Festival Monofolk Jambi: Menghidupkan Cerita Rakyat Lewat Monolog
Teater AiR Jambi kembali hadir dengan Festival Monofolk (Monolog Folkfor), sebuah perhelatan seni teater yang berakar dari cerita rakyat Jambi dan diselenggarakan di Taman Budaya Jambi (TBJ). Festival ini akan digelar pada 10–11 Oktober 2025 (diumumkan tanpa mekanisme lomba, tanpa pemenang), bertujuan menghadirkan kembali warisan lisan masyarakat Jambi ke panggung monolog. Seperti halnya pertunjukan “Kutha” yang dipentaskan dalam rangka 25 tahun berdirinya Teater AiR di TBJ, Festival Monofolk merencanakan lokasi yang sama, memperkuat citra TBJ sebagai pusat kesenian provinsi Jambi.
Festival Monofolk memasukkan sepuluh penulis naskah, sepuluh aktor, dan sepuluh sutradara dari jaringan Teater AiR Jambi, serta didukung Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V. Konsepnya non-kompetitif: semua penampil dipandang setara dan kolaboratif, menekankan apresiasi bersama atas cerita-cerita tradisi daripada penjurian. Seluruh pihak yang terlibat diharapkan fokus memperdalam dan membagikan kisah-kisah folklor tanpa persaingan.
Festival ini dirancang untuk menyambungkan cerita rakyat Jambi dengan isu kekinian. Cerita rakyat lama sering mengandung pesan moral dan kearifan lokal yang relevan bagi masyarakat sekarang. Seperti disorot Indonesia Kaya, “cerita rakyat…mengandung pesan moral untuk membimbing perilaku masyarakat sehari-hari”. Sering kali cerita-cerita itu mengandung norma dan kearifan lokal daerah, misalnya kisah dan legenda setempat, yang tetap bermakna dalam konteks zaman sekarang. Dengan meramu folklor ke dalam format monolog modern, festival Monofolk bertujuan menumbuhkan kembali pemahaman dan kebanggaan atas warisan budaya Jambi, sekaligus mengaitkannya dengan persoalan masa kini.
Proses kreatif Festival Monofolk melibatkan riset dan penulisan intensif. Sepuluh penulis terpilih menggali cerita rakyat Jambi—mulai dari legenda lokal, mitos, hingga mencari apa yang terjadi pada hari ini, untuk disulap menjadi skenario monolog. Para sutradara yang berpengalaman membimbing aktor–aktor dalam pembentukan tokoh tunggal di atas panggung. Setiap monolog dipentaskan oleh satu orang, sehingga tekanan kreatif terletak pada kemampuan aktor membawakan narasi penuh emosi dan imajinasi. Dalam tradisi festival non-kompetitif, proses latihan lebih bersifat eksplorasi dan saling mendukung antar seniman, bukan persaingan.
Rencana jangka panjang festival ini sejalan dengan nilai pentingnya pelestarian cerita rakyat di tengah perubahan sosial. Cerita-cerita rakyat di Jambi turun-temurun disampaikan secara lisan oleh orang tua, kakek, nenek, bahkan guru di sekolah. Namun tradisi lisan itu rawan punah seiring generasi muda kini lebih banyak terpapar media digital. Oleh sebab itu, Monofolk mengambil bentuk pentas teater monolog sebagai media baru penyelamatan cerita tersebut. Festival ini menjadi wadah bagi generasi muda teater untuk mengenal kembali akar budaya lokal. Indonesia Kaya menekankan bahwa legenda dan cerita rakyat adalah “kenang-kenangan dari para leluhur yang perlu dilestarikan”. Teater AiR melihat festival ini sebagai sarana aktif melestarikan warisan lisan, sehingga pesan dan nilai cerita rakyat tetap hidup dalam kesadaran publik.
Secara sosial, inisiatif semacam Monofolk sangat krusial karena cerita rakyat selama ini menjadi salah satu sumber pengenalan budaya. Sudah banyak penelitian menegaskan pentingnya cerita rakyat sebagai pembawa nilai budaya lokal. Di Jambi, misalnya, buku kumpulan cerita rakyat yang diterbitkan diharapkan menjadi media pelestarian dan pengenalan cerita tersebut sebagai “alternatif penenaman nilai-nilai moral berbasis budaya lokal”. Festival Monofolk mengambil semangat sama: menghidupkan kembali cerita-cerita lisan agar nilai-nilai mulia itu tidak hilang ditelan waktu.
Rangkaian persiapan festival juga menyorot pendekatan kolaboratif antar seniman. Sutradara, penulis, dan aktor dari berbagai latar Teater AiR bekerja sama menelaah cerita rakyat, menggarap naskah, serta membangun karakter monolog yang kuat. Melalui latihan intensif.
Secara keseluruhan, Festival Monofolk Teater AiR Jambi 2025 adalah upaya strategis melestarikan budaya lisan melalui seni pertunjukan. Dengan mempertontonkan kisah-kisah folklor Jambi dalam format monolog, festival ini membawa cerita-cerita masa lalu ke panggung masa kini. Ia menawarkan pengalaman teater yang reflektif: penonton diajak menyelami nilai-nilai kearifan lokal sembari merenungkan relevansinya di era kini.
wouwoo.com
