Kritik untuk HIMSI: Kami Bukan Ingin Dihargai, Kami Hanya Ingin Diakui
Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia (HIMSI), yang mestinya menjadi ruang berproses bagi mahasiswa sastra untuk berkreasi dan bersuara, kini justru tampak terjebak dalam formalitas dan pembatasan yang kaku. Seharusnya kita lahir dari semangat kolektif dan kesadaran bahwa setiap anggota punya peran dan hak yang sama untuk bertumbuh.
Beberapa waktu lalu, saya bersama beberapa rekan saya mengikuti Festival Teater Remaja yang diadakan oleh Taman Budaya Provinsi Jambi. Kami membawa nama sastra (HIMSI) ke panggung, dengan semangat memperluas makna belajar di luar ruang kelas. Ironisnya, ketika kami berjuang di sana, organisasi yang menaungi kami justru bersikap seolah tak peduli. Dengan alasan “kami bukan tanggung jawab mereka” karena mereka menganggap Teater Kuju adalah peran utama yang menjaga akuntabilitas peserta. Anehnya, tidak ada kesadaran bahwa kami berada di bawah naungan HIMSI itu sendiri.
Di sinilah terlihat ironi yang nyata. Ketika struktur organisasi mulai lebih sibuk menjaga batas tanggung jawab daripada memupuk rasa kebersamaan. Ketika pengurus lebih peduli pada garis administratif daripada makna sosial dan moral dari keorganisasian. HIMSI seakan lupa bahwa keberadaannya bukan sekadar urusan program kerja dan rapat hingga bertemu pagi, tapi juga tentang bagaimana ia memberi dukungan kepada anggotanya yang sedang berjuang di ruang-ruang kreatif.
Apa gunanya mengatasnamakan “sastra” jika nilai kemanusiaan dan empati di dalamnya diabaikan? Apa gunanya berbicara tentang solidaritas dan persaudaraan, jika faktanya bersikap dingin terhadap anggotanya sendiri? Menurut saya, Ini bukan sekadar masalah tanggung jawab kegiatan, tapi sikap dan keberpihakan pada nilai-nilai dasar yang seharusnya menjadi jiwa HIMSI.
Sikap abai seperti ini juga menunjukkan bahwa organisasi telah kehilangan arah dan semangat kolektifnya. HIMSI seolah berubah menjadi institusi birokratis kecil yang lebih sibuk menjaga citra dan urusan teknis daripada memperjuangkan ruh sastra yang sesungguhnya: yaitu solidaritas, empati, dan kebebasan berekspresi. Sekarang kepengurusan lebih terlihat memandang anggota sebagai beban, bukan bagian dari keluarga.
Kritik ini ditulis sebagai bentuk kekecewaan kami. Kami tidak menuntut penghargaan tapi kami ingin diakui dan dapat dibuktikan secara tindakan, bahwa perjuangan kami juga bagian dari perjuangan HIMSI. Kami tidak menolak struktur, hanya bertindak tegas terhadap sikap dingin yang memisahkan. Karena sejatinya, organisasi yang sehat bukan yang paling rapi secara administrasi, tapi yang paling tulus dalam mendukung dan mensupport setiap langkah anggotanya. Saya tidak ingin rumah ini yang tersisa hanyalah gedung megah yang kosong, ramai di permukaan, tapi hampa di dalam.
Sekali lagi, kami tidak menuntut pamrih, kami hanya menuntut pengertian dan keadilan dalam bentuk yang paling sederhana. Dukungan moral, pengakuan, dan rasa kebersamaan.
Namun, jika pada akhirnya tulisan ini terdengar keras_dianggap sebagai ancaman, biarlah dibuktikan di kemudian. Saya ingin mengatakan bahwa dalam dunia sastra dan teater, kejujuran adalah bentuk cinta yang paling murni. Saya mencintai HIMSI, tapi cinta juga tidak boleh membuat diam terhadap kesalahan. Wujudkan solidaritas nyata bukan hanya dari kata melainkan tindakan.

November 14, 2025 @ 1:05 pm
Ini merata terjadi dimana-mana, ego pemimpin yang jadi korban justru anggota²nya. Tulisan ini semacam refleksi, kalau dianggap keras itu artinya struktur berpikir organisasi memang sudah rusak.