Kembali ke Al-Quran dan Hadis Plus Mempelajari Ilmu-ilmunya
Penulis merupakan Dosen Fak. Adab dan Humaniora UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, minat penulis kajian bahasa, sastra dan kajian keIslaman yang berkembang di masyarakat. Penulis pernah mengikuti pelatihan jurnalistik yang di adakan oleh Sumatra Express 2019. Tulisan yang pernah terbit di jurnal berjudul pertama, Makna Sayyarah di dalam Al-Quran terbit di jurnal kajian keIslaman UIN Banten 2016. Kedua, Tokoh Utama dalam Cerpen Anak yang berjudul Bintu wal Asad terbit di jurnal kajian keIslaman IAIN Metro 2019, Mudik sebelum Covid19 Menyebar secara Masif dan Profesi Seorang Guru buku kisah dan opini badai Korona azkiya publishing 2020, Islam dan media JambiEkspres 2022. Menjadi pembicara di beberapa Universitas dan lembaga lainnya. Penulis juga mengerakan literasi mahasiswa menulis di media masa dengan membuat opini dan diterbitkan di media online ataupun cetak sejak tahun 2018-sekarang. Penulis dapat di hubungi melalui No HP/WA : 085200881632 Email : faridlhakim@uinjambi.ac.id
Ajakan atau seruan kembali ke Al-Quran dan Hadis masih sering terdengar di telinga kita, baik itu disampaikan oleh para mubaliq (da’i) atau orang yang masih dalam pemelajar Agama Islam. Sebenarnya Ajakan-seruan kembali ke Al-Quran dan Hadis adalah menyeru kepada yang ma’ruf (baik) karena Al-Quran adalah kitab petunjuk bagi manusia yang ingin mengali dan mendalaminya, baik itu dari kalangan muslim atau pun non-muslim. Sementara, hadis dalam pengertiannya, merupakan segala sesuatu yang datang dari Nabi SAW, baik itu perkataan, perbuatan, ketetapan dan kebiasaan (hal demikian adalah hal yang positif, menyenangkan, sesuatu santun dll).
Al-Quran dan hadis yang selama ini dipahami secara mentah dan serampangan serta disampaikan kepada Umat menjadi dokrin, pemahaman dan amalan yang membinggungkan tidak memenuhi standar bahkan tidak mendekati kebenaran. Sebagian orang Islam menjadikan Al-Quran dan Hadis sebagai legitimasi untuk melanggengkan tujuannya, mencapai keamanan dalam kedudukannya serta mempromosikan Islam yang diasumsikan benar menurut versinya. Kebanyakan da’i tidak mempertimbangkan keilmuan Islam, baik keilmuan untuk memahami isi teks Al-Quran ataupun Hadis.
Mempertimbangkan keilmuan Islam yang dimaksud adalah mempelajari, memahami dan mengali kembali ke keilmuan-keilmuan yang dibutuhkan untuk memahami Islam secara kaffah. Tawaran yang baik yang perlu dan penting dipertimbangkan adalah mendalami ilmu-ilmu alat seperti bahasa Arab yang meliputi nahwu (kaidah-kaidah bahasa Arab), saraf (perubahan kata Arab), balaghah (Ilmu sastra Arab), tafsir dslb. Ilmu-ilmu tersebut memberikan sumbangsih dalam memahami Al-Quran dan Hadis. Bagi seorang dai memahami ilmu-ilmu tersebut juga menjadi sebuah nilai plus guna memahamkan pemahaman keislaman dan kemudian di sampaikan kepada umat, dengan mempertimbangkan ilmu-ilmu alat berarti dai menekankan kehati-hatian menyampaikan ilmu agama ini.
Mempelajari ilmu alat setidaknya memberikan pemahaman yang benar, sesuai dengan logika para nabi, sahabat, tabiin, tabi’tabiin dan ulama al ulama warasatul anbiya’ yang secara keilmuan saling terkait atau dalam bahasa lain mempunyai sanad (transmisi ilmu). Artinya mempelajari ilmu alat juga harus adanya guru atau mudabbir yang bertanggung jawab secara keilmuan mengajarkan ilmu alat tersebut, baru kemudian ilmu alat yang telah dipelajari ini mampu membaca secara kontiniu perihal nash (teks) dan hal dalam teks agama Islam.
Ada beberapa ilmu alat atau ilmu penunjang yang perlu dikedepankan untuk dipelajari, pertama, bahasa Arab, bahasa Arab memiliki bagian yaitu nahwu, saraf, dan muhadas (percakapan). Seperti yang kita ketahui ilmu nahwu adalah ilmu alat yang sangat vital dalam mendalami teks Arab baik itu bersifat keagamaan atau yang lainnya. Karna Al-Quran dan Hadis sendiri secara mutlak mendeklarasikan berbahasa Arab dan sarat akan pemahaman yang benar sesuai dengan ilmu nahwu (tata bahasa Arab), seorang dai yang tidak memahami ilmu nahwu biasanya akan tersesat dalam menyapaikan ilmu Agama, serta sangat kacau jika dai hanya membaca terjemahan buku hasil dari terjemahan kitab Arab.
Kedua, ilmu saraf adalah ilmu yang mempelajari perubahan kata dan mempunyai peran yang sangat penting dalam memahami teks-teks keIslaman, dengan mempelajari ilmu saraf seorang dai mampu membedakan perubahan kata dan maknanya. Pernah suatu ketika seorang dai tidak dapat mentasrif (menjelaskan perubahan kata) bahkan salah dalam menjelaskan perubahan kata tersebut, artinya pemaparan mengenai kata tersebut bisa berakibat fatal, Kembali ke Al-Quran dan Hadis penting plus mempelajari Ilmu alatnya.
Ketiga, muhadasah merupakan ilmu yang juga harus dipelajari dan sangat penting kerena, ilmu ini memberikan penuntut ilmu dampak yang besar terhadap pemahaman teks, penafsiran teks dan menebus pada tataran rasa Bahasa Arab. Pada penguasaan muhadasah mampu beradaptasi dengan cepat terhadap pemahaman, maksud-maksud teks tertentu dan apa yang ada dalam serta luar teks Arab. Pada Tingkat selanjutnya, ilmu-ilmu bantu dalam memperdalam ilmu agama, ada ilmu sastra Arab (balaghah) yang terdiri dari ma’ani, bayan, dan badi’ , ialah yang memperajari makna hakiki dan majazi serta keindahan Bahasa dalam Al-Quran dan Hadis, ilmu mantiq/logika ilmu berpikir sistematis, terhindar dari kesalahan ((logical fallacy) dalam berargumentasi, ilmu ushul fiqh adalah proses istinbath (pengambilan hukum) sehingga dakwahnya lebih berbobot dan terhindar dari taqlid buta, kemudian ilmu Sejarah Islam juga tidak kalah penting, mempelajari Nabi Saw, Sahabat, Tabiin dan Ulama-ulama yang memahami ilmu secara mendalam, tanpa memahami ilmu alat yang penulis sebutkan, dai akan terjebak pada tiga hal, pertama, ketergantungan terhadap buku terjemah, sangat rentan distorsi makna, kedua, salah paham dalam memahami istilah keilmuan, baik itu istilah fiqh dan ilmu lainnya, ketiga, dakwah yang dangkal karena tidak merujuk kepada sumber/sanad yang otoritatif.
Mengukuhkan kembali, adanya agenda seorang dai bisa membaca, memahami dan menjelaskan kitab kuning atau gundul atau teks Arab. Sederhananya bagi da’i, menyampaikan ilmu agama merupakan tugas yang mulia dan berat pertanggung jawabannya, sebab itu perlu kemampuan khusus untuk dapat menyampaikan ilmu yang mulia ini terhadap masyarakat. Tujuannya jelas yaitu mencapai kepemahaman yang benar, baik dan terukur sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu agama yang ada. Adanya agenda seorang da’i dapat memahami teks Arab adalah agenda lama, dan mungkin hari ini agenda ini juga sudah di implementasikan dan penguatan agar menjadi kegiatan yang baik untuk kedepan demi keselamatan umat dan kemaslahatan Agama Islam. Agenda ini menjadi sangat relevan dan harus didorong oleh pihak-pihak pemangku kepentingan umat agar terus membekali para da’i lama atau da’i dari kalangan gen Z dengan pengetahuan Islam secara menyeluruh.
Akhirnya, kita sebagai umat Islam Indonesia keep-optimis, semangat, memberi solusi agar dakwah di Indonesia semakin hari dan setiap waktu mendapatkan Islah (perbaikan). Solusi yang mungkin kita bisa lakukan, selain optimis dan lain sebagainya. Media lah yang menjadi tonggak utama, sosial media dibalut konten yang menarik adalah garda utama dalam menyebarkan mutiara-mutiara ilmu agama yang mulia, risalah yang tinggi lagi penyelamat manusia dan umat. Melalui sosial media pesan-pesan ilahi lewat orang-orang kopeten dalam bidang agama Islam dapat tersalurkan dengan baik. Juga melalui proses yang pelan dengan mendengar, memahami buku-teks Arab dan diskusi ilmiah ilmu agama ini menjadi pemahaman dan implementasi yang benar dan terarah serta masyarakat pun menjadi masyarakat yang terdidik dalam ilmu agama yang benar dan kaffah.
Jambi , 11 November 2025
Penulis,
Dosen Fakultas Adab dan Humaniora
UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.

