereka yang kuat berdiri dalam keputusasaan. Sebuah masjid tetap tegak, bukan karena bangunan itu kokoh, melainkan karena tempat itu menjadi saksi sujud yang tak pernah putus. Sementara sebuah kapal besar, yang seharusnya mengapung di lautan, merapat begitu saja di daratan—peringatan bisu betapa waktu bisa berubah dalam hitungan detik.
Berhari-hari rakyat Aceh menunggu. Mereka makan seadanya, tidur seadanya, beribadah seadanya—sampai bantuan perlahan datang. Dan setiap perkembangan mereka terus disiarkan, seakan seluruh negeri ikut memeluk luka itu.
Pasaman Barat, 9 Desember 2025
Di Balik Kamera, Ada yang Setelah Sorotan Padam
Karya: Rahma Yuwitri
Bencana selalu menghadirkan dua wajah manusia. Ada yang berdiri di depan kamera, mengambil panggung dengan kata-kata lantang dan langkah-langkah dramatis—seolah menjadi pahlawan di tengah reruntuhan.
Namun ada pula yang berjalan tanpa sorotan; berpindah dari gang kecil ke bukit terjal, dari rumah miring ke tenda-tenda darurat. Mereka tidak membawa kamera, hanya membawa hati dan tenaga. Mereka tidak mencari tepuk tangan, hanya berusaha menyalurkan bantuan secepat mungkin agar tak ada lagi perut yang kosong atau tubuh yang menggigil.
Merekalah yang mengingatkan: ketika pemerintah bergerak lambat, rakyat Indonesia harus bergerak lebih cepat—agar saudara-saudara kita tidak dibiarkan kelaparan.
Pasaman Barat, 9 Desember 2025

