Setelah Kepergianmu, Hidupku Jadi Berantakan, Bu
Kanaya Nurul Salma, atau yang akrab dipanggil Salma, adalah seorang mahasiswa Pendidikan Fisika di Universitas Sebelas Maret. Ia menulis cerpen ini karena terinspirasi dari kisah hidupnya sendiri dan keinginannya untuk mengingatkan pembaca agar menghargai orang yang masih ada di sekitar mereka. Melalui tulisannya, Salma berharap pesannya tentang kesempatan yang hanya datang sekali dalam hidup dapat sampai dan menyentuh hati para pembacanya.
Rabu sore itu, seharusnya menjadi biasa saja, suasana yang mestinya tenang berubah menjadi duka yang tidak pernah aku bayangkan. Waktu terasa berhenti ketika aku dipaksa menghadapi kenyataan paling pahit: kehilangan seseorang yang paling aku sayang, seseorang yang selalu aku cari setiap pulang sekolah.
Aku masih ingat dengan jelas saat itu. Ibu terbaring di rumah sakit, tubuhnya dipenuhi alat-alat medis yang membuatnya tampak semakin rapuh. Aku berdiri di sampingnya sambil menangis, berharap semua alat itu bisa dilepas dan ibu kembali membuka mata seperti dulu. Dalam hati, aku memohon kepada Tuhan, meminta keajaiban, meminta kesempatan sekali lagi untuk bisa mengobrol dan tertawa bersama ibu seperti dulu.
Tetapi sore itu aku terpaku dalam kesedihan, aku bingung harus gimana, hidup? Bagaimana jika ibu meninggal. Hidup aku bagaimana bu??. Segalanya terjadi begitu cepat. Suara dimana ayah ku teriak kepadaku yang pada saat itu aku sedang izin untuk keluar sebentar karena tidak kuat melihat keadaan ibu yang terbaring sangat lemah. Ayah ku berteriak sangat sangat kencang tetapi air matanya ikut mengalir.
“Dek, dengar Ayah baik-baik. Ibu sudah tiada. Ibu sudah meninggal,” sebut ayahku yang berteriak kepadaku
Aku pun terdiam, sambil memikirkan “apakah itu Cuma mimpi? Aku melihat ibu saya sedang tidur dan tidak mungkin ibu pergi begitu cepat. Tuhan jika sembuh tidak begini yang engkau berikan kepadaku”.
Aku masih tidak percaya dengan semua terjadi. Aku memohon, berharap apa yang aku dengar hanyalah mimpi buruk yang bisa ku bangunkan,
Tapi dunia tak mendengar.
Saat jantung Ibu berhenti, waktu ikut membeku. Semua yang kupahami tentang hidup—tentang masa depan—runtuh tanpa peringatan. Aku ingin berteriak, tapi suaraku hilang bersama napas terakhir yang Ibu hembuskan.
Hari itu… aku belajar bahwa kehilangan adalah guru paling kejam.
Aku berdiri di samping ranjang rumah sakit, menatap tubuh yang selama ini menjadi pelabuhan hangatku, orang dimana ketika sepulang sekolah aku cari dan aku peluk erat erat. Di ruangan yang berbau obat itu, aku merasa seperti anak kecil yang ditinggalkan di tengah badai.
Aku terdiam sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit. Begitu tiba di rumah, kulihat orang-orang sudah berkumpul di depan, dengan bendera kuning yang terpasang jelas di dinding. Mereka menatapku penuh belas kasihan, mengucapkan hal yang sama berulang kali.
“Yang sabar, ya… yang tabah.”
Di kepalaku, satu kalimat terus berputar seperti kaset rusak.
“Seandainya aku bisa melakukan lebih…”
Penyesalan itu menekan dadaku. Aku teringat saat masih hidup, ketika ia meminta aku menyuapkan sebutir makanan. Aku menolak. Aku hanya berkata. “Bu, nanti saja… aku lagi sibuk. Biar Bapak saja, ya.” Lalu aku masuk ke dalam kamar tanpa menoleh lagi. Kini kalimat itu kembali menghantuiku, lebih keras dari apapun.
Dan “nanti” itu…
Tak pernah datang lagi.
Aku berharap bisa memutar waktu.
Minta maaf.
Memeluknya lebih lama.
Mendengar semua cerita yang dulu kuanggap biasa saja.
Tapi yang tersisa kini hanya keheningan…
Yang menusuk lebih tajam daripada pisau mana pun.
Rumah yang biasanya penuh suara langkah Ibu, ceria, tawa dan dimana rumah itu kita mengobrol banyak kini terasa asing, sunyi sekali Piring-piring masih tersusun rapi di dapur. Kerudung yang sering ia pakai masih tergantung di dinding dan Makanan yang ia sering makan masih utuh. Semua tampak sama… tapi kehadirannya telah hilang.
Aku berjalan melewati ruang tamu. Kursi panjang tempat dimana kita menghabiskan waktu bersama pada saat itu. Bercerita, Mengobrol bersama dan penuh suasana seru di kursi tersebut. Aku menduduki kursi itu dan mengingat waktu dimana Tuhan belum mengambil ibu dari aku. Tetapi air mataku seketika mengalir, aku berteriam seperti orang gila walaupun sekeras apapun aku teriak, tidak mungkin ibu kembali lagi.
“Ibu, Aku rindu, Bu, Kenapa kau begitu cepat meninggalkanku”
Tidak ada suara yang menjawab.
Tidak ada tangan yang membelai kepala.
Hanya tembok-tembok bisu yang memantulkan kembali rasa kehilangan yang tak mau pergi.
Di rumah yang sama, aku merasa terdampar di tempat yang berbeda. Tempat tanpa ibu, tanpa arah, tanpa cahaya.
Tempat dimana kenangan menjadi hantu yang sulit diusir.Rumah yang biasanya penuh suara langkah Ibu, ceria, tawa dan dimana rumah itu kita mengobrol banyak kini terasa asing, sunyi sekali” Piring-piring masih tersusun rapi di dapur. Kerudung yang sering ia pakai masih tergantung di dinding dan Makanan yang ia sering makan masih utuh. Semua tampak sama… tapi kehadirannya telah hilang.
Aku berjalan melewati ruang tamu. Kursi panjang tempat kami dulu menghabiskan waktu bersama masih di sana, tempat bercerita, tertawa, dan saling menghibur. Aku mulai duduk perlahan, mencoba merasakan kembali hangatnya masa ketika Tuhan belum memanggil Ibu pulang.
Tapi seketika air mataku jatuh. Sebuah teriakan pecah dari tenggorokanku, tak terkontrol, tak peduli betapa sia-sianya. Karena sekeras apapun aku memanggil.
Sunyi kembali menutup rumah itu
Tidak ada suara yang menjawab.
Tidak ada tangan yang membelai kepala.
Hanya ada tembok-tembok bisu yang memantulkan kembali rasa kehilangan yang tak mau pergi.
Di rumah yang sama, aku merasa terdampar di tempat yang berbeda. Tempat tanpa ibu, tanpa arah, tanpa cahaya.
Tempat dimana kenangan menjadi hantu yang sulit diusir.

