SENI SENIMAN GILA
Selly N P Manurung. Kerap dipanggil Selly. Ketertarikan berkarya dimulai saat mempertanyakan mengapa karya yang melewati makna karya itu sendiri jauh lebih menarik dibanding karya yang maknanya hanya sekedar makna. Jika timbul keberanian mempertanyakan makna, maka beranilah berkarya dan berani pulalah karya itu. Dalam bahasa Belanda Aangenaam, salam kenal.
“Bagaimana bisa kau menafsirkan sebuah keutuhan seni bila tidak kau temukan tafsiran lainnya?”
Entah sudah berapa kali kalimat itu keluar dari bibir perempuan yang duduk di jendela itu. Sudah menjadi tabiatnya memilih duduk di jendela saat senja mulai mengikis dirinya sendiri. Tatapannya seolah ingin mengoyak habis setiap siluet tubuh yang berusaha menghalangi pandangannya.
“Bukankah waktunya sudah lewat, mengapa sampai sekarang tak kunjung pulang juga?” ucapmu sambil sesekali menggigit kuku kakimu kali ini. Aku tidak habis pikir dengan kebiasaan anehmu itu. Kau seolah ingin menelanjangi pelindung terakhir yang tersisa.
“Kali ini apa lelaki tua itu lupa jalan kembali pulang? haruskah aku turun dari jendela ini lalu menghampirinya dan menuntunnya layaknya seorang gembala kepada dombanya?”
Aku heran dengan seluruh anggota tubuhmu, bagaimana bisa bertahan utuh di rumah yang kau sebut itu sebagai seni. Hidup kau anggap seni, ya aku tidak menolak anggapanmu itu. Air seni kau anggap seni, kantung kemih kau anggap seni dan paling gilanya kau bilang kau ingin berseni dalam kematianmu yang kekal.
Bagaimana bisa pula kau sebut mati itu sebagai seni. Bagiku seni itu mati saat kau mati pula hari itu. Dengan cepat dan lantang kau tangani mulutku, kau katakan “Ketika mati bukankah kau didandani seindah mungkin dan bunga ditaburi di atas pemakamanmu. Ya, itu. Itu hanya bagian terkecil dari awal seni kematian. Bukankah begitu?
Sialan kau berharap aku ingin mati saat ini juga, itu balasku.
Aku tidak habis pikir, pengertian yang bagaimana yang sebenarnya kau cari selama ini. Jika kau ingin menanyakan persepsi lelaki tua itu, maka kau akan siap dengan semua hal diluar kepalamu. Bukankah persepsi itu adalah kebebasan. Adakah sekali saja kau tanyakan persepsiku tentang seni? Kau selalu saja menunggu persepsi lelaki tua itu layaknya kau menunggu komet halley, yang entah sampai kau bereinkarnasi sampai sepuluh kali pun tidak akan kau temukan persepsinya.
Habis sudah kesabaranmu, itu yang bisa ku tangkap, ketika dengan tidak senangnya kau memilih melompat dari jendela itu. Kau seret langkahmu dengan tergesa-gesa ke arah luar, kau tarik lalu kau tutup pintu itu berulang kali dengan sangat keras.
Jika pintu itu adalah anggota tubuhku, bisa kupastikan kedua telingaku sudah jatuh dilantai, dan sekali saja kau banting pintu itu maka yang tersisa hanya mata yang sebelah kiri.
Sebelum kau membanting lagi pintu itu, matamu tampak berbinar seolah kau memang sudah menunggu selama ratusan tahun. Belum sempat dia bernafas lega sudah kau tarik tangan lelaki tua itu, kau tuntun dia layaknya seorang gembala kepada dombanya seperti katamu tadi.
“Kenapa lama sekali pulang? tidak adakah hasil judi malam ini?”
“Ini yang kau mau bukan, ambil!” Ucap lelaki tua itu sambil melempar remahan uang yang diambil dari saku bajunya.
Kau pungut uang yang berlipat-lipat itu, kau ambil satu per satu dan kau rapikan setiap lekuk yang terlipat. Ada yang robek sedikit, tersisa hanya tinggal setengah lembar, ada bekas coretan angka nomor telepon, seolah memang pemilik uang sebelumnya ingin mengenalkan dirinya kepada seluruh isi bumi ini, dan ada pula yang bolong di tengah dengan aroma rokok yang masih tertinggal jelas, bisa ku tebak itu baru dijadikan sebagai asbak.
Senyuman di kedua pipimu begitu terlihat jelas, sebuah kebanggaan jelas tersebar di setiap sudut ruangan itu kala kau tahu bahwa lelaki tua itu bukan hanya membawa remahan uang namun yang dibawanya juga adalah sisa-sisa malam yang sebenarnya tak ingin ia bawa pulang sepenuhnya saat itu.
“Apa lagi maumu kali ini aku ingin beristirahat, cepat katakan!”
Reaksi pertamamu yang bisa ku tangkap adalah sebuah penolakan. Kau memandang lelaki tua itu dari ujung rambutnya hingga ujung kakinya. Kau memang begitu rakus seolah tidak ingin melewatkan apa saja yang ada di depan matamu. “Apa itu seni menurutmu?”
Pertanyaan itu lagi yang selalu kudengar, kau seolah tidak punya pertanyaan lain, bahkan ucapan terimakasih pun tidak sempat kau ucapkan. Lagi-lagi aku dibuat tidak habis pikir dengan dirimu.
“Sudah berapa kali kau tanyakan dan ku jawab dengan jawaban yang sama, mengapa tidak berterima di akalmu?”
“Kau penipu. Jawabanmu tidak pernah masuk diakal. Balita pun tahu kalau seni itu seni, tapi aku tidak ingin jawaban yang seperti itu!”
“Jadi jawaban yang bagaimana yang kau mau?”
“Yang ada di dalam kepalamu!”
“Kalau begitu belah saja kepalaku agar kau miliki isinya!”
“Kau gila!”
“Sudah sedari awal sejak mengenalmu!” lelaki tua itu memilih menyerah lalu masuk ke dalam bilik kamar di sudut ruangan itu.
Aku tahu kau selalu saja penasaran dengan isi kamar itu, namun kau tak pernah punya kesempatan untuk melihatnya. Kau benar-benar tidak mengenali lelaki tua itu selain bentuk rupanya.
“Keparat sialan, esok hari akan ku bongkar bilik tua milikmu itu!” teriakmu begitu keras sampai urat lehermu akan terputus saat itu juga.
“Silahkan jika kau ingin abadi dalam lukisanku!” jawaban dari bilik kamar itu membuatmu terdiam.
Sudah berapa kali ku katakan, lebih baik simpan saja niatmu itu dan melukislah sebagaimana itu memang dirimu sedari awal. Bukankah kau yang mengatakan seni itu adalah kebebasan, dan setiap kebebasan adalah bagian dari setiap diri pelukis. Lantas mengapa ingin sekali mengikuti kebebasan orang lain. Bukankah kebebasan setiap orang itu sudah memiliki batas tapi bukan berarti kau adalah orang yang berhak membatasinya.
Malam berlalu berganti dengan pagi, begitu seterusnya hingga malam ini kau sepertinya sudah mengumpulkan semua keberanianmu. Persetan dengan ucapannya kala itu. Aku melihat dirimu benar-benar sudah didandani dengan kesiapan. Namun kali ini kau memilih untuk tidak duduk di jendela itu, kau lebih memilih duduk di ruang tengah sembari melirik dirimu di cermin besar yang kau bawa keluar bersamaan dengan dirimu.
Tujuh tahun silam masih terekam jelas di kepalamu bagaimana ketika kau merengek meminta diajarkan melukis pada lelaki tua itu. Kau ditarik paksa ke dalam bilik kamar itu, lalu dia melukis di punggungmu dengan hanya menggunakan sebilah pisau. Sampai saat ini yang menjadi pertanyaanku, kau kemanakan akalmu kala itu.
“Darah adalah tinta paling abadi yang pernah ku temukan dan punggungmu adalah kanvas terindah yang pernah aku miliki” Perkataan lelaki tua itu benar-benar tidak hilang dari ingatanmu. Kau angkat bajumu lalu kau berusaha membalikkan badanmu, meraba punggungmu dan benar bekasnya masih hangat seakan itu baru saja terjadi beberapa hari yang lalu. Kau berusaha untuk memastikan lagi, kau putar kepalamu ke arah belakang dan samar-samar kau lihat wajah ibumu benar-benar dilukiskan di punggungmu.
Seharusnya tanpa kau bertanya padanya seni itu apa, kau sudah lebih dulu mengetahui sejak punggungmu adalah sebuah lukisan baginya. Isi kepalamu mulai menjalar kesana kemari. Ku lihat kau memandang lurus ke depan, seolah memang kau berusaha untuk mengingat semuanya, perlahan kau lihat pantulan dirimu di cermin dan tanpa kau sadari air matamu jatuh sederas mungkin. Tidak ada yang bisa kau salahkan jika memang yang menjadi lawanmu adalah kegilaan dalam berbagai kepala.
Suara pintu itu berdenyit panjang seolah ikut merasakan pedih yang terlalu lama ditahan oleh perempuan sepertimu. Perlahan kau naikkan pandanganmu, kau hapus jejak air matamu yang hampir mengering.
“Kenapa lagi, kau ingin tahu arti seni?” Dia mendekatimu sembari meletakkan 10 lembar uang lima puluh ribuan. Dahimu mengkerut, berusaha memastikan siapa kiranya orang bodoh yang menjadi lawan judi lelaki tua itu tadi. Tidak ada kalimat lanjutan, yang ada hanya helaan nafas yang panjang, tujuh detik per helaannya. Kau ambil 8 lembar dan 2 lembar lagi kau masukkan ke kantong bajunya untuk modal judi keesokan harinya.
“Kuharap ini yang terakhir dan kau harus menyanggupinya. Aku ingin tahu dimana ibu?” ucapmu begitu lirih. Kau sangat berharap kasih dibalas dengan sayang saat itu juga.
“Tidak perlu bertanya seni itu apa, karena tujuanmu adalah sebuah keutuhan!”. Tentu saja beribu pertanyaan mulai menggerogoti semua yang ada dalam dirimu kala jawaban itu seakan membawamu ke dalam ruang lain. Tangan kasar itu akhirnya menuntunmu ke ruang dimana kau ingin sekali memasukinya. Kali ini aku tahu ada sebuah kepasrahan kala kedua kakimu benar-benar gemetar seolah siap tidak siap kau harus menerimanya. Kau pandangi seluruh ruangan itu, tidak ada yang benar-benar aneh seperti dalam kepalamu. Sampai ada sebuah pintu usang yang kembali dibuka, dan saat itu juga aku tahu kau lebih baik tidak mau tahu sedari awal.
Kau tarik paksa kedua kakimu agar benar-benar mampu saling menopang satu sama lain. Lukisan di depan itu, punggung itu, persis seperti 7 tahun lalu, tapi ada yang terlihat sangat kontras, itu bukan punggungmu. Lantas itu punggung siapa? mengapa bisa menempel di kanvas itu. Kau berusaha menguatkan tanganmu, kau raba dan pada akhirnya pertanyaan itu, pertanyaan yang selalu menggema di sudut ruangan ini benar-benar terjawab sekaligus. Kau balikkan badanmu seakan siap memakinya saat itu juga, namun bibirmu kelu saat kau lihat lelaki tua itu berjalan ke arahmu membawa sebuah lukisan yang belum pernah kau lihat sebelumnya.
Saturnus Memakan Anaknya, karya Francisco Goya, 1820-1823.
Sumber: Museo del Prado, Madrid.
Tidak ada yang benar-benar bersuara sampai akhirnya lelaki tua itu yang entah mulai dari kapan tidak pernah benar-benar hidup untuk mengenali dirinya sendiri. Dia hidup dalam bayang-bayang ketakutan, antara mengubur dirinya dalam seni yang membakar dirinya atau justru menghidupkan seni yang memadamkan dirinya, sehingga yang tersisa hanya seni yang mati, hampa dan kosong.
“Lekukan punggung yang kulukis dengan begitu detail, garis-garis warna mengikuti tulang, bayangan jatuh di tempat yang seharusnya tidak bisa dilihat oleh siapapun, kecuali yang pernah menyentuhnya dan kau salah satunya. Aku menyebut itu sebagai lukisan yang abadi. Seharusnya aku bisa melawan akal pikirku, namun aku lebih gila dari arti gila itu sendiri. Aku terobsesi dengan lukisan yang benar-benar hidup, bukan yang dipaksa hidup seperti yang biasa dilakukan oleh seniman. Jika kau berakal biarlah akalmu memberikan pengertian. Dia adalah awal, ibumu dan kau adalah ahir nyata dari awal itu!”.


